The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 03


__ADS_3

Syafira Alkatiri menatap kedua cucu perempuannya dan pemuda itu. sesekali ia menggelengkan kepala menyadari kebadungan Marissa. dimasa pingitannya, dia malah memaksa Haanish untuk mengunjungi Kediaman Alkatiri. tentu saja Syafira Alkatiri mencak-mencak sampai Kevin Williams saja sulit sekali menenangkan istrinya jika saja Marissa Williams tidak memaksa dengan cara menghiba agar Haanish diperkenankan sehari saja dikediaman itu tanpa menginap.


"Untung saja kalian berdua masih termasuk cucu-cucuku. kalau bukan, sudah kuputus-putuskan urat-urat kalian." omel Syafira Alkatiri. Setahuku, dalam masa pingitan, tak ada yang namanya ketemuan antara laki-laki dan perempuan. ini malah cucu perempuanku yang berani melanggar tatanan dalam adat istiadat masyarakat timur. keterlaluan!"


Kevin hanya tersenyum-senyum saja mendengar omelan istrinya itu sementara Marissa sibuk berkilah. "Inyiak, denai cinta mati dengan inyo. inyiak kan tahu kalau Uda Haanish itu flamboyan seperti Mamak Tuo? denai nggak mau Uda dilirik-lirik sama orang lain, makanya denai paksa inyo kemari. kan yang penting nggak menginap, Inyiak."


PLAKKKK.....


Haanish sendiri hanya bisa menampar dahinya lalu menggeleng sambil terkekeh lirih, takut kedengaran nenek sakti itu. meskipun sudah tua, kemampuan starlak Syafira tak berubah. ia masih lincah meskipun tubuhnya mulai membungkuk karena faktor gejala osteoporosis awal.


"Aaahhh, sudahlah." omel Syafira. "Nggak ada gunanya Aku berdebat denganmu. kau selalu saja punya seribu satu cara untuk mengembalikan perkataanku, membalikkannya menjadi kalimat yang menjebakku lagi." nenek itu kemudian menatap Haanish. " Waktu besukmu sudah habis. silahkan kembali ke Gorontalo. lusa, kau sudah harus berada disini kembali untuk menikahi cucuku. paham?!"


"Baik nek." Haanish kemudian bangkit lalu menatap Marissa. "Issha... aku pamit dulu. insya Allah... lusa aku datang dengan pakaian pengantin. dan setelah itu, kita berdua tak akan terpisahkan lagi." ujarnya dengan pameran senyum simpatiknya.


"Iya Uda..." jawab Marissa.


"Aaah... kelamaan..." omel Syafira langsung menarik tangan Marissa hingga gadis itu terseret-seret sambil menggapai-gapai tangan kearah Haanish.


"Udaaaa...." pekiknya, bagaikan Siti Nurbaya yang telah ditarik paksa masuk kedalam kamar.


"Isshaaa..." seru Haanish yang tak tega hendak menggapai tangan Marissa namun langsung dipelototi Syafira hingga Haanish terpaksa menarik lagi tangannya.


Kevin menatap Haanish. "Nah, pulanglah anak muda." ujarnya dengan penuh wibawa. "Datanglah lusa dengan perangkat kawin. aku tak akan melarangmu menemui istrimu kelak! pergilah!" seru kakek itu berlagak seperti dalam drama-drama randai berlatar tragedi. kakek itu menudingkan telunjuk kearah pintu, menyuruh Haanish segera pergi.


Haanish hanya menggeleng-gelengkan kepala. dasar keluarga penikmat sinetron, segalanya selalu saja dibuat macam adegan drama. haiiiiissshhhh....


pemuda itu berbalik dan melangkah santai menuju pintu lalu keluar meninggalkan kediaman Alkatiri.


...********...


Kediaman Lasantu, Gorontalo, pukul 19.35 WITA.


Haidar membiarkan siraman air hangat di shower membasahi sekujur tubuhnya setelah menjalani prosesi ritual janabat. pemuda itu menghadapkan wajah dan tubuhnya kedinding marmer, menundukkan kepala, menyandarkan dahinya kedinding itu. ingatan tentang perkataan Aisyah membuatnya merenung.


aih, semestinya aku tak menggagahinya senja itu. untungnya dia tak berteriak dan meronta... anehnya justru menerima perlakuan kasarku... menerima hujaman tonggakku... menerima saripatiku yang kupancarkan kedalam rajimnya... namun mengapa setelah itu, ia mengusirku?, menciptakan tembok antara kami? bahkan mengungkit agar aku tak lagi mendekati Sofi?...


Haidar meninju pelan dinding itu.


akhir-akhir ini... aku merasakan keanehan pada diriku... akhir-akhir ini... aku bahkan sering tak mampu mengendalikan diri... ada apa dengan diriku?


Haidar menengadahkan wajah. nampak dalam benaknya, terlukis bersamaan bayangan wajah Mahreen dan Aisyah.


ahhh... mengapa aku terjebak dalam perasaan ini? Mahreen... Aisyah.... dua makhluk itu seakan berperang untuk bisa mendiami benteng benakku... mengapa aku terperangkap seperti ini?


Haidar memejamkan mata kembali membiarkan air dari shower membasahi wajahnya. ia mengusapnya perlahan hingga ke rambutnya.


apa mungkin darah dewa yang menyebabkan itu? apakah darah dewa yang selama ini menjadi pemicu ketidak-stabilan perasaanku?


Haidar mematikan shower lalu membersihkan tubuhnya dengan handuk. ia keluar dalam keadaan polos, kecuali bagian pribadinya yang ditutupi cawat hitam. Haidar menuju ke lemari pakaiannya dan membukanya. ia memilih memakai kaos dan celana bokser selutut. setelah itu si pemuda membuka pintu menuju tangga dan turun ke lantai satu menjumpai Bik Inah yang sedang menyiapkan makan malam.


"Assalamualaikum Bik, sudah sholat?" sapa Haidar.


"Nyong memang sudah sholat?" tanya Bik Inah balik.


Haidar hanya terkekeh pelan dan menggeleng. Bik Inah hanya menggeleng-gelengkan kepala berkali-kali.


"Nyong, ada apa sih? akhir-akhir ini Bibi lihat kok mulai jarang sholat, mulai jarang ngaji." tegur Bik Inah, "Bibi rindu dengar nyong ngaji tiap subuh."


Haidar hanya menghela napas dan duduk dikursi menghadap meja. ia menatap hamparan masakan yang diolah Bik Inah.


"Bagaimana kabarnya sanak saudara?" tanya Haidar.


"Alhamdulilah, mereka bersyukur, Bibi pulang bawa uang banyak." ujar Bik Inah dengan penuh kepolosannya. "Mereka memang hanya bisa mengharapkan dari Bibi karena kebanyakan dari mereka itu sudah yatim piatu. Bibi yang merawat mereka." Bik Inah menerawang. "Untungnya yang sulung sudah menikah. Suaminya kerja di Halmahera. jadi yang sulung sudah diboyong kesana. sebagian bawa adik-adik. jadi beban Bibi agak sedikit berkurang."


Haidar mengangguk-angguk dan menunduk setelah melihat Bik Inah yang menyembunyikan tangisnya. Bik Inah terkekeh.

__ADS_1


"Waduh, kok malah jadi baper ya?" rutuknya kemudian tertawa. "Silahkan makan, Nyong." ujarnya mempersilahkan, namun Haidar menggeleng.


"Saya sudah kenyang, terlanjur makan diluar tadi." jawab Haidar membuat Bik Inah agak kecewa.


"Sudah, nanti aku yang habiskan!" seru suara dibelakang Haidar membuat lelaki itu menoleh ke arah pemilik suara itu.


"Nyong Haanish." seru Bik Inah gembira.


Haanish melangkah santai menyembunyikan tangannya dalam saku celana, mendekati Haidar lalu duduk didekat lelaki itu. ia menatap hamparan makanan dan seperti diduga, Haidar dapat dengan jelas melihat Haanish menelan liurnya melihat pemandangan sedap itu.


lekas diambilnya piring dan disendoknya banyak-banyak nasi hingga membumbung mirip Gunung Dumbo. tak lupa Haanish menyendok pula sayur mayur dan lauk ikan membuat penampilan makanan dipiringnya lebih mirip tumpeng tumpul. Haidar mendesis.


"Issshhh.... masih bisa kau habiskan makanan ini?" tanya Haidar dengan nada mencela.


"Taruhan! kalau makanan ini bisa kuhabiskan?!" tantang Haanish.


Haidar langsung melengos, "Aku tak mau bertaruh denganmu soal makanan. aku pasti akan selalu kalah." ia kembali menatap Haanish yang sudah begitu lahap menyantap makanan membuat Bik Inah tersenyum bahagia merasa hasil jerih payahnya memasak dihargai tuannya.


"Aku hanya heran. badan seceking kamu, bisa menelan makanan segitu banyaknya. perutmu kurasa terbuat dari karet." olok Haidar.


Haanish menjeda makannya sedikit lalu menatap Haidar, "Coy, aku baru pulang dari Padang, mengunjungi Marissa." ujar Haanish memperlihatkan perangkat teleporticon keluaran terbaru yang melingkar dipergelangan tangannya. "Pertemuan dengannya, selalu menerbitkan rasa laparku, seakan pertemuan kami menghabiskan daya yang mampu membuat staminaku low."


Haanish kembali menyantap makanannya. sementara itu pintu membuka lagi dan muncullah Salman. ia menyapa.


"Assalamualaikum..."


"Wa alaikum salaam." balas Haidar dan Bik Inah sedangkan Haanish hanya mengangkat tangan dan melambaikan tangan lalu kembali sibuk menyantap makanan.


Salman mendekat dan duduk dikursi seberang disisi Bik Inah yang langsung mengambilkan piring untuk Salman. opsir itu tersenyum.


"Makasih, Bik." ujarnya.


Bik Inah mengangguk senang. Salman mengambil nasi dari centongan dan memindahkannya ke piringnya. setelah itu ia menyendok pula sayur dan ikan, juga memindahkannya ke piringnya dan setelah membaca doa, opsir itupun makan dengan pelan. ia mengangguk kemudian.


"Uhmmm.... enak Bik, sayur dan lauknya." puji Salman membuat Bik Inah kembali tersenyum bahagia.


Haidar menyenggol Haanish. pemuda itu menatap saudaranya. "Kenapa sih? mengganggu kesenanganku saja." gerutu Haanish.


"Kamu tadi, berdoa sebelum makan, nggak?" tanya Haidar.


Haanish menghentikan makannya dan menatap Haidar sementara Salman sesekali memperhatikan keduanya sambil tetap menikmati makanan.


"Bray, doa itu nggak mesti diperdengarkan. yang penting tuh niat karena Allah." ujar Haanish kemudian menatap Salman. "Sory bro, bukan menohok kamu. aku hanya menohok saudaraku yang alim-alim bulotu ini."


Haidar seketika keruh wajahnya mendengar perkataan adiknya itu, sementara Salman mengerutkan alisnya.


"Bulotu?" tanya pemuda itu.


"Itu bahasa Gorontalo, artinya sampan. alim-alim bulotu itu adalah ungkapan bagi orang sok alim..." jawab Haanish sambil mengerling sinis kepada Haidar kemudian menatap Salman. "Kamu lihat bagaimana sampan di lautan, kan?"


Salman langsung mengangguk-angguk. "Ya, ya... aku oaham maksud ungkapan itu sekarang. artinya, orang yang kealimannya turun-naik atau timbul-tenggelam, kan?" tebaknya.


"Kok kalian malah ngebahas aku sih?!" sergah Haidar memukul pinggiran meja.


"Siapa yang ngebahas kamu?" kilah Haanish, lalu menuding-nudingkan jarinya. "Berarti benar nih. buktihya kamu tersinggung, kan?!"


"Maksudnya?!" tantang Haidar menaikkan tensi suaranya.


"Chouji... kamu tahu apa yang pernah dikatakan mendiang Papa? jika seseorang mengatakan sebuah kebenaran, maka pendengarnya akan terbagi menjadi dua kelompok. orang-orang bijak akan merenung, dan orang-orang bodoh akan tersinggung." Haanish memicingkan mata, "Kamu bukan orang bodoh, kan?!"


Haidar mengencangkan rahangnya. matanya mulai memendarkan cahaya kekuningan. Haanish mengerutkan alis. "Chouji? kenapa dengan matamu? kenapa bola matamu berubah mirip mata kucing?" desis pemuda itu.


Haidar terhenyak dan buru-buru menenangkan kembali hatinya. pendaran cahaya kekuningan dimatanya redup seketika. pemuda itu pura-pura gelagapan.


"A-apa? m-mana? mana?" tanya Haidar.

__ADS_1


Haanish kembali memicingkan mata. mata itu terasa familiar sekali. dimana aku pernah melihatnya ya?


Haidar menowel pipi Haanish membuat pemuda itu tersentak dan langsung menepis jemari kakaknya. "Apaan sih?! mengganggu orang makan saja." gerutunya.


Haidar tertawa. "Habisin makananmu. aku nggak mau menghabiskan sisa makanan orang lain." oloknya.


Haanish mendengus dan langsung kembali menikmati makanannya yang masih tersisa setengahnya dipiring. Salman menatap Haanish.


"Enak ya yang akan jadi manten..." olok Salman. "Waang ini bikin aden makin iri saja." ujarnya kemudian mengunyah lagi makanannya.


"Iya dong." tukas Haanish, "Ini barang harus segera dihalalin, supaya nggak nyosor ke tempat yang nggak semestinya." ujarnya membuat Haidar kembali merasa tersindir.


"Hm... mulai lagi, mulai lagi..." ujar Haidar memberi sinyal.


Haanish tertawa. "Kamu ini paranoid sekali, setiap aku bicara, seolah-olah kamu selalu merasa tersindir." pemuda itu mengacung-acungkan sendoknya. "Makanya, intropeksi diri saja. usia sudah mau masuk 23 tahun, masih juga menjomblo."


"Aku masih menetapkan hatiku pada Mahreen." tukas Haidar.


Haanish menyorongkan piring yang telah kosong ke tengah meja. ia bersendawa sejenak membuat Haidar mendesis jijik sedangkan Salman tersenyum saja.


Haanish menatap Haidar. "Chouji... aku sudah katakan, dan ini yang keberapa kalinya... Mahreen nggak cocok buat kamu... nggak sepadan!" tandas pemuda itu menyilangkan tangannya lalu mengibaskannya untuk menandaskan ungkapan tersebut.


"Kenapa kau selalu mengatur hidupku dan Mahreen? katamu kau tak punya perasaan terhadap dia, tapi kenapa kau melarangku mencintai dia?!" sergah Haidar.


"Chouji... sebagai adikmu, aku hanya bisa memberikan saran itu." ujar Haanish. "Mengapa kau tak menetapkan hatimu pada perempuan lain? mengapa harus Mahreen? kau tak sadar? ada perempuan yang lebih baik dari Mahreen."


"Aisyah maksudmu?!" tebak Haidar.


...*******...


sementara dikediamannya, Aisyah yang sementara meneguk air digelas mendadak tersedak dan terbatuk-batuk. ia memijiti dadanya yang sakit sebab sebagian air memasuki liang tenggorokannya membasahi lorong bronkis. setelah menenangkan sakitnya, jilbaber itu tertegun.


siapa yang mengingatku? Haidar kah???


...******...


Haanish mengembangkan tangannya. "Gotcha! kau sebenarnya tahu, Chouji." pemuda itu menuding-nudingkan telunjuknya ke wajah Haidar. "Tapi kau gengsi mengakuinya. nggak menyembunyikan hatimu! matamu selalu memberitahukan hal itu padaku, Chouji!"


"Dia sudah memasang tembok tinggi. dia tak mau lagi didekati." kilah Haidar.


"Karena kau selalu melakukan pemaksaan kepadanya!" tukas Haanish membuat Haidar terhenyak. "Apa kau pikir ia senang diperkosa?!"


mata Haidar melebar. dari mana Eiji tahu??? jangan-jangan...


Haanish memicingkan matanya. "Jangan bilang kau sudah..."


Haidar menelan ludahnya. tiba-tiba Haanish tertawa. Salman kaget dan menatap pemuda yang tertawa-tawa itu. Haidar sudah mengenal luar-dalam adiknya itu. tertawanya Haanish saat ini, bukan tertawa gembira, atau mengoloknya... pemuda itu sangat MURKA!


"Eiji... bisakah kau diam saja?" pinta Haidar.


PLAKKKK!!!!


tamparan keras Haanish mendarat dirahang Haidar membuat pemuda itu terpelanting jatuh terjengkang dari kursi. Salman langsung bangkit dan buru-buru meminum air. opsir itu berdiri siaga memegang sarung pistolnya sambil menatap Haanish dan Haidar bergantian.


Haidar mengelus pipi dan rahangnya yang terasa panas dan perih sementara Haanish berdiri dengan kaki terkembang dan tangan terkepal. rahangnya mengencang dan sorot matanya memancarkan kilatan pendaran cahaya kebiru-biruan pertanda jurus Karasu Tengu no Shisen telah diaktifkannya.


"Binatang, kau Chouji!" umpat Haanish dengan pelan dan datar. "Mau kau kemanakan mereka berdua? tidak cukupkah Mahreen? sekarang Aisyah juga telah...."


Haidar hanya duduk dilantai menselonjorkan kakinya sedang kaki lainnya menekuk menumpu siku yang terpangku disana. wajah Haidar menunduk. Haanish melangkah lalu duduk jongkok dihadapan Haidar.


"Apakah Aisyah juga..." tukas Haanish.


Haidar dengan jujur mengangguk.


"Brengsek kau Chouji! brengsek kau!" umpat Haanish dengan kasar lalu bangkit dan melangkah mondar-mandir diruangan itu.

__ADS_1


Haidar dan Salman hanya diam memandang pemuda tersebut.[]


__ADS_2