
Haidar mengamuk sembari mengayunkan golok Ailesh dalam genggamannya. benda besar itu terayun kesana-kemari merampas nyawa para musuh yang berani menghadangnya. Nikolai menggeram. seketika tubuhnya mengalami perubahan ujud menjadi makhluk tak jelas wujudnya yang dikelilingi asap dan kabut tebal.
Ivanovich ikut mengerang dan merubah ujudnya. lelaki itu kini berbentuk makhluk yang bertubuh aneh. makhluk penjelmaan Ivanovich itu ikut menghambur mengeroyok Haidar. lelaki bersenjata golok itu belum sama sekali merubah ujudnya. ia masih percaya dengan goloknya yang mampu mengatasi keroyokan makhluk tersebut.
"Kemari kalian semua! aku tak bakal takut!" seru Haidar dengan gagah dan kembali merangsek membunuhi beberapa lelaki bertopeng yang tersisa.
sementara pertarungan masih berlangsung, Djalenga dan Dinara mendekati tempat dimana Haanish duduk dengan kepala terkulai kebawah.
"Kakak..." sedu Dinara dengan lirih. jemarinya membelai pipi lelaki itu berharap ia bangkit dari kematiannya. namun takdir telah menetapkan bahwa Haanish harus tewas disini. Dinara menangis merebahkan kepalanya pada pangkuan Haanish.
Djalenga justru malah berinisiatif menggeledah tubuh lelaki itu dan akhirnya menemukan sesuatu pada kantong kiri celana panjang Haanish. lelaki itu tersenyum.
"Dinara... coba kau suntikkan benda ini pada Haanish." pinta Djalenga.
Dinara mengangkat kepalanya lalu menyusuti airmatanya dan menatap sesuatu mirip tabung transparan. didalamhya terdapat alat injeksi mini. alisnya berkerut.
"Apa ini?" tanya Dinara.
"Saya sempat dengar Haanish menyinggung tentang sesuayu yang disimpannya. itu pemberian Nyonya Yuki. beliau hanya bilang, suatu saat, Haanish akan mengetahuinya." ujar Djalenga menyodorkan tabung itu pada Dinara. "Coba suntikkan pada Haanish. siapa tahu berhasil. semoga Allah memudahkan. ayo."
Dinara langsung membuka tabung itu mengeluarkan alat injeksi tersebut dan menyuntikkan cairan didalam alat itu ketubuh Haanish melalui paha. setelah itu keduanya menunggu reaksinya.
tak berapa lama kemudian tubuh Haanish bergetar. makin lama makin kuat hingga tiba-tiba kedua matanya terbuka. pendaran cahaya biru yang kuat memancar dari kedua mata lelaki itu dan Haanish menengadahkan wajah ke atas kemudian meraung.
OOOOOOAAAAAAAAAAARRRRRRRRGGHHHHH....
PRANGGGGG!!!!
ketika Haanish merentangkan kedua tangannya, rantai yang mengikatnya hancur berkeping-keping. beruntung Djalenga langsung melindungi tubuh Dinara dari pencaran kepingan logam keras itu.
perlahan Haanish bangkit perlahan dari kursinya. tubuh lelaki itu diselimuti uap putih kebiru-biruan. perlahan senyum Haanisn tersungging. senyum bengis dan dendam yang berpadu.
dan seketika dengan kecepatan yang tak mampu diprediksi oleh Djalenga bahkan dengan piranti canggih dalam armornya, tubuh Haanish melesat kearah pertempuran.
sementara Haidar yang dikeroyok oleh dua makhluk jelmaan itu mulai terdesak. ayunan goloknya mulai tak teratur sebab diserang oleh kedua makhluk itu dari dua sisi.
CRACKKKK!!!!
HEHHHH????
makhluk penjelmaan Nikolai tersentak. dengan kaget ia merasakan tubuhnya dihujam oleh sesuatu dari belakang. ia melihat perutnya. sebilah pedang, itulah Si Penebas Angin yang menghujam punggungnya, tembus ke perut. dibelakangnya nampak sesosok makhluk bertanduk dan beruas-ruas tubuhnya menggenggam gagang pedang itu sambil memeluk lengan makhluk penjelmaan Nikolai. makhluk berkulit biru dan beruas-ruas yang tak lain adalah Haanish kembali menyunggingkan seringai bengis.
"Ketemu lagi.... Nikolai...." ujar Haanish dengan suara serak campuran suara manusia dan monster.
"Kau.... bagaimana bisa..." tukas Nikolai tak percaya.
"Berkat darah dewa." jawab Haanish yang langsung menarik paksa Si Penebas Angin dari tubuh Nikolai dan menendangnya hingga terpelanting jauh.
Ivanovich yang menyaksikan wujud Haanish sedikit terhenti gerakannya karena kaget. Haanish menatap Haidar.
"Berubahlah Haidar! mereka tak bisa dilawan dan ditaklukkan dengan wujud manusiamu!" sindir Haanish.
bagai diprovokasi, Haidar menggeram lalu mengaum memperdengarkan ajian Bahana Penggetar Sukma disusul dengan perubahan wujud menjadi makhluk berwajah singa dan sekali lagi ia mengaum.
AAARRRRRGGGGGGHHHHHHHH....
Haidar mendekati Haanish. "Aku bersyukur kau bangkit dari kematian... Kupikir aku akan kehilangan kamu."
"Bacot! aku belum mati! aku hanya memperlambat detak jantungku saja sehingga kau mengira aku mati!" Haanish memutar bola matanya, "Yaaa... walau tak kusangsikan kalau aku saat itu memang sekarat..."
__ADS_1
"Apakah benar..." ujar Haidar.
"Kurasa yang diberikan oleh Umi itu adalah darah dewa." tebak Haanish kemudian mengembangkan tangannya. "Lihatlah... apakah aku menggunakan armor? kayaknya nggak!"
"Dari dalam Pedang Rinjai?" tebak Haidar.
Haanish mengangkat bahu lalu menatap Nikolai. "Bro, kita berbagi... kau hadapi si Ivanovich... aku akan menghadapi Nikolai untuk memenuhi sumpahku pada Mama..."
Haidar menoleh sejenak kepada Nikolai lalu menatap Haidar. "Kuserahkan nyawanya padamu! jangan sampai kalah!" pesan makhluk berwajah singa itu.
"Jangan kuatir." ujar Haanish kemudian mengarahkan Si Penebas Angin kedepan membentuk gaya chudan lalu maju melesat ke arah Nikolai.
sementara Haidar kembali menatap Ivanovich. "Pertarungan lama kita dimulai kembali." ujarnya.
"Ya, itu sudah lama. tapi aku tak akan berlaku sungkan lagi kepadamu!" ujar Ivanovich.
"Keluarkan seluruh kemampuanmu. aku yang dulu, beda dengan yang sekarang." ujar Haidar memasang kuda-kuda sambil memegang golok Ailesh.
"Tentu saja berbeda." ujar makhluk penjelmaan Ivanovich sambil menyeringai mempertontonkan barisan gigi yang panjang bagai pasak menjulang menghiasi gusinya yang berlendir. "Kau yang sekarang adalah seorang pencuri, pengguna tidak sah darah dewa. seandainya tadi kau menyanggupi untuk bergabung dengan Ordo Dracna, tentu kesalahanmu akan dikesampingkan."
Haidar menggeram. "Aku tak merasa mencurinya. bagiku, ini adalah hadiah dari Papa untukku." makhluk berwajah singa itu menudingkan telunjuk berkuku runcingnya ke arah Ivanovich. "Kau mengataiku pencuri, sama halnya kau mengatai ayahku adalah pencuri. kau sudah menanggung dua dosa besar... terutama dosa kepada ayahku!" Haidar kemudian menancapkan golok Ailesh ke lantai. "Kau akan menyesalinya kelak!"
"Majulah hei pencuri! aku akan menghadapimu dengan segenap kemampuanku!" pancing Ivanovich melambai-lambaikan jemari tangannya yang aneh bentuknya itu kepada Haidar.
"Kau jual, aku beli! RRRAAAAAARRRRGHHHH..." seru Haidar sembari mengaum kemudian melesat maju mencabut golok Ailesh dan mengayunkan senjata itu dari atas ke bawah seakan hendak benar-benar membelah makhluk tersebut.
Ivanovich sudah siap. ia langsung menghujamkan kedua tangannya ke lantai dan seketika lantai itu rengkah mengeluarkan sulur-sulur akar-akar tetumbuhan yang sesungguhnya adalah bagian dari tubuh Ivanovich sendiri. ia menggunakan cara itu untuk membentengi diri sekaligus menyerang Haidar.
namun Haidar bukan lawan yang gampang direndahkan semacam itu. makhluk itu mengaum keras dan mengayunkan berkali-kali golok Ailesh menebas putus sulur-sulur yang menghalangi langkahnya menuju Ivanovich.
Ivanovich kembali menghantamkan tangannya ke lantai. baru saja Haidar menjejak tanah, langkah makhluk berwajah singa itu tertahan sebab kedua kakinya sudah dililit oleh sulur-sulur tersebut.
sekali tebas dengan golok Ailesh, sulur-sulur itu kembali putus dan Haidar kembali maju mengayunkan senjatanya. Ivanovich mengangkat lengannya memperisai diri dari serangan makhluk berwajah singa itu.
TRACKKK
golok itu tepat mengenai lengan Ivanovich. Haidar hendak menarik golok itu kemudian menyadari dengan rasa kaget bahwa senjatanya tak mampu ditariknya kembali. kedua mata Haidar nyalang membuka dan ia menggeram.
"Kau pikir segampang itu menebas lenganku, Haidar?!" seru Ivanovich kemudian maju mengibaskan lengan satunya menghantam tubuh Haidar membuat makhluk berwajah singa itu terpental.
Ivanovich mengambil golok Ailesh yang menancap dilengannya kemudian membuangnya. makhluk itu kemudian maju lagi menghambur lagi ke arah Haidar yang sudah bangkit lagi.
...*******...
sementara itu berlangsung pula pertarungan seru antara Haanish dengan Nikolai. dua makhluk penjelmaan itu bertempur untuk sebuah tujuan purba. membunuh atau terbunuh!
Nikolai sebenarnya tak menyangka jika ternyata Haanish memiliki pula darah dewa. tugasnya akan menjadi makin sulit karena kedua pengguna tak sah ini merupakan petarung pilih tanding sebagaimana ayah mereka dulu. ini adalah pertarungan balas dendam jilid dua antara Nikolai yang mewakili mendiang ayahnya, Sergey Basarab melawan Haanish yang merupakan putra dari Sandiaga.
Nikolai melepar tubuhnya ke belakang untuk mengambil jeda. sementara Haanish memanfaatkan momen itu untuk mengatur napas dan memusatkan kembali ki miliknya.
Nikolai mengamati tubuh baru milik Haanish. makhluk bertubuh biru dengan ruas-ruas yang menebari tubuhnya, dua tanduk besar menyembul dikepala dam sepasang tanduk kecil menyembul didagunya. dilengan kanannya nampak menempel sebuah serpihan ruas-ruas mirip tubuh udang. kelihatannya itu adalah sarung Si Penebas Angin.
Haanish mengarahkan ujung bilah Si Penebas Angin kepada Nikolai. makhluk tak jelas wujud yang dikintari asap berkepul-kepul itu terkekeh.
"Kau sudah kembali dari kematian... kuucapkan selamat kepadamu." ujar Nikolai.
"Aku belum mati, goblok!" umpat Haanish, kemudian dia tertawa. "Tapi aku bersyukur. dengan itu aku mengetahui, hadiah pemberian mertuaku itu nyatanya adalah bagian lain dari darah dewa yang disembunyikan ayahku dalam Pedang Rinjai milik keluarga Williams."
"Aku baru menyadari suatu hal cerdik yang dilakukan ayahmu. dia memecah darah dewa menjadi dua bagian dan menyimpan keduanya dalam logam ilahiah yang dibelah dan dibuat masing-masing menjadi sebuah senjata dan barang itu disimpan didalamnya." ujar Nikolai. "Darimana dia mendapat ide itu?"
__ADS_1
"Dari karya Chin Yong yang berjudul Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga." jawab Haanish yang masih tetap mempertahankan gayanya mengacungkan ujung bilah Si Penebas Angin kehadapan Nikolai. "Kisahkan dalam cerita itu, Oe Yong dan Kwee Ceng membelah pedang Dugu Xiubai milik Yo Ko menjadi dua senjata legendaris. di pedang langit, Oe Yong menyembunyikan kitab silat Cakar Tulang Putih, sedang dalam Golok, dia menyembunyikan kitab seni perang."
"Ide yang brilian." puji Nikolai. "Pantas saja sejak dulu ayahku tak menemukan benda itu."
"Ya, dan dia menyia-nyiakan nyawa tiga orang yang sebenarnya tak bisa memberikan keterangan apapun terkait darah dewa. yang mengetahui semuanya adalah ayahku." ujar Haanish. "Sekarang, atas nama orang-orang yang tewas karena darah dewa, aku menagih nyawamu!"
"Kalau kau mampu, ambillah sendiri." ejek Nikolai mengacungkan tangannya keatas dan sebentuk materi terkumpul membentuk sebilah pedang. "Aku sudah pernah mencabut nyawamu sekali. sekarang aku akan mencabutnya kembali dan tak akan kubiarkan Tuhan mengembalikannya kepadamu!"
"Songong!" seru Haanish kembali maju dan mengayunkan Si Penebas Angin ke arah Nikolai.
TRANGGGG...
dua materi itu berhantaman. satunya merupakan hasil olah manipulatif benda yang diciptakan Nikolai, satunya material hasil teknologi nanotek. kedua petarung itu saling menekan senjatanya kearah lawan.
"Aku akan membalaskan dendam ayahku kepadamu!" geram Nikolai.
"Tak semudah itu kau merobohkan keturunan-keturunan Kenzie Lasantu!" balas Haanish dengan seketika menetak dan mendorong pedangnya ke atas.
Nikolai terjebak mengikuti gerak lawannya. tiba-tiba Haanish mengayunkan Si Penebas Angin dari atas ke bawah. untung saja Nikolai sigap dan ia memutar kedua tangannya mengayunkan pedang dari bawah ke atas.
TRANGGGGG!!!!
sekali lagi terjadi benturan material yang diselingi dengan tenaga penuh membuat udara terasa robek dan tubuh keduanya terpental. dalam posisi terpental itu, Haanish melesatkan beberapa paku terbang ke arah Nikolai.
TRANG TRANG TRANG TRANG TRANG
Nikolai menyilang-nyilangkan pedangnya dan sesekali mengayun menampar balik paku-paku terbang yang dilesatkan Haanish kepadanya.
...******...
kembali ke pertarungan antara Haidar dan Ivanovich. keduanya bertarung gaya tanpa senjata, mengandalkan tinju dan sepakan untuk saling menjatuhkan lawan. Haidar, meski dalam ujudnya yang sekarang, tak melupakan ajaran kedua kakeknya. lelaki berujud makhluk berwajah singa itu memasang jurus-jurus silatnya melayani Ivanovich.
Ivanovich mengayunkan lengannya mengabdalkan sulur aneh yang mengintari tubuhnya terlontar kearah Haidar lalu membelit lengan Haidar.
Haidar menggeram dan menarik lengannya membuat Ivanovich terpental maju kearahnya. Haidar mengangkat tinju dan menghantamkannya ke tubuh Ivanovich.
BAMMM...
tinju yang dialiri prana sakti itu membuat tubuh Ivanovich terpental namun tubuhnya tertahan akibat sulur miliknya yang masih membelit lengan Haidar.
Makhluk berwajah singa itu membuka sulur yang membelit tangannya dan mencampakkan benda itu kemudian maju lagi menggapai tubuh Ivanovich. makhluk itu diangkatnya dan Haidar menghadiahkan beberapa kali hujaman tinju ke uluhati Ivanovich membuat makhluk bersulur itu tersentak-sentak menerima hujaman tinju yang dilesakkan Haidar berkali-kali.
Haidar melepaskan cengkeramannya membiarkan tubuh Ivanovich sempoyongan. lelaki itu menggeram sedikit lalu maju mengayunkan cakarnya. tiba-tiba Ivanovich yang tadinya sempoyongan langsung menangkap lengan Haidar sedang tangannya yang satunya mencengkeram bagian pakaian Haidar yang robek.
Ivanovich mengangkat tubuh Haidar dan membantingnya ke belakang. lelaki berwajah singa itu jatuh berdebam dilantai namun cepat bangkit dan mengaum marah.
RAAAAAARRRRGHHHHH...
Haidar maju melesat menubruk tubuh Ivanovich membuat tubuh keduanya jatuh dilantai. dengan kemarahan membuat Haidar menaiki perut Ivanovich dan berkali-kali mengayunkan cakarnya menebas tubuh Ivanovich.
Haidar tak perduli lawannya memiliki kemampuan regenerasi. yang ingin dilakukannya sekarang hanyalah mencakar dan terus mencakar lawannya hingga Ivanovich kelelahan meregenerasi kembali bagian tubuhnya yang dicakar Haidar.
memang, jika makhluk-makhluk setengah dewa itu berkelahi tentunya malah hanya akan membutuhkan waktu yang lama sebab daya tahan keempatnya begitu prima. tak ada satupun diantara mereka berempat yang bertarung menunjukkan tanda-tanda menurunnya stamina.
Djalenga menatap pertarungan itu dan mendesah. "Kelihatannya Pulau Staffa ini akan menjadi medan paling rusak akibat pertarungan mereka." keluh Djalenga. "Manusia yang dirasuki oleh darah dewa sebenarnya malah menjadi perusak dimuka bumi."
Dinara menatap Djalenga sejenak lalu kembali menatap kedua kakaknya yang bertarung melawan dua pentolan Ordo Dracna itu.
"Aku jadi paham... mengapa Allah selalu melakukan genosida secara terstruktur.... ternyata untuk menyeimbangkan ekosistem yang terlanjur dirusak oleh anak-anak keturunan Ham dan Yafits." gumam Dinara.
__ADS_1
"Mereka yang membanggakan diri sebagai anak-anak keturunan Ham itu, tak lebih dari sosok-sosok yang menebar keburukan karena saling bertempur menumpahkan darah, memakan daging saudaranya sendiri.... merekalah sesungguhnya yang disebut oleh Allah dalam Injil sebagai nephilim dan yajuj majuj dalam Al-Qur'an." sambung Djalenga. "Aku tak ingin keturunaniu dirusak oleh darah dewa."[]