
Haanish menatap salah satu dari tiga pusaka suci kekaisaran, Pedang Kusanagi (Kusanagi no Tsurugi) yang terpampang pada rak pedang diatas altar, dilapisi oleh kaca tebal anti peluru dan ledakan. Ark Industries mendapat kepercayaan dari pihak kekaisaran untuk membuat sangkar kaca khusus bagi pedang itu. kuil Atsuta di Nagoya adalah salah satu kuil suci bagi pihak kekaisaran sebab menyimpan salah satu harta karun peninggalan para dewa dalam ajaran shinto.
dalam mitos shinto, pedang itu adalah senjata yang ditemukan Dewa Susanoo saat membunuh si raja ular, Orochi. pedang itu dinamainya Si Pengumpul Awan Surga, kemudian senjata itu dihadiahkan kepada Dewi Amaterasu dan oleh dewi itu sendiri diserahkan kepada Pangeran Takeru Yamato. dari beliaulah nama Kusanagi (Si Pemotong Rumput) itu didapat.
lelaki itu juga sudah pernah diijinkan Pangeran Asahiko melihat benda pusaka lainnya, Permata Yasakani yang berbentuk setengah bagian dari in atau yo, berbentuk hati dalam perspektif ajaran shinto. batu itu berwarna hijau terang sebab terbuat dari batu jade. benda itu disimpan dalam ruangan khusus di istana Kokyo. adapun Cermin Yata di semayamkan di Kuil Ise di Prefektur Mie.
Haanish sudah melihat ketiga harta pusaka itu. tak ada satupun rakyat jelata yang bisa melihat ketiga harta pusaka itu sebab sangat dijaga oleh para penjaganya yang tak lain para pendeta kuil dan para keturunan fraksi Jimyo-in dari istana Utara yang telah terikat sumpah kepada kaum Daikaku, sejak jaman Kaisar Meiji memutuskan menghapus hukum Ryototetsuritsu pada tahun 1911, setelah kemelut yang sempat menggoncangkan dua keluarga besar ini diera Gentoku (1330) saat Keshogunan Kamakura berkuasa.
dari Pangeran Asahiko, Haanish dapat mengenal keturunan-keturunan tidak langsung dari keluarga Jimyo-in. keturunan langsungnya sudah tidak ada sejak tahun 1428. jadi keturunan Jimyo-in hanya berasal dari keluarga cabangnya saja. mereka sekarang diberikan kepercayaan menempati posisi sebagai aristokrat istana sejak masa pemerintahan Kaisar Showa, Hirohito Yang Agung, sampai sekarang. dan hingga saat ini, mereka telah menyatakan sumpah setia untuk mengabdi kepada keluarga Daikaku yang sekarang menjadi keluarga kekaisaran jepang hingga ke Kaisar Reiwa, Naruhito Yang Agung.
kini masalah yang menimpa keluarga Jimyo-in, juga sekarang menimpa keluarga Daikaku. keluarga Aras Utama Daikaku sekarang hanya memiliki seorang putri. Pangeran Asahiko sendiri hanyalah keponakan dari Kaisar yang diberikan gelar kepangeranan sebagai antisipasi jika permaisuri tidak lagi melahirkan putra mahkota.
sekarang terbukti, bahwa keluarga kekaisaran berada diujung tanduk. ancaman punahnya generasi menghantui keluarga kekaisaran tersebut.
saat itu, Haanish mendapat undangan khusus oleh Pangeran Asahiko yang meminta bertemu di Kuil Ise. keduanya terlibat pembicaraan serius saat asyik menatap Cermin Yata yang dipajang di ruang rahasia Kuil Agung itu.
"Beberapa bulan kamu disini, kamu sudah bisa menduga apa yang sedang menimpa keluarga kekaisaran, kan?" pancing Pangeran Asahiko kepada Haanish.
Haanish sejenak menatap wali negara itu lalu kembali menatap cermin legendaris itu dari jarak yang diijinkan.
"Ya, saya sudah mendengar rumor itu." jawab Haanish dengan jujur.
"Berarti kau sudah tahu akibat dari rumor tersebut." pancing Pangeran Asahiko lagi.
"Jika keluarga kekaisaran punah, maka kekaisaran jepang juga runtuh." jawab Haanish.
"Selain itu, apa lagi yang kau ketahui?" pancing Pangeran Asahiko tanpa menatap lelaki disampingnya.
"Jika keluarga Daikaku lemah, otomatis sisa-sisa anggota Jimyo-in akan melakukan perebutan tahta." sahut Haanish lagi. "Atau juga tidak. setahuku, semenjak Kaisar Showa melakukan lawatan ke negara-negara barat, ada beberapa pendamping beliau dari golongan Jimyo-in. aku menduga mereka tak tertarik lagi dengan ide kekaisaran." Haanish kemudian menatap Pangeran Asahiko. "Kemungkinan berdirinya Republik tinggal menunggu waktu."
"Itulah yang ingin kubicarakan denganmu." ujar Pangeran Asahiko berbalik menatap Haanish.
Haanish memandang wali negara tersebut. "Apa yang hendak Tuanku bicarakan?" tanya lelaki itu.
"Bagaimana mengatasi kemelut interen ini? pancing Pangeran Asahiko.
"Sangat tidak mungkin untuk melakukan pernikahan sedarah. selain dalam ajaran agamaku, hal itu sangat menjijikkan. kecuali anda harus menikahkan Tuan Putri dengan salah satu aristokrat dari golongan Jimyo-in, untuk mencegah punahnya anggota keluarga kekaisaran." ujar Haanish. "Selain itu, anda akan mengikis habis sentimen jaman dulu yang terjadi akibat konsekuensi dari dekrit Ryototetsuritsu yang diterbitkan oleh mendiang Hojo Takaoki, Shogun Kamakura terakhir sewaktu berupaya menengahi polemik tahta dua putra Kaisar Go-Saga yang berambisi atas tahta krisan tersebut."
Pangeran Asahiko menatapi Haanish mencermati keterangan lelaki itu. Haanish melanjutkan.
"Maaf, mungkin saya lancang, Paduka. tapi melihat sejarah yang pernah terjadi jaman dulu. Jepang sempat kacau pada masa itu. Kaisar Go-Fukakusa dan Kaisar Kameyama yang bertahta mengikuti aturan Ryototetsuritsu tak kunjung mampu memadamkan intrik politik dalam istana hingga akhirnya melibatkan kaum kuge dan buke dalam percaturan politik yang kedua kalinya paska kepemimpinan Taira Kiyomori dijaman Heian sebagai wali negara." ujar Haanish.
Pangeran Asahiko mengisyaratkan Haanish untuk mengikutinya. keduanya meninggalkan ruang rahasia di Kuil Agung Ise itu dan melangkah keluar dari kuil tersebut. diluar kuil, berdiri pengawal pribadinya, Danjo Ittosai Sakamoto. si lelaki yang berpenampilan seperti seorang samurai jaman Sengoku.
mereka bertiga menyusuri wilayah disekitaran kuil utama dan istana dalam. Danjo sendiri melangkah dengan santai dibelakang kedua orang itu, namun lirikan matanya waspada menelisik sekitaran.
"Jadi menurutmu..." gumam Pangeran Asahiko.
"Ini hanya hipotesa saya saja. jangan terlalu dipikirkan, Paduka." ujar Haanish.
"Ungkapkan saja. aku tak keberatan." ujar Pangeran Asahiko.
"Menurut hujjahku, alur kisah jaman perang di jepang juga bukan hanya dipicu oleh lemahnya Rejim Muromachi di Kamigyo pada masa itu, namun jika ditarik ke mundur, itu juga berlatar pada pertikaian antara pihak Istana Yoshino dan Istana Kyoto waktu itu. jadi tugas paduka adalah merukunkan kembali dua keluarga besar ini untuk yang kedua kalinya." ujar Haanish.
tanpa sadar, ketiga orang itu telah meninggalkan lokasi istana dalam dan menyusuri jalanan didepan kuil Kagura. mereka membelok kekanan terus menyusuri jalanan kuil. Pangeran Asahiko terus memancing pembicaraan.
"Menurutmu, siapa diantara keluarga Jimyo-in yang pantas disandingkan dengan Tuan Puteri?" tanya Pangeran Asahiko.
__ADS_1
"Wah, saya belum sejauh itu melakukan hipotesa, Paduka." jawab Haanish sambil tertawa membuat Pangeran Asahiko tersenyum. "Bagaimanapun Paduka harus mampu melihat siapa diantara mereka yang pantas. tapi, ini juga tak lantas menjadikan keluarga kekaisaran bisa eksis. bagaimanapun Tuan Putri tak boleh melangkahi anda."
"Tapi bukankah kau juga tahu kalau aku tak memiliki keturunan laki-laki?" pancing Pangeran Asahiko.
"Paduka. masalah ini sebenarnya harus Paduka bicarakan dengan penasihat agung, bukan dengan saya. kapasitas saya tidak memenuhi syarat akan hal itu. Saya hanya abdi rendahan anda. bukan pejabat tinggi, meskipun pangkat saya hatamoto, bukan berarti saya menduduki jabatan menteri, kan? saya hanya seorang kepala keluarga Hasegawa sekaligus kepala klan samurai Nagato yang levelnya berada dibawah menteri. saya hanya negarawan biasa. tak pantas mengurusi urusan Tuanku Paduka." jawab Haanish.
mereka tiba ditaman langit kompleks bagian selatan kuil-kuil Ise. ketiganya terus berjalan menuju jembatan Uji.
"Kalau begitu, kau kuangkat saja menjadi salah satu penasihat kekaisaran?" pancing Pangeran Asahiko.
"Kurasa terlalu naif jika Paduka melakukan hal itu. masih banyak toryo-toryo lain yang berkompeten dari pada saya. bahkan saya sendiri sebenarnya sudah sangat ingin melepaskan jabatan ini." ujar Haanish dengan senyum. "Hanya saja saya sementara mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan Kakek Ryoma."
"Lho? kenapa?" tanya Pangeran Asahiko.
"Saya tidak suka terikat dengan aturan-aturan. pada dasarnya saya orang bebas. keterikatan ini sangat membelenggu saya." ujar Haanish.
"Jika sekiranya kau bukan lagi seorang kepala keluarga maupun kepala klan. kamu akan tinggal dimana? bukankah istana Odawara memiliki pelayanan sempurna untuk anak keturunan Hasegawa?" pancing Pangeran Asahiko lagi.
"Paduka lupa ya? saya kan sebenarnya seorang Mochizuki. meskipun saya menyandang marga Hasegawa sebagaimana Tuan Shiro Katsuyori yang menyandang marga Suwa dari keluarga ibunya. toh setelah ia menjadi kepala keluarga Takeda dan kepala klan Kai Genji, ia menggunakan marga ayahnya, Takeda Katsuyori. bukankah begitu?" tangkis Haanish.
"Jadi maksudmu kau akan menggunakan marga ayahmu, dan tinggal di Shiga? begitu?" pancing Pangeran Asahiko.
"Ya. itu yang akan saya lakukan." ujar Haanish.
"Bukankah ada kakakmu yang mewarisi marga itu? kau hendak bertikai dengannya?" pancing Pangeran Asahiko lagi.
"Chouji tidak akan menggunakan marga Mochizuki. dia akan tetap menggunakan marga Lasantu dari kakek kami. dia adalah calon kepala keluarga Lasantu berikutnya. itu sudah pasti. jadi keluarga Mochizuki sudah kehilangan galurnya kecuali saya yang mengisi kekosongan itu." jawab Haanish.
"Sama saja dengan kau membuat keluarga Hasegawa kehilangan kepemimpinan." tukas Pangeran Asahiko.
"Tapi marga Hasegawa masih memiliki aras utama dari pihak Ryuzou. jika Sachiko menikah dengan keluarga cabang dari Hasegawa, maka keluarga itu dan klan Nagato masih tetap eksis." ujar Haanish.
"Aku akan membantumu untuk itu. tapi, kau juga harus melakukan apa yang kuminta." ujar Pangeran Asahiko.
"Ada saja." jawab Pangeran Asahiko sambil senyum-senyum.
"Ah, Paduka mau menggantung saya dengan jawaban itu." ujar Haanish membuat Pangeran Asahiko tertawa dan Danjo Ittosai hanya terkekeh saja.
"Bukankah keluarga Mochizuki juga adalah kepala klan Koga?" pancing Pangeran Asahiko.
"Setahu saya juga begitu." jawab Haanish. "Hingga saat ini, lima puluh tiga keluarga besar dari klan Koga tetap menganggap keluarga Mochizuki sebagai pemilik klan, sebab mengacu pada sejarah bahwa Koga Omi no Kami adalah pendirinya, dan beliau adalah seorang pendiri keluarga Mochizuki pula."
Pangeran Asahiko mengangguk-angguk. "Baik. aku akan mempelajari proposal lisanmu ini dan tunggu saja kabar dariku."
Pangeran Asahiko pamit bersama-sama pengawal pribadinya, meninggalkan Haanish didepan jembatan Uji. disana juga telah menanti limosin buatan salah satu perusahaan otomotif lokal jepang yang berkolaborasi dengan perusahaan Ark Industries cabang jepang yang berlokasi di Nagasaki. itu limosin terbaru yang dihadiahkan pihak perusahaan setahun lalu kepada pihak kekaisaran, mengganti kendaraan imperial buatan Pabrik Ford yang sebagian alat pertahanan dan perlindungan didalamnya dibuat oleh Perusahaan MARS.
kendaraan khusus itu meninggalkan jalanan tersebut dan membiarkan Haanish berdiri menatap mereka yang melaju melintasi sungai Isuzu menuju timur. kemungkinannya Pangeran Asahiko masih akan mengunjungi kerabatnya yang mendiami Istana lama Heian Kyo di Kyoto.
tak lama setelah kepergian kendaraan itu, nampak dari angkasa meluncur sesosok tubuh dilapisi armor warna putih keperakan. sosok itu mendarat tepat disisi Haanish. lelaki itu tersenyum.
"Bakat stalking kamu nggak hilang-hilang juga ya?" sindir Haanish tanpa menoleh. tatapannya masih terarah kejalan dimana kendaraan kekaisaran itu menghilang dibalik kerumunan kendaraan lain. "Apa kamu pikir, aku lagi bersenang-senang?"
helm armor itu membuka dan nampaklah wajah Marissa yang tersenyum lebar. "Aku bosan dirumah. gayaku memang bossy, tapi aku nggak terbiasa dibungkuk-bungkuki orang. kalau bersama kamu, aku pasti langsung nyaman. kita kan pasangan petualang. iya kan?" wanita berbaju jirah nanotech itu menggelayut manja dilengan suaminya.
Haanish tersenyum lagi. ia menunduk sejenak lalu menoleh menatap istrinya. "Ah, mengapa setiap menatap kamu, rasa nyaman hatiku langsung datang. kamu memang obat analgesikku." puji Haanish.
__ADS_1
"Ahhh.... so sweet sekali dah..." sahut Marissa tersipu-sipu.
keduanya kembali menatap jalanan tersebut. Marissa mendehem. "Uda, denai diminta Uni Inka untuk melawat ke Nagasaki, mengunjungi cabang Ark Industries disana."
"Jadi supervisor kayaknya." tebak Haanish.
"Uda mau temani denai kesana?" tanya Marissa dengan manja. Haanish tertawa lalu mencubit dagu lancip istrinya.
"Apa sih yang nggak kulakukan untukmu?" ujar Haanish.
Marissa maju mencium pipi suaminya.
CUP...
"Makasih suamiku tersayang." ujar Marissa dengan mesra.
Haanish mengangguk-angguk. "Sekarang kita berangkat?" tanya lelaki itu.
"Boleh... tapi pakai apa? armornya Uda kan nggak didesain Abi untuk terbang." ujar Marissa dengan wajah sedikit masygul.
"Lalu ini apa, sayangku?" ujar Haanish memperlihatkan piranti teleportal yang melingkar dipergelangan tangan kanannya.
Marissa langsung balik memasang wajah gembira. "Oh iya ya? kok denai malah lupa."
Haanish tersenyum masam. "Begini nih karena terlalu senang mengembara di dirgantara. memangnya enak ya? melayang-layang seperti capung begitu?" pancingnya.
"Ada enaknya dan ada tak enaknya." jawab Marissa. "Tapi paling banyak nggak enaknya. soalnya denai bisa disisi Uda. kan denai kalau jauh dari Uda, selalu rindu tak pernah hilang."
"Lebaaaayyyy..." olok Haanish sambil mencubit lagi pipi istrinya dengan lembut lalu memeluknya dengan mesra.
lama mereka berpelukan hingga akhirnya Marissa memancing percakapan lagi.
"Uda..." panggilnya dengan pelan.
Haanish menggumam menjawab panggilan istrinya.
"Uda tahu nggak kelebihan wanita dibanding laki-laki?" pancing Marissa.
"Apa coba?" tanya Haanish membiarkan angin kembali bertiup melambai tubuh keduanya yang berpelukan itu.
"Wanita itu ada banyak kelebihannya... berlubang, tapi tak bocor." ujar Marissa.
CEKLEK!!!
alis Haanish langsung terangkat setengah dan menatap istrinya yang tersenyum mesum. Marissa melanjutkan lagi.
"Ditusuk tapi tak mati, berdarah tapi tak terluka, merintih tapi menikmati..." ujar Marissa dengan senyum mesumnya.
"Sayaaaangg..." tegur Haanish, namun Marissa sengaja tak menghiraukan. ia meneruskan lagi.
"Menjerit tapi minta lagi, bilang sakit tapi tak kapok, digempur tapi tak menyerah, malah pasang kuda-kuda..." ujar Marissa lagi.
"Hmm... otak mesum kamu kayaknya kumat lagi nih... memangnya apa yang membuat wanita lebih kuat dari laki-laki?" pancing Haanish.
__ADS_1
Marissa membesarkan matanya. "Survei sudah membuktikan, Uda... wanita kemana-mana masih bisa bawa-bawa dua gunung. sedangkan laki-laki hanya bisa membawa dua buah telur saja... itu pun masih dibantu oleh seekor burung." jawabnya.
Haanish seketika tertawa ngakak dan memeluk lagi istrinya disaat yang sama ia mengaktifkan piranti pembuka portal itu. tak lama kemudian tubuh keduanya menghilang dalam cahaya putih yang memendar lalu muksa tanpa sisa.[]