The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 05


__ADS_3

Haidar terpukau dengan bola mata hijau keabu-abuan milik Mahreen, ditambah tatapannya bersama sungging senyum membuat Haidar kehilangan dria waskitanya. Haanish sedari tadi tanggap dengan perilaku saudaranya itu. pemuda itu langsung menatap Callista.


"Adikku yang manis, mari kita keluar sedikit. kurasa cuaca hari ini terasa panas. aku perlu udara yang sejuk." cetus Haanish kemudian tersenyum dan sekali lagi melirik Haidar yang masih terpaku menatap bola mata indah gadis disisinya.


Callista terkekeh. "Ayo Osamu. aku juga punya urusan lain." tambah gadis itu dan keduanya hendak bangkit. seakan tersadar dari alam khayal, sontak Haidar dan Mahreen menatap Haanish dan Callista.


"Kalian berdua mau kemana?" tanya keduanya berbarengan dan sesaat kemudian keduanya sama-sama terkejut dan saling menatap lalu mengarahkan tatapan kearah lain. Mahreen tersipu sedang Haidar berlagak gerah mengipasi lehernya.


Haanish tertawa lalu menatap Callista. "Katakan pada sahabatmu untuk menemani kakakku. lelaki itu perlu penawar batin. hatinya beku."


"Eiji!" hardik Haidar dengan wajah dingin.


"Chounan, kau boleh saja memasang tembok tinggi. tapi, kau tak bisa menyembunyikan halaman hatimu dariku." balas Haanish berhasil menohok Haidar dan sekali ini pemuda itu terdiam. Haanish menatap Mahreen.


"Gadis cantik bermata zamrud." panggil Haanish membuat Mahreen tersipu lagi. "Bisakah kau menemani sejenak Kakakku yang berhati es ini?" Haanish kemudian mendekat sedikit dan berkata lirih. "Dia sudah lama kedinginan. kurasa kau harus menghangatkannya."


"EIJI!!!!" hardik Haidar makin keras.


Haanish tahu jika ia masih disitu, sudah dipastikan wajahnya akan bonyok dihantam bogem Haidar yang besar. perbandingan tinju Haidar lebih besar daripada Haanish. pemuda itu langsung menarik wajah dan tubuhnya dari situ dan segera menarik Callista menjauh dari keduanya.


sepeninggal kedua mahasiswa itu, tinggallah Haidar dan Mahreen duduk dengan canggung. keduanya saling menahan disisi lain keduanya ingin saling mengakrabi satu sama lain.


"Eh..." ujar keduanya kembali berbarengan dan saling menatap. sedetik kemudian keduanya kembali terpaku saling memandang. akhirnya keduanya sadar kembali dan kembali saling membelakangi dengan penuh kegugupan.


Haidar mengumpat-umpat dalam hati sedangkan Mahreen hanya diam namun menggigiti bibir sensualnya. setelah menenangkan diri, keduanya kemudian berbalik dan akhirnya duduk saling berhadapan.


"Maafkan aku." ujar keduanya kembali berbarengan, dan sejenak kemudian keduanya tenggelam dalam tawa renyah menghilangkan kecanggungan diantara mereka.


setelah tawa mereka berdua reda. Haidar menarik napas panjang. "Maafkan adikku yang genit dan mesum itu." ujarnya Haidar memelas. "Anak itu kurang bahagia dimasa kecilnya sehingga kelakuannya menjadi seperti itu."


Mahreen kembali tersenyum, "Setidaknya dia memiliki pembanding dari tindak-tanduknya. Kak Haanish tidak akan tersesat sejauh itu."


"Ah, entah kenapa dia menyukai hal-hal yang tak sesuai dengan panduan moralku. seakan ia bukan anak ayahku." sahut Haidar dengan nada mengeluh. "Tapi, aku kemudian sadar kalau ternyata kami berdua bagaikan sekeping mata uang dengan sisi yang berbeda."


"Itulah yang kusukai dari kalian berdua sejak pertama kali mengenal kalian. kalian kakak-beradik yang saling mendukung." sambut Mahreen.


Haidar kembali melambai. kali ini gadis pelayan muncul lagi. mulanya ia senyum-senyum gembira. namun kegembiraannya berganti kekecewaan saat tak menemukan keberadaan Haanish disana. Haidar seakan tahu isi hati gadis itu langsung menukas.


"Kamu mencari Haanish? dia baru saja pergi bersama cewek cantik." ujar pemuda itu semakin membuat gadis itu tambah cemberut. ia hendak pergi kalau saja tak ditahan Haidar.


"Kamu mau kemana? ini aku mau pesan." kata Haidar seraya mencekal pergelangan tangan gadis itu. pemuda itu terkejut saat si gadis tiba-tiba menghentakkan lengannya hingga pegangan Haidar terlepas.


"Eh, apa-apaan kamu?!" hardik Haidar dengan berang.


"Kakak bukan muhrimku, jangan pegang-pegang." tukas gadis itu dengan angkuh membuat Haidar mengencangkan rahangnya dan Mahreen susah payah menahan tawa.


"Lho? tadi Haanish nyolek dagu kamu, kok kamu biarkan?!" tuntut Haidar protes.


"Kak Haanish kan calon suamiku." jawab gadis itu penuh percaya diri membuat Haidar terlonjak nyaris jatuh dari bangku.


"Apa kau bilang?! calon suami?!" pekik Haidar. "Aku saja kakaknya nggak tahu? aku ini walinya!"


"Sejak kapan laki-laki punya wali?!" bantah gadis itu dengan sengit. "Setahuku perempuan tuh yang harus punya wali."


Mahreen membiarkan pertengkaran itu makin memanas. gadis itu menonton saja, menganggapnya sebagai lawakan live show. sementara Haidar mulai muntab menghadapi gadis yang terlalu percaya diri itu.


"Eh, kok kamu malah bahas urusan wali sih? eh, ini aku lagi mau pesan..." tukas Haidar berupaya membetulkan kembali arah pembicaraan.


gadis pelayan itu mengangkat dagunya. "Kak Haidar dilayani sama kakakku saja! permisi!" ujar gadis pelayan itu dengan sikap angkuh melangkah meninggalkan Haidar.


tubuh Haidar gemetaran menahan kemarahannya yang nyaris bobol kalau saja Mahreen langsung menyentuh pergelangan tangan pemuda itu.


Nyessssss.....

__ADS_1


seketika kemarahan itu langsung menguap dan seakan Haidar lupa mengapa ia hendak marah. perlahan ketenangan menyelimuti sanubari pemuda tersebut bagai air yang membasahi hatinya. Haidar menoleh menatap Mahreen dan kembali ia seakan jatuh dan tenggelam dalam telaga hijau keabu-abuan itu.


"Biarkan saja..." ujarnya lembut dan Haidar kembali merasa hatinya sejuk.


Haidar menarik napasnya lalu menghembuskannya dengan pelan dan pemuda itu mengangguk-angguk. "Baiklah... kalau saja bukan kamu... aku pasti akan mengeplak kepala bebalnya yang seperti lembu itu." gerutunya memandang pintu dari sekat kamar.


Haidar duduk lagi dan kali ini ia mengambil posisi diseberang lalu duduk menghadap kearah Mahreen. pemuda itu menatapi gadis berkerudung bermata hijau itu.


"Aku, Haidar Ali Lasantu..." ujar Haidar mengulurkan tangan. "Tapi, khusus untukmu... kau boleh saja memanggilku Chounan."


Mahreen tersenyum lalu mengulurkan tangan menyalami tangan Haidar. "Mahreen Nurmagonegov dari Dagestan, Rusia. senang berkenalan dengan Kakak."


keduanya melepaskan jabatan tangan masing-masing. Haidar kemudian duduk menyangga sikutnya di permukaan meja. "Aku kenal wilayah itu. bukankah itu tempat kelahiran legenda bernama Khabib Nurmagonegov Si Elang Rusia itu?" tebak Haidar dengan tatapan berbinar.


"Beliau adalah buyutku." jawab Mahreen dengan tenang.


"Sebuah kehormatan besar bisa bertemu dengan cucunya." sahut Haidar membuat Mahreen tertawa kecil dan menutupi bibirnya dengan tangan kanannya. setelah meredakan tawanya, Mahreen kemudian duduk dengan gaya yang sama dengan Haidar.


tak lama seorang lelaki muncul dan berdiri disisi Haidar. "Wah, Kak Haidar sudah punya pacar ya?" tukas lelaki itu dengan suara yang sejuk.


Haidar tersentak mendengar ucapan lelaki itu. seketika ia menoleh. "Apa? ah kau segampang itu menilai."


Mahreen merah wajahnya mendengar kalimat yang terlontar dari bibir lelaki pelayan itu. ia menyembunyikan senyum malu-malunya dan memperbaiki rambutnya yang terlanjur menggantung dipelipisnya.


"Tapi sebenarnya, saya pribadi senang kalau lihat Kak Haidar punya pacar." ujar lelaki itu. "Saya selalu melihat Kakak seperti orang yang kesepian."


"Memangnya kau psikiater sehingga bisa seenaknya mengolokku?" tukas Haidar membuat lelaki disisinya hanya tersenyum cengengesan saja. pemuda itu menggeleng. "Aku mau pesan minuman." Haidar menyebutkan nama minuman yang dipesannya. pemuda itu kemudian menatap Mahreen. "Kamu pesanlah... hari ini, aku yang traktir." ujar Haidar.


Mahreen menggeleng pelan dan tersenyum. Haidar ikut menggeleng. "Ayolah, sebagai tanda perkenalan kita agar lebih... akrab. ya, lebih akrab."


lelaki itu tersenyum lagi mendengar ucapan pemuda itu. ada rasa jengah dan kuatir dalam kalimat tersebut, takut mengungkap kejujuran bahwa sebenarnya Haidar senang dengan keberadaan gadis itu disisinya. senyumnya sirna saat terdengar panggilan Haidar.


"Kamu melamun ya?!" tukas Haidar. "Bawakan minuman yang belum pernah diminum oleh Mahreen di kafetariamu."


"Baiklah, sesuai pesanan Kak Haidar." ujar lelaki itu kemudian berbalik melangkah meninggalkan tempat itu.


"Aku sudah menceritakan tentang diriku." ujar Mahreen. "Ceritakan tentang dirimu."


"Aku hanya lelaki biasa saja." kilah Haidar dengan tenang. "Seperti orang kebanyakan."


"Penampilanmu tidak sesuai dengan tutur katamu." ujar Mahreen. "Orang biasa mana yang mengendarai Tuatara V33K yang terkenal paling mahal itu? apakah Kakak pikir, aku nggak tahu siapa Kakak?"


"Siapa aku, dimatamu?" tantang Haidar kali ini dengan sikap tegak. arogansinya sebagai seorang calon presdir dan Kepala Keluarga Lasantu itu muncul.


"Kakak adalah pemilik perusahaan terbesar yang ada di Gorontalo dan ke duapuluh tiga dari perusahaan-perusahaan yang memiliki banyak lini dagangnya di Indonesia." ungkap Mahreen.


"Sebatas itu yang kau tahu?" pancing Haidar.


dengan tersipu, Mahreen mengangguk. "Callista yang menceritakannya." ungkap gadis itu pada akhirnya.


Haidar tertawa sambil mendongakkan kepala keatas. gayanya sangat mirip dengan angkuhnya para raja kuno yang digdaya. setelah puas tertawa, pemuda itu kembali menatap Mahreen.


"Biarlah sebatas itu dulu yang kau tahu." kata Haidar, "Aku nggak ingin memaksamu mengetahui segala yang belum bisa kau cerna dalam kehidupan keluarga kami."


"Kakak kepedean." olok Mahreen, "Saya juga nggak berminat mencari tahu lebih jauh." ujarnya membuat Haidar tertohok. pemuda itu menelan ludah.


tak lama kemudian Callista dan Haanish muncul lagi dan menyapa keduanya.


"Bagaimana penjajakannya?!" tanya Haanish langsung.


"Eiji..." tegur Haidar, "Singkirkan gayamu yang seperti itu."


"Aku bisa saja merubah kelakuanku. itu gampang saja buatku." sahut Haanish dengan santai. "Tapi, kau juga harus merubah kekakuan gayamu itu. kau lebih mirip boneka marionet yang bertubuh atletis."

__ADS_1


Haidar melirik adiknya dengan wajah kesal. Callista langsung tanggap. ia menatap Mahreen. "Bisa temani aku, Reen? kita ke perpustakaan yuk?" ajaknya.


Mahreen mengangguk. ia bangkit dan menatap Haidar. "Maaf, Kak. aku harus pergi." ujarnya hendak pamit. "Insya Allah, kita akan bersua lagi."


"Aamiin..." gumam Haidar dengan pelan.


Mahreen melangkah bersama Callista meninggalkan tempat itu. lelaki pelayan yang berpapasan dengan mereka sejenak merasa heran tapi ia tetap saja membawa nampan berisi dua gelas minuman ke tempat dimana Haidar dan Haanish duduk. sesampainya disana, lelaki itu berdecak.


"Lho? kok pergi?" gerutunya. "Padahal aku sudah susah-susah bikin minuman cocktail ini."


"Kamunya yang terlambat! bikin minuman lama benar. lagi ngapai saja didalam hah?!" sela Haidar yang jengkel.


"Lha? lalu minuman ini, mau diapakan dong?!" tanya lelaki itu dengan bingung.


"Habiskan minuman itu sekarang!" perintah Haidar dengan wajah dingin. "Itu adalah hukuman keterlambatanmu!"


dengan wajah sesal, lelaki itu terpaksa meneguk habis minuman buatannya sendiri kemudian meletakkan gelas berisi minuman dihadapan Haidar.


"Makanya kalau lagi bikin pesanan itu jangan terlambat! satu detikpun kamu jangan pernah terlambat!" ujar Haidar dengan penuh penekanan.


"Iya, iya... permisi dulu Kak." ujar lelaki pelayan itu.


Haidar mengangguk dan mengusir pemuda itu dengan isyarat halus. lelaki itu meninggalkan tempat tersebut. tinggal Haidar dan Haanish yang duduk disana.


"Bagaimana? Mahreen itu menarik, kan?" pancing Haanish.


Haidar menautkan alisnya. "Apaan kamu? kok nanya-nanya tentang Mahreen?" lelaki itu kemudian mengangkat gelas hendak meminumnya. namun betapa terkejutnya ia saat Haanish tiba-tiba mencekal pergelangan tangan pemuda itu. bibirnya yang terlanjur memonyong hendak mencaplok pinggir gelas akhirnya urung. ditatapnya Haanish dengan kesal.


"Kamu apaan sih?" hardiknya, "Mau lepas, nggak?! ancamnya.


"Cie, segitunya ketahuan lagi cemburu nih." tukas Haanish.


"Siapa yang cemburu?!" tantang Haidar.


"Nggak usah sok sembunyikan semua dariku, Chounan." tukas Haanish kembali dengan senyum. "Bagaimana? Mahreen itu menarik, kan?" pancingnya sekali lagi.


Haidar memegang gelas nyaris dekat dengan bibirnya namun pemuda itu tak menggerakkan tangannya untuk mendekatkan bibir gelas itu dengan bibirnya.


"Dia menyenangkan." jawab Haidar.


"Menyenangkan bagaimana?!" desak Haanish.


"Jujur saja. dia yang berhasil membuatku..." ujar Haidar yang nyaris saja meneruskan ceritanya. lelaki itu tersadar dan menatap Haanish. "Ah, kamu seperti detektif saja. ngapain kamu nanya-nanya?! mau jadi comblang, hah?!"


"Ya, kalau itu bisa membuat kakakku gembira, tentu aku siap menjadi comblang antara kamu dengan dia." ujar Haanish kemudian tertawa.


...********...


disebuah ruangan, terlihat seorang lelaki mengenakan sebuah jaket hitam hoodie. ia berdiri tegap menghadap ke dinding. disana terdapat sebuah lambang heraldik dengan hiasan utama seekor naga bersayap yang meliukkan diri memeluk salib.


itu adalah lambang klan Dracna. kelompok esoterik-ultranasionalis yang memiliki impian menguasai dunia menegakkan panji kristus diseluruh benua yang menghampar di bumi.


lelaki itu menggenggam belati unik. dihadapannya membentang meja altar. ada sebuah piring persembahan. lelaki itu mengulurkan tangan kanannya. tangan kirinya yang menggenggam belati itu kemudian menekan telapak tangan kanan, mulai mengiris dan menguak luka memencarkan darah yang mengalir jatuh menggenangi permukaan piring.


setelah itu lelaki tersebut menarik tangannya dan meletakkan belati itu dimeja disisi piring tersebut. dari belakangnya muncul seorang lelaki berusia lanjut. rambutnya yang putih menjuntai panjang hingga ke bahu. lelaki tersebut berdiri dibelakang lelaki berjaket hoodie yang memunggunginya.


"Kau sudah siap, Nikolai." kata lelaki tua tersebut. "Kau akan melaksanakan misi yang belum sempat diselesaikan oleh ayahmu, Sergey. kau adalah harapan klan Dracna. tak ada yang bisa memanggul tugas suci, kecuali kamu."


"Aku tak perduli dengan segala impian kalian itu." tukas Nikolai dengan datar. "Tunjukkan saja padaku, dimana lelaki bernama Saburo Koga Mochizuki itu. aku akan mendatanginya, dan akan menagih nyawanya untuk menenangkan arwah ayahku."


"Kau akan segera menemukannya." sahut lelaki tua tersebut. "Namun kau harus menemukan dulu perempuan bernama Mahreen Nurmagonegov. perempuan itu memegang rahasia tentang keberadaan Darah Dewa yang tadinya berada dalam piala suci."


"Aku akan menemukan perempuan itu." ujar Nikolai dengan mantap.[]

__ADS_1


__ADS_2