The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 36


__ADS_3

"Kau lagi, kau lagi!" sergah Johannes Wie. "Lagi-lagi kau membuat kekacauan disini! apa tidak cukup puas kau merusak putriku?!"


Haanish mengalihkan tatapannya dari Suwirya ke Johannes. "Saya datang dengan baik-baik. dengan maksud baik untuk mengadakan silaturrahim dengan keluarga Wie." sejenak Haanish menatap kedua puluh pengawal yang terkapar pingsan, kemudian menatap lagi Johannes. "Tapi nyata keluarga Wie benar-benar tidak menghormati itikad baikku dengan menyuruh dua puluh orang tak berkepentingan ini untuk menahanku."



"Tentu saja aku tak menghargai itikadmu!" hardik Johannes Wie menuding-nudingkan telunjuknya kepada Haanish. "Bagaimana bisa keluarga Wie mau menerima keluarga Lasantu yang notabene merupakan keturunan dari Mamoru Mochizuki, si perampas jiwa itu?! mau dikemanakan wajahku dihadapan para leluhur?!"


"Stop mengeluarkan kata keji itu, lao pe!" sergah Haanish menudingkan jarinya kehadapan Johannes membuat lelaki parobaya itu terkejut. "Kami, keluarga Lasantu-Mochizuki tidak sejahat yang kau pikirkan itu." ujarnya. "Apakah hanya karena cela leluhurku dimasa lalu, kalian menganggap semua anak keturunannya sama tercelanya?! secara tidak langsung kau juga menuduh Opa dan Bapu ku orang tercela! terlebih Mama yang sekarang menjabat sebagai Wakapolda gorontalo, juga orang yang tercela? bagaimana bisa orang tercela menduduki jabatan nomor dua dikepolisian daerah, hah?!" sergahnya.


"Kau tahu siapa aku?!" tantang Haanish, "Aku cucu dari mantan Naikaku Sori Daijin, Ryoma Hasegawa, kau tahu? keluargaku termasuk dekat dengan keluarga kekaisaran! haruskah kugunakan pengaruh keluarga Hasegawa agar kau mau menerima khitbah ku kepada Denada?!"


Johannes terdiam. jika dilihat dari strata sosial, sebenarnya Haanish lebih tinggi derajatnya daripada keluarga Tanuwirdja. bagaimanapun, keluarga Lasantu dari galur Adnan Lasantu berkerabat dengan keluarga Mantulangi yang masih diakui sebagai keluarga jogugu di Gorontalo. dari galur Azkiya, berkerabat dengan keluarga Mochizuki, salah satu keluarga kuno dijepang yang merupakan percabangan dari keluarga Minamoto yang diakui sebagai kaum ason (keluarga kekaisaran yang menjadi aristokrat istana). dari galur Rosemary, juga berkerabat dengan keluarga Hasegawa yang merupakan salah satu keluarga yang mendukung Restorasi Meiji.



secara pokoknya, Haanish masih seorang bangsawan murni, ketimbang keluarga Tanuwirdja yang hanya merupakan strata pedagang sukses di cina. itupun kekayaan keluarga Tan terkumpul akibat koneksi dan kolusi yang dilakukannya kepada para pejabat dinasti Qin yang dipimpin Kaisar Pu Yi. paska pembantaian Nanjing, keluarga Tan bermigrasi ke Indonesia dan membangun lagi jaringan dagangnya dengan menghamba kepada golongan elit yang disebut Sembilan Naga.


"Anak muda." ujar Suwirya, "Aku telah lebih dulu melakukan proses dingjing kepada keluarga Wie. bukankah dalam ajaran agamamu, seorang pemuda dilarang mengkhitbah wanita yang telah dilamar oleh pemuda lainnya?"


"Sebelum anda, aku sudah lebih dulu melakukan lamaran, tapi selalu ditarik-ulur hingga akhirnya mereka menemukan keluarga anda." balas Haanish tak kalah tegas seperti seorang jenderal samurai.


"Papa! lelaki ini sudah keterlaluan." ujar Wijaya yang sudah gatal tangannya ingin menggasak wajah Haanish, namun sang ayah menahannya.


Suwirya kembali menatap Haanish. "Itu artinya, kamu memang tidak diinginkan oleh keluarga Wie untuk menjadi menantunya. keluarga Wie lebih memilih kami untuk berbesanan."


tak lama kemudian terdengar lagi deru mobil. Tuatara V33K milik Haidar berhenti disebelah jalan dan keluarlah Haidar dikawal oleh Salman. kedua lelaki itu berdiri dibelakang Haanish.


"Hah, datang lagi kakaknya dan siapa lagi si lelaki ini?" ujar Johannes mengejek.


"Inspektur Polisi Dua, Salman Attar Williams, S.I.K, satuan reskrim polres Kota Gorontalo." ujar Salman memperkenalkan diri dengan suara datar namun pengerahan tenaga dalam besar yang membuat Suwirya menelan ludah sebab suara lelaki itu berhasil mematahkan khikang yang dibuatnya.


Salman menatap Haanish. "Eiji... pulanglah... tak ada gunanya kau berada disini. seperti yang kau lihat, Denada sudah di khitbah oleh keluarga itu."


Haanish mulai terkekeh lalu akhirnya tertawa keras mengerahkan ki yang ditekannya melalui hara membentuk sebuah gelombang suara yang menggetarkan rongga dada semua lelaki diberanda itu. kedua mata pemuda itu berkaca-kaca pertanda ia berupaya menahan emosinya meskipun akhirnya kelainan patologisnya membeberkan kemurkaannya.


"Eiji..." panggil Haidar dengan pelan disertai jurus bahana penggetar sukma untuk mematahkan gelombang ki yang dipancarkan Haanish melalui tawa kencangnya itu.


Haanish menghentikan tawanya ketika dirasakannya jurus bahana penggetar sukma yang dilancarkan Haidar mengacaukan suara tawanya. Haanish menatap Haidar dengan tatapan mencela.


mengapa kau hentikan aku?


Haidar memicingkan mata.


jika kau teruskan... apa bedanya kau dengan mereka?!


"Hah! kalian dengar? itulah penyakit yang dimiliki oleh Mamoru, ternyata juga menurun pada cucunya ini!" ejek Johannes kemudian tertawa, namun tak ada yang menanggapinya.


Haidar menatapi Johannes dan memicingkan matanya. Johannes terdiam melihat tatapan mata Haidar yang begitu menghujam. dengan sendirinya ia bisa mendengar telepati yang dikirimkan Haidar padanya.


jika kau memang tak suka, nggak usah banyak bacot, orang tua! silahkan kau nikahkan putrimu itu. dan kami, keluarga Lasantu, tak akan berdiam diri dengan penghinaan ini!


Johannes tergagap membuat Suwirya yang menatapnya menjadi heran. sementara itu Haidar menyapu dada Haanish lalu menyentuh pundaknya.


"Eiji... mari, kita pulang." ajak Haidar dengan lembut.


Haanish akhirnya mau juga diajak beranjak dari tempat itu. Haidar mengambil kunci sepeda motor adiknya dan menyerahkannya kepada Salman. pemuda itu paham maksud dari Haidar.



Haidar membawa Haanish masuk kedalam Tuatara V33K kemudian bergerak meninggalkan tempat itu. sedangkan Salman kemudian mengendarai sepeda motor gede milik Haanish.


sepanjang perjalanan, Haanish hanya terkekeh saja. namun sang kakak dapat melihat dengan jelas, kedua kelopak mata Haanish mengalirkan air mata dengan deras. tatapan Haidar begitu iba terhadap adiknya ini. namun, lelaki itu hanya bisa mendiamkannya, menunggu hati sang adik itu tenang kembali. namun itu semua tak akan sama lagi.


mobil dan sepeda motor itu tiba di kediaman Lasantu. Haidar membimbing Haanish kedalam rumah. Aisyah dan Aya Sofia yang hendak mendekat langsung ditatapi Haidar yang mengisyaratkan mereka berdua jangan mendekat. Aisyah paham dan menahan Aya Sofia tetap disisinya. kedua lelaki itu menaiki tangga menuju lantai dua.

__ADS_1


Salman muncul dan langsung diinterogasi Aisyah perihal kelakuan Haanish yang aneh.


"Lho? kok kebalik?" ujar Salman tersenyum, "Harusnya aku yang melakukan interogasi, kok malah gantian kamu yang menginterogasi aku."


"Sudah ah, Kak Attar... kenapa dengan Kak Eiji?" tanya Aisyah.


Salman menghela napas lalu duduk di sofa tamu. Aisyah ikut duduk disisinya. Aya sofia sendiri bermain-main lagi dengan bonekanya. sambil menatap Aya Sofia yang bermain boneka dilantai, Salman berkisah.


"Denada, pacarnya Haanish, sudah dilamar orang." jawab Salman membuat Aisyah terperangah sambil menutup mulutnya. Salman melanjutkan. "Haanish berupaya mencegah, namun sudah terlambat. itulah yang membuatnya stres."


"Kasihan sekali Kak Eiji." ujar Aisyah dengan begitu simpati.


Salman mengangguk-angguk. "Kami juga terlambat tiba dilokasi. Haanish sudah mengamuk dan menjatuhkan dua puluh orang pengawal dihalaman rumah itu. untung saja, Haanish mau dibawa pulang Haidar. kalau nggak, bisa tjadi perang saudara ditempat yang nggak semestinya."


Aisyah kembali menghela napas iba. ia benar-benar meresapi kesedihan Haanish. Salman tersenyum lesu. "Semoga, Haanish bisa melewati hari-harinya tanpa Denada."


Salman bangkit lalu melangkah menuju tangga dan naik kelantai atas, meninggalkan Aisyah yang termenung sendirian menatap Aya Sofia yang bermain boneka dilantai.


...*****...


Inayah mendengus pelan. wajah wanita itu mengencang. sang ibu gusar sebab sang putra kedua melakukan tindakan yang membuat pihak keluarga Wie dan Tanuwirdja mengajukan gugatan. namun disisi lain, sang ibu juga kasihan melihat penderitaan anaknya itu.


Haanish duduk di kursi menatap kosong dan terkekeh sendirian. namun nampak matanya selalu basah dengan airmata. Haidar hanya menatap adiknya dipintu, bersama Inayah.


Salman sendiri sudah menyelidiki kejadian itu dan menyimpulkan kesalahan berada dipihak keluarga Wie karena tidak memperkenankan Haanish menemui Denada sehingga menyebabkan perkelahian tidak adil yang semuanya dimenangkan oleh Haanish.


Salman sudah melaporkan itu pada atasannya dan sudah diproses pemeriksaannya. Mahreen muncul dan ikut berdiri dibelakang Haidar.


"Bagaimana keadaan Kak Eiji, Mamachka?" tanya Mahreen.


"Masih belum menampakkan perkembangan yang baik." jawab Inayah, "Dia stres sebab pacarnya telah dilamar oleh orang lain. Mama juga nggak bisa mengupayakan apapun." Inayah menatap Mahreen. "Antara keluarga Lasantu dan Wie terjadi konflik yang berlatar belakang historis. sulit dihilangkan."


"Latar belakangnya apa?" tanya Mahreen.


"Baru juga selesai." jawab Mahreen.


Inayah mengangguk. "Belajarlah yang keras." ujar wanita itu memberikan motivasi.


Mahreen hanya tersenyum.


...*******...


Marissa mondar-mandir di luar ruangan Arklab. ia menunggu sang ayah selesai mengerjakan tugasnya. Akram juga masih sementara mendesain armor ringan untuk satuan anti huru-hara, dan Satuan tempur khusus TNI.



didalam ruangan itu, Marinka dan ayahnya sedang mendesain ulang armor ringan atas permintaan departemen pertahanan dengan estimasi murah. lelaki itu memilih bahan yang cocok untuk bahan pembuatan armor tersebut sedang Marinka membuat pola armor.


merasa yang ditunggunya agak lama, membuat Marissa meninggalkan tempat itu. ia kembali menaiki tangga menuju lantai satu dan memilih duduk diberanda menatap pekarangan. nampak disana sang ibu sedang menyibukkan diri menata tanaman-tanaman kesukaannya. beberapa tanaman yang dipeliharanya merupakan tanaman-tanaman yang mahal, termasuk tanaman anggrek nongke shenzen yang didapuk sebagai tanaman termahal menyaingi mawar juliet rose.


Marissa akhirnya bangkit lagi dan melangkah menuju pekarangan dimana sang ibu berkebun. Airina menjeda kegiatannya ketika melihat putri bontotnya itu mendekatinya.


"Kemarilah nak." panggil Airina.


Marissa tiba dihadapannya. Airina memberi instruksi untuk menyiangi beberapa batang tanaman yang sudah kering. Marissa mengikuti arahan ibunya. selama kegiatan itu Marissa mengungkapkan keinginannya.


"Umi..." panggil Marissa.


"Hmm.." jawab Airina.


Marissa menimbang-nimbang sejenak sedang Airina menatap putri bungsunya itu dengan setengah perhatian yang terbagi antara memeriksa tanamannya dan mendengar permintaan putrinya.


"Bolehkah denai ke Gorontalo?" tanya Marissa.


Airina masih sibuk menyiangi tanaman. "Kenapa tiba-tiba adiek hendak ke Gorontalo?" tanya Airina dengan lembut.

__ADS_1


Marissa menimbang-nimbang lagi jawaban apa yang bisania lontarkan agar sang ibu menyetujui kepergiannya le Gorontalo. Airina menghentikan kegiatannya dan menatap Marissa.


"Adiek mau apa ke Gorontalo?" tanya Airina sekali lagi.


"Mau ketemu Uda Attar." jawab Marissa yang mempermainkan ujung bajunya. Airina sudah tahu gelagat laku anak-anaknya. khusus Marissa, jika ia mempermainkan ujung bajunya, sebenarnya menyembunyikan maksud dari jawabannya itu. Airina sudah paham benar.


"Oooo... Umi kira mau ketemu Uda Haanish." ujar Airina sengaja memancing.


pancingannya mengena. wajah Marissa langsung merona merah pertanda ia tersindir. namun gadis itu hanya diam saja. Airina senyum-senyum.


"Sebenarnya kalau jawabannya jujur, Umi bisa pertimbangkan." pancing Airina lagi.


akhirnya Marissa mengaku. "Iya deh Umi... Adiek mau ketemu Uda Haanish." ujarnya akhirnya menampakkan cengiran.


Airina mengangguk-angguk. "Umi sih nggak melarang. tapi harus seijin Abi juga. jangan sampai, Abi merasa Adiek nggak menghargai posisi Abi."


Marissa akhirnya senyum dan mengangguk. "Tadi, Adiek nunggui Abi, belum selesai-selesai juga mendesain armor. Adiek sampai bosan menunggu." rajuknya.


"Nanti Umi bantu sampaikan." ujar Airina.


Marissa langsung memeluk ibunya. "Makasih Umi. Umi memang paling terbaik sedunia deh." rayunya. Marissa kemudian pergi meninggalkan pekarangan itu sambil berdendang senang.


Airina memandang punggung anaknya sambil menggeleng kepala berkali-kali.


anak itu. kalau sudah ada maunya, susah dibendung...


...******...


Aya Sofia mengenakan busana muslim pemberian Haidar. gadis kecil itu mematut-matut dirinya di kaca. bordiran kamon **Mochizuki nampak indah tersulam disana.


"Mama... cantik nggak?" tanya Aya Sofia sembari berputar sekali.


Aisyah yang sementara melipat-lipat pakaian menoleh dan tersenyum. "Wah, anak ibu cantik sekali." pujinya membuat tatapan Aya Sofia berbinar-binar senang.


"Benarkah?" ujar Aya Sofia.


Aisyah mengangguk. Aya Sofia dengan gembira, keluar dari kamar dan melangkah riang menyusuri koridor. ia bertemu dengan Tante Imel yang baru saja keluar pula dari kamar.


"Assalamualaikum, Tante Imel." sapa Aya Sofia.


Imelda terlonjak sedikit dan menatapi anak berjilbab dan memakai pakaian muslimah. nampak di rompi panjang anak itu tercetak **kamon **keluarga Mochizuki.


"Hei anak kecil, siapa yang menyuruhmu menggunakan lambang itu dibajumu?" tanya Tante Imel.


"Om Haidar yang memberikan baju ini pada saya, Tante." jawab Aya Sofia dengan bangga dan berputar sekali. "Cantik kan Tante..?"


"Cantik." komentar Imelda datar.


"Makasih Tante..." jawab Aya Sofia kemudian berlalu lagi. ia tiba dilantai satu menemukan ruang dojo terbuka pintunya. dengan pelan, Aya Sofia mendekati dojo.


ketika ia mengintip, ia menemukan seorang pemuda dengan rambut panjang setengkuk sedang duduk bersila, menegakkan tubuh dan wajah dengan mata terpejam. seuntai tasbih **juzu **berkepala naga tergenggam di jemarinya.


pemuda itu adalah Haanish. ia sedang berdzikir melantunkan beberapa kata-kata dzikir. ia sedang menerapkan prinsip **seishin teki kyoyo, **atau pemurnian jiwa. sudah cukup baginya stres sehari untuk melepas Denada dimiliki orang lain. wanita itu juga tak memperjuangkan cintanya. ia takluk dibawah tekanan keluarganya.


Haanish baru saja menyelesaikan dzikirnya dan membuka mata, menemukan seorang gadis cilik berpakaian muslimah warna biru tua. tatapan Haanish terarah pada **kamon **keluarga Mochizuki yang tersulam didada pada rompi panjang tanpa lengan yang membalut pakaian muslimah gadis kecil itu.


manik mata Aya Sofia menatap bola mata Haanish yang berkilau karena banyak mengeluarkan airmata. tanpa bicara, anak itu mengeluarkan lenso dan mengulurkan jemarinya mengusap pipi Haanish yang basah.


keharuan kembali menyelimuti relung hati pemuda itu. air mata semakin membanjir kembali. Aya Sofia menatapnya tanpa bicara.


"Gadis kecil.... bolehkah aku memelukmu?" tanya Haanish dengan lirih.


Aya Sofia tak bicara. ia hanya bangkit dan beringsut mendekati Haanish lalu melingkarkan kedua tangannya memeluk leher pemuda itu. Haanish balas memeluk dan kembali menumpahkan tangis tanpa suara.


Aisyah yang mencari-cari keberadaan Aya Sofia menemukan sang putri tengah memeluk Haanish yang sedih itu. dengan senyum haru, Aisyah menatap keduanya dari tepi pintu **shoji yang membuka.[]

__ADS_1


__ADS_2