The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 30


__ADS_3

Inayah mengambil waktu luangnya untuk menemani Sofi ke sekolah. anak itu kini duduk dibangku kelas 6 SD. setengah tahun lagi, ia akan menjajaki bangku kelas menengah.


hari itu adalah Parents Day, dimana pihak sekolah memberi kesempatan kepada para orang tua murid atau walinya menyaksikan perkembangan anak-anaknya di sekolah. pihak orangtua atau wali menempati deretan bangku dibelakang, termasuk Inayah.


semua orang tua dan wali murid kenal siapa wanita itu. mereka begitu segan dan hormat sebab terasa wibawa Inayah begitu kuat menekan mereka. tatapannya saja mampu menyetol mulut-mulut nyinyir para ibu penggila gosip. tak ada yang berani berghibah selama Inayah ada disana. para ibu penggosip tentu sangat tersiksa, tak mampu mengekspresikan dirinya.


terlebih mereka tahu lewat tayangan stasiun TV lokal, Aisyah, ibu dari Aya Sofia yang mereka selalu remehkan dan rundungi, kini resmi menjadi menantu keluarga Lasantu. menantu kedua setelah Marissa Williams yang menikahi putra keduanya, Haanish dan sekarang berdomisili di jepang. Inayah dapat melihat dengan jelas tatapan mata cemburu dan iri para ibu-ibu yang melihat betapa beruntungnya Aya Sofia memiliki nenek itu.


Aya Sofia sendiri memang pandai membawa diri tapi tak pandai bersikap arogan. ia seperti ibunya yang lebih banyak mengalah dan menutup diri ketimbang mengekspresikan dirinya dihadapan teman-temannya. hanya dihadapan keluarganya, anak perempuan yang sudah mulai mekar itu. kecantikan wajahnya sudah mulai nampak, apalagi Aya Sofia memang telaten merawat dirinya, bahkan semakin teratur sejak ia resmi menjadi putrinya Haidar.


lelaki itu tak pernah sungkan menggelontorkan dana besar hanya agar putri tirinya terlihat glowing sampai-sampai Aisyah pernah menegur suaminya agar tak berlebihan memanjakan Aya Sofia.


"Dia putriku. aku berhak merawat dia seperti aku merawatmu." kilah Haidar membuat Aisyah terdiam dan dalam hati bersyukur bahwa ternyata lelaki itu adalah sosok yang humble dan tidak diskriminatif. ia tak membedakan apakah Aya Sofia putri kandungnya atau tidak.


"Aya berhak mendapatkan kasih sayang dan perhatian seorang ayah. dan aku yang akan memenuhinya. karena aku, ayahnya!!!" tandas Haidar.


Aisyah tiada berkata lain selain memuji Allah atas karunia yang ia dapatkan setelah sekian lama diterlantarkan Joni dalam kehidupan pernikahannya. ia menempuh hidup baru sebagai istri seorang calon presdir Buana Asparaga Tbk. esok, Haidar akan resmi mengemban jabatan itu.


suatu kali dalam kegiatan Parent Day itu, seorang guru memberikan sebuah tugas tentang presentasi sebuah hal. para siswa sibuk menuliskan materi presentasinya. setelah beberapa menit, tugas selesai dan para siswa mendapatkan kesempatan untuk mempesentasikan materi bahasannya.


Aya Sofia mendapat tugas pertama. gadis kecil itu bangkit dan maju ke depan kelas. ia sejenak mengamati teman-temannya lalu kumpulan para wali murid. Aya Sofia menemukan nenek sambungnya disana. ia tersenyum dan balas melambai saat Inayah melambaikan tangan kepadanya dan mengacungkan jempol.


Aya Sofia sejenak menarik napas lalu mulai mempresentasikan karangannya.


"Impian adalah dasar keinginan manusia..." ucap Aya Sofia membacakan judul presentasinya. anak itu menyambung lagi.


"Setiap manusia memiliki impian untuk menjadi orang sukses. namun untuk memenuhinya, manusia harus melakukan usaha agar apa yang ia impikan terwujud. hidup tanpa impian dengan alih-alih menerima kenyataan, tidak akan membuat suatu arti bagi kehidupan. kenyataan membuat kita selalu berpikir seadanya dan berhenti mengejar mimpi. padahal, berjuang dari nol untuk mengejar mimpi justru memiliki nilai yang sangat besar daripada meraih impian secara instan. ditengah kesibukan kita bergelut dengan persoalan dunia, hendaknya kita tetap bisa menyisihkan waktu untuk mewujudkan mimpi sebab hidup ini hanya sekali." ujar Aya Sofia mengakhiri presentasinya dan mendapatkan hadiah tepuk tangan.


Aya Sofia menutup lembar presentasinya dan kembali duduk ditempatnya. guru kemudian mengapresiasi hasil presentasi Aya Sofia dan menatap para siswa.


"Mengapa kita harus tetap memiliki impian?" tanya guru.


seorang anak laki-laki mengangkat tangannya. guru itu menatapnya dan mempersilahkannya.


"Ya, Aidil?" pancing guru itu.


"Sebagai pendorong semangat hidup, Bu." jawab anak itu.


"Ya, bagus." sahut ibu guru mengapresiasi jawaban Aidil lalu menatap lagi kepada siswa-siswa yang lainnya. "Ada lagi yang bisa menjawab?" pancingnya.


Aidil kembali menatapi para siswa. tak ada yang mengangkat tangan, entah malu atau takut. ia mengangkat tangan lagi.


"Ya, Aidil lagi?" pancing ibu guru itu. "Mana yang lainnya?"


para orang tua siswa menonton anak-anaknya, berharap ada yang bisa menjawab pertanyaan ibu guru itu. hanya ibunya dari Aidil yang tersenyum bangga. Inayah sendiri hanya menatap datar saja ke depan kelas.


karena tak ada yang mengangkat tangan, maka silahkan Aidil yang menjawab." ujar guru itu dengan nada kecewa yang disembunyikan.


dengan senyum, Aidil menjawab lagi. "Untuk mencapai hidup yang lebih baik dan menghindari hal-hal yang negatif, Bu."


"Ya, bagus!" seru guru itu mengapresiasi. "Wah kelihatannya Aidil Rifai sangat pandai menjawab pertanyaan ibu ya?" ujar guru tersebut kemudian menatapi Aya Sofia.


"Aya... apa impianmu?" tanya ibu guru tiba-tiba.


Aya Sofia mengangkat wajah lalu menatap gurunya. ia menarik napas sejenak lalu menjawab. "Saya hanya ingin jadi petani sukses, Bu."


"Wah, petani sukses." respon ibu guru sedang para orang tua siswa menanggapinya dengan senyum-senyum dikulum. guru itu kembali bertanya. "Mengapa ingin menjadi petani sukses?" pancingnya.

__ADS_1


"Saya hanya ingin menciptakan lapangan kerja. saya ingin memiliki perkebunan yang luasnya berhektar-hektar. saya akan membudidayakan tanaman-tanaman yang tidak biasanya dikebun saya, seperti Buah Naga, buah anggur brazil, pohon kurma dan beberapa tanaman lainnya."


"Wah, bagus sekali ya?" puji guru tersebut kemudian memuji pemaparan Aya Sofia. tiba-tiba entah kenapa guru itu menyentil Aidil.


"Kalau kamu Aidil, apa impianmu setelah besar kelak?" pancing guru tersebut.


"Impian saya paling sederhana dari semua impian anak-anak di kelas ini..." jawab Aidil dengan senyum-senyum dikulum.


"Termasuk lebih sederhana dari impian Aya Sofia?" pancing guru tersebut


Aidil tersenyum lalu menjawab. "Ya. paling sederhana."


"Apa impian paling sederhana kamu itu?" tanya guru tersebut.


"Menikahi Aya Sofia setelah ia dan saya besar nanti." jawab Aidil dengan enteng.


GERRRRRRRR...


seketika penuhlah ruangan itu dengan suara tawa para siswa, sedang para orang tua bahkan lebih ramai lagi. ibunya Aidil langsung menjadi bahan bully ibu-ibu tukang gosip, sementara Inayah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja dengan senyum tipis.


berani sekali kau anak muda....


sementara dibangkunya, Aya Sofia makin menundukkan kepalanya dengan wajah merah padam. suara ramai itu tak berhenti juga meskipun guru itu sudah berupaya menenangkan anak-anak didiknya.


bahkan ada yang berceloteh, "Pasangan kita tahun ini! Aidil Rifai dan Aya Sofia Ahmad!!!"


Inayah mengencangkan udara dalam paru-parunya dan menekannya ke pusar. ia mengerahkan ki dan mendehem dengan pengerahan tenaga dalam.


EEEE...EHHHHHEMMMM....


pancaran gelombang suara yang dicampur tenaga dalam seketika mengheningkan kelas yang semula riuh ribut itu. para ibu-ibu penggosip dan siswa-siswa kelas itu terdiam merasakan tubuh mereka dihantam semacam gelombang kasat mata yang menyerang tubuh mereka dengan getaran.


...******...


Haidar mencak-mencak mendengar cerita dari ibunya tentang seorang anak yang meminati Aya Sofia secara terang-terangan didepan guru dan para orang tua siswa saat Parent Day.


"Aku akan membuat keluarganya menderita!" seru Haidar dengan marah.


"Abah!" tegur Aisyah. "Jangan dihiraukan. itu hanya kenakalan anak-anak saja."


"Kenakalan macam apa yang berani mengungkapkan hal yang semestinya belum boleh dilakukan oleh anak-anak usia 12 tahun? hah! dunia memang sudah mulai edan." sergah Haidar membuat Aisyah langsung bertindak lebih agresif menenangkan emosi suaminya.


sementara di sofa, Aya Sofia duduk terpekur menundukkan wajahnya, malu menatap sang ayah yang dirasuk marah karena anaknya diminati orang.


"Abah... please. tenanglah dulu." ujar Aisyah. "Jangan terbawa emosi. nanti aku akan bicara dengan orang tua anak itu. Abah tenanglah."


Haidar mengerling menatap istrinya. Aisyah dapat dengan jelas melihat mata lelaki itu mengalami perubahan. bagian iris dari mata Haidar melebar mendesak wilayah sklera sehingga keseluruhannya dan berubah warna menjadi kuning kemerahan. bagian pupilnya yang semula hitam bulat berubah menjadi pipih.


Aisyah terkejut tapi tak berupaya panik. dia sudah berjanji pada dirinya menerima apapun yang ada dalam diri suaminya, termasuk perwujudan monster yang suatu saat pasti akan diperlihatkannya.


Haidar sudah mengungkap tentang efek dari Darah Dewa yang menginfeksi seluruh darahnya. Haidar bahkan memperlihatkan pada Aisyah, bagaimana ia melukai telapak tangannya dengan menyayatnya pakai pisau dapur. luka itu membuka dan memperlihatkan darah merah pekat nyaris hitam dan anehnya, luka itu menutup kembali lalu seakan telapak tangan itu tak pernah luka sama sekali.


Haidar sudah pernah bilang bahwa selama ia bisa mengendalikan amarahnya, maka selama itu pula ia mampu meredam efek Darah Dewa yang berupaya merasukinya.


"Abah... tenang dong. tuh, matanya Abah berubah lagi." tegur Aisyah dengan lirih.


Haidar terhenyak lalu buru-buru memejamkan matanya lagi beberapa saat dan kembali membukanya, kedua matanya telah kembali ke ujud normalnya.

__ADS_1


"Sorry..." ujarnya lirih.


Aisyah mengangguk-angguk lalu menyapu pundak suaminya. "Relaks, Abah.... relaks...." tegurnya.


Haidar menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan lalu menatap putri sambungnya.


"Sofi, tatap Abah, nak." pinta Haidar.


Aya Sofia mengangkat wajahnya menatap Haidar. lelaki itu menatap putri sambungnya.


"Kamu tidak memiliki perasaan kepada anak itu, kan?" tanya Haidar dengan pelan.


Aya Sofia menatap ayah sambungnya lalu menatap ibunya. Aisyah menyentuh lengan suaminya.


"Abah. usia Sofi masih belia, dia belum paham hal semacam itu. Umma yang sudah mendidiknya penuh." ujar Aisyah dengan lembut. Haidar bangkit menatap Aisyah.


"Ya, anakku memang belum paham. tapi bagaimana dengan anak itu? apakah ia belum paham sehingga dengan pongahnya menyatakan perasaannya terhadap putriku disaksikan semua yang hadir diruangan itu, termasuk Mama! benarkah dia belum paham?" protes Haidar dengan lirih.


"Nanti saya ke sekolah, membicarakan hal itu dengan pihak sekolah. Abah jangan dulu marah-marah dong." ujar Aisyah dengan lembut.


"Terserah Umma mau buat apa." ujar Haidar. "Yang jelas, Aya Sofia tak akan kuijinkan lagi sekolah disana. dia akan menimba ilmu di Pondok Pesantren Hubulo!"


"Abah, jangan kesusu! tinggal enam bulan lagi. dia akan meninggalkan sekolah itu. hal ini biar Umma yang tangani. Umma janji hal ini akan selesai dengan baik." tandas Aisyah.


Haidar menatap lama istrinya lalu akhirnya mengangguk. "Baik. Abah serahkan hal ini kepada Umma. Abah hanya mau mendengar berita baiknya. jangan paksa Abah untuk bertindak." Haidar mendekatkan wajahnya kepada Aisyah. "Kau sudah tahu aku dari pertama kali kita bertemu, kan?"


Aisyah mengangguk-angguk paham. Haidar mendengus lalu melangkah masuk kedalam kamar. Aisyah kemudian mendekati sofa dan duduk disisi Aya Sofia. dengan lembut direngkuh dan dipeluknya sang putri. dalam pelukan lembut ibunya, Aya Sofia perlahan menumpahkan tangisnya yang sejak tadi ditahannya.


...*******...


Inayah baru tiba di kediamannya ketika tiba-tiba diberanda kediamannya telah berdiri Wie Fen Ying (Johannes Wie) yang menggenggam sebuah dokumen.


Inayah didampingi oleh Imelda yang bersikap siaga menaiki beranda kediamannya menemui Wie Fen Ying yang sudah sejak lama berdiri menantinya.


"Aku sudah lama menunggumu!" ujar Wie Fen Ying dengan suara datar.


"Silahkan duduk." ujar Inayah membalas tak kalah datarnya.


"Aku tak punya waktu." kilah Wie Fen Ying. "Aku hanya ingin kau menjelaskan tentang ini!" ujarnya menyodorkan dokumen kepada Inayah.


Inayah hanya tersenyum lalu melangkah ke sofa lalu duduk disana. sedangkan Imelda tetap berdiri mengawasi Wie Fen Ying yang berdiri menyodorkan dokumen itu. merasa bahwa Inayah tak memperdulikannya, lelaki itu meletakkan dokumen tersebut di meja.


"Rupanya kau sudah tahu." ujar Inayah.


"Apa maksud semua ini?! kau mau memanipulasi sejarah?!" tukas Wie Fen Ying dengan nada tinggi.


"Siapa yang memanipulasi sejarah, Johanes?! sudah nyata dalam dokumen itu, Wie Jiao yang kau sangka tewas dalam kerusuhan Nanjing itu masih hidup bahkan menikah dengan Mamoru Mochizuki. apa kau pikir putraku berbohong?!" balas Inayah.


Wie Fen Ying terdiam. Inayah tersenyum sinis. "Akuilah kalau ternyata, wanita yang kalian sangka telah mati itu, justru melahirkan anak keturunan Mochizuki. sudah kau lihat garis silsilahnya kan? apa kau pikir arsip negara itu hoax?!"


Wie Fen Ying terhenyak. Inayah bangkit lalu melangkah ke hadapan Wie Fen Ying dan mendorong dadanya dengan telunjuk.


"Kau... kau telah membuat putra keduaku meninggalkanku! gara-gara kau. semua gara-gara kau. demi mencari kebenaran leluhurnya, ia mengorbankan dirinya sendiri, tak bisa berkumpul lagi denganku!!!" sergah Inayah yang mulai terisak. "Brengsek kau! berengsek kalian semua keluarga Wie!" kalian memisahkan Haanish dariku! kalian membuatnya terpisah dariku!"


Wie Fen Ying terpaku ditempatnya. Inayah menatapnya dengan tajam. "Aku bersumpah demi mendiang Ibu mertua dan mendiang suamiku! kau telah menorehkan luka bagi keluarga Lasantu-Mochizuki! kau akan menyesalinya seumur hidupmu! keluarga kalian akan diasingkan sama seperti kalian mengasingkan kami dari galur kerabat. pergilah Fen Ying! semoga kau bahagia setelah mengetahui Jiao tidak mati di kerusuhan Nanjing. ia wafat dengan damai di Kediaman Mochizuki di Shiga!"


__ADS_1


setelah mengucapkan hal tersebut, Inayah meninggalkan Wie Fen Ying yang masih terpaku diberanda itu. Imelda sejenak memperhatikan lelaki tionghoa itu lalu kembali meninggalkannya.[]


__ADS_2