
adegan itu sempat membuat Haidar dan Satpam itu terdiam. setelah puas memeluk Aya Sofia, wanita itu melepaskan pelukannya dan menghardik anak itu.
"Mengapa kamu bolos sekolah?! bukankah Ibu sudah bilang, jangan kemana-mana. apa kau tak bisa bersabar sedikit menunggu Ibu?!" sergah wanita itu.
Aya Sofia hanya menunduk takut memeluk erat boneka hadiah itu. wanita itu tiba-tiba merenggut boneka dalam pelukan Aya Sofia.
"Boneka darimana ini? kau mencuri ya?!" sergah wanita itu lagi. Aya Sofia lagi-lagi hanya diam menunduk namun Haidar dengan jelas dapat mendengar anak itu terisak-isak lirih.
kelelakiannya tersinggung. Haidar menyela. "Hei, aku yang menghadiahkannya boneka itu. berikan benda itu padanya."
wanita itu melirik kepada Haidar lalu mendengus. "Kami masih punya harga diri. ku kembalikan bonekamu."
Haidar muntab seketika. didatanginya wanita itu. dengan kasar direnggutnya pula boneka itu dari tangan wanita tersebut. "Aku tak perduli kau punya harga diri atau tidak. yang jelas aku memberikan boneka ini pada Sofia, bukan padamu! kau tak berhak mengekang kegembiraannya!"
Haidar kembali menyerahkan boneka itu kepada Sofia yang langsung dipeluk erat oleh anak itu. Haidar kembali menatapi wanita tersebut.
"Sebutkan namamu!" pinta Haidar sambil bercakak pinggang. sifat arogannya sebagai penguasa bisnis muncul.
"Kau tak perlu mengenalku." ujar wanita tersebut.
"Ooo Harus!!!" tukas Haidar dengan tegas, "Bagaimana bisa wanita yang mengaku memiliki harga diri tinggi, tak menyebutkan namanya? bukankah itu sama saja dengan perilaku pengecut?"
wanita itu mendengus sesaat lalu menyebut namanya. "Aisyah Tilahunga! puaskah kau sekarang?" tukasnya.
Haidar mengangguk. "Bagus... aku.."
"Aku sudah tahu siapa kamu." sela Aisyah.
"Memang kau tahu siapa aku?" tanya Haidar mendekatkan wajahnya kepada Aisyah, menudingkan telunjuknya ke dirinya sendiri.
"Bukankah anda memberikan saya kartu nama saat itu? tentu saja saya tahu siapa anda..." jawab Aisyah menautkan alisnya.
"Benar juga..." gumam Haidar sejenak. setelah itu ia menegakkan badannya. "Baik. kurasa tugasku mengantarkan Sofia kepada anda sudah selesai. aku permisi."
Haidar berbalik hendak pergi ketika tiba-tiba Sofia berlari dan memeluknya dengan erat. Haidar menahan langkahnya dan menatap anak yang memeluk erat pahanya. Haidar memejamkan matanya sesaat lalu tersenyum dan melepas pelukan anak itu. Haidar berlutut dihadapannya.
"Kau!" sergah Aisyah hendak meraih tubuh putrinya.
tiba-tiba Haidar menepis tangan wanita itu dan menatap Aisyah sambil menudingkan telunjuknya ke wajah wanita itu mengisyaratkannya untuk diam. Aisyah mengencangkan rahangnya menatap Haidar yang kemudian menatap Aya Sofia.
"Nak, pulanglah ke Mamamu... jangan membantahnya..." kata Haidar. "Kau mau jadi anak berbakti?"
Aya Sofia menatap Haidar dan mengangguk-angguk pelan. Haidar tersenyum dan membelai rambut anak itu.
"Anak baik..." pujinya lalu membimbing anak itu kepada Aisyah. Haidar lalu bangkit dan berbalik menuju mobilnya dan masuk kedalamnya. tak lama kemudian Tuatara V33K itu bergerak meninggalkan gerbang sekolah tersebut.
Aisyah sejenak menatap mobil yang menjauh itu lalu memeluk putrinya. "Maafkan ibu, nak... maafkan ibu..." ujarnya dengan lirih sambil terus memeluk Aya Sofia.
satpam yang melihat adegan itu hanya bisa tersenyum haru lalu cepat-cepat berbalik menuju sekolah. ia tak mau terjebak dalam keharuan emosinya sendiri.
...******...
Tuatara V33K itu terus melaju. tak lama kemudian Haidar menerima panggilan. itu panggilan dari restoran tadi. ia mengaktifkan mobilephone pada dashboard mobil tersebut. seketika terdengar suara.
📞 "Dengan Pak Haidar Lasantu dari Buana Asparaga Tbk?" tanya suara laki-laki.
📲 "Ya, saya sendiri..." jawab Haidar sambil terus menyetir mobil.
📞"Begini Pak. wanita bernama Mahreen Nurmagonegov batu saja tiba. ia masih sementara dijamu oleh pelayan kami." ujar laki-laki itu.
📲 "Ooo... baiklah. saya sementara dijalanan. saya segera kesana." jawab Haidar kemudian menonaktifkan perangkat tersebut.
lelaki itu menginjak pedal gas dan melajulah kendaraan itu menyusuri jalanan utama yang dipenuhi kendaraan berplat nomor digit genap.
...******...
__ADS_1
Mahreen menyeruput minuman yang disajikan oleh pelayan tersebut dengan nikmat lalu meletakkannya kembali di meja. sudah sepuluh menit ia berada disana, sibuk mengutak-atik tuts keyboard gawainya dan membuka-buka fitur aplikasi pada gawai tersebut.
tak lama terdengar suara mesin yang dihafalnya. Mahreen menatap jendela besar yang mengarah ke jalanan. nampaklah Tuatara V33K milik Haidar baru saja menepikan dirinya ditepian trotoar dan sejenak kemudian lelaki metroseksual berpakaian resmi itu keluar dari kendaraan tersebut.
Haidar melangkah santai kembali masuk kedalam restoran itu, disapa santun oleh para pegawai disana. Haidar adalah satu dari sekian pelanggan setia restoran tersebut. Mahreen melambaikan tangannya dan Haidar menatapnya lalu balas melambaikan tangannya.
"Buatkan kembali menu sebelumnya." pesan Haidar.
kasir itu mengangguk dan Haidar melangkah menuju ketempat dimana Mahreen duduk.
"Hai, sudah lama?" sapa Haidar dengan senyum datar.
"Baru sepuluh menit." jawab Mahreen.
"Sudah makan?" tanya Haidar yang sudah duduk dihadapan Mahreen. "Pesanlah makan siangmu. kita makan bersama-sama." pintanya.
"Sudah... mungkin sementara dibuat." jawab Mahreen. "Kudengar dari pegawai disini, kau memerintahkan mereka untuk menjamuku..." wanita itu tersenyum, "Makasih ya atas pelayanannya..." sambung Mahreen mengapresiasi.
Haidar mengangguk-angguk senang dipuji seperti itu. manjanya muncul. "Jika kau meminta lebih, aku tetap akan memenuhinya."
Mahreen tertawa, "Nggak usah." tolaknya, "Nantinya berlebihan... akan menjadi hal yang tabu."
Haidar menarik napas kecewa. "Baiklah..." jawabnya dengan sendu.
Mahreen tersenyum lalu menyentuh tangan Haidar dan meremasnya dengan lembut dan pelan. lelaki itu hilang lagi kecewanya dan kembali gembira sebagaimana biasa. Mahren mengambil gelas lagi dan menyeruput isinya.
"Entah mengapa dipegang olehmu, voltase kemarahanku mendadak surut. apakah kamu seperti isolator tegangan darah tinggiku?" tanya Haidar dengan polos dan sempat membuat Mahreen yang sementara menyeruput minumannya nyaris tersedak. untung saja ia tak terbatuk-batuk disana dan menahan sisa minuman dirongga mulutnya dan menelanya kemudian setelah selesai menahan tawa akibat kalimat pemuda itu.
Haidar mengangkat alis. "Kenapa? apakah pertanyaanku terdengar lucu?"
Mahreen sungkan menjawabnya. ia hanya menggelengkan kepala sekali lalu menatap Haidar dan kembali tersenyum.
"Kau memang lelaki terpolos didunia yang ku temui." ujar Mahreen kemudian menekan telunjuknya ke bibir bawah pemuda tersebut.
"Aku memang belum mengenalmu seutuhnya." kilah Mahreen menegakkan tubuhnya lalu melipat tangannya ke dadanya. " Sekarang, katakan padaku siapa kamu sebenarnya, agar aku dapat lebih mengenal kamu."
Haidar menganggukkan kepalanya beberapa kali lalu tersenyum. "Aku seperti apa yang kau lihat. aku tak menyembunyikan apapun kepadamu."
Mahreen menatapnya lagi dengan dalam. dua bola mata hijau keabu-abuan itu serasa menyedot ke dalam relung jiwa dan membuat Haidar bagai sedikit kehilangan kontrol akan dirinya. lelaki itu menghela napas karena jengah.
"Jangan menatapku seperti itu, Mahreen. terus terang aku merasa tak nyaman." ujar Haidar tersipu.
"Oh, maafkan aku." sahut Mahreen memperbaiki sikap.
"Bukan, bukan seperti itu." ralat Haidar, "Kau salah paham. maksudku... aku tak biasa ditatapi seperti itu, bahkan oleh Mama."
Mahreen tertawa kecil, "Oh ya? wah... rupanya aku harus benar-benar menjaga sikap jika bertemu denganmu dalam suasana formal. maaf, aku seringkali tak mampu membedakan mana suasana formal dan mana suasana non formal."
"Nggak apa-apa. biasakan sajalah." jawab Haidar. "Oh ya. bagaimana sikap Mama terhadapmu?"
"Sangat baik. beliau seperti ibuku sendiri. aku bahkan sedikit canggung." jawab Mahreen dengan polos.
"Canggung? apa yang membuatmu canggung?" tanya Haidar.
"Terkadang, aku merasa... ia memperlakukan aku seperti anak perempuannya." ungkap Mahreen, "Segala hal yang berhubungan denganku, selalu dipenuhinya."
"Itu bagus." ujar Haidar. "Berarti kau sudah dianggap oleh Mama sebagai bagian dari keluarga Lasantu." pemuda itu kemudian tersenyum, "Kamu tahu? sangat jarang Mama bersikap seperti itu. dulu saja, adikku itu harus melewati masa yang panjang untuk meraih pengakuan dari Mama."
"Adik? Haanish?" tanya Mahreen.
Haidar mengangguk. Mahreen menatap sangsi. "Kupikir, dia adik kandungmu, kan?"
Haidar mengangguk. "Sedarah, tapi bukan sekandung. kami berasal dari ibu yang berbeda. dulu namanya adalah Yoshiaki Hasegawa, menggunakan marga milik ibunya. namun kemudian Mama memutuskan mengganti namanya menjadi Haanish Hermawan Lasantu dan sampai kini Mama tak pernah mengungkit asal-usulnya lagi." tuturnya.
"Dan sekarang kau membocorkannya padaku?" tukas Mahreen, "Kau nggak takut, rahasia Haanish kusebarkan?" pancing Mahreen dengan senyum jahil.
__ADS_1
Haidar hanya tersenyum datar agak lama, kemudian ia menjawab. "Aku yakin, kau tak akan membocorkannya."
Mahreen tertawa, "Yakin sekali kamu."
tak lama kemudian, pesanan dari Haidar dan Mahreen tiba. dua orang pelayan menata meja dan meletakkan berbagai hidangan dimeja tersebut. setelah itu kedua pelayan itu membungkuk datar dan tersenyum.
"Silahkan menikmati hidangan, Tuan dan Nona..." ujar salah satu pelayan itu dan direspon oleh Haidar juga dengan anggukan kepala dan tubuh sedikit membungkuk pertanda mengapresiasi sikap santun pelayan tersebut. kedua pelayan itu kemudian meninggalkan kedua orang itu.
Haidar menatap Mahreen. "Makanan sudah terhidang. sangat tidak etis jika kita membiarkannya. mari." ajak Haidar dengan senyum datar.
"Berdoa dulu." tegur Mahreen mengingatkan.
"Tentu..." sahut Haidar dan ia langsung mengangkat tangannya, berdoa diselingi kata 'amin' dari Mahreen dengan suara yang lirih.
...******...
Haanish menatap lukisan besar yang memenuhi dinding. disana terpampang tiga orang. satu lelaki yang diapit dua wanita dikanan-kirinya. lelaki itu duduk di kursi mirip singgasana, mengenakan setelan jas lengkap dengan rompi, kemeja sutra dan celana panjang. wajahnya terlihat teduh namun menyimpan wibawa. mata kirinya yang cacat ditutupi oleh poni yang sengaja dibuat menyamarkan cacat mata akibat luka tebasan dalam pertempuran. lelaki itu adalah Sandiaga Hermawan Lasantu, kepala keluarga Lasantu generasi ke 115, juga memiliki nama lain Saburo Koga Mochizuki, disebabkan ibunya adalah wanita jepang yang melakukan naturalisasi.
wanita dikanan mengenakan kebaya motif karawo dengan terusan kain sarung khas yang digunakan dalam setiap gelaran upacara adat. rambutnya disanggul dan beberapa hiasan bunga dari logam tersemat dikonde itu. wanita itu adalah Inayah Amalia Ali, istri pertama dari lelaki bermata satu tersebut. ia adalah ibu kandung dari Haidar.
adapun wanita disisi kiri mengenakan kimono gaya kurotomesode lengkap dengan kamon keluarga Hasegawa. bagian bawah dari kurotomesode itu dicetak gambar bermotif burung-burung cormoran yang berdiri dikubangan air jernih. wanita itu memakai bedak tipis berbahan dasar beras. rambutnya tersanggul gaya shimada yang dihias oula dengan kanzashi. wanita itu adalah Rosemary Hasegawa, istri kedua dari Sandiaga yang notabene adalah ibu kandung Haanish.
"Mama pikir kau sudah lupa kediaman ini. sangat jarang kau pulang menyambangi Mama, Eiji." ujar suara wanita yang membuat Haanish menoleh.
Inayah melangkah mendekati putra tirinya yang sudah dianggapnya sebagai putra kandungnya. sejak Inayah merubah nama anak itu dari Yoashiaki menjadi Haanish, wanita parobaya itu tak pernah lagi mengungkit asal-usul putra kedua keluarga Lasantu itu. baginya, Haanish adalah putranya juga.
Haanish tersenyum lalu mendekati wanita itu dan memeluknya dengan hangat.
"Mama... aku rindu padamu." ujar Haanish dengan nada hangat.
"Kau munafik sekali kalau bicara soal rindu, Eiji." tukas Inayah dengan wajah merajuk. "Kau bilang rindu sama Mama... tapi kau jarang kemari, sekedar menengok Mama juga nggak."
Haanish tertawa lalu melepas pelukannya. "Sekarang anak keduamu ini ada disini Mama." tangkis Haanish lalu tersenyum lebar, "Aku sudah membuktikan bahwa Mama adalah sosok nomor satu dihatiku."
Inayah tersenyum lalu mencubit lembut pipi Haanish. "Anak keduaku yang tampan..." gumamnya.
"Dan Mama, biar sudah kayak nenek-nenek, masih juga cantik menawan." balas Haanish. "Aku sering melihat Om Dodit menatap Mama dengan tatapan lain. dan entah mengapa aku jadi cemburu."
Inayah tertawa. "Benarkah? padahal Mama tak punya perasaan apapun padanya." tangkis Inayah.
kedua orang itu meninggalkan lukisan tersebut dan duduk disofa panjang. Inayah menatap putra keduanya itu. "Bagaimana kabar kuliahmu? Mama dengar kau sudah menyelesaikan semua penilitianmu. tinggal maju mengajukan sidang." selidik Inayah.
"Iya, Mama... doakan aku agar lulus dengan nilai terbaik." pinta Haanish dengan senyum lebar.
"Tentu Mama selalu mendoakan yang terbaik buat anak-anak Mama..." tandas Inayah. wanita itu teringat sesuatu. "Oh ya Eiji... bagaimana perkembangan pendidikan Mahreen di kampus? apakah dia termasuk mahasiswi berprestasi?"
"Mama nggak perlu kuatir tentang Mahreen." ujar Haanish, "Anak itu pernah tinggal dibelantara negara maju. tentu otak kritisnya mampu memusingkan dosen-dosen dunia ketiga itu." mendadak anak itu juga teringat sesuatu.
"Mama... bagaimana pendapat Mama tentang Mahreen?" pancing Haanish.
"Dia anak yang sangat baik. Mama sudah menganggapnya seperti anak Mama sendiri." jawab Inayah dengan jujur.
Haanish sejenak mengangguk-angguk sambil terus tersenyum. lalu kemudian ia menyambung. "Berarti... Mama merestui hubungan Mahreen dengan Chouji, kan?"
Inayah langsung terdiam. Haanish masih menunggu reaksi Inayah. wajah pemuda itu begitu cerah dan senyumnya lebar. namun, diamnya Inayah membuat senyum pemuda itu memudar dan malah berganti menjadi cengiran kaku.
"Mama... apakah... Mama..." ujar Haanish dengan kaku meminta penjelasan ibunya.
Inayah menatap lagi Haanish. "Eiji... maukah kau melakukan tugas khusus dari Mama?" pinta Inayah.
"Tugas apa itu, Mama?" tanya Haanish.
"Menyelidiki kehidupan Mahreen." jawab Inayah dengan datar namun lembut.
senyum diwajah Haanish lenyap seketika.[]
__ADS_1