
Danjo berhasil menipu gerakannya dan menampar Si Penebas Angin hingga pedang itu terlepas dari genggaman Haanish. pemuda itu terkejut tapi tak panik. ia menanti serangan berikutnya.
Danjo maju menusukkan pedang membuat Haanish mengatupkan kedua tangannya menekan bilah pedang yang nyaris menembus dada. dengan teknik mutodori, Haanish berhasil merampas pedang dari Danjo dan melontarkannya entah kemana.
keduanya mendarat ditanah tanpa menyandang pedang, sebab Si Penebas Angin bersama pedang milik Danjo menancap saling bersilang beberapa meter dari tempat mereka berdiri.
"Kalau tak salah kumenebak... apakah itu teknik ciptaan Munetoshi Sekishusai dari Koyagyu?" tebak Danjo.
Haanish tertawa, "Ya kau benar." jawab pemuda itu.
"Kenapa kau tak tetap pada satu aliran? Kupikir kau seorang praktisi aliran Koga." ujar Danjo.
"Aku memang tak suka terikat. bagiku, aliran hanyalah sebuah omong kosong saja. semua jenis seni pedang itu sama. yang menjadikannya terkenal, hanyalah orang yang menggunakan gaya itu." jawab Haanish.
"Aku tak suka mencampur-adukkan sebuah aliran dengan aliran lain. aku tetap konsisten dengan aliranku. sebagaimana Kagehisa Ittosai yang mendirikan aliran ini." ujar Danjo.
"Terserah kepadamu. lakum hujjatu, wa li hujjatiy..." ujar Haanish. alis Danjo berkerut mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Haanish.
"Kalimat apa itu?" tanya Danjo.
"Kalimat dalam bahasa arab yang artinya, bagimu pendapatmu, dan bagiku pendapatku. setiap kita memiliki dalil atau alasan yang sama dalam sebuah tindakan. tidak ada yang salah atau benar dalam praktik pertandingan." jawab Haanish.
tiba-tiba Danjo berlari melesat ke arah pedangnya. Haanish tak kalah sigap ikut berlari juga ke arah yang sama. masing-masing nyaris menyentuh gagang pedang miliknya, Danjo tiba-tiba mengayunkan tendangan mengincar rusuk Haanish.
Haanish membuang tubuhnya ke belakang menghindari tendangan itu. Danjo berhasil meraih pedangnya, mencabutnya dari tanah dan menebas kearah Haanish. pemuda itu dengan sigap melentingkan tubuhnya ke atas. ia menyerang bilah pedang lawan dengan ippon nukite tsuki.
TINGGGGG....
berkat teknik itu, tubuh Haanish melenting kembali bersalto diudara dan mendarat tepat disisi Si Penebas Angin tertancap. ia mencabut pedang itu tepat disaat Danjo menebaskan pedangnya mengincar dada lawannya.
SRIIINGGGGG...
bunyi gesekan bilah pedang membuat telinga siapapun berdenging. Pangeran Asahiko sampai harus meringis sementara pejabat istana menutup kupingnya dan memekik kesakitan. Haanish dengan cepat memutar tubuhnya kesamping hingga pedang lawan hanya menusuk udara kosong.
Haanish mengayunkan tendangan ushiro geri dan tepat mengenai lengan Danjo. namun Haanish tidak punya niat menyerang melainkan menggunakan tenaga itu hanya untuk melentingkan tubuhnya menjauh sedikit dari lawannya.
Danjo sedikit bergeser gerak tubuhnya meski akhirnya berhasil menegakkan kembali tubuhnya sementara Haanish mendarat beberapa meter dari jarak lawannya dan melenting kembali menyerang dengan menusukkan Si Penebas Angin namun dalam posisi berpusingan mirip gasing.
TRANGGGGGG... TRANGGG TRANGGGG...
tusukan gasing yang dilancarkan Haanish berhasil mendesak praktisi itu hingga akhirnya ia sendiri berupaya menjauh dari serangan pemuda itu. keduanya kembali tegak ditempatnya sambil mengatur napas masing-masing.
"Kau petarung yang hebat." puji Danjo Sakamoto. "Aku tak menyesal dipertemukan denganmu oleh Yang Mulia." ujarnya seraya menatap Pangeran Asahiko. praktisi itu membungkuk datar dan berseru.
"Yang Mulia! ijinkan saya mempergunakan semua kompetensi saya!" serunya kemudian.
Pangeran Asahiko tersenyum. "Ijin dikabulkan!" balasnya menyeru.
Danjo tersenyum lalu menegakkan tubuhnya. "Terima kasih Yang Mulia!" praktisi itu kemudian menghadapkan tubuhnya kepada Haanish.
"Yoshiaki Hasegawa! baru kau yang pertama berhasil mengadu kehebatan Pemotong Harapan milikku." ujarnya mengangkat pedang miliknya. "Sekarang aku akan memperlihatkan kompetensiku yang sebenarnya kepadamu."
tiba-tiba Danjo Sakamoto mengacungkan Pemotong Harapan ke udara dan berseru. "Dewa Susanoo! kupersembahkan baktiku padamu!!"
seketika udara menjadi mendung disusul petir yang saling memercik. tiga percikan petir disertai bunyi guntur menyambar tiga titik dengan Danjo sebagai pusatnya. sebuah cahaya merah menyelimuti tubuhnya dan tak lama kemudian sebuah armor muncul menyelimuti tubuhnya. warnanya merah tembaga dengan mantel hitam terurai menjulur hingga betis. rumbai dikepalanya mirip rambut mo-hawk warna jingga.
"Yoshiaki! kau siap menghadapiku?!" seru Danjo yang telah dilapisi armor tersebut.
Haanish hanya mengangkat bahu. "Yah... kamu jual... aku pasti beli!" jawab Haanish.
pemuda itu menancapkan Si Penebas Angin ke tanah dan mengembangkan tangannya. ia mengumpulkan ki dan menekannya ke titik hara. tak lama kemudian sebuah armor bergaya tosei gusoku yang dihiasi rompi horo serba biru tua muncul menyelimuti tubuhnya. Haanish mencabut lagi Si Penebas Angin dan mengarahkan ujungnya kepada Danjo.
__ADS_1
"Bro... bukan hanya kau yang punya benda semacam itu." ujarnya dibalik topeng mengu bermotif seringai setan.
"Hei! darimana kau mendapatkan benda itu?" tanya Danjo dibalik helmnya yang mirip pasukan sparta.
"Kamu sendiri dari mana dapatnya?" balas Haanish dengan sikap angkuhnya.
"Ini adalah hadiah langsung dari Yang Mulia Pangeran Asahiko. Beliau sendiri adalah seorang ilmuwan yang mendalami prinsip kerja cyber armor nanotech. kami punya laboratorium pribadi dilantai bawah istana Edo." ujar Danjo.
"Ooo... kalau ini buatan langsung Ark Industries." jawab Haanish dengan santai.
"Ark Industries? Akram Williams?" tebak Danjo.
"Dia pamanku..." jawab Haanish. dan juga calon mertuaku...
Danjo tersenyum dan mengangguk-angguk. "Bagus, aku tak menyangka kalau Ark Industries juga punya konsep Cyber Armor Nanotech... kurasa kita bisa bertarung sepuasnya untuk menguji ketahanan armor ini. setuju?"
"Terserah padamu." ujar Haanish. "Bisa kita mulai sekarang?" sambungnya kemudian menghunus nanotech wakizachi yang menjadi bagian dari armor itu. pemuda itu menggunakan gaya hyoho niten ichi milik Musashi Miyamoto.
"Wah... kini kau menggunakan gaya itu." ujar Danjo. "Kurasa kau memang seorang jenius."
"En garde!!!" seru Haanish menyebut istilah bersiap-siap dalam bahasa latin.
Danjo memasang gaya pedangnya. Haanish kemudian maju menyerang. teknik satu pedang gaya Itto yang diterapkan Danjo Sakamoto beradu dengan teknik dua pedang aliran Ichi yang digunakan Haanish. Pangeran Ashiko benar-benar menikmati kontes itu. Ryoma Hasegawa sendiri hanya tersenyum-senyum saja sedangkan Ryuzou Hasegawa ternganga takjub.
aku tak menyangka, putra Rosemary ini adalah seorang jenius. aku terpaksa harus mencari cara bagaimana melengserkannya dari jabatan kepala keluarga itu... aku tak boleh gegabah...
sementara itu pertandingan terus berlangsung tanpa ada tanda-tanda siapa yang memenangkan pertempuran. keduanya sama kuat, sama cepat dan sama hebat. Pangeran Asahiko merumuskan, jika dijaman sengoku banyak bermunculan pendekar-pendekar ternama. hal itu wajar, sebab jaman itu orang dipaksa untuk mempelajari seni perang. namun dijaman digital 7.8 ini, kedua orang yang bertarung itu merupakan aset langka bagi negara. sebab pertarungan bukan lagi menggunakan pedang yang notabene merupakan alat kuno, namun menggunakan senapan berisi sinar photon atau sinar pulse.
waktu sudah menunjukkan waktu maghrib ketika tiba-tiba Haanish langsung melompat menjauh. Danjo menjadi heran dengan lawannya.
"Hei, mau kemana kamu?! pertandingan kita belum selesai." seru Danjo.
Haanish menyarungkan pedang nanotechnya dan menonaktifkan armor itu. ia kembali ke fisiknya semula. pemuda itu menatap angkasa bagian barat daya yang sudah memerah saga.
"Hei, mengapa secepat itu kau menyerah? kau tak malu membuat keluargamu terhina?" ejek Ryuzou yang mendapat kesempatan mempermalukan Haanish.
pemuda itu menatap lelaki yang duduk disisi kakeknya itu. "Aku tak perduli dengan menang dan kalah. aku lebih memperdulikan ibadahku." ujar Haanish kemudian menunjuk ufuk dibarat daya. "Sebentar lagi, matahari akan tenggelam dan waktu maghrib tiba. jika kalian melihat pertandingan ini berakhir, ijinkan aku sholat dulu, lalu kita lanjutkan pertandingan. bagaimana?" usul Haanish.
"Ah, kau hanya ingin lari saja dari pertandingan. bilang saja kalau kau takut!" olok Ryuzou.
"Terserah Paman mau bacot apa. aku nggak perduli!" jawab Haanish dengan senyum padahal hatinya sudah sangat jengkel terhadap adik dari kakeknya itu. Haanish menatap Danjo.
"Bagaimana?" tanya Haanish.
Danjo tak menjawab, malah menatap Pangeran Asahiko. wali negara itu kemudian tersenyum. "Baiklah... kalau begitu, pertandingan ini ditunda sampai Tuan Hasegawa selesai melaksanakan ibadahnya."
Danjo membungkuk dalam kemudian menyarungkan Pemotong Harapan ke sarungnya, kemudian mendekati Haanish. "Aku akan menunggu kau sampai selesai beribadah."
"Okey..." jawab Haanish dengan tenang.
...*******...
Haidar dan Mahreen sedang duduk menikmati suasana sunset ditepian pantai wilayah Taman Laut Olele di desa Poduoma, Kecamatan Suwawa Timur. lambaian angin pantai menyapu wajah keduanya yang duduk berdua di sampan yang sementara mengapung di lautan.
"Kalau kutahu banyak kawasan wisata disini, sudah sejak lama aku akan memaksamu terus mengunjungi tempat-tempat wisata..." ujar Mahreen dengan tenang.
Haidar tertawa, "Nantilah kalau waktuku di perusahaan sudah sedikit luang... aku akan mengajakmu ke beberapa tempat wisata. aku yakin kau akan menyukainya."
"Aku dengar dari Mamachka, kalau kamu memasukkan perempuan bernama Aisyah itu ke Buana Asparaga. apakah benar demikian?" selidik Mahreen.
__ADS_1
"Untuk membantu ekonominya sehingga ia menjadi mandiri dan tak membutuhkan orang lain." jawab Haidar dengan tenang.
Mahreen menatap wajah Haidar yang bagian sisi lainnya terpapar cahaya senja.
"Kau sudah terlalu banyak membantu perempuan tersebut. bagaimana jika nantinya ia berkhianat?" pancing Mahreen untuk menghasut Haidar.
"Aku yakin, perempuan itu tidak akan merugikan perusahaan." jawab Haidar dengan tenang.
"Kau terlalu yakin dengan instuisimu." sela Mahreen kemudian membelai rambutnya yang panjang itu. "Aku hanya berharap perempuan itu juga bisa menjaga dirinya dihadapanmu dan aku."
"Kau cemburu, aku tak persoalkan itu. sebab kecemburuan adalah pemanis dalam sebuah hubungan antara seorang lelaki dan wanita." ujar Haidar, "Asalkan kecemburuan itu tak melebihi takarannya."
"Bagaimana cemburuku tak meluap-luap? kedekatanmu dengannya sudah sangat mirip pasangan suami-istri." tukas Mahreen melengos. Haidar tersenyum.
"Begini saja. tepat setelah wisuda, aku akan diangkat sebagai presdir Buana Asparaga Tbk, menggantikan Tante Dewinta. disaat itu juga aku akan melamarmu, untuk membuktikan kesungguhanku." ujar Haidar.
"Sungguh?" ujar Mahreen dengan mata berbinar-binar. "Aku akan menagihnya suatu saat."
"Tentu, aku tak akan lari dari tanggung jawabku." ujar Haidar. "Besok adalah Sidang Munaqasyah untuk membahas isi skripsiku."
"Oh, kamu sudah maju untuk sidang?" ujar Mahreen. "Ku doakan kau akan melaluinya dengan mudah."
"Aamiin..." sahut Haidar.
keduanya lama berpandangan. Haidar tersenyum dan Mahreen balas menyungging senyum. Haidar membatin, aku sudah pernah kelepasan emosi dan menciumi Aisyah. kurasa aku bisa membiasakan ciuman untuk kali ini... bukankah sebentar juga Mahreen akan menjadi istriku?
wajah Haidar mendekat. Mahreen merasakan deburan detak jantungnya makin tak beraturan.
"Chouji...." sebut Mahreen dengan lirih.
Haidar tersenyum. "Aku ingin mencium kamu. bolehkah?"
Mahreen tersipu. wajahnya menunduk. Haidar mengulurkan tangan. jemarinya menyentuh dagu gadis itu, mengangkat dan menengadahkan wajah sang pujaan kembali menatap Haidar.
"Bolehkah?" tanya Haidar dengan lirih.
Mahreen kembali tersenyum. Haidar mendekatkan wajahnya kembali dan akhirnya mendaratkan kecupan lembut dibibir Mahreen. gadis itu mulanya diam menerima, namun kecupan yang berubah menjadi kulum dan ***** itu membuat gairah gadis itu mulai tersulut dan membakar hasratnya. Mahreen membalas permainan bibir itu. mereka makin panas dan akhirnya bergumul dalam sampan itu.
...********...
Haanish duduk tafakur menyelesaikan sholat maghrib. ia sekarang sedang asyik membaca dzikir-dzikir sambil menghitung jumlah biji tasbih juzu yang terbuat dari bahan giok hitam itu.
dari sisi pintu, Danjo memperhatikan pemuda itu yang tenggelam dalam ritual ibadah malamnya. lelaki itu perlahan dijalari rasa kagum.
secara harafiah, masyarakat jepang pada umumnya bersikap agnostik terhadap agamanya sendiri, meskipun agama shinto masih menduduki peringkat terbanyak di negeri itu. bagaimanapun pihak kekaisaran mengklaim agama nenek moyang itu sebagai agama resmi negara, meski tak melarang agama-agama lain juga berkembang di jepang.
Haanish mengangkat tangan menengadah, berdoa memohon kemudahan dalam mengarungi kehidupan di negeri kakeknya itu. bagaimanapun ia adalah makhluk asing sebab tanah lahirnya bukanlah negeri ini. ia boleh saja di panggil dengan gelar toryo, tapi hakikatnya, ia bukan anak penduduk negeri ini.
setelah menamatkan doanya lalu mengusap tangannya ke wajah dan bangkit. ketika berbalik ia sedikit kaget melihat Danjo yang telah berdiri didepan pintu. pemuda itu tersenyum.
"Wah, rupanya anda sudah tak sabar ingin segera melanjutkan pertandingan ya?" olok Haanish lalu tertawa kecil. "Tenang, Bray... aku tak akan lari dari pertandingan itu."
Danjo ikut tertawa. "Tidak. aku hanya senang melihatmu beribadah tadi. kulihat dirimu begitu damai melaksanakan ritual tersebut."
"Bro... seseorang yang mengakui eksistensi Allah, maka akan menjalani kehidupan dengan penuh damai ditengah perang yang berkecamuk." jawab Haanish.
"Jelaskan..." pinta Danjo.
"Bray... harafiahnya, kematian adalah sarana mengingat sehingga dengan itu kita akan lebih menghargai kehidupan. disetiap langkah kita, selalu bersanding dengan kematian. dimanapun, kita akan menjumpai kematian. dalam kegiatan minum teh, dalam menyebadani istri, dalam kegiatan makan minum, dalam segala hal apapun. maka intinya, kematian akan mengingatkan kita betapa kehidupan ini hanyalah sebuah hadiah atas penghargaan kita terhadap kematian itu sendiri." tutur Haanish.
Danjo terhenyak, "Itulah.... bushido!!!"
__ADS_1
Haanish tersenyum dan Danjo pun tersenyum.
"Mari kita kembali ke lapangan." ajak Haanish. "Mereka mungkin sudah bosan menunggu kita." []