
Haidar terhenyak. ia mengucap wajahnya. astaga! aku telah melakukannya!!! bagaimana ini?!
tatapannya beralih pada Mahreen yang tubuhnya terkemul dalam selimut dari kain layar. gadis itu tertidur kelelahan setelah aktifitas persebadanan mereka yang berlangsung begitu panas senja tadi. Haidar menatapi sekujur tubuhnya yang kini polos tanpa penutup apapun. benda panjang itu meski terkulai tetap saja terlihat perkasa. Haidar merutuk.
kau menyebabkan aku terperosok sedalam ini?!
Haidar mendesah malu. ia menunduk memeluk lututnya. ia tak menyangka, bisa juga terperosok dalam hal yang begitu melanggar moral. penyatuan tubuh itu sudah terjadi dan berlangsung beberapa kali dalam kendali syahwat yang memabukkan bagai anggur yang tertuang dalam cawan. ia telah menuangkan anggurnya dalam cawan itu. dan kini piala itu telah menampung anggur suklanya yang menyatu dengan sel-sel swanita dipermukaan dasar anggur itu.
bagaimana jika Mahreen hamil? kasihan anak itu, meskipun kunikahi ibunya, anak itu hakikatnya tetap anak hasil zina.
Haidar mengusap lagi wajahnya dan meremasi rambutnya. pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala. ternyata, keangkuhanku akan keputihan hati ini, ditegur Allah... tapi mengapa harus dengan cara ini???
Haidar menengadahkan wajah sesalnya ke angkasa. tak sadar air matanya berlinang. Ya Allah... ampuni aku... ampuni aku...
...******...
Haanish mengaktifkan armornya lagi dan tubuh pemuda itu diselimuti baju jirah nanotech bergaya tosei gusoku. sementara Danjo Sakamoto juga mengaktifkan armor spartanya. petarung itu mengacungkan pedangnya ke arah Haanish.
"Kita mulai lagi pertarungan!" seru Danjo.
"En garde!!!" seru Haanish menghunus wakizashi dan menggunakan gaya pedang hyoho niten ichi.
Danjo meneriakkan kakegoe dan maju menyerang Haanish, mengayunkan Pemotong Harapan mengincar kepala lawannya. Haanish sudah siap dari tadi. dengan tenang ditempatnya, ia menyilangkan Si Penebas Angin dengan wakizachi itu dan menyongsong ayunan pedang lawan.
TRANGGGG
Haanish sudah bosan memperpanjang pertarungan. ia mengibaskan kedua pedangnya dan maju mengayunkan kedua pedang dengan dengan bertubi-tubi. Danjo terdesak hingga akhirnya terpental saat Haanish menghantamnya dengan hujaman wakizashi yang disusul dengan tebasan Si Penebas Angin.
TRANGGGG
Pemotong Harapan terlepas dari tangan Danjo dan terjatuh beberapa meter, namun lelaki itu tak bjsa lagi bergerak. ia terkunci dengan teknik Haanish yang mengarahkan kedua pedang pada titik mati tubuh, leher dan pusar.
PLOK PLOK PLOK
terdengar tepukan tangan meriah. Pangeran Asahiko berdiri melakukan standing applause bersama Ryoma Hasegawa dan pejabat istana. sementara Ryuzou hanya duduk melipat tangannya didada dengan wajah memberenggut. Haanish menyarungkan wakizashi dan Si Penebas Angin kemudian menonaktifkan armornya. Ark01-Narsys itu menghilang dari tubuh Haanish.
Danjo menonaktifkan armornya pula. kemudian melangkah ketempat dimana pedangnya menggeletak. ia mengambilnya lalu menyarungkan Pemotong Harapan ke warangkanya. praktisi itu kemudian melangkah mendekati Haanish.
"Saya mengaku kalah." ujar Danjo hendak membungkuk namun ditahan oleh Haanish.
"Bro... kalah menang itu hal yang biasa. jangan sedih dengan hal itu." ujar Haanish menegakkan tubuh Danjo lalu menepuk-nepuk bahunya. "Kita berdua adalah samurai yang tersisa dijaman digital 7.8 ini. jadi tugas kita berdua adalah saling mengasah kompetensi untuk menghadapi pertarungan sebenarnya."
"Anda memang sangat bijaksana." sahut Danjo mengaku.
Pangeran Asahiko tertawa dan melangkah mendekat. "Kalian berdua memang sosok samurai sejati." puji wali negara tersebut kemudian menatap Ryoma Hasegawa. "Tuan Hasegawa Tua. kurasa tak percuma engkau mengangkat anak ini sebagai katoku sekaligus toryo keluarga Hasegawa."
Ryoma Hasegawa hanya membungkuk dalam merespon pujian wali negara tersebut. Pangeran Asahiko menatap Haanish.
"Soal kamu hendak menelisik arsip-arsip yang berhubungan dengan leluhurmu dari pihak Mochizuki, sudah kuijinkan. silahkan lakukan sekehendakmu." ujar Pangeran Asahiko.
"Terima kasih Yang Mulia." jawab Haanish.
"Baiklah, aku tak akan menahanmu lagi. silahkan kembali ke Odawara." ujar Pangeran Asahiko, "Tapi ingat, setiap pertemuan yang berkaitan dengan perkembangan negeri, kau harus hadir, sebab kau bagian dari 230 keluarga besar yang membangun negara."
Haanish tersenyum. "Akan selalu ingat."
Pangeran Asahiko mengangguk lalu meminta ijin meninggalkan tempat itu, didampingi pejabat istana dan barisan pengawalnya. Ryuzou sendiri pamit kepada Ryoma juga meninggalkan tempat itu. kini disana tinggal Haanish, Danjo dan Ryoma Hasegawa.
Danjo menyalami Haanish. "Aku ingin bertemu denganmu lagi dalam pertandingan selanjutnya." Haanish membalas menyal^ami pula Danjo.
"Dua rival yang bisa menjadi sahabat." sela Ryoma dengan senyum. ketiga melangkah meninggalkan tempat tersebut menyusuri taman demi taman istana.
"Ayahku dulu memiliki sahabat juga sekaligus rivalnya." ujar Haanish menerawang. "Namanya, Momotaro Chigaji, putra dari Ienaga Heinaizaemon dan cucu dari pimpinan Yamaguchi keenam, Tsukasa Shinobu."
"Ah, aku ingat. dia adalah pimpinan kedelapan Yamaguchi dan tewas dibunuh oleh seseorang tak dikenal dikediamannya." sahut Danjo.
__ADS_1
"Yang membunuhnya adalah anggota Sekte Dracna dari Transylvania. mereka membunuhnya untuk memancing ayahku keluar dari persembunyiannya." jawab Haanish. "Mereka kemudian melakukan kekacauan di kediaman kami di Gorontalo, Indonesia. Papa kemudian berangkat ke Transylvania dan membunuh pimpinannya, Sergey Basarab di Benteng Poenari."
Danjo terperangah. "Berarti ayahmu seorang tokoh besar."
"Aku mengenalnya, saat putriku mengaku mencintai Saburo Koga Mochizuki. putraku, Chikaraishi kemudian menyandera keluarganya untuk memaksa lelaki itu menikahi putriku." ujar Ryoma membuat Haanish menunduk.
"Chikaraishi Hasegawa? panglima utama angkatan laut kekaisaran?" tebak Danjo. "Aku sewaktu itu menjabat sebagai prajurit dua dikesatuan itu dimasa kepemimpinannya."
"Papaku membunuhnya dalam duel tanding seperti yang kita lakukan tadi." jawab Haanish dengan senyum getir. "Papa lalu membawa Ibu ke Gorontalo, dan melahirkanku disana. aku kemudian dipelihara oleh istri pertama Papa yang sekarang kupanggil Mama. dia kemudian mengakuiku sebagai anggota keluarga Lasantu dan memberikanku nama baru.... Haanish Hermawan Lasantu..."
tanpa terasa perjalanan mereka tiba diparkiran kendaraan. Danjo menatap Haanish. "Baiklah Tuan Hasegawa. silahkan meninggalkan tempat ini. Kapan-kapan kita akan bertemu lagi."
"Kau boleh kapan saja menemuiku di Odawara. kau tahu, kan? keluarga kami menempati istana Hojo." ujar Haanish.
Danjo mengangguk. "Aku pasti akan kesana."
Haanish mengangguk lalu masuk kedalam mobil diikuti Ryoma. kendaraan itu kemudian meninggalkan kawasan Chiyoda dan bergerak ke barat.
...*******...
Haidar dan Mahreen sepakat untuk mendiamkan peristiwa itu. keduanya berpisah jalan dan Haidar melajukan Tuatara V33K miliknya menyusuri jalanan yang masih ramai menuju arah timur laut.
ia tiba di Kediaman Lasantu dan memarkir kendaraannya di parkiran kemudian melangkah memasuki bangunan. dilantai satu, lelaki itu bertemu dengan Aisyah dan Bik Inah yang duduk di pantry.
"Assalamualaikum...." sapa Haidar dengan datar tanpa menoleh.
"Wa alaikum salaam..." jawab keduanya.
Haidar seakan tak perduli melangkah terus menyusuri ruangan. Bik Inah menyambut.
"Makan dulu, Nyong." ujar Bik Inah.
"Saya nggak lapar, Bik. makasih." jawab Haidar sekenanya menaiki tangga menuju lantai dua, kekamarnya.
keduanya menatap kepergian pemuda itu. Bik Inah menatap Aisyah yang terus menatapi arah perginya pemuda tersebut.
"Bik... kalau Haidar sedang ada masalah, memang seperti itu?" selidiknya. Bik Inah mengangguk.
"Dia orang yang selalu memendam masalah. ia hanya bisa bicara dengan Nyong Haanish atau Nyonya Besar, jika itu menyangkut masalah pribadinya." jawab Bik Inah.
"Tapi, apakah Haidar selalu begitu?" tanya Aisyah.
Bik Inah menatap Aisyah lalu tersenyum. "Kamu nggak usah terlalu memperdulikannya. dia paling nggak suka diselidiki."
Aisyah hanya bisa manggut-manggut saja. sementara itu dikamar mandi, Haidar meninju-ninju dinding dengan pelan dan menempelkan kepalanya disana. semburan air dari shower juga tak bisa meredakan rasa sesal menggumpal dalam benaknya.
mengapa harus kulakui itu pada cewek yang kucintai? mengapa aku tak bisa sabar? mengapa begitu kuat cobaan syahwat itu?
Haidar membiarkan air terus membasahi tubuh telanjangnya yang sudah mengkilap oleh pantulan cahaya lampu yang menyinari permukaan kulitnya yang dirembesi air.
Ya Allah... aku merasa sedemikian hina sekarang... dimana kutaruh mukaku lagi dihadapan Mahreen?
pemuda itu terus meninju pelan dinding kamar mandi itu.
...******...
Kediaman Hasegawa, Istana Odawara, Kanagawa, pukul 20.11 Nihon Hyojunji.
dipuncak istana itu, Haanish berdiri menatap gemerlapnya kota Odawara, dihiasi oleh gedung-gedung pencakar langit bagaikan tongkat ruyi jingu bang milik raja kera Sun Go Kong yang menancap dibumi hendak menggedor kahyangan.
Haanish menghubungi Marissa menggunakan video call. tak lama kemudian wajah gadis itu muncul.
📲 "Assalamualaikum, Issha..." sapa Haanish dengan lembut.
📲 "Wa alaikum salaam Uda." balas Marissa menampakkan senyumnya.
__ADS_1
📲 "Kupikir kamu sudah tidur." ujar Haanish.
📲 "Nggak." jawab Marissa. "Kepikiran terus sama Uda."
Haanish tertawa.
📲 "Kamu sejak kutinggal, sudah pandai menggoda, ya?" olok Haanish membuat Marissa tertawa kecil. "Belajar dimana sih?"
📲 "Banyak..." ujar Marissa berlagak menerawang. "Banyak buku tentang percintaan yang Issha baca... tapi paling banyak sih, Kamasutra."
📲 "Issy... kok bacaanmu yang begituan sih?" ujar Haanish kaget. "Kamu tuh masih ijo... belum layak baca-baca begituan."
📲 "Kan sebentar lagi Issha akan alih profesi jadi istri." kilah Marissa membuat Haanish mengangkat alisnya.
📲 "Istri?..." ulang Haanish. Marissa mengangguk.
📲 "Besok, Bunda sama keluarga Ali akan berangkat ke Padang, mengantar Issha... sekaligus..." ujar Marissa menggantung dan hanya tersenyum sipu-sipu.
Haanish tertawa lagi.
📲 "Kalau sudah di Kediaman Williams, jangan coba-coba ngebolos lagi ya?" ujar Haanish sembari menebak membuat Marissa kembali tersipu.
📲 "Ya Uda..." jawab Marissa.
Haanish tersenyum-senyum menatap wajah Marissa yang diperhatikannya semakin cantik saja. apakah ini yang disebut cinta????
...******...
Airina mengabari ibu mertuanya perihal keinginan Inayah berbesan dengan keluarga William-alkatiri. Syafira Alkatiri hanya tersenyum-senyum saja mendengar penuturan putri mantunya.
"Bagaimana menurut Umi?" tanya Airina.
"Umi setuju-setuju saja. lagipula, keduanya itu memang sudah saling tertarik satu sama lain hanya saja gengsi mengakui." jawab Syafira.
"Umi, apakah ini tak akan menyakiti hati Marina?" tanya Airina. "Bukankah kemarin, aku melarang dia menjalin hubungan dengan Haidar disebabkan pertalian darah." ungkap Airina.
Syafira tersenyum. "Marina nggak akan pernah berjodoh dengan Haidar. lelaki itu sudah memiliki jodohnya sendiri. Marina pun demikian."
Airina mengerutkan alis. "Umi jangan bicara penuh makna begitu. saya nggak jelas menangkapnya. bicaralah terus terang." desak Airina.
Syafira Alkatiri tersenyum lalu mengambil tangan Airina dan menyapunya. "Anakku... sebentar lagi, jodohnya Marina akan datang menyambangimu. sekarang... kau bersabar saja dulu dan menerima jodohnya Issha."
"Bagaimana dengan Marinka, Umi?" desak Airina.
"Jodohnya, orang lokal... masih kota ini juga." jawab Syafira.
"Umi tahu siapa namanya?" pancing Airina.
Syafira menggeleng. "Sudah... tenanglah dulu. terima itu satu persatu. jangan selalu ingin mengetahui rahasia langit. nggak baik." tegur nenek itu, "Nantinya kamu malah akan jadi sasaran bidikan para penjaga langit itu."
Airina terdiam mendengar kalimat ibu mertuanya. Syafira tersenyum lagi. "Yang jelas, keluarga Williams akan menemukan kejayaannya... tidak lama lagi."
Syafira menatap ke pintu. "Ah... sebentar lagi sepasang pengantin akan memasuki pintu itu."
Airina menoleh ke arah pintu dan tersenyum. berarti... pernikahan akan terselenggara di kediaman Alkatiri.
...********...
semenjak itu perubahan drastis terlihat diwajah Haidar. ia menjadi lebih kaku dari sebelumnya. rasa tanggung jawabnya membuatnya langsung menjaga jarak dari Aisyah dan putrinya.
Aisyah yang sudah mendapat pengarahan dari Bik Inah tentang perilaku keseharian Haidar juga tak merasa heran dengan kekakuan itu. apalagi sekarang ia tak sering lagi memasak. pemuda itu kembali merasai lagi jejak masakan Bik Inah.
hari ini, terlaksana Sidang Munaqasyah yang berlangsung di UIN Sultan Amai Gorontalo, yang diselenggarakan di auditorium. Haidar menghadapi para Munaqisy yang merupakan dosen-dosen berpengetahuan tinggi yang siap menggasak intelejensia Haidar sampai batas kemampuannya.
sementara dihari yang sama, Aisyah mengajukan lamaran ke Buana Asparaga Tbk. ia diterima perwakilan HRD yang ditunjuk Dewinta Basumbul untuk menguji dan mewawancarai Aisyah. setelah menimbang-nimbang hasil uji kompetensi dan interview, Aisyah dinyatakan diterima dan dipekerjakan dibagian gudang produksi.
Haidar sendiri berhasil menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tim penguji dalam sidang terbuka munaqasyah saat itu. bahkan ia mampu membuat juri terdiam dalam adu argumen dibahasan skripsinya. sidang dijeda sedikit untuk para munaqisy berdiskusi. Haidar menunggu dengan sabar dikursinya.
setelah berdiskusi, pimpinan Munaqisy yang tak lain Rektor UIN Sultan Amai Gorontalo memutuskan meluluskan Haidar. dengan indek prestasi tertinggi yang kenudian akumulasikan menjadi summa cumlaude.
__ADS_1
Inayah begitu gembira mendengar berita kelulusan itu. berkali-kali ia mengucap syukur. wanita itu kemudian memantapkan dirinya untuk pensiun dini dari dinas kepolisian. Inayah sudah memasukkan permohonannya.[]