
Joni lebih terhenyak mendengar ucapan Aisyah terakhir. wanita ini mulanya hendak dirayunya agar kembali kepadanya. namun ia terkejut mengetahui bahwa Aisyah dinikahi oleh putra orang nomor dua dijajaran kepolisian daerah Gorontalo.
"Aku minta kau pergi sekarang, sebelum aku panik dan kau akan mendapatkan masalah." ancam Aisyah.
"Okey, okey, baik. aku akan pergi." ujar Joni. "Tapi ketahuilah bahwa aku tak akan mendiamkan hal ini!" tandasnya kemudian berbalik meninggalkan kediaman Aisyah.
Aisyah mengekori punggung Joni yang menjauh dan menghilang dalam rimbunan tetumbuhan taman yang menghiasi perumahan karyawan itu. Aisyah menyandarkan punggungnya dan menarik napas lega. setelah itu ia mengeluarkan gawai dan mulai menulis pesan singkat kepada Haidar.
✉ Sayang, pulanglah... ada yang hendak ku diskusikan denganmu... ini sangat penting... menyangkut aku dan Aya Sofia....
setelah mengetik kalimat-kalimat itu ia mengirimnya setelah itu Aisyah bergegas masuk ke dalam rumah dan menguncinya dengan ketat.
...*******...
keramaian di kediaman Williams nampak begitu mencolok sebab banyak relasi dagang yang datang mengunjungi keluarga itu disebabkan pernikahan putri bungsu mereka dengan putra kedua keluarga Lasantu yang notabene masih merupakan kerabat dekat dari istri Akram Williams.
Marissa masih mengenakan pakaian adat bersanding dengan Haanish yang juga mengenakan pakaian adat minangkabau. acara pernikahan itu juga disuruh oleh Haanish untuk disiarkan secara live ke Istana Odawara menggunakan piranti khusus yang diciptakan Akram.
di Istana Odawara sendiri, Ryoma Hasegawa tersenyum-senyum melihat cucu lelakinya menikahi wanita yang begitu cantik. ada perpaduan wajah asia dan eropa pada gadis itu.
"Marissa Williams namanya? hmmm... hmmm..." gumam Ryoma Hasegawa.
sementara dayang-dayang yang juga diijinkan menyaksikan acara itu terkagum-kagum melihat pasangan yang begitu serasi. mereka bahkan mengibaratkan Haanish dan Marissa seperti Dewa Izanagi dan Dewi Izanami, yang merupakan sesembahan mereka selaku penganut agama shinto.
"Kelak dari rahim perempuan itu, akan lahir keturunan Hasegawa yang akan mengguncangkan dunia!" gumam Ryoma sambil terus tersenyum.
sementara itu dikediaman Williams, pesta masih berlangsung. acara foto bersama diadakan. beberapa kawan-kawan Marissa dan guru-gurunya datang berkunjung pula kemudian menjalani prosesi foto bersama. ada beberapa kawan perempuan Marissa yang tanpa sadar terkagum-kagum juga menatap Haanish hingga kemudian dipelototi oleh Marissa sendiri. mereka hanya tersipu-sipu ketangkap basah mengagumi suami orang.
sementara dimeja keluarga, duduk Inayah, Haidar, Airina Akram, Marina dan Marinka serta Syafira dan Kevin. Mahreen sendiri dipaksa Inayah duduk bergabung dengan mereka, dan duduk disampingnya.
Marina menatap Haidar sejenak lalu memandang Mahreen. sementara Inayah dan Airina mengobrol bahan-bahan ringan saja. tak lama kemudian Ikram, Hayati, Salman dan Callista bergabung.
Kevin menatap Ikram. "Nak... calon mantu keluarga kita kah itu?" tanya Kevin mengangguk lagi kearah Callista.
Ikram tersenyum saja lalu menatap Salman. "Abi tanya saja sama Attar." ujar Ikram menganggukkan kepalanya kepada Salman.
"Wooohhh... ponakanku rupanya mau ikut-ikutan denganku. bagaimana pendapatmu tentang tanah tilong kabila itu? apakah pemandangannya indah?" tanya Akram.
hanya Akram dan Ikram saja yang memahami kata-kata kode itu. mirip sebuah password. tanah tilong kabila itu merujuk pada diri Callista.
Salman tersenyum. "Pemandangannya indah Mamak. nyiurnya hijau melambai elok. airnya sejuk dan pegunungannya indah dipandang mata." jawab Salman membuat Akram dan Ikram saling berpandangan dan langsung saling menunjuk.
"Aahhhhaaaaaayyy..." seru Akram.
"Yihhhaaayyyy..." balas Ikram.
hanya dengan Akram saja, Ikram yang pendiam akan nampak gila-gilaan. mereka heran-heran saja terkecuali Salman yang tersipu-sipu setelah menjawab tadi. Akram dan Ikram langsung mengangkat tangan melakukan toss five membuat Marina dan Marinka tertawa.
"Ih, Abi sama Mamak kayak anak-anak saja." ledek Marinka.
Akram dan Ikram hanya tertawa sedang Syafira hanya tersenyum-senyum. Kevin menatap istrinya. "Anak-anak kita, sayang."
"Mana Papamu?" tanya Kevin dengan ketus. "Apa harus kuledakkan pistol dikepalanya supaya dia datang mengunjungi Kediamanku?!" ujarnya kepada Ikram.
"Hey Bro. kami disini!!!" seru Reyhan dan Airin yang ternyata berada dimeja sebelah bersama-sama kawan-kawan mereka. Kevin langsung berdiri ia menatap Syafira.
"Mas ke sana ya?" pintanya. Syafira juga langsung berdiri.
"Mari kita biarkan mereka bersenang-senang. kita juga akan melewatkan malam indah ini dengan kawan-kawan kita." ujar Syafira kemudian pamit kepada Akram dan Ikram.
setelah itu kedua manula itu ikut bergabung dengan manula-manula seangkatan mereka yang duduk disebelah. tinggallah Akram, Ikram, Airina, Inayah, Hayati dan Salman, Haidar, Mahreen dan Callista.
Akram dan Ikram juga bangkit. "Maaf jika kami harus pergi. ada urusan perusahaan yang harus kami bicarakan dengan kolega-kolega." ujar Akram menganggukkan kepala ke arah beberapa rombongan saudagar yang menjadi undangan.
Airina dan Hayati mengangguk. keduanya lalu menatap Inayah. "Kak, mari kita berbincang-bincang disana. agaknya kita masih lebih harus memperkuat silaturrahim antar keluarga." pancing Hayati.
__ADS_1
tak lama kemudian, lagu-lagu khas minangkabau sudah berakhir. kedua temanten itu kembali ke dalam untuk bersalin pakaian. sementara itu Inayah menatap Haidar.
"Kalian mengobrollah disini. kami bertiga akan bercengkrama disebelah sana." ujar Inayah.
Haidar dan Mahreen mengangguk. ketiga wanita parobaya tersebut meninggalkan tempat. kini hanya tinggal Haidar, Mahreen, Salman, Callista, Marina dan Marinka.
Marina menatapi Mahreen. "Perkenalkan padaku, kekasihmu itu Chouji." tegur Marina. "Kau mentang-mentang telah mendapatkan kembali cinta seorang wanita, kau kemudian melupakanku."
Haidar terkekeh. "Maaf, aku hanya tak ingin membuat suasana nyaman menjadi canggung." Haidar kemudian menatap Mahreen.
"Reen, perkenalkan ini adalah Marina Williams, putri sulung keluarga Williams dan juga seorang Presdir MLt. Group yang berpusat di Inggris." ujar Haidar memperkenalkan Marina kehadapan Mahreen, "Dan ini Mahreen Nurmagonegov, mahasiswi program pertukaran pelajar dari Rusia."
Marina bangkit menyalami Mahreen. "Aku dulunya adalah kekasih Haidar." ujar Marina memancing kecemburuan Mahreen. gadis rusia itu agak memerah wajahnya. "Tapi kedua orang tua kami tak berkenan. makanya aku dan Haidar berpisah secara baik-baik."
Mahreen hanya tersenyum canggung lalu duduk kembali dan menunduk. Haidar menggelengkan kepala berkali-kali.
"Rina... tak perlu harus bersikap begitu." tegur Haidar.
Marina hanya tersenyum. ia menatap Marinka. "Dan ini adalah adikku Marinka Williams, Presdir Ark Industries."
Marinka mengangguk hormat kepada Mahreen dan begitupun sebaliknya. tak lama kemudian terdengar lagu khas gorontalo, hulondalo lipu'u disusul dengan munculnya Haanish dan Marissa yang menggunakan pakaian pengantin khas gorontalo. keduanya kembali bersanding dipelaminan.
getaran disaku Haidar mengalihkan perhatian pemuda itu. ia merogoh sakunya sejenak lalu mengeluarkan gawainya. pemuda itu bangkit dan melangkah sedikit menjauh. hal itu tak luput dari perhatian Mahreen.
Haidar mengaktifkan layar gawai dan membaca pesan singkat dari Aisyah. alisnya berkerut sejenak lalu membalas.
✉ aku akan pulang besok. nanti kita ketemuan...
Haidar mengirimkan pesan itu. tepukan dipundak mengagetkan pemuda tersebut. Mahreen dibelakangnya memegang pundaknya.
"Ada apa?" tanya Mahreen.
Haidar tersenyum dan menoleh kearah Mahreen lalu tersenyum. "Urusan perusahaan." ujar Haidar dengan senyum.
Haidar menggeleng. "Adikku menikah dan aku tak bisa meninggalkannya untuk malam ini. aku akan kembali besok pagi." jawabnya.
Haidar mengajak Mahreen kembali ke tempat duduknya. mereka kembali bersenda gurau. tak lama kemudian muncul seorang lelaki. ia menyapa.
"Hallo, Marina Williams..." sapa lelaki itu.
Marina langsung menoleh dan tertegun sejenak. lelaki itu mendekat. "Kau kejam sekali. kenapa tak mengundangku?" sambungnya.
mereka semua sejenak menatap orang itu lalu memandang Marina dengan tatapan menggugat. terlebih Haidar yang menatap tajam. Marina bangkit lalu melangkah mendekati lelaki itu.
"Kamu tahu kediamanku darimana?" tanya Marina.
"Hei, aku ini investor. aku cukup banyak kenal para saudagar kelas dunia. aku menanyakan kepada mereka tentang kamu. tentu saja mereka memberitahukan sebab MLt. Group banyak menjalin kerja sama dengan beberapa korporasi-korporasi nasional dan internasional." jawab lelaki itu.
Marina mengajak lelaki itu mendekati meja dimana Haidar dan yang lainnya berkumpul. ia memperkenalkan diri lelaki itu. "Perkenalkan lelaki ini adalah Mikail Usmanov, investor asal Moskwa, Rusia."
Mahreen langsung responsif. "Vy iz Rossii? Ya tozhe iz rossii..." sahut gadis itu. (anda dari sana? saya juga dari Rusia sana)
Mikail Usmanov menatap Mahreen. "Akh... kakoye sovpadeniye , yesli ya vrestchu sootechestvenika...mogu ya znat' vashe imya?" sapa Mikail dengan sopan dan formal. (Ah, sebuah kebetulan berjumpa dengan saudara senegara... bolehkah kutahu namamu?)
Mahreen baru saja hendak menjawab ketika Haidar menyela, "Yeye zovut Makhrin Nurmagonegov...Ona moy zenikh." ujarnya membuat Mikail tercengang sejenak lalu tersenyum sedangkan Mahreen tersipu-sipu dan tersanjung. (Namanya Mahreen Nurmagonegov, dia pacarku.)
sementara Marina dan yang lainnya terheran-heran melihat Haidar yang menatap tajam Mikail, Mahreen yang tersipu-sipu dan Mikail Usmanov yang tersenyum canggung, mereka hanya bisa menerka mungkin lelaki rusia itu mengucapkan sesuatu yang membuat Haidar tak berkenan.
"Kamu bilang apa? kok sepupuku kayaknya marah ke kamu?" tanya Marina dengan lirih.
"Oh, itu sepupumu?" bisik Mikail. "Cerita darimana kalau perempuan rusia itu bisa pacaran dengan sepupumu?"
"Dia belum bilang apa-apa padaku." jawab Marina lalu menatap Haidar. "Kuharap kau tak marah jika lelaki ini duduk disini sebagai tamu. bisa kan?" pinta Marina dengan tatapan yang juga tajam.
Haidar tersenyum sinis sambil melengos. "Asal dia tak merayu Mahreen saja."
__ADS_1
Marina berdecak kesal ke arah Haidar lalu mempersilahkan Mikail Usmanov duduk disisinya dan Marinka. Salman memperhatikan Haidar yang masih menatap tajam Mikail. Callista menyentuh pundak Salman.
"Uda, kita ketemuan dengan Ibu dan Ayah saya, yuk." ajak Callista. Salman menatap kekasihnya lalu mengangguk. keduanya bangkit lalu menatap sepupunya.
"Aden cabut dulu sama Callista. nak hendak temui calon mertua. insya Allah." ujarnya membuat Marinka dan Mahreen menyoraki keduanya. Salman mengangkat tangan lalu menggandeng lengan Callista menjauh dari tempat itu. Marinka juga ikut bangkit.
"Lho? waang mau kemana?" tanya Marina berupaya menahan.
"Ah, denai malas jadi penjaga nyamuk kalian semua." yukas Marinka, "Lebih baik denai jalan-jalan. siapa tahu dapat jodoh." usai berkata begitu, Marinka pergi meninggalkan mereka.
kini di meja itu tinggal Marina bersama Mikail dan Haidar bersama Mahreen. Marina melambaikan tangan kepada seorang pelayan yang melintas. pelayan itu mendekat.
"Berikan tuan ini minuman." ujar Marina kemudian menatap Mikail. "Kau mau minum apa?" tanya Marina.
"Aku suka minum apa kau yang sajikan padaku." jawab Mikail mencoba menggombali Marina.
Marina tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala lalu memesan kepada pelayan. pelayan itu mengangguk lalu meninggalkan meja itu. Marina menatap kepada Haidar.
"Kenapa denganmu?" tanya Marina dengan datar.
Haidar melengos lagi. "Malas aku lihat mukanya. mirip kuda jantan. tahu nggak." ujarnya menohok Mikail. untung saja Mikail tak paham bahasa Indonesia.
Marina memicingkan mata. "Waang jangan macam-macam. inyo itu relasi bisnis denai." tegur Marina.
"Oh, relasi bisnismu? uhm... uhm... " sahut Haidar kemudian menggumam.
Marina mendengus kesal lalu melengoskan wajahnya ke arah lain. Mahreen dapat melihat dengan jelas ada sedikit perasaan diantara keduanya yang belum hilang. sedangkan Mikail, meskipun tak paham bahasa melayu austronesia itu berupaya menenangkan Marina.
"Kurasa, dalam acara yang penuh bahagia ini, tak sepatutnya kalian berdua saling bertengkar." nasihat Mikail kepada Marina.
Marina menatap Mikail lalu tersenyum. "Terima kasih Mikail. kalau tak kau tenangkan, tentu kemeriahan pesta ini akan kacau oleh kemarahanku." balasnya bersikap mesra membuat Haidar melengos dan tersenyum lalu berdecak sekali.
Marina memicingkan mata menatap Haidar. kalau ini bukan pesta pernikahan adikku... sudah kulabrak kau...
Haidar mengerling kearah Marina. sejak kapan kau bertemu dengan kuda jantan itu? wajahnya membuat aku muak, serasa ingin muntah...
Marina mengencangkan rahangnya dan sekali lagi memicingkan mata. bukan urusan kamu! memang kamu siapanya aku?! sana urusi pacar rusia kamu itu. aku selalu mendoakan kalian berdua bahagia...
sekali lagi Haidar melengos dan tersenyum sinis. heh... ucapan doa yang munafik...
Mahreen dan Mikail hanya bisa saling memandang dengan tatapan heran. ia menatap Mahreen. "Apakah pacarmu itu tahu menggunakan ilmu telepati?" tanya lelaki itu mengangkat alisnya setengahnya.
Mahreen mengangkat bahu. Mikail kemudian bertanya. "Margamu Nurmagonegov? kamu dari Dagestan, kan?" tebak Mikail.
"Ya tentu saja. ada apa?" tanya Mahreen.
Mikail sejenak menatap Marina lalu menatap Mahreen. "Aku pernah dengar berita nasional dari Russia-1... keluarga Nurmagonegov dibantai oleh kelompok tak dikenal. kemungkinannya itu jaringan ekstrimis..." ujar Mikail.
berita itu bagai sambaran petir yang menyambar kepala Mahreen. "Astagfirullah... bagaimana bisa?! bagaimana dengan ayah-ibuku? Miriam, saudaraku? bagaimana kabarnya?" seru Mahreen dengan histeris sementara ia terus ditenangkan oleh Haidar.
Mikail mengangkat bahu. "Aku tak tahu detailnya. tapi kurasa kau bisa menanyakan berita tersebut kepada pengawal dari Marina Williams. dia pergi ke Dagestan untuk memastikan berita tersebut."
"Haanish..." gumam Haidar dengan tegang.
mata Mahreen berkaca-kaca dan ia menutup mulutnya. berita itu sungguh mengejutkan. gadis itu menggeleng-gelengkan kepala berapa kali.
"Mahreen..." panggil Haidar.
"Nggak! nggak mungkin!" teriak Mahreen histeris dan iapun jatuh pingsan.
"Mahreen!" seru Haidar mengguncangkan tubuh Mahreen berkali-kali untuk menyadarkannya. namun gadis itu memang sudah semaput.
"Panggilkan dokter!" seru Marina.
Haidar memondong tubuh Mahreen yang pingsan keluar dari pesta. sementara kehebohan itu membuat acara resepsi pernikahan Marissa dan Haanish sedikit terganggu.[]
__ADS_1