The Blood Of God

The Blood Of God
ALONE # 05


__ADS_3

"Dinara..." panggil Djalenga dengan lembut.


seakan mendengar suara yang lembut bagai suara nafiri para bidadari, wanita itu tersentak sejenak dan mengangkat pelan wajahnya lalu menatap dengan memicingkan mata serta menghalangi wajahnya dengan lengan.


Djalenga melangkah perlahan lalu berlutut dihadapan Dinara. "Ini aku..." ujarnya memegang pergelangan tangan Dinara, menyibakkan membiarkan Dinara mengenali wajah itu. Dinara lama menatap lelaki itu dan perlahan senyum dibibirnya tersungging.


"Kau datang... menjemputku?" tanya Dinara.


"Bukan hanya aku..." jawab Djalenga. "Kedua kakakmu juga sementara mencarimu. mereka sudah berada disini... hanya saja, aku yang duluan menemukanmu."


"Aku serasa lemas... bisa bantu aku?" ujar Dinara merengek.


Djalenga tersenyum lalu mengangguk. ia menjulurkan tangan meraih tangan Dinara yang satunya kemudian bangkit menariknya. kini gadis itu berada dalam pelukannya. Djalenga kemudian memapahnya perlahan menuju pintu.


"Kita akan keluar dari sini bersama-sama." ujar Djalenga.


"Banyak penjaga disekitaran... bagaimana kau bisa masuk?" tanya Dinara dengan lemah.


"Aku seorang pemburu, Dinara... para pemuda Sasak, sejak lahir sudah diajari menjadi pemburu. salah satu kemampuan pemburu adalah menjejak musuhnya. aku menemukanmu karena aku menjejaki musuhku." jawab Djalenga dengan lirih dan tersenyum.


Dinara tersenyum. "Bawa aku dari sini."


"Tentu, aku akan memari kamu mulai dari sini!" tandas Djalenga. "Ayo, kita mencari jalan keluar."


tiba-tiba terdengar hiruk-pikuk disayap bagian kanan lorong itu. Djalenga menghela napasnya dan menatap Dinara.


"Para penjaga dibagian sebelah sana sudah menyadari adanya penyusupan. kita terpaksa mencari jalan lain." kata Djalenga.


"Lakukan yang terbaik, sayang... dan segera culik aku dari sini." pinta Dinara.


permintaan Dinara barusan langsung terasa bagai doping yang memacu adrenalin Djalenga yang segera menyebar ke seluruh tubuh. sambil menarik tangan Dinara agar gadis itu mengikutinya, Djalenga menyusuri lorong demi lorong seraya memegang tulup nya.


keduanya mendapat seorang penjaga yang tiba-tiba muncul menghadang mereka. penjaga itu langsung menyerang Djalenga. lelaki sasak itu melepaskan tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Dinara dan mendorong gadis itu agar menempel di dinding. sementara Djalenga meladeni penjaga tersebut yang menyerangnya dengan baton stick.


pemuda sasak itu serta merta menggeser tubuhnya sedikit hingga ayunan baton tersebut hanya mengenai tempat kosong. dengan sigap, Djalenga mengayunkan tulup memukul wajah lelaki itu dengan keras.


BLETAKKK ... UGGGHHHH...


pukulan tulup milik Djalenga mengenai benar wajah penjaga tersebut dan membuatnya jatuh dengan wajah penuh darah akibat pukulan Djalenga ke wajahnya. penjaga itu terkapar pingsan. Djalenga menatap tulup yang retak. ia mendesah panjang.


"Ahhh... kelihatannya... aku hanya merusak warisan keluarga." keluhnya kemudian menyimpan tulup tersebut dan mereka lari bersama-sama. keduanya tiba lagi disebuah ruangan yang lebar mirip bangsal besar menyimpan segala logistik.


dan memang benar. disana nampak berderet-deret jenis kendaraan darat sedang, entah itu jip atau sepeda motor pelintas medan. ada sebuah meja dan beberapa kumpulan orang-orang yang kelihatannya sedang mengerumuni sesuatu.


"Apa kita akan melihatnya?" pancing Djalenga dengan lirih.


"Ayo." ajak Dinara yang berinisiatif menyusup lebih dulu.


Djalenga dan Dinara mengendap-endapkan langkahnya mendekati tempat itu. dua orang penjaga yang berdiri dekat jip, mereka lumpuhkan kemudian Dinara dan Djalenga berinisiatif mengenakan pakaian penjaga itu. dengan penyamaran tersebut mereka mendekat.


...*******...


BYURRRR...


BYAHHH.... HUAHHH...


Haidar dan Haanish terkejut dan megap-megap saat air dingin yang disiramkan penjaga menerjang wajah dan membasahi pakaian mereka. keduanya berupaya meronta namun akhirnya menyadari bahwa tubuh keduanya terikat kuat dililit rantai pada kursi.


"Dimana ini?" ujar Haidar.


"Selamat datang ditempat ini." sapa Nikolai.


Haidar menatap lelaki yang berada disisinya. dua kakak beradik itu memang duduk dalam posisi berhadapan.


"Kamu...." geram Haidar.


"Nggak usah susah payah meronta... sia-sia saja." tukas Nikolai. "Kekuatan darah dewa nggak akan bisa melepadkan rantai yang mengikat kalian berdua."


"Kamu sih, nggak waspada." tukas Haanish. "Makanya ketangkap."


"Waduh, kok menyalahkan aku sih?" balas Haidar menukas.

__ADS_1


"Ya, jelas dong salahkan kau." jawab Haanish agak meninggikan suaranya. "Katanya kau bisa mendeteksi keberadaan musuh. tapi? lihat sekarang? kau membuat kita berdua tertangkap."


"Karung semang! woy, yang tadi berlagak jago siapa?! kamu kan?" debat Haidar tak mau kalah.


"Enak saja!" tukas Haanish.


"DIAAAAMMMM!!!" seru Nikolai tak kalah lantang. kedua matanya memelototi Haidar dan Haanish bergantian. "Kalian berdua jangan adu bacot disini! kalian berada dalam wilayah kekuasaanku!"


Haidar menatap Haanish. "Kau kenal orang ini?"


Haanish menggeleng. "Nggak. kalau yang dibelakang itu aku kenal. kau ingat? dia yang menyerang saat pesta aqiqahnya Marinka."


Haidar membelalakkan matanya. "Oh ya? subhanallah... masih hidup rupanya." seru Haidar kemudian terkekeh sedang Haanish tertawa keras.


Nikolai langsung senewen. "Ini yang tertangkap siapa? yang menangkap siapa? kok kalian malah ketawa-ketiwi? sudah bosan hidup ya?!" sergah lelaki itu.


Haanish langsung menyela. "Sorry Bro. bukan maksud nggak hormat. kita berdua cuma mengingat masa lalu dengan orang itu." jawab lelaki tersebut mengangguk ke arah Ivanovich yang hanya bisa tersenyum masam. "Orang sebesar dia kewalahan dikerjain dua anak kecil."


keduanya tertawa serentak hingga akhirnya dengan jengkel Nikolai mengayunkan tendangan menyepak rahang keduanya. Haidar mengencangkan rahanghya mengusir rasa sakit yang menyengat saat tapak sepatu Nikolai mendarat diwajahnya. sedang Haanish menggeleng-gelengkan kepala sesekali mengusir rasa pusing.


"Nah, sudah diam kalian berdua rupanya." sindir Nikolai dengan senyum puas. "Nah, begitu lebih baik."


"Aaahhh... cuma lagak kamu." balas Haanish dengan senyum miring. sudut bibirnya mengalirkan darah. "Coba dilepaskan. sanggupkah kamu menghadapi kami?"


Nikolai terkekeh, "Sebuah kebodohan jika mengikuti keinginan kalian. salah satu inti dari strategi perang adalah unsur tipuan, kawan."


"Berarti kamu penipu dong." tukas Haidar memanasi Nikolai.


"Aku bukan penipu!" tangkis Nikolai.


"Tapi buktinya kau menipu, menjebak, sekalian saja kau kunamai Nikolai Si Penebas Penjebak." ejek Haidar.


"Rupanya wajahmu perlu ditampal rupanya." ujar Nikolai.


"Eh, muka terigu. kau masih punya urusan denganku! jangan keburu mati kau sebelum aku membunuhmu!" sergah Haanish sambil menyeringai bengis.


Nikolai menatap Haanish yang menatapnya. "Aku tak akan berurusan denganmu. biarlah Ivanovich yang akan melayani urusanmu."


"Boleh juga fantasimu itu." ujar Nikolai kemudian tertawa. "Biar ku beritahukan saja hal tersebut kepad Ivanovich."


Haanish menggeram. Haidar menatap Nikolai.


"Sebaiknya kau langsung membunuh kami berdua. dengan menahan lebih lama kami disini, kalian sudah menghitung detak-detik kematian kalian sendiri." pesan Haidar.


"Pikirkan saja dirimu sendiri, Chouji!" sergah Haanish yang penyakit patologisnya mulai kambuh. sekehan tawa mulai terdengar dari mulutnya. "Ngapain memperingati mereka?"


"Ya, berlaku adil saja, Eiji... kasihan mereka." ujar Haidar dengan lemah lembut.


"Adil peyang kepalamu! hilangkan sikap itu dihadapan mereka." seru Haanish.


BUAAGGGHHH...


tendangan keras kembali diayunkan, kali ini oleh Ivanovich yang geram dan maju mendahului Nikolai mempermak Haanish. lelaki itu tersentak ke belakang menerima hantaman itu. ia duduk tegak kembali dengan bibir yang penuh oleh darah. namun anehnya, Haanish hanya tersenyum-senyum saat menerima tendangan tersebut.


"Kamu bisa diam nggak sih?!" gerutu Ivanovich setelah menempelkan sol sepatu kulitnya ke wajah Haanish.


Haanish justru malah tertawa makin keras. Ivanovich yang gemas langsung maju lagi menghantam perut Haanish bertubi-tubi dengan jengkel. Haanish memang kesakitan dihujami pukulan yang terus menerus itu namun tetap saja penyakit patologisnya makin kambuh.


"Nggak ada gunanya kamu memukuli dia." ujar Haidar. "Sampai mati, dia akan terus menertawakan kamu." lelaki itu mendengus. "Katakan padaku, apa mau kalian?"


Ivanovich berhenti memukuli Haanish lalu menatap Haidar. "Tentu saja untuk membunuh kalian! tapi sebelumnya, kalian harus mengalami penyiksaan dulu!" hardik lelaki Rusia itu.


Haidar terkekeh lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Terserah pada cara kalian sajalah. aku hanya menanyakan apa maksud kalian menangkap kami?" tanya Haidar.


dengan kesal, Ivanovich maju hendak menggasak wajah Haidar namun ditahan oleh Nikolai. lelaki itu terpaksa menahan amarahnya yang sudah menggelegak. Nikolai menatap Haidar.


"Aku menangkap kalian sebenarnya hanya ingin mengkonfirmasi sesuatu." ujar Nikolai.


"Tentang apa?" tanya Haidar.


"Apakah darah dewa yang diburu ayahku adalah benda yang sama ada dalam darahmu sekarang?" tanya Nikolai.

__ADS_1


"Bisa jadi." jawab Haidar. "Dalam surat yang kutemukan, ayahku pernah bilang kalau darah itu merupakan benda istimewa dan aku harus menjaganya dengan darahku. jadi Kupikir sesuai dengan perintah ayahku. aku menyuntikkan darah tersebut kedalam tubuhku."


Nikolai mengangguk-angguk. "Dan kau tahu efeknya bukan?"


Haidar mengangguk. "Aku sudah merasainya. lalu ada apa urusannya denganmu?"


"Kau tahu apa istimewanya darah dewa? kau tahu sejarah dari darah dewa?" pancing Nikolai.


"Jabarkan padaku lebih jelas." pinta Haidar.


Nikolai mengangguk-angguk. "Baik, akan kujabarkan padamu." lelaki itu mulai berkisah. "Dalam kisah kenabian, Noah memiliki empat orang anak yaitu Sam, Ham dan Yafet serta Kan'an. sesuai dengan ajaran dalam agama kita..."


"Tunggu..." sela Haidar. "Agama kamu apa sih? Islam, Kristen, Yahudi..."


"Kenapa kau tanyakan itu. kau ini rasis, ya?" ejek Nikolai.


"Bukan rasis, kau tadi sebut agama kita.... kau islam ya?" tanya Haidar.


"Aku seorang penganut kristen yang taat!" tandas Nikolai.


"Ooo..." mulut Haidar membulat, "Ya sudah, teruskan ceritamu."


Nikolai menghela napas kesal. ia meneruskan riwayat. "Sam menurunkan keturunan-keturunan yang menjadi Nabi dan Rasul, golongannya disebut Avatar, yaitu manusia-manusia pemegang pengetahuan ilahiah. Ham kemudian menurunkan anak keturunan yang digolongan sebagai Daivas, yaitu manusia-manusia dan makhluk yang diberikan kemampuan memanipulasi kekuatan alam. kalian lebih mengenal mereka sebagai para dewa. namun keturunan Ham bukan hanya terdiri atas manusia-manusia istimewa itu, melainkan juga makhluk-makhluk aneh yang kalian sebut sebagai monster. sedangkan Yafet menurunkan anak keturunan yang disebut manusia biasa. kelebihan satu-satunya dari keturunan Yafet adalah sifat meniru yang ada dalam gennya. sehingga meskipun usia dan kemampuan anak keturunan Yafet terbatas namun mereka bisa meniru kemampuan anak-anak keturunan Sam dan Ham dengan kemampuan otaknya. kalian menyebut mereka dengan istilah cerdas dan indigo."


"Ooohhh... begitu ya." gumam Haanish. "Berarti kamu ini termasuk keturunan Ham ya?"


"Anak keturunan Sam sudah berakhir dengan wafatnya Muhammad SAW. keturunannya adalah campuran dari keturunan Sam dan Yafet. kalian menyebutnya sebagai ahlul bait." jawab Nikolai.


"Sekarang begini." pungkas Haidar. lelaki itu menatap Nikolai. "Sebenarnya, apa tujuan kalian menangkap aku?"


"Karena kau bukan pewaris sebenarnya dari darah dewa! kau mencurinya!" tukas Nikolai menudingkan telunjuknya kearah Haidar yang terhenyak saat di tuduh.


"Hei, aku bukan pencuri." bantah Haidar, "Aku mewarisinya dari ayahku. ayahku memenangkan darah dewa itu dalam pertarungan sejagat yang diselenggarakan oleh Klan Naga Hitam dan Masyarakat Sungai Amur!"


"Klan Dracna adalah pewaris sesungguhnya darah dewa. kami mewarisinya langsung dari leluhur kami Vamp Volvox, seorang keturunan Daivas yang menikahi putri Vladislav Dragulia!" tandas Nikolai dengan berang. "Dan siapapun yang bukan merupakan pewaris sah, harus mati!"


"Ya sudah. bunuh saja kami." tantang Haidar. "Aku ingin lihat, sejauh mana kemampuan kamu membunuhku."


"Untuk hal tersebut aku mengesampingkan." ujar Nikolai dengan nada datar. "Aku memberimu kesepakatan baru."


"Kesepakatan apa?" tanya Haidar.


"Bergabunglah bersama klan Dracna! mengabdilah dibawah darah suci kristus untuk menyeimbangkan ekosistem yang terlanjur dirusak manusia." pinta Nikolai.


"Lho? kamu juga manusia. memang kamu merasa tak membuat kerusakan?" balas Haidar sedangkan Haanish kembali tertawa lagi.


BUAGHHH...


tendangan Nikolai kembali terayun menghantam wajah Haanish. kali ini lelaki itu terkulai lemah dan tak lagi bicara. darah telah mengucur deras dari bibirnya.


"Kamu bisa diam nggak sih?!" omel Nikolai dengan jengkel.


Haidar menatapi Haanish yang sudah tak bersuara lagi. kepalanya terkulai kebawah. dengan menggeram, lelaki itu mengumpulkan prana dalam cakra-cakra tubuhnya dan..


PRANGGGGG!!!!


seketika Haidar mengembangkan tangan dan putuslah semua rantai yang membelit tubuhnya. semuanya yang menatap jadi gempar terkecuali Nikolai dan Ivanovich. keduanya memang sudah tahu seberapa besar kekuatan dan kemampuan fisik lelaki itu.


Haidar dengan langkah yang gemetar dan mata yang nanar melangkah mendekati Haanish. didepan lelaki yang terkulai itu, Haidar berlutut dan mengulurkan jemarinya menyentuh nadi pada leher adiknya. perlahan matanya menutup dan dua baris airmata mengalir perlahan membasahi pipinya.


tak lama kemudian, Haidar membuka mata, masih menatap wajah Haanish yang terlihat tenang meski mulut terus mengalirkan darah. perlahan kedua mata Haidar mengalami perubahan bentuk. ia perlahan menoleh ke arah Nikolai yang kala itu mundur selangkah dan juga telah mengaktifkan sel-sel darah dewa dalam tubuhnya. kedua mata lelaki itu menjadi hitam sepenuhnya, namun belum menampakkan perubahan fisik.


"Kau membunuhnya..." ujar Haidar dengan datar.


"Kesalahannya karena mengolok pewaris sah darah dewa. dia harus menerima takdir itu." jawab Nikolai dengan senyum mengejek.


Haidar berdiri tegak. lelaki itu perlahan mengacungkan tangan kanannya ke atas. tak lama kemudian, sesosok benda melesat dan hingga dalam genggamannya. sebilah golok. Golok Ailesh.


Haidar mengibaskan golok itu ke lantai. ia menatap Nikolai. "Dan bila dikatakan kepada mereka, janganlah kalian membuat kerusakan dimuka bumi. mereka menjawab, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan." ujar Haidar menyitir ayat ke sebelas dari Surah Al-Baqarah. "Kalian tahu, apa artinya itu?"


Nikolai memicingkan mata sedang anak-anak buahnya langsung bersiaga menghunus senjata. Haidar berseru.

__ADS_1


"AKU ADALAH HUKUMAN YANG DIKIRIMKAN ALLAH UNTUK KALIAN!!!! RASAKAN AZAB ALLAH INI!" seru Haidar sembari maju mengayunkan goloknya menghambur ke kumpulan musuh.[]


__ADS_2