
Aisyah tiba di sekolah tepat pada saat para orang tua berkumpul. kedatangan Aisyah dengan pakaian muslimahnya yang modis membuat sebagian besar para ibu memandang iri. setahu mereka, Aisyah adalah seorang single parent yang berprofesi sebagai pegawai freelance disebuah perusahaan kurir.
"Wah, bagus sekali pakaiannya..." komentar salah satu ibu, "Beli dimana?"
"Wah... kayaknya bukan dibeli itu Bu." timpal salah satu ibu lagi sambil menatap Aisyah dengan senyum merendahkan. "Kayaknya di utangi..."
Aisyah hanya tersenyum saja. salah satu ibu itu mendekat. ia menelisik bahan kain pakaian tersebut. "Wah, kayaknya ini kain mahal nih... dari butik..." ujar ibu itu menyebut nama butiknya.
"Tapi kalau gaji seorang kurir, mana dapat beli ini?" timpal ibu lainnya.
sekali lagi, Aisyah hanya memendam marahnya dalam senyuman. ia kemudian menatap Aya Sofia. "No'u pergilah main ke dalam." ujar Aisyah dengan lembut. Aya Sofia mengangguk lalu melangkah riang memasuki pekarangan dalam sekolah.
Aisyah menatap ibu-ibu. "Ibu-ibu, kok pada iri melihat penampilan saya?" pancingnya kembali tersenyum.
"Eee... siapa yang iri melihat penampilan kamu?" kilah salah satu ibu, "Cuma heran saja. kamu itu kan kerjanya cuma kurir, ya nggak mungkin bisa dapat pakaian semahal ini."
"Iya, aku tahu dari mana jenis kain semacam itu. hanya butik ternama yang memproduksinya. dan harganya bukan sedua-tiga juta... ini pakaian harganya diatas kisaran limapuluh jutaan..." timpal ibu yang lainnya. "Kamu nyewa baju ini ya?" selidiknya.
"Saya nggak pernah menyewa pakaian." jawab Aisyah.
"Pasti kamu mencurinya!" tukas yang lainnya lebih sadis.
"Bu, saya memang kurir... tapi pekerjaan saya halal. saya tak pernah punya niat mencari dengan cara tak halal. apalagi untuk makan anak saya." ujar Aisyah menatap ibu-ibu itu.
mereka saling berbisik-bisik lagi. salah satu ibu kemudian menyahut. "Kamu pasti jadi pelakor seorang pejabat ya?" tukasnya membuat Aisyah langsung beristighfar.
"Bu, demi Allah, demi Rasulullah... saya tak pernah sekalipun punya niat sebejat itu." tandas Aisyah, "Kenapa kalian selalu menuduh saya yang bukan-bukan? apa salah saya dihadapan kalian semua?"
"Lalu, kalau bukan? darimana kamu mendapatkan pakaian segini bagus?" todong salah satu ibu itu membuat Aisyah tergagap dan bibirnya gemetar.
"Itu dari saya..." jawab seorang lelaki yang beberapa saat kemudian muncul.
para ibu menoleh dan kaget, terpukau dengan penampilan lelaki tersebut. ia mengenakan pakaian yang warnanya sama, lengkap dengan cetakan lambang keluarga Mochizuki dilima bagian tempat tersebut. lelaki itu tak lain adalah Haidar Ali Lasantu.
Haidar menghampiri Aisyah yang terpana pula dengan kehadirannya. lelaki itu menatap Aisyah, "Kamu, lain kali jangan melupakan ini." ujarnya menyerahkan kartu kredit kepada Aisyah. "Nanti kalau kamu belanja, repot nanti bayarnya gimana."
Aisyah yang masih terpukau pula hanya diam saat disodori kartu itu oleh Haidar. pemuda itu melambaikan tangannya.
"Halo? kamu masih disitu?" tanya Haidar.
Aisyah terhenyak lalu tersenyum. "Oh, maaf..."
Haidar menggeleng-gelengkan kepala lalu mendesakkan kartu itu ke tangan Aisyah kemudian menatap para ibu-ibu yang sudah ribut bisik-bisik mengghibah Aisyah.
"Maaf, Nyonya-nyonya... ijinkan saya membawa istri saya kedalam. kelihatannya acara sudah akan dimulai." ujarnya dengan sopan lalu menggandeng tangan Aisyah dan mengajaknya ke dalam sekolah.
beberapa jarak kemudian Aisyah berupaya melepaskan gandengan tangan Haidar, namun tak bisa sebab genggaman tangan Haidar begitu kuat.
"Diam saja kalau mau kamu selamat dari karlota mereka." ujar Haidar dengan berbisik.
"Kamu kenapa ngaku-ngaku jadi suamiku?" todong Aisyah dengan suara lirih pula.
"Supaya mereka nggak ngghibahi kamu lagi." jawab Haidar. "Kamu pikir mereka akan percaya jika kamu bilang kau beli pakaian ini?"
Aisyah langsung teringat lagi dengan salah satu tuduhan ibu-ibu itu. ia menatap Haidar. keduanya masih bergandengan tangan.
"Kau membeli pakaian ini di...?" tanya Aisyah menyebut nama butik itu. Haidar mengangguk.
"Aku memesannya seminggu sebelumnya sekaligus meminta penjahitnya membordir cetakan lambang keluarga itu dipakaian ini. Aya suka dengan lambangnya, makanya kusuruh cetak." jawab Haidar.
"Tapi mengapa harus ngaku-ngaku jadi suamiku segala?" todong Aisyah dengan perasaan yang campur aduk. Haidar menatapnya.
"Kamu nggak mau?" todongnya.
"Ya.... m-mau...." jawab Aisyah tergagap.
"Ya sudah." tukas Haidar, "Terima saja... aku kan sudah nyium bibir kamu, sudah remasin dada kamu... ya sudah, terima saja."
NYIT!!!!
Aisyah yang malu langsung mencubit perut Haidar, membuat pemuda itu terlonjak.
"Aduh! kok nyubit sih?" ujar Haidar dengan ketus.
"M-maaf..." jawab Aisyah, "K-kenapa juga sebut-sebut yang it-itu?"
"Ya, memang nyata kok." kilah Haidar.
Aisyah hendak mencubit lagi namun langsung dipelototi oleh Haidar. Aisyah balas memelototi. Haidar tak mau kalah. ia kemudian mengintimidasi.
"Sekali lagi kau cubit-cubit, aku tak akan segan mencium bibirmu didepan umum! mau?!" ancamnya.
Aisyah langsung urung melancarkan cubitan, menggantinya dengan tatapan sinis yang dibalas Haidar dengan senyuman licik. keduanya kembali bergandengan tangan memasuki auditorium.
keduanya menjadi pusat perhatian para pengunjung. ketampanan Haidar dan kecantikan Aisyah menjadi sihir yang menyemarakkan suasana itu. para guru menyambut keduanya dan mempersilahkannya menduduki tempat yang layak.
"Bagaimana kabarnya Pak Haidar?" sapa kepala sekolah.
"Alhamdulilah, baik." ujarnya. "Bagaimana perkembangan sekolah kita ini?" tanya Haidar.
__ADS_1
"Kearah yang lebih baik, insya Allah." jawab Kepala Sekolah itu kemudian menatap Aisyah. "Ini...."
"Istri saya." jawab Haidar dengan cepat kembali membuat Aisyah tertegun.
"Wah, Bapak curang tak memberitahu acara pernikahannya. kan saya bisa hadir memberikan selamat." tukas Kepala Sekolah.
Haidar tersenyum. "Maaf, kami nikah siri karena alasan tertentu. berikan saja ucapan selamatnya disini." jawab pemuda itu.
Kepala sekolah itu sebenarnya tidak terlalu memperhatikan Aisyah hingga saat ini mengetahui bahwa ia adalah istri dari donatur utama sekolah itu. kepala sekolah itu membungkuk hormat kepada Aisyah.
"Nyonya... jangan sungkan meminta pertolongan kami." ujar kepala sekolah itu dengan senyum menjilat.
Aisyah hanya tersenyum menanggapi ucapan itu dan tak berani lagi menatapi Haidar. pemuda itu juga meluruskan pandangannya ke depan. acara telah dimulai. pementasan anak-anak memperingati hari ibu berlangsung semarak.
Aya Sofia tampil didepan. sejenak ia terpana melihat Haidar yang duduk berdampingan dengan ibunya. wajah anak itu terlihat bahagia saat Haidar melambaikan tangan kearahnya. mata anak itu memejam sesaat kemudian membuka dan melantunkan sebuah syair.
🎶bundaaaa....
engkaulah muara kasih dan sayang
apapun pasti kau lakukan
demi anakmu yang tersayang....
🎶bundaaaa....
tak pernah kau berharap budi balasan
atas apa yang kau lakukan
untuk diriku yang kau sayang....
🎶saat diriku dekat dalam sentuhan
peluk kasihmu dan sayang....
saat ku jauh dari jangkauan
doamu kau sertakan
🎶maafkan diriku bunda...
kadang tak sengaja ku membuat relung hatimu terluka...
ku ingin kau tahu bunda....
betapa ku mencintaimu lebih dari segalanya
kumohon restu dalam langkahku, bahagiaku seiring doamu...
🎶bundaaaa...
tak pernah kau berharap budi balasan
atas apa yang kau lakukan
demi diriku yang kau sayang...
🎶saat diriku dekat dalam sentuhan
peluk kasihmu dan sayang
saat aku jauh dari jangkauan
doamu kau sertakan
🎶maafkan diriku bunda
kadang tak sengaja ku membuat relung hatimu terluka
kuingin kau tahu bunda
betapa ku mencintaimu lebih dari segalanya
kumohon restu dalam langkahku, bahagiaku seiring doamu....
🎶bundaaaa
engkaulah muata kasih dan sayang
apapun pasti kau lakukan, demi anakmu yang tersayang...
syair itu selesai dilantunkan dan standing applause pun membahana diruangan auditorium itu. Aya Sofia sukses membawa hati penonton mengharu biru. Aisyah tanpa sungkan berdiri dan berlari kearah panggung seraya mengembangkan tangannya. dengan sigap Aya Sofia melompat ke pelukan wanita itu.
"Anakku...." sedu Aisyah dengan hati yang mengharu. Aya Sofia menatap ibunya.
"Bunda... aku mencintaimu lebih dari segalanya." ungkap anak itu.
Aisyah mengangguk-angguk cepat lalu memeluk lagi putrinya dengan erat sambil berurai airmata. Haidar hanya berdiri menatap kedua perempuan itu dengan hati terharu.
__ADS_1
Aya Sofia melambai kearah Haidar. Aisyah menurunkannya dan anak itu berlari menghambur memeluk Haidar. pemuda itu balas memeluknya.
"Makasih Om... sudah datang." ujar Aya Sofia.
"Jangan panggil Om." bisik Haidar, "Panggil Papa... ayo panggil Papa..."
mendengar permintaan itu, mata Aya Sofia sontak berkaca-kaca. dengan lirih ia mengucap. "Papa..."
"Anak baik." ujar Haidar kembali memeluk Aya Sofia dan mencium pipi anak itu ditatapi oleh Aisyah dengan hati yang penuh haru.
seandainya... dia adalah ayah anak itu....
...*******...
ketiganya makan disebuah restoran yang terkenal. Haidar banyak memesan makanan, menyuruh Aya Sofia menikmatinya.
"Ini hadiah untuk kamu karena sukses membahagiakan mamamu, di hari Ibu." ujar Haidar.
"Makasih Om..." ujar Aya Sofia, namun dipelototi Haidar dengan tatapan merajuk hingga Aya Sofia meralatnya lagi. "Makasih Papa..."
"Terbaik...." puji Haidar kemudian membelai kepala Aya Sofia yang dibalut jilbab. pemuda itu kemudian menatap Aisyah yang tersenyum menatap putrinya yang menikmati makanan.
"Besok, kau lakukan pelamaran ke Buana Asparaga." ujar Haidar. "Apa sudah kau siapkan berkasnya?"
Aisyah mengangguk, "Sudah..."
Haidar mengangguk sambil senyum lalu menatap lagi anak perempuan itu dan tersenyum makin lebar. "Makan yang banyak ya?"
Aya Sofia mengangguk patuh.
sedang asyiknya mereka menikmati pelayanan restoran, tiba-tiba muncul Mahreen disana, mendekat langsung ke tempat dimana Haidar berkumpul bersama Aisyah.
"Haidar... aku mau bicara." ujar Mahreen langsung.
Haidar kaget tak menyangka jika Mahreen berada disitu. sejenak gadis itu menatap Aisyah yang langsung berpura-pura tak perduli dan kembali menatap Haidar. pemuda itu bangkit dan melangkah mengikuti Mahreen yang melangkah didepan. keduanya keluar dari restoran dan berdiri diparkiran kendaraan.
"Ada apa Mahreen?" tanya Haidar dengan lembut.
Mahreen mendecak kesal sesaat lalu menatap Haidar. "Tebe pravda nravitsya eta devushka?" todong Mahreen dengan tatapan berapi-api. (kamu beneran suka sama dia?)
Haidar tersenyum lalu menggeleng. "Ty ne ponimayesh'. Ya Prosto pomogayu etoy devushke." ujarnya memberi alasan. (kamu salah paham. aku hanya menolongnya)
Mahreen melirik sinis lagi, "No, vidimo net..." (kayaknya nggak)
Haidar tertawa, "Ty slishkom emotsional'nyy..." ujarnya menenangkan Mahreen yang terlanjur terbawa cemburunya. (kau terlalu membawa perasaan) pemuda itu membelai pipi gadis itu lalu melanjutkan ucapannya.
"Moye serdtse tol'ko diya tebya..." ujarnya dengan lembut. (hatiku, hanyalah untukmu.)
Mahreen mendengus pelan namun tersenyum. ia mengancam. "Zatem umen'shite vashu blizost' s etoy devushkoy..." (kalau begitu, mulai sekarang jauhi dia.)
Haidar mengangguk-angguk. "Pover' te mne." ujarnya membuat Mahreen akhirnya mengangguk dan pergi meninggalkan Haidar sendirian diparkiran itu.
Haidar menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala sejenak lalu berbalik langkah kembali menuju restoran dan masuk kedalamnya, menjumpai kembali Aisyah dan Aya Sofia yang sudah selesai makan.
"Gadis itu pasti menginterogasimu macam-macam." tebak Aisyah dengan senyum.
"Sudah pasti." jawab Haidar. "Tapi aku tak menyalahkannya. dia berhak cemburu melihat kebersamaan kita."
"Dan kau sudah mengatasinya?" pancing Aisyah.
Haidar mengangguk. Aisyah menghela napas. "Sudah kubilang. lebih baik melepasku keluar dari kediaman Lasantu. itulah akhirnya kau pun terbawa-bawa. apa kau tak menyadari jika terus-terusan begini, citramu dan Buana Asparaga Tbk juga akan ikut tercoreng." tegur wanita itu.
"Aku sudah memberikan pemahaman kepada Mahreen." ujar Haidar menatap Aisyah. "Mudah-mudahan dia akan mengerti."
"Aku juga berharap begitu." ujar Aisyah kemudian menghela napas. "Aku juga takut disebut sebagai pelakor."
Haidar tertawa pelan. "Pelakor? kamu pelakor?"
"Apakah aku bukan seorang pelakor, ketika kamu entah karena inisiatif apa kemudian mengaku sebagai suamiku?" pancing Aisyah.
"Apakah aku dan Mahreen juga sudah melangsungkan pernikahan, sehingga kau menyebut dirimu dengan istilah selucu itu?" tukas Haidar membuat Aisyah terdiam.
"Tapi... kau mengaku dihadapan orang, bahwa kita berdua nikah siri." tukas balik Aisyah. "Itu yang membuatku takut.
"Selama kau tak mengungkit-ungkit hal itu, tak ada yang akan tahu dan tak ada yang akan mengusiknya. aku melakukan hal ini juga semata-mata menyelamatkanmu dari rundungab ibu-ibu sosialita itu." Haidar mengambil gelas dan meminum isinya sejenak lalu meletakkan kembali gelas itu dimeja. "Apa kau pikir mereka rela melihatmu terlihat lebih tinggi dari mereka? jika tak ada sponsor, kau tumbang sebaring-baringnya. kau paham?"
Aisyah sejenak menunduk lalu kembali menatap Haidar. "Aku hanya tak suka terlalu banyak ditanam budi oleh orang lain. kau sudah terlalu banyak menanam budi terhadapku. aku kurang yakin bisa membayarnya... apalagi dalam posisi seperti saat ini."
"Maka bayarlah dengan berkarya yang lebih baik. bekerjalah dengan baik di Buana Asparaga." ujar Haidar. "Jangan dengarkan perkataan orang yang akan menjatuhkanmu. kritik itu untuk membangun, bukan untuk menjatuhkan kamu."
Aisyah diam sejenak, lalu menatap pintu restoran itu. "Apakah kamu tak ada pekerjaan lain, selain terus membayangiku seperti ini?"
"Aku akan berhenti membayangimu..." ujar Haidar, "Jika kau tidak perlu lagi untuk dibayangi."
"Apakah menurutmu aku belum mampu menghidupi putriku sehingga harus ditopang olehmu?" todong Aisyah dengan wajah kesal.
"Kamu mampu... tapi belum mencapai ekspektasi yang semestinya." ujar Haidar kemudian bangkit. "Kutunggu kau di Buana Asparaga, besok pukul 08.30." ujar pemuda itu tersenyum kepada Aya Sofia lalu menatap lagi Aisyah. "Jangan terlambat!"
setelah mengucapkan pesan itu, Haidar pergi meninggalkan keduanya menuju meja kasir untuk membayar semua harga makanan yang telah dipesannya pada hari itu.[]
__ADS_1