
Haidar hanya bisa melengos kesana kemari berupaya menyembunyikan rasa geli yang sangat menyucuk urat perutnya, berupaya agar jangan sampai terlepas tawa yang nantinya malah akan membuat mertuanya yang berusia lima puluhan itu tidak kehilangan muka dan makin jatuh harga dirinya dihadapan putra pertama keluarga Lasantu itu.
mereka berdua duduk ditaman depan kediaman Haidar di kawasan perumahan mewah Puri Manggis tersebut.
gawai itu disangga pada tripod yang sengaja diarahkan membelakangi Haidar agar Parman dapat dengan nyaman berbicara dengan istrinya yang cerewet tersebut. lelaki itu membiarkan dulu sang mertua menyelesaikan persoalan pribadinya tersebut. mereka bicara lewat aplikasi video call
📞 "Sudalolo, polele'u mayi poli sudalo..." ujar Parman meminta istrinya menyudahi amarahnya. (sudahlah, kubilang sudahlah).
📞 "Sudalo lo buta'o ombongumu ti..." balas Jusriya, istrinya dengan melontarkan sumpah serapah berupaya memancing emosi Parman.
Parman tak terpancing.
📞"Wa'u didu mobisala. sudalo..." ujar Parman dengan sabar. (Aku nggak akan bicara lagi. sudahilah...)
📞 "Didu mbisala lo tinggolopumu ti." balas Jusriya lagi. "Kau pikir tidak akan kucari kau? kecuali kau tak pulang-pulang, aku akan berhenti mencari-carimu... kenapa kau tak membayar semua biaya operasional... termasuk biaya kepala rombongan?" omel Jusriya.
📞 "Tunggu, aku hendak membicarakannya dengan Aisyah dulu." pungkas Parman yang mulai sedikit terpancing emosinya.
📞"Masih kau mo diskusikan dengan ti Aisyah? bolo pateilo, bolo pateilo. harapumu ja mo na'o mayi wa'u lombu? Hey, ongkos ke tempatmu itu hanya sekisar dua puluh lima ribu, ja po data huangango!" tukas Jusriya berkali-kali. (silahkan saja dimatikan, silahkan saja. kau pikir tak akan kudatangi kau besok? jangan banyak omong kosong!)
Parman yang sudah sebal langsung menyahut.
📞 "Bolo po bisala lo yi'o tutuwewu!" oloknya. (Bicara saja kau sendirian.)
📞 "Pobisalalo tutu wawu lo pundingiongumu, hulelilamu lo buta'a ombonguma, tahu'a yilate ma yi'o!" balas Jusriya makin jengkel dengan olokan suaminya.
hening sejenak, sedang Haidar langsung bangkit dan mengisyaratkan mertuanya untuk menunggu ditaman itu sementara Haidar melangkah ke dalam hendak menemui Aisyah.
sementara Parman masih terus terlibat saling hujat dengan istrinya.
📞" Hanya bersenang-senang saja kerjamu dikampung orang." omel Jusriya. "Lo buta ombonguma ti, didu mpiyohe nyawa'u to olemu." (Sialan kau, tak pernah kau menenangkan hatiku.)
Jusriya mengomel lagi.
📞"Pata'a ja mo hualingayi yi'o lombu utiye, u hinduwo'u, ja mo hualingayi yi'o?" tanya Jusriya masih denga mengomel, "Ka suka berdiam di kampung orang. tidak mau pulang kau? pulanglah! ada beras atau tak ada beras, tetap pulang kau!"
hening lagi dan Jusriya kembali menyemburkan mitraliur kalimatnya.
📞"Kau selalu pinjam-pinjam uang ke tanteku, dan kau tak memberikan semuanya kepadaku? sampai disana kau belanja ini-itu dengan mo pilomama lo huta. dihadapanku kau tak belanja apa-apa sedang diperjalanan, kau beli sebungkus rokok S***a? tapualemu, tinggolopumu, ami ndayangomu to dingingo!"
Parman hanya senyum-senyum mesem saja mendengar omelan istrinya
📞"Tinggolopumu, lo buta'a ombonguma, pilomama lo huta yi'o!" sembur Jusriya lagi melontarkan sumpah serapah. "Itu sebabnya dia tak bilang kalau pinjam uang dikerabatku dan tak memberikan sepersenpun padaku." omelnya menatap ke arah lain seakan berbicara dengan seseorang yang tak tertangkap oleh jangkauan layar gawai. kemudian Jusriya menatapi lagi Parman dan menagih lagi. "Aku tanya kau ini h-hendak pulang a-at-tau tau tau diam disana, aku tak punya uang!"
Parman terkekeh pelan dan menjawab.
📞"Hanya itu saja yang kau pikirkan?" pancingnya.
Jusriya meradang seketika.
📞"Pundingiyongumu ta pilo mama lo hutamu ti!" sembur Jusriya membuat Parman terkekeh pelan lagi. "Kenapa kau tinggalkan aku dan memprovokasi terus kemarahanku kepadamu, hah?!"
__ADS_1
📞"Kesenangan kamu mengunjungi kampung orang hanya untuk mabuk-mabukan!" omel Jusriya lagi. "Pokoknya pulanglah kamu, biar kata kau tak mau pulang, berapa hari ini kau pulang dulu. sakit benar hatiku ini. gara-gara kamu, terpaksa aku bela-belain beli pulsa untuk hubungi kamu sampai-sampai lututku ini sudah gemetaran seakan tak berpijak dibumi lagi dan sekarang kau malah santai-santai disana tak menghiraukanku?! kau punya uang, beli pulsa, mengapa kau tak menghubungiku?!" tukas Jusriya dengan emosi, "Sedang kuhubungi terus nomormu ini, nyatanya selalu berkata sibuk. sesibuk apa kau? tan hemo mbisala lo pilomama lo hutamu yi'o?"
Parman seperti biasa. hanya tertawa saja tanpa beban. tanpa ia sadari, kedua suami istri itu mengamati mereka daro balik jendela. Aisyah hanya geleng-geleng kepala saja melihat sikap ayahnya itu. sedang Haidar hanya menatap datar saja.
📞"To hila li ngoli to lipu lo tau bo hemo malata nyawa tinggolopumu ti." sembur Jusriya lagi. (Senang sekali kalian di kampung orang hanya suka menyakiti hati istri ya?!) wanita itu menarik napas dalam-dalam. "Ke kampung orang tujuannya hanya mabuk-mabukan. tak ada yang lain, kecuali mabuk-mabukan saja." omel Jusriya, "Kenapa tak mati saja sekalian?! biar nanti ku kirim doa arwah."
kalimat Jusriya barusan menerbitkan marah dihati Parman. ia menuntut.
📞"Hei, masih hidup aku ini, kenapa kau sumpahi mampus, hah?!" sergah Parman.
📞"Aku senang lebih baik kita cerai saja!" gerutu Jusriya dengan pelan. wajahnya merenggut, mayun merajuk. " Kau tak ingat dulu keadaanmu itu compang-camping, merayu dan meminta aku menikahimu."
Haidar sendiri kembali melengos mendengar jelas suara ibu mertuanya mengata-ngatai suaminya. sedang Aisyah hanya cekikikan menahan mulutnya dengan tangan supaya tam menimbulkan suara.
📞"Bersyukurlah kamu memiliki istri... yang memperhatikan kamu, dan kau pulang ke rumah tak bawa apa-apa dengan penampilan yang mirip kain kucal. nggak akan kau temukan istri macam saya yang begitu perhatian sama suaminya." omel Jusriya mengungkit-ungkit keutamaan dirinya dihadapan Parman. "Lo buta'a ombonguma yi'o ja mo syukuru bo da podata hulodu ja mosikola."
Parman masih diam mendengar umpatan-umpatan istrinya. Haidar hanya mendesah saja melihat kelakuan ayah mertuanya itu.
📞"Hei, jujur saja, aku ini masih mau cari anak." ungkap Jusriya yang tanpa sengaja terdengar oleh Aisyah.
seketika jilbaber itu tertawa lantang membuat Haidar kaget dan menatap istrinya.
"Kamu kenapa?" tanya Haidar dengan lirih.
Aisyah menggeleng-gelengkan kepala sambil terus membekap mulutnya agar tak tertawa keras. ia hanya mengisyaratkan Haidar untuk tetap menonton saja. Parman sendiri tak menyadari bahwa dibawah meja taman itu terpasang mikropon dengan piranti khusus. gawai manapun tanpa perangkat pengaman, jika diletakkan di meja itu, pasti akan terakses apapun termasuk suaranya. Parman sendiri mengira, suara gawainya memang agak keras. tapi ia tak memperdulikannya.
📞"Aku mau cari anak dari orang lain. kalau sama kamu, aku masih kepikiran lagi buat nambah anak." omel Jusriya provokatif untuk menerbitkan rasa cemburu suaminya. "Sedangkan perkara bangun tengah malam, kau tak mau membantu keperluanku. itulah mengapa aku berpikir untuk cerai saja darimu, huangangamu ti, kau kalau masih begitu-begitu juga akhlakmu, aku minta cerai saja!"
anehnya, Parman malah menanggapi omelan istrinya dengan tertawa lepas. Aisyah jadi ingat cerita ibunya, waktu dirinya lahir, menurut ibunya, sang ayah hanya ongkang-ongkang kaki tak mau membantu ibunya sedikitpun. jilbaber itu jadi sedikit benci dengan ayahnya.
📞"Aku tak suka akhlakmu, juga akhlak keluargamu itu." omel Jusriya lagi berapi-api. "Sifatmu yang begini, ini yang jadi pikiranku. tete tete'o akali'u masa tiya.... akan kuceraikan kau." ungkitnya lagi. "Hile tapu wala'a, ilo tapu wala'a to mongodula'a ja sumba. Ayahnya si Aisyah bo biongo, buringo, ja sikola...."
"Ayahmu kenapa sih, sering menyakiti ibumu?" tanya Haidar. "Apa keseharian mereka berdua memang begitu?"
Aisyah hanya menekan bibir Haidar dengan telunjuk lentiknya dan tetap mengisyaratkan suaminya agar tetap menonton. Haidar jadi kehilangan minat dan memilih menyingkir duduk disofa tamu. ia menatap penampilan istrinya yang hari itu nampak seksi sekali.
Aisyah memang baru saja jogging dihalaman belakang menggunakan Treadmill. wanita itu menggunakan pakaian dari bahan parasut tipis dan celana leging. Haidar dapat dengan jelas lekukan tubuh istrinya yang diperhatikan justru makin menggairahkan.
"Umma...." panggilnya dengan lirih.
"Hmmm..." jawab Aisyah masih tetap mengintip ayahnya yang sedang asyik mengompori ibunya.
"Umma..." panggil Haidar lagi.
Aisyah menoleh. "Kenapa?" tanya wanita itu membalikkan seluruh tubuhnya kehadapan Haidar. lelaki itu menelan ludah.
"Camel toe kamu kelihatan." ujar Haidar.
"Camel toe?" gumam Aisyah dengan bingung.
Haidar menunjuk selangkangnya sendiri dan wanita itu merespon melihat bagian selangkangnya. dan nyata memang ada sesuatu yang nampak tercetak jelas disana meski terbalut oleh celana hitam legging itu. wajahnya sejenak memerah lalu tersenyum.
"Ah, yang penting hanya Abah yang lihat." ujarnya kembali mengintip ayahnya, sementara Haidar kembali menelan ludah.
diluar sana, ditaman, Parman masih tetap aktif memprovokasi istrinya sendiri. Jusriya sendiri sudah tak segan lagi memuntahkan berbagai macam jenis sumpah serapah untuk memaki suaminya yang tak berakhlak itu.
📞"Sudah kubilang, akan kulancarkan lisanku terus memakimu supaya hilang hatimu terhadapku. supaya aku bisa cerai dari kamu." umpat Jusriya yang malah terus diketawai oleh Parman.
"Aaadddooooohhhh...." ujar Parman yang merasa perutnya sakit karena kebanyakan tertawa.
__ADS_1
📞"Aku mau cari suami yang dapat menyenangkan hatiku. lillahi ta'ala Qur'ani.... kau kalau masih begini terus kelakuamu, kuceraikan kau!" tukas Jusriya.
"Wahhhhayyyy..." timpal Parman.
📞"Aku tak suka sifatmu, Tapualemu tinggolopumu...." Jusriya tanpa bosan terus menyumpahi Parman meskipun kakek itu terus-terusan tertawa menanggapi kemarahan istrinya.
📞"Kusuka kau ini mampus saja saat mabuk-mabukan. biar nanti kukirimkan doa arwah." umpat Jusriya membuat Parman kembali tertawa lepas.
suasana hening sejenak. tak lama kemudian Jusriya bicara lagi.
📞"Ini tetangga-tetangga bilang, kau ini seorang pencuri. entah apa yang kau curi, sampai mereka bicara seperti itu." keluh Jusriya, sementara Parman hanya tetap tertawa saja. "Biar berasmu itu dicuri mereka, kau jangan balas mencuri, tapualemu tinggolopumu ti." umpat Jusriya. Parman baru hendak tertawa, langsung disela Jusriya. "Huangangamu basuara kamari ngata tapualemu lo buta ombonguma ti!!!"
Parman kembali tertawa dan saluran seluler itu berakhir. kakek itu terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya. ia mengeluarkan gawai dari tripod dan melangkah santai menuju ke dalam rumah.
disana kakek itu bertemu lagi dengan Aisyah dan Haidar yang duduk disofa. melihat ayahnya muncul, Aisyah langsung bangkit melangkah kedalam kamar. Parman mengekori langkah putrinya itu dan berhenti lalu menoleh kearah menantu laki-lakinya saat Haidar mendehem keras.
Haidar mempersilahkan mertuanya duduk disofa. Parman pun duduk. "Maaf jika aku mengganggu ketenangan kalian. tapi... aku tak punya jalan lain lagi." keluhnya dengan wajah yang dibuat sedih.
"Saya tahu." jawab Haidar dengan datar.
"Syukurlah kalau kamu sudah tahu." sahut Parman dengan wajah cerah lagi. Haidar menatapnya dengan datar.
aku tak habis pikir.... mengapa Aisyah bisa punya ayah yang bejat macam kamu....
Haidar menghela napas. "Aisyah masih sementara mentransfer uang itu. tunggulah beberapa saat lagi."
"Oh, terima kasih. terima kasih Haidar." ujar Parman dengan gembira sambil mengusap-usap telapak tangannya. "Papa hanya pinjam, nanti Papa kembalikan kalau..."
"Tak usah dikembalikan." sela Haidar. "Itu pemberian saya, khusus untuk Ayah."
"Oh, terima kasih. terima kasih." ujar Parman membungkuk berkali-kali. "Kamu memang menantu paling berbakti." pujinya.
rasa jijik seketika muncul menyergap sanubari Haidar, melihat perilaku ayah mertuanya itu. pantas saja sang mertua ini selalu dihujat dan disumpahi mati oleh istrinya sendiri. mereka orang-orang bermental rendah, penuh gengsi tinggi dan menumpangkan diri pada menantunya, menyandarkan diri pada menantunya untuk bisa meraih kemudahan-kemudahan.
Haidar paling benci dengan orang semacam ini. lelaki itu memicingkan mata sejenak. "Kapan Ayah akan kembali ke Tolinggula? kasihan, Ibu sudah lama menunggu-nunggu kehadiran Ayah. bukankah beliau menyuruh Ayah pulang?"
"Ah, perempuan tak berakhlak itu selalu saja menerorku." keluh Parman kepada Haidar.
Haidar kembali memicingkan matanya, kelihatannya terbalik Ayah. kaulah lelaki tak punya akhlak.
"Ibu benar soal itu." sindir Haidar.
Parman hanya tersenyum saja. tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Aisyah sudah mengenakan pakaian terusan dan jilbabnya yang tebal mengulur ke dada, menyamarkan kedua bukitnya yang sempat dipelototi Parman ketika ia masih mengenakan pakaian legging.
Aisyah duduk disisi Haidar. "Aku sudah transfer uang ke rekening Ayah sebanyak sepuluh juta." ujarnya.
"Lho? kok?" protes Parman.
"Dan kurasa itu cukup hanya untuk Ayah seorang." sela Aisyah dengan cepat mematahkan seruan protes ayahnya itu. "Aku juga tadi sudah mentransfer uang ke rekeningnya Ibu. jangan tanya jumlahnya berapa. kalian berdua sudah kupenuhi, apa yang kalian inginkan. sekarang silahkan Ayah pulang menemui Mama."
"Lho? kok... kamu mengusir Ayah, Aisyah?" tukas Parman.
"Bukan mengusir, Ayah." sela Haidar membela kalimat istrinya. "Tadi saya mendengar kalau Ibu mengeluh tak punya uang. sekarang yang kalian inginkan sudah tercapai. maka pulanglah Ayah. kasihan Ibu di Tolinggula."
Parman hanya mendengus lalu bangkit. "Baiklah. jika itu memang mau kalian, aku akan pergi." lelaki berusia lima puluhan itu berjalan menuju pintu dan keluar dari bangunan itu.
Aisyah mengekori kepergian ayahnya dari intipan dibalik korden jendela. setelah itu ia menatap suaminya.
"Abah tak marah?" tanya Aisyah dengan wajah masygul.[]
__ADS_1