
Marinka terjebak dalam luminal, disisi lain, ingin mengutarakan isi hati, disisi lain, itu melanggar 12 sumbang dalam adab bundo kanduang. gadis itu bingung dan galau berbaur didalam perasaannya.
"Katakan padaku Marinka! kau mencintaiku?!" seru Puncan bertanya.
bibir Marinka gemetar, tapi lidahnya kelu sungkan menjawab. hatinya ingin teriak, namun benaknya menahan gerak.
AKU MENCINTAIMU PUNCAN! AKU MENCINTAIMU....
tubuh gadis itu gemetar, seakan tak sanggup menahan getar rasa yang hendak keluar menerobos kejujuran. Haidar melangkah hingga ke depan Puncan.
"Haruskah kau memaksa seorang wanita menyatakan perasaannya yang terpendam kepadamu, hanya demi memenuhi kepuasan dendam hati yang meminta pengakuan?" sindir Haidar. "Haruskah kau memaksa seorang wanita meletakkan harkatnya hanya demi memenuhi arogansimu? jika memang begitu dalam benakmu... kau memang tak pantas untuk adikku!" tandas Haidar kemudian menatap Marinka.
"Adikku, Marinka... rupanya perasaan kamu tak dipikirkan benar oleh orang yang kau harapkan. nyata telah nampak emas dan loyangnya. kau tak perlu mengorbankan harkatmu dihadapan Allah demi lelaki yang tak menghargai rasa sakitmu." ujar Haidar dengan senyum getir.
Marinka kembali memejamkan mata dan membiarkan airmata kembali menetes di pipinya. Haanish yang tak kuat menahan perasaannya kemudian tertawa lagi, lebih keras.
"Chouji! lelaki yang kau bela, tak lebih hina dari belatung yang mengisap saripati-saripati manusia-manusia yang telah mati. aku menyesal bersikap lunak kepadanya, se-menyesal aku tak membunuhnya disini." tukas Haanish.
"Jika kau memang ingin membunuhku, maka bunuhlah!" tantang Puncan berbalik menatap Haanish.
"Dengan senang hati!" seru Haanish melangkah mendekat dan mengembangkan tangan. disaat itu ia mengaktifkan armornya sebagian sehingga Si Penebas Angin muncul kembali dalam genggamannya.
langkah Haanish kembali dihalangi oleh Haidar. "Eiji... jangan ayunkan Si Penebas Angin untuk masalah remeh semacam ini." tegur Haidar.
"Remeh? remeh katamu? katamu hal ini adalah remeh?!" tulas Haanish melengkingkan suaranya dan akhirnya lelaki itu menyergah, "Ini bukan hal yang remeh, Chouji! ini penghinaan atas darah keturunan! dengan memaksa Marinka menjawab pertanyaannya, dia merobek-robek adat dalam ranah Minangkabau! dan terlebih lagi.... DIA MENGHINA KELUARGAKU!"
"Biarkan Marinka mengambil keputusan dulu Eiji..." pinta Haidar. "Dia adalah tuan atas pendapatnya sendiri."
"Kenapa kau masih membela orang yang nyata arogansinya?!" Tukas Haanish mengarahkan ujung Si Penebas Angin kepada Puncan. "Adat setiap negeri itu berbeda, Chouji! ketika aku meminang Marissa sebagai istriku, aku menerima adat itu! kenapa dia nggak?!"
disela pertengkaran tersebut, Airina langsung bangkit dan melangkah hendak meninggalkan panggung. ketika bersisian dengan Marinka, bahkan sang ibu tak lagi memperhatikannya. ia terus melangkah.
langkah kakinya baru terhenti saat Marinka tiba-tiba merubuhkan diri memeluk betis ibunya. Airina diam tak bersuara, namun matanya telah basah. sementara Marinka hanya menangis tanpa suara sedang isakannya terus terdengar. Akram akhirnya ikut bangkit dan melangkah mendekati kedua wanita terpenting dalam hidupnya.
sesampainya disana, Akram membungkuk menggapai punggung putrinya, menyentuhnya. Marinka mendongak, menatap wajah sang ayah yang teduh. Akram menatap putrinya dengan tatapan seribu makna. akhirnya Marinka memahami arti tatapan ayahnya. ia melepaskan pelukan dibetis ibunya.
Airina kembali melangkah tanpa perduli menuju rumah kediaman Alkatiri. Marinka bangkit dan Akram memandunya melangkah meninggalkan panggung menuju rumah kediaman Alkatiri. Syafira Alkatiri bangkit menatap Haidar.
"Kurasa... tak ada lagi yang perlu difahamkan. dengan ini... Aku putuskan... lelaki ini.... bukan jodoh cucuku." Syafira kemudian melangkah pergi diikuti oleh Kevin Williams yang juga bangkit melangkah dengan wajah rusuh.
sementara semua anggota ninik-mamak sudah lama memendam rasa ingin membunuh lelaki Tenggarong tersebut, namun mereka masih segan dengan Haidar.
sementara Haidar kembali menatap Puncan dengan senyum layu. "Ternyata sia-sia konspirasi yang kami lakukan untukmu. kau tak memahami alur permainan." sesal Haidar.
"Kurasa sekarang... tak ada lagi urusanmu disini." tukas Haanish. "Pergilah, Puncan Karnaaq dari Muara Kaman."
"Tapi.... aku belum menyatakan perasaanku..." protes Puncan.
"Semestinya tadi, kau tak perlu memaksanya." tuduh Haidar namun wajahnya terlihat datar. "Haruskah dia memperlihatkan semuanya dihadapanmu agar kau puas? kau telah melanggar adat etika diranah ini. kelihatannya, ninik-mamak akan sangat sulit menerima kamu kembali. pergilah Puncan... jika kau memang bukan jodoh dari Marinka, semoga kau mendapatkan jodoh yang lebih baik."
"Tapi...." ujar Puncan seakan enggan berlalu dari situ.
seketika itu pula, Haidar kembali merubah wujudnya ke makhluk berwajah singa. makhluk itu menggeram.
"Pergilah Puncan.... carilah kebahagiaanmu... tapi bukan dengan Marinka!" seru makhluk berwajah singa itu.
dengan penuh sesal, Puncan berbalik melangkah lesu meninggalkan pekarangan luas kediaman Alkatiri. kepergiannya ditatapi datar oleh makhluk berwajah singa itu, Haanish yang menonaktifkan armornya hingga Si Penebas Angin menghilang kembali dari genggamannya, dan Djalenga yang menatapnya dengan iba sekaligus menyalahkan ketidakjelian pemuda itu menangkap maksud hati wanita.
sepeninggal Puncan, Haidar kembali merubah ujudnya kebentuk tubuh biasa dan menatap Haanish. senyum getirnya kembali terbit.
"Maafkan aku." ujar Haidar.
__ADS_1
Haanish hanya menghela napas lalu melengos meninggalkan Haidar dan Djalenga dilapangan tersebut. Djalenga kemudian mendatangi Haidar.
"Sabar Kakak..." ujar Djalenga memberikan penguatan.
Haidar menghela napas pula dan mengangguk-angguk.
...******...
Hari itu, dipekarangan belakang kediaman Williams. ketiga orang itu sudah berada disisi pesawat yang akan membawa mereka ke Inggris.
Haidar mengenakan pakaian pe langga, baju kurung hitam dan celana hitam yang dipadu dengan sarung khas Gorontalo yang dilingkarkan kepinggang. disisi kiri disampirkan Golok Ailesh yang tersarung pada ikat pinggang yang tersembunyi dibalik sarung tersebut. saluknya warna coklat kemerahan terbuat dari bahan batik jawa. untuk mencegah dampak dari perubahan fisik, Haidar dibekali oleh Akram semacam suit armor untuk melindungi tubuhnya tang telanjang.
sementara Djalenga mengenakan suit armor yang begitu anggun sementara senjata tradisionalnya tersampir disisi samping tubuhnya. Haanish hanya mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung dan kerahnya membuka juga celana panjang hitam dan sepatu pantofel lancip. penampilannya agak mirip dengan mendiang ayahnya.
Akram berdiri dihadapan mereka bertiga sedang Airina dan Marinka berdiri dibelakang lelaki pemilik Ark Industries dan pewaris MLt. Group itu.
"Lakukan dengan baik dan benar." pesan Akram. "Tidak semua tempat dipertahankan oleh musuh. menyusuplah ditempat yang tak terpantau. kalian bertiga harus saling berkoordinasi."
"Sutan Pamenan." panggil Airina.
Haanish menoleh dan membungkuk datar. "Ya, Umi..." jawabnya.
"Apa kau masih menyimpan pemberianku?!" tanya Airina.
"Tentu, Umi. saya selalu membawanya." jawab Haanish. "Benda apakah itu, Umi?"
"Nanti juga kamu akan tahu." ujar Airina menutup celah penasaran lelaki itu. "Bertarunglah untuk hidup, bukan untuk menang."
"Apakah Issha menghubungi Umi?" tanya Haanish.
Airina menggeleng. "Sampai saat ini, si bontot itu belum juga menghubungiku." ujarnya. "Apa kau yang menyuruhnya untuk tak menghubungiku?!"
Haanish tertawa, "Umi, mana berani saya melakukan hal semacam itu?"
"Saya tak tahu. tapi jika melihat perkembangannya, saya rasa penyatuan itu sudah dimulai." jawab Haidar.
Airina mengangguk. Marinka maju mendekati Haidar. "Uda, hati-hatilah diperjalanan dan jangan sampai..."
"Masih ada aku yang akan melindungi kamu." sela Haanish menukas. "Apa kau pikir, Aku dan Haidar segampang itu takluk dihadapan musuh?"
"Denai nggak memesan kepada waang!!!" seru Marinka dengan ketus.
Haidar tersenyum membelai kepala Marinka. sejenak ia memejamkan mata, kemudian membuka mata dan tersenyum. "Jangan sedih... Puncan akan datang kembali padamu."
"Denai sudah tak mengharapkan inyo lagi, Uda." jawab Marinka dengan wajah yang ditabah-tabahkan sambil tersenyum.
Airina mendengus. "Jangan memberi Marinka impian kosong, Haidar! lagipula, mana berani lelaki pengecut itu akan datang? jika dia berani datang, aku akan membunuhnya!" seru wanita itu dengan geram.
"Sayaaang...." tegur Akram dengan lembut.
segarang-garangnya Airina, dia tak akan berkutik dengan kelembutan yang dipancarkan Akram. wanita itu hanya mendengus dan menunduk. Akram menatap lagi Haidar.
"Sebaiknya, fokus pada pertarungan kamu, Haidar." tegur Akram dengan senyum. "Tak usah pikirkan Marinka. anak-anakku punya takdirnya sendiri."
Haidar tersenyum melepas belaiannya pada rambut Marinka lalu menegakkan tubuhnya dengan penuh rasa percaya diri. "Aku yakin anak itu akan datang, Oom..." ujar Haidar dengan yakin. "Demi Allah yang menggenggam jiwaku ditangan-Nya. Puncan tak akan bisa menyingkirkan perasaannya, kecuali ia datang dan menyatakan kejujuran perasaannya kepada keluarga Williams."
"Kau begitu yakin akan jalinan takdir adikmu ini?" pancing Akram.
"Aku melihat rasa cinta dalam tatapan matanya kepada Marinka. anak itu hanya kesal dengan Haanish yang dirasainya merundungnya. kelelakiannya tersinggung dengan kejahilan Haanish. itu saja." ujar Haidar.
Airina mencermati keterangan yang diucapkan keponakannya itu. Haidar menatap Akram dan Airina bergantian.
__ADS_1
"Jika dia datang, terimalah. sesungguhnya, lelaki itu perangainya baik dan tinggi pula harga dirinya. ia akan bisa bersanding dengan dengan Marinka." saran Haidar.
"Sudahlah... tak usah lagi memikirkan itu. waktu kita sudah mendesak." tukas Haanish. "Nanti kalau dia datang lagi, aku sendiri yang akan menghadapinya."
"Menghadapi untuk apa?" tanya Haidar.
"Ya... mengakui kesalahanku." ujar Haanish dengan enteng.
Haidar tersenyum. "Aku bersyukur punya adik sepertimu."
"Nggak usah memuji kamu!" ujar Haanish dengan senyum terkembang dan memiringkan kepalanya. gayanya memang sebelas-dua belas dengan gaya Sandiaga. "Aku memang dari sononya sudah begini. aku kan baik budi dan nggak sombong." ujar Haanish setelah itu ia tertawa.
Akram melepas kepergian ketiga anak muda itu. mereka bertiga kemudian menaiki tangga pesawat dan tak lama kemudian, kendaraan udara bertipe VTOL itu mengambang pelan makin lama makin tinggi hingga kemudian melesat menyusuri awang menghilang menuju barat.
Akram dan Airina menatap angkasa dan lelaki itu menghela napas panjang. "Anak-anak Kak Sandiaga, kembali menempuh takdir mengikuti jalan leluhurnya menjadi petarung. lingkaran kehidupan mereka mungkin hanya berkisar pada taruhan nyawa saja."
"Tapi aku tak mengikuti jalan kakekku. begitu juga dengan Okasan.... seandainya beliau kemarin menerima pinangan Tuan Kagenobu dan menikahi Nobuo, maka beliau tetap menjadi Si Kembang Kematian, dan aku serta Oniichan tidak akan lahir, dan tak ada si Bontot Marissa yang selalu bikin usil dan ramai kediaman Williams." ujar Airina dibarengi tawa Akram.
"Untung juga kau jadi sandinganku ya? seandainya kau jadi nikah dengan Faris, maka..."
"Nggak usah mengungkit-ungkit yang lama." tegur Airina.
Akram tertawa lalu mencolek dagu istrinya, "Kenapa? malu ya?"
"Ih, kamu ini. sudah tua masih genit saja!" omel Airina.
"Tapi aku kan genit sama istriku sendiri." tangkis Akram kembali hendak mencolek dagu Airina namun langsung ditepis oleh wanita itu.
"Malu ah, tuh Marinka lihat." tegur Airina dengan aksen marah.
Marinka tertawa melihat kecentilan ayahnya. ketiganya melangkah meninggalkan pekarangan belakang itu. namun kemudian langkah ketiganya terhenti melihat Puncan berdiri beberapa meter dari mereka.
nampak dipinggangnya tersampir mandau. senjata itu kelihatannya digunakan untuk berperang, kentara dari rerambutan yang dipasangkan pada ujung gagangnya yang menyerupai kepala burung rangkong.
Airina berdiri namun sikapnya begitu waspada. Akram hanya berdiri diam, meski begitu, lelaki itu tak akan membiarkan hal yang jelek menimpa keluarganya. kacamata yang bertengger diwajahnya itu bukan sekedar piranti profan. itu alat istimewa yang jika diaktifkan akan langsung membentuk armor nanotech. Marinka berdiri paling depan memperisai ayah-ibunya.
"Mau apa kau kemari?" tanya Marinka dengan datar.
Puncan melangkah santai mendekati Marinka. pemuda itu kini sudah berada dihadapan gadis itu.
"Aku datang mengakui kesalahanku." ujar Puncan.
"Kesalahan?" tukas Marinka mengerutkan alisnya. "Kupikir, kau tak punya kesalahan apa-apa. aku hanya gadis bodoh yang mempercayaimu." gadis itu kemudian tersenyum. "Pergilah Puncan... aku sudah memaafkanmu."
"Tapi aku tak memaafkan diriku!" seru Puncan kemudian berlutut dihadapan Marinka. "Aku mengakui apa yang dikatakan kakak sepupumu yang tertua itu. ia benar, aku tersinggung dirundung kakak sepupumu yang kedua itu. tapi, aku jujur padamu.... Marinka Williams.... aku jatuh cinta kepadamu.... aku ingin melamarmu didepan kedua orang tuamu sekarang."
tiba-tiba Puncan menghunus mandau membuat Airina dan Akram langsung memasang kuda-kuda sebab kaget tak menyangka apa yang dilakukan pemuda itu. sedangkan Marinka hanya bisa terdiam ketika Puncan meletakkan bagian tajam mandau itu pada pergelangan tangannya tepat di nadi.
"Marinka Williams.... aku, Puncan Karnaaq, putra Pang Mansau dari Muara Kaman... datang menyatakan lamaran. maukah kau menerimaku?" pinta Puncan.
Marinka menatap bilah tajam mandau yang menempel dipergelangan tangan pemuda itu. mata gadis itu melebar saat menyadari pergelangan tangan itu mengeluarkan darah sebab Puncan tak sengaja mengirisnya.
Marinka langsung membungkuk meraih mandau yang dipegang Puncan kemudian membuangnya jauh-jauh. pemuda kaget tapi tak menahan gadis itu.
"Mengapa kau harus mengancamku dengan tindakan hendak membunuh diri itu? apakah didunia ini perempuan hanya tinggal satu sehingga kau secengeng ini? masih banyak yang lebih baik dariku, Puncan." omel Marinka dengan jengkel.
"Tapi aku tak melihat mereka karena terlanjur tertawan olehmu." balas Puncan. "Jika aku tak bisa menerima cintamu, biarlah aku mencarinya dialam lain saja."
"Pemuda bodoh." ujar Marinka mulai terisak-isak. "Kenapa aku kau siksa dengan cintamu? mengapa harus aku?"
"Maka jawablah Marinka.... apa... kau mencintaiku?" tanya Puncan dengan tatapan menghiba.
__ADS_1
"Ya! aku mencintaimu! aku mencintaimu! AKU MENCINTAIMU! KAU PUAS?! PUAS?!" sedu Marinka bercampur sergah. hilang sudah keanggunannya yang melanggar 12 sumbang bundo kanduang. namun setidaknya Marinka merasa lega. ia telah menyatakan cintanya.
dan Puncan memenangkan hati gadis itu. lelaki itu benar-benar bersyukur memiliki Marinka.[]