
Maryati dan Samirep senang bukan main melihat Mahreen dengan semangat menyantap dan menikmati makanan buatan mereka. dihadapan gadis itu, Djalenga hanya menatap dengan senyum bahagia saja.
pasalnya ia tak sia-sia merekomendasikan sang Inaq yang kemampuan memasaknya terkenal sampai tiga desa, dari Sade ke Ende itu di apresiasi oleh Mahreen dengan menghabiskan sepiring ares dan sate Rembiga beberapa tusuk.
mereka makan bersama penuh keakraban bagaikan Mahreen menjadi bagian keluarga itu. Maryati dengan penuh perhatian meladeni dan melayani gadis Rusia itu.
"Enak, nak?" tanya Maryati.
"Ochen' vkusno... " pujinya dalam bahasa Rusia.
Maryati menatap Djalenga sambil mengangkat alisnya, meminta penjelasan dari kalimat asing yang didengarnya. "Lalu, kok dia malah sebut nama si Ocen dan si Kusno? apa dia berteman dengan mereka juga?"
Djalenga menatap ibunya dan mengangkat bahunya lalu kembali makan, mencomoti beberapa batang kecil gedebok pisang dan menaruhnya dipiring lalu menyuapi mulutnya lagi. Maryati menatap Samirep.
"Pak..." panggilnya.
Samirep mengisyaratkan istrinya untuk diam dulu. biarkan gadis itu menikmati santapan mereka. memuaskan dahaga dan rasa laparnya dengan makanan khas suku Sasak itu.
Maryati akhirnya paham isyarat suaminya. wanita parobaya tersebut kembali meneruskan makan hingga akhirnya kegiatan makan bersama itu selesai.
Maryati dengan cekatan mengangkat piring-piring. Mahreen berinisiatif membantunya. wanita itu agak sungkan sehingga menolak. namun Mahreen berkeras.
"Biar saya membantu Inaq. toh, saya sudah merasai sesuap nasi, dan sepotong lauk dalam sepiring makan ini. maukan, Inaq menerima pertolongan saya?" pinta Mahreen dengan lembut dan agak manja.
Maryati akhirnya tersenyum dan mengangguk. keduanya sama-sama ke tempat pencucian piring. sementara itu dua lelaki beda generasi itu melepaskan gerah dan peluh akibat banyak mengeluarkan keringat disebabkan rasa pedas pada sate itu, mereka berdua duduk didepan Bale Tani.
"Lalu..." panggil Samirep. "Amak dengar, si Jusri, anaknya Parlan, dalam waktu dekat ini akan melaksanakan nyongkolan. kau sudah tahu?" pancing lelaki itu.
Djalenga hanya tersenyum tanpa menatap ayahnya. Samirep paham apa yang ada dihati anak lelakinya itu. pasalnya yang akan menikah dengan Jusri adalah mantan pacarnya sendiri yang gagal diculiknya dalam adat memari.
Hanifah berhasil diculik oleh Jusri dari rumah keluarganya setelah mengerahkan lima orang teman-temannya yang bertugas mengalihkan perhatian Datu Singamaruta, ayahnya Hanifah sehingga ia terkecoh dan Hanifah berhasil dilarikan dan disembunyikan selama 3 hari dirumah kediaman laki-laki.
"Berapa tembusnya seserahan?" tanya Djalenga dengan pelan, seakan menyembunyikan getar duka yang masih dirasakannya menyucuk hatinya.
"Tembus lima tali dan tiga karung." jawab Samirep.
Djalenga menghela napas. lima tali, berarti menandakan lima ekor kerbau dan tiga karung menandakan tiga karung beras yang menjadi biaya pesta nikah ditambah mahar lainnya.
sebenarnya, Amak nya mampu menyediakan lebih dari itu untuk Hanifah. Samirep sebenarnya merupakan seorang petani kaya dan masih keluarga bangsawan, kerabat jauh dari Sayyid Abdurrahman, salah satu bangsawan Seleparang yang memilih tidak menjadi raja dan berdiam di Rambitan sebagai mubaligh. Lalu Djalenga secara genetis juga merupakan keturunan Sang Wali Nyatoq, Datu Pangeran Djajing Sorga (nama lain dari Sayyid Abdurrahman).
pemuda itu sebenarnya seorang sarjana lulusan ilmu filsafat islam dari UIN Mataram. namun dalam kesehariannya, Djalenga tak pernah menampakkan ketinggian ilmunya kepada masyarakat Dusun Sade itu. ia terkesan lemah dan pemalu sehingga sering di olok oleh beberapa pemuda dusun tersebut. tapi Djalenga sama sekali tak perduli dan menggubrisnya.
berbeda dengan Jusri, teman sedesanya dari dusun yang berbeda, yaitu Ende. lelaki itu terkesan selalu memaksakan kehendaknya. ia tipe seorang penguasa sejati meskipun sebenarnya strata sosialnya berasal dari kawula kebanyakan.
"Aku bersyukur dan berbahagia sebagai temannya. sebentar lagi, ia akan menikah dan terpenuhilah seperempat perintah agamanya." ujar Djalenga lalu menatap ayahnya. "Bukankah begitu, Amak?"
Samirep hanya bisa mengangguk meski hatinya juga merasa sakit. sebagai ayah, ia bisa merasakan rasa sakit itu. kegagalan yang memalukan sehingga sampai saat ini menjadi rundungan para tetangga wanita kepada putranya itu.
"Apa Amak pikir, Tiang tak akan mendapat wanita yang lebih baik dari Hanifah?" pancing Djalenga.
"Amak hanya selalu berdoa... semoga kamu mendapatkan yang lebih baik menurut kehendak Allah." jawab Samirep dengan senyum tabah. "Namun jika sekiranya harus egois, Amak hanya minta segeralah kau menikah sebelum Amak dipanggil Allah."
"Insya Allah, Amak. Insya Allah...." sahut Djalenga dengan pelan.
tak lama kemudian terdengar suara derai tawa dari dapur. kedua wanita lintas usia itu muncul dan akhirnya duduk bersimpuh disisi kedua lelaki yang duduk didepan pintu itu. Samirep menoleh lalu memutar tubuhnya menghadap kepad kedua wanita didepannya. adapun Djalenga hanya diam saja sambil menatap jalanan didepannya.
"Tentunya ada hal yang baik diantara kalian berdua. sebab sejak dari dapur sampai duduk dekat sini pun, Inaq dan Mahreen tak lepas dari tertawa saja kerjanya." ujar Samirep.
"Bagaimana tidak tertawa aku, Pak." tukas Maryati. "Ternyata tadi hanya sebuah kesalah-pahaman saja. aku tadi tanya sama Mahreen, kenapa saat kutanya apakah enak-tidaknya makanan buatanku, ia menjawab seakan-akan menyebut dua temannya Djalenga. tapi ternyata itu adalah bahasa Rusia yang diucapkannya untuk mengapresiasi buatanku. Mahreen bilang sangat sedap dalam bahasa negaranya." ujar wanita itu panjang lebar.
"Makanya, jangan langsung menghakimi." tegur sekaligus sindir Samirep kepada istrinya. adapun Djalenga hanya tersenyum datar saja tapi tetap memunggungi mereka.
"Ya." jawab Maryati lalu menatap Mahreen dan menyentuh tangan gadis itu. "Maafkan Inaq, Mahreen."
"Tentu sudah ku maafkan, Inaq." jawab Mahreen dengan penuh senyum. "Bukankah Inaq sudah kuanggap seperti ibuku sendiri?"
"Alhamdulilah." ujar Maryati, "Benarkah itu?" ujarnya menagih penegasan sikap dari gadis Rusia itu.
Mahreen mengangguk-angguk sambil tersenyum. Maryati menyapu dadanya dan kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Alangkah indahnya memiliki anak perempuan sepertimu." ujarnya dengan pelan.
__ADS_1
"Anggap saja aku putrimu, Inaq." tukas Mahreen dengan antusias.
Maryati tersenyum lalu memegang pundak Mahreen. "Maukah kamu jadi anak Inaq yang bodoh ini?" pintanya.
"Tentu. aku adalah anaknya Inaq." jawab Mahreen.
Djalenga terkekeh mendengar jawaban yang dilontarkan Mahreen membuat gadis Rusia itu menatapnya.
"Kenapa kau tertawa? Apakah ada yang lucu?" tanya Mahreen dengan ketus.
Djalenga menoleh sejenak ke arah Mahreen lalu membalikkan lagi wajahnya menatap jalanan. Mahreen memukul punggung lelaki itu.
"Katakan, apa yang membuat kamu terkekeh tadi?!" tuntut Mahreen dengan kesal.
"Nggak ada. hanya merasa senang saja, kau mengangkat ikrar kepada inaq untuk menjadi putrinya." jawab Djalenga. "Berarti ke depan, kau pun akan punya tanggung jawab untuk membahagiakannya."
"Apa kau pikir aku adalah anak durhaka yang tak tahu bakti kepada orang tua?" seru Mahreen dengan sedikit ketus. "Aku tak seperti kamu yang telah gagal membahagiakan mereka."
Djalenga tersulut kelelakiannya. ia langsung menoleh kearah Mahreen. "Apa katamu? dibagian mana aku gagal membahagiakan mereka?"
"Dibagian kelelakianmu itu!" tukas Mahreen.
Djalenga sejenak menatap ayah dan ibunya yang langsung melengos menahan senyum. tubuh pemuda itu berbalik menghadap gadis itu sambil duduk bersila.
"Apa maksudmu mengatakan aku gagal diwilayah kelelakian? aku lelaki normal Mahreen. tapi aku masih menjaga adab." ujar Djalenga menunjuk-nunjuk dadanya. "Apakah kegagalanku menculik Hanifah, kau anggap bentuk kegagalanku membahagiakan Inaq-Amak ku?"
Mahreen hanya mendengus dan melengos. sementara Samirep dan Maryati seakan sepakat berniat meninggalkan kedua muda-mudi yang sementara berdebat itu. Samirep menepuk pundak putranya.
"Kelihatannya kami lelah setelah seharian mempersiapkan semua kebutuhan makan kita. ijinkan kami istirahat." ujar Samirep yang langsung dibalas oleh Djalenga dengan anggukan.
"Mahreen. Inaq istirahat dulu ya nak? Inaq letih." ujar Maryati.
"Silahkan Inaq. serahkan anak lelakimu ini padaku untuk kunasihati dengan lebih baik." jawab Mahreen sambil tersenyum.
"Inaq percayakan dia kepadamu." sambut Maryati mengelus pipi gadis itu. Djalenga seketika melengos.
"Eit, aku dengar gerutuanmu itu!" tukas Mahreen menudingkan telunjuknya kearah Djalenga sedang pemuda itu hanya meringis dan tersenyum miring bagai orang lagi sakit gigi.
"Sebaiknya kau kuantar pulang ke Bale Bonter, Mahreen. ayo." ajak Djalenga.
"Eh, kenapa kau mengalihkan pembicaraan? aku belum selesai bicara." ujar Mahreen dengan nada tinggi.
"Nantilah selesaikan pembicaraan kita di Bale Bonter saja. ayo." ajak Djalenga yang tak merasa nyaman di omeli Mahreen dirumahnya sendiri.
melihat wajah Djalenga yang memelas membuat Mahreen akhirnya iba juga. gadis itu menurut. "Aku hendak pamit kepada Inaq-Amak dulu."
"Nggak usah. nggak perlu." jawab Djalenga. "Ayo!" ajak pemuda itu.
dengan heran, gadis itu mengikuti kemauan Djalenga, meninggalkan Bale Tani itu. keduanya melangkah menyusuri jalanan dusun yang sudah gelap dan hanya diterangi oleh cahaya lampu obor.
waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. dalam kebiasaan masyarakat, itu sudah waktunya tidur. kegiatan luaran yang hanya boleh dilakukan adalah ronda malam, itupun dilakukan oleh kaum lelaki untuk menjaga keamanan, dan yang kedua kegiatan memari calon istri yang sementara dilakukan oleh kelompok laki-laki yang disewa si calon pengantin laki-laki untuk menculik si calon pengantin wanita untuk dibawanya ke kediaman mereka.
Djalenga melangkah pelan sambil sesekali menatapi angkasa malam yang dihampari permata alam. rembulan separuh bertengger malu-malu dibongkahan awan. dalam hitungan penanggalan hijriyah, itu adalah malam kesepuluh dari bulan Rabiul Awwal. dua hari lagi, masyarakat akan memperingati hari maulidan dari Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam.
"Kau terlalu memegang tali nasib." ujar Mahreen membuka percakapan. "Itulah sebabnya, kehidupan cintamu selalu saja tak beruntung."
"Kegagalan itu adalah hal biasa Mahreen." jawab Djalenga diplomatis. "Itu hanyalah keberhasilan yang tertunda."
"Seberapa banyak keberhasilanmu tertunda?!" todong Mahreen.
"Baru sekali ini." jawab Djalenga. "Selama ini, aku selalu merasai kemenangan. aku tak pernah kalah dalam hal apapun semenjak aku kecil hingga akhirnya menamatkan pendidikan tertinggiku di Fakuktas Ushuluddin, UIN Mataram."
"Berarti kau kalah baru sekali?" tukas Mahreen.
"Ya, aku kalah baru sekali.... yaitu memari Hanifah. dan mungkin pada saat itu, aku merasa jumawa sehingga Allah menegurku." ujar Djalenga sambil tersenyum. "Kemenangan yang terus-terusan akan mengakibatkan seseorang menjadi arogan...."
"Tapi kegagalan yang terus-terusan itu disebut kekalahan." sela Mahreen dengan cepat memotong pernyataan Djalenga.
pemuda itu tertegun. langkahnya sempat tertahan. Mahreen juga menahan langkahnya. tiba-tiba ia langsung menyambar Mahreen dan membawanya sembunyi disalah satu sudut rumah yang gelap.
__ADS_1
Mahreen meronta namun kalah kuat dengan pelukan Djalenga. pemuda itu seakan berupaya menyembunyikan Mahreen dengan sesekali mengintari tatapan ke segala arah.
tak lama kemudian muncul serombongan lelaki mengenakan sarung yang diselempangkan dipundak. mereka adalah petugas ronda yang sementara terburu-buru mengejar sesuatu. sebagiannya menyandang belati sampari yang mirip keris tak berlekuk. sebagiannya lagi membawa sumpit tradisional yang disebut tulup.
Djalenga memastikan rombongan peronda itu tidak menjangkau tempat persembunyian mereka. rombongan itu tiba-tiba berhenti. nampak dari kegelapan, muncul seorang lelaki parobaya menyandang tombak jungkat.
"Apa kalian menemukannya?" tanya lelaki parobaya itu.
"Belum, Datu." jawab salah satu peronda.
"Cari terus sampai dapat. kurasa Ocen tidak akan berani menyimpan anakku dirumah kerabatnya di Ende. dia pasti ada disini!" seru orang itu.
Djalenga tersentak. Ocen adalah salah satu sahabatnya. rupanya lelaki itu sudah melakukan memari. siapakah gerangan perempuan yang diculiknya? kelihatannya keluarga si wanita terlihat tidak ridho dengan keputusan Ocen menculik anak perempuan si lelaki parobaya itu.
"Cari sampai dapat! jika ketemu, kita akan melakukan Paresean kepadanya." ujar lelaki itu.
Djalenga tersentak lagi. ia harus bertindak untuk menyelamatkan sahabatnya dalam kurun waktu tiga hari agar tidak tertangkap warga dusun sebelah.
rombongan itu kemudian bergerak meninggalkan tempat itu. Djalenga memastikan mereka tak kembali lagi. Mahreen meronta.
"Diam dulu sejenak. pastikan dulu mereka sudah benar-benar pergi, lalu kita keluar dari sini." ujar Djalenga dengan lirih.
"Bukan itu!" ujar Mahreen masih meronta sedikit namun Djalenga masih kukuh memeluknya, khawatir jika kedua terpergok oleh rombongan peronda.
"Lalu apa?! jangan sampai mereka menemukan kita gara-gara ulah sembronomu itu!" tegur Djalenga dengan kesal.
"Kau mencengkeram payudaraku!" seru Mahreen dengan lirih tapi ketus.
Djalenga tersentak lalu buru-buru melepas pelukannya. ia gugup, takut dimarahi Mahreen. pantas saja ia merasakan memeluk benda agak kenyal dan lembut, namun karena dipengaruhi oleh kewaspadaannya, Djalenga tak menghiraukan keganjilan itu.
Mahreen merapikan pakaiannya sambil menatap Djalenga dengan sinis, sedang yang ditatap hanya bisa berdiri gemetar, bukan karena takut, namun gugup telah melakukan pelanggaran tata krama meski tanpa sengaja.
"Kau sengaja kan?" tukas Mahreen dengan pelan.
Djalenga menggeleng-gelengkan kepala tapi langsung kembali menarik tangan Mahreen dan memaksanya meninggalkan tempat itu.
"Ada apa? kenapa kau ketakutan sekali?" tanya Mahreen saat ia dilarikan Djalenga menghindari jalan itu.
"Yang menculik calon istrinya itu adalah salah satu temanku, Ocen... aku harus segera mencari dan menyelamatkannya. jika tidak, dia pasti akan dirundung para Pepadu bayaran orang tua itu dalam adat paresean." jawab Djalenga.
"Apa itu Paresean?" tanya Mahreen.
keduanya tiba didepan Bale Bonter. Djalenga menyuruh Mahreen masuk.
"Paresean adalah pertarungan dua lelaki. semoga kita tak mendapatkan hal itu." ujar Djalenga.
"Kita?" tukas Mahreen.
"Ya, kita." jawab Djalenga. "Jangan sampai ada yang memergoki kita jalan tadi. mereka bisa melaporkan kita kepada Datu Djatiswara dan menuntut diadakannya Paresean untuk membuktikan bahwa aku tidak punya kesalahan adat apapun."
"Apakah kau melakukan paresean saat ditangkap ketika memari Hanifah?" selidik Mahreen.
"Ya. Jusri yang menjadi pepadu melawanku di arena paserean." jawab Djalenga. "Tapi aku senang dia yang jadi lawan tandingku. aku bisa mengalahkannya dan membersihkan namaku dari noda adat."
Mahreen diam. Djalenga memintanya masuk. "Aku pergi dulu. betistirahatlah. kalau waktuku panjang, kita akan bertemu lagi."
Mahreen tersentak seakan merasa kalimat barusan mengisyaratkan Djalenga tak akan kembali. laki-laki otu hendak berbalik ketika pergelangan tangannya dipegang Mahreen.
Djalenga menengok dan pada saat itu Mahreen maju mengecup dan mengulum bibir lelaki Sasak itu. Djalenga memang terkejut tapi entah kenapa ia membiarkannya. keduanya larut dalam ciuman memabukkan hingga akhirnya Djalenga sendiri sadar dan melepaskan diri.
"Maafkan aku." ujar Djalenga pelan.
"Hati-hati.... kembalilah dengan selamat." balas Mahreen
lama Djalenga menatap lalu akhirnya mengangguk dan berbalik berlari meninggalkan Bale Bonter, menhhilang dalam kegelapan. sepeninggal Djalenga, gadis Rusia itu berbalik memasuki rumah.[]
__ADS_1