The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 49


__ADS_3

Kediaman Lasantu, Wongkaditi, pukul 16.15 WITA.


Djalenga berdiri siap dengan kaki terbuka. pemuda itu bertelanjang dada menampilkan susunan otot tubuhnya yang bulky itu, mirip dengan susunan sepir-sepir ditubuh Haidar.


sementara dihadapannya, berdiri Haanish juga dengan sikap heiko. tatapannya tajam memendarkan cahaya kebiruan. Djalenga sebenarnya bergidik melihat pemandangan itu.


Haidar duduk dengan gaya bersila ditemani oleh Aisyah dan Marissa disisi kanannya. tatapannya terarah tajam kepada Djalenga.


"Jangan gugup!" tegur Haidar saat melihat pemuda Sasak itu terlihat begitu balisa. "Ingat... semakin banyak peluhmu membanjir dilantai tatami ini, maka akan semakin kecil kemungkinan darahmu tertumpah di medan pertempuran."


Djalenga menghembuskan napas dengan keras dan berdiri mengangkat kedua tinju dengan gaya seorang petinju. Haanish menyilangkan kedua tangannya ke atas dan kaki kanannya maju membentuk migi kiba dachi, lalu kedua tangannya turun. tangan kanan terpantang ke depan sedang tangan kiri tertekuk disisi pinggang kiri.


"Kau sudah siap?!" seru Haanish.


"Siap Kakak!" jawab Djalenga.


"Lihat serangan!" seru Haanish.


Djalenga terkejut mendapati Haanish yang tiba-tiba sudah berada dihadapannya. lelaki itu menggunakan teknik berpindah tingkat tinggi hingga seakan melampui detakan waktu.


Haanish mengayunkan kisame tsuki mengancam wajah Djalenga. untung saja, meski dalam keadaan kaget, lelaki Sasak itu tidak panik. tangan Djalenga terangkat menepis keluar tinju Haanish yang terlayang, kemudian menyusulnya dengan sikutan, membalas mengancam wajah Haanish.


mengandalkan teknik karasu tengu, Haanish mampu melihat dengan jelas arah serangan lawannya. kelihatan sangat lambat hingga Haanish dengan gampang memiringkan wajahnya kesamping membiarkan sikut Djalenga menghantam ruang kosong disisi wajah lawannya.


Haanish mengayunkan kedua tapaknya menghantam dada Djalenga. lelaki Sasak itu terdorong keras ke belakang akibat daya hantaman itu. sementara Djalenga melayang diudara. Haanish melesat mengejar sambil mengayunkan tendangan mae tobi geri mengincar dagu Djalenga.


dengan cekatan Djalenga menyilangkan kedua pergelangan tangannya menangkis sepakan kaki Haanish. wajah pemuda itu meringis menyadari aliran tenaga dalam yang menyelimuti serangan tersebut. tubuh Djalenga terpelanting dan jatuh menghantam lantai.


Haanish mendarat dengan lembut, berdiri dua jarak dihadapan Djalenga. tatapannya terarah tajam dan senyum bengisnya nampak.


"Bangun Djalenga! bangun! jika kau kalah, maka Dinara mati. kau gagal menyelamatkannya!" seru Haanish membuat Djalenga terhasut dan bangkit kembali memasang postur bertinju.


"Saya siap Kakak." ujar Djalenga lagi dengan wajah berkilat-kilat antara merah dan hitam.


"Bagus!" seru Haanish melesat lagi mengayunkan yoko tobi geri.


Djalenga menghindar kesamping. namun Haanish seakan tak memberikannya jeda. lelaki itu memutar dan melayangkan ushiro mawashi geri mengincar wajah Djalenga lagi. namin kali ini lelaki Sasak itu sudah siap. ia tiba-tiba maju dan menangkap paha Haanish dan menekan bagian bawah itu dengan tengkuknya. Djalenga mengangkat tubuh Haanish dan membantingnya di tatami.


tubuh Haanish menghantam keras di tatami membuat Marissa terpekik sambil menutup wajahnya. Djalenga mengangkat kakinya hendak menginjak Haanish. namun lelaki itu dengan sigap bergulingan menghindar lalu bangkit beberapa jarak dari Djalenga.


Haanish menatap lelaki itu. kembali senyumnya terbit. Djalenga heran, memikirkan ia membanting tubuh ceking itu ke lantai namun lawannya begitu mudah dapat bangkit... bahkan tersenyum kepadanya.


"Bagus..." puji Haanish. "Tapi... ini masih permulaan." ujar Haanish dengan semangat. lelaki itu membuka lebar kakinya dan kedua tangannya terpantang. satunya terarah ke depan sedang satunya terlipat didepan. perlahan otot-otot cutting ditubuhnya mulai muncul.


"Eiji...." tegur Haidar.


Haanish tak perduli. ia memutar kedua tangannya dan merentangkannya sambil merapatkan kedua kakinya. Haanish menekuk sejenak dan meloncatlah ia dengan cepat ke udara, melenting ke arah Djalenga.


"Eiji! jangan!" seru Haidar.


namun tubuh Haanish terus saja melenting menyerbu Djalenga. lelaki Sasak itu mengayunkan tinjunya hendak mengincar tubuh Haanish yang berpusingan diudara.


serangan Djalenga hanya mengenai udara kosong. Haanish dengan gesit memutar dalam posisi terbalik dan bersalto lalu mendarat dibelakang Djalenga.


refleks, lelaki Sasak itu berbalik tepat pada saat Haanish mengayunkan tinjunya dengan cepat dan beruntun. itu teknik chiyari no ken, tinju seribu tombak. Djalenga berupaya menangkis sebanyak mungkin tumbukan tinju lawan meski ia akhirnya kewalahan juga menerima lebih banyak tinju yang bersarang ditubuhnya. sebuah tumbukan terakhir dari teknik pukulan seribu tombak sukses membuat Djalenga terlempar menghantam dinding dan jatuh menggelosor ke lantai dengan napas yang sesak.


Haidar berdiri dan bergerak cepat menghampiri Djalenga yang kesulitan bernapas. lelaki itu cepat menotok beberapa titik ditubuh pemuda itu kemudian membaringkannya.


Haanish berlari ke arah Djalenga dan berlutut disisinya berseberangan dengan Haidar.


"Kenapa kau menyerangnya dengan jurus itu?" tegur Haidar. "Bukankah Mama pernah memperingatkanmu untuk tidak sembarangan mempergunakannya?"


"Maaf... aku kelepasan." jawab Haanish kemudian meraba tubuh Djalenga dan mulai memijatnya menggunakan teknik-teknik kuatsu.


perlahan kemudian Djalenga merasakan tubuhnya nyaman. ia hendak bangkit namun ditahan oleh Haidar.


"Jangan bergerak dulu. tubuhmu masih mengalami efek trauma akibat pukulan itu." ujar Haidar.


"Rasanya seperti dihujam tombak berkali-kali tanpa henti." kata Djalenga sambil meringis.


Haanish menatap Marissa. "Sayang, bisakah pemuda ini dibuatkan armor? kurasa dia tak akan bertahan dalam pertarungan normal."

__ADS_1


"Bisa... tapi Uda sendirian ke Arklab milik Abi untuk membuatnya. denai hanya merumuskan konsepnya." jawab Marissa.


"Bolehlah kalau begitu. konsep armornya yang tebal ya?" pinta Haanish.


Marissa bangkit dan melangkah mendekati Djalenga yang terbaring. ia kemudian menyetel piranti pada sarung tangannya. tak lama kemudian dari proyektor disarung tangan itu menyorot berkas sinar, melakukan scanning pada tubuh Djalenga.


setelah itu, Marissa kemudian pamit meninggalkan dojo menuju kamarnya. setelah agak lama, Djalenga disuruh bangun oleh Haidar.


"Sudah mendingan?" tanya Haidar.


Djalenga yang sudah duduk bersila mengangguk. Haanish mengangguk lalu bangkit dan melangkah meninggalkan dojo menyusul istrinya.


Haidar menyuruh Djalenga berdiri dan mengajaknya keluar dari dojo sementara Aisyah mendengar suara bel dan pintu yang membuka. nampak Aya Sofia muncul mengenakan pakaian santai dan menyandang ransel.


"Hai Umma, hai Abah." sapa Aya Sofia mendekati mereka dan mencium tangan keduanya.


"Jam berapa selesai kegiatan sekolah?" tanya Haidar.


"Baru saja, Abah." jawab Aya Sofia. "Makanya saya pulang jam begini." anak gadis itu menatap Djalenga. "Halo Oom, habis latihan ya?"


Djalenga hanya terkekeh dan mengangguk, setelah itu ia mohon pamit meninggalkan ruangan tersebut. Aya Sofia mengangguk pula lalu menatap ibunya.


"Saya ke rumah tadi. tapi katanya Tante Imel, Umma sama Abah disini. makanya saya susul." ujar Aya Sofia melangkah menuju sofa.


"Beh, takut sendirian kamu?" olok Haidar tertawa, "Kan ada Tante Imel yang jagai. begitu-begitu, dia pakar beladiri lho."


"Nggak. saya sukanya sama Umma dan Abah." jawab Aya Sofia kemudian tertawa.


"Dasar, anaknya Umma... melengket terus kamu diketiaknya." sindir Haidar dan lelaki itu langsung bungkam saat dipelototi Aisyah.


Aya Sofia tertawa dan membalas. "biarin, daripada Abah, anggota ISTI." oloknya.


"Eh, Abah bukan penakut sama Umma." tangkis Haidar, "Tapi Abah hormat dan sayang sama Umma." ujarnya kemudian menggandeng Aisyah dengan mesra.


"Oh ya?" sindir Aisyah, "Syukur deh kalau begitu."


Haidar tertawa. Aya Sofia kemudian memeluk kedua orang tuanya. "Yang jelas... Aku bahagia, bersama kalian berdua... my sweetie parents..." ujarnya kemudian mencium pipi Aisyah dan Haidar.


tak lama kemudian Haanish muncul dari tangga. ia mendekati ketiga orang itu yang bercengkerama disofa itu.


"Halo ponakanku..." sapa Haanish. "Baru pulang sekolah?"


Aya Sofia berdiri sejenak dan maju mencium tangan Haanish. "Tante Issha mana, Oom?"


"Dikamar lagi mendesain armor." jawab Haanish.


Aya Sofia mengangguk-angguk. Haanish memperhatikan dandanan anak gadis itu. "Ini baru pulang dari sekolah atau mau pergi lagi?"


"Baru dari rumah. tadi pulang sekolah, nggak lihat Umma sama Abah." jawab Aya Sofia kemudian duduk lagi di sofa. "Tante Imel bilang lagi disini. jadi Aya ganti pakaian dulu terus kesini."


"Nggak mau jalan-jalan?" pancing Haanish.


"Nggak ah, malas. nanti ketemu teman-teman, malah ghibah lagi dijalanan." jawab Aya Sofia.


Haanish memperhatikan sekeliling. "Ini si Djalenga kemana?"


Haidar dan Aisyah baru sadar kalau lelaki Sasak itu tak berada diruangan itu lagi. Haanish mengeluarkan gawai dan menghubungi Djalenga. ia menggunakan audio call.


📲 "Kamu dimana?" tanya Haanish.


📲 "Ini, depan rumah." jawab Djalenga. "Mau langsung pulang.


📲 "Nggak. jangan dulu. balik ke dalam. ayo!" ujar Haanish.


📲 "Ya..." jawab Djalenga, dan pembicaraan pun berakhir.


tak lama terdengar ketukan. Haanish melangkah menuju pintu dan membukanya. Djalenga menatap pintu itu dengan heran.


"Pintunya tak bisa terbuka tadi." ujar Djalenga.


"Memang. pintu ini dilengkapi piranti anti maling." jawab Haanish, "Hanya anggota keluarga yang bisa masuk tanpa dihalangi."

__ADS_1


Haanish menyuruh Djalenga masuk dan duduk disofa. lelaki itu menatap keempatnya.


"Tadi siang, aku dan maitua terlibat pembicaraan dengan Marina. suatu hal yang kebetulan, mereka berada di wilayah Argyll dan But, bertepatan dengan Pulau Staffa." ujar Haanish. "Kalian paham maksudku, kan?"


"Ini kita lagi bahas apaan sih Oom?" tanya Aya Sofia sambil garuk-garuk kepala. Haanish tersenyum.


"Lagi bahas tamasya keluarga ke Pulau Staffa." jawab Haanish.


"Wah, mau dong." ujar Aya Sofia dengan spontan.


"Hush!" sela Aisyah dengan senyum lalu menatap putrinyam "Mereka bukan membahas liburan." wanita itu bangkit. "Yuk, ikut jalan-jalan sama Umma."


"Kemana?" tanya Aya Sofia.


"Ada deh pokoknya." jawab Aisyah dengan lembut lalu menatap Haidar. "Abah, Umma pergi dulu ya? nanti kita berdua tunggu dirumah."


"Blackcard nya dibawa kan?" ujar Haidar mengingatkan.


Aisyah mengangguk. Haidar menghela napas. "Ya sudah. pergilah... hati-hati dijalan..."


Aisyah mengangguk lalu mengajak Aya Sofia meninggalkan ruang tamu. keduanya menuju pintu dan meninggalkan tempat itu. kini diruangan luas itu hanya tinggal Haidar, Haanish dan Djalenga.


"Istriku sudah selesai mendesain armor kamu. kita sebelum berangkat ke Inggris, akan ke Padang dulu untuk membuatkan armor yang sudah didesain tersebut. paham?!" ujar Djalenga.


"Paham, Kakak." ujar Djalenga dengan wajah siap.


"Besok acara mongaruwa." ujar Haidar mengingatkan Haanish. esok setelah mongaruwa, tepatnya hari ke delapan... kita akan terbang ke Padang."


Haanish mengangguk. "Baik." jawabnya.


Haidar mengangguk-angguk lalu bangkit. "Aku mau balik dulu." ujarnya kemudian menatap Djalenga. "Kau mau balik juga kan?"


"Iya Kakak." jawab Djalenga sambil berdiri.


"Hati-hatilah dijalan." jawab Haanish.


keduanya diantar Haanish menuju pintu. didepan pintu, Haidar berhenti sejenak dan menatap Haanish. lelaki itu mengangkat alis, siap menghadapi pertanyaan kakak sulungnya itu.


"Issha.... beneran hamil kan?" bisik Haidar dengan lirih.


Haanish tertawa lalu mengangguk-angguk. Haidar menghela napas.


"Kalau begitu, jangan dia diajak." saran Haidar. "Nanti dia keguguran. aku saja nggak ngajak Aisyah sama Aya. kita bertiga saja yang ke Padang. nanti aku bilang sama Aisyah kalau dia dan Aya sementara ini menemani Issha selama keberadaan kita di Inggris."


"Aku mengerti." ujar Haanish.


Haidar mengangguk-angguk lalu menepuk-nepuk pundak adiknya dan berlalu dari situ. sepeninggal keduanya, Haanish menutup pintu dan hendak berbalik.


langkahnya sejenak terhenti melihat Marissa berdiri disana sambil melipat tangannya didada. Haanish tersenyum lalu melangkah mendekati istrinya.


"Jadi Uda, mau ninggalin denai sendirian disini?" rajuk Marissa.


Haanish tersenyum lagi. "Kamu lagi proses kehamilan, sayang. hamil muda.... rentan keguguran."


"Tapi nanti kalau denai nggak disisi Uda, akan banyak semut-semut mengerubuti gula!" rajuk Marissa lagi.


Haanish tertawa pelan lalu berlutut dan memeluk perut istrinya. "Nggak mungkin." ujarnya kemudian mengelus-elus perut Marissa. "Aku tahu diri kok."


Haanish mengajak Marissa menaiki lantai dua. keduanya menuju sayap kanan kediaman itu, tepatnya menuju galeri keluarga. Haanish membuka pintu tersebut dan mengibas-ngibaskan tangan mengusir debu. ruangan itu memang jarang dibersihkan. ia menekan saklar dan sedetik kemudian ruangan itu terang benderang.


Haanish melangkah menuju sebuah potret besar. dibelakangnya, Marissa mengikuti. kedua berdiri menatap potret besar Sandiaga yang duduk mengenakan pakaian bate, sebuah beschaafd gaya atela berwarna hitam beludru yang dipadu dengan sarung batik jarik khas Gorontalo yang melingkar dipinggangnya. lelaki itu mengenakan saluk warna merah hati. sebilah keris gaya melayu tergenggam ditangan kirinya. disisi kiri dan kanannya berdiri Inayah dan Rosemary.


alih-alih mengenakan kimono, Rosemary justru mengenakan bili'u lengkap dengan sunting yang menghiasi rambutnya yang disanggul sebab tak mengenakan jilbab. sangat tak nampak kelihatan bahwa wanita itu ternyata berkebangsaan jepang. adapun bagi Inayah, sunting dilekatkan pada jilbab yang senada warnanya dengan pakaian bili'u yang dikenakannya. penampilan keduanya begitu mirip dengan putri-putri Gorontalo.


"Wah... mintuo berdua kelihatan anggun sekali ya?" puji Marissa yang langsung mendekati lukisan itu dan mengusap wajah Rosemary dan Inayah.


Haanish menatap wajah ibu kandungnya agak lama. tatapan Rosemary yang terarah ke depan juga seakan-akan menatap putranya itu. sementara itu, Marissa mengamati lagi potret Inayah dan Rosemary yang masing-masing menggendong bayi.


"Aahhh.... ini pasti Kak Haidar dan Uda." ujar Marissa mengamati wajah-wajah bayi berusia sepuluh bulan itu. "Lucu...." gumam Marissa yang tanpa sadar mengelus perutnya sendiri.


Haanish mengulurkan kedua tangannya menyentuh potret Rosemary dan Inayah yang berdiri mengapit Sandiaga yang duduk. Marissa memandang suaminya dan menyadari kedua mata lelaki itu basah.[]

__ADS_1


__ADS_2