
Sesuai permintaan Mahreen yang ingin menyantap kuliner khas Lombok buatan orang-orang Sasak, Djalenga memberitahu kedua inaq-amak nya untuk membuatnya. pada dasarnya, Maryati dan Samirep tidak keberatan. hitung-hitung juga untuk memperkenalkan budaya khas pulau Lombok juga. keduanya menyetujui.
"Mahreen katanya bersedia membayar semua biaya yang keluar akibat pengolahan semua kuliner itu." ujar Djalenga mengakhiri percakapannya dengan kedua orangtuanya.
"Kenapa harus dihitung biaya, jika itu untuk menyenangkan orang lain? apalagi gadis itu mulai dekat denganmu. Amak tak akan segan melakukan apapun untuk menyenangkan anak itu. dia sangat memperhatikan kamu, Lalu." elak Samirep sambil tersenyum dan menampar-nampar lengan putranya. "Dia lebih kelihatan seperti adik perempuan kamu."
"Atau lebih mirip menantu kita." sela Maryati membuat Samirep terbatuk-batuk sedang wajah Djalenga langsung merah disentil dengan perkataan bernada sindiran dan olokan itu.
"Inaq, hati-hatilah berbicara." tegur Samirep. "Nanti kasihan Djalenga akan canggung dihadapan anak perempuan itu. kita nanti akan mendapat malu oleh tetangga-tetangga."
"Aku hanya berharap, putraku yang sudah kepala tiga usianya ini mendapatkan jodoh yang baik dan selalu membelanya... seperti anak perempuan itu. siapa namanya, Lalu?" pancing Maryati.
"M-Mahreen... Inaq." jawab Djalenga dengan gagap.
Maryati tertawa menatap suaminya. "Lihatlah Amak. putra kita, menyebut nama si anak perempuan itu jadi gagap dia rupanya... ternyata mulai ada perasaan yang tumbuh." Maryati mencondongkan tubuhnya kepada Djalenga. "Bukankah Inaq benar, Lalu?"
Djalenga hanya tersenyum tipis dan menggeleng. "Entahlah Inaq. saya sendiri memang kagum dengan dia yang punya empati besar kepada saya. tapi kalau perasaan itu, kelihatannya belum ada." jawab pemuda itu dengan jujur.
"Maka diusahakanlah Lalu." dorong Maryati. "Inaq yakin, dialah jodohmu."
"Inaq. jangan bicara sembarang." tegur Samirep lagi.
Maryati menatap suaminya. "Sudahlah jika Amak tak mendukung. tapi Inaq yakin. suatu saat, anak perempuan itu, akan menjadi anak perempuanku dan akan memeriahkan loteng lumbung Bale Tani kita ini."
Djalenga tersenyum. "Sudahlah Inaq. tak usah panjang berangan-angan. mari lakukan apa saja untuk mewujudkan permintaan sahabatku itu. Inaq tahu? dia bahkan batal makan direstoran dan membayar dua kali lipat harga kuliner itu hanya karena aku bilang, Inaq bisa memasakkan makanan itu."
Maryati kaget. "Begitukah?" serunya kepada Djalenga. pemuda itu mengangguk membenarkan. wanita itu langsung menatap suaminya.
"Lihatlah Amak. ini pertanda baik bagi keluarga kita. coba lihatlah di tambak. apakah masih ada ikan yang bisa dipanen? belilah juga seekor ayam kampung di pasar." ujarnya menatap suaminya. wanita itu kemudian menatap Djalenga. "Dan kau Lalu, belilah rempah-rempah. segeralah." pinta Maryati.
"Baiklah Inaq. kalau begitu, saya pergi sekarang juga." ujar Djalenga dengan pamit dan bangkit melangkah meninggalkan ruangan dapur itu.
setengah hari mereka mempersiapkan semuanya. sementara Mahreen yang berada di Bale Bonter sedang asyik melakukan percakapan via VC dengan Inayah yang sementara itu berada di ruang kerjanya.
tak seperti biasanya, wanita parobaya itu mengenakan pakaian semi kasual. yang menegaskan dirinya sebagai anggota polisi hanyalah pin kecil polri yang tersemat di bagian kiri pakaiannya dan kartu nama yang tersemat dibagian kanan pakaiannya itu.
Inayah menghubunginya dan menanyakan kabarnya.
📲 "Saya sehat-sehat saja Mama." jawab Mahreen dengan senyum gembira.
📲 "Seminggu lagi, Mama akan ke tempatmu. Mama kangen." ujar Inayah dengan senyum dan mata berkaca-kaca.
📲 "Mama..." panggil Mahreen yang langsung baperan. "Aku juga sudah sangat rindu. mengapa harus menunggu seminggu?" rajuknya.
Inayah menghapus genangan airmata yang sempat mengalir disisi kelopak matanya lalu tersenyum lagi.
📲 "Ah, mengapa aku jadi sesentimental ini?" keluh Inayah kemudian terkekeh. ia menarik ingusnya sejenak lalu menenangkan diri. "Mama kan harus mengurus cuti dulu meski hanya tiga hari...."
📲 "Hah? Mama mengurus cuti seminggu hanya untuk liburan tiga hari disini? kalau hanya tiga hari mendingan tak usah Mama." rajuk Mahreen dengan wajah manyun.
Inayah tersenyum lagi.
📲 "Lalu maumu... Mama harus berapa lama tinggal disana?" tanya Inayah dengan sabar.
📲 "Aku mau Mama tinggal sebulan disini... masa mau melepas rindu hanya tiga hari? nggak seru!" ujar Mahreen lagi dengan wajah yang dimanyun-manyunkan.
Inayah menarik napas lagi dan akhirnya mengangguk-angguk.
📲 "Baiklah... Mama akan sebulan tinggal bersamamu disana." jawab Inayah membuat Mahreen langsung bersorak gembira. Inayah menyambung lagi. "Tapi... apakah tidak merepotkan?"
📲 "Sangat tidak merepotkan, Mama!" tandas Mahreen. "Sekalian saja ajak Kak Salman supaya Callista bisa menetap dirumah. atau nanti kita sama-sama pesiar ke Mataram, atau Lombok, atau Pulau Komodo atau...."
📲 "Sudah, sudah..." ujar Inayah mengibas-ngibaskan tangannya sambil tertawa. "Terlalu banyak destinasi wisata yang kamu paparkan... Mama bingung nanti mau kemana."
Mahreen tertawa renyah. kerinduannya terobati sudah. tiba-tiba ia teringat akan Haidar.
📲 "Mama... apa Kak Haidar juga akan datang bersama Mama?" tanya Mahreen dengan tatapan penuh harap.
📲 "Chouji sehari lagi akan menjabat sebagai presdir Buana Asparaga Tbk. dia akan banyak tugas yang harus diselesaikannya... dia nggak akan ikut." jawab Inayah dengan tegas disela senyumnya.
__ADS_1
wajah Mahreen seketika murung. Inayah tahu perasaan gadis itu namun ia harus bersikap tega demi masa depan putri sambungnya itu.
📲 "Mahreen..." panggil Inayah dengan lembut.
📲 "Ya, Mama..." jawab Mahreen dengan senyum datar.
📲 "Kau kecewa?" todong Inayah. Mahreen menundukkan lagi wajahnya sejenak lalu mengangkat wajahnya kembali dan tersenyum, kali ini dimanis-maniskan sedikit.
📲 "Tidak, Mama..." jawab Mahreen.
Inayah tersenyum lagi. maafkan aku nak. aku harus tega padamu.
📲 "Bersiap-siaplah untuk menempuh hidup baru." ujar Inayah.
kening Mahreen berkerut.
📲 "Hidup baru? apa maksudnya Mama?" tanya Mahreen dengan wajah agak cemas. apakah Mama akan memisahkan aku dari Haidar?
📲 "Bukankah Mama pernah bilang, bahwa nama Mahreen adalah masa lalumu? rencananya, Mama akan melakukan prosesi baiatmu nanti disana. Mama akan mendatangkan para kaum adat negeri kita dan kau akan dibaiat dengan nama barumu supaya kau resmi menjadi putriku dan menggunakan marga keluarga Lasantu." ujar Inayah.
Mahreen terdiam mendengar perkataan Inayah tersebut. sementara Inayah terus melanjutkan.
📲 "Bukankah Mama pernah bilang padamu? kau tidak sendirian didunia ini, nak. Kamu memiliki Mama, Haanish dan Haidar. jangan berpikir bahwa kamu adalah anak yatim piatu..." ujar Inayah dengan tersedat-sedat menahan sesak dan sedak didadanya. mata wanita parobaya tersebut mulai lagi berkaca-kaca. "Sebentar lagi... bersabarlah seminggu lagi... kau akan menjadi bagian sepenuhnya dari diriku. Mama sayang padamu Nak." ujar Inayah.
tanpa sadar airmata bergulir dikelopak mata Mahreen dan ia pun terisak. perasaan haru menyelimutinya.
📲 "Mama... aku juga sayang padamu..." balas Mahreen yang tak sanggup lagi menahan tangisnya. akhirnya keduanya bertangisan ditempat yang berbeda. Inayah kemudian menenangkan dirinya. setelah mengangguk-angguk pelan untuk menetralisir rasa haru yang menyesaki dadanya, wanita parobaya tersebut kembali berujar.
📲 "Dan kita akan kembali berkumpul bersama-sama selamanya. mau kan?" tanya Inayah dengan suara serak.
📲 "Tentu Mama... aku adalah anak Mama... aku adalah anak Mama..." tandas Mahreen.
📲 "Baiklah... Mama tutup dulu salurannya ya? Masih jam kerja nih... dadaaah anakku... muaaach..." ujar Inayah kemudian mengecup telapak tangannya dan menempelkan tangan itu dilayar.
serta merta Mahreen menyambut ungkapan sayang simbolis itu dengan menyentuh pula layar gawainya dan menyapu tangannya pada wajah. layar gawai itu gelap lagi pertanda percakapan seluler itu diakhiri.
bertepatan dengan itu, Callista dan Cholil tiba di Bale Bonter dan langsung masuk mendapati Mahreen yang baru saja menyusuti airmata dipipinya.
"Habis teleponan sama Mama." jawab Mahreen.
"Wah, syukur dong. sudah beberapa hari juga kamu tak menghubunginya." sindir Cholil sambil tersenyum lalu duduk disisi Mahreen diikuti Callista. "Kamu, mentang-mentang kenal sama Lalu Djalenga, sudah kayak lupa kampung."
"Enak saja! siapa yang lupa kampung? Dagestan selalu ada dalam hatiku, tahu?" ujar Mahreen.
"Oooo...." gumam Cholil mengangguk-angguk. "Kupikir, Gorontalo adalah kampungmu. nyatanya..."
"Maksudku... maksudku..." ujar Mahreen.
"Kudengar tadi percakapan Tante Iyun dengan kamu." ujar Callista. "Mengapa kau masih tenggelam dalam masa lalu? tataplah masa depan Mahreen."
"Memangnya aku tak hendak menata masa depan? makanya jangan keseringan jalan-jalan meninggalkan aku disini. kalian pikir aku penjaga rumah?" tukas Mahreen kepada Callista, kemudian menatap Cholil. "Katamu aku termasuk dalam sukarelawati yang kau rekrut. kok malah Callista terus yang diberi kerja?"
Cholil tertawa. "Lho? menjaga bale tani ini juga pekerjaan. kamu nggak nyadar ya? dengan bekerja menjaga rumah, kan akhirnya kamu ketemu Lalu Djalenga dan bisa lebih mengenal kampung Sade ini." kilahnya lalu mencondongkan wajahnya kearah Mahreen. "Pernah berpikir menjadikan Sade sebagai kampungmu?" ujarnya lirih.
"Ih, Cholil apaan sih?!" sergah Mahreen. "Sembarangan saja kamu bicara!"
Cholil tertawa. "Tapi kamu kayaknya cocok dengan Djalenga. satunya putih, satunya coklat. kayak bendera saja kalian berdua. saling membelit."
"Hatiku hanya untuk Kak Haidar!" tandas Mahreen.
"Meskipun dia ditakdirkan bukan untukmu?" pancing Cholil.
"Rakanda..." tegur Callista kepada kembarannya.
Cholil sejenak melihat kepada kembarannya itu lalu menatap kembali Mahreen.
"Apa maksud perkataanmu itu?" todong Mahreen.
Cholil hanya mengangkat bahunya. "Aku hanya berspekulasi saja." lelaki itu kemudian menatap Mahreen lagi dengan tajam. "Bagaimana menurutmu? jika orang yang kau inginkan, tidak lagi menginginkan kamu?"
Mahreen menatap Callista. "Katakan padaku. apa maksud ucapan kakakmu ini?" tanya gadis itu kepada Callista.
Callista tersenyum. "Jangan terlalu ambil pusing apa yang dikatakan kakak sablengku ini. aku hanya ingin kamu fokus. ingat, beberapa hari lagi, kamu akan menjalani prosesi baiat untuk menjadi bagian dari keluarga Lasantu seutuhnya."
__ADS_1
Cholil tertawa. "Kurasa, kau harus lebih intim dengan Djalenga." lelaki itu tertawa. "Sudahlah. aku mau pergi, ikut dengan kepala kampung mengunjungi Ende." ujar Cholil lalu menatap Callista. "Kau tak ikut, Callista?" pancing Cholil.
"Baiklah.... aku ikut!" seru Callista dengan semangat.
"Kalian pikir, rumah ini seperti depot bahan bakar?" tanya Mahreen dengan suara melengking.
"Sebenarnya kami seharian jalan. hanya saja Callista ingin melihatmu dan memastikan kamu baik-baik saja disini." jawab Cholil. "Kelihatannya kamu nyaman... apalagi bersama Djalenga. aku bersyukur, setidaknya ia menjagaimu dengan amanah.... sampai-sampai kau melupakan Tante Iyun."
"Kau!" sergah Mahreen mengencangkan rahangnya.
"Okey, okey... aku nggak akan bicara lagi." ujar Cholil sambil terkekeh lalu melangkah meninggalkan Mahreen diikuti oleh Callista.
Mahreen mengencangkan rahangnya. "Callista, kalau kau tak mau menemaniku hari ini, aku akan bilang ke Mama kalau dia tak boleh mengajak Salman kemari!" ancam Mahreen sambil menuding-nudingkan telunjuknya kearah Callista dan lantai rumah berkali-kali.
"Apakah Salman akan kemari?" tanya Callista dengan wajah gembira yang tak bisa ditahan lagi. Cholil menghentikan langkahnya dan menatap Mahreen.
Mahreen tersenyum penuh kemenangan. "Tentu saja." jawabnya, "Bahkan Mama akan tinggal selama sebulan bersama kita! aku bahkan minta Mama kalau mengikut sertakan Uda Salman untuk mengawalnya. sekarang, apa kau mau tinggal disini bersamaku?" todong Mahreen.
Callista terlihat goyah dan menimbang-nimbang. sesekali ia menoleh kearah Cholil lalu kepada Mahreen yang bercakak pinggang dan tersenyum penuh kemenangan.
Cholil hanya berdiri pula sambil memamerkan senyumnya. senyum penuh keteguhan bagai karang.
"Bagaimana?!" todong Mahreen lagi.
Callista menatap Cholil, bertanya tanpa bersuara. Cholil hanya mengangkat bahu dan menjebikan bibirnya. Callista akhirnya menarik napas dan menutup matanya sejenak. tak lama kemudian ia tersenyum lalu membuka mata dan menatap Mahreen.
"Aku akan ikut bersama Cholil." jawab Callista.
"Aku akan membatalkan kedatangan Uda Salman kemari!" ancam Mahreen.
"Silahkan saja Mahreen." ujar Callista dengan senyumnya. "Uda juga nggak mungkin akan datang. dia orang yang penuh dedikasi terhadap tugasnya."
"Idealis benar kamu!" sindir Mahreen dengan senyum sinis.
"Aku memilih Salman Attar Williams, karena idealismenya. bukan karena yang lain. jika dia datang, syukurlah. jika tak datang, aku juga bersyukur." jawab Callista kembali tersenyum.
"Aku tak yakin dengan garis percintaan kalian. kelihatan kayak tarik ulur." olok Mahreen.
"Kamu juga." tukas Callista.
"Dengan siapa? dengan Kak Haidar?!" tanya Mahreen.
Callista menggeleng lalu menjawab, "Dengan Djalenga."
"Hei, aku dan dia hanya teman biasa." tandas Mahreen.
Callista menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. "Jangan sembunyikan hatimu padanya. dia tak pernah menyembunyikan hatinya padamu." tegur jilbaber itu.
"Kamu salah paham, kami belum sejauh itu!" tangkis Mahreen.
"Berarti akan menuju kesana." sambung Cholil sambil terkekeh. Mahreen memelototinya.
"Kamu jangan ikut campur!" sergah Mahreen.
Cholil mengangkat tangannya lagi sedangkan Callista hendak bangkit menyusul kakaknya ketika terdengar suara Majreen memanggilnya.
"Mau kemana kalian?" tanya Mahreen.
"Kan sudah dibilang mau ke Ende." jawab Callista. "Kamu jangan kemana-mana. bukankah nanti Djalenga akan datang berkunjung?"
"Kok kalian berdua kok kompak sekali akhir-akhir ini?" tukas Mahreen menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.
baru saja Cholil hendak menjawab, ternyata terdengar suara menyapa.
"Assalamualaikum...." sapa laki-laki itu yang ternyata adalah Djalenga.
"Wa alaikum salaam....: jawab Mahreen dan Callista berbarengan.
"Ah kau. kebetulan sekali." ujar Cholil. "Temani dia seharian ini. kami akan berangkat bersama kepala kampung ke Ende."
"Kebetulan juga masakan yang dipesan Mahreen telah dihidangkan oleh Inaq-amak aku. silahkan Mahreen ke rumah." ajaknya.
Mahreen hanya mendengus lalu melangkah santai membelah jarak diantara Callista dan Cholil. ia kemudian melangkah ke jalan, diikuti oleh Djalenga yang mengejarnya dengan setengah berlari. dengan langkah cepat Mahreen meninggalkan rumah itu dengan bersungut-sungut dijajari oleh Djalenga dari belakang. []
__ADS_1