
kedua suami istri itu menyusuri jalan- jalan kebun. keduanya bergandengan tangan membiarkan udara siang itu mengipasi wajah mereka yang berbalur keringat. Marissa menggunakan celana jumpsuit dan kaos hitam lengan pendek. ia juga mengenakan caping lebar menghindari terpaan sinar matahari siang itu sedangkan Haanish mengenakan kemeja pastel lengan panjang. kerahnya dibuka lebar membiarkan sebagian dada bidangnya terekspos. celananya katun hitam. mereka berdua mengenakan sepatu boot kebun warna kuning yang disediakan di kediaman tersebut.
"Denada kalau dilihat secara langsung, cantik juga..." ujar Marissa sambil mengamati pemandangan kebun yang luas itu. "Uda, kita ke kebun semangka disana yuk." ajaknya.
Haanish mengikuti saja langkah sang istri. Marissa sesekali menatapnya. "Uda kok diam saja?perkataan denai menyinggung ya?"
"Nggak." jawab Haanish, "Hanya saja, mulai saat ini, hentikanlah membandingkan kamu dengan dia. aku nggak suka. kamu itu istriku, dia itu orang lain." ujarnya.
"Uda, Wie Jiao itu siapa sih?" tanya Marissa.
"Leluhurku dan leluhurnya." jawab Haanish. "Dia ternyata adalah nenek buyut kami. Mamoru Mochizuki, kakek buyutku menikahinya dan mengganti namanya menjadi Midori Okamoto. wajahnya dan Denada sangat mirip."
"Mirip?" tanya Marissa.
Haanish mengangguk-angguk. "Aku sendiri nggak menyangka. rasanya mengejutkan ketika menyadari bahwa nenek buyut begitu identik wajahnya dengan salah satu cucu buyutnya."
"Lalu, kira-kira, bagaimana reaksi mereka terhadap kebenaran itu, ya?" ujar Marissa berandai-andai.
"Kurasa mereka akan syok." ujar Haanish. "Mereka tak akan menyangkanya."
"Uda..." panggil Marissa.
Haanish menatap istrinya. Marissa melanjutkan, "Jika sekiranya dua puluh tahun lagi denai tak lagi cantik... apakah Uda masih mencintai denai?"
Haanish mengangkat bahu. "Ketahuilah Issha... kecantikan seorang wanita tidak akan menjamin hidup selalu ada dalam kesenangan... apalagi kalau wanita jelek."
"Apa? berarti kalau denai sudah tua, Uda akan mencari yang lebih muda lagi?" seru Marissa dengan kaget.
Haanish menggeleng. "Tidak... maka jadilah kamu sebagai wanita saleha." ujar Haanish.
"Tentu. denai pasti akan berusaha menjadi wanita saleha, yang selalu taat pada suami." sambut Marissa.
"Maksudku bukan saleha yang itu... tapi SALEHA... suka lupa pake beha.." ralat Haanish sambil tersenyum jahil. Marissa langsung tersipu dan menumbuk lengan suaminya.
"Isssyyy... Uda mulai mesum nih? masih siang lho!" olok Marissa dengan senyum lebar. Haanish tertawa.
"Jadilah istri yang SALEHA, agar jadi SAKINAH..." sambung Haanish.
"Hah! denai nggak akan tertipu lagi dengan antonim itu." tukas Marissa lalu menggelayuti manja dipelukan Haanish. "Tapi, apalagi artinya tuh?" tanya Marissa dengan manja.
"Artinya sekali kena ingin nambah." jawab Haanish lalu tertawa kembali membuat Marissa makin tersipu. beberapa pekebun yang berkarya melihat kedua suami istri itu melintas dan mereka membungkukkan dirinya. keduanya menyapa beberapa pekebun itu.
setelah itu kedua suami istri itu menjelajahi lagi kebun tersebut. "Kalau kamu jadi istri SALEHA, apalagi jadi SAKINAH, tentu saja, aku akan segera menjelma jadi Suami SIAGA."
"Siaga?" tanya Marissa.
"Iya, SIAGA..." jawab Haanish.
"Apa lagi artinya tuh?" tanya Marissa.
"SIAGA...Siap Antem pakai Gaya Apa saja..." jawab Haanish dengan enteng.
"Ih, Uda sudah benar-benar mesum." seru Marissa dengan gemas lalu mencubit dada Haanish. Marissa lalu lari meninggalkan Haanish.
"Hei, mau kemana?!" seru Haanish.
"Kejar denai, jika Uda mampu!" olok Marissa menantang lalu lari kembali. Haanish tersenyum jahil lagi dan berlari menyusul Marissa.
tubuh Marissa yang langsing dan kecil itu dapat dengan lincah menyusuri setiap jalanan kecil dikebun itu. namun Haanish juga bukan tak ingin mengakhiri permainan. ia sengaja berlari lambat, agar Marina puas bermain-main. sebentar lagi, perempuan itu akan hamil dan melahirkan lalu menjadi Mama Muda yang akan masanya suatu saat akan tiba. masa bermain-mainnya makin lama akan makin hilang, tersita dengan waktu mengurusi anak-anaknya. maka untuk memuaskannya, Haanish sengaja membiarkan istrinya itu bersenang-senang.
akhirnya dengan teknik hayagakejutsu, Haanish menyusul dan memutari tempat tersebut hingga akhirnya ia menyergap Marissa yang sementara lari. keduanya jatuh berdebam ditanah perkebunan saling menindih. keduanya membiarkan pakaian mereka berdebu.
"Uda...." panggil Marissa.
"Kenapa istri cerdasku?" tanya balik Haanish.
"Uda nggak menyesal buru-buru menikahi denai?" tanya Marissa yang berada dibawah, ditindih sedikit oleh Haanish. lelaki itu membelai rambut Marissa.
"Penyesalan... tidak terbetik sama sekali." jawab Haanish. "Apalagi menikahi gadis nekat macam kamu ini...." tambahnya.
__ADS_1
Marissa tersenyum. "Tapi denai nggak secantik Denada."
Haanish terkekeh. "Jadilah orang yang bersyukur atas apa yang Allah berikan kepadamu... jikalau kamu jelek, ya tetap harus bersyukur supaya kelak kamu akan membanggakan wajah jelek kamu itu."
Marissa langsung mendorong Haanish dan duduk membelakangi suaminya sambil membalut lutut. "Issy... Uda nggak seru ih." ujarnya dengan wajah cemberut.
Haanish duduk lalu tersenyum. "Kenapa? marah kuiyakan kalau wajahmu jelek?" tebak lelaki itu. Marissa tetap diam sambil membuang muka. Haanish terkekeh. "Kamu saja yang wajahnya cantik masih mengaku jelek... apalagi yang jeleknya beneran..."
Marissa tertawa lalu menatap Haanish. "Uda... kamu memang lucu dan menggemaskan deh... kamu memang suka cari masalah ya?!" ujar wanita itu mendorong Haanish hingga terlentang ditanah dan mendudukinya.
wajah Marissa mendekat. Haanish tersenyum. "Masalah akan membuat kita menjadi bijak. jadi.... sering-seringlah bermasalah..." ujar lelaki itu dengan santai.
Marissa mengecup bibir Haanish sejenak. Haanish tiba-tiba kembali mendorong Marissa hingga terjengkang. ia memekik kaget dan makin memekik ketika Haanish kali ini bangkit dan menangkap tubuhnya lalu memeluk Marissa dengan lembut.
wajah keduanya saling berhadapan dan mata keduanya saling bertatapan. teduh dan penuh kehangatan.
"Bagaimana pendapatmu, jika suatu saat matahari tak bersinar lagi dan dunia menjadi gelap gulita?" pancing Haanish dengan suara lembut.
"Denai sudah siap menjadi lilin yang akan menerangi kegelapan dihati Uda." jawab Marissa dengan mesra. "Asal..."
"Asal apa?" tanya Haanish dengan lembut lagi.
"Asal Uda yang jagain lilinnya agar nggak redup dan mati." sambung Marissa dengan lembut.
Haanish tersenyum lembut dan keduanya pun bergulat saling memagut bibir ditengah rimbunan tanaman perkebunan itu tanpa diketahui para pekerja yang sibuk memeriksa, menyiangi dan memanen hasil kebun yang telah matang.
...********...
Haidar benar-benar penasaran dengan lelaki bernama Joni yang disebut Aisyah sebagai mantan suaminya yang sekian lama menghilang kini muncul lagi dan berniat hendak mengambil Aya Sofia dari pangkuan ibunya.
"Kamu nggak usah kuatir." ujar Haidar. "Aku akan meminta pengawalan dari pihak kepolisian. selagi mereka menjagamu, aku akan menjejaki lelaki bernama Joni itu."
Haidar memutar tubuhnya lalu membelai rambut panjang Aisyah. "Kau tak melakukan kesalahan... untuk apa minta maaf?"
Aisyah menatap suami sirinya itu. "Makasih... kau mau melindungiku dan Sofi..." ujarnya dengan lirih.
"Tentu, itu kewajibanku." tandas Haidar.
"Aku hanya berpikir... sebenarnya aku nggak terlalu pantas untuk..." ujar Aisyah.
CUP...
Aisyah terkejut tak sempat menyelesaikan kalimatnya sebab bibirnya tersumpal oleh kecupan yang diarahkan Haidar. Aisyah kembali menatap lelaki itu.
"Jangan bicarakan hal yang paling kubenci." ujar Haidar. "Bicarakan saja tentang hal yang lain... liburan misalnya."
Aisyah tersenyum. "Memang mau liburan kemana, Sayang? kurasa Tangga Dua Ribu atau Pantai Minanga di Atinggola sudah cukup mengobati kebosanan kerja."
Haidar menggeleng. "Nggak. aku akan membawa kamu ke suatu tempat. disana banyak ikan salmon dan trout. kita bisa memancing ikan sekehendak kita."
"Memangnya tempatnya di Gorontalo? kurasa aku pesimis jika berpikir menemukan ikan Salmon." ujar Aisyah.
"Chile chiko.... di Patagonia, Chile....." jawab Haidar.
"Kalau mau memancing ikan, ngapain bela-belain pergi ke Chile Chiko? Sungai Bone, atau Sungai Bolango sudah cukup untuk memancing ikan...." jawab Aisyah dengan bibir manyun. "Ngabisin uang saja." gerutunya.
Haidar tersenyum. "Sudah... kelihatannya kamu terlalu halu denganku sampai nggak mau berpisah." ujar lelaki tersebut.
"Tentu saja aku tak ingin berpisah denganmu. mana ada seorang istri yang mau hidup terpisah dari suaminya?" sindir Aisyah.
Haidar diam sejenak lalu menatap Aisyah. "Lalu, maumu kita hidup bersama? aku belum jujur sama Mama tentang kita."
Aisyah diam pula lalu bicara lagi. "Mau sampai kapan kamu akan menutupi pernikahan kita dari Mama?" tanya Aisyah. "Bahkan Mama sendiri nggak tahu, aku keluar dari Kediaman Lasantu, saat kau menyuruhku tinggal disini."
"Oh ya?" ujar Haidar.
__ADS_1
"Aku pernah mengunjungi Mama, memohon ijin untuk keluar dari rumah itu sebelum kau usir. tapi Mama menahanku dengan dalih bahwa Bik Inah sedang pulang kampung, jadi tak ada yang mengurusi kamu dan penghuni lainnya." balas Aisyah dengan wajah cemberut.
"Jadi, kamu mau pulang ke kediaman Lasantu?" pancing Haidar.
"Tentu saja." tukas Aisyah. "Itu hakku sebagai istrimu." tuntutnya.
"Meskipun dengan status sebagai istri siri?" pancing Haidar lagi.
"Pak Haidar..." ujar Aisyah mulai berbicara lagi dengan bahasa formal. "Dalam bicara kewajiban seorang suami, nggak ada menyinggung siri dan zahir. kamu sudah menikahiku... bahkan sebelumnya kamu sudah menyentuhku..."
"Ooo... mulai lagi polombuango?" goda Haidar tertawa kecil membuat Aisyah menunduk malu. polombuango adalah istilah dalam bahasa Gorontalo yang artinya mengungkit-ungkit hal yang lalu.
keduanya diam sejenak hingga Haidar akhirnya bicara. "Baiklah... kamu pindah kembali ke Kediaman Lasantu, tapi tetap menempati kamar dikoridor belakang."
"Tapi..." protes Aisyah.
"Pilih mana? disini dengan resiko dikuntit lagi oleh bekas suamimu, atau disana, tinggal dikoridor belakang?" ujar Haidar memberikan pilihan sama sulitnya bagi Aisyah.
"Kamu mau nyiksa aku ya?" tukas Aisyah.
"Siapa yang mau nyiksa kamu?" balas Haidar.
"Itu... masa, istrimu kamu tempatkan dikamar pembantu rumah tangga?" tukas Aisyah.
"Untuk mencegah bocornya rahasia." ujar Haidar. "Ingat! kamu itu masih istri siri. jangan pernah berbuat lebih dari itu sebelum aku memperkenalkan kamu ke khalayak ramai. paham?"
"Tapi Joni..." sela Aisyah.
"Urusan Joni, itu akan jadi urusanku..." ujar Haidar. "Kamu nggak usah kuatirkan itu. pastikan saja Sofi tak akan direbut dari kita."
"Sofi... anak kita." gumam Aisyah.
"Iya, Sofi anak kita. memang anak siapa lagi?" tukas Haidar.
Aisyah menahan tawa sejenak, lalu mengangguk-angguk. "Ya, iya, iya..."
"Ungkapan iya yang tak tulus." dengus Haidar.
Aisyah kembali menahan tawa. Haidar menatapnya dengan sinis sejenak lalu mulai tersenyum licik. "Rupanya aku harus pula menanamkan benih ditanah milikmu itu, supaya Aku bisa diakui sebagai ayahnya Sofi. begitukah?"
Aisyah langsung terdiam dan wajahnya mulai bersemu merah. Haidar mengangguk-angguk lagi. "Rupanya begitu. hmmm?"
Aisyah hanya memamerkan cengiran dan menggeleng. namun Haidar juga menggeleng. "Ah, jangan malu-malu seperti itu. bukankah sudah berapa kali aku menggarap ladangmu itu? bagaimana? harus berapa kali? hm?"
Aisyah langsung bangkit. "Dasar mesum." omelnya.
Haidar langsung menahan tangannya. "Mau kemana?"
"Mau masakin kamu makanan. bagaimanapun aku harus menjadi istri yang tahu diri." ujar Aisyah kembali hendak beranjak namun masih tetap ditahan oleh Haidar.
Aisyah menatap Haidar lalu tersenyum merayu. "Lepasin dong. ini aku sudah mau ke kantor. aku nggak mau dianggap karyawan yang seenaknya!" tegur wanita itu.
Haidar menggeleng. "Tidak. kali ini kamu nggak boleh ke kantor. aku melarang!"
Aisyah menghentak kaki dengan kesal. "Dasar suami arogan! istrimu ini hanya ingin menunaikan kewajiban hidupnya! aku nggak mau disebut karyawan yang tidak menghargai kesempatan kerja!" ujar Aisyah lalu duduk disisi ranjang kembali.
"Perusahaan itu milikku. suatu saat aku akan duduk disana sebagai presdir. kenapa kau harus takut?" pancing Haidar.
"Aduh, suami tersayangku. perusahaan itu memang milik keluargamu, tapi bukan milikmu. kau bukan pendirinya, kau hanya numpang nama disana sebagai putra dari pewaris perusahaan itu yaitu Pak Sandiaga. aku mana boleh memanfaatkan hal itu untuk kepentinganku sendiri?" Aisyah kemudian menggeleng."Nggak! itu nggak boleh terjadi. sama sekali tidak boleh! kau paham?! aku harus bekerja!"
"Tapi aku suamimu. dan tugas suami itu memberi nafkah kepada istrinya." debat Haidar.
"Ya, tapi apa gunanya itu semua jika aku tak disahkan secara hukum negara? memangnya aku ini selir? aku ini istri pertama kamu! bukan Mahreen." ujar Aisyah.
"Stop bicara tentang Mahreen dihadapanku!" sela Haidar menyergah. ia menudingkan telunjuknya ke wajah Aisyah dan wajah lelaki itu kembali membesi. "Kamu nggak pantas menyebut namanya."
"Memangnya kenapa? seberapa saktinya dia sehingga aku nggak boleh menyebut namanya? dia bukan apa-apa bagimu!" balas Aisyah.
"Kau!!!" sergah Haidar lebih keras dan tangannya terangkat hendak menampar.
Aisyah justru menantang dan memelototkan matanya. "Tamparlah jika itu membuatmu puas. jika kau memang mencintai perempuan itu, mengapa harus menikahi aku? katakan padaku, Pak Haidar yang terhormat."
Haidar hanya diam lalu menurunkan tangannya. lelaki itu lalu bangkit dan melangkah meninggalkan kamar, menyisakan Aisyah yang kemudian menumpahkan emosinya dengan menangis menundukkan wajahnya. hati wanita itu tersayat luka lagi dan Haidar kembali tanpa sadar melukai sukma istrinya hanya demi nama seorang perempuan yang sebenarnya merupakan darah dagingnya sendiri yang belum diketahui kebenarannya.[]
__ADS_1