
kendaraan yang ditumpangi mereka tiba di kediaman Ali. masing-masing pemuda itu memarkir kendaraannya. Haanish keluar membawa Callista sedang Haidar keluar dari Tuatara V33K tersebut bersama Mahreen.
"Ini kediaman orang tuaku." kata Haidar mengembangkan tangannya dan mengarahkan tangannya ke arah bangunan tersebut.
Mahreen melempar pandang ke bangunan itu. alih-alih dia membayangkan sebuah bangunan futuristis, nyatanya bangunan ini bergaya klasik mengikuti jaman dulu. Haanish dan Callista mengamati Haidar yang tiba-tiba jadi ceria dihadapan Mahreen.
tak lama kemudian pintu membuka dan muncullah seorang wanita mengenakan pakaian yang pantas. Mahreen yang tanggap langsung maju dan menyambut dan mencium tangan wanita itu.
"Ibu... mengapa mesti muncul? kami sudah merepotkan Ibu." ujar Mahreen dengan senyum.
wanita itu menatap Mahreen dengan heran lalu mendekati Haidar sambil memperhatikan Mahreen yang jadi heran dan canggung.
"Tuan Chounan... siapa itu?" tanya wanita itu dengan lirih. "Matanya kok warnanya aneh, kayak ponggo..."
"Hussh.." hardik Haidar membuat wanita itu terkejut.
"Ih, Tuan Chounan kenapa sih?" tanya wanita itu bingung.
Haanish tertawa lalu mendekat bersama Callista. "Halo Tante Imel, perkenalkan wanita itu adalah Mahreen Nurmagonegov... teman kami." ujarnya.
"Dia mencium tanganku..." ujar Tante Imel masih melirik sejenak kearah Mahreen yang mendekati mereka.
"Dikiranya Tante itu Mama..." jawab Haanish.
tiba-tiba Tante Imel tertawa mengikik membuat Mahreen dan Callista bergidik. Haidar yang terganggu langsung membentak.
"Tante, hentikan tawanya!" tegur Haidar, "Kayak pundiala saja!" omelnya.
seketika Tante Imel berhenti tertawa dan menatap meteka berempat. "Nyonya Besar sudah menunggu Tuan Muda berdua bersama tamu lainnya." ujarnya kembali dengan santun dan membungkuk datar.
Haidar mengibaskan tangan, "Apaan Tante ah, pake bungkukan segala." omelnya, "Memangnya aku emperor apa?!" ujanya sambil menarik tangan Mahreen dan membawanya melangkah masuk kedalam rumah.
Tante Imel menegakkan badan dan menatap Haanish dengan heran. Haanish tersenyum dan menjawab. "Perempuan disampingnya yang membuat Chounan begitu."
seketika Tante Imel langsung senyum menyeringai memamerkan giginya yang wossi tak beraturan dan mengangkat jempol. Haanish balas mengedipkan mata, membuka mulut menggigit lidah dan mengacungkan jempol lalu melakukan toss dengan wanita itu. Callista tertawa kecil.
"Ayo masuk." ajak Haanish.
keduanya dikawal Tante Imel memasuki rumah. sementara itu Haidar yang membawa Mahreen memperkenalkan sudut-sudut ruangan tersebut hingga tak lama kemudian terdengar suara langkah yang menggema dikeheningan, mendekat dan muncullah seorang wanita parobaya berusia lima puluhan dengan gaun yang pantas dikenakan. tatapannya sangat berwibawa sehingga Haidar sendiri membungkuk datar, "Mama...." sahutnya.
Mahreen terkesiap dan langsung membungkuk datar pula. wanita itu yang tak lain adalah Inayah mengerling ke rah Mahreen.
"Siapa ini Chouji?" tanya Inayah.
Haidar tersenyum, "Mama. perkenalkan ini, Mahreen Nurmagonegov... dia Mahasiswi Student Exchange Program antara UIN Sultan Amai Gorontalo dan Rossyskiy Islamkiy Institut di Kazan, Rusia..." ujar pemuda itu dengan semangat memperkenalkan Mahreen.
sejenak Inayah terdiam dan lama menatap Mahreen membuat gadis berkerudung itu menjadi canggung. tak lama muncul Haanish dan Callista didampingi Tante Imel.
"Hai Okasan." sapa Haanish dengan senyum dan gaya santainya. Inayah menatap putra kedua mendiang suaminya itu. bibirnya tersungging senyum tipis.
"Mama kira kamu nggak akan datang. Putrinya Wie Fen Ying itu sudah berhasil membuatmu melupakan kewajibanmu sebagai putra keluarga Lasantu..." tukas Inayah membuat Haanish buru-buru mendatangi dan menggandeng Inayah.
"Mama... kok itu yang dibilang... Eiji malu dong." rajuk Haanish membuat Inayah tersenyum.
"Anak manja!" umpat Inayah kemudian tersenyum dan membelai rambut Haanish.
"Biar manja, tapi aku kan berbakti sama Mama." tangkis Haanish kemudian mencium pipi Inayah, "Aku selalu menyayangi Mama."
Inayah tersenyum mendengar gombalan putra keduanya itu. wanita parobaya itu kemudian menatapi Callista dan tersenyum, "Apq kabar Callista? bagaimana kabar Ibu dan ayahmu?"
"Alhamdulilah, baik Bunda." jawab Callista dengan senyum tenang. Inayah menatap Tante Imel.
"Mel, semua sudah siap?" tanya Inayah.
Imel tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang besar dan tak rata lalu menjawab. "Sedari tadi Nyonya."
Inayah mengangguk. "Baik. mari semuanya ke ruang makan saja." ajak wanita parobaya itu kemudian berbalik dan melangkah dengan anggun diikuti Tante Imel sebagai kepala pengurus rumah tangga, lalu keempat anak muda itu.
mereka tiba di ruang makan. dimeja yang bundar itu telah tersaji layang-loyang prasmanan yang tertutup. Inayah mempersilahkan anak-anaknya dan kedua tamu itu duduk. Tante Imel kemudian membuka penutup-penutup loyang prasmanan itu. seketika bau yang harum nan hangat menyeruak ke udara. Inayah tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih Imel." ujar Inayah dengan senyum tulus.
Tante Imel yang merasa dirinya bagai pelayan berkelas dunia kemudian menegakkan tubuh dan mengangkat dagunya. "Ada lagi yang diperlukan, Nyonya?" tanya Tante Imel dengan datar dan perbawa.
Inayah mengangguk, "Sementara ini belum."
"Baik. jika Nyonya membutuhkan saya. Saya ada diruangan saya. permisi." sahut Tante Imel kemudian membungkuk datar sejenak lalu menegakkan tubuh dan meninggalkan ruangan itu.
"Apakah dia selalu begitu?" tanya Mahreen dengan lirih kepada Haidar.
Haidar baru saja hendak menjawab ketika Haanish menyela, "Kelakuannya memang nyentrik. tapi sebenarnya hatinya baik dan setia." ujar pemuda itu. Haidar menatap Haanish dengan tajam membuat Haanish menghela napas dan mengangkat bahu. "Baik, aku tak akan menyelamu lagi."
Haidar mendengus. lalu menatap ibunya. Inayah menyunggingkan senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Chouji... berlakulah lembut pada adikmu...
Haidar menunduk. maafkan saya Ma...
Haanish tersenyum menatap saudaranya itu. rasakan kamu ditegur Mama...
Haidar menatap Haanish dan mengencangkan rahangnya. baiknya kau diam atau ku...
Haanish menjebikan bibirnya dan mengangguk-anggukkan kepala. baiklah... aku tak akan bicara lagi.
"Kalian lagi ngapain sih?" tanya Mahreen dengan lirih kepada Haidar. "Aku lihat kalian..."
"Siapa yang akan pimpin doa?" tanya Inayah menatap kedua putranya. Haanish sebenarnya hendak mengangkat tangannya, namun tatapan tajam Haidar menguapkan keinginannya ke awang-awang.
Inayah menggeleng-gelengkan kepalanya lagi. kalian kakak beradik selalu saja membuat ramai ruangan ini....
Haanish dan Haidar sejenak menatap ibunya dan memamerkan senyum seringai tulus. Inayah menghela napas lagi. Callista tersenyum menahan tawa melihat ekspresi kedua putra keluarga Lasantu itu. sedangkan Mahreen lagi-lagi hanya melongo melihat pemandangan itu.
"Ya sudah... Chouji... pimpin doanya." perintah Inayah.
Haidar tersenyum dan Haanish mencibir. pemuda itu kemudian mengangkat tangan. "Mari kita sama-sama memanjatkan rasa syukur akan rejeki kita hari ini... Al-Faatihah..." Haidar membaca keseluruhan ayat dalam surah pembuka itu kemudian membaca doa adab makan. "Alhamdulilah...." ujar Haidar mengakhiri doanya seraya mengusapkan kedua tangan diwajah.
"Itadakimaaaaasu..." seru Haanish dengan riang sambil membalikkan piring yang tertelungkup, diikuti oleh yang lainnya.
Inayah pertama membuka penanak nasi lalu menyendoknya sedikit ke piringnya, disusul Haidar yang menyendok pula nasi ke piringnya.
"Nggak usah sungkan." ujar Haidar ketika Mahreen ragu menyendok nasi. akhirnya Mahreen mengisi piringnya dengan sesendok nasi. "Kalau kurang, ditambah saja." usul Haidar dengan senyum.
"Aku nggak bicara denganmu, Eiji!" ujar Haidar dengan ketus. sejenak kemudian Haidar tersadar dan akhirnya hanya bisa menghela napas menahan kejengkelannya karena sukses diprovokasi Haanish.
giliran Haanish yang mengisi piringnya. berbeda dengan Haidar yang begitu jaim, Haanish mengisi piringnya penuh membuat Haidar berkomentar.
"Mau disimpan dimana yang lainnya?" sindir pemuda itu.
"Tenang." ujar Haanish, "Perutku masih mampu menampung satu koli nasi jika kau perkenankan."
"Dasar gembul." ledek Haidar.
"Biarin. kalau diluaran, aku nggak beginian kok." tangkis Haanish menyerahkan sendok besar kepada Callista. "Selama aku masih diberi kesempatan menikmati makanan... tentu anugerah itu tak akan kusia-siakan."
Callista hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum dan menyendok nasi ke piringnya. Inayah mempersilahkan mereka makan dengan lauk yang mereka inginkan di meja makan.
"Apakah kau berasal dari Dagestan, Nak Mahreen?" tanya Inayah tiba-tiba.
Mahreen menjeda kegiatan makannya dan menatap Inayah. "Iya. saya besar disana. tapi sebenarnya saya nggak lahir disana." Mahreen tersenyum, "Kata Papachka, saya lahir di Vladivostok, kemudian dibawa ke Dagestan dan dibesarkan disana."
Inayah mengangguk-angguk. Haidar menatap ibunya. "Kok Mama tahu dia dari Dagestan?"
"Marga Nurmagonegov sangat dikenal disana. pada masa lalu ada seorang petarung yang berhasil mengharamkan nama Rusia. ia beragama islam...." ujar Inayah sambil sesekali memasukkan makanan ke mulutnya.
"Khabib Nurmagonegov, itu adalah buyutku." jawab Mahreen.
Inayah kaget. "Wah, suatu kehormatan bagiku, salah satu anggota keluarga Nurmagonegov ada dirumahku."
"Terima kasih Ibu." jawab Mahreen.
Inayah mengibaskan tangannya. "Tak perlu memanggilku dengan sebutan Ibu. panggil saja aku, Mama... Callista saja memanggilku dengan sebutan itu dan aku tak kebetatan." ujarnya dengan senyum.
Mahreen sejenak menatap Callista. gadis itu mengangguk membenarkan. Mahreen kembali menatap Inayah. matanya mulai basah.
__ADS_1
"Terimakasih.... Mama..." ujar Mahreen.
Inayah mengangguk-angguk lalu menatap Haidar. "Mama punya usul, Chouji."
"Usul apa itu Mama?" tanya Haidar sambil terus mengunyah pelan.
"Rumah yang di Puri Manggis Residence itu disewakan saja. kau kuperintahkan pindah ke Kediaman Lasantu." ujar Inayah membuat Haanish langsung tersedak dan batuk-batuk.
"Mama... kok begitu putusannya?" protes Haanish.
"Supaya kamu nggak pakai rumah mendiang Oma sama Opa sebagai tempatmu memadu kasih dengan Denada." jawab Inayah sambil senyum menggoda.
"Kan cuma sekali, Ma..." kilah Haanish, "Nggak akan berefek buruk kok."
"Sekali, lama-lama akan kecanduan berkali-kali, Eiji." tegur Inayah. "Mama nggak mau kamu makin belok-belokan kayak ular. nggak tentu hidup kamu. ingat Eiji, hidup bukan hanya soal perempuan saja."
Haanish masih terlihat cemberut. Inayah yang tersenyum kemudian bicara lagi. "Atau Mama suruh kamu tinggal disini saja sama Mama?" pancing wanita parobaya tersebut.
Haanish terkejut dan sontak menggeleng-gelengkan kepala. "Nggak mau ah. aku rela deh tinggal sama Chouji... asal nggak di bully terus-terusan saja." jawab Haanish dengan malas.
"Kenapa kamu membantah perintah Mama, Eiji?" tegur Haidar dengan datar. "Mama itu sayang kamu. sayang kita semua. nggak ada orang tua yang akan membiarkan anak-anaknya tersesat."
"Alaa... lagakmu..." ledek Haanish, "Nggak usah sok menasihati aku deh. tanpa kau nasihatipun aku paham maksud Mama dan aku tetap sami'tu wa ati'u...." Haanish kemudian tersenyum nakal. "Kamu bicara begini kan supaya di kesan oleh Mahreen kalau kamu tuh baik, perhatian..." olok Haanish.
Haidar seketika tersedak dan terbatuk-batuk hingga buru-buru mengambil gelas berisi air dan meneguknya. Haanish tersenyum penuh kemenangan dan menatap Inayah. makasih Mama, telah membiarkanku mengalahkan Chouji...
Inayah kembali tersenyum lalu geleng-geleng kepala lagi sejenak. setelah itu ia menatap Callista.
"Mama dengar, Cholil sama papamu berada di Canberra. sampai kapan mereka disana? nggak rindu mereka sama ibumu? kasihan Kak Dewinta, ditinggal terus-terusan." ujar Inayah.
"Nggak tahu juga Ma." jawab Callista dengan tanggap. "Ramanda kalau sudah sama-sama dengan Rakanda, sudah pasti kerjanya berpetualangan terus tuh. keranjingan kisah perjalanan Tin-tin kali."
Inayah tersenyum lagi. "Kalau kamu lulus, bantu Mama kelola Buana Asparaga ya?" pinta wanita itu lagi.
Callista tertawa, "Gimana mau bantu Mama? jurusan dan prodi saya nggak linear dengan apa yang dibutuhkan Buana Asparaga Tbk. bisa-bisa yang ada malah kacau lagi.... ah, Mama ada-ada saja."
"Mama yakin, kau pasti mampu." ujar Inayah dengan tatapan yakin. "Gen Dewinta nggak mungkin nggak lari ke kamu. kita akan membuktikannya suatu saat."
"Mama kayak peramal saja." komentar Haidar. "Kompetensi itu ditentukan oleh jurusan dan program apa yang ia pilih, bukan karena bakat atau apa, Ma." sanggah lelaki muda itu tersebut.
"Arogan..." komentar Haanish.
"Diam! nggak ada urusannya sama kamu!" balas Haidar dengan membentak. Haanish hanya tersenyum saja menanggapi kemarahan Haidar.
"Kita akan membuktikannya." tukas Inayah. "Nggak selamanya kompetensi ilmiah menguasai kompetensi alamiah seseorang."
lama perbincangan itu berlangsung tanpa sadar mereka telah menghabiskan makanan. berkali-kali Haidar mengusulkan Mahreen untuk menambah makanan, namun gadis berkerudung itu menolak dengan halus.
"Mahreen..." panggil Inayah membuat Mahreen menatap wajah teduh wanita parobaya itu.
"Untuk malam ini, kau silahkan tidur disini. nanti besok, aku sendiri yang akan mengantarmu. apa kau keberatan?" tanya Inayah dengan datar.
"Tapi Ma, aku yang bawa dia kemari, kok malah..." protes Haidar.
"Kamu kembalilah ke Puri Maggis Residence dan berkemas-kemas. besok kau sudah harus menempati Kediaman Lasantu bersama Eiji." perintah Inayah. "Kau paham?"
"Paham Ma." jawab Haidar pada akhirnya. "Kalau begitu, aku permisi dulu, Ma... titip Mahreen ya?" pinta Haidar tanpa sadar.
"Lagakmu itu, kayak yang sudah nikahan saja." omel Inayah membuat Haidar terkejut dan merutuki kebodohannya sendiri sedang Haanish cekikikan melihat saudaranya diomeli ibunya. tanpa basa-basi, pemuda yang sudah kepalang malu itu langsung ngacir meninggalkan rumah.
"Ma, saya antar Callista pulang ya?" ujar Haanish.
"Hati-hatilah dijalan." pesan Inayah.
Haanish menatap Mahreen. "Nyaman-nyamankan dirimu. siapa tahu, kau kelak menempati rumah ini sebagai anggota keluarga Lasantu, kelak." goda pemuda itu membuat Mahreen tersipu.
Haanish pamit dan pergi meninggalkan ruangan sambil menggandeng Callista. sepeninggal mereka, Inayah mengajak Mahreen menaiki tangga menuju lantai dua. disana keduanya berdiri didepan sebuah kamar.
"Malam ini, kau istirahat disini." ujar Inayah, "Kita akan bicara lagi besok. ada yang penting ingin ku tanyakan padamu."
wanita itu kemudian balik meninggalkan Mahreen yang terbengong sendirian. lama akhirnya ia membuka pintu kmar itu dan masuk ke dalamnya.
__ADS_1
ruangan dalam kamar itu begitu rapi. Mahreen mendekati ranjang dan mulai menaikinya. ia tersenyum. "Mirip dengan punyaku dan Miriam di rumah."
Mahreen kemudian berbaring lalu perlahan mengatupkn kedua matanya. besok, ia harus melayani keinginan pemilik rumah itu.[]