The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 34


__ADS_3

Malam itu, menjelang subuh, Marina dan Marinka sibuk berjibaku bersama ibunya, memasak makanan khas untuk perayaan Mauluik Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa yang sementara diselenggarakan dari awal malam hingga esoknya. perayaan tersebut di Padang disebut dengan Manduobaleh.


sementara keluarga besar Williams telah mengarak tiga batang besar bungo lado yang begitu rimbunnya dengan selebaran uang kertas bernominal seratus ribuan. tak ada yang berwarna hijau apalagi ungu dan kuning atau kelabu. semuanya, ketiga batang pohon bungo lado milik mereka rimbun benar dengan dedaunan uang berwarna merah muda.


ketiga benda itu telah diletakkan ditengah ruangan dalam masjid sedang kaum urang siak dan kaum-kaum penghulu, termasuk Akram dan Ikram serta Kevin telah menyatu dengan mereka membacakan beberapa syair dalam Badikia.


lantunan-lantunan langgam dalam dzikir Badikia terdengar merdu bertalu-talu dari corong pengeras suara yang terletak diatas menara masjid. di dapur, Airina tersenyum-senyum saat memasak kuliner khas untuk persembahan jamba esok harinya, juga acara Mahanta sebagai penutup prosesi perayaan manduobaleh.



Marina melirik ibunya yang tersenyum-senyum saat memasak katupek lemang tersebut.


"Umi, kenapa sih senyum-senyum? bikin penasaran saja." colek Marina.


Airina terhenyak sesaat lalu menatap Marina yang sibuk memanggang kue bolu. sementara Marinka hanya menatapi ibunya sambil terus mengulek lapek buih. gadis itu baru saja selesai mengolah adonan godok pisang yang selanjutnya nanti diolah oleh kakaknya.


Airina kembali memusatkan perhatiannya pada kuliner yang dibuatnya. ia kembali tersenyum.


"Umi..." panggil Marina.



"Kenapa?" tanya Airina yang telah memindahkan beberapa batang bambu cina yang diisi oleh nasi pulut itu dari pembakaran. ia meletakkannya di sisi penjerangan.


"Umi kalau senyum bikin saya curiga deh." tukas Marina.



"Lho? memangnya kenapa kalau Umi tertawa?" balas Airina menatap Marina lalu Marinka yang tertawa kecil kemudian terkekeh. "Apa lagak ketawa Umi menimbulkan statement kecurigaan?"


"Ya." sahut Marina.


"Bilang saja alasannya Umi, supaya Uni nggak kepikiran terus." sambung Marinka. "Nanti dikiranya Uni, Umi lagi sedang berencana menjodohkan dia dengan lelaki bermarga Usmanov itu." goda Marinka kepada Marina.


"Hush, Marinka! apaan sih?!" sergah Marina membuat Marinka tertawa kecil lagi.


"Umi cuma ingat waktu masih muda. di Gorontalo, keluarga nenekmu juga tak pernah absen menjadi partisipan kegiatan walima." ujar Airina.


"Walima itu apa sih, Umi?" tanya Marinka.


"Weh, sama dengan acara Manduobaleh. di Gorontalo, namanya itu." sela Marina.


Marinka mengerling kearah ibunya lalu menggoda kakaknya. "Wah, rupanyo tana seberang masih la taringat di mato." goda Marinka lagi.


Marina melotot kepada Marinka membuat gadis itu langsung cekikikan. Airina mengerling ke arah Marina sejenak. gadis tertua di keluarga Williams itu langsung membuang muka, memusatkan perhatiannya ke kegiatan memasaknya.


"Jangan mengingat kenangan-kenangan dulu yang bisa menjebakmu dalam lingkaran syaithan, Rina." tegur Airina. "Chouji sudah berkeluarga. lagi pula, kedudukanmu sudah digantikan oleh Issha yang menikahi Haanish."


"Siapa yang mengingat dia, Umi?!" kilah Marina kemudian menatap Marinka, "Ini juga kecebong satu, ngungkit-ngungkit sesuatu yang nggak ada dasarnya!"


"Denai hanya mengingatkan juga sama Uni. itu si Mikail jangan disia-siakan. kasihan." sambung Marinka dengan senyum jahilnya.


"Eh, Borokokok! siapa yang pacaran sama Mikail? kenal juga belum!" elak Marina.


"Tapi, Umi lihat, anak dari Rusia itu begitu memperhatikan kamu, Rina." tukas Airina. "Umi lihat benar dia waktu itu di pestanya Issha."


"Ah, Umi jangan ngelantur bicaranya." tangkis Marina yang kemudian beralih menguleni godok pisang. "Dia itu hanya partner kerja yang tertarik dalam investasi produksi baja bersama MLt. Group. itu saja."


"Ya, semoga saja menjadi partner selamanya." ujar Marinka memanas-manasi. "Partner cinta dalam biduk rumah tangga. aaahhhhaaayyyy..."


"Inka! sekali lagi kamu..." ancam Marina.


"Rina..." tegur Airina membuat Marina tak jadi memuntahkan mitraliur ancamannya sedang Marinka tertawa seenak hatinya.


"Eh, mulutmu itu jangan dibuka lebar. bisa-bisa jigong kamu tuh jatuh ke kuliner itu dan rasanya langsung hambar." olok Marina kembali menyunggingkan senyum jahil.


"Eh, Uni, dengar ya? Inka begini-begini nggak jigongan ya. dasar kakak nggak punya pikiran kalau ngomong." balas Marinka.


"Aduuuh... kalian ini sudah tua masih juga saling bertikai." keluh Airina menyergah. "Lama-lama Umi desak sama Abi untuk segera menikahkan kalian berdua." Airina menudingkan jepitan bambu ke arah Marina. "Kau, segera undang si Mikail itu kemari!"


"Ih, Umi! kenapa sih nyinggung si Mikail lagi?!" seru Marina dengan wajah kesal. ditatapinya lagi Marinka dengan mata berkaca-kaca lalu menuding-nudingkan tangannya yang memegang spatula. "Waang! ini semua gara-gara waang!"


"Yeee.... kok nyalahin denai sih?" tangkis Marinka.


"Kamu juga Inka! Umi memang harus segera membicarakan perjodohanmu itu dengan Abi agar ia mendesak beberapa urang siak berpengaruh yang bisa mencarikan jodoh untukmu!" tandas Airina.

__ADS_1


Marina langsung bergoyang sambil menjulurkan lidah kepada Marinka yang wajahnya sudah merah. anak kedua itu langsung mengajukan aspirasinya.


"Umi jangan kuatir. Denai sendiri yang akan mencari dan Denai pastikan dia adalah jodoh yang tepat untuk denai." ujar Marinka.


Marina langsung bertepuk tangan sedangkan Airina habya tersenyum-senyum masam saja.


"Lagakmu itu Inka, mengingatkan Umi sama Issha." ujar Airina kemudian tersenyum lagi. "Tapi setidaknya, Issha sudah membuktikan kata-katanya."


"Kita taruhan Uni." tantang Inka. "Siapa yang duluan menikah diantara kita, maka yang kalah, harus menfasilitasi pesta perayaan si pemenang."


"Okey, berarti dalam hal ini, pihak MLt. Group dan Ark Industries akan melakukan pertandingan resmi. deal?!" balas Marina.


"Deal!!!" seru Marinka dengan senyum semangat.


"Waang akan menyesal!" ejek Marina.


"Sebaliknya, persiapkan saja diri Uni, yang akan disebut the next Old Lady this year!" balas Marinka.


"Dasar adik bangsat!" umpat Marina.


"Dasar Kakak Tua!" balas Marinka.


DIAAAAMMMMM.....


Airina berseru dengan pengerahan tenaga dalam. kedua anak gadis itu berhenti bertengkar dan langsung kembali menekuni pekerjaannya sementara Airina mengawasi keduanya dengan bercakak pinggang sedang kedua matanya telah memendarkan sinar kebiruan.


jurus karasu tengu no shisen....


...******...


kegiatan makan majamba berlangsung meriah di masjid. masyarakat berjubel menikmari sajian bersama. yang paling banyak diserbu pengunjung adalah barisan kuliner milik keluarga besar Williams. cita rasa kuliner mereka begitu terjamin sehingga dalam waktu singkat habis tak tersisa.


Syafira Alkatiri selalu mewanti-wanti dua mantunya, Airina dan Hayati untuk memberikan pelayanan terbaiknya dalam setiap kegiatan, apakah itu walimahan ataupun haul.


dan hasilnya sangat nampak. keluarga Williams selalu menjadi andalan para pengunjung yang ingin merasakan kuliner lokal bercita rasa internasional.


Marinka tidak ikut dalam kegiatan majamba itu. ia lebih memilih duduk tenang saja dibarisan kursi yang agak jauh dari kerumunan pengunjung masjid. penampilannya sebagai presdir Ark Industries benar-benar tak nampak karena gadis itu mengenakan pakaian jenis terusan dan bahunya dihiasi kain songket yang dijahit dengan benang emas. kepalanya dibalut kerudung panjang.


gadis itu menggenggam tepian piring yang diisi dengan beberapa potong lemang yang di beri sambal lada. ia menyampang makan dengan menggenggam ujung lemang dengan kedua jemari lentiknya lalu membawanya ke mulut untuk digigit kecil-kecil. gadis itu memang selalu membawa adab dalam pergaulan diluar lingkaran dalam keluarganya.


sedang asyiknya ia makan, terdengar sapaan dari seorang wanita. Marinka menoleh dan seketika ia melempar senyumnya yang manis itu.


"Sintia..." gumam Marinka dengan lirih. ia mengangkat tangannya dan melambai.


wanita yang menyapanya, Sintia Chaniago, datang mendekat. Marinka meletakkan piring yang masih berisi beberapa potong lemang ke sebuah meja kecil disisinya dan ia pun bangkit menyambut kedatangan wanita itu.


"Amboi, lama tak jumpa." seru Sintia sambil memeluk sahabatnya itu. Marinka balas memeluk sahabatnya dengan erat lalu melepaskannya.


"Dari mana saja? dah lama tak ketemu." tanya Marinka.


"Biasa... kerja..." jawab Sintia dengan senyumnya yang terlihat elegan.


"Beeehhh.... kerja..." olok Marinka sambil mengamati pakaian yang dikenakan sahabatnya. "Kerja apa?"


"Itu... yang biasa di laut itu, apaan?" pancing Sintia.


"Eeeehh... pelaut?" tebak Marinka.


"Iiyaaaa... pelaut, saya." jawab Sintia dengan santai.


Marinka tersenyum. "Tampang macam waang tuh pelaut?"


Sintia mengangkat alisnya sebelah. "Memang kenapa? apa hanya orang-orang Makassar saja yang bisa melaut?"


"Bukan, jangan tersinggung dulu." ujar Marinka sambil tersenyum. "Kan setahuku, pelaut itu kan orangnya besar-besar, tinggi... nah..."


"Nah apa?" tantang Sintia dengan seringainya.


"Nah, tampang waang kayak keceng begini pelaut?" tukas Marinka mengangkat alisnya.


"Nih, orang mentang-mentang sudah jadi presdir perusahaan, seenaknya ngomong." gerutu Sintia membuat Marinka tertawa kecil.


Sintia mengambil dompetnya dari dalam tas gandengnya, membuka dan merogoh sesuatu kemudian memperlihatkan kartu anggota sebuah perusahaan pelayaran komersil. Sintia berprofesi sebagai Bosun (Kepala ABK). Marinka mengambil kartu itu sejenak dan membacanya dengan cermat lalu mengembalikannya lagi kepada Sintia.


"Kalau denai tes waang soal laut, bisa?!" tantang Marinka ketika Sintia sibuk memasukkan kembali kartu anggotanya kedalam dompet.

__ADS_1


"Apa takutnya di tes sama waang sih?" balas Sintia mengangkat dagunya.


"Coba... ketika dalam pelayaran. tiba-tiba angin... taufan bertiup. bagaimana tindakan waang sebagai seorang pelaut?" tanya Marinka.


Sintia tertawa ngakak. "Kukira mau ngetes apaan. cetek segitu sih..."


Marinka mengangkat alisnya. Sintia membalasnya dengan anggukan pasti. "Benar, cetek Marinka." ujarnya yakin. "Kalau angin topan berhembus, wussss.... itu gampang, kita gerakkan cepat lempar jangkar, byuurrr... demi pengamanan, supaya kapal milik kita tidak gampang diombang-ambingkan oleh ombak yang dilanda topan."


Marinka tersenyum jahil lagi. "Kalau datang angin topan lagi... wusss wussss..."


sejenak Sintia tertegun, lalu dia pun menjawab dengan nada terprovokasi. "Denai kasih lagi byur-byur..." jawabnya tak mau kalah.


Marinka juga tak mau kalah. "Datang lagi topan nya... wuss-wusss..."


makin panas hati Sintia, menjawab lagi. "Kasih lagi byur-byur... kenapa heh?" setelah itu ia terkekeh senang.


"Sintia... kok jangkarnya banyak benar?" tanya Marinka.


"Anginnya saja nggak punya pikiran." omel Sintia membuat Marinka langsung senyum masam. Sintia lanjut menggerutu. "Angin was-wus terus... jangkar satu-satunya juga denai lempar dua kali kek, delapan kali kek... terserah denai."


Marinka tertawa kecil lagi. senang benar ia menjaili sahabatnya ini. "Waang kemana saja berlayarnya?" tanya gadis itu.


"Ooo... saya berlayarnya jauh... sampai ke Tanjung Harapan. luar negeri lho..." jawabnya dengan bangga.


"Tanjung Harapan? berarti Cape Town, dong." tebak Marinka dan langsung diangguk-anggukkan oleh Sintia.


"Cape Town itu dimana coba?" tanya Marinka menguji.


"Ih, Cape Town masa nggak tahu?" olok Sintia dengan penuh percaya diri. Marinka kembali tersenyum masam. "Nih, dari laut, teruuuusss saja ke laut."


Marinka tanpa sadar langsung tertawa. setelah itu ia sadar sendiri dan mengatur sikapnya dengan mendehem-dehem kecil.


"Ya dari laut memang terus ke laut." omel Marinka dengan senyum masam. "Maksudnya, denai tanya sama waang. Cape Town itu dimana?"


"Lah, banyak orang-orang sudah pada lewati Tanjung Harapan, nggak pernah rewel macam waang deh." gerutu Sintia.


"Denai cuma ingin tahu, Cape Town itu sebelah mana?" tanya Marinka mendesak.


"Ya Allah, sudah pernah ke Cape Town, belum?" balik tanya Sintia.


"Ya, belum lah..." jawab Marinka dengan jujur.


"Pantasan nanyain saja." olok Sintia dengan senyum meremehkan.


tentu saja Marinka langsung panas di provokasi seperti itu. dia seorang presdir Ark Industries yang cabangnya telah tersebar di empat negara maju, diremehkan oleh seorang pimpinan anak buah kapal dari sebuah perusahaan pelayaran komersial. gadis itu akhirnya terus memborbardir untuk membuktikan bahwa Sintia hanya membual. sebab perusahaan pelayaran komersil tempatnya bekerja itu hanya melayani pelayaran antar pulau di Indonesia saja, bukan ke luar negeri.


"Cape Town itu dimana?" desak Marinka terus.


"Nih, Teluk Bayur, kamu berlayar terus... pokoknya sampai deh di Cape Town. Demi Allah, bener..." jawab Sintia mati-matian sampai bersumpah segala.


"Ya, tapi Cape Town itu dimana?" desak Marinka terus. "Dimana Cape Town itu?"


"La ilaha illallaaah... Cape Town, masa nggak tahu, Marinka?" gerutu Sintia dengan geregetan saking jengkelnya didesak terus.


"Sebelah mana Cape Town itu dari Tanjung Harapan?" desak Marinka.


"Ahhh.... jadi malas bicara sama waang nih." gerutu Sintia.


"Sebelah mana Cape Town itu?!" desak Marinka lebih intens lagi. Sintia menghela napas lalu kembali menjelaskan.


"Denai nyesel ngomongin Cape Town sama waang." omel Sintia melengos, "Kebanyakan urusan waang, ahhh." desahnya dengan kesal.


"Sebelah mana Tanjung Harapan itu?" tanya Marinka lagi.


"Nih, Teluk Bayur, teruuuusss.... eh tahu nggak Ngarai Sianok?" ucap Sintia tiba-tiba.


"Kok lewat Ngarai Sianok?" tukas Marinka lagi dengan kesal.


"Waang nanya-nanyain Cape Town. denai yang naik kapal juga nggak nanya-nanyain letak Tanjung Harapan tuh dimana." omel Sintia.


Marinka langsung mengompori lagi. "Uhm, kalau Denai, Nagasaki, Moskwa, Berlin... woohhh... keliling dunia."


"Berlin itu di Belanda ya?" tebak Sintia.


"Berlin tuh di Jerman, buka Belanda." jawab Marinka sambil senyum meremehkan.

__ADS_1


"Sudah pernah ke Belanda?!" tantang Sintia yang mulai panas.[]


__ADS_2