
sesuai keinginan Sintia Chaniago. jika Puncan Karnaaq dapat mempersunting hati Marinka Williams, ia harus berlatih mengucapkan pantun.
"Kamu yakin?" tanya Puncan.
"Ya, aku yakni. hatinya akan terpaut." tandas Sintia.
"Coba... mana pantunnya?" pinta Puncan.
Sintia mulai mengingat kata demi kata untuk membuat pantun. setelah itu ia mulai melantunkannya.
"Paling enak, ngisap rokok cap Cuka." ujarnya mulai berpantun.
"Tunggu!" sela Puncan. "Mana ada rokok cap Suka?" sanggahnya. "Setahuku, rokok itu merknya Gudang Garam, Marlboro, Djarum Super..."
"Woy, ini pantun!" tandas Sintia dengan kesal.
"Ooo... kalau pantun, merk rokoknya bisa apa saja? ngarang boleh ya?" tanya Puncan sambil terkekeh.
"Iya dong. ayo ulangi lagi." perintah Sintia.
"Paling enak, ngisap rokok cap Suka." tutur Puncan.
"Dihisapnya terasa lada." sambung Sintia berpantun. Puncan langsung tertawa.
"Kok mau hisap cabai?" tukasnya.
"Rokok nggak ada rasa cabai." kilah Sintia. "Itu pantun."
"Pantunnya kok sadis begitu?" protes Puncan.
"Mau menangkan hati Marinka, nggak?!" ancam Sintia.
"Ya udah deh." gerutu Puncan dan mengeja sambungan pantunnya. "Dihisapnya berasa lada."
"Berharap menangkan hati Marinka." sambung Sintia lagi.
"Berharap menangkan hati Marinka." sambung Puncan bersemangat.
"Luarnya kecil, dalamnya legaaa..." sambung Sintia.
"Lho kok.." protes Puncan. pikiran negatifnya muncul.
"Maksudnya tuh pakaiannya. Marinka kan kecil orangnya." sela Sintia berkilah.
"Oh, kukira..." seru Puncan sambil tertawa. "Luarnya kecil, dalamnya... dalaaaaaammm..." serunya dengan tawa nakal.
"Ulangi pantunnya, ayo coba pantunnya ulangi dari pertama." pinta Sintia.
Puncan mengambil sikap. "Paling enak, ngisap rokok cap Suka.... dihisapnya terasa lada..."
"Teruskan Can..." seru Sintia dengan semangat.
"Berharap menangkan hati Marinka!" sahut Puncan dengan semangat.
"Terus..." pinta Sintia.
"Luarnya kecil, dalamnya.... luaaaasssss..." seru Puncan lalu tertawa geli.
"Dalamnya lega, kok kamu itu!!!" sergah Sintia.
"Hm?" gumam Puncan menatap Sintia.
"Ada satu lagi." ujar Sintia.
"Yang enak ya?... pantunnya miripkan dengan bambu cina!" ujar Puncan.
Sintia sejenak tersenyum lalu mulai berpantun. "Apa guna berkerudung emas"
"Itu kerudung kamu beli dimana?" tanya Puncan.
"Ini pantun..." pungkas Sintia.
"Ooo..." guman Puncan.
"Ayo eja." pinta Sintia.
"Apa guna berkerudung emas..." eja Puncan.
"Kalau tak pakai batabue." sambung Sintia.
"Batabue itu apa?" tanya Puncan.
"Itu baju kurung terusan. khas dipakai perempuan Padang." jawab Sintia.
"Apa guna lagak bundo kanduang?" sambung Sintia.
__ADS_1
"Ooo, kesitu maksudnya?" seru Puncan.
Sintia sejenak mengangguk. lalu menyambung. "Kalau banyak langgar sumbang."
Puncan tersenyum puas. Sintia mengompori lagi. "Pasti Marinka klepek-klepek..."
"Apa lagi di hujam tombak satu..." sela Puncan.
"Maati laaaa..." sela Sintia mengomel.
Puncan tertawa. setelah itu Sintia menjabarkan apa-apa yang ia lakukan agar Puncan mampu membuat Marinka takluk kepadanya.
...******...
Inayah menepati janjinya. wanita itu mengunjungi Mahreen di desanya. lebih membahagiakan Callista bahwa ternyata, sesuai ucapan Mahreen dahulu, Inayah menjadikan Salman sebagai pengawalnya.
kedatangannya ke Sade, sangat membuat Mahreen bahagia. peluk cium bercampur tangis kerinduan tercurah antara dua wanita beda usia itu.
Djalenga yang heran, kemudian mendekati Cholil. "Setahuku, Mahreen itu yatim piatu. tapi kenapa dia begitu bahagia mengetahui ibu kostnya datang?"
"Tante Iyun sudah menganggap Mahreen seperti anak kandungnya. makanya pacarmu itu segitu manjanya kepada Tante Iyun." jawab Cholil kemudian yang menepuk bahu pemuda itu. "Dan kau, berhati-hatilah. Tante Iyun itu bukan orang sembarangan. beliau adalah Wakapolda Gorontalo. sedang laki-laki kekar disana itu, pacar adikku dan dia lulusan AKPOL."
Djalenga terhenyak. tak menyangka dia bahwa wanita yang dimanjai Mahreen termasuk pejabat yang berkuasa. lelaki itu jadi canggung.
Inayah yang digelayuti manja oleh Mahreen mendatangi kepala kampung dan menyalaminya.
"Senang bisa bertemu anda Pak Datu Djatiswara." sapa Inayah. "Terima kasih, telah menjagai Mahreen untuk saya."
Djatiswara sendiri terpana dengan kecantikan wanita itu. Inayah memang telah berusia setengah abad. namun wanita itu sangat memperhatikan perawatan dirinya hingga penampilannya masih seperti wanita berusia 35 tahun. ia membalas salaman wanita itu.
"Jangan sungkan di kampung ini. Nyonya terterima sebagaimana para tamu yang lain." jawab Djatiswara dengan santun.
Callista berupaya menahan-nahan hasratnya ingin memeluk Salman. pasalnya lelaki itu masih bersikap layaknya seorang pengawal. berarti pekerjaannya belum selesai.
mereka berjalan pelan menyusuri jalanan desa yang mengarah ke Bale Bonter. Djalenga dan Cholil mengikuti dari belakang. mereka tiba di Bale Bonter, kediaman kepala kampung itu. mereka kemudian dijamu oleh penghuni rumah itu. sementara Callista menyusup mengambil tempat disisi Salman.
sementara Inayah dijamu secara istimewa oleh Djatiswara, Callista menarik tangan Salman agak menjauh dari Bale Bonter. keduanya berdiri didepan masjid.
"Ada apa waang tarik-tarik aden kesini?" tanya Salman sekilas lalu melirik lagi bale bonter.
tiba-tiba Callista maju memeluk Salman. semula lelaki itu kaget dan akhirnya tersenyum lalu balas memeluk. Callista tenggelam dalam tangis memendamkan wajah dalam pelukan opsir tersebut.
"Aden rindu ka adiek." ujar Salman pada akhirnya.
"Aku paling rindu." sedu Callista dengan pelan.
Callista tak menjawab namun semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan lelaki itu.
EHHHHEEEEMMMM....
deheman keras membuat Salman kaget dan menatap pemilik suara itu. Callista menoleh dan langsung melepaskan pelukannya. dihadapan mereka berdiri Inayah yang didampingi Djatiswara,dan Cholil.
"Bibi..." sahut Salman.
"Sudah, jangan lepaskan pelukannya. Bibi sudah sejak tadi menonton adegan romantis kalian itu." sindir Inayah dengan senyum.
Salman dan Callista hanya bisa berdiri kikuk. Inayah tersenyum menatap Djatiswara. "Anda silahkan lanjutkan kegiatan bersama Cholil dan Callista. silahkan bawa juga ajudan saya sebagai pengamanan."
"Apakah Nyonya tidak apa-apa ditinggal sendiri?" tanya Djatiswara agak kuatir.
Inayah tersenyum. "Tak apa-apa, Pak." jawab wanita parobaya tersebut. "Saya juga ingin melepas rindu dengan putri saya."
Djatiswara sejenak menatap Cholil yang mengangguk ke arahnya. kepala kampung itu akhirnya mengangguk dengan berat hati. Inayah mengangguk-angguk pelan memberikan penegasan bahwa ia ingin sendirian.
Djatiswara kemudian mengajak ketiga orang itu meninggalkan tempat itu. Inayah berbalik langkah menuju Bale Bonter. disana duduk didepan pintu, Mahreen dan Djalenga.
pemuda Sasak itu langsung berdiri melihat Inayah mendekat. wanita parobaya tersebut menatap Djalenga.
"Kamu yang bernama Lalu Djalenga?" tanya Inayah dengan datar.
Djalenga mengangguk sambil membungkuk datar. "Iya, Nyonya. saya Djalenga." jawab pemuda itu santun.
"Bisa kamu temani saya dan Mahreen jalan-jalan sekitar sini?" tanya Inayah.
Djalenga tersenyum santun dan mengangguk pula. "Dengan senang hati, Nyonya."
"Silahkan." pinta Inayah.
Djalenga berdiri didepan dan memandu Inayah yang mengajak Mahreen untuk jalan-jalan menyusuri desa tersebut. mereka bertemu dengan ibu-ibu yang sementara menenun kain. Inayah mendekati mereka dan berbincang-bincang sedikit. sebagian ibu-ibu itu melayani Inayah sedang yang lainnya melirik sesekali kepada Djalenga yang tetap berdiri diam.
Inayah menyentuh kain tenunan itu lalu tersenyum dan menatap Mahreen. "Rasve eto ne krasivo, moya doch'?" pancing wanita parobaya itu. (bukankah tenunan ini cantik, nak?)
Mahreen kaget mendengar Inayah bercakap memakai bahasa Rusia. "U kogo ty uchilsya?" tanya gadis itu dengan takjub. (Mama belajar dari siapa?)
Inayah tersenyum. "Ya dolzhen umet' ovladet' etim yazykom, chtoby luchshe uznat' svoyu doch." ujarnya dengan kalem. (Mama belajar supaya bisa ngomong akrab sama kamu.)
__ADS_1
Mahreen tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Inayah kemudian menyapu pipi gadis itu sedang para ibu-ibu yang melihatnya langsung terbawa suasana. Inayah kembali menatap kain tenunan itu. "Razve eta tkan' ne krasiva?" tanya Inayah kembali. (Bukankah kain ini cantik?)
Mahreen langsung mengangguk-angguk sambil menyusuti air matanya yang sempat jatuh. "Tak zhe krasivo, kak Mama." jawabnya lirih.
ibu-ibu itu kemudian menatap Mahreen seakan menuntutnya untuk menterjemahkan percakapan itu. Mahreen menatap para ibu itu. "Mamaku bilang, tenunan ini cantik."
ibu-ibu itu langsung mendesah lega dan mengangguk-angguk lalu berkomentar dengan bahasa Sasak. kini giliran Inayah dan Mahreen yang tak paham hingga Inayah langsung menatap Djalenga.
Djalenga langsung menjawab. "Ibu-ibu itu bilang, jika ibu hendak memuji, mestinya... membeli." ujarnya dengan malu.
Inayah tertawa. ia kemudian menatap kain itu dan ibu yang sedang menenunnya. "Berapa harga kain ini?" tanya Inayah.
ibu itu menjawab dengan bahasa Sasak dan mengansurkan tangannya melebarkan lima jemarinya.
"Lima ratus Ribu?" tebak Inayah juga mengisyaratkan jari yang sama. ibu itu mengangguk-angguk sambil tersenyum dan tetap memperlihatkan lima jarinya yang terpentang.
Inayah mengangguk-angguk. "Deal Lima Ratus Ribu." ujarnya kemudian mengeluarkan dompetnya dari tas, membukanya, dan merogoh mengeluarkan lima lembar uang seratusan ribu. uang itu diangsurkan kepada ibu penenun tersebut.
ibu penenun itu menatap Djalenga dan bercakap-cakap dalam bahasa Sasak. Djalenga kemudian menatap Inayah. "Ibu, ibu itu tanya, ini kain kalau sudah selesai, akan diantarkan kemana?" tanya Djalenga.
"Hadiahkan kepada ibumu." jawab Inayah membuat Djalenga kaget.
"Tapi, Ibu..." ujar Djalenga dengan malu.
"Jangan menolak pemberianku." ujar Inayah dengan datar. "Kau telah menjaga putriku dan melindunginya selama ini. bahkan hadiah itu belum cukup untuk membayar perbuatan kamu kepada putriku."
Inayah bangkit dan berdiri lalu melangkah menuju Djalenga dan menjajarinya.
"Terima kasih, telah mencintai putriku." ujarnya dengan lirih.
Djalenga tersenyum. "Terima kasih juga Nyonya telah percaya pada saya." jawabnya dengan lirih sambil tersenyum pada Mahreen.
"Aku belum percaya, Djalenga." tukas Inayah. "Sampai kau benar-benar menikahi putriku didepan mataku. paham?!"
Djalenga menarik napas lalu mengangguk mantap. Inayah melangkah mendahului keduanya dan melangkah santai menyusuri jalanan.
Mahreen bangkit dan mendekati Djalenga. pemuda itu langsung berdiri tegap. ia kemudian menatap ibu penenun tersebut dan bicara dalam bahasa Sasak. sang ibu penenun itu tersenyum-senyum lalu bicara lagi dalam bahasa Sasak membuat Djalenga tersipu-sipu dan segera menggandeng tangan Mahreen menjauh dari sana.
"Apa sih yang mereka bicarakan?" tanya Mahreen.
"Mereka menggodaku, saat kubilang bahwa kain tenun itu dihadiahkan Nyonya kepada Inaq." jawab Djalenga kembali tersenyum-senyum.
"Lalu, kenapa mereka senyum-senyum begitu? aku curiga." tukas Mahreen dengan wajah manyun.
"Mereka menggoda, katanya aku telah berani meminang anak orang didepan ibunya, tanpa melakukan penculikan." jawab Djalenga. "Hadiah dari Nyonya, mereka anggap seperti itu."
Mahreen langsung tersenyum mendengar jawaban itu. keduanya lalu menyusul Inayah yang sudah terlihat jauh berjalan.
...*******...
Haidar duduk santai di kursi kerjanya mengawasi kegiatan para karyawannya melalui CCTV di meja kerjanya. sesekali ia mengecek jadwal dari sekretarisnya melalui tampilan layar holografis dimeja kaca itu.
setelah memastikan semua lancar dan sesuai rencana, lelaki itu bangkit dan melangkah ke dinding kaca yang memperlihatkan lanskap Kota Gorontalo yang kini telah sarat dengan gedung-gedung pencakar langit.
kantor perusahaannya sekarang saja sudah dirombak oleh Dewinta Basumbul menjadi bangunan mirip menara yang dinamainya Menara Asparaga. lambang perusahaan Buana Asparaga Tbk nampak terpampang dipuncak menara itu.
terdengar suara deringan dari gawai yang terdapat di meja kerjanya. Haidar kembali ke meja itu dan menatapi layar holografis yang terpampang memberitahukan siapa si penghubung itu.
senyumnya tersungging melihat nama penghubung tersebut. ia mengaktifkan panggilan. dilayar itu muncul wajah yang dirindukannya.
"Eiji..." sapa Haidar.
"Halo, Chouji. wololo habarimu? o tawa' u yi'o seha-sehati." ujar si penghubung yang tak lain adalah Haanish. lelaki itu menghubunginya dari ruang kerjanya pula, Pavilyun Bando, dekat pavilyun Honmaru yang sering digunakan untuk menjamu tamu.
"Sasamawa de olemu." jawab Haidar merebahkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. "Ada urusan apa kamu menelponku?"
"Aku minta bantuanmu untuk mengurusi sidang munaqasyahku." pinta Haanish. "Kamu kan kenal siapa dosen-dosen yang berkompeten, kan? aku ingin segera menamatkan pendidikanku."
"Tentu aku akan membantumu. nanti aku hubungi pihak rektorat untuk berdiskusi dengan mereka." ujar Haidar. "Ada lagi?"
"Aku akan ke Gorontalo dan menetap beberapa hari untuk mengurus sidang munaqasyah dan wisudaku. setelah itu kembali le jepang." ujar Haanish.
"Baiklah. tenangkan dirimu. aku akan mengurusnya. kapan kau kemari?" tanya Haidar.
"Kalau memungkinkan, aku akan mempersiapkan diri dalam dua hari ini, mengurus visa dan beberapa hal lain lalu berangkat ke Gorontalo." jawab Haanish.
"Oke, persiapkan semuanya. nanti aku akan menyambutmu di Djalaluddin." ujar Haidar.
Haanish mengangguk lalu layar holografis itu menghilang. Haidar memajukan punggungnya dari sandaran kursi. ia menghubungi rektor UIN Sultan Amai Gorontalo untuk mengabarkan bahwa adiknya sudah siap mengikuti sidang Munaqasyah dan akan ke Indonesia dalam waktu dua hari ini. terlihat beberapa kali Haidar mengangguk-angguk lalu sesekali menjawab pertanyaan dari rektor. setelah itu ia mengakhiri hubungan via video call tersebut.
belum selesai Haidar menarik napas, terdengar suara sekretarisnya dari interkom.
🔊 "Pak, jam ini Anda harus segera ke Kantor Dulohupa Propinsi Gorontalo, untuk membahas planing beberapa proyek pemerintah yang dimandatkan kepada perusahaan kita."
🔊 "Aku akan segera kesana." ujar Haidar. "Kau ikut denganku!"
__ADS_1
🔊 "Siap Pak." jawab sekretaris itu.
Haidar bangkit memperbaiki kancing jasnya lalu melangkah meninggalkan meja kerja menuju pintu.[]