
semua berjalan sebagaimana biasanya. Haanish sibuk menelisik dokumen demi dokumen yang berhubungan dengan peristiwa peperangan antara jepang dengan negara-negara di asia. lelahnya terbayar dan ia menemukan berita penting tentang Mamoru Mochizuki. namun berita tentang Wie Jiao tidak ditemukannya. ia menemukan sepercik info bahwa Mamoru menikahi wanita bernama Midori Okamoto. namun asal-usul perempuan itu tidak jelas.
Haanish mencari lagi dokumen tentang Midori Okamoto, bahkan ia menghubungi dinas catatan sipil. namun tak menemukan seorang wanita bernama Midori Okamoto dalam daftar anggota keluarga Okamoto yang tersebar di jepang.
Haanish mulai ngundang kakeknya ke pavilyun. keduanya bercakap-cakap disana.
"Bagaimana? sudah kau temukan tentang buyutmu?" tanya Ryoma. Haanish mengangkat alis sebelah dan mendesah.
"Ada satu yang mengganjal hatiku." ujar Haanish kemudian menatap kakeknya, "Nama Midori Okamoto, tidak ditemukan sama sekali dalam daftar nama anggota keluarga Okamoto yang tersebar diseluruh jepang."
Ryoma Hasegawa hanya mengangguk-angguk. "Jumlah keluarga di jepang ada 290 ribu. sebagiannya merupakan nama keluarga berasal dari golongan samurai dan kuge pada jaman dulu."
"Tapi marga Okamoto, jelas bukan golongan yang dua itu." tandas Haanish.
"Kau benar." ujar Ryoma Hasegawa.
Haanish menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan. ia kembali menatap kakeknya. "Apakah aku harus ke Kediaman Mochizuki di Shiga?"
"Kesanalah..." perintah Ryoma. "Bukankah kau juga anggota keluarga Mochizuki?"
Haanish mengurut dagu sejenak. ia kemudian menatap pintu pavilyun. "Kelihatannya, aku harus ke Shiga untuk menyelidiki dokumen keluarga disana."
keduanya terdiam dalam keheningan itu.
...******...
proses lamaran telah diajukan Inayah kepada pihak keluarga Williams. Syafirah dengan tegas meminta Akram menerima lamaran itu. proses maresek dan maminang dilakukan terpadu, dilanjutkan dengan prosesi batuka tando. sebenarnya Syafira berniat menegaskan adat minang, dimana pihak perempuan yang melakukan adat-adat semacam itu. namun lagi-lagi berbenturan dengan adat gorontalo yang bersifat patriarki. akhirnya kedua keluarga sepakat mengambil jalan tengah.
Inayah telah memesan langsung cincin kawin 22 karat untuk Haanish dan Marissa. merekapun sepakat dalam prosesi baretong dan manuak hari bawa pernikahan itu akan terlaksana setelah Haanish menyelesaikan urusannya di jepang.
mulai saat itu, Marissa menjalani pingitannya. sekolahnya dialihkan secara daring setelah berkoordinasi dengan pihak sekolah.
...********...
Salman sedang membersihkan kendaraannya, mengelapnya dan membuatnya berkilau saat Callista datang bersama Mahreen ke kediaman Lasantu.
"Assalamualaikum..." sapa Callista.
Salman menghentikan kegiatannya sejenak menatap siapa tamu yang datang. ketika melihat Callista, pemuda itu buru-buru membersihkan kedua tangannya dan melangkah mendekati Callista.
"Mau ketemu Haidar?" tebak Salman.
"Mahreen yang ingin bertemu." kilah Callista, "Aku hanya menemaninya saja."
mulut Salman membulat sejenak lalu menatap Mahreen. "Tapi waang terlambat. Haidar sudah pergi. waang lihat?" tunjuk Salman ke parkiran, "Tak ada Tuatara V33K disana."
Mahreen mengamati parkiran lalu mengangguk dan menatap Salman lagi. "Perempuan beranak yang tinggal disini, sudah pindah?"
"Ooo... Aisyah?" tebak Salman lalu menggeleng. "Nggak. inyo baru saja diterima di Buana Asparaga. sekarang inyo sementara bekerja disana."
"Oh ya? kok Haidar nggak memberi tahu ya?" gumam Mahreen.
"Mungkin itu bukan hal yang penting menurutnyo." ujar Salman.
Mahreen menatap Callista. "Kamu mau ikut denganku?"
"Kemana?" tanya Callista.
"Ke Buana Asparaga Tbk." jawab Mahreen.
"Wah... nggak ah, aku kuatir nanti disangka Bundaku ngeles kuliah." tolak Callista dengan sesal.
"Kalau begitu, aku pinjam mobilmu." pinta Mahreen mengulurkan tangannya. Callista memberikan kuncinya.
"Kalau urusannya sudah selesai, jemput aku ya? kita ke rumahku, makan asinan gohu pepaya." pesan Callista.
Mahreen mengangguk lalu berbalik melangkah meninggalkan mereka berdua. terlihat kemudian mobil milik Callista yang dikendarai Mahreen melaju menyusuri jalanan.
kini tinggal mereka berdua dipekarangan itu. Salman jadi gugup. ia langsung melangkah ke beranda.
"Eh, mau kemana?" tanya Callista.
"Tunggu sebentar. duduklah disini." ujarnya menunjuk deretan kursi di beranda. pemuda itu menempelkan sidik jari ke mesin fingerprint dan membuka pintu.
Callista akhirnya melangkah pelan memasuki beranda lalu duduk disalah satu kursi. tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dan Salman muncul membawa nampan berisi segelas minuman orson dan setoples biskuit. ia meletakkan baki itu di meja dan meletakkan gelas minuman dan setoples di meja.
__ADS_1
"Silahkan dinikmati sambil menunggu Mahreen..." ujar Salman dengan senyum canggung. "Ad-aden hendak kembali membersihkan sepeda motor aden." ujarnya kemudian pamit dan melangkah kembali ke parkiran.
Callista memperhatikan Salman yang sedang membersihkan kendaraannya. sejenak ia mengambil gelas dan menyeruput isinya sedikit lalu bangkit lagi mendekati parkiran dimana Salman sedang membersihkan kendaraannya. kedatangan Callista kembali membuat pemuda itu menghentikan kegiatannya.
"Lho? kenapa kemari? nanti basah kena air." tegur Salman.
"Bosan sendirian duduk diberanda. mendingan menemani Uda saja disini." jawab Callista dengan enteng.
Salman hanya mengangkat bahu lalu kembali membersihkan kendaraannya. Callista memperhatikan pemuda itu.
"Uda hari ini masuk kerja ya?" tanya Callista berbasa-basi.
"Nggak, besok malam, baru aden masuk kantor." jawab Salman masih sibuk mengelap kendaraannya. Callista mengangguk-angguk. Salman menatap gadis itu, "Memang kenapa, Lista?"
"Nggak... cuma nanya saja." ujar Callista sambil senyum dan memperbaiki jambulnya.
Salman mengangguk-angguk pula lalu kemudian meletakkan lap kanebo di punggung tangki bahan bakar dan bangkit berdiri menatap gadis itu.
"Adiek sudah mempertimbangkan matang-matang nggak permintaan aden?" pancing Salman.
wajah Callista memerah. ia tahu arah kalimat itu. gadis itu kembali dilanda rasa gugup. ia menunduk. Salman mendekat.
"Lis... jawablah, meskipun itu tak sesuai dengan harapan aden. sebagai yang diajukan permintaan, waang bebas menentukan apakah hendak menerima atau menolak. namun jangan sekali-kali menggantung jawaban... kasihanilah aden yang jauh dirantau ini." tegur Salman kemudian mendesah sejenak dan menarik napas lagi. "Apapun jawaban adiek, akan aden junjung tinggi."
Callista memejamkan mata sejenak lalu menarik napas. akhirnya ia menegakkan muka dan menentang wajah pemuda tersebut.
"Uda ingin mendengar jawabannya sekarang?" pancing Callista. pemuda itu menarik napas dalam-dalam lalu akhirnya mengangguk.
"Aden paling nggak bisa menahan hati." jawab Salman, "Beri sajalah keputusannya sekarang Adiek." desak pemuda itu dengan senyum antara canggung, resah dan getir. "Apapun jawaban adiek, akan aden junjung tinggi... Insya Allah."
Callista menatap dalam kedua manik mata pemuda tersebut. akhirnya berujar, "Maaf Uda... aku nggak bisa..."
perkataan itu bagai godam yang menghantam permukaan hati pemuda itu. Salman terlihat lesu namun tabah. ia mengangguk-angguk paham. akhirnya pemuda itu tersenyum.
"Makasih atas jawabannya. mungkin aden memang belum ditakdirkan." ujar Salman kemudian berbalik hendak mengerjakan lagi kegiatannya saat Callista memanggilnya.
"Uda, maksud ucapan Uda tadi apa?" tanya Callista.
Salman tersenyum getir. "Sudah nyata jawaban adiek kepada aden. dalam hal ini, aden paham benar bahwa adiek tak menerima aden disebabkan alasan tertentu yang tak bisa disebutkan disini. maaf, aden telah berani menaruh hati kepada adiek tanpa persetujuan adiek."
"Maksud adiek?" tanya Salman.
"Maaf, Uda... saya nggak bisa... menolak perasaan ini... saya pun... telah cinta kepada Uda!" jawab Callista. "Namun ternyata, Uda telah salah tangkap. kalau memang Uda sudah menyerah terhadap saya... saya pun sudah mene..." ujar Callista dengan pelan namun kalimat gadis itu tak terlanjut sebab Salman langsung memegang tangan Callista dan menariknya dalam pelukan.
"Amboi, nyata benar kebodohan aden. maafkan pendek perasaan aden ini." ujar Salman terus memeluk Callista.
Callista pun akhirnya balas memeluk pemuda itu. Salman melanjutkan kata. "Duhai begini rasanya mendapatkan keberuntungan tak terhingga." gumam pemuda itu.
...*******...
Mahreen tiba di kawasan parkir kantor Buana Asparaga Tbk. ia memarkirkan kendaraan dan keluar dari sana, melangkah dengan santai menyusuri pekarangan hingga tiba di beranda. gadis itu masuk setelah menyapa satpam yang berdiri menjagai pintu kaca otomatis itu.
Mahreen berdiri di lobby dan melangkah menuju meja resepsionis. ia menghubungi salah satu karyawan disitu.
"Pak Haidar ada?" tanya Mahreen.
"Ada Bu." jawab karyawan tersebut. "Ada yang bisa dibantu?" tanya karyawan itu.
"Katakan kepada beliau, Mahreen Nurmagonegov telah berada di lobby menunggunya." ujar Mahreen.
karyawan itu mengangguk dan langsung menekan tomnol pada interkom dengan nomor sandi tertentu. tak lama kemudian terdengarlah suara.
🔊 "Kenapa Isra?" tanya suara dari loudspeaker interkom.
📞 "Anda kedatangan tamu bernama Mahreen Nurmagonegov... ia sekarang sedang menunggu bapak di lobby." jawab resepsionis itu.
🔊 "Saya segera kesana." ujar suara tersebut dan terdengar alat interkom dimatikan.
resepsionis kembali mempersilahkan Mahreen untuk duduk disalah satu sofa di lobby tersebut, menunggu kedatangan sang direktur HRD.
Mahreen mengangguk dan balik melangkah menuju salah satu sofa diruangan lobby kemudian duduk disana. tak lama kemudian lift khusus pejabat membuka dan keluarlah Haidar dari sana. ia menuju meja resepsionis.
"Mana orangnya?" tanya Haidar.
resepsionis itu sempat kaget dan langsung melihat ke arah Lobby. Haidar mengikuti arah tatapan resepsionis itu dan ia tersenyum melihat Mahreen duduk di sofa sambil melambaikan tangan ke arahnya.
__ADS_1
cepat-cepat Haidar melangkah ke sana. Mahreen bangkit dan keduanya kemudian saling berpelukan, setelah itu duduk di sofa kembali.
"Kenapa kemari?" tanya Haidar.
"Aku hanya ingin menemuimu." jawab Mahreen.
Haidar tersenyum lagi. "Kan bisa di kediaman Lasantu." ujarnya. "Bukankah kau bebas keluar-masuk kediaman itu?"
"Tapi tetap saja nggak bebas." ujar Mahreen dengan manja. "Ada perempuan itu yang mengganggu. aku tak bisa mengeksplorasikan rasa cintaku padamu."
Haidar tertawa sejenak. "Maksudmu Aisyah?" tebaknya. Mahreen spontan mengangguk-angguk membenarkan tebakan pemuda itu.
Haidar menggeleng-gelengkan kepala. "Dia nggak bakal mengganggu kita. perempuan itu tahu diri benar."
"Kamu yakin?" pancing Mahreen.
Haidar mengangguk yakin. Mahreen hanya mengangguk-angguk saja sejenak lalu meminta, "Kalau begitu... bujuk Mamachka untuk mengeluarkan dia dari kediaman Lasantu."
Haidar mengurut dagunya sejenak, kemudian ia mengangguk. "Aku akan mencoba membujuk Mama."
Mahreen tersenyum dan mendekatkan wajahnya. "Kalau kamu bisa membuatnya keluar dari kediaman Lasantu, maka aku akan memberikanmu yang lebih baik dan lebih bergairah." pancingnya membuat wajah Haidar seketika merona merah, terkenang pada pergumulan panas ditengah perairan Teluk Tomini diatas sampan.
Mahreen menegakkan tubuhnya. "Aku senang sudah bisa mengunjungimu. melihatmu selalu memberikan vitamin dalam diriku." gadis itu bangkit. "Aku pulang dulu ya... jangan lupakan permintaanku." gadis itu mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Haidar lalu melangkah meninggalkan ruangan lobby tersebut.
Haidar sendirian disana, memikirkan cara bagaimana menyingkirkan Aisyah dan putrinya dari kediaman itu, tanpa setahu ibunya.
...******...
Haanish tiba di kediaman Mochizuki di Shiga. rumah itu sudah sangat kelihatan tua dan kuno meski tetap dijaga oleh para pelayan rumah tersebut. pemuda itu disambut seorang pria yang eksentrik. ia mengenakan pakaian semi kasual sebagaimana Haanish. perbedaan usia diantara mereka mungkin terpaut dua-tiga tahun. yang unik, sebelah kanan mata lelaki itu ditempeli tsuba pedang. ia juga menjepit cerutu produk Kuba ditepi bibirnya.
"Saya pengurus kediaman ini." ujar lelaki itu. "Perkenalkan nama saya Tarozaemon Naganobu Ban."
Haanish memperhatikan bibir lelaki itu tak berhenti mempermainkan ujung cerutu itu dibibirnya. pemuda itu mengangguk.
"Saya Yoshiaki Koga Hasegawa, putra kedua Saburo Koga Mochizuki." ujar Haanish membuat pria itu langsung bersikap santun dan membungkuk dalam.
"Tuan Muda Eiji Mochizuki...." sahut Tarozaemon menyebut nama Haanish dilingkungan keluarga Mochizuki. "Selamat datang kembali di rumah anda."
Haanish tersenyum, "Terima kasih. saya hendak membicarakan sesuatu dengan tuan." ujar Haanish.
"Mari..." ajaknya memasuki kediaman tersebut.
keduanya menyusuri koridor demi koridor dan menemukan sebuah ruangan lapang. itu adalah tempat keluarga. Tarozaemon mempersilahkan Haanish duduk ditempat kehormatannya.
"Silahkan Tuan Muda." ujar Tarozaemon.
"Begini Taro..." ujar Haanish sejenak menunduk lalu menegakkan wajah lagi. "Aku punya misi menelisik kehidupan leluhurku yang bernama Mamoru Mochizuki. beliau menikah dengan seorang wanita bernama Midori Okamoto."
Tarozaemon mengangguk-angguk sementara Haanish melanjutkan kalimatnya, "Namun berkali-kali aku meneliti dokumen tentang keluarga Okamoto, aku tak menemukan satupun perempuan bernama Midori ini."
"Maksud Tuan muda, hendak melakukan penelisikan dokumen dirumah ini?" tebak Tarozaemon.
"Ya... aku harus bisa mengetahui, siapa Midori Okamoto itu. firasatku mengatakan, perempuan itu menggunakan nama samaran." tukas Haanish kemudian menatap lelaki itu. "Apakah kediaman ini memiliki ruang arsip keluarga?"
"Tentu saja." ujar Tarozaemon. "Kalau begitu, mari ikut saya." ajaknya sambil berdiri dan melangkah diikuti oleh Haanish. mereka berdua kembali menyusuri lorong dan tiba di sebuah ruangan yang penuh dengan lemari.
dalam lemari itu banyak bertumpukan perkamen-perkamen dan gulungan berisi catatan keluarga Mochizuki dari jaman Heian. di lemari satunya banyak bertumpuk map-map portofeule.
Haanish menatapi Tarozaemon. "Aku akan seharian disini. mohon jangan diganggu." pintanya.
Tarozaemon Naganobu Ban membungkuk takjim dan berbalik langkah meninggalkan Haanish diruangan tersebut. Haanish memperhatikan lemari-lemari itu dan mulai membukanya satu persatu. mulanya ia membuka-buka perkamen dan gulungan catatan keluarga. pencarian Haanish terus berlanjut membuka lemari berisi tumpukan map-map portofeule itu kemudian membawanya di meja.
Haanish mulai membuka map-map itu satu demi satu mencari kebenaran hingga akhirnya ia menemukan sebuah potret perempuan. Haanish ternganga menatap wajah dalam potret itu.
astaga!!! perempuan ini wajahnya sangat mirip dengan Denada!!! apakah perempuan ini jiao Wie, leluhur dari keluarga Wie?!
Haanish terkesiap dan tanpa sadar berteriak. "Tarooo!"
tak lama kemudian, terdengar suara langkah tergopoh-gopoh. Tarozaemon muncul dipintu.
"Ya Tuan! ada yang bisa kubantu?!" serunya dengan gugup.
Haanish mengambil potret itu dan memperlihatkannya kepada Tarozaemon. "Katakan padaku, siapa perempuan ini?!"
__ADS_1
Tarozaemon mendekat dan mencermati potret itu lalu menatap Haanish. "Tuan Muda Eiji... itu potret istri dari Tuan Mamoru Mochizuki... namanya Midori Okamoto." []