
kedua muda-mudi itu memadu kasih di pelataran Menara Limboto. sambil menatap hamparan kota Limboto dari pelataran lantai puncak menara itu, Haanish memeluk Denada dari belakang, membagi hawa hangat tubuhnya dengan tubuh kekasihnya itu.
angin malam menjelang dini hari terasa dingin. tapi bagi keduanya, tidak demikian. Haanish memicingkan mata sejenak. Denada menutup mulutnya dengan kedua tangan, menyamarkan prosesi huabu nya. rasa kantuk sedikit menggoda kedua matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Kau ngantuk?" tukas Haanish.
"Hm?" gumam Denada sejenak menoleh kearah kekasihnya lalu kembali menatap hamparan kota Limboto yang masih gemerlap itu, sebelas-dua belas dengan kembarannya, kota Gorontalo yang sekarang bagai tak pernah tidur lagi.
"Kau ngantuk?" tukas Haanish mengulangi pertanyaannya lagi. Denada hanya tersenyum sesaat lalu merapatkan tubuhnya lagi ke pelukan Haanish.
"Kamu demen dipeluk ya?" goda Haanish kemudian menghirup bau harum yang menyebar dari rambut Denada yang di shampoo.
"Dengan begitu, kau akan melindungiku dari siapapun yang akan merampasku darimu." jawab Denada.
Haanish tertawa, "Itu tak akan terjadi, selama kita saling mencintai."
Denada memutar tubuhnya menghadap Haanish, membiarkan rambut panjangnya tertiup angin malam yang kadang lembut melambai, kadang kasar menerpa.
"Apa yang akan mereka lakukan kepada Pak Rusdi ya?" pancing Denada sambil membelai rahang kekasihnya.
"Itu bukan urusan kita." ujar mereka. "Mereka mungkin akan menyelesaikan masalah itu melalui jalur kekeluargaan... atau juga menempuh jalur hukum."
"Setidaknya kita memberi dukungan moril sama Mirna, Nish..." ujar Denada dengan wajah agak sendu. "Kasihan... dia itu kan korban."
"Korban, itu kalau Mirna merasa tak terima dan melakukan perlawanan." ujar Haanish, "Tapi kan kau dengar sendiri dia ngaku diam saja dibegitukan. jadi itu bukan pemerkosaan tapi tindakan diatas dasar suka sama suka..." Haanish lalu mendekat dan berbisik lirih. "Seperti kita...." desahnya.
Denada tertawa kecil, "Ya jelas saja dia nggak melawan. orang nggak mau, dipaksa.... ya, mau..."
"Kamu mau dipaksa?" goda Haanish.
"Ah, kalau kamu, biarpun nggak memaksa juga sudah ngambil kepunyaanku." ujar Denada dengan tersipu-sipu.
Haanish tertawa sejenak lalu memeluk erat dengan lembut tubuh kekasihnya lagi.
"Saat ini, ada yang ingin kusampaikan padamu." ujar Haanish dengan wajah yang datar.
"Wuih, mulai serius nih?" goda Denada.
"Aku sejak tadi memang sudah serius." ujar Haanish sambil tersenyum lagi.
"Apanya yang mau diseriusi?" tanya Denada yang masih ingin menggoda Haanish.
"Aku disuruh Mama pergi ke Padang." jawab Haanish.
Denada terdiam untuk sepersekian detik lamanya, kemudian wanita keturunan tionghoa itu menatap kekasihnya dengan tatapan tak rela.
"Untuk apa?" tanya Denada mengerutkan alisnya.
"Mengunjungi Bibi Yuki disana." jawab Haanish.
Denada menatap Haanish agak lama, kemudian ia memutar tubuhnya kembali memunggungi lelaki itu. Haanish merasa sang kekasih seakan tak ingin merelakannya pergi.
"Aku akan cepat kembali." ujar Haanish.
"Aku hanya takut." sahut Denada.
"Apa yang kau takutkan?" tanya Haanish.
"Begitu kau pergi... mereka akan menculikku darimu." tukas Denada. alis Haanish langsung bertemu.
"Menculikmu dariku?" gumam Haanish lalu meraih dagu Denada dan menariknya ke samping agar dapat menatap pemuda itu. "Siapa yang akan menculikmu dariku?"
"Keluarga Papa..." jawab Denada. "Aku pun sebenarnya harus jujur padamu."
"Tentang apa?" tanya Haanish memicingkan mata, "Apa selama ini ada yang kau sembunyikan padaku, Denada Wie?"
Denada menghela napas. ia menunduk sesaat lalu menengadah lagi menatap hamparan kota Limboto.
"Jujur... aku, sejak beberapa hari lalu dipertemukan dengan seorang lelaki bermarga Tanoewirdja. marga tionghoanya, Tan. namanya Tan Cheng Tung, biasa dipanggil Wijaya Tanoewirdja." ungkap Denada.
Haanish melepas pelukannya dan langsung berdiri disisi Denada, menyandarkan diri pada balkon pembatas menara. ia menatap lekat wajah kekasihnya itu. Denada menatap Haanish.
__ADS_1
"Aku gamang Nish..." sambung Denada lagi dan kali ini nada suaranya terdengar bergetar. "Aku gamang tak mampu mempertahankan cinta kita. kau tak ada disisiku membelaku..."
"Jujur saja sama mereka bahwa kita berdua telah melakukan hal itu..." ujar Haanish. "Kurasa, keluarga Wie akan berpikir dua kali jika hendak mendekatkanmu dengan Wijaya Tanoewirdja dengan kondisi kamu sudah terikat denganku."
"Tapi..." keluh Denada.
"Itu cara pertama yang harus kita lakukan untuk meyakinkan mereka. perkawinan politik antara keluarga Wie dengan Tan akan terkendala disitu." ujar Haanish dengan serius.
"Aku... nggak mau kamu pergi..." ujar Denada lagi dan gadis itu mulai terisak.
"Aku harus pergi, Denada... ini perintah Mama..." ujar Haanish menegaskan tanpa memberitahu alasannya. "Kurasa aku juga nggak akan lama disana. percayalah padaku."
"Jika kau tak mampu membawaku lari dari pamanku... aku akan bunuh diri." ancam Denada dengan merajuk.
"Kok bawa-bawa acara bunuh diri segala?" omel Haanish. "Pokoknya kamu tenang saja. aku yang akan menculikmu, jika mereka tetap berkeras menikahkanmu dengan Wijaya Tanoewirdja." tandas pemuda itu, "Meski tak ada yang tersisa, terkecuali nyawamu... tetap akan ku culik."
Denada tersenyum sambil menyeka matanya yang sempat meneteskan air mata. Haanish membantu gadis itu menepiskan genangan air mata di kelopak bawah mata Denada. setelah itu, Haanish merengkuh Denada dengan lembut.
"Aku akan bertindak seperti Bu Jing Yu yang menculik Yu Chu chu, meski dia tinggal jasad." gumam Haanish memicingkan matanya lalu tersenyum sinis.
...******...
keberangkatan Haanish sudah dipersiapkan Inayah dengan baik. Dewinta langsung memerintahkan bagian operasional dan transportasi untuk menyediakan jet pribadi untuk ditumpangi oleh pemuda itu ke Padang.
"Pesawat ini tak akan landing di Bandara Udara Minangkabau, tapi akan langsung ke bandara pribadi keluarga Williams. kau menghemat beberapa ribu uang transportasi." ujar Dewinta dengan senyum.
"Ah, Tante... aku nggak bisa pesiar sejenak dong." gerutu Haanish.
"Ya, sengaja." ujar Dewinta, "Supaya kamu nggak kelayapan kemana-mana dulu. Tante juga sudah hubungi bibimu. jadi dia sudah tahu kalau kau akan datang ke sana."
Haidar yang ikut mendampingi Dewinta di lantai atap gedung Buana Asparaga Tbk sekaligus berfungsi rangkap sebagai bandara pribadi itu menepuk pundak Haanish.
"Aku nggak tahu, kenapa Mama sampai ngotot menyuruhmu ke Padang. beliau nggak bilang apa alasannya. apa kau tahu kenapa ia menyuruhmu ke Padang?" selidik Haidar.
Haanish nyaris saja menjawab jika saja ia tak teringat pesan Inayah.
Jangan sampai Chouji dan Mahreen mengetahui alasan kepergianmu. bagaimanapun, penyelidikanmu merupakan hal yang akan menentukan kehidupan mereka berdua ke depan.
"Mana aku tahu?" jawab Haanish berdalih, "Kau kan tahu seberapa misteriusnya Mama? apalagi sejak Papa wafat, Nenek dan Bapu wafat..."
"Sampaikan salamku kepada Bibi dan Paman... juga Om Ikram." ujar Haidar dengan senyum datar.
Haanish terkekeh, "Alah, bilang saja kau mau titip salam sama Marina. pake acara berdalih titip salam sama Bibi Yuki lagi." oloknya.
Haidar menghela napas dan menepuk dada Haanish dengan pelan. "Baiklah... salamku juga untuk Marina..."
Haanish tertawa. "Kamu itu, dibelakang Mahreen saja berani bilang titip salam sama Marina. coba didepan Mahreen..." tantang pemuda itu.
"Dia tak perlu tahu tentang masa laluku dengan Marina." jawab Haidar.
"Terserahmulah. itu kehidupan cintamu sendiri. mau kau jujur atau kau menyembunyikannya, semua pilihan ada pada dirimu." ujar Haanish menyindir kakaknya.
"Pergilah berangkat. penuhi tugasmu." ujar Haidar langsung mendorong Haanish ke tangga pesawat. pemuda itu kemudian masuk kedalam pesawat tersebut.
dan berangkatlah jet perusahaan Buana Asparaga Tbk itu, membawa Haanish yang hanya membawa sebuah gulungan kain yang berisi Si Penebas Angin, berkemul ketat dalam bungkusan kain itu. seperti amanat Inayah, pedang itu akan senantiasa menemani dirinya dalam setiap perjalanan dan petualangannya.
penerbangan itu memakan waktu tiga jam saja. kendaraan udara itu mendekati gedung kediaman keluarga Williams. ternyata dibelakang bangunan yang mirip istana, terdapat sebuah lapangan luas yang dilapisi ubin berharga mahal. kendaraan itu melakukan landing secara vertikal.
disana telah menunggu juga seorang wanita muda berusia dua puluh tahun, rambutnya hitam namun juga agak pirang. gayanya dikepang dua. ia mengenakan pakaian hitam-hitam dengan bawahan celana bersaku besar mirip tentara, lengkap dengan sepatu lars.
tak lama kemudian pintu pesawat membuka dan keluarlah Haanish dari sana, menenteng gulungan kain berisikan Si Penebas Angin. lelaki itu melangkah mendekati wanita berambut kepang dua itu.
"Hai... Kakak pasti, Kak Haanish..." sapa wanita itu.
"Ya, dan kamu pastilah Marinka Williams yang semasa bayi sering kugendong." balas Haanish sambil tertawa.
Marinkan tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala dengan pelan. "Kak Haanish tak pernah berubah. selalu saja tertawanya mirip Joker..." olok wanita itu lalu menyisih ke samping. "Silahkan menuju kediaman Williams."
"Ayo, pandulah kakakmu ini." pinta Haanish.
keduanya meninggalkan lapangan dan melangkah berjajar berdua menyusuri halaman luas berumput landai, dihiasi beberapa pohon Morus mocroura yang tumbuh beberapa jarak dihalaman luas berhektar-hektar itu. mereka tiba di sebuah bangunan mirip mansion.
__ADS_1
"Mari Kak." ajak Marinka.
keduanya kembali menaiki tangga dan tiba diberanda kemudian masuk kedalam bangunan. disana sudah menyambut Akram dan Airina.
"Paman... Bibi..." sapa Haanish dengan riang mendekati kedua suami istri itu.
Haanish menciumi tangan mereka. Akram tersenyum mengangguk-angguk. "Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulilah, baik Paman." jawab Haanish, "Paman juga, kan?"
Akram kembali mengangguk-angguk sambil tersenyum. Airina mendehem sejenak meminta perhatian Haanish. pemuda itu menatap bibinya. Airina menyambung.
"Bibi sudah tahu maksud kedatangan kamu kemari." ujar Airina dengan datar. "Tiga hari nanti, Marina akan mengadakan lawatan ke Rusia, mengadakan perjanjian kerjasama antara MLt. Group dengan salah satu perusahaan besar disana. kau boleh ikut dengannya sebagai dalih agar bisa melakukan penyelidikan tentang Miriam Nurmagonegov."
"Makasih Bibi." ujar Haanish.
Airina mengangguk datar. "Istirahatlah... pilihlah kamar sesukamu."
Marinka menatap gulungan panjang dalam genggaman Haanish. "Apakah itu Si Penebas Angin yang melegenda itu?"
Haanish menatap gulungan itu lalu mengulurkannya kepada Marinka. "Peganglah... rasakan bagaimana Si Penebas Angin mengenali jemari dan bau tubuhmu."
Marinka menatap takjub. "Benarkah pedang ini bisa mendeteksi penggunanya? wah mengagumkan." dengan penuh minat ia bertanya, "Bagaimana? bisakah aku membuka gulungan ini?"
Haanish membiarkan. Marinka membuka bungkusan itu dan ia terperangah ketika melihat sebuah gagang pedang itu. Marinka meraih gagang pedang itu dan menariknya dari dalam gulungan.
SRIIIINGGGGGGG.....
"Wah.... hebaaat...." puji Marinka saat memperhatikan bilahan pedang yang mengeluarkan bunyi mirip dengungan. perempuan itu menatap Haanish. "Kudengar dari Umi, kalau pedang ini digunakan oleh Mamak Tuo dalam memberantas kejahatan."
Airina hanya tersenyum datar saja menatap Akram. lelaki parobaya bercambang tebal itu hanya membalas tersenyum pula. Haanish tertawa pelan.
"Benarkah?" tanya Haanish. "Wah, pengetahuanmu tentang keluarga besar kita ternyata mendalam juga ya?"
"Tentu saja." sahut Marinka memperhatikan bilahan Si Penebas Angin yang dipoles gaya kikku-sui, serasi dengan model tsuba pedang itu bergaya kikka gata (model bunga krisan). "Pedang ini termasuk jenis pusaka, karena dilihat dari kontur-kontur bilahan pedang pastinya ditempa pada abad ke 18. kurasa ini dari jaman awal Restorasi Meiji, sebab ada pengaruh gaya gunto, atau pedang yang terpengaruh jenis pedang kavaleri Barat."
"Masih kalah dengan Honjo Masamune dan Muramasa..." kilah Haanish merendah. "Belum tentu juga dapat disandingkan dengan Golok Ailesh miliknya Haidar dan Pedang Rinjai milik keluarga kalian, sebab kedua pedang itu berasal dari sebilah pedang kembaran Goujian yang dibuat ulang oleh ayahmu."
"Ternyata pengetahuan Kak Haanish tentang keluarga besar kita, sangat mendalam juga ya?" ujar Marinka meniru lagi ucapan Haanish sebelumnya.
Haanish tertawa, "Kau meledekku, hm? dasar sepupu jail."
Marinka menyarungkannya kembali lalu menyerahkan Si Penebas Angin kepada Haanish. gadis itu tersenyum. "Kapan-kapan kita latihan pedang bersama ya?"
Haanish menatap Airina. "Bibi, bukankah Marina juga mempelajari kenjutsu aliran Koga, kan?"
"Iya, tapi entah kenapa ia memutuskan lebih mendalami taijutsu dan *tote*jutsu saja." jawab Airina.
Haanish mengangguk-angguk lalu tersenyum lagi. "Bibi dapat salam dari Chouji, begitu juga dengan Paman."
Airina tersenyum miring, "Huh, bilang saja mau sampaikan salam sama Marina. pake dalih salam sama kami saja."
Haanish tertawa, "Ternyata Bibi sepemikiran denganku." Haanish menggandeng tangan Marinka dan keduanya duduk disofa diseberang kedua laki-bini itu. "Aku pun mengatakan hal itu padanya. wajahnya langsung memerah malu."
Airina hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Anak itu... masih belum bisa dia menepiskan perasaannya?" gumam wanita itu.
"Tapi Bibi nggak usah kuatir. dia sudah punya tambatan hati yang lain." ujar Haanish.
alis Airina terangkat. "Oh ya? siapa yang berhasil membuat si hati beku itu menghangat lagi?"
"Namanya Mahreen Nurmagonegov. mahasiswi semester awal program pertukaran pelajar dari Rossiski Islamski Universitet." jawab Haanish.
"Hmm... Universitas Islam di Rusia." sahut Akram.
"Dimana itu?" tanya Airina.
"Di Tatarstan... Kazan." jawab Akram. "Masih dalam wilayah kedaulatan Republik Federasi Rusia."
Airina mengangguk-angguk lalu menatap Haanish. "Tentunya Mamamu sudah senang, Haidar dapat melupakan Marina." ujarnya dengan senyum hambar.
"Tentu saja Bibi. semoga saja begitu." sahut Haanish. "Tahukah Bibi? Mahreen bahkan diajak tinggal oleh Mama di Kediaman Ali!"
Airina terkejut sedang Akram kemudian memperbaiki duduknya, mendengar dengan penuh minat. begitu juga dengan Marinka.
__ADS_1
"Aku saja baru dapat tugas baru dari Mama... untuk menyelidiki asal-usul Mahreen" ujar Haanish, "Untuk kepentingan Haidar kedepan." pemuda itu mendekatkan wajahnya. "Kurasa, Mama akan menjodohkan mereka berdua." ujarnya dengan yakin dan mengangguk-angguk.
"Siapa yang akan dijodohkan?" tanya suara wanita, membuat mereka semua menoleh menatap pemilik suara itu.[]