The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 17


__ADS_3

malam itu, anak-anak mahasiswa berkumpul di asrama mahasiswa, beberapa meter jaraknya dari kampus II IAIN Sultan Amai Gorontalo. Haanish sebenarnya punya acara kumpul bareng saat itu. Setelah acara makan keluarga di Kediaman Ali, buru-buru ia dan Denada bertemu secara sembunyi-sembunyi disebuah tempat yang memang mereka sepakati. Haanish membawa Denada ngumpul bareng teman-temannya di asrama tersebut.


jam telah menunjukkan pukul 11 malam. sejam lagi waktu akan bergerak menuju pagi. ternyata disitu hadir juga Elvin dan istrinya, Mila. juga Rodin bersama pacarnya Freya. hanya ada seorang jomblo abadi disana, yaitu Gunadi yang gayanya kemayu. adapun Zais lagi disuruh Haanish membeli cemilan dan sekerat softdrink diwarung terdekat, sebab cemilan mereka sudah nyaris habis tadi.


"Kalian tahu nggak Mirna?" pancing Gunawan membuka percakapan lagi.


"Mirna mana Gun?" tanya Rodin.


"Itu, asisten asrama ini..." jawab Gunadi dengan gayanya yang kemayu itu. empat sahabatnya hanya mengangguk-angguk bagai burung beo saja. Gunadi menyambung perkataannya. "Makin lama, perut si Mirna makin bulat lho."


maka mulailah rasa penasaran menggelayuti pikiran mereka. Freya mendengus. "Yang benar Gun? ini bukan hoax toh?"


ditanggapi begitu, Gunadi makin menjadi-jadi, "Padahal nggak punya suami, perutnya makin lama makin besar." lelaki itu kemudian mendekatkan wajahnya kepada mereka. "Ini pasti kerjaan si Zais nih."


"Tega sekali kamu. nuduh kawan sendiri." gerutu Haanish, "Memang kamu tahu kalau dia yang melakukan?"


"Lho... aku dan dia, selain ngekost kan kerja disini juga sebagai asisten rumah tangga pemilik kost ini." jawab Gunadi, "Aku kebagian urusan-urusan luar kayak membersihkan taman, nyapu halaman... nooo.. Zais itu kerjanya bagian dalam. nyuci mobil, bantu-bantu Mirna didapur."


tatapan Haanish dan Rodin bertemu. Gunawan menyambung lagi. "Kalau Zais nggak ngaku, dia akan tahu sendiri akibatnya."


tak lama kemudian Zais muncul membawa barang-barang berisi cemilan kerupuk kentang, batagor, bakwan dan sekrat penuh softdrink. lelaki berjenggot tebal dan berkopiah putih bulat itu meletakkan semuanya di lantai.


"Rapi benar kerjamu ya?" sindir Gunawan.


"Kenapa?" tanya Zais dengan bingung.


Gunadi mengedipkan mata kepada Rodin dan Haanish lalu menggoda Zais lagi, "Kapan peresmiannya nih?"


"Apaan?" tangkis Zais tertawa, "Yang penting bagiku adalah bekerja itu harus senang. jangan cuma majikan yang senang. kita juga harus juga, senang." ujarnya tertawa. Zais membagi-bagikan semua cemilan itu merata kepada tiap orang.


"Nggak, saya itu cuma mau nanya kamu." desak Gunadi lagi. "Peresmiannya kapan?"


"Ooo... resminya mungkin.." tanggap Zais, namun dia tersadar sendiri bahwa ada sesuatu yang tak beres, "Tunggu... maksudnya apa nih?"


"Alaah pake tanya lagi." sela Rodin.


"Resminya pernikahan kamu itu kapan?" tanya Haanish.


Zais langsung garuk-garuk kepala. "Kok aku jadi bingung ini..."


"Kenapa?" tanya Gunadi.


"Lho? kita ini kan masih belajar sambil kerja." ujar Zais, "Kok nanya nikah?"


Haanish tertawa menatap Denada. Zais langsung menghardik. "Eh, kamu jangan tertawa dong." sahutnya jengkel.


"Alaah... kamu sama teman saja sembunyi-sembunyi." tukas Rodin. "Sudah... kamu harus mengaku kepada kami... yang gentle dong." oloknya.


"Kamu tuh yang harus gentle. pake dukungan teman-teman lagi." omel Zais kepada Rodin, "Kalau kamu urusan halaman ya halaman. aku urusan dalam ya , dalam. itu saja di urusin... nikah di urusin, mikir apaan kau hah?"


mereka tertawa kecil saja bikin Zais sedikit meradang. "Mau kalian apa?!"


"Alah, sama teman saja belagu, kamu!" sela Gunadi. "Kamu masih anggap aku ini temanmu, nggak?!"


"Tentu saja! bukan cuma kamu. tapi semuanya... kuanggap teman!" tandas Zais yang sudah siap pasang kuda-kuda.


"Kamu jujur sajalah." tukas Haanish. "Nanti kusumbangkan pendapatan bersihku selama tiga bulan hanya untuk pernikahanmu!"


"Apalagi situ ngomong seperti itu." balas Zais, "Wah, lebih nggak enak lagi. apaan sih?!" ujarnya mulai kesal, "Eh, aku kalau mau nikah pasti ngundang kamu semua! tapi, aku kan nggak pernah pacaran, Ya Allah..." ujarnya langsung beristighfar.


"Ooo... pacaran belum, mar..." pancing Gunadi.


"Eh nggak!!!" tandas Zais dengan marah. "Kamu jangan provokasi teman-teman dong. telelilolooo..." umpat lelaki berjenggot tebal itu.


"Terus yang sering kedapatan diruang cucian dibelakang asrama ini, berdua... siapa hayooo???" todong Gunadi dengan senyum.


"Jalan sama siapa?" tantang Zais.


"Sama Mirna..." todong Gunadi, mengedipkan mata lagi ke Rodin dan Haanish lalu mendesak Zais lagi, "Terus yang sering belanja ke Limboto**penmarket, siapa hayo?"


"Eh, itu bukan kemauan saya." tangkis Zais. "Mirna itu kalau mau belanja, banyak belanjaannya. terus majikan kita juga sering pesan supaya membantu Mirna berbelanja." Zais tiba-tiba menarik kerah kaos Gunadi, "Memang aku ngapain dengan dia ke pasar hah?!" tantang Zais tersinggung dengan tuduhan itu.


"Okelah, kalian belanja ke pasar berdua... bawaannya banyak nggak apa-apa." sela Denada.


"Tapi yang kata Gun itu, kalian ke ruang laundry berdua... ngapain saja?" selidik Freya.


Zais tersudut tapi langsung tertawa lalu menjelaskannya. "Eh, dia itu perempuan. ya jelas kerjanya nyuci pakaian lah. kan aku juga mau cuci pakaianku. aku nggak enak membiarkan dia nyuci pakaiannya majikan."


"Terus???" todong Gunadi.


"Ya akhirnya aku bantui Mirna juga mencuci pakaian." jawab Zais. Haanish dan Rodin saling pandang dan tersenyum saja.


"Mencuci... atau mencuci..." goda Gunadi.


"Kok kamu heran kalau aku mencuci?" balas Zais. "Mestinya pertanyaan kamu itu, mencuci atau terpeleset... begitu." tegurnya.


"Kalau memang sama-sama mencuci, kok kalian berdua main cubit hidung?!" todong Gunadi lagi.


"Haaaaaaaaahhhhhhahahah..." seru Rodin sambil menudingkan telunjuk ke Zais.


"Berarti... adegan cubit-cubit, kamu ngintip ya?" ujar Zais tertawa tersipu-sipu. semua tertawa melihat perilakunya. Zais kemudian menjelaskan. "Itu kejadiannya begini... waktu itu sempat lalat nempel dipipi saya... terus sebenarnya niatnya Mirna itu mau mengusir lalat itu, eh... malah tertempeleng."

__ADS_1


"Terus???" goda Gunadi lagi.


"Ya... aku terjengkang. terus begitu bangun aku mau cubit pipinya... eh, terpeleset ke hidung deh." kilah Zais dengan senyum kikuk.


"Tapi kok tubuhnya Mirna jatuhnya ke dada kamu?" selidik Gunadi. Zais jadi gelagapan.


"Eh, perkara jatuh dimana saja pasti jadi, Gun." ujar Zais dengan ketus, "Mau di dada kek, di perut kek, di kaki kek..." gerutu lelaki berjanggut itu kemudian duduk disisi Haanish. "Nggak bisa lihat orang jatuh saja kamu ini."


Haanish tertawa lalu menggeser salah satu kaleng softdrink kepada Zais. lelaki berjanggut itu meraih kaleng softdrink tersebut dan membukanya lalu meminum isinya seteguk kemudian meletakkannya lagi di meja. ditatapnya Gunadi yang masih duduk tersenyum-senyum.


"Ini kenapa sih?" tanya Zais memicingkan mata kepada Gunadi.


"Kamu tahu? masih pagi-pagi... itu Mirna sudah makan kedondong." ujar Gunadi melirihkan suaranya. "Terus nambah lagi belimbing."


"Nih orang... heran deh." gerutu Zais menatap Gunadi sambil mencomot sebiji kacang atom lalu memakannya. "Orang mau makan belimbing kek, kedondong kek, terserah... mulut itu mulutnya?!" omel lelaki itu. "Ikut campur saja urusan orang."


"Tapi..." sela Gunadi.


"Eh, enak tidak itu urusanbya, Gun. kok kamu yang pusing sih?" omel Zais.


"Kamu tahu kalau perempuan pagi-pagi sudah makan yang asam itu gejalanya apa?" todong Gunadi.


"Maksudmu?" tanya Zais.


"Mirna itu lagi mengidam, Zais." tukas Gunadi membesarkan matanya.


"Alah! nggak pake!" tandas Zais langsung berdiri. "Aku juga sering makan kedondong juga nggak ngidam-ngidam!"


"Kamu kan laki-laki, hamil dari mana kamu?!" umpat Rodin yang kesal juga menyaksikan kelihaian Zais berkelit.


"Ini Gunadi, nggak pernah lihat orang pagi-pagi makan apa, sudah pada heran duluan." protes Zais.


"Kalian percaya nggak kalau aku pernah memergoki, Mirna muntah-muntah?" pancing Gunadi menatap kesemua temannya satu persatu. "Terus aku perhatikan, dari minggu ke minggu, perutnya itu kok makin lama makin besar."


"Oke, terus kalau perutnya si Mirna jadi besar..." ujar Haanish, "Terus perut si Zais ikut juga jadi besar, begitu?"


"Aku yakin dia lagi hamil, Zais." tukas Gunadi.


"Kamu kalau ngomong tuh, yang benar dong." ujar Zais yang jadi gugup.


"Siapakah yang berbuat demikian itu?!" tukas Rodin.


"Sekarang begini deh." tandas Zais menatap Gunadi, "Kita berdua disini laki-laki, dia perempuan, kita bertiga kerja disini."


"Naaahhh..." seru Gunadi. "Mirna hamil, siapa lagi yang berbuat kalau bukan kamu?!" todongnya kepada Zais.


"Alaaah... sudah kelihatan kamu, Zais." timpal Rodin.


"Sekarang aku tahu." tukas Zais kemudian menudingkan telunjuknya kepada Gunadi. "Kamu mau cuci tangan kan?" todongnya. "Kamu mau bersihnya saja, padahal..." Zais tak melanjutkan katanya melainkan tertawa saja.


"Sekarang kutanyakan kembali padamu, Zais." ujar Gunadi dengan wajah tak puas. "Aku kerja dimana? dan kau kerja dimana?"


"Kamu bagian halaman dan aku bagian dalam rumah." jawab Zais.


"Nah, itu saja sudah cocok hipotesanya!" sela Rodin.


"Eh, nggak begitu juga dong." protes Zais. "Kalau si Gunadi mau nelge¤~÷@#%* sama si Mirna?! kan bisa jadi?!"


Haanish menatap Gunadi dengan senyuman namun tatapannya menusuk membuat Gunadi menjadi tak nyaman. ia akhirnya merubah gaya investigasinya.


"Waktu malam selasa kemaren... saat mati lampu... kenapa kamu masuk ke kamarnya Mirna?!" todong Gunadi. "Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri lho!"


"Malam selasa?" gumam Zais menatap Gunadi yang meresponnya dengan anggukan kepala berkali-kali sambil terkekeh. lelaki berjanggut itu menggerutu, "Kenapa kamu pake acara lihat-lihatan sih?!"


mereka tertawa mendengar gerutuan canggung sahabat mereka yang berpenampilan seperti kaum thaliban itu.


"Malam selasa?" tanya Zais.


"Iya! kamu masuk ke kamar Mirna kan?!" todong Gunadi.


"Tapi aku bukan punya maksud untuk begituan!" protes Zais. "Kamu kan tahu saat malam itu, listrik padam. aku sedang ambil obeng yang ketinggalan di kamarnya Mirna!"


"Kok obeng bisa ketinggalan di kamar Mirna?" tanya Denada.


"Lho? yang namanya ketinggalan, ya dimana saja maunya. mo di sawah juga ketinggalan ya ketinggalan." bantah Zais.


"Kalau sudah tahu gelap, lagi ngapain saja gelap-gelapan dikamar itu?" tukas Haanish mengerutkan alisnya.


"Ya mana aku tahu?! kan gelap kelihatannya!" bantah Zais lagi. "Lagi pula pas dia mau menjerit juga terserah dia juga. lagian yang kupegang juga kukira obeng, kok."


"Ternyata?" desak Rodin.


"Ya... obeng!" jawab Zais membuat Haanish dan Rodin langsung tertawa.


"Terus aku juga pernah lihat..." ujar Gunadi.


"Tunggu!" sela Zais, "Kok arah pembicaraannya ini ke aku terus sih?" protesnya.


"Waktu lagi diruang laundry. kalian nyuci..." ujar Gunadi.


"Ya semua orang pasti tahu kalau mencuci pakaian itu ya ditempat cucian, Gun. bukan di pasar!" omel Zais yang mulai muntab.

__ADS_1


"Kenapa itu roknya Mirna kamu singkap dari belakang?!" todong Gunadi.


"Eh, itu bukan menyingkap, tapi tersingkap." ralat Zais membetulkan kalimat Gunadi tadi. "Itu pun nggak sengaja!"


"Kamu nggak mau kan malu dikatai para tetangga disini?" pancing Freya.


"Biarin saja mereka bicara." ujar Zais tak perduli.


"Nah coba kalau mereka nyinyir : itu si Mirna hamil. kalau bukan Gunadi, pasti Zais yang melakukannya. hayo bagaimana?" todong Gunadi.


"Ya pasti kamu yang melakukannya!" tukas Zais.


"Kok jadi aku?" protes Gunadi.


"Tadi kamu bilang apa tadi?" pancing Zais.


"Maksudku... kalau bukan Zais ya, Gunadi. begitu." ralat Gunadi meralat kalimatnya tadi.


"Ah, ngeles kamu. tadi kamu yang bilang namamu duluan." ujar Zais dengan kukuh.


"Sekarang begini saja." potong Haanish kemudian menatap kedua temannya. "Siapa diantara kalian berdua yang mengaku menghamili Mirna, kusumbangkan uang semilyar untuk itu."


"Lho? kok malah jadi kita berdua yang tertuduh nih?!" protes Gunadi.


"Begini... kita akan buktikan!" ujar Haanish dengan senyum yang terlihat bengis. "Kalau ternyata Zais yang berbuat, Zais yang bertanggung jawab!"


"Saya pasti bertanggung jawab!" ujar Zais dengan tegas.


"Kalau.... Zais yang berbuat, Zais yang bertanggung jawab." tukas Haanish kembali.


"Gunadi kapan dibilangnya?" protes Zais.


"Okey." ujar Haanish. "Kalau Gunadi yang berbuat, Zais yang bertanggung jawab!"


"Ini yang bikin otakku mandeg nih!" umpat Zais dengan jengkel dibarengi tawa Denada dan Freya serta Rodin dan Gunadi.


"Gun, bawa Mirna kemari." pinta Haanish.


Gunadi langsung sigap meninggalkan tempat itu sementara Zais hanya menggerutu panjang-pendek.


"Buntalan macam begitu saja diributkan." gerutuny mengejek postur tubuh Mirna, teman mahasiswinya yang juga bekerja sebagai asisten rumah tangga di kost tersebut.


"Mending juga... wee... perempuan kayak begini, sambalnya juga pahiiit..." sambung Zais menggerutu.


tak lama kemudian Gunadi muncul bersama Mirna. tentu saja mengapa Zais menyebut mahasiswa itu seperti buntalan, sebab Mirna sudah kelihatan melar tubuhnya.


"Ada apa sih?" protes Mirna yang sementara mengucek-ngucek matanya malas, "Aku lagi tidur dibangunkan." omelnya. "Ada apa sih?" ulangnya.


"Nggak, cuma lagi ada huru-hara sedikit saja." jawab Haanish kemudian mengisyaratkan Mirna supaya mendekat. mahasiswi semester pertengahan itu kemudian mendekat disisi Haanish.


"Jangan mendekat kamu!" ujar Denada dengan ketus.


"Yeee... cemburu..." goda Rodin.


"Biarin!" jawab Denada dengan ketus lalu menatap Mirna dan mendelik. "Sudah, kamu disana saja!"


Mirna yang takut-takut akhirnya berdiri saja agak jauh. Rodin langsung menanyakan secara langsung dan menohok. "Siapa yang menghamilimu, Mirna?!"


Mirna semula terkejut, tak menyangka apa yang disembunyikannya akhirnya terjejak juga oleh dua mahasiswa itu dan akhirnya mereka semua mengetahuinya. Mitna menunduk dalam.


"Sebenarnya ini sudah lama saya pendam, kak." ujar Mirna dengan lirih.


"Sudah, sama Gunadi saja." tukas Zais, "Nanti kami semua bantu."


"Diam kau Zais! aku deg-degan nih!" sergah Gunadi.


"Jadi, yang bikin kau hamil ini siapa?" tanya Haanish. "Orang itu harus bertanggung jawab penuh kepadamu! jika Gunadi yang berbuat, dia harus..."


"Bang Gunadi nggak berbuat kak!" jawab Mirna.


semua terperangah dan giliran Zais yang menjadi gugup sementara Gunadi menari-nari sendiri mirip penari Dana-dana.


"Terus, kalau bukan Gunadi, berarti Zais dong!" tukas Rodin.


"Bukan Bang Zais juga, Kak." jawab Mirna dengan lirih.


seketika mereka merenung, saling memandang dengan heran dan sesekali mengerling ke arah mahasiswi yang gembul itu.


"Jadi siapa yang berbuat?" gumam Haanish.


"Siapa yang masuk?" tambah Rodin menatap kedua sahabatnya dengan tatapan menuduh.


"Lho? kita ini, pertahanannya ketat!" tandas Gunadi yang direspon oleh Zais dengan anggukan kepala berkali-kali lalu menatap Gunadi.


"Darimana sih? kok bisa kebobolan begini?" ujarnya lalu menatap Mirna yang masih menuduh.


"Mirna..." panggil Haanish dengan suara datar.


Mirna mengangkat wajah menatap Haanish. pemuda itu mengerahkan jurus Karasu Tengu no me. kedua matanya memendarkan berkas cahaya kebiruan. Mirna merasa jiwanya tersedot kedalam tatapan mata itu. ternyata Haanish mengerahkan ilmu hipnotis melalui jurus tersebut agar Mirna berkata jujur.


"Katakan... siapa yang menghamilimu?" tanya Haanish dengan datar.

__ADS_1


Mirna langsung menjawab, "Pak Rusdi, pemilik kost ini."[]


__ADS_2