
Djalenga mondar-mandir didepan rumahnya. Samirep hanya menatap putranya dengan bingung. Maryati berkali-kali hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Anak... jangan banyak bertimbang rasa." tegur Samirep. "Kalau kau memang cinta sama Dinara, kau kejar sudah."
"Amak, bukan itu yang jadi pikiran Tiang. soal Memari sudah Tiang pikirkan benar-benar." jawab Djalenga. "Tapi bagaimana Tiang mau memari Dinara, kalau dia justru malah diculik oleh seseorang yang tak dikenal?"
"Dan anak berpikir kalau itu laki adalah kekasih lama dari Dinara?" pancing Samirep.
Djalenga menatap ayahnya dan tanpa sadar mengangguk pelan. Samirep menatap menghela napas.
"Anak. bukankah Dinara sudah bilang dia cinta sama kau sudah. jangan ragu kau. perjuangkan cinta itu. kalau tidak, Jusri akan memandang rendah kamu." hasut Samirep.
Djalenga lama menatap ayahnya kemudian ibunya. akhirnya ia mengambil sebuah keputusan.
"Inaq, Amak... ijinkan anak pergi ke Gorontalo, menemui Dinara punya kakak." pinta Djalenga. "Anak akan membuktikan pada almarhummah ibu Inayah, kalau Anak memang serius dengan Dinara."
Samirep tersenyum dan mengangguk. "Amak selalu mengijinkan kamu untuk mengejar mimpimu, Anak. perjuangkan cintamu!"
...*******...
Djalenga terhenyak-henyak menyadari betapa asingnya ia di negeri itu. pemuda itu hanya berbekal restu orang tua, menyambangi kota yang belum pernah dijejakinya. memang, kalau soal mengembara mencari ilmu, Djalenga sudah pernah merambah Jawa dan Bali, namun Sulawesi, apalagi Gorontalo, itu masih terlalu baru bagi dia.
berbekal alamat yang pernah diberikan mendiang Inayah sebelum wafatnya, Djalenga melakukan pencarian. ia menyusuri jalanan hingga tiba di ibukota propinsi itu menggunakan jasa taksi online.
lelaki itu tiba di depan pekarangan luas kediaman Ali. sopir itu menengok.
"Yakin ini tempatnya, Pak?" tanya sopir itu sekali lagi.
Dengan wajah ragu, Djalenga kembali memandang sebuah alamat yang tertera pada layar gawainya.
"Kalau menurut alamat ini memang... tapi apakah benar ini kawasan Sapta Marga?" tanya Djalenga lagi dengan ragu.
sopir itu menatap Djalenga sejenak. ia mengulurkan tangan. "Coba saya lihat." pintanya. Djalenga menyerahkan gawainya. sopir itu menatap layar gawai itu lalu melongok keluar menatap pekarangan. ada nomor di tiang besar dekat gerbang masuk.
"Iya. ini sudah..." jawab Sopir itu menyerahkan kembali gawai itu ke tangan Djalenga.
"Berapa?" tanya Djalenga.
"Lima Ratus Ribu." jawab sopir itu dengan tenang.
Djalenga terkejut. "Pak, apa tidak mahal itu?" protesnya.
Sopir itu tersenyum. "Kalau kamu nggak mau, ya kita balik lagi ke Bandara Djalaluddin."
"Okey, okey..." ujar Djalenga kemudian merogoh dompetnya di celana. ia mengeluarkan lima lembaran uang nominal seratusan ribu. lelaki itu menyerahkannya kepada sopir itu lalu keluar dari mobil.
kendaraan itu berlalu. Djalenga kembali menatap pintu terali gerbang. penampilannya mengingatkan Djalenga akan gerbang-gerbang dari rumah-rumah gaya belanda. Djalenga menatap sebuah piranti interkom ditiang gerbang. lelaki itu mendekatinya.
Djalenga memencet tombol interkom itu. tak lama kemudian terdengar suara.
🔊 "Siapa?!" ujar suara perempuan. agak judes.
"Saya Lalu Djalenga dari Nusa Tenggara. saya mau bertemu Pak Haidar Ali." jawab Djalenga.
beberapa saat suasana terasa hening. lelaki itu menunggu respon dari orang yang berdiri didepan interkom dalam rumah.
"Bagaimana?" tanya Djalenga.
🔊 "Tunggu sebentar." jawab orang itu.
Djalenga kembali berdiri didepan gerbang. tak lama daro kejauhan, Djalenga melihat pintu rumah besar itu terbuka. seorang keluar dari sana dan melangkah santai mendekati gerbang. lelaki itu menyampirkan ranselnya berdiri menyambut kedatangan orang itu.
wanita berpakaian hitam, mengenakan apron putih mirip seorang pembantu rumah tangga gaya belanda, muncul. Djalenga mengamati wanita itu yang tak lain adalah Imelda, kepala pelayan di Kediaman Ali.
"Selamat malam Nyonya... saya..." sapa Djalenga dengan senyum dan membungkuk sedikit dalam. Imelda mendengus.
"Aku bukan pemilik kediaman itu." ujar Imelda kemudian mengamati Djalenga. "Apakah Tuan Haidar mengenal anda?"
"Saya kenal beliau biarpun belum akrab. tapi saya kenal dan dikenal pula oleh Nona Dinara..." jawab Djalenga.
"Dinara? siapa Dinara?" tanya Imelda dengan alis yang terangkat satu.
__ADS_1
Djalenga baru sadar bahwa nama Dinara belum terlalu dikenal. ia berinisiatif menyebut nama dulunya.
"Maksud saya.... Mahreen..." ralat Djalenga. "Cuma waktu pembeatan, Nyonya Inayah mengganti namanya menjadi Dinara..." jawab lelaki itu dengan tenang.
Imelda mengangguk-angguk. "Anda ditunggu. silahkan masuk." seru wanita itu maju menarik pintu gerbang yang berterali itu.
Djalenga melangkah masuk. Imelda kembali mempersilahkannya sambil memandu pemuda Sasak itu menuju kediaman. keduanya menaiki beranda dan Imelda membuka pintu.
"Silahkan Pak." ujar Imelda mempersilahkan Djalenga duduk di sofa, sementara dia sendiri kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu.
Djalenga duduk dan mengamati ruangan luas itu. nampak ia melihat deretan potret yang berdiri diatas sebuah bufet panjang. Djalenga bangkit dan melangkah menuju bufet itu. ia mengamati satu persatu potret tersebut.
sebuah deheman membuat Djalenga menghentikan aktifitasnya dan menoleh menatap pemilik suara itu. Haidar berdiri mengenakan kemeja lengan pendek dan celana panjang katun dan sepasang sepatu semi sandal membalut kakinya.
"Oh, maafkan saya Pak Haidar." ujar Djalenga kembali ke sofa dan menyalami lelaki pemilik rumah itu.
Haidar mengangguk datar lalu mempersilahkan Djalenga untuk duduk kembali ditempatnya. Djalenga kemudian duduk dan Haidar duduk pula berseberangan dengan pemuda Sasak tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu untukmu?" tanya Haidar dengan datar.
Djalenga mendehem sejenak. "Saya datang kemari juga untuk bersama-sama anda mencari keberadaan Dinara."
Haidar melengos sejenak lalu menatap Djalenga dengan sedikit memiringkan kepalanya. "Ada sebab apa kamu datang menawarkan bantuan? apa yang bisa kau bantu untuk membawa pulang Dinara? kau kira siapa yang menculiknya?"
"Siapa memang?" tanya Djalenga dengan polos.
Haidar mengencangkan rahangnya sejenak, menyadari pemuda dihadapannya memang betul-betul buta tentang jati diri wanita yang dicintainya. lelaki itu menghela napas sejenak lalu mendesah.
"Kamu punya tempat tinggal?" tanya Haidar kemudian dengan lembut.
"Oh, maaf Kakak. saya memang tidak punya tempat tinggal disini, sebab saya memang tidak punya famili disini." jawab Djalenga dengan jujur sambil tersenyum lebar.
Haidar mengangguk-angguk pelan lalu menekan bel yang terdapat ditengah meja. tak lama kemudian, Imelda muncul dan berdiri dengan gaya anggunnya dihadapan Haidar dan Djalenga yang duduk.
"Ada apa Tuan?" tanya Imelda dengan datar.
"Bibi... antarkan pemuda ini ke kamar yang berada di beranda." pinta Haidar kemudian menatap Djalenga. "Menginaplah disini. segala kebutuhanmu, akan dipenuhi. bagaimanapun, kamu pernah berbuat kebaikan terhadap keluarga kami. saya sangat menghargainya." ujar Haidar membungkukkan tubuh sedikit dalam dan meletakkan telapak tangan kanannya didada.
"Silahkan tempati kamar ini. sebentar lagi kami akan mengantarkan segala keperluan anda. mari..." ujar Imelda dengan nada formal.
Djalenga mengangguk lagi dan ia memasuki kamar itu. Imelda menjulurkan tangan menekan saklar didinding dan menyalalah lampu. Imelda membungkuk datar kearah Djalenga lalu pergi meninggalkannya sambil tak lupa menutup pintu tersebut.
Djalenga melangkah menuju ranjang kecil dan meletakkan ranselnya pada nakas disisi ranjang tersebut. tak lama kemudian terdengar ketukan dari balik pintu.
"Siapa?" seru Djalenga.
"Layanan kamar, Tuan. pesanan dari Tuan Haidar." seru seorang wanita dari balik pintu.
Djalenga bangkit melangkah menuju pintu dan membukanya. seorang pelayan muncul membawa baki berisi berbagai jenis makanan yang kemudian diletakkan di atas nakas setelah Djalenga menyingkirkan ranselnya.
"Silahkan Tuan." ujar pelayan itu membungkuk sejenak lalu melangkah pergi sebelumnya menutup pintu itu.
Djalenga menatap sejumlah piring berisi lauk dan sayur beserta centongan berisi nasi yang masih mengepulkan uap. pemuda itu kemudian melangkah mendekati nakas dan mulai mengambil piring berisi sayur kemudian menyendok nasi dan memasukkannya ke piring.
Djalenga menyantap makanan itu dengan nikmat. ia memang belum sempat makan sejak perjalanan dari Mataram ke Gorontalo melalui penerbangan. hanya sebungkus makanan ringan yang disajikan pramugari kepadanya yang menampal rasa lapar yang sempat menderanya dalam penerbangan tersebut.
setelah mengisi perutnya, pemuda itu merapikan berbagai piring itu dan mengeluarkan gawainya lalu menghubungi kedua orang tuanya.
📲 "Assalamualaikum, bagaimana kabarmu anak?" sapa Samirep.
📲 "Saya baru tiba di kediaman kakak sulungnya Dinara, Amak. sekarang saya hendak istirahat dulu sebab masih merasa jetlag tadi." jawab Djalenga.
📲 "Ah ya, kalau begitu, anak istirahat saja. nanti kabari lagi Inaq dan Amak ya? Assalamualaikum..." ujar Samirep mengakhiri percakapan seluleris itu.
Djalenga menjawab salam ayahnya lalu menonaktifkan gawai tersebut, menyimpannya dalam saku dan pemuda itu kemudian duduk-duduk sejenak ditepi ranjang melancarkan pencernaannya. setelah sekian lama ia mengutak-atik berbagai aplikasi pada gawainya, kedua matanya mulai mengantuk dan pemuda Sasak itu memutuskan tidur.
...******...
Menara Asparaga, Buana Asparaga Tbk. pukul 09.23 WITA.
Haidar duduk merebahkan punggungnya pada sandaran punggung kursi kerjanya. sementara Haanish berdiri menatap lanskap Kota Gorontalo dari dinding kaca stopsol itu. sementara Marissa duduk santai sambil sibuk bermain game online dari piranti gelang armornya tersebut.
__ADS_1
jemari Haidar mengetuk-ngetuk pelan meja kerjanya yang terbuat dari kaca termal tebal.
"Jadi, kau sempat menangkap aura milik Dinara?" pancing Haidar.
"Ya." jawab Haanish tanpa menoleh. "Tapi auranya hilang timbul dan didominasi aura makhluk lain."
"Makhluk lain?" gumam Haidar. "Apa maksudmu dengan makhluk lain?"
"Resonansi gelombang ki miliknya, mirip denganmu." jawab Haanish kemudian membalikkan tubuhnya menatap Haidar.
alis Haidar mengerut. "Sama denganku? apakah dia seorang praktisi beladiri, sehingga memiliki aura yang kuat?" selidiknya.
"Memang ada yang semacam itu." ujar Haanish. "Tapi itu bukan ki yang dipancarkan karena seseorang memiliki tenaga dalam, melainkan merupakan pancaran gelombang murni yang dimiliki oleh pengguna darah dewa sepertimu."
Haidar terhenyak dan memajukan punggungnya dari kursi lalu berdiri. "Apa? Nikolai seorang pengguna darah dewa sepertiku?" serunya dengan kaget. "Berarti selama ini, darah dewa bukan hanya satu-satunya seperti yang diduga oleh Papa saat ia menyembunyikannya."
"Kurasa begitu." ujar Haanish kemudian melangkah santai lalu duduk di sofa disisi Marissa yang masih sibuk bermain game online. "Kemungkinan Papa menerima informasi hanya dari satu pihak. beliau tidak menerima informasi secara penuh."
"Apakah kau sudah menemukan informasi lain tentang Klan Dracna?" tanya Haidar.
"Sepanjang penyelidikanku, mereka termasuk dari sekian kelompok klandestin yang beroperasi jauh sebelum kisah eksodusnya Nabi Musa dari Mesir." ujar Haanish. "Tapi kurasa penyelidikanku belum terlalu menyeluruh. apalagi sekarang aku didesak Pangeran Asahiko untuk dilantik menjadi menteri dalam kabinet pemerintahan Naikaku Sori Daijin yang baru ini."
"Memang siapa sekarang yang menjabat sebagai Naikaku Sori Daijin yang baru?" pancing Haidar.
"Shinbei Togo." jawab Haanish.
"Lalu tanggapanmu?" tanya Haidar.
"Aku menolak." jawab Haanish sembari tertawa.
"Dasar bodoh!" umpat Haidar, namun lelaki itu ikut tertawa. "Kalau kau duduk dalam kabinet, tentu kau akan lebih leluasa untuk mencari-cari informasi."
"Aku hanya meminta jabatan sebagai direktur badan intelijen dan keamanan publik, bekerja dibawah perintah Houmu Daijin, Shigeru Nakajima." jawab Haanish.
"Apakah kau tidak merasa keberatan bekerja dibawah tekanan?" pancing Haidar. "Setahuku, kau orang berpikiran bebas yang tak suka dikungkung oleh ritinitas. sebagai direktur tangan ketiga Buana Asparaga saja, kau tak pernah masuk kantor." sindir Haidar.
"Keluarkan aku dari jajaran pejabat Buana Asparaga. gantikan aku dengan orang yang lebih cakap." pinta Haanish.
"Lalu siapa yang harus ku berikan jabatan itu? kau pikir, direktur tangan ketiga itu bukan jabatan rawan? hanya kau yang ku percaya bisa memegang jabatan tersebut." kata Haidar.
"Meskipun dengan resiko aku tak pernah masuk kantor? aku sekarang tinggal di jepang, lho." ungkap Haanish sekalian memancing reaksi Haidar.
"Ya, aku tahu." tandas Haidar. "Dan aku sadar benar akan konsekuensi itu. makanya aku minta kau tetap sebagai direktur Tangan Ketiga perusahaan. kau ingat apa yang dibilang Mama kepadamu tentang kita berdua?"
Haanish tersenyum. "Kita berdua adalah dua kage yang memerintah di Konohagakure..."
Haidar menjentikkan jarinya. "Makanya... tak ada yang bisa memisahkan kita. selama kau yang memegang jabatan wakil direktur sekaligus direktur tangan ketiga, aku tak perduli kau masuk kantor atau mangkir. karena aku tahu, kau punya alasan yang sangat logis tentang hal itu."
Haanish mengangkat bahunya. "Baiklah... terserah padamu saja." jawab lelaki itu. "Oh ya, bagaimana dengan permintaanku? apa kau sudah bicarakan dengan rektor?"
Haidar bertepuk sekali. "Kebetulan. Rektor menyetujui. dalam waktu seminggu ini, kau akan menghadapi ujian munaqasyah kamu. jadi, belajarlah dengan baik!"
"Okey..." ujar Haanish.
"Sekarang kembali ke Dinara..." ujar Haidar. "Setelah kau mendeteksi dengan gelombang ki milikmu, apakah kau menemukan letak keberadaan mereka?"
Haanish justru menatap istrinya yang asyik bermain game online. Haanish bersiul membuat Marissa menatap suaminya dan menghentikan kegiatannya.
"Chouji mau tahu letak keberadaan Dinara." ujar Haanisj.
Marissa mengangguk lalu melepas sesuatu dari sarung tangan dilengan kanannya. wanita itu meletakkannya di meja. tak lama kemudian alat itu memancarkan layar holografis berbentuk bulatan bumi.
"Sesuai dengan penuturan Uda lewat transfer telepati padaku, aku kemudian menyimpulkan keberadaan Uni Dinara, berada disini." ujar Marissa kemudian menunjuk titik yang diduganya sebagai tempat persembunyian Nikolai.
"Dimana itu?" tanya Haidar.
"Gua Fingal di Pulau Staffa." jawab Marissa.
"Pulau Staffa? Skotlandia?" tanya Haidar ketika melihat titik yang ditunjukkan Marissa. "Itu adalah pulau tak berpenghuni yang berada di teluk bagian barat Pulau Mull."
Marissa mengangguk.
__ADS_1
"Tunggu..." ujar Haidar. "Bukankah, Marina tinggal di London?" []