
Callista meletakkan tiket pesawat ke Nusa Tenggara dimeja, dihadapan Mahreen. gadis itu menatap tiga lembar tiket itu sejenak lalu menatap Callista yang tersenyum-senyum sambil mengangkat-ngangkat alisnya.
"Ini apa?" tanya Mahreen.
"Kamu nggak lihat?" tanya Callista dengan heran lalu mendekat memeriksa mata Mahreen. gadis itu dengan kesal mendorong wajah sahabatnya menjauh.
"Kamu kira mataku sudah rabun? sialan Kamu!" omel Mahreen.
Callista tertawa lalu duduk disisi Mahreen. "Habisnya kamu, sudah tahu benda itu tiket, masih saja nanya apa?" olok Callista kembali tertawa.
Mahreen mendengus kesal sejenak. "Maksudku, apa tujuan kamu memperlihatkan tiket ini?" tanya Mahreen.
"Kamu mau bantu aku nggak?" tanya Callista merubah wajahnya menjadi murung. gadis itu gampang saja merubah-rubah air mukanya dan orang-orang sering tertipu. Callista pakar dalam memanipulasi perasaan orang menggunakan perawakannya. ia seorang yang berbakat dalam bersandiwara.
Mahreen langsung memegang tangan sahabatnya. "Ada apa?" tanya Mahreen.
"Aku dapat tugas penelitian. dosen aku memilihkan aku tugas yang sulit." keluh Callista.
"Tugas apa? kok tega benar dosen sama kamu? kayaknya dia naksir kamu deh, makanya ngasih tugas sulit-sulit supaya kamu keingetan terus sama dia." ujar Mahreen.
Callista menghela napas prihatin, namun sebenarnya hatinya tertawa, aaahhh cemen kamu Reen... baru ku kibuli begini saja kamu langsung klepek-klepek....
"Nggak tahu kenapa... aku dikasih tugas sama dia, ke Nusa Tenggara untuk meliput dan meneliti kehidupan kaum beragama islam waktu telu." tutur Callista dengan lesu.
Mahreen mengernyitkan alis. "Islam waktu telu?" ujarnya lirih.
Callista mengangguk. "Ya, Islam waktu telu. itu semacam aliran dalam agama islam yang mana pemeluknya hanya melaksanakan ibadah pada tiga waktu saja yaitu Subuh, Lohor dan Maghrib."
"Kok bisa begitu?" tanya Mahreen. "Aneh ya?"
"Makanya aku juga sebenarnya penasaran sih. jadi aku iyakan saja proyek itu." ujar Callista.
"Kamu sendirian kesana?" tanya Mahreen.
"Kak Cholil akan menemaniku sih. tapi, aku kan kesepian. kalau ada kamu, aku kan nggak kesepian disana. kita juga bisa menikmati alam Nusa Tenggara selama kita melakukan penelitian." ujar Callista.
"Makanya kamu menyodorkan tiga lembar tiket itu?" tanya Mahreen.
"Kak Cholil yang belikan tiga tiket itu. ia sudah membooking untuk esok." Callista lalu memegang tangan Mahreen. "Kamu mau kan pergi bersama-sama dengan kami ke Nusa Tenggara, besok?" rengek Callista memelas.
Mahreen terhenyak, " Besok?! waduh! aku nggak punya persiapan!" seru gadis itu.
"Ahhh... tenang, kamu nggak usah bawa kopor. aku sudah siapkan pakaian untuk kita berdua. toh disana, kita juga bisa belanja pakaian khas masyarakat disana. hitung-hitung meneliti sambil berwisata, enak kan?" ujar Callista menyemangati.
Mahreen menimbang-nimbang sejenak dan ia menatap lagi wajah Callista yang memelas. akhirnya Mahreen mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah... aku akan ikut bersamamu." jawab Mahreen.
"Yeeeyyy... asyiiik..." seru Callista melonjak gembira. "Aku akan memberitahu rakanda kalau begitu." ia mengeluarkan gawai dari saku tasnya dan menghubungi Cholil lewat video call.
📲 "Halo, Assalamualaikum... Kak." sapa Callista.
📲 "Ya, Wa alaikum salaam... bagaimana Ayunda? apakah Mahreen mau ikut?" tanya Cholil. wajahnya terpampang penuh pada layar gawai itu.
📲 "Ya, Kak... dia mau." jawab Callista dengan gembira.
📲 "Bagus, persiapkan semuanya saja. besok kita berangkat pakai pesawat domestik." ujar Cholil.
📲 "Tunggu, aku harus memberitahu Mamachka dulu." sela Mahreen. namun dilayar, terlihat Cholil menjentik-jentikkan telunjuknya.
📲 "Nggak perlu. aku sudah memberitahu Tante Iyun untuk meminta ijin agar kau bisa ikut dengan kami ke Nusa Tenggara... beliau setuju saja." jawab Cholil dengan senyum.
__ADS_1
📲 "Kok Mamachka langsung setuju?" tanya Mahreen dengan curiga.
📲 "Sebab yang meminta ijin adalah putra temannya yang sangat terpercaya." jawab Cholil dengan watak bangga. Mahreen dan Callista menyorakinya. Cholil tertawa sejenak lalu menyambung lagi. "Okey, aku tunggu kalian berdua di bandara Jalaluddin. ingat, jam sembilan pagi besok kita sudah harus take off."
📲 "Oke Rakanda, aku tutup dulu ya?" pinta Callista.
📲 "Oke, sampai jumpa besok." ujar Cholil.
Callista menonaktifkan panggilan lalu menyimpan lagi gawainya dalam tas. jilbaber itu menatap Mahreen.
"Oke, aku permisi dulu, nanti besok kamu aku jemput dan kita akan ke Nusa Tenggara! yeeeeaaaaa..." seru Callista bertepuk tangan lalu bangkit. "Sampai ketemu esok, sahabat cantikku." ujar Callista lalu berbalik meninggalkan Mahreen yang duduk dikursi taman itu.
Mahreen menatapi sahabatnya yang memasuki mobil dan melaju meninggalkan kediaman tersebut. gadis itu kemudian bangkit dan meninggalkan taman, memasuki rumah besar itu.
...********...
Haidar melakukan apapun yang diperintahkan ibunya. lelaki itu melaporkan pernikahannya ke KUA agar dicatatkan dan dikeluarkan Surat Keterangan berdasarkan Surat Keterangan dari pihak Kelurahan Toto, bahwa Haidar telah menikah dengan Aisyah secara siri.
Haidar sebelumnya telah diancam Inayah. jika Haidar tidak mengurus pernikahannya dalam waktu seminggu menjelang wisuda, dia akan dicoret dari tahtanya sebagai presdir Buana Asparaga Tbk berikutnya dan bisa jadi kepemimpinan akan diserahkan kepada Haanish atau Callista sebagai perpanjangan tangan Dewinta Basumbul.
Haidar anak yang patuh, bukan karena ia penakut dan pengecut, namun ia menyadari bahwa ia melakukan kesalahan yang besar jika tidak melakukan isbat nikah. hak Aisyah sebagai istrinya akan terzalimi. wanita itu tak akan bisa mendapatkan haknya sebagaimana layaknya seorang istri. tentu dia akan dianggap zalim dan tak pantas menjadi seorang pemimpin.
kabar kepergian Mahreen ke Nusa Tenggara bersama Callista dan Cholil didengarnya langsung dari Inayah yang melarangnya mengunjungi kediaman Ali sampai ia menikahi Aisyah secara resmi. Haidar juga mematuhi dan ia paham mengapa sang ibu harus setega itu kepada mereka berdua. Haidar yang sudah mengetahui asal usul Mahreen mungkin saja sudah bisa merelakan gadis itu, tapi bagaimana dengan Mahreen?
Inayah bahkan turun langsung menghubungi hakim Pengadilan Agama untuk meminta kemudahan. siapa yang tak memenuhi keinginan seorang Wakil Kepala kepolisian daerah tentang putranya? hanya dalam sehari setelah Haidar memasukkan berkas, surat keterangan isbat nikah dari Pengadilan Agama sudah terbit dan saat itu juga Aisyah secara resmi dalam hukum negara menjadi istri dari Haidar Ali Lasantu.
Aisyah tak dapat menahan air mata kebahagiaannya saat Inayah mengunjunginya di kost, menyerahkan Surat Keputusan Isbat Nikah atas nama dirinya dan Haidar.
"Setelah ini, kalian berdua lakukan resepsi. aku ingin seluruh orang-orang penting di kota Gorontalo ini tahu siapa istri dari anakku." ujar Inayah dengan datar.
"Tapi Mama... aku hanya seorang..." ujar Aisyah.
"Janda? bekas istri orang?" tebak Inayah membuat Aisyah terdiam. Inayah menghela napas. "Kenapa kamu menghina dirimu sendiri? apa yang salah dengan status jandamu? aku juga seorang janda. yang salah itu, janda gatal yang suka goda-goda lelaki milik perempuan lain... Pelakor! kamu kan bukan pelakor." ujarnya lagi.
Aisyah mengangguk-angguk sambil menunduk. tak lama kemudian pintu membuka dan Aya Sofia muncul mengenakan seragam sekolah.
"Assalamualaikum..." sapanya dan langkah anak tertahan melihat ibunya yang duduk tertunduk sambil menangis sementara dihadapan ibunya duduk seorang wanita parobaya mengenakan pakaian seragam kepolisian lengkap dengan tanda pangkat dan medali kehormatannya.
"Bunda..." sahut Aya Sofia membuat Aisyah bangkit dan melangkah menyambutnya.
"Sofi baru pulang? sudah selesai pelajarannya?" tanya Aisyah dengan lembut. Aya Sofia mengangguk lalu menatap Inayah.
"Aah... ini putrimu..." Inayah melambaikan tangan kepada Aya Sofia. "Kemarilah nak." panggilnya.
Aya Sofia menatap Aisyah. jilbaber itu mengangguk. "Itu neneknya Sofi. ayo kesana." bisik Aisyah dengan lirih.
Aya Sofia melepaskan tas dan dipegang oleh Aisyah. anak itu kemudian melangkah mendekati Inayah. wanita parobaya tersebut lalu menggapai tubuh Aya Sofia dan mendudukkan anak perempuan itu dipangkuannya.
"Waahhh... kau sudah besar..." ujar Inayah.
Aya Sofia tersenyum lebar. "Apa kabar Nenek? sehat?" sapa Aya Sofia.
Inayah melebarkan matanya dan tersenyum. "Tentu saja Nenek sehat. apa kamu pikir Nenekmu ini tidak sehat?"
"Bukan." jawab Aya Sofia. "Sofi hanya senang saja bertemu Nenek." ujarnya membuat Inayah tersenyum dan memeluk anak perempuan itu lebih intim.
"Kamu mau jadi cucunya Nenek?" tanya Inayah.
"Tentu saya mau." jawab Aya Sofia. "Siapa yang tidak mau punya nenek yang hebat seperti nenek?"
"Ah, kau memang pandai menjilat hati nenekmu ini." olok Inayah sambil mencubit pipi Aya Sofia. "Pergilah ke kamarmu sekarang. nenek masih mau bicara dengan ibumu."
__ADS_1
Aya Sofia mengangguk dan turun dari pangkuan Inayah. anak itu mengambil kembali tas sekolahnya yang menggeletak di sofa dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Inayah mengambil gawai dan menghubungi Haidar melalui video call.
📲 "Assalamualaikum... Ya Ma. ada apa?" tanya Haidar.
📲 "Ke kostnya Aisyah sekarang. cepat." perintah Inayah.
📲 "Baiklah Ma..." jawab Haidar. kontak diputuskan dan Inayah memasukkan gawainya kembali.
"Sekarang kau bahagia?" tanya Inayah.
"Maaf Ma... bahagia seperti apa yang Mama maksud?" tanya Aisyah. wanita parobaya dihadapannya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apakah selama kebersamaanmu dengan Haidar, kau merasa bahagia?" tanya Inayah.
"Aaahhh... secara jujur... perasaan itu belum menguat Ma." jawab Aisyah dengan senyum getir.
Inayah mengangguk. "Hal yang sangat wajar. bukankah Haidar adalah orang kedua yang menyentuh hatimu? mungkin masih ada sedikit rasa terhadap orang pertama."
"Mama salah paham..." tukas Aisyah sambil tersenyum. "Perasaan saya yang belum menguat bukan karena masih teringat dengan mantan suami. tapi lebih kearah belum bisa menerka dengan benar isi hati Haidar. jujur, saya sendiri sering bingung dengan sikapnya. Haidar kadang lembut dan perhatian, kadang arogannya kelewatan. tapi secara umum, dia sangat menyayangi Sofi. saya menerimanya karena dia menerima Sofi, dan Sofi juga menerimanya."
Inayah mengangguk-angguk. "Dia mirip dengan Kakek buyutnya, Adnan. tapi jika kamu sudah bisa merebut hatinya, Haidar akan lebih mencintaimu ketimbang dirinya sendiri."
"Apakah Haidar dan Haanish bersaudara kandung?" tanya Aisyah.
"Sekandung... bukan saudara kandung." jawab Inayah. "Suamiku punya tiga orang istri. Aku sebagai istri pertama melahirkan Haidar. Rosemary Hasegawa adalah istri keduanya, melahirkan Haanish... dan... Ivanka Korkov adalah istri ketiganya... melahirkan... Mahreen."
Aisyah terhenyak dengan kalimat terakhir yang dilontarkan Inayah. "Mahreen?"
Inayah mengangguk. Aisyah tersenyum bingung. "Bukankah... marganya Nurmagonegov?"
"Itu marga keluarga asuhnya." jawab Inayah. "Nanti, setelah kau menjadi bagian dari keluarga Lasantu... kau akan mengetahui lika-liku keluarga kami."
"Apakah Mama tidak cemburu dengan dua orang madu disisi Mama?" tanya Aisyah.
Inayah tersenyum. "Kamu itu bertanya atau menginterogasi?" olok Inayah membuat Aisyah hanya bisa tersipu-sipu. "Heran... kok aku yang orang nomor dua dijajaran kepolisian daerah, kok ditanyai macam-macam oleh menantuku sendiri."
"Kalau Mama tak berkenan menceritakannya... saya juga tak memaksa." ujar Aisyah.
Inayah mengangguk-angguk lalu menjawab. "Selir yang tinggal bersamaku hanyalah Rosemary Hasegawa, sedangkan Ivanka Korkov ditinggalkan suamiku di Rusia. aku sendiri mengetahui keberadaan Mahreen setelah diberitahukan suamiku sebelum ia berangkat ke Transylvania, hendak bertarung dengan Sergey Basarab. itulah sebab mengapa aku meminta anak itu tinggal bersamaku di kediaman Ali karena sesuai dengan pesan mendiang suamiku bahwa aku harus menjagai putra-putrinya... bukan Haidar seorang."
"Apakah Nyonya Rosemary tidak menimbulkan gangguan bagi anda?" selidik Aisyah.
"Menurutmu?" pancing Inayah.
"Saya nggak akan sekuat Mama. saya bisa saja melabrak Haidar dan perempuan lain itu. saya tak suka dimadu." jawab Aisyah.
"Setiap wanita memiliki prinsip-prinsip sendiri." ujar Inayah. "Aku hidup bersama selirku seperti kakak beradik. Rosemary bahkan menganggapku sebagai kakak perempuannya dan sering bermanja denganku...." Inayah kembali menerawang. "Memang... kalau sudah tiada... baru terasa... sungguh, hingga saat ini, aku sangat merindukan perempuan itu... ia seperti adik perempuan yang tak kumiliki..." Inayah menatap lagi Aisyah. "Aku hanya ingatkan satu hal kepadamu..."
"Apa Mama?" tanya Aisyah.
"Putra-putri keturunan Adnan Lasantu memiliki kutukan sekaligus anugerah.... yaitu sifat flamboyan yang membuat mereka memiliki pesona mirip Nabi Yusuf dan Ratu Zulaikha... jika kau tak mampu menjaga diri Haidar, setidaknya kau genggam hatinya... agar jika ia terpaksa harus mendua... hatinya tetap terpaut kepadamu." ujar Inayah.
"Tapi Ma... aku tak sanggup diduakan." protes Aisyah.
"Kau harus siap... tapi jangan bersikap paranoid.... Haidar paling tidak suka di intimidasi... dalam darahnya mengalir sifat seekor singa. itulah mengapa... aku memesan kepadamu. jika kau tak sanggup mempertahankan tubuhnya disisimu, maka genggamlah hatinya agar selalu terpaut kepadamu. lahirkan keturunannya, maka ia tak akan bisa melepaskan tanggung jawabnya darimu... Haidar sama liarnya seperti almarhum papanya. dia seorang petarung, juga seorang yang memiliki aura penguasa..." tutur Inayah.
"Mama benar..." sela Aisyah sambil tersenyum. "Kadang dikala kesal dan terkadang ingin membantahnya, aku tak mampu... entah mengapa suaranya seakan mengandung sabda yang harus kulakukan.... Haidar memang memiliki aura penguasa..." wajah jilbaber itu menjadi murung. "Tapi, bagaimana jika dia mengatakan hendak mendua... bahkan ia pernah mengatakan hendak memperistri Mahreen..."
"Tapi anak itu sudah tahu kalau Mahreen ternyata adik kandungnya." ujar Inayah.
"Tapi.... bagaimana jika ada wanita lain yang hendak..." keluh Aisyah.
__ADS_1
tiba-tiba pintu membuka dan Haidar langsung masuk. "Apa kau pikir perempuan lain gampang mengetuk hatiku?!" sergah Haidar membuat Aisyah terlonjak kaget sedangkan Inayah hanya menatap putranya.
pintu kamar membuka dan Aya Sofia muncul. ia menatap Haidar dan senyumnya terkembang.[]