The Blood Of God

The Blood Of God
ALONE # 04


__ADS_3

ketiga orang itu melayang bebas di udara. dibawah mereka nampak pulau Staffa seakan menanti ketiga lelaki itu mendarati punggungnya.


kanopi yang menggantung bergetar keras menahan udara. begitu jarak antara perairan dan udara berkisar seribu meter, Haidar dengan cekatan membuka ransel parasut membiarkan dirinya jatuh.


Haidar bersalto diudara memposisikan dirinya dengan gaya menukik burung alap-alap yang akan hendak menangkap ikan.


"Hei, aku juga ikut!" seru Haanish yang masih berada dalam ketinggian seribu lima ratus meter langsung membuka ransel parasutnya.


kini kedua meluncur deras menuju perairan. Djalenga yang melihat keduanya meluncur bebas tanpa parasut langsung menghubungi.


"Kakak berdua! apa yang kalian lakukan?!" seru Djalenga sambil memencet tombol pada piranti minset yang terpasang di telinganya.


"Diam kamu! ini urusan kakak beradik!" sembur Haanish dengan keras beradu dengan berisiknya suara angin yang menerpa pelantang kecil pada earphonenya. "Kamu mendarat didataran saja. kami akan menyusup lewat perairan!"


akhirnya kedua lelaki meluncur memasuki perairan dan mengambil keseimbangan sedikit dalam air kemudian berenang naik ke permukaan. hanya Djalenga yang mendarat dengan bagus didataran pulau itu.


kepala Haidar dan Haanish menyembul dipermukaan air. Haidar menatap adiknya.


"Kenapa ngana ikut-ikutan terjun ke air?" tegur Haidar.


"Ya suka-suka ana lah. badan, juga badannya aku!" balas Haanish dengan ketus.


"Kau membiarkan Djalenga sendirian menyusuri pulau." ujar Haidar lagi.


"Biarkan saja." balas Haanish dengan enteng. "Itu juga sebagai ujian baginya. apa dia benar-benar serius mencari dan menemukan Dinara atau nggak."


Haidar diam sejenak lalu menatap dan mengamati pulau. "Kelihatannya sunyi."


"Kurasa mereka mulai membuat jebakan untuk kita." komentar Haanish.


"Aku merasakan keberadaan Nikolai ditempat ini." ujar Haidar. "Ia masih disini."


"Ya sudah! ayo!" ajak Haanish menyelam lagi.


Haidar mengikuti. keduanya menyelam dalam jarak saling mengawasi. Haanish menyelam lebih dulu didepan sebagai pengintai sedang Haidar dibelakang mengikuti arah penyelaman.


sesekali Haanish menyembul ke atas untuk mengambil napas dan memastikan keadaan. mereka telah berada dimulut gua fingal. Haidar muncul menyusul.


"Lihat... itu gua katedral." ujar Haanish menunjuk moncong gua. Haidar mengerutkan alis.


"Gua kok dibilang katedral? apa gua ini pernah dijadikan tempat ibadah oleh kau kristen skotlandia?" tanya Haidar.


Haanish tak menjawab. ia memilih berenang dengan senyap sambil mengamati sekitaran. tak lama kemudian terdengar suara Djalenga.


🎧 "Disini Djalenga. saya mendarat dibagian dataran tepat diatas gua Fingal. apa yang harus ku lakukan?" tanya Djalenga.


Haanish menekan tombol pada minsetnya.


🎧 "Bukankah Abi mendesain beberapa piranti pada helm maskermu itu?" tegur Haanish dengan ketus. lelaki itu masih tetap berenang diikuti Haidar. keduanya tiba ditepian gua bagian luar.


🎧 "Coba gunakan radar dan tangkapan kontur dataran dikacamata yang diberikan Abi padamu. lalu kombinasikan dengan aplikasi laser sensorik untuk mendeteksi panas tubuh makhluk." usul Haanish.


🎧 "Baik. terima kasih Kakak. akan saya laksanakan." ujar Djalenga kemudian mengakhiri percakapan.


Haanish menggapai tepian yang menjorok ke depan dan memanjatinya. Haidar mengikuti. kedua bersaudara itu kini duduk sejenak untuk mengeringkan pakaiannya.


Haidar mengaktifkan sel-sel darah dewa dalam dirinya jnyuk menciptakan panas tubuh yang kuat. nampak uap mengepul deras mengaburkan pandangan. tak lama kemudian kepulan uap mirip kabut itu menghilang dan Haidar berdiri dengan tegak kaki membuka. pakaiannya benar-benar kering.


"Sialan, kau curang, menggunakan darah dewa untuk hal remeh semacam itu." tukas Haanish. "Tapi nggak apa. aku juga bisa kok. mau lihat?"


"Coba!" tantang Haidar.


Haanish memusatkan konsentrasi dan mulai mengumpulkan ki pada wilayah tantian. lelaki itu kemudian berdiri siap dengan posisi kaki gaya heisho dan kedua tangan terpentang ke bawah lalu mengarah ke wilayah dada. jemarinya membentuk mudra kongoshi-in atau Taisaku. Haanish merapal mantra.


"Bismillahi la ilaha illa Allahu Subhanahu wa Ta'ala Shohibul Quwwah Al-Adzhima...." seru Haanish.


seketika Haidar melihat tubuh lelaki itu mengeluarkan uap yang makin lama berkepul-kepul dan memenuhi ruangan bagian luar gua itu. hingga akhirnya prosesi pengeringan tubuh itu selesai dan Haanish kembali ke posisi shizentai sambil membuang napasnya yang mengeluarkan uap pula bagai naga.


FOOOOOOOOSSHHHHHH......


"Mantap Coy." puji Haidar.


"Ayo." ajak Haanish.

__ADS_1


"Tunggu..." cegah Haidar sembari memegang pundak adiknya.


Haanish menahan langkah dan menatap malas kepada kakaknya. "Apa lagi sih?" tanya lelaki itu memelas.


"Katamu ini katedral, apa nggak najis kita masuk kesana?" tanya Haidar dengan wajah heran.


Haanish memutar bola matanya dan mendesah lalu menjawab. "Itu cuma anggapan orang-orang saja. nggak ada ibadah kristen disini. ini gua biasa."


"Tadi katamu ini katedral." tukas Haidar.


"Anggapan orang. tahu nggak anggapan orang?" jawab Haanish dengan kesal. "Itu hanya anggapan Sir Joseph Banks saja saat ia menemukan gua ini pada tahun 1772, sebab gua ini selalu mengeluarkan bunyi-bunyi mirip melodi yang disebabkan oleh deburan ombak yang mengenai dinding gua. coba dengar..."


keduanya lalu diam mengamati apa yang dikatakan Haanish. tak lama kemudian Haidar mengangguk-angguk. "Iya ya?" ujarnya mengakui saat mendengar suara-suara alam tersebut.


"Perhatikan dinding guanya." ujar Haanish menunjuk dinding-dinding gua yang berbentuk pilar mirip tiang. "Beliau mengungkapkan hal itu sebab melihat struktur dinding-dinding basalt yang menghiasi gua. ini sebenarnya hanya gua vulkanis saja. meskipun masyarakat celtik kadang mengaitkannya dengan mitos.


keduanya kembali menyusuri gua saat Haanish mengajak. sambil menyusuri gua dengan waspada, Haidar mencecarnya dengan pertanyaan lagi.


"Mitos apa, Eiji?" tanya Haidar.


"Menurut mitos bangsa Celtik, gua ini disebut Uamh-Binn." ujar Haanish. "Menurut legenda orang-orang Skotlandia dan Irlandia, gua ini dibangun oleh raksasa bernama Fionn Mac Cumhail."


"Tapi hanya dongeng toh?" tukas Haidar.


Haanish menatap Haidar lama lalu mengangkat bahunya dan mengajak kembali menyusuri gua. Haidar kembali mengontak Djalenga.


🎧 "Halo, Djalenga! bagaimana penemuanmu?!" tanya Haidar.


🎧 "Ada aktifitas manusia disini Kakak. tapi, mereka berada dibawah tanah. saya masih mencari celah atau ceruk gua. siapa tahu saya bisa menemukan lorongnya disini juga." jawab Djalenga.


🎧 "Baik. pantau terus." pinta Haidar.


keduanya kembali melangkah. untungnya perairan Hebrides tenang sebab ini masih berada dibulan September. itulah sebab mereka dengan gampang menyusuri gua memanfaatkan lantai gua yang sempit dan tak ada rendaman air laut. mereka akhirnya menemukan sebuah pelabuhan rahasia. nampak sebuah kapal jenis yacht sedang bersandar pada dermaga mini. kelihatannya ini wilayah freeport, sebab tak terjangkau oleh wilayah hukum kelautan kerajaan Inggris.


setelah menyusuri tempat itu, akhirnya keduanya menemukan sebuah lorong. lorong itu memanjang ke dalam. Haidar dan Haanish makin waspada ketika menyusuri lantai lorong itu.


sepanjang perjalanan mereka, baik Haidar dan Haanish yang mengaktifkan pancaran tenaga dalamnya tak mendeteksi siapapun manusia disitu. kelihatannya lorong ini bukan tempat yang penting sehingga tak perlu dijaga.


"Kita berbagi. kau masuk ke pintu sebelahnya. aku ke pintu sebelah sini." perintah Haanish.


"Kau main perintah saja." tegur Haidar dengan kesal. "Aku ini, kakakmu tahu?!"


"Mau masuk, atau nggak?!" sergah Haanish. "Bukanya sama-sama, ya?!"


Haidar menarik napas mengendalikan emosinya. akhirnya lelaki itu meraih gagang pintu bersamaan dengan Haanish. keduanya membuka pintu.


CEKLEK!!!!


baik Haidar maupun Haanish berdiri dengan tegap namun tatapan keduanya berbeda. Haidar menatap penghuni ruangan itu. nampak seorang lelaki bertubuh raksasa yang sementara duduk menatapnya. sedangkan Haanish menatap sekumpulan lelaki berpakaian tertutup dan bertopeng, menggenggam pedang jenis rapier, pedang gaya anggar eropa.


Haanish menatap Haidar. "Kak." panggilnya.


"Hm..." jawab Haidar tanpa menoleh.


"Boleh tukaran, nggak?" tanya Haanish dengan lembut.


"Nggak!" tandas Haidar dengan datar.


Haanish melengos dengan kesal. keduanya kemudian masuk ke ruangan masing-masing. ternyata ruangan itu sebenarnya satu saja namun dipisah oleh kaca khusus bening yang tebal, tak gampang pecah.


Haidar melangkah tenang mendekati si lelaki raksasa yang juga bangkit berdiri. Haidar menelan ludah menyaksikan tegaknya lelaki yang berdiri nyaris menyentuh langit-langit ruangan. sementara diruangan sebelahnya, Haanish sudah terlibat pertarungan dengan sekumpulan lelaki bertopeng itu. Si Penebas Angin sudah berkelebat kesana-kemari diayunkan Haanish.


Haidar menatap lelaki tinggi besar itu. "Hai, namaku Haidar Ali Lasantu. bisa kita berkenalan? siapa namamu?" sapa lelaki berpakaian pelangga itu dengan santun.


lelaki raksasa dihadapannya tertawa kecil lalu mengangguk-angguk. "Finn Mc. Cool." ujarnya memberitahu namanya.


Haidar tersenyum. "Bolehkah aku masuk kedalam? sebab aku punya urusan untuk membebaskan Dinara, adikku yang disandera oleh Nikolai disini."


"Maaf, tapi kau tak bisa." jawab Finn Mc. Cool dengan senyum sambil mengeluarkan sebatang kunci inggris (Adjustable Wrench Shifting Spanner) berukuran besar terbuat dari baja solid. "Jika kau memaksa, kau harus merubuhkan aku dulu."


Haidar menghela napas dengan prihatin. "Haruskah? bukankah aku meminta dengan sopan?"


Finn Mc. Cool tertawa, "Tergantung caramu, bagaimana menjatuhkan aku."

__ADS_1


Akhirnya Haidar menghela napas dan mengangguk-angguk. "Baiklah... kamu yang minta."


SRINGGGGG..... JLEBBBB.... HEKKK... GLUDUK GLUDUK GLUDUK...


dengan kecepatan tak terlihat, Haidar menghunus Golok Ailesh dan mengayunkannya menebas leher raksasa itu tanpa Finn Mc. Cool sempat menyadari dan melakukan antisipasi. kepala lelaki skotlandia itu jatuh menggelinding bersamaan dengan tubuh raksasanya yang rubuh berdebam dilantai itu, memuntahkan berliter-liter darah dari lehernya yang buntung.


sementara Haanish juga sudah selesai membantai sekumpulan pria bertopeng itu. kaca tebal yang memisahkan dirinya dan Haidar telah penuh dengan cipratan darah musuh-musuhnya. Haanish menonaktifkan armornya sehingga Si Penebas Angin kemudian hilang dari genggamannya.


lelaki itu menyeka dinding kaca menyingkirkan hamparan cairan darah yang memenuhinya. diseberang, Haidar menatapnya. lelaki itu bertanya menggunakan bahasa isyarat.


bagaimana? lanjut? ujar Haanish dengan gerak isyarat.


tentu dong. gimana sih? Dinara masih jauh tuh... jawab Haidar dengan bahasa isyarat pula.


itu pintu di depan.... kita sama-sama membukanya ya? pinta Haanish.


terserah kamu sajalah... jawab Haidar.


keduanya kemudian melangkah mendekati pintu dan sama-sama menjangkau gagangnya lalu memutarnya.


CEKLEK!!!!


kedua pintu itu membuka dan kedua lelaki bersaudara keluar dari pintu yang berbeda. dan...


JLEB!!! UUKHGG.... UGHHH...


dua buah anak panah berlumur cairan pembius ditembakkan dan mengenai tubuh kedua lelaki itu dengan tepat. baik Haidar maupun Haanish tak mampu melawan pengaruh pembius itu sebab tak sempat mengantisipasi sehingga serum bius itu dengan mudah menginfeksi saluran darah mereka.


BLUGHHH...


keduanya menggelosor pingsan ditatapi oleh sekumpulan lelaki-lelaki bertopeng. dibalik mereka menyeruak dua orang lelaki yang tak lain adalah Nikolai dan Ivanovich.


Nikolai menatap kedua kakak beradik yang menggeletak pingsan dilantai itu. Ivanovich melangkah menuju pintu dan menyaksikan isi dalam ruangan itu. kedua-duanya. lelaki otu kemudian keluar lagi dan menatap Nikolai.


"Kelihatannya dua lelaki itu mungkin keturunan Jenghis Khan, entah yang keberapa ratus generasi." komentar Ivanovich.


"Kenapa?" tanya Nikolai.


"Lihat saja sendiri." ujar Ivanovich.


"Kalau begitu, urus saja kedua anak ini. ingat, jangan bunuh mereka. aku masih ingin berbicara dengan mereka." pinta Nikolai.


"Aku ragu jika kau hendak membuat kesepakatan dengan mereka." ujar Ivanovich. "Aku pernah menghadapi keduanya saat mereka masih kecil. satunya memiliki teriakan sekeras guntur yang mampu mengacaukan metabolismu. sedang satunya gila membantai sambil tertawa girang."


"Itu akan kita lihat nanti." ujar Nikolai.


Ivanovich mengangguk kemudian menyuruh beberapa orang bertopeng itu untuk mengangkut tubuh Haanish dan Haidar dan membawa mereka pergi. sementara itu Nikolai melangkah mendekati pintu dan melongok kedalam. diruangan yang dimasuki Haidar, Nikolai menatap mayat Finn Mc. Cool yang buntung kepala dengan darah yang membanjir dilantai.


Nikolai mengangguk-angguk sambil tersenyum. Ivanovich menatapnya. "Bagaimana?"


"Penebas tanpa ampun." komentar Nikolai.


"Kau akan lebih bergidik jika melihat kamar sebelah." pancing Ivanovich.


Nikolai mengangkat alis lalu melangkah menuju kamar satunya, membuka pintu dan melongok kedalam. tatapannya memandang hamparan mayat-mayat yang termutilasi beberapa bagian dan dihiasi oleh darah yang merubah warna kamar itu menjadi merah.


Nikolai tanpa sadar sedikit bergidik. Ivanovich tertawa.


"Sudah kubilang kau akan bergidik melihat pemandangan itu. aku saja nyaris muntah tadi. hanya saja kutahan karena aku gengsi." jawab Ivanovich. "Aku memang pembunuh. tapi aku terbiasa membunun targetku menggunakan peralatan moderen. meskipun hasilnya sama, aku tak terlalu merinding seperti ini. menyaksikan mereka yang termutilasi itu mengingatkan aku akan gaya pembantaian Viscount Vladislav Dragulia, leluhurmu."


"Kurasa... manusia menyimpan misteri yang sampai sekarang tak mampu dipecahkan, bahkan oleh ilmuwan sekaliber Sigmund Freud sekalipun." komentar Nikolai.


...******...


sementara itu, Djalenga yang menemukan lorong rahasia berhasil menyusup setelah melumpuhkan seorang penjaga yang sedang santai. ia menewaskannya dengan ancar berlumur botulinum buatan Akram. penjaga itu tewas dengan wajah membiru dan mata membelalak bagai hendak melompat keluar.


lelaki itu terus bergerak menggunakan instingnya sebagai pemburu. ia menyusuri dan memeriksa bilik demi bilik sambil sesekali membidik musuhnya dengan tulup tradisional yang disematkan dibagian punggung armornya.


Djalenga kemudia tiba sebuah bilik yang dijagai oleh dua penjaga bersenjata. Djalenga kemudian mengumpan salah satunya hingga terjebak dan tewas ditangan lelaki Sasak tersebut.


Djalenga mendekati pintu dan membukanya. nampak diruangan yang keseluruhannya putih itu, teronggok sesosok tubuh yanv duduk menelungkup memeluk lututnya sendiri. Djalenga kemudian melangkah mendekat lalu menyapanya dengan pelan.


"Dinara...." []

__ADS_1


__ADS_2