
Kediaman Lasantu II, Puri Manggis Residence, Kota Gorontalo, pukul 07.59 WITA.
Haidar menatap foto wisudanya. ada tiga frame yang menggambarkan hal itu. pertama, foto tunggalnya mengenakan jubah toga hitam dan menggenggam plakat. frame kedua adalah fotonya bersama Aisyah dan Aya Sofia mengenakan pakaian couple saat menghadiri kegiatan ramah tamah paska gelar wisuda. dan frame ketiga adalah foto dirinya dan sang ibu tercintanya. Inayah mengenakan kebaya karawo yang nampak anggun dan membuatnya semakin berwibawa. senyum tipisnya tak mengurangi sisa-sisa kecantikan yang masih terpancar jelas diwajahnya yang sudah setengah abad itu.
dua hari lagi, Dewinta Basumbul akan melepaskan jabatannya dan menjalani masa pensiun yang menyenangkan setelah dua puluh lima tahun berjibaku memimpin kerajaan bisnis milik keluarga Lasantu itu. dengan senang hati wanita itu mengajukan surat pengunduran dirinya sebagai presdir Buana Asparaga Tbk dua hari yang lalu.
sebagai penghargaan atas dedikasinya sejak masa Kenzie hingga Airina, maka Dewinta diberikan hak sebagai salah satu shareholder dalam kepemilikan saham Buana Asparaga, sehingga meskipun ia bukan lagi sebagai orang yang aktif di Buana Asparaga, Dewinta masih dapat dimintakan aspirasinya melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Buana Asparaga bersama-sama dengan Keluarga Lasantu-Mochizuki-Ali-Hamid sebagai pemegang saham mayoritas dan beberapa investor lokal yang bersedia duduk sebagai sesama pemegang saham minoritas dalam permodalan ekonomi Buana Asparaga Tbk.
kini dewan direksi dan komissaris sementara mempersiapkan naiknya Haidar sebagai presdir Buana Asparaga Tbk. sekali lagi, Buana Asparaga akan dikendalikan lagi oleh keturunan Adnan Lasantu.
Aisyah mendekat lalu memeluk lengan Haidar dari belakang dengan lembut. "Belum ke kantor, sayang?" tanya Aisyah dengan lembut.
Haidar menyentuh dan menggenggam tangan yang melingkari lengan dan dada bidangnya itu. Haidar menoleh menatap Aisyah yang menumpangkan wajahnya tersangga pada pundak kekar suaminya.
"Dua hari ini aku belum ke kantor. Mama memintaku untuk melakukan persiapan-persiapan dalam rangka mengambil posisi presdir di Buana Asparaga Tbk." jawab Haidar dengan nada pelan.
Haidar kemudian berbalik menghadap kearah Aisyah. sejak pernikahan itu sikapnya mulai melembut dan Aisyah bersyukur bahwa ia mampu menenangkan lelaki itu seperti permintaan Haanish kepadanya. Haidar menatap istrinya.
"Apakah Aya sudah diantar ke sekolah?" tanya Haidar dengan lembut pula.
Aisyah tersenyum dan mengangguk pelan. Haidar mengangguk-angguk lalu mencium dahi istrinya itu.
"Lagi ngapain sih dibelakang?" tanya Haidar lagi.
"Lagi masakin kamu makanan, Abah." jawab Aisyah menyentil hidung Haidar yang besar nan mancung itu. Haidar mewarisi wajah kearaban itu dari ibunya. ia mirip dengan kakeknya, Trias semasa muda.
"Sebelum itu?" pancing Haidar.
"Ya, cuci baju lah..." jawab Aisyah.
tanpa sadar saling memeluk itu keduanya melangkah membentuk pola dansa romansa. Haidar sebenarnya lebih romantis dari pada Haanish, hanya saja sikapnya kaku. namun Aisyah mulai menemukan gua rahasia dan harta karun dalam benak suaminya itu. ia mulai mampu menyelami isi pikiran suaminya itu.
"Manfaatkan saja jasa laundry..." pinta Haidar. "Umma itu bukan pembantu..."
"Makasih, Abah..." jawab Aisyah sambil tersenyum lebar. "Tapi, Umma sudah bertekad untuk mengabdikan cinta dan kasih sayang untuk Abah seorang."
"Lebaaayyyy..." ujar Haidar dengan senyum.
"Ih, ini beneran lho." tandas Aisyah. "Salah satunya, Umma nggak mau memesan jasa asisten rumah tangga. tanya kenapa?" pancing Aisyah.
"Kenapa?" tanya Haidar.
"Karena Umma adalah ratu dalam rumah tangga kita. Umma adalah Nyonya Haidar Lasantu. maka konsekuensinya, apapun yang menyangkut kepentingan suamiku yang gantengnya kelewatan ini, Umma akan melakukannya termasuk ... cuci baju itu." jawab Aisyah kembali senyum.
"Umma nggak merasa lelah?" tanya Haidar.
"Untuk Abah seorang, Umma nggak akan lelah." jawab Aisyah membuat Haidar tertawa pendek. Aisyah menyambung lagi. "Lagipula... itu memang keseharian seorang istri."
"Keseharian seorang istri? mencuci baju?" tukas Haidar.
Aisyah mengangguk. "Iya... hal-hal yang berhubungan dengan baju adalah keseharian seorang istri."
"Contohnya?" tanya Haidar.
Aisyah merenung sejenak lalu tersenyum lagi dan menatap suaminya. kali ini suaranya dibuat serak untuk memancing syahwat suaminya.
"Kalau pagi, cuci baju.... terus siang, jemur baju... begitu sore, setrika baju... dan malamnya.... buka baju...." jawab Aisyah diiringi desah membuat Haidar menelan ludah.
"Tapi ini sudah pagi... jam delapan malah... nggak ada ceritanya buka baju." jawab Haidar dengan batal.
Aisyah langsung memanyunkan wajahnya sebab gagal merayu suaminya. Haidar tertawa sedang Aisyah menunduk.
__ADS_1
"Kenapa? gagal merayu ya?" olok Haidar.
Aisyah tetap manyun saja hingga akhirnya Haidar terkekeh. "Tapi kalau untuk Umma... hal itu nggak berlaku..." ujarnya.
BREETTTT.... BREEETTTT....
AAAAAAAHHHH.... ABAAAHHH....
Aisyah memekik kaget ketika tiba-tiba tangan kekar suaminya itu mencengkeram daster Aisyah dan merobeknya hanya dengan cabikan dua kali dan terpampanglah bagian atas tubuh Aisyah yang hanya dihalangi bra yang menutupi kedua bukit semoknya dan cawat yang menutupi bagian segitiga bermudanya. seketika Aisyah menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya.
"Abah apa-apaan sih?! ini mau memperkosa ya?!" teriak Aisyah dengan panik.
namun wanita itu tak sempat lagi protes karena langsung dipondong oleh suaminya yang membawanya ke kamar. sesampainya didalam, Aisyah langsung dihempaskan Haidar ke ranjang empuk itu sedang Haidar sendiri kemudian mengunci pintu.
"Abah! jangan macam-macam ya?!" ancam Aisyah melihat Haidar yang berbalik dan melangkah santai mendekati ranjang.
BREETTTT.... BREEETTTTT... KREEEKKKKK...
Aisyah makin kaget melihat Haidar dengan entengnya merobek kaos dan celana jinsnya hanya dengan tiga kali cabikan pula. tenaga fisik lelaki itu memang luar biasa. kini Haidar hanya tinggal mengenakan cawat saja sedang tubuh kekarnya yang bersepir mirip lembu jantan itu terlihat begitu menantang membuat Aisyah tanpa sadar mendesah.
"Apanya yang macam-macam? kamu kan istriku! apalagi?! hm? mau jual mahal ya?!" ujar Haidar yang kemudian naik ke ranjang.
"Abah kalau mau minta jatah, bilang dong." protes Aisyah. "Ini main robek-robekan dasternya Umma... bahannya mahal tuh, beli di distro..."
Haidar tertawa, "Daster tipis begitu, bilang beli di distro? memangnya ada jual daster di distro?!" ujar Haidar yang mengembangkan tangannya hendak memeluk istrinya.
Aisyah langsung berkelit hingga Haidar hanya merengkuh angin. Aisyah turun dari ranjang. sebelah tangannya menghalangi kedua ***********.
"Ini Abah mau apa? mau nerkam ya? memangnya Umma mangsa kah?" protes Aisyah menuding-nudingkan telunjuknya kepada Haidar.
Haidar terkekeh dan memperdengarkan geraman macannya. Aisyah menciut. Haidar berdiri dengan kuda-kuda terbuka diatas ranjang.
"Abah suka melihat Umma yang suka melawan macam ini..." geramnya sambil tersenyum buas. Aisyah dapat dengan jelas melihat kedua gigi taring Haidar yang mencuat panjang.
"Abah jangan main-main. kalau mau minta jatah, bilang saja. jangan macam predator mau melakukan pemangsaan..." ujar Aisyah dengan gemetar.
AAARRRRHHHHHHGGG....
"Abah.... " panggil Aisyah dengan lirih.
Haidar menggumam lagi menjawab panggilan istrinya.
Aisyah lama menatap suaminya dan menyadari pupil mata sang suami sangat mirip dengan pupil mata kucing. Aisyah memicingkan mata.
"Apakah ada dalam diri Abah yang belum Umma tahu?" tanya Aisyah dengan lirih.
"Tentang apa?" tanya Haidar.
"Tentang apa saja...." jawab Aisyah. "Jangan buat Umma takut dan melarikan diri dari Abah... please...."
Haidar mendudukkan Aisyah dalam pangkuannya yang sementara duduk bersimpuh itu. tangan kekar lelaki itu memegang pantat istrinya agar tak terjatuh.
"Jadi...Umma ingin tahu?" pancing Haidar.
"Tentu saja." tandas Aisyah.
"Tak akan menyesal?" tanya Haidar.
"Jangan bikin Umma penasaran, dong." rengek Aisyah.
Haidar mengangguk-angguk pelan. ia menatap Aisyah dan membelai rambut lurusnya yang menjuntai ke pinggul itu.
"Aku seorang monster..." ujar Haidar pada akhirnya.
Aisyah tertawa. "Monster dari hongkong!" oloknya lalu tertawa. Haidar pun tak tersinggung. ia ikut tertawa. keduanya tertawa hingga akhirnya mereda bersama.
"Masih ingat nggak? saat Umma menemukan Abah terbaring pingsan dilantai satu?" pancing Haidar.
"Oh, di Kediaman Lasantu?" tebak Aisyah.
__ADS_1
Haidar mengangguk. Aisyah memicingkan mata sejenam menatap suaminya.
"Abah kenapa pingsan waktu itu?" tanya Aisyah.
Haidar menghela napas. "Abah menemukan Darah Dewa warisan Papa didalam gagang Golok Ailesh. darah itu kemudian Abah suntikkan ke tubuh Abah sendiri dan... setelah itu... seperti yang Umma dapati..." ujarnya mengakhiri kisahnya.
"Lalu... Darah Dewa itu bagaimana efeknya ke diri Abah?" pancing Aisyah.
sambil mempreteli pelan bra yang menghalangi dua bukit indah istrinya, Haidar menjawab lagi, "Refleks dan kekuatan fisik Abah bertambah beberapa kali lipat... tapi efek negatifnya, emosi juga sangat sulit dikendalikan..." lelaki itu melemparkan bra ke permadani. sambil mulai menjelajahi dua bukit istrinya dengan lembut, Haidar memancing. "Masih ingat saat Abah memperkosa Umma di mobil waktu itu?"
Aisyah memicingkan mata. "Hmmrrgggghhh..." geramnya. "Sampai sekarang Umma nggak pernah lupa itu momen nggak berkesan itu.... saat pertama kalinya Abah meneroboskan terong saktinya Abah kedalam punyanya Umma..." wanita itu berdecak sekali kemudian menatap langit-langit kamar mereka kemudian meringis. "Terasa penuh dan liat... tapi.."
"Nikmat?" pancing Haidar dengan senyum mesum.
Aisyah tersipu-sipu lalu mengangguk-angguk mengakuinya. Haidar tertawa. Aisyah memukul pelan pundak suaminya dan tersenyum-senyum sendiri.
"Itu efek sampingnya yang saat ini masih berupaya Abah cari caranya untuk menetralisir dan menyeimbangkannya." jawab Haidar.
"Lalu? sekarang sudah bisa dikendalikan?" tanya Aisyah.
"Belum....." jawab Haidar dengan jujur. "Tapi, Abah hanya berharap Darah Dewa itu tak merampas tubuh dan jiwa Abah...." desah lelaki itu sejenak menatap langit-langit kamar dan kembali menatap Aisyah. "Abah nggak mau kehilangan jati diri sebagai manusia... itu saja."
"Umma akan terus mendukung Abah." ujar Aisyah.
"Umma akan takut melihat perwujudan Abah yang lain." tukas Haidar.
Aisyah mengangguk-angguk. "Mungkin... itu hal yang manusiawi. tapi... tak ada yang sempurna di dunia ini... setampan dan sehebat-hebatnya Abah cintaku ini... dia hanya seorang makhluk yang tak juga memiliki kelemahan-kelemahan."
"Umma nggak menyesal?" tanya Haidar.
"Anggap saja Umma ini Belle dan Abah si Beastnya." jawab Aisyah dengan enteng.
"Begitukah?" pancing Haidar.
Aisyah mengangguk-angguk lagi dengan senyum.
BREETTTT.... IH... ABAAAHHHH....
Aisyah terpekik kaget lagi ketika Haidar merobek lagi cawatnya hingga tak ada lagi penghalang ditubuhnya. Haidar pun dengan santai merobek pakaian yang menutupi bagian pribadinya itu. maka mengacung tegaklah tonggak keperkasaannya.
Aisyah terkikik geli melihat milik suaminya yang mengangguk-angguk pula bagai hendak masuk kedalam dirinya dengan tak sadar.
kegiatan mereka berlangsung dengan seru dan tanpa gangguan dari siapapun.
...*******...
pukul 10.45 WITA
Haidar duduk bersila di permadani itu. disisinya Aisyah tergolek tidur tanpa daya dalam keadaan polos. Haidar tersenyum dan meraba perut dan meremasi salah satu bukit istrinya dengan lembut. Aisyah hanya menggelinjang pelan lalu tidur kembali. Haidar menarik selimut yang terlipat disisi ranjang dan membentangkannya menghalangi tubuh istrinya yang terpampang telanjang itu.
Haidar bangkit dan membiarkan tubuh polosnya terbiasa dengan udara kamar yang dingin akibat hembusan AC. lelaki itu mengambil gawainya yang tergeletak di nakas lalu mengaktifkan salah satu nomor dan menghubunginya.
tak lama terdengar suara seorang laki-laki. suaranya berat. Haidar menghela napas sejenak.
📲 "Dengan Usman Bobihu..." sapa lelaki itu.
📲 "Bapu.... masih kenal saya kah?" sapa Haidar.
📲 "Siapa ini?" tanya Usman.
📲 "Ini saya, Haidar Ali Lasantu... anaknya Sandiaga... cucunya Kenzie." jawab Haidar.
📲 "Ooooohhhh.... Te Chouji utiye? wala'a li Iyun le Trias uti to?" tebak lelaki itu. "Wololo habarimu uti?" tanya Usman. (Si Chouji, putranya Iyun, cucunya Trias, kan? bagaimana kabarmu nak?)
Haidar tersenyum.
📲 "Watiya alhamdulillah sesehati waw piyo-piyohu... bo oluwo mpobisala to li Bapu... wonu ti Bapu diyalu kara-karaja..." ujar Haidar dalam lughah Gorontalo. (Saya, alhamdulillah sehat dan baik-baik. hanya saja ada yang ingin saya bicarakan dengan kakek... itu kalau kakek nggak punya kesibukan.)
📲 "De o'o, pona'o mayi... anggu timongoli sambe hati ja mona'o to kambungu'u ti buayi...." sindir Usman membuat Haidar hanya terkekeh canggung. (baiklah, datanhlah kemari. sungguh terlalu kalian sekeluarga sudah lama tak bertandang kemari.)
📲 "Baiklah Bapu... saya tutup dulu saluran ini. insya Allah saya kesana besok." ujar Usman.
__ADS_1
Haidar mematikan gawai tersebut lalu menatap Aisyah yang masih terlelap di permadani.
Tenanglah Umma... aku akan mencari lelaki itu. jika dia mau main-main dengan keluarga Lasantu, jika dia mau merelakan nyawanya menjadi tumbal keganasan sisi monsterku... aku akan membunuhnya untukmu... tidak ada yang boleh merebut Aya Sofia dari pangkuan kita.... sekalipun itu, darah dagingnya sendiri! []