The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 21


__ADS_3

Aisyah memejamkan mata menahan kekesalannya sejenak. ia merutuki nasib sialnya mengantar pesanan ke kediaman ini. Haidar hanya duduk menatapnya sambil mengetuk-ngetukkan meja dengan telunjuknya berkali-kali. bunyi ketukan itu menciptakan ritme talu teratur bersatu dengan detak jantung dan irama denyut nadi wanita itu.


"Aisyah..." panggil Haidar.


Aisyah membuka matanya dan menatap Haidar. "Kenapa sih bapak senang sekali mendzolimi saya?" tanya wanita itu dengan pelan.


tik....


urat menyilang di antara pelipis pemuda itu langsung muncul mendengar kalimat perempuan dihadapannya. mata itu nyalang kembali.


"Apa? aku mendzolimi kamu?" Haidar bangkit perlahan membuat Aisyah tanpa sadar mundur selangkah demi selangkah. "Kunaikkan ratingmu supaya bonus yang kau dapatkan lebih tinggi dari pegawai kurir lain, jam operasionalmu ku bayarkan supaya kau tak lelah bekerja sehari ini, kutambah persenan supaya kau tak nombok... kau sebut aku dzalim?!"


"Bapak mengurung saya disini..." tukas Aisyah lagi.


"Ya, sudah! pergi sana!" usir Haidar menunjuk pintu. pemuda itu kemudian balik melangkah menuju tangga dan menaikinya.


"Tapi pak... pintunya terkunci..." suara Aisyah meninggi.


"Bukan urusan aku!" sergah Haidar yang kemudian sudah menghilang ke lantai dua.



tinggallah Aisyah sendirian diruangan itu. dalam kesunyian, ia berpikir keras agar dapat meninggalkan kediaman ini. wanita itu berjalan-jalan menyusuri lantai satu itu. akhirnya ia menemukan sebuah sayap barat kediaman tersebut, menemukan pintu dan mencoba membukanya.


klek...


pintu itu membuka dan wanita itu tersenyum. ia keluar melalui pintu itu dan melangkah tembus ke taman. wanita itu bergerak ke kanan, menemukan sebuah makam dengan nisan yang berdiri bagai tugu batu. disana tercoret kalimat dalam huruf hanzi yang tak dipahaminya dan sebuah potret kecil menampakkan seorang lelaki dan wanita yang bersanding. sebuah kaleng kecil dengan beberapa batang hio menancap, tergeletak disisi potret itu.


Aisyah tak memperdulikannya. ia kembali menyusuri taman hingga menemukan selasar besar utama. beberapa meter nampak otoped miliknya terparkir dihalaman depan selasar tersebut. dengan bergegas, Aisyah menaiki otopednya dan bergerak meninggalkan kediaman Lasantu.


tanpa sepengetahuannya, Haidar mengawasi gerak perempuan itu lewat CCTV yang terpasang disetiap sudut bangunan dan taman. pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan hanya bisa sesekali tersenyum melihat tingkah konyol cara Aisyah meloloskan diri.


sebaiknya segera kuperintahkan direkturnya untuk memecatnya. wanita ini harus merasai dulu arti sebuah kepedulian.


alis Haidar berkedut-kedut.


lho? kok aku malah perhatian sama dia? ini apa, hayooo??? waduh, Mahreen bisa-bisa cemburu nih.


Haidar mendengus lalu berbalik meninggalkan meja yang dilapisi bahan thermoglass itu.


...******...



Haanish sedang merapikan pakaiannya setelah selesai membersihkan diri. parfum maskulinnya tercium wangi menyebar diarea sekitaran ruangan itu. pemuda itu melangkah menyeberangi ruang keluarga ketika terdengar panggilan Airina.


Haanish menghentikan langkah dan menatap bibinya. Airina melambai memanggilnya.


"Sarapan dulu." ajak Airina.


Haanish tertawa kecil. "Maaf Bi, saya nggak biasa sarapan pagi." ujarnya. Airina sejenak terhenyak.


benar juga. itu kebiasaannya sejak kecil.


"Ya sudah." tepis Airina kemudian menatap pakaian yang dikenakan ponakan lelakinya itu. "Kamu mau kemana, pakai trainings pack begitu?"


"Ya, jalan-jalan pagilah Bi. masa jalan-jalan sore?" jawab Haanish dengan senyum lucu. Marina hanya tersenyum lebar melihat sang ibu didebat ponakannya. di kediaman ini, Airina adalah ratu. Akram menekankan kepada ketiga putrinya untuk tidak sedikitpun membantah perkataan ibunya selama itu berada dalam koridor kebenaran. perdebatan itu menjadi sesuatu yang baru di kediaman tersebut.


"Kamu nggak kenal area sekitar sini, Eiji." kata Airina.


"Ya, paling-paling juga tersesat, Bi." ujar Haanish dengan enteng. "Tapi aku sih tenang saja." Haanish mengeluarkan gawai. "Sekali tersesat, tombol kupencet, dan Paman Profesor melesat." ujarnya sambil mengerling ke arah Akram dan mengedipkan matanya.


Akram tertawa sambil mengacungkan jempol salutnya. Airina mengerutkan alis. "Melesat apanya?"


"Melesat dengan armor YUKI, membawa saya pulang kembali ke kediaman ini." jawab Haanish dengan enteng. Airina hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.


kamu memang mirip Kak Rosemary... kecuali kelainan patologismu itu.


"Sudah ya, Bye..." ujar Haanish pamit.


"Tunggu..." seru Airina membuat Haanish kembali menghentikan langkahnya, dan kembali menatap bibinya. Airina menatap Marinka. "Selesaikan sarapanmu dan temani Kak Eiji jalan-jalan."


Marinka mengangguk namun tiba-tiba Marissa mengebrak meja. mereka terkejut menatap Marissa. Akram menatap putri bontotnya. pria parobaya itu tersenyum.


"Kenapa Issha?" tanya Akram dengan lembut.

__ADS_1


"Masa hanya Aciak dan Uni Angah yang boleh menemani Uda?" protes Marissa menatap ayah dan ibunya bergantian.


"Bukankah kamu ada les privat hari ini?" tukas Airina mengingatkan.


"Batalkan saja untuk sehari ini. luso, Uda kan mau berangkat dengan Aciak." kilah Marissa menganggukkan kepala kearah Marina. "Hari ini, biar denai saja yang temani Uda."


Airina dan Akram saling berpandangan. Marissa berwatak sebelas-dua belas dengan Kevin Williams, kakeknya. apapun yang ia inginkan, tentu akan kukuh untuk mendapatkannya. Akram mengangkat alis.


"Baiklah..." ujar Akram kemudian menatap Marinka. "Kamu bantu Abi saja mempersiapkan suit armor untuk Eiji."


"Baik, Abi." jawab Marinka dengan senyum dan meneruskan makannya yang terjeda. Marissa tersenyum penuh kemenangan. Airina menatap suaminya.


"Hubby terlalu memanjakan si bontot ini. lihatlah ia berulah lagi sepagi ini." tegur Airina setengah mengeluh.


"Selama dalam koridor demokrasi, aku nggak bisa melarang, Zawjati." kilah Akram. "Issha akan menemani Eiji jalan-jalan."


"Yaaah, Paman..." sela Haanish protes setengah mengeluh, "Masa mau jalan-jalan, dikawal juga? memang saya ini presiden reoublik indonesia ya?"


"Jadi Uda nggak mau Issha temani?!" sergah Marissa dengan sengit membuat Haanish kaget. ia tak menyangka gadis secantik itu tahu juga menghardik tanpa sungkan. Haanish menatap Marina dan wanita itu mengisyaratkan Haanish agar menyanggupi saja permintaan adik bungsunya itu.


Haanish mendesah dan menggeleng-gelengkan kepala lalu berbalik hendak melangkah pergi.


"Uda, tunggu!!!" seru Issha yang langsung makan dengan cepat dan mengakhirnya dengan menghabiskan segelas air kemudian bangkit melangkah setengah berlari menyusul Haanish.


Airina menggerutu. "Anak itu..."


"Itrukh wasynuha, 'Umi...." sela Marina dengan tenang menatap ibunya. (Biarkan saja, Ibu.)


"'Ant faqoth mitsl waalidik..." gerutu Airina pada putri sulungnya. (Kau sama saja seperti ayahmu)


gerutuan wanita parobaya itu menerbitkan senyum diwajah Marina dan Akram. Marinka saja hanya menggelengkan kepala berkali-kali.


"Kelihatannya, Uda Etek akan kesulitan menangani perangai adiak." komentarnya disambut tertawa pendek yang lainnya, terkecuali Airina saja.


sementara di jalanan, kedua muda-mudi itu menikmati kegiatan ukur jalanan itu. hari ini termasuk hari libur pula jadi banyak para penikmat jalanan menggunakan kesempatan itu untuk jogging.


"Uda jangan cepat-cepat jalannya." tegur Marissa berupaya menyusul Haanish yang melangkah lebar.


"Ya, suka-suka aku. mau lambat, mau cepat, kakiku yang jalan." balas Haanish dengan sengit.


"Astagfirullah! Marissa! turun! turun cepat dari punggungku!" sergah Haanish berupaya meronta.


"Nggak mau!" tolak Marissa dengan kukuh dan tersenyum-senyum senang bisa menggelayuti punggung pemuda itu.


"Marissa! aku nggak mau di marahi Paman sama Bibi! orang-orang mengira kita pasangan mesum! turun dari punggungku!" sergah Haanish.


sementara mulai banyak para pengguna jalan yang teralihkan perhatian disebabkan mereka berdua. Haanish mulai malu. rasa gugupnya memicu kelainan patologisnya. perlahan sekehan tawanya mulai muncul.


"Marissa, kumohon turunlah..." pinta Haanish disela tawa cemasnya. Marissa justru terkikik senang.


"Ayo! ayo, Joker Ballade! ayooo..." seru Marissa sambil mengacungkan tangan ke atas sementara Haanish mulai tertawa makin lama makin keras.


tiba-tiba langkah mereka berhenti. didepan mereka berdiri beberapa orang anak muda. kelihatannya mereka adalah berandal-berandalan kompleks disitu.


"Yo! Issha! sudah ganti tunggangan kau ya?!" sergah lelaki didepan diiringi kemudian oleh lelaki-lelaki yang lainnya.


wajah Marissa seketika panas dan memerah. ia mengumpat, "Oi Landeh! manga juo ang di siko lai?! bakiroklah ang lai!!" ujarnya sambil menuding-nudingkan telunjuknya kearah para lelaki itu. (Hei, B**i! kenapa juga kau nongol disini?! menyingkir jauh-jauh sana!)


lelaki-lelaki itu malah tertawa. pimpinannya mengoceh lagi. "Anjiang lah paja ko!!! ndak tau diri seketekpun! kamu hanya bisa bersandar dibawah ketiak Attar. kau nggak bisa apa-apa tanpa dia!" balasnya dengan sengit lalu menuding Haanish. "Dan sekarang kau mengandalkan orang ini?"


Marissa langsung murka, "Antok lah ang, Baruak!!! jang banyak juo kecek ang lai! bakirok lah!!! sekali ini kalian beruntung. apa kalian pikir kakakku ini selemah yang kalian kira?! jangan mimpi!!!"


"Kalian lagi ngomong apaan sih?" tanya Haanish dengan lirih. ia mendapatkan desisan keras dari Marissa.


"Sudah! Uda diam saja! ini urusanku dengan mereka." sergah Marissa membuat Haanish kembali terkejut. tawanya muncul lagi.


"Wah, nggak bisa dong." ujar Haanish diselingi tawa mengkereng. "Masalahnya, kamu kelihatannya nantangi mereka, namun masih menggandul dipunggungku. tentu saja aku kecipratan masalah." pemuda itu kemudian terkekeh dan menatap para lelaki itu


"Sebaiknya kalian menyingkir dari adikku ini." pinta Haanish ditengah tawanya. "Aku akan menganggap peristiwa ini tak pernah terjadi."


ucapan Haanish, dibarengi tawa ejekan para lelaki itu. pimpinannya menatap teman-temannya. "Hei, si ceking ini bisa bicara rupanya. kukira ia seekor kuda. soalnya tertawa terus kerjaannya."


Haanish justru makin tertawa lebar. Marissa langsung turun dari punggung Haanish dan berdiri sambil bercakak pinggang.


"Kalian salah besar. sebaiknya persiapkan biaya pengobatan yang besar untuk kalian semua." ujarnya Marissa sambil menudingkan telunjuk ke arah pimpinan kelompok itu.

__ADS_1


seketika pimpinan kelompok itu menuding Haanish, "Woy, ******!!! kamarilah kok iyo bagak ang!" umpatnya sambil menantang.


temannya kemudian menyambung, "Jan mangecek pandai ang! duel wak siko a kok iyo jantan ang!!!" ujarnya menuding pula kearah Haanish dan Marissa bergantian. "Kalera!! lawan den siko a!!!"


BUAAGHHH...


BRUSSH... UHOOKKK... UHHH... AAARGGGHHH... IIGHHH...


sambil tertawa, Haanish maju melesat tanpa dapat dihindari oleh kelima pemuda begajulan itu. mereka langsung terkapar ketika tinju hiraken menghantam tulang iga pimpinannya, kemudian berturut-turut ayunan shuto uchi menghantam sisi leher pemuda kedua yang rubuh menyusul pimpinannya. Haanish menyusul lagi dengan teknik haisu uchi menghantam sisi telinga pemuda ketiga yang saat itu juga langsung terjungkal ke samping. pemuda keempat maju hendak menerjang namun keburu terpental akibat terjangan ushiro geri ke perutnya berikut Haanish langsung melesat melayang menyepak dagu pemuda kelima dengan mae tobi geri.


Marissa tak menyangka serangan Haanish begitu cepat dan nyaris seperti kilat. hanya dalam sepersekian detik, keempat pemuda itu melantai di trotoar jalanan tersebut dalam keadaan pingsan. Haanish yang masih tertawa mencengkeram kerah pakaian pemuda pertama yang sengaja tak dipingsankan Haanish.


sementara itu beberapa pengguna jalan yang sempat menyaksikan perkelahian singkat itu kemudian mengabadikan momen itu dan menguploadnya ke medsos dan stasiun televisi.


Haanish menatap pemuda itu. "Kau bisa berjanji untuk tak mengganggu anak ini, kan?!" desis Haanish dengan senyum menyeringai yang bengis diiringi sekehan tawa. kedua mata pemuda itu memendarkan cahaya kebiruan. itu teknik Karasu Tengu no mitsumeru.


wajah pemuda itu pias seputih kapas lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. kilatan cahaya mata Haanish mengerjap.


"Bagus..." ujarnya kemudian melepaskan cengkeramannya dan pemuda itu jatuh kembali ke trotoar tanpa bisa bangkit.


Haanish menatap Marissa. "Ayo pulang! bisa masalah besar kalau terus-terusan berada disini!" omelnya.


"Kita ke rumah Amak dan Inyiak saja." usul Marissa dengan gembira langsung berlari ke jalan memberhentikan trem yang kemudian memanggil Haanish untuk menaikinya.


kendaraan umum itu melaju dengan pelan meninggalkan tempat itu menyisakan para pengguna jalan yang heboh mengabadikan kelima begajulan yang membaring tak berdaya di trotoar.


...******...


Aisyah melajukan otopednya menyusuri jalanan hingga tiba di kantor kurir DRG. belum sempat ia duduk menyamankan dirinya, tiba-tiba salah satu pegawai mendatanginya.


"Kamu dipanggil Ko Erick tuh." ujar pegawai itu.


"Apa? Ko Erick mencariku? tumben..." respon Aisyah dengan heran.


pria gembul itu biasanya terkesan tak perduli kepadanya. namun kali ini lain dari biasanya. Aisyah bangkit dan melangkah menyusuri koridor sempit yang menjurus ke ruangan direktur. ia mengetuknya.


"Masuk!" seru suara dari sebelah ruangan.


Aisyah membuka pintu. Erick Walla, sang direktur melambai menyuruhnya duduk. Aisyah kemudian duduk didepan lelaki gemuk tersebut.


"Bagaimana kabarmu?" sapa Erick dengan senyum.


"Baik, Ko." jawab Aisyah dengan santun.


Erick Walla menghela napas sesaat dan wajahnya berubah iba. Aisyah langsung menyadari ada hal tak beres disini. lelaki Minahasa itu memperbaiki duduknya lalu menatap pegawainya.


"Terima kasih, kamu berhasil mendongkrak reputasi perusahaan kita dua kali lebih tinggi..." puji Erick mengapresiasi karya pegawainya. "Tapi...." kali ini nada suaranya terdengar seakan menyangga beban berat.


"Kenapa Ko?" tanya Aisyah yang sudah was-was.


"Salah satu pelanggan setia yang berpengaruh, mengajukan rasa tak puas akan pelayananmu dan memintaku, bahkan memaksaku untuk memutuskan ikatan kerja denganmu." ujarnya pelan.


Aisyah terhenyak. siapa pelanggan itu? apakah Haidar? pasti Haidar!!!!


Erick menyerahkan sebuah amplop coklat tebal. "Aku tak bisa mempertahankanmu, kawan. aku melakukan ini dengan sangat terpaksa. maafkan aku." ia mengangsurkan amplop itu ke depan Aisyah.


Aisyah dengan lesu dan perasaan masygul menerima amplop tersebut. matanya berkaca-kaca. Erick Walla hanya bisa mendesah panjang kemudian mempersilahkan wanita itu keluar.


dengan perasaan kalut, wanita itu keluar dari ruangan dan melangkah dengan lesu. sapaan dan teguran para pegawai hanya diresponnya datar tanpa ekspresi. wanita itu melangkah keluar gedung sambil menenteng amplop coklat tebal itu.


dengan tarikan tanpa semangat, dilarikannya otoped tersebut melintasi jalanan. tujuan berikutnya adalah tempat penitipan anak dimana Aya Sofia dititipkan. sejauh ia mengendarai kendaraan sederhana itu, ia lebih banyak merenung hingga nyaris saja menyebabkan kecelakaan.


"Hei!!! lihat-lihat jalan dong!" sergah pengendara mobil yang nyaris menyerempetnya.


"Tai lasso!!! mengkhayal apa kamu hah?!" umpat pengendara lainnya.


Aisyah hanya bisa membungkuk memohon maaf kepada para pengendara itu. seorang opsir lalu lintas berarmor PATO mengamatinya dari pos penjagaan. Aisyah melanjutkan perjalanannya.


ia tiba di gedung penitipan anak. namun wanita itu terkejut mendapati mobil Tuatara V33K yang paling dikenalnya, parkir dipinggir bangunan itu. rasa geramnya sontak muncul dan wanita itu menghentikan kendaraannya lalu meletakkannya disisi pagar beton.


dengan langkah cepat wanita itu melangkah masuk kedalam bangunan. ia menemukan beberapa perawat asyik bercengkerama dengan seorang pemuda yang sedang menggendong Aya Sofia.


Aisyah tiba-tiba maju dan menampar pemuda itu.


PLAKKKKK.... []

__ADS_1


__ADS_2