
Tenang namun membahayakan
rileks namun waskita
lembut namun tajam
Rendah hati namun percaya diri
^^^(Lima Unsur - Musashi Miyamoto)^^^
...******...
"Tumben kamu muncul disini? biasanya kau anti sosial." sindir Haanish memicingkan mata.
Haidar mengangkat gelas dan meneguk kembali minuman lalu meletakkan gelas itu lagi dan menatap kumpulan mahasiswa-mahasiswa, sahabat Haanish yang mengelilinginya. pemuda itu kemudian menatap Haanish.
"Aku ada pertemuan dengan Pak Djamaludin. tapi beliau belum datang. makanya aku memilih menunggunya, dengan mengunjungi tempat ini..." Haidar menjeda kalimat sejenak menatap lagi para mahasiswa itu dan mengangkat gelas dan meneguk habis minuman. "Dan bertemu dengan kalian disini."
Haanish mengangguk-angguk kemudian menatap Zais dan Gunadi. "Bawa teman-teman ke basecamp. nanti aku menunggu disana." titahnya.
"Beres, Bro!" jawab Zais langsung mengomando teman-temannya meninggalkan kafetaria itu.
kini tinggal mereka berdua dimeja itu. Haanish melambaikan tangan. seorang wanita pelayan muncul dan menyamperi keduanya lalu tersenyum.
"Kak Haidar mau pesan apa lagi?" tanya wanita itu dengan ramah. Haidar menggeleng.
"Aku sudah sarapan dari rumah tadi. mungkin Haanish yang memerlukan kamu." jawab Haidar kemudian menatap Haanish.
gadis pelayan itu menatap Haanish. "Oo.. Kak Haanish..." ujarnya lalu senyum-senyum sendiri. Haidar mengamati tingkah pelayan itu dan ia menyadari gadis pelayan itu mengagumi adiknya itu. dia naksir lelaki itu...
"Kak Haanish mau pesan apa?" tanya gadis pelayan itu dengan senyum manis tersipu-sipu.
Haidar mendengus pelan. "Genit..." umpatnya dengan pelan. namun kedua muda-mudi tak memperdulikannya. Haanish tersenyum lalu mencolek dagu gadis itu.
"Kau tahu apa yang kuinginkan, bukan?" pancing Haanish. gadis itu mengangguk.
"Saya paham kak. saya siapkan untuk Kakak." ujar gadis itu malu-malu. Haanish mengangguk dan kembali hendak mencolek dagu gadis itu.
Haidar langsung menepiskan tangan Haanish yang nyaris mencolek dagu gadis itu lagi. sejenak gadis itu memperlihatkan wajah cemberut karena kesenangannya diganggu. namun sesaat kemudian dia pergi dengan tersipu-sipu meninggalkan Haanish dan Haidar ditempat itu.
"Kamu jangan bikin anak itu jadi murahan dong." tegur Haidar.
"Lho? siapa yang bikin dia jadi murahan?" tangkis Haanish mengangkat alisnya. "Picik benar pikiranmu padaku ya?"
"Perempuan jangan dipancing-pancing begitu. aura flamboyan kamu ini nampak sekali.... mirip Papa." ujar Haidar dengan datar.
"Kau pun jangan mengatakan bahwa kau anak Mama." tukas Haanish dengan senyum. Haidar mengerutkan alisnya.
"Aku memang anak Mamaku!" tandas Haidar.
"Ucapanku tak tak ada hubungannya dengan hereditas matriarkhi. tapi berhubungan dengan hereditas patriarkhi. sekuat apapun kau menyangkalnya, kau tetap mewarisi darah Papa. aura flamboyan tetap juga ada dalam dirimu." tandas Haanish.
"Tapi, aku tak segenit kamu!" tukas Haidar kemudian menunjuk dada Haanish. "Aku selalu membatasi diriku, bahkan sampai tingkat ekstrim sehingga aku mampu menempatkan perasaanku diatas kendali diriku sendiri."
"Aku nggak mau menahannya." ujar Haanish dengan jujur. "Beratnya disini Bro." tambahnya sambil mengelus dada kirinya kemudian meringis sedikit dan tersenyum kemudian. "Setidaknya kau harus memiliki pelampiasan emosi. kau terlalu kaku, Chounan."
"Aku bisa memposisikan diri dimana aku harus waras dan dimana aku harus menggila." jawab Haidar membuat Haanish terkekeh. pemuda itu cepat-cepat menyela, "Aku bukan hendak berpura-pura... kehidupan ini nggak melulu soal bercanda."
"Kau kembali lagi menyindirku dengan falsafah yang kau ungkapkan itu." tukas Haanish. pemuda itu lalu tertawa. Haidar tersenyum datar lalu memegang pundak saudaranya.
"Adikku. satu hal yang kembali aku fahamkan padamu. mungkin kau sudah melupakannya, atau kau tak mengindahkannya..." ujar Haidar.
Haanish menatap kakaknya dan Haidar menyambung lagi. "Nggak semua orang bisa menerima siapa kita..."
__ADS_1
Haanish tertawa dan menepiskan pegangan Haidar pada pundaknya, "Kalau itu sih aku memang tahu." pemuda itu menyandarkan kedua tangan pada sisi bangku panjang. "Aku tak pernah melupakan apapun wejanganmu. setelah Papa wafat, kaulah kepala keluarga Lasantu menggantikan beliau. jadi, sebagai anggota keluarga... aku selalu mengingat apapun termasuk nasihat yang sudah... entah ke berapa kali..." Haanish melirik langit-langit kafetaria lalu terkekeh. "Kurasa, 'dah delapan juta kali kau katakan hal yang sama kepadaku." Haanish kemudian menatap Haidar. "Jangan kuatir... kompasmu itu kugenggam terus."
Haidar mengangguk-angguk lalu tersenyum. tak lama kemudian datanglah gadis pelayan itu membawa nampan berisi gelas besar tinggi dengan cairan kekuningan dan berbusa diatasnya. gelas tinggi besar itu diletakkannya dimeja disisi Haanish.
"Ini Kak... minumannya." ujar gadis pelayan itu kemudian memeluk nampan. tatapannya penuh rasa ketertarikan kepada pemuda berwajah yayoi itu. "Dihabiskan ya? itu khusus untuk Kakak kok." ujarnya dengan malu-malu lagi.
Haidar membuang wajah dan berlagak hendak muntah. Haanish hanya tersenyum melihat kelakuan saudaranya lalu menatap gadis pelayan itu. "Aku pasti akan menghabiskannya sayangku... demi kamu." jawab Haanish mengeluarkan kalimat gombal. gadis pelayan itu menunduk dan tersipu-sipu.
"Aku balik dulu ya Kak." ujar gadis pelayan itu.
"Salamku untuk orang tuamu ya?" balas Haanish.
gadis itu cepat-cepat mengangguk lalu berbalik dan segera pergi dari situ sebelum mendapatkan pelototan gratis dari Haidar yang protektif. Haanish menggelengkan kepala berkali-kali melihat kelakuan saudaranya itu.
"Jadi orang jangan terlalu galak, woy." tegur Haanish. "Ingat, kan pesan Papa? kita itu harus menampakkan kelembutan, ketenangan, santai dan rendah hati."
"Tapi kau melupakan bagian akhir dari falsafah yang diucapkannya saban kali kita uji tarung itu." balas Haidar mengingatkan.
Haanish menggeleng. "Aku ingat semuanya, Chounan. tapi aku tak menampakkan keempat sisi lain itu disini." tangkisnya dengan tenang.
Haidar menatap minuman dalam gelas itu. Haanish dengan tenang mengangkat gelas dan meneguk isinya setelah itu meletakkan benda itu kembali di meja dan menatap Haidar.
"Aaaaahhhhhh..." desah Haanish meniru gaya dewa perang kratos saat selesai minum anggur.
Haidar menautkan alis. "Minuman apa itu? kok mencurigakan ya?" ujarnya dengan tatapan curiga.
"Bir..." jawab Haanish dengan tenang.
jawaban pemuda itu menaikkan tensi kemarahan Haidar. "Bir?!" pekiknya, "Sama juga bohong kamu selama ini sama aku dan Mama, ya?!"
"Dimana letak kebohongannya?" tangkis Haanish lagi kembali meraih pegangan gelas itu dan hendak mengangkatnya untuk meneguk isinya. namun Haidar menahannya.
"Apaan sih?! lepaskan!" tekan Haanish.
"Dosanya dimana? saat aku minum ini? jangan kuatir, ini minuman non alkoholik, meski namanya juga bir." kilah Haanish menepis tangan Haidar dan hendak kembali minum. namun lagi-lagi Haidar mencengkeram pergelangan tangannya membuat bibir gelas itu urung menyentuh mulut Haanish yang sudah membuka. jengkel benar pemuda berambut panjang sebahu itu sebab Haidar menghalangi kesenangannya mengonsumsi minuman tersebut. ditatapnya saudaranya yang berambut lurus pendek itu.
"Maumu apa sih?" tanya Haanish dengan memelas. "Bisakah aku menghabiskan minuman kegemaranku ini?" pintanya menghiba.
"Apa kau bilang? minuman kegemaran? sudah gila rupanya kamu, ya?!" sembur Haidar. "Ingat Eiji, bir itu meskipun kandungan alkoholnya berada dikisaran 0,5 hingga 1 persen lebih rendah dari minuman alkoholik lainnya, tetap saja dia minuman beralkohol! hukumnya sudah jelas, dosa bagi yang meminumnya!"
"Kan sudah kubilang ini minuman non alkohol, te ula'ika ti..." ujar Haanish pelan berupaya meyakinkan sambil menahan kejengkelannya.
"Mana ada bir yang nggak memiliki kandungan alkohol?" tukas Haidar dengan sengit.
Haanish meletakkan gelas besar itu di meja. karena gelas itu sudah disana, Haidar melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Haanish. pemuda berwajah yayoi itu kemudian menjelaskan lagi agar Haidar bisa paham.
"Minuman yang kau sangka buruk ini, meskipun disebut bir, tapi bahan kandungannya bukan alkohol melainkan minuman hasil fermentasi rempah-rempah seperti jahe, ragi dan gula." jawab Haanish dengan kesal.
Haidar terkejut. "Ah, aku nggak percaya. warnanya terlalu mencurigakan." tukasnya dengan ragu.
"Warna kuning itu adalah hasil fermentasi jahe dengan ragi, bopaak. dibarat, ini disebut ginger beer. dan ini ginger beer produk lokal, diolah oleh orang tuanya gadis itu." Haanish meraih lagi gelas besar itu dan menyodorkannya kepada Haidar. "Nih, kalau nggak percaya... cobalah!"
Haidar masih terlihat ragu membuat Haanish geregetan. "Sudah, minum saja!" desaknya. "Aku tanggung dosamu kalau ternyata aku bohong."
Haidar mengambil gelas yang disodorkan lalu mengendus isi gelas itu. Haanish tertawa.
"Kamu ngapain ngendus begitu, macam anjing herder saja kau. minum saja! kutanggung dosamu kalau ternyata aku bohong." ujar Haanish bersungguh-sungguh.
Haidar meneguk sedikit minuman berbusa itu. ada rasa panas dan masam yang masuk ke rongga mulutnya kemidian Haidar menelannya. sejenak pemuda itu diam menunggu reaksi tubuhnya. sementara Haanish mengambil gelas dalam pegangan Haidar dan langsung meneguknya habis, kuatir kalau Haidar menahannya lagi.
"Iya ya? nggak ada alkoholnya." ungkap Haidar dengan jujur.
"Nah... itu." sambut Haanish. "Mana ada aku mau menjahati kepala keluarga sih? apalagi toryo itu kakakku sendiri."
__ADS_1
"Toryo... memangnya aku samurai?" olok Haidar mengejek Haanish. bagaimanapun memang, Haanish lebih condong ke gaya hidup wibu, terutama yang berhubungan dengan dunia keprajuritan jepang kuno.
Haanish mengangguk. "Samurai produk lokal." ujarnya kemudian tertawa.
"Kamu tuh yang samurai." balas Haidar. "Kamu kan diwariskan Si Penebas Angin milik almarhummah Oma."
"Benar. tapi sebenarnya itu bukan milik Oma. pedang itu kepunyaan buyut kita dari sebelah Oma... kalau nggak salah namanya, Mamoru Minamoto. biasa dipanggil Mochizuki, makanya anak keturunannya menggunakan namanya sebagai nama marga." jawab Haanish.
"Nah, itu kamu tahu sejarah keluarga kita." ujar Haidar kemudian mengambil gelas itu dan melongokkan isinya.
"Kenapa? suka ya?" goda Haanish.
Haidar menggeleng menyembunyikan minatnya akan minuman itu. gengsi pemuda itu memang tinggi. apalahi ia terlanjur menghukumi minuman itu haram. akan terlihat lucu jika dia yang dipandang alim oleh kaum civitas akademika UIN Sultan Amai Gorontalo selama empat tahun itu, tercoreng gara-gara segelas bir jahe.
Haanish tertawa. "Dasar angkuh." olok Haanish. "Kamu boleh saja menjunjung tinggi kehormatan dan martabatmu. namun jangan berlebihan. hargailah..."
"Apakah kau pikir aku sesombong itu?!" pancing Haidar dengan ketus. Haanish menggeleng.
"Kamu nggak sombong Chounan. semua orang tahu itu." ujar Haanish mengembangkan tangan lalu kemudian duduk santai kembali. "Tapi kamu terlalu kuat menjunjung moralitas. kamu orangnya gengsian. oke, seperti katamu tadi. nggak semua orang bisa menerima kita. itu benar. tapi nggak selamanya juga kamu menegaskan batas antara kamu dan orang lain."
Haidar diam mencerna ucapan adiknya. Haanish mendekatkan wajah. "Kamu masih ingat nggak, waktu kamu menohok perasaan Papa di restoran, entah mana itu? kamu nggak kasian sama Papa? aku lirik wajah Papa jadi prihatin lho, seakan ada yang ingin ia sampaikan kepada kita namun terasa berat itu diujung lidahnya."
Haidar mengenang percakapan mereka saat makan siang direstoran waktu itu. Haidar berkali-kali mengeluarkan sindiran pedas yang membuat Sandiaga tak berkutik dan terpaksa hanya diam saja mendengarkan ceramah anak pertamanya itu. pemuda itu menunduk.
"Kalau mengingat-ngingat waktu itu. rasanya aku ingin memutar balik waktu dan meminta maaf pada ayah. aku tahu, beliau memang lelaki flamboyan. tapi kita memang tak bisa mempersalahkannya. aura itu bagaikan anugerah sekaligus kutukan yang menyertai keluarga kita. kau dan aku memilikinya. lihat saja, kau selalu dikelilingi perempuan."
"Aku nggak mau mengekangnya, Chounan." sela Haanish. "Aku nggak sekuat kamu. aku jujur dengan perasaanku ini. namun kalau urusan ranjang, aku nggak suka gonta-ganti pasangan."
"Bicara tentang urusan ranjangmu itu, bagaimana nantinya hubunganmu dengan si Denada Wijaya itu? apakah putri dari Wie Fen Ying itu akan kau tetapkan sebagai istrimu?" pancing Haidar.
"Kalau yang itu, aku belum tahu." jawab Haanish dengan enteng.
"Belum tahu gimana?!" tekan Haidar yang mulai marah lagi. "Kau kan sudah menjamah keperawanannya. lalu? setelahnya ia akan kau campakkan?" sembur pemuda itu.
Haanish hanya menjebikan bibirnya dan mengangkat bahu. Haidar mendengus dan berucap dengan ekspresi dingin. "Eiji, ingatlah bahwa keluarga Wijaya, bukan sembarang keluarga. koneksi mereka tinggi, bahkan hingga kedalam pemerintahan propinsi. kamu jangan bertindak macam-macam yang membuat Buana Asparaga mendapatkan imbas buruknya."
"Chounan... aku ini watak setia. kau boleh saja tidak mempercayaiku. tapi aku bisa membuktikan hal itu padamu." ujar Haanish.
pemuda itu menatap keluar dan mendapati dua orang mahasiswi masuk. ia mengenalnya dan melambaikan tangan. kedua mahasiswi itu juga balas melambaikan tangan dan melangkah mendekati mereka. Haidar menoleh keduanya yang sementara mendekat. alis pemuda itu bertaut.
Callista... dengan siapa itu? kayaknya anak baru.
kedua mahasiswi itu adalah Callista dan Mahreen. keduanya kemudian duduk di tempat yang didiami Haanish dan Haidar. Callista duduk disisi Haanish sedangkan Mahreen duduk disisi Haidar.
"Bagaimana kabar kedua kakak tampanku ini?" sapa Callista dengan senyum hangat.
"Alhamdulilah, watashi wa genki desu." jawab Haanish kemudian mencolek pipi lembut Callista yang kemerahan. "Arigato..."
Callista tertawa mendengar jawaban Haanish dalam bahasa jepang, kemudian gadis itu balik menatap Haidar dan tersenyum lalu menyapa, "Dan Kakak Putra Mahkota? gimana kabarnya?"
"Bisakah tak menyematkan sebutan itu padaku?" pinta Haidar dengan nada seperti biasanya, datar dan terdengar galak. namun Callista tahu benar siapa pemuda itu. aslinya dia paling lembut hatinya ketimbang Haanish.
"Baiklah... Kak Haidar, bagaimana kabarmu?" sapa Callista.
"Alhamdulilah, Ana bil khair." jawab Haidar menggunakan logat bahasa arab. pemuda itu kemudian menatap Callista. "Cholil ngapain saja dengan Om Cornell? kudengar mereka ada di Australia..."
"Aku nggak tahu. Rakanda juga nggak bilang." jawab Callista dengan tenang.
Haidar kembali mengisyaratkan kepada Callista tentang keberadaan gadis disampingnya itu. Callista langsung tanggap.
"Oh, aku lupa mengenalkan kepada Kakak." ujarnya, "Ini adalah Mahreen Nurmagonegov. dia mahasiswi semester awal program pertukaran pelajar."
Mahreen tersenyum menatap Haidar. dan pemuda itu langsung tertawan dalam tatapan lembut gadis bermata hijau keabu-abuan itu.[]
__ADS_1