The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 26


__ADS_3

"Apa kau bilang?" tukas Aisyah dengan nada sedikit meninggi. "Sini kau! ayo! kesini kamu!" panggil Aisyah melambai-lambaikan spatula dalam genggamannya ke arah Haidar.



dengan senyum masam Haidar bangkit dan melangkah mendekati Aisyah yang bercakak pinggang. sesampainya disana dalam posisi saling berhadapan, Aisyah memuntahkan mitraliur kemurkaannya.


"Berani-beraninya kamu menyebut bagian itu tanpa beban sama sekali. memangnya kamu nggak lahiran lewat situ?!" omel Aisyah sambil mengayun-ayunkan spatula nyaris mengenai wajah Haidar.


"Terus?" ujar Haidar dengan malas sambil mengambil gawai dan membuka aplikasi.


"Ya, lain kali jangan didepan anak kecil ngomong seperti itu. dasar orang kaya tak berakhlak!" umpat Aisyah.



"Ooo... berarti jika dihadapanmu, tanpa adanya Sofi, aku boleh mengucapkan kata itu?" sogol Haidar membuat Aisyah tergagap. pemuda itu mengarahkan kamera gawainya memotret wajah Aisyah.


"Eh, apa-apaan ini? kenapa memotret wajahku? apakah kau akan menguploadnya pada situs Gorontalo Most Wanted?!" tukas Aisyah dengan kesal.


"Terlalu Suudzon itu nggak baik." jawab Haidar datar kemudian mengulurkan tangan. Aisyah mengomel lagi.


"Apa lagi ini?! apa yang kau minta dariku?!" tanya Aisyah dengan ketus.


"Jarimu... sidik jarimu." jawab Haidar sambil meraih telunjuk Aisyah dan menekannya pada layar gawainya. terdengar bunyi bip dan Haidar melepaskannya.


tanpa perduli Haidar meninggalkan Aisyah yang masih mencak-mencak. pemuda itu menuju pintu depan dan mengoperasikan mesin yang tertempel di dinding dekat pintu itu. ia menempelkan gawainya pada mesin tersebut dan terdengar tiga kali bunyi bip. setelah itu Haidar kembali ke hadapan Aisyah yang masih menatapnya dengan tatapan sinis.


"Sekarang kau punya akses apapun dalam rumah ini." ujar Haidar kemudian menudingkan telunjuknya ke wajah Aisyah yang refleks ditepis oleh jilbaber itu. tapi Haidar tak perduli. ia menudingkan jarinya ke wajah Aisyah. "Jangan pernah ciderai kepercayaanku kepadamu! ingat! semua properti yang ada disini, lebih mahal dari nyawamu tahu?" ujar Haidar mendelikkan matanya sejenak lalu berbalik melangkah kembali menuju Sofi diiringi tatapan Aisyah yang geram.


"Sofi... jalan-jalan sama Om yuk!" ajak Haidar.


Aya Sofia mendongak menatap Haidar yang telah mengulurkan tangan. anak perempuan itu mengangguk lalu bangkit dan menatap Aisyah.


"Bunda... bolehkah saya jalan sama Om?" tanya Aya Sofia.


"Tentu saja, sayang. hati-hatilah dijalan, ya?" ujar Aisyah kemudian memesan anak itu. Haidar kemudian pergi bersama Aya Sofia menuju pintu dan membukanya lalu pergi meninggalkan tempat kediaman itu.


tak lama kemudian Salman muncul dan duduk di kursi depan meja pantry. Aisyah menyajikannya minuman kopi hangat. Salman mengambil dan menyeruput minuman itu pelan-pelan.


"Pak komandan mau bertugas hari ini?" tanya Aisyah dengan ramah. Salman menggeleng.


"Nanti besok denai baru bertugas." jawab Salman, "Dan jangan menyebutku dengan Pak Komandan. panggil saja denai Salman. itu nama depanku. atau juga Attar, itu nama tengahku."


"Baiklah... bagaimana kalau Pak Attar, saja?" tanya Aisyah.


Salman mengangguk lalu tersenyum dan mengangkat gelasnya. "Kopinya enak." puji Salman. Aisyah mengangguk.


"Terima kasih." jawabnya.


Salman mengangguk dan tak lama kemudian ia berujar. "Kau sudah menerima barang-barang milikmu? Haidar memesan orang-orangnya untuk mengemasi semuanya dari sana."


Aisyah mengangguk. "Pak Attar... boleh nggak saya tanya sesuatu?"


"Silahkan." sahut Salman duduk menyanggakan kedua lengan kekarnya pada permukaan meja pantry.


"Apakah Pak Attar kerasan tinggal disini?" tanya Aisyah.


"Tentu saja. aku tinggal disini atas rekomendasi Amak tuo." jawab Salman. Inayah dipanggil dengan sebutan Amak Tuo sebab ia istri pertama dari mendiang Sandiaga. (Untuk mengenal siapa Sandiaga, silahkan baca kisahnya pada novel Flamboyan.)



"Kami itu sepupuan. ayahku punya kembaran yang menikahi adik dari Apak Tuo. jadi Haidar termasuk urang semenda di keluarga Williams secara umum. dia dan Haanish adalah anak pisang dikeluarga kami." jawab Salman.


"Oh, jadi Pak Attar ini orang minangkabau?"tebak Aisyah.


"Tidak benar-benar. Keluarga William-alkatiri termasuk dalam golongan warga keturunan yang sudah lama tinggal di Padang. bahkan anduang pandai membawakan adat-adat minang meski marga Alkatiri sebenarnya berasal jauh dari Hadramaut, Yaman. tapi, aden tetap mencintai adat minang karena aden lahir di Padang." jawab Salman. "Mengapa waang bertanya begitu?"


"Apakah pembawaan Pak Haidar memang sesadis itu?" tanya Aisyah membuat Salman menegakkan tubuh memperhatikan wanita dihadapannya itu.

__ADS_1


"Maksudnya? aden nggak paham." ujar Salman. "Bisa diceritakan lebih mendetail?"


Aisyah kemudian bercerita tentang awal pertemuannya dengan Haidar, hingga akhirnya wanita itu tinggal disini. Salman mengangguk-angguk lalu tersenyum.


"Haidar itu nggak kejam, juga sadis seperti perkiraan waang tu. tapi orangnya memang agak kaku dan pergaulannya terbatas. setahu aden, pergaulannya dengan wanita hanya satu-dua orang saja. inyo sangat menjaga benar dirinya." ujar Salman. "Ini bukan cuma pendapat aden seorang. semua orang yang kenal dengan inyo akan mengatakan hal yang sama."


"Tapi kok..." gumam Aisyah dengan ragu.


"Waang belum mengenal sepenuhnya Haidar sehingga waang menjustifikasi segala tindakannya sebagai bentuk kezoliman. itu sih masih mendingan. kalau bicara tentang sadis, tentu adiknya Haidar yang paling cocok dengan gambaran itu." ujar Salman sambil tersenyum.


Aisyah tercekat. adiknya Haidar? sadis? waduh... kelihatannya keluarga ini adalah psykopat semua dong...


Salman tertawa melihat diamnya Aisyah. "Jangan berprasangka buruk dulu. dosa nantinya waang tanggung. selamilah dulu, pahamilah dulu lalu bisa membuat keputusan. Haidar itu demokratis orangnya. kami sekeluarga selalu dididik untuk empati kepada orang lain, selama orang itu tak melakukan kejahatan yang tak termaafkan."


"Siapa adiknya Pak Haidar?" tanya Aisyah.


"Namanya Haanish Hermawan Lasantu... orang yang terlihat santai dan penuh senyum. sangat beda dengan Haidar yang kelihatannya terlalu serius. tapi, Haanish mengidap kelainan patologis yang membuatnya tertawa justru didalam keadaan murka." ujar Salman.


"Tapi... dia nggak dzolim, kan?" sela Asiyah dengan cepat.


"Nggak. sama seperti Haidar, dia sangat baik kepada siapapun. tapi dia sangat bengis kepada musuhnya." Salman kemudian merubah gaya duduknya lebih santai. ia menerawang. "Akan aden ceritakan kisah mereka berdua semasa kecil. waktu itu Mamak Tuo dan Mintuo Etek mengunjungi kediaman ini dalam rangka upacara aqiqahnya Marinka. waktu itu Marina dibawa serta."


"Tunggu... Marina dan Marinka itu siapa?" tanya Aisyah.


"Anak-anaknya Tuo Akram dan Etek Yuki... maksudnya Mamak Tuo dan Mintuo Etek." jawab Salman.


Aisyah mengangguk-angguk lalu meminta Salman meneruskan ceritanya. lelaki itu kemudian menyambung. "Menurut kisah yang diceritakan Apak ku, saat upacara aqiqah tersebut terjadi kekacauan. gerombolan ******* muncul dan menembaki semua yang hadir dalam pesta. Haidar dengan keberaniannya melindungi keluarganya dan melumpuhkan musuhnya hanya dengan jurus teriakan Bahana penggetar sukma. Haanish dengan kedua pedang kayu ditangannya, memukul pingsan semua ******* tersebut sambil tertawa-tawa kegirangan."


"Tertawa kegirangan?" desis Aisyah tak percaya. ia merinding.


Salman mengangguk. "Ya, dengan dua pedang kayu ditangannya, ia memukul pingsan semua ******* sambil tertawa kegirangan." ulang lelaki itu. "Kan aden bilang, Haanish mengidap kelainan patologis. kalau dia sudah tertawa terus-terusan, jangan dikira dia gembira. justru mungkin disaat itu ia berada dipuncak kemarahannya."


Aisyah menelan ludahnya. "Kelihatannya, aku akan menjadi babysitter bagi dua anak dewasa itu." keluhnya.


"Bisa jadi begitu." tukas Salman sambil terkekeh. "Dikediaman ini tinggal beberapa orang. aden, Haidar, Haanish, Bik Inah... dan kemungkinannya kamu akan menjadi penghuni kelima disini bersama Sofia."


"Tadi... dia memotret wajahku dan merekam sidik jariku." ujar Aisyah. Salman menjentikkan jari.


Aisyah kembali meneguk ludahnya sendiri. Salman menghela napas. "Kamu boleh jalan-jalan sekitar sini untuk mengenal lebih jauh kediaman ini. supaya lebih akrab dan tidak canggung. ingat! waang sudah dipercayai Haidar. jangan ciderai kepercayaannya. itu saja."


Aisyah tersenyum hambar. "Apakah menurut Pak Attar... saya termasuk kedalam golongan orang-orang yang patut dicurigai?"


Salman bangkit. "Aden itu seorang polisi. keseharian aden adalah mencurigai orang. ini bukan menuduh waang, tapi hanya sekedar mengingatkan saja. jangan tersinggung dengan ucapan aden." lelaki itu menyorongkan gelas ke tengah meja. "Ada musuh yang menunjukkan dirinya secara terang-terangan. ada juga musuh yang bergerak secara diam-diam.... tapi..." Salman memajukan wajahnya kedepan. "Musuh yang berbahaya... adalah yang pura-pura menjadi teman kita..." Salman tersenyum lagi lalu bergerak hendak pergi.


TING TONG....


bunyi bel di pintu membuat Salman merubah arah jalannya menuju pintu depan dan membukanya. sejenak ia terdiam ditempat itu.



sesosok wanita berjilbab membuat pandangannya terpaku. dia adalah Callista Waroka, putri dari Dewi Basumbul dan Cornell Waroka.


Callista menautkan alisnya melihat Salman yang masih terdiam dipintu. ia memajukan wajahnya lagi.


"Assalamualaikum..." sapanya.


Salman sontak terkesiap. "Wa w-wa-wa alaikum s-s-salaaam..." jawabnya tergagap. ia gugup. dengan senyum sopan Callista bertanya.


"Haidarnya... ada?" tanya Callista.


"A-a-da... tap-tapi lagi j-jalan-jalan d-dengan S-sof-sofia." jawab Salman tergagap lagi.


Callista membuka mulut sejenak lalu diam dan mengangguk-angguk. jilbaber itu tersenyum lagi. "Ya... kalau begitu... saya balik dulu. kalau Haidarnya datang. bilang Callista tadi bertamu."


"C-c... Call-Callista?" gumam Salman.


Callista mengangguk-angguk namun wajahnya tersenyum lucu, merasa geli menyadari kegagapan orang dihadapannya. tak lama dari belakang Salman muncul Aisyah. melihatnya, sontak Callista kaget.

__ADS_1


"Lho? anda disini?" tanya Callista dengan heran.


Aisyah tersenyum lalu menyibak Salman agak ke samping. "Nyari siapa dek?" tanya Aisyah dengan sopan.


"Ooo... nyari Kak Chouji. ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan sama beliau. tapi sayangnya beliaunya nggak ada. kalau begitu, saya permisi." ujar Callista sambil pamit.


"Ah, jangan dulu pamit." tahan Aisyah. "Sebentar lagi Haidar tiba. dia lagi jalan-jalan pagi dengan anak saya, Sofia. kamu sudah tahu kan?"


Callista mengangguk dan tersenyum lucu. Aisyah menyambung. "Masuklah dulu. jangan ditunda urusan yang penting itu. mari..." ajaknya.


Aisyah maju menarik tangan Callista dengan lembut dan membawanya masuk. keduanya kemudian duduk dikursi tamu. Aisyah menatap Salman.


"Kak Attar... bisakah Kakak hubungi Haidar? suruh dia pulang." pinta Aisyah.


"Ooo... tentu. tentu. saya hubungi sekarang." tanggap Salman langsung mengambil gawai dan menghubungi Haidar. lelaki itu menjauh sedikit.


sementara itu Aisyah memberikan klarifikasi agar Callista tak salah paham. "Saya baru semalam tinggal disini. kebetulan saya butuh pekerjaan untuk menyambung hidup. alhamdulillah... Haidar berjanji untuk membantu saya. sementara ini dia mengizinkan saya menginap sementara di kediaman Lasantu."


"Nggak gampang lho, mbak... tinggal disini." kata Callista. "Kak Chouji itu sangat selektif. bagaimanapun... dia calon kepala keluarga Lasantu paska wafatnya Om Sandiaga, ayahnya. jadi pembawaannya selalu saja serius. kadang orang akan tak merasa nyaman dihadapannya sebab perbawa kak Chouji sedemikian besar." timpalnya.


Aisyah terngiang lagi perkataan Salman. kali ini ia mengintrogasi Callista.


"Menurut kamu... Haidar itu, bagaimana orangnya?" selidik Aisyah. Callista menerawang.


"Kak Chouji itu sangat baik. perhatian... dan rendah hati. ia dan Kak Eiji itu low profile sekali orangnya. tapi mereka sangat selektif dalam memilih kawan." jawab Callista.


"Eiji itu siapa?" tanya Aisyah.


"Chouji adalah panggilan untuk Kak Haidar... kalau Eiji, itu panggilan untuk Kak Haanish." jawab Callista. Aisyah menghafal sebutan-sebutan itu dalam ingatannya.


"Tapi, kok aku yang orang asing bisa diijinkan tinggal disini?" pancing Aisyah.


Callista tersenyum, "Berarti Kak Chouji percaya kepada kakak. Kak Chouji itu punya indra keenam-bukan, indera ketujuh lho. dia bisa merasakan hasrat dan pikiran orang lain."


Aisyah mengangguk-angguk lagi. tak lama kemudian pintu terbuka dan muncullah Haidar yang sedang menggandeng tangan Aya Sofia. penampilannya yang mirip ustadz itu sesaat membuat Callista menahan tawa.


"Kakak baru habis ceramah dimana?" olok Callista.


Haidar hanya tersenyum lalu menatap anak gadis dalam gandengannya. "Sofi pergi sama ibu dulu ya? Om masih punya tamu."


Aya Sofia mengangguk lalu berlari kecil menuju kepada Aisyah yang juga sudah berdiri. jilbaber itu menghela napas.


"Baiklah... aku tak akan mengganggu pertemuan kalian berdua." ujar Aisyah dengan senyum mengejek Haidar lalu pergi menggandeng Aya Sofia menuju pantry.


Haidar kemudian duduk disamping Callista. "Kenapa Lis?"


"Mama pesan padaku untuk menemui Kakak. katanya mau jemput berkas yang dikirim ke Kakak lalu. apa sudah disortir belum?" tanya Callista.


"Sudah." ujar Haidar. "Kamu mau membawanya pulang?"


Callista mengangguk. Haidar bangkit.


"Baik. tunggu sebentar." ujar pemuda itu melangkah meninggalkan kursi tamu, menuju tangga. saat berpapasan dengan Aya Sofia, pemuda itu melambaikan tangannya lalu mengacungkan tinjunya kearah Aisyah. Aisyah membalasnya dengan memperlihatkan jari tengah membuat Haidar langsung melengos.


Callista yang melihat adegan itu geleng-geleng kepala saja. ternyata benar juga dugaan Mahreen. ada sebuah hubungan tersembunyi antara Kak Chouji dengan perempuan ini. ketidak akuran mereka mengisyaratkan hal itu.


tak lama kemudian Haidar muncul lagi membawa sebuah portofeule berisi semua data diri pegawai yang diminta reviewnya oleh Dewinta Basumbul. berkas itu diletakkan di meja. Callista kemudian meraih berkas itu dan memeluknya didada.


"Kak, aku cabut dulu ya?" ujar Callista.


"Boleh ku antar?" usul Salman yang tiba-tiba muncul dengan pakaian rapi. Haidar sejenak kaget namun bisa menebak hasrat lelaki itu.


"Kau bawa mobil?" tanya Haidar.


Callista mengangguk. Haidar mengulurkan tangan. "Kesinikan kuncinya." pinta Haidar membuat Callista heran namun tak membantah. jilbaber itu menyerahkan kunci mobilnya kepada Haidar.


Haidar memberikan kunci itu kepada Salman. "Kutitipkan adikku ini kepadamu! jangan sampai sekerat kulitnya lecet!" ujar Haidar dengan tegas kepada Salman.

__ADS_1


"Siap Bos! aden akan melakukan pengawalan tingkat satu!" jawab Salman dengan tegas lalu menatap Callista dengan tatapan senang yang ditahan-tahan. "Silahkan Adiak..."


Callista tersenyum menahan tawa melihat perilaku Salman yang kocak. jilbaber itu mengangguk lalu melangkah keluar diikuti oleh Salman.[]


__ADS_2