The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 23


__ADS_3

"Hanifah..." gumam Djalenga mendesis.



Mahreen menatap gadis berjilbab itu. cantik khas pulau Lombok. kedua mata lentiknya menatap Hanifah yang juga ikut menatapnya.



"Siapa namanya tadi?" tanya Mahreen.



Djalenga tersenyum canggung kearah Mahreen. "Namanya Hanifah, putri dari Datu Singamaruta." jawabnya dengan pelan dan kikuk.


Mahreen terhenyak lalu berseru. "Oooh... yang lalu diculik Djalenga dan tertangkap warga?" tebak Mahreen membuat Djalenga makin pias dan malu sedang Hanifah hanya tersenyum hambar.


"Ya... itu saya." ujarnya kepada Mahreen lalu menatap Djalenga. "Sudah lama tak berjumpa."


"Ya, bagaimana kabarmu?" sapa Djalenga.


"Alhamdulilah, aku baik dan sehat." jawab Hanifah dengan lembut. ia kembali menatapi Mahreen. "Ini pacar barumu?" tanya Hanifah kepada Djalengan.


Djalenga baru saja hendak menjawab tidak, ketika Mahreen dengan responsif menyela. "Ya, aku pacar barunya. namaku Mahreen Nurmagonegov." ujar gadis itu mengulurkan tangan sambil mengamati wajah Hanifah.


ada sedikit perubahan riak diwajah Hanifah saat Mahreen memperkenalkan dirinya beserta status bohongannya itu. dengan senyum hambar kembali Hanifah berujar.


"Cantik ya? beruntung sekali Djalenga mendapatkan wanita bule." ujarnya sedikit menyindir.


Djalenga kembali merasa kikuk disindir Hanifah. jelas benar nada suaranya yang lembut sedikit terdengar cemburu. pemuda itu kembali tersenyum kikuk.


"Maaf..." ujarnya pelan.


Mahreen menatap lelaki itu. kelihatannya ia terintimidasi benar oleh jilbaber tersebut. gadis itu Rusia itu berinisiatif langsung menggandeng tangan Djalenga. sekali lagi Djalenga terkejut dengan perlakuan Mahreen yang begitu berani. sedangkan dihadapannya, Hanifah terlihat canggung dengan sikap Mahreen tersebut.


"Kupikir, aku salah tempat ya?" ujarnya sambil tersenyum. "Kalau begitu, aku permisi ya?"


baru saja Hanifah berkata demikian, muncul pula seorang lelaki mendekati Hanifah. "Hai, sudah selesai urusannya?" tanya lelaki itu.


Hanifah menoleh menatap lelaki itu. ia tersenyum lagi "Baru saja selesai." jawabnya.


lelaki itu menatap Djalenga. "Hai Djalenga..." sapanya.


"Hai juga Jusrin." jawab Djalenga. ia memang mengenal Jusrin. keduanya teman sepermainan. hanya saja Jusrin keluar dari lingkungan Desa Sade dan mengembara. ia bekerja disalah satu maskapai pelayaran sebagai mualim.


"Masih disini juga kah? kupikir kau keluar mengembangkan potensi." ujar lelaki itu menyindir.


Djalenga hanya menyengir saja dan Mahreen dapat dengan jelas melihat sifat minder diraut wajah dan bahasa tubuh pemuda itu. Mahreen kesal lagi. sifat usilnya muncul kembali. kembali gadis Rusia itu menggandeng lengan Djalenga dan bersikap sangat manis terhadapnya.


"Kok kamu nggak bilang kalau kamu baru pulang dari Gorontalo bersamaku? bukankah kamu bilang sedang melakukan survei tentang pembudidayaan tanaman gaharu?" tukas Mahreen dengan gaya yang dibuat-buat, namun dihadapan Jusrin, terlihat begitu meyakinkan.


Djalenga kembali bersyukur, gadis Rusia itu menolongnya. ia pun langsung merespon. "Oh ya? kok aku lupa ya?" ujarnya kemudian tertawa.


Mahreen langsung bermanja-manja menggelayut lengan Djalenga. "Makanya... itu otak jomblo disingkirkan sudah. ada gadis yang senantiasa disisimu dan selalu mendukung segala kegiatanmu, tapi kau melupakannya, malah mengingat kenangan-kenangan menyakitkan yang ternyata masih sering menghantuimu." sindirnya membuat Djalenga dan Hanifah langsung salah tingkah.


Mahreen menatap Jusri. "Sejak pulang dari Gorontalo, ia sudah sering lupa, sebab terlalu kenyang dengan pesona alam Hulonthalangi. bahkan ia berencana kesana lagi sebab pemilik-pemilik perkebunan tertarik dengan konsep surveinya."


Jusri menatap Djalenga sedang pemuda itu hanya mengangkat bahu saja membuat Jusri sedikit kesal sebab upayanya menjatuhkan Djalenga kandas oleh perempuan itu.


ia kemudian menatap Djalenga. "Aku harap kau tak kesal kawan. datanglah ke pesta pernikahan kami. kau adalah undangan spesial untukku." ujarnya dengan tersenyum.


Djalenga mengangkat wajah menatap Hanifah. gadis itu melengos. pemuda itu kembali menatap Jusri. "Ya, Insya Allah."


"Tentu kami akan datang." jawab Mahreen pula. "Persiapkan saja dirimu."


Jusri mengangguk-angguk sambil tersenyum-senyum. ia lalu menatap Hanifah. "Mari sayang. kita pergi dari sini." ajaknya. Hanifah mengangguk lalu berbalik bersamaan dengan Jusri yang juga ikut menggandengnya.


Djalenga menatap mereka yang menjauh. seakan merasa ditatapi, sejenak Hanifah menengok dan tatapan keduanya kembali berbenturan. Djalenga terus menatap penuh arti sedangkan Hanifah langsung kembali membuang muka dan kini tak lagi berpaling, mengikuti langkah Jusri yang telah meninggalkan restoran tersebut.


Djalenga membuang napas pelan. Mahreen mendengus. "Lagaknya, seperti orang yang baru memenangkan perang saja."


Djalenga tersenyum hambar. "Dia memang memenangkannya."

__ADS_1


Mahreen berdecak kesal. "Kamu belum bertempur sudah menyerah duluan. laki-laki macam apa kamu?" sergahnya.


Djalenga menatap Mahreen. "Maunya kamu aku harus bagaimana?" tanya lelaki itu dengan sabar.


"Ya, apa kek, pokoknya jangan sampai kamu terlihat kalah dihadapan mereka." Mahreen kemudian mendecak kesal lagi. "Ah, kamu memang tidak seperti Kak Haidar dan Kak Haanish."


"Aku adalah aku, Mahreen. jangan membandingkan aku dengan orang lain." tegur Djalenga. "Memangnya siapa itu Haidar dan Haanish? sehingga kau membandingkan aku dengan mereka?"


"Keduanya adalah induk semangku di Gorontalo. aku tinggal di kediaman mereka." jawab Mahreen.


"Tapi..." ujar Djalenga.


"Jangan salah sangka. keluarga Lasantu memiliki dua kediaman. aku tinggal dikediaman Ali bersama ibu mereka." jawab Mahreen membuat Djalenga mendesah lega. Mahreen mengerling. "Lagian, mengapa kau mendesah lega?"


Djalenga hanya tersenyum. "Nggak. hanya lega saja."


Mahreen memicinkan mata sejenak lalu mengangguk-angguk. "Ya sudahlah. ayo pesankan semua ini. aku sudah lapar gara-gara mendengarkan obrolan picisan kalian yang tak berguna itu!"


Djalenga menarik napas lalu mengangguk dan mengambil lembar menu itu lalu melangkah menuju kasir.


"Saya pesan semua menu dalam lembaran ini." jawab Djalenga dengan datar.


kasir itu terkejut. "Kakak, apa tidak salah ini?"


Djalenga menarik napas lagi dan menatap Mahreen yang duduk sambil mengutak-atik aplikasi dalam gawainya. pemuda itu menatap lagi kearah kasir itu.


"Kakak lihat itu perempuan rambut brunet disana itu? dia yang suruh pesan ini semua. jadi tolong diadakan saja. mungkin dia penasaran dengan kuliner khas pulau lombok. tolong ya?" ujar Djalenga lalu berbalik melangkah kembali mendekati Mahreen yang sudah duduk lesehan.


"Bagaimana? sudah kau pesankan?" tanya Mahreen.


"Semuanya yang kamu minta." jawab Djalenga dengan nada sabar. Mahreen mengangguk.


"Bagus. temani aku makan." pinta Mahreen.


"Aku jadi kehilangan ***** makan melihat kamu memesan semua menu itu." jawab Djalenga lalu meringis.


Mahreen memelototkan matanya kepada Djalenga. "Aku nggak mau tahu. temani aku makan." pintanya menegas lagi.


"Bodooo.... kamu tadi bikin kesal aku." ujar Mahreen dengan ketus. "Kenapa kau tidak menampakkan kelelakianmu?! apa kau pikir dengan bergaya rikuh begitu, lelaki dan wanita itu akan iba kepadamu? mengapa kau tak berpikir? tunjukkan dihadapan mereka, kau bukan lelaki lemah."


Djalenga diam dengan ucapan itu. Mahreen melanjutkan, "Dia memperontonkan kesombongannya kepadamu. mengapa kau tak membalasnya? bukankah ada pepatah yang mengatakan, sombong kepada orang sombong itu kebaikan? mengapa kau tidak membalas kesombongannya?"


Djalenga tersenyum. "Kamu ini memiliki empati yang besar rupanya." sindirnya.


"Eh, aku tak suka kalau sahabatku diperlakukan begitu oleh orang lain. aku dengan segala cara pasti akan membalaskan apa yang mereka lakukan kepadamu!" kilah Mahreen.


"Termasuk berpura-pura menjadi kekasihku?" todong Djalenga.


Mahreen terdiam sejenak lalu menjawab dengan gagap. "Y-ya b-begitulah..." kilahnya sembari menegaskan kembali. "Kau tahu? seorang teman akan meminjamkan bahunya untuk sandaranmu saat kau menangis. tapi seorang sahabat sejati akan meminjamkan tongkat untuk memukul orang yang membuatmu menangis! tahu nggak kau?!"


Djalenga tertawa. "Kamu memang paling tahu memilih kata-kata untuk menenangkan sahabatmu ini." ujarnya membuat Mahreen ikut juga tertawa. Djalenga mengangguk-angguk lalu menatap Mahreen.


"Terima kasih Mahreen. kamu memang tak putus memberikan aku penguatan harapan." ujar Djalenga. "Aku janji, mulai hari ini, aku akan membusungkan dada dihadapan mereka."


"Itu baru sahabatku!" seru Mahreen mengacungkan jempolnya.


tak lama lima orang pelayan muncul sekalian dengan kasirnya. lelaki itu mendekati Mahreen. "Nona, apa benar Nona pesan semua ini kuliner?"


Mahreen menatapi semua baki berisi kuliner yang diantar oleh lima pelayan itu lalu menatap kasir. "Aku nggak pesan makanan itu." jawabnya dengan datar.


kasir itu menatap pias kearah Djalenga yang juga hanya terdiam dengan sikap acuh Mahreen. tiba-tiba gadis itu tertawa.


"Aku hanya bercanda." ujar Mahreen, "Taruh semua kuliner itu dimeja ini." pintanya.


Kasir itu menarik napas lega dan langsung menyuruh kelima pelayannya meletakkan semua kuliner itu diatas meja sebelum gadis itu membuat gara-gara lagi. setelahnya mereka langsung meninggalkan meja tersebut.


"Kau tak merasakan ***** makanmu naik setelah melihat semua makanan ini?!" pancing Mahreen.


Djalenga tersenyum mulas. "Maaf Mahreen. bukan aku tak mau menemanimu makan. tapi kalau makanan seperti ini, amakku sering memasak juga. jadi..." ujar lelaki itu.


"Kenapa kau tak bilang dari tadi?!" sergah Mahreen membuat Djalenga terkejut.

__ADS_1


"K-kau k-kan nggak t-tanya, M-mahreen..." jawab Djalenga dengan gagap.


Mahreen mendecak kesal. sejenak dilihatnya hamparan kuliner itu kemudian ia memanggil kasir lagi. lelaki itu datang dengan wajah penuh kecemasan karena Mahreen belum menyentuh makanan tersebut.


"Ada apa Nona? ada yang bisa dibantu?" tanya kasir.


"Bisa panggilkan kelima pelayanmu itu?" tanya Mahreen dengan datar.


kasir itu diam *******-***** jemarinya. wajahnya makin cemas sementara Mahreen menatapnya dengan tajam. Djalenga yang tak tega menegur gadis itu.


"Mahreen, jangan kau menyusahkan mereka. kasihan." ujar Djalenga.


Mahreen kembali memelototi Djalenga sejenak membuat pemuda itu merasa tak nyaman. gadis itu kembali menatap kasir itu.


"Kuminta panggil kembali kelima pelayanmu itu!" pinta Mahreen.


dengan kesal kasir itu kembali balik memanggil kelima pelayannya. kelima perempuan itu datang kali ini dengan wajah yang sama dengan si kasir, wajah jengkel yang ditahan-tahan.


"Nah, keenam kami sudah disini Nona. sekarang katakan apa mau Nona?" tanya Kasir dengan rasa kesal yang masih ditahan-tahannya pula.


"Duduk kalian semua disini!" ujar Mahreen.


karena tak ingin mengundang keributan lebih jauh, keenam orang itu akhirnya duduk pula mengelilingi meja itu. Mahreen menatap kasir tersebut.


"Sekarang, habiskan semua kuliner itu. kalau kalian berenam bisa menghabiskannya, aku bayar semuanya tambah bonus. kalau tidak, aku tak akan membayarnya!" ujar Mahreen. "Nah, ayo silahkan!" serunya.


dengan segera keenam orang itu langsung mengerubungi semua makanan di meja itu. mereka berlomba menghabiskannya. entah hari ini, keberuntungan macam apa yang menggelayuti mereka. dapat tugas menghabiskan makanan dan dibayar pula dua kali lipat.


Djalenga ternganga melihat betapa gelojohnya mereka seperti kawanan serigala yang menyerbu kumpulan bangkai yang terhampar gratis. hanya dalam waktu sepuluh menit saja semua kuliner yang terhampar itu. Djalenga menutup mulutnya dan melengos menatap langit-langit ruangan itu.


Mahreen tersenyum gembira menyadari tugas yang diberikan olehnya dipenuhi oleh keenam orang itu dengan gembira. gadis itu langsung mengeluarkan dompetnya dan merogoh mengeluarkan lima lembaran uang nominal seratus ribuan rupiah dan meletakkan dimeja.


"Nah, aku memenuhi pernyataanku bukan?" ujar Mahreen sambil bangkit dan mengajak Djalenga meninggalkan restoran itu.


gadis itu melenggang gembira disisi Djalenga yang sesekali meliriknya dengan penuh tanda tanya. apakah Mahreen memiliki kelainan psikologis? semacam senang berhura-hura. apakah itu penyakitnya? gadis itu bahkan rela merogoh kocek sampai lima ratus ribu rupiah hanya untuk memperlihatkan bahwa ia mampu mengerjakan melakukan hal semacam itu. dihadapannya, uang sama sekali tak memiliki harga.


Mahreen paham benar tatapan Djalenga terhadapnya. tapi gadis itu memilih membiarkan saja pemuda itu bermain-main dengan pikirannya sendiri.


sesampainya ditrotoar, Djalenga kembali menaiki kendaraan tersebut dan menatap Mahreen.


"Habis ini, kita kemana Mahreen?" tanya Djalenga.


"Pulang." jawab Mahreen dengan enteng.


"Pulang?" tanya Djalenga sekali lagi.


"Iya, pulang!" jawab Mahreen dengan tegas.


Djalenga mengangkat bahu. ia memilih tak mau mendebat gadis itu lagi. susah cukup ia dibuatnya pusing. Djalenga menyalakan mesinnya dan mengisyaratkan Mahreen duduk membonceng.


tak lama mereka kembali meluncur menyusuri jalanan. diperjalanan, Djalenga kembali ditanyai Mahreen.


"Apakah rumah si Hanifah itu berada di Sade?" tanya Mahreen.


"Tidak. Hanifah tinggal di kampung Ende, di Sengkol." jawab Djalenga. "Dari Sade, terus saja menyusuri Jalan Kuta ini. akan tiba di Ende setelah Rambitan."


Mahreen mengangguk-angguk. ia merenung sejenak. "Dia mengundangmu ke pesta mereka. apakah sudah dekat tanggalnya?"


"Aku juga tak tahu. tadi Jusri tak memberitahu tanggalnya. mungkin sedikit lagi." jawab Djalenga.


"Baik. saat itu, kita akan menunjukkan taring kepada mereka berdua. dan aku ingin kau membusungkan dadamu. jangan pernah tundukkan lagi kepalamu! paham?!" ujar Mahreen.


"Ya. ya... aku akan melakukan apa yang kau minta." jawab Djalenga sambil terus memainkan gas kendaraan itu agar terus melaju. mereka akhirnya tiba di gerbang desa Sade.


Mahreen turun. "Okey, kita sampai." ujarnya.


"Aku akan membawa kendaraan ini ke sisi Bale Bonter." kata Djalenga.


"Sampaikan pada inaq-amak mu. aku datang hendak menagih janji kuliner yang kau katakan itu. sore aku akan datang. persiapkan semua." ujar Mahreen.


Djalenga menatap lama kepada Mahreen. tak lama kemudian ia menyanggupi lalu menyeret kendaraan itu menjauh dari tempat berdiri Mahreen. gadis itu sendiri melangkah santai menuju Bale Tani, tempatnya tinggal yang berfungsi sebagai rumah tamu disisi kantor kepala desa. []

__ADS_1


__ADS_2