The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 25


__ADS_3

langkah kaki menggema dikoridor tersebut. mereka berdua berjalan. satunya didepan dan satunya dibelakang. Aisyah masih melangkah dengan penuh kecurigaan. mereka akhirnya tiba pada barisan kamar. ada tiga pintu kamar disana.


"Kau tinggal dikamar ketiga." ujar Haidar menunjuk pintu kamar paling ujung. "Dikamar itu sudah disediakan kamar mandi dan ******." Haidar menunjuk kelokan setelah pintu kamar ketiga. "Disana ada laundry. jika kau mau mencuci pakaianmu. cucilah disana."



Aisyah menelan ludah saat Haidar berbalik menatapnya kemudian menyerahkan kunci. "Ingat, jangan punya niat melarikan diri lagi. hutangmu padaku masih banyak. hanya aku yang bisa memutuskan apakah hutangmu lunas atau belum."


Haidar kemudian melangkah meninggalkannya sendirian disana. tak lama kemudian Salman muncul sambil menggendong Sofia yang tertidur.


"Kutidurkan dimana?" tanya Salman dengan ramah.


Aisyah bergegas ke kamar paling ujung dan membuka pintunya setelah menguncinya. jilbaber itu terperangah melihat fasilitas dalam kamar itu.


gila! kamar pembantu saja, fasilitasnya segini lengkap... apalagi kamar majikan... subhanallah...


Salman membaringkan Sofia di ranjang setelah itu ia berniat pergi ketika Aisyah menahannya, mencekal lengan kekarnya.


"Jadi ini semua hanya drama saja?" tanya Aisyah.


"Terserah kamu melihat ini dari sudut pandangmu. aku hanya menjalankan perintah. tapi jika kau tak puas, kau boleh mengajukan komplain kepada pelapor." ujar Salman lalu melangkah meninggalkan Aisyah.


Salman menemui Haidar. lelaki itu melakukan toss tinju. "Semua sesuai keinginan awak." ujar Salman kemudian mengusap-usap tangannya.


Haidar mengangguk-angguk. "Oke. kurasa kau bisa mengembalikan mobil itu besok ke kantor."


"Beh! malas Aden ke kantor. ini masih masa cuti. biar aden hubungi partnernya aden untuk menjemput mobil ini." tolak Salman kemudian maju sedikit dan berbicara agak lirih. "Sebenarnya, apa sih yang Awak hendak buat? menculik seorang perempuan beranak, kurasa bukan perbuatan yang bijaksana, Haidar."


"Aku suka dengan anak itu. aku ingin mengadopsinya." ujar Haidar membuat Salman tersenyum.


"Kenapa nggak mengadopsi keduanya saja?" pancing Salman. "Kau adopsi putrinya, kau juga adopsi ibunya sebagai penghangat ranjang. dia cantik juga, Haidar."


"Aku tidak punya perasaan apa-apa terhadap Aisyah." tampik Haidar. "Kurasa kau saja yang menikahinya. perempuan itu ulet lho." usul pemuda itu.


"Sembarangan saja waang bicara. memangnya aden nggak laku, kah? kayak biro jodoh saja waang ini." omel Salman sambil terkekeh. "Intinya, jangan sampai perasaan iba itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih khusus dan nantinya akan mengacaukan hubungan waang dengan Mahreen."


"Aku akan mencoba bersikap proporsional." ujar Haidar. "Makasih atas saran dari Uda."


Salman sambil terkekeh, mengangguk kemudian berbalik melangkah menaiki tangga menuju ruangannya. tinggal Haidar sendirian di ruangan itu dan ia kemudian mengeluarkan gawainya. pemuda itu menghubungi seseorang. ia hanya mengaktifkan audiophone saja.


📲 "Halo..." sapa seseorang.


📲 "Pergilah ke komplek perumahan di..." Haidar menyebut nomor rumah yang ditinggali Aisyah. "Kau kemasi semua barang perempuan itu dan bawa kesini. aku tunggu malam ini."


📲 "Siap pak!" jawab orang tersebut.


pembicaraan seluler dihentikan dan Haidar menyimpan lagi gawainya. setelah itu, pemuda itu melangkah mondar-mandir di ruangan itu. tak lama kemudian muncullah Aisyah. Haidar langsung melangkah menuju pantry dan duduk dikursi dekat meja saji itu.


"Aku mau bicara dengan kamu." kata Aisyah dengan datar.


"Duduklah..." sahut Haidar menunjuk kursi di sisinya.


Aisyah kemudian duduk dikursi itu. Haidar mendehem pelan. "Sofi, sudah tidur?" tanya Haidar dengan lembut.


Aisyah mengangguk pelan. Haidar kembali mengangguk-angguk. ia menghela napas. "Kau lapar?"


"Nggak! bagaimana aku bisa memikirkan makanan saat polisi tiba-tiba datang membawa surat perintah dan kemudian menculikku kemari?" omel Aisyah.


Haidar hanya tersenyum tipis saja mendengar omelan hijaber itu. pemuda itu kembali mengangguk-angguk. Aisyah mendengus kesal.


"Jangan cuma mengangguk saja seperti kuda yang makan rumput! katakan padaku, kenapa kau selalu menggangguku? apa nggak ada perempuan lain yang bisa kau ganggu? misalnya perempuan berkerudung bermata hijau itu yang selalu menatapku, seakan aku ini benalu atau pelakor!" omel Aisyah lagi.


Haidar justru terkekeh lagi mendengar curahan hati jilbaber tersebut. Aisyah jadi jengkel dengan kelakuan Haidar. tangannya langsung maju menghantam lengan kekar pemuda itu.


"Kamu kerjanya tertawa terus hah?! sudah bosan hidup kau ya?!" ejek Aisyah lagi berupaya memanasi hati pemuda itu. tapi Haidar tak terpancing.


Aisyah melengos. Haidar menatapnya. "Kamu itu masih punya hutang sama aku. jangan pancing aku menyerakan rekaman CCTV itu kepada pihak berwenang."

__ADS_1


"Oh, jadi karena itu kamu berani menzalimi aku?! sekalian saja kau gorok leherku agar aku nggak perlu susah lagi menjalani hidup!" balas Aisyah dengan sengit.


"Terus, Sofi mau kau kemanakan? ke panti asuhan? tega benar kamu jadi ibu ya?!" desis Haidar dengan tatapan ngeri. Aisyah kembali melengos.


Haidar kemudian menghela napas. "Maaf jika aku terkesan mencampuri hidupmu. boleh aku bertanya sesuatu yang agak pribadi?" tanya Haidar memicingkan mata.


Aisyah menghela napas lalu menunduk. "Ayahnya meninggalkan kami tanpa jejak." Aisyah mengangkat wajah menerawang. "Aku menikah delapan tahun lalu. aku sebenarnya bukan asli kota ini. kami kemari sebenarnya menghindari lelaki itu. dia tergoda seorang perempuan kaya dikampung kami. dia menikahinya setelah memelet perempuan itu. aku nggak terima dan dia mengusir kami dari rumahnya. keluarganya juga menghendaki itu."


"Kau kemari saat Sofia berusia berapa?" tanya Haidar.


"Anak itu berusia tiga tahun saat aku meninggalkan kampung. aku bekerja serabutan, membeli otoped bekas dan melamar diperusahaan kurir untuk menambah biaya kehidupan kami." jawab Aisyah kemudian menghela napas.


Haidar mengangguk-angguk. "Kau tak akan kekurangan lagi. aku janjikan itu padamu."


Aisyah menatap pemuda itu. "Kau jangan menanam budi kepada orang yang belum kau kenal sama sekali." tegur jilbaber itu.


"Aku bukan melakukannya untukmu! aku melakukannya untuk Sofi." jawab Haidar dengan ketus. Aisyah mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Untuk Aya? waw..." olok Aisyah, "Kenapa dengan Aya?"


"Aku menyukai anak itu sejak pertemuan pertama kami." ujar Haidar dengan senyum tipis membuat Aisyah terkejut.


"Apa? jangan lakukan itu! apa kau seorang pedofil?" tukas Aisyah yang mulai takut.


"Enak saja bacotmu kalau ngomong!" sergah Haidar dengan kesal karena disalah pahami jilbaber itu. "Aku suka padanya sebagaimana seorang kakak kepada adik, bukan dalam konteks lelaki dan perempuan!" Haidar lalu bangkit dan melangkah pergi. masih terdengar oleh Aisyah kalau pemuda itu menggerutu. "Dasar mesum!"


Aisyah menahan tawa karena berhasil membuat Haidar marah dan meninggalkannya sendirian di ruangan itu.


...*******...


Mahreen hanya duduk termenung saja ketika Inayah muncul dan mendapatinya disana. wanita parobaya itu datang mendekat.


"Bagaimana perkuliahannya? lancar?" tanya Inayah dengan lembut namun mengagetkan Mahreen. buru-buru gadis itu memperbaiki sikap duduknya.


"Oh, Mamachka... kukira siapa..." ujar Mahreen dengan kikuk.


Mahreen berkali-kali menghela napas membuat Inayah tersenyum. dengan lembut, wanita itu meraih kepala Mahreen dan menyandarkannya dibahunya. tangan Inayah bergerak menyapu-nyapu pelan pundak gadis itu.


"Kalau kau merasa beban itu terlalu pribadi... Mama nggak akan menanyakannya." ujar Inayah pada akhirnya.



"Aku melihat Kak Chouji dengan seorang perempuan disebuah restoran." ujar Mahreen pada akhirnya. suaranya terdengar sendu. seketika kalimat Mahreen menyulut perhatian wanita parobaya tersebut.


"Perempuan?" pancing Inayah melepaskan pelukannya.


Mahreen mengangguk pelan. Inayah menatap dalam gadis itu. "Sejak kapan Chouji mengenal perempuan lain, selain Callista, kamu dan Marina?"


Mahreen hanya mengangkat bahu. Inayah menghela napas panjang. "Mama harus menanyakannya kalau begitu. tadi Chouji nggak bilang apa-apa sama Mama."


Mahreen mengangguk lagi. Inayah menatap lagi gadis rusia itu. "Kau kelihatannya cemburu kepada perempuan itu." tukas Inayah.


"Ah, nggak Mamachka." elak Mahreen gelagapan. "Perempuan itu punya anak perempuan juga. menurut jawaban Kak Chouji, perempuan beranak itu adalah kawan lamanya. tapi aku melihat mereka berdua kayak nggak akur-akur begitu."


Inayah mengangguk-angguk. "Biar nanti Mama selidiki." ujarnya menenangkan Mahreen. "Tugasmu adalah belajar... jangan memikirkan apapun. segala hal yang berkaitan dengan Haidar Ali Lasantu... adalah urusan Mama."


Mahreen mengangguk lagi. Inayah tersenyum dan mengangguk. "Tidurlah... tenangkan pikiranmu dari hal-hal negatif." perintah wanita itu.


Mahreen mencium tangan wanita itu lalu bangkit dan meninggalkan ruangan itu, menaiki tangga ke lantai dua menuju kamar tidurnya. Inayah tetap duduk di sofa panjang itu. matanya menerawang.


tak lama kemudian Imelda muncul. asisten rumah tangga yang memakai apron itu mendekat dan berdiri disisi Inayah. wanita itu berkata datar tanpa menoleh.


"Kamu punya tugas baru Mel." ujar Inayah.


"Siap Nyonya." jawab Imelda dengan datar dan formal setelah itu berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan itu menyisakan Inayah yang tetap saja duduk disofa panjang itu.


...******...

__ADS_1


Marinka mengawasi sang kecerdasan buatan, Arkham yang sementara mendesain mikrochip ARK 01 NARSYS di Arklab. gadis berkepang itu mengenakan mantel ilmuannya. gadis itu merupakan satu dari sekian cendekiawan belia bertitel Doctor of Philosophy dibidang fisika terapan.



tak lama kemudian, muncul Marina dan berdiri disisi Marinka yang mengawasi tahapan pembuatan mikrochip tersebut.



"Bagaimana prosesnya?" tanya Marina.


"Tahapan sudah mencapai 92 persen. sedikit lagi selesai." ujar Marinka. "Tadi denai sudah melakukan pengisian daya. jadi alat ini sudah dapat digunakan setelah rampung." Marinka menatap kakak sulungnya dan tersenyum.


"Denai rasa waang menyimpan perasaan kepada Uda Eiji." tukas Marina dengan lembut membuat Marinka langsung terdiam dan menatap kembali hamparan tuts keyboard, lalu kembali berlagak sibuk mengamati proses perampungan itu.


"Katakan pada Denai, Inka... apakah adiak menyukai Uda Haanish?" tanya Marina dengan lembut lagi.


"Nggak. denai nggak punya perasaan sama inyo. kami tak memiliki hal semacam itu." jawab Marinka tanpa menoleh, namun Marina dapat menyaksikan bahwa pipi gadis itu memerah.


Marina tersenyum, "Baiklah. denai tak akan mempertanyakan hal itu lagi. hanya saja, patutlah adiak tahu bahwa rasa itu amat janggal dalam adat dan kebiasaan kedua suku kita itu. jadi sebaiknya adiak melepaskan saja perasaan itu. nantinya malah akan membuat adiak tersiksa sendiri." gadis itu menepuk-nepuk pelan pundak Marinka lalu berbalik dan melangkah meninggalkan gadis berambut kepang itu sendirian di Arklab. Marinka menarik napas panjang dan memghembuskan napas dengan pelan, membantu detak jantungnya yang tak beraturan kembali ke ritme yang semula, damai nan tenang.


...******...


Haidar terbangun saat adzan subuh berkumandang. pemuda itu lekas bangkit dari tidurnya dan berdiri lalu melangkah ke kamar mandi. disana ia berwudhu lalu kembali ke kamar dan melaksanakan sholat subuh secara munfarid.



setelah menyelesaikan ritual sholat subuhnya kemudian melanjutkannya dengan rapalan dzikir selama 15 menit, seterusnya berdoa dan akhirnya bangkit melangkah lagi menuju beranda dan mulai melakukan tilawah Al-Qur'an dari ayat yang terakhir kali dibaca.


lantunan tilawah itu menggema di suasana pagi itu sebab Haidar tanpa sadar mengerahkan prana ke wilayah cakra manipura yang terletak dipusar. suaranya memiliki gelombang yang dapat menggetarkan kesadaran orang yang berada dalam posisi tidur menjadi terbangun.


Aisyah terbangun mendengar lantunan tilawah tersebut. ia tanpa sadar keluar dari kamar, digerakkan oleh rasa penasaran sebagaimana seorang yang tergendam. langkah kakinya menanjak menaiki tangga hingga akhirnya tiba di beranda lantai dua dan mendapati Haidar sedang duduk mendaras ayat, namun secara menghafal.


terpesona wanita itu menyaksikan begitu terang nan bercahayanya aura wajah pemuda tersebut saat melantunkan bacaan tersebut. perbawanya sangat terasa sekali sampai-sampai Aisyah sendiri hanya terpaku menyandarkan wajahnya pada dinding mengintip Haidar yang tenggelam dalam kegiatannya membaca Al-Qur'an.


setelah setengah jam kemudian Haidar menghentikan kegiatannya mendapati Aisyah yang terpaku memejamkan mata seakan meresapi benar bacaan yang baru saja didarasnya. dengan mengendap-endap Haidar mendekati Aisyah.


"Apa yang kau lakukan disini?" bisik Haidar dengan lirih.


sontak Aisyah membuka mata dan terpekik kaget. tubuhnya doyong ke belakang dan nyaris menghantam lantai kalau saja Haidar tidak bertindak cepat menyangga tubuh jilbaber tersebut. posisi mereka bagaikan penari yang saling memeluk. Haidar terkejut, begitu juga dengan Aisyah namun keduanya seakan tak mampu bergerak.


"Pak Haidar..." tegur Aisyah dengan lirih.


Haidar kembali tersentak kaget dan menegakkan tubuhnya kembali, begitu juga dengan Aisyah. keduanya menjadi canggung.


"Aku.. a-ak-akk-ku ak-akan ke p-p-pantry menyiapkan sarapan." ujar Aisyah dengan gagap lalu berlari meninggalkan Haidar sendirian disana.


Haidar menggeram merutuki kebodohannya. mengapa juga harus mengendap-endap dan mengagetkan Aisyah jika itu pada akhirnya membuat keduanya terjebak dalam posisi dan suasana yang ambigu semacam itu.


Haidar akhirnya memutuskan keluar dari ruangan itu saat menatap jam dinding menunjukkan pukul 06.18. langkah kakinya tersamar dalam kain sarung yang melambai-lambai menuruni tangga menuju ke lantai satu.


ternyata disana telah berada Aisyah sedang menjerang air dalam poci listrik. disana juga sudah ada Aya Sofia yang bermain dengan boneka beruang. anak itu menatap Haidar.


"Assalamualaikum, Om..." sapa Aya Sofia.


"Wa alaikum salam." balas Haidar, "Sofi sudah makan?" pemuda itu mendekati Aya Sofia lalu berlutut dihadapan anak perempuan itu.


"Masih dibikinin bunda, Om." jawab Aya Sofia. "Om juga mau makan?"


"Kalau makanannya sudah disajikan, sayang." jawab Haidar mengacak lembut rambut anak itu. "Aya senang tinggal di rumah Om?"


"Senang..." jawab Aya Sofia dengan gembira. "Aya nggak akan merasa kedinginan lagi."


"Mau tetap tinggal di rumah Om?" pancing Haidar.


"Jangan mengajari anakku perilaku mengemis." sela Aisyah.


"Aku nggak nanya kamu!" balas Haidar, "Aku nanyai Sofi, kok kau yang kebakaran j****t sih?"

__ADS_1


wajah Aisyah langsung memerah mendengar Haidar menyebut bagian itu tanpa sungkan.[]


__ADS_2