The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 05


__ADS_3

Usul Haidar barusan benar-benar bagai godam yang menghantam batok kepala jilbaber itu. nikah siri? ada angin apa yang merasuk kedalam benak kepala lelaki ini sehingga mengusulkan hal sedemikian itu?


"Bagaimana? kamu mau?" tanya Haidar.


"B-bapak nggak s-sedang b-b-bercan-d-da, k-kan?" tanya Aisyah dengan gagap.


tiba-tiba Haidar mengecup bibir Aisyah dan mengulumnya sesaat. sejenak Aisyah merasa dirinya melambung tinggi hingga akhirnya Haidar melepaskan kecupannya.


"Apakah kecupan itu meragukan kamu?" tanya Haidar.


perlahan senyum mulai tersungging dibibir Aisyah. Haidar ikut tersenyum datar. "Bagus... kurasa kamu bersedia dengan kode senyuman itu." ujar Haidar membuat Aisyah kembali mendaftarkan wajahnya.


Haidar menggelengkan kepala berkali-kali. "Dasar perempuan gengsi... kamu nggak usah jual mahal padaku... aku sudah merasai tubuhmu... kamu saja menikmatinya."


Aisyah melotot. Haidar balas melotot. Aisyah mengencangkan rahangnya. Haidar balas mengencangkan rahang dan memamerkan giginya yang berderet putih. keduanya saling menentang tatapan. dengan jengkel Haidar langsung mencengkeram dada bagian kiri Aisyah membuat jilbaber itu terhenyak.


"Pak!!!" sergahnya lirih.


"Diam kamu! aku hanya ajukan pertanyaan satu kali. jawab Ya, atau tidak!" tandas Haidar masih tetap memegang dada jilbaber itu bahkan mulai meremasnya.


Aisyah meringis merasai tangan pemuda itu mencengkeram penuh dadanya. "P-pertanyaan yang m-m-mana?" tanya jilbaber itu.


"Dasar bodoh! pertanyaan yang tadi! mau nggak nikah siri?!" tanya Haidar dengan jengkel.


"Tapi, kenapa harus nikah siri?" tanya Aisyah lagi dengan lirih.


"Aku tanya kamu! mau atau nggak?!" todong Haidar.


"I-i-iy-iya deh, m-mau... mau.... mau..." jawab Aisyah mengangguk pula.


"Bagus...." ujar Haidar kemudian melepaskan tangannya didada jilbaber itu. lelaki itu tersenyum dan tiba-tiba langsung memondong Aisyah ke kamar.


tiada satupun yang tahu, kecuali Haidar, Aisyah, Tuhan, malaikat dan syaithan yang menjadi saksi atas apa yang keduanya lakukan didalam kamar itu.


...*******...


Kediaman Alkatiri, Padang, pukul 05.39 WIB.


Syafira sudah mengantisipasi segalanya. berdasar pengalamannya sebagai hacker handal, ia memblokir jaringan komunikasi antara Haanish dengan Marissa selama masa pingitan sehingga keduanya tak bisa berkomunikasi. Haanish menerima dengan tabah. namun tidak dengan Marissa.


gadis itu senewen luar biasa. ia mengibarkan bendera perang terhadap neneknya. ketegaan Syafira memblokir jaringan komunikasinya dengan Haanish, dianggap Marissa sebagai hasutan.


Marissa bukan gadis sembarangan. ia seorang polymath unggulan dan otodidaktis. tanpa memerlukan bimbingan, ia mampu mengerjakan apapun, apalagi berhubungan dengan teknologi terapan dan informatika. semua bahasa pemograman dikuasainya dengan baik.


Syafira sebenarnya senang benar dengan cucunya ini. hanya dengan Marissa, nenek itu merasakan kembali menjadi muda. Marina dan Marinka terlalu kaku dan penurut. tapi tidak dengan Marissa. gen Akram secara penuh mengalir dalam diri putri bontot keluarga William-alkatiri itu. Marissa mewarisi sifat jahil, cerdas, polymatik dan otodidaktis Akram lebih daripada Marina dan Marinka, termasuk sifat keras kepala Akram. sedangkan Marina dan Marinka lebih mirip Ikram perilakunya yang agak penakut dan penurut, sebab semasa bayi hingga dewasa berada dalam lingkungan pengasuhan Reyhan dan Airin, orang tua angkat.


Marissa dengan kecakapannya berbekal gawai handphone, menggunakan aplikasi hacking, mengacaukan semua instalasi listrik di kediaman Alkatiri. tentu saja Syafira mencak-mencak. pasalnya semua alat elektronik kompak nggak mau berfungsi, padahal semua perabotan dikediaman itu sebagian besarnya adalah perabotan elektronik. lampu ruangan selalu kedap-kedip tak karuan, televisi yang hilang-timbul gambarnya, kompor listrik yang meledak untuk tak menimbulkan kebakaran jika tak segera dipadamkan Kevin dengan hidran pencegah kebakaran.


"Issha! jika waang begini terus, Inyiak tak segan menambah hari pingitanmu, dan menunda pernikahanmu dengan Haanish!" ancam Syafira.


serta merta pintu terbuka dan Marissa muncul bercakak pinggang. "Inyiak berani melakukan itu?" tantang Marissa dengan senyum dikulum.

__ADS_1


Syafira tergagap, "T-tentu saja... tentu s-saja. m-memangnya k-kenapa, ha?!" ujarnya mencoba balas menantang.


"Inyiak mau menanggung malu?" pancing Marissa membuat Syafira melengos dan mendengus.


"Denai yakin Inyiak nggak akan berani melakukan itu!" tandas Marissa. sang nenek menatapnya dengan wajah keruh.


"Atas dasar apa Waang berani berkata begitu?" pancing Syafira memicingkan mata.


Marissa langsung memeluk dan menciumi pipi neneknya. "Karena denai adalah cucu tersayang Inyiak. tak bisa dipungkiri dan disangkal penuh!"


Syafira mendesah dan memutar bola matanya. "Ya Allah, mengapa aku tak mampu bertahan hati dihadapan dajjal kecil ini?" keluhnya.


"Eeehhhh..." sergah Marissa, "Berani Inyiak sebut denai ini dajjal?! keterlaluan! apakah keturunan Williams merupakan jelmaan bani israil sehingga denai harus disebut dajjal?" ujarnya menuding-nudingkan telunjuknya ke wajah Syafira.


nenek itu menepisnya, "Singkirkan tanganmu, dasar puan bandel!" hardik Syafira kemudian bercakak pinggang. "Selama beberapa generasi keluarga Alkatiri selalu menjaga keturunannya. kamu ini pengecualiannya. nggak ada anak-anak Williams-Alkatiri yang nakal, kecuali kamu!" balas Syafira menuding-nudingkan jemarinya ke wajah Marissa.


Marissa langsung menangkap telunjuk Syafira dan menggigitnya membuat nenek itu mendengking-dengking kesakitan sambil mengumpat-umpat.


"Cucu kurang ajar! berani kau menggigit jemariku! kau ini manusia atau hewan pemangsa sih?! buas benar!" umpat Syafira berupaya melepaskan jemarinya dari cengkraman jemari Marissa.


"Biarin! supaya Inyiak ngerasai bagaimana marahnya macan yang dipingit!" balas Marissa hendak menggigit lagi jemari neneknya.


dengan kecakapan starlaknya, Syafira berhasil melepaskan diri dari cengkeraman cucunya kemudian balas memelintir lengan Marissa. gadis itu memekik kesakitan.


"Wadaaaaawwww.... sakit, sakit, sakit, sakit neeeekkkk... wadoooohhhh... adodododohoooo..." pekik Marissa membuat Kevin yang duduk santai sedang berdzikir terganggu pula. dengan menggerutu, kakek itu bangkit mendekati Syafira dan Marissa yang sementara bergelut sambil berdiri.


ia memisahkan mereka sambil mengomeli keduanya. "Dasar! nenek sama cucu, sama saja!"


"Sama apanya?!" tanya Syafira menantang sambil bercakak pinggang.


"Hah! tak ada memang yang bisa menyamai keramaian kami." balas Syafira Alkatiri


"Tentu saja. kalau bukan kalian berdua, tak akan ada keramaian yang paling ramai." sahut Kevin sambil menggelengkan kepala.


Marissa langsung menggelayuti lengan sang kakek dengan manja. "Tapi denai tak pernah sekalipun berbuat pelanggaran, iya kan Inyiak?"


Kevin hanya terkekeh. "Ya, kamu memang nggak berbuat kesalahan.... sebab kamu biangnya kesalahan! mana ada gadis maksa-maksa ketemu lelaki, kalau bukan kamu? kakek saja curiga jangan-jangan kamu ini laki-laki bertubuh perempuan. pemberani benar melanggar tata krama! mau kau taruh dimana muka keluargamu, hah?" omel Kevin membuat Marissa cengar-cengir garuk-garuk kepala.


"Sudahlah, Issha. untuk sekali ini, patuhilah perintah nenekmu dan mendekamlah dikamarmu. tinggal dua hari lagi." ujar Kevin memperlihatkan dua jemari membentuk tanda 'V' kemudian menatap cucu perempuan bontotnya itu. "Dua hari lagi kalian berdua akan menyatu dan kami berdua, orang tuamu berdua, kakakmu berdua tak akan lagi mengusik-usik kamu dan Haanish. paham?!"


Marissa menghentak kaki. dengan wajah keruh ia mengiyakan permintaan kakeknya. "Oke deh, denai ikut maunya inyiak berdua." gadis itu kemudian menuding-nudingkan telunjuknya dihadapan Kevin dan Syafira. "Jikalau nanti kakek-nenek berani mengusik satu diantara kami, atau kami berdua... Hah!!!" serunya sambil meninju telapak tangannya sendiri dan membuat Kevin dan Syafira terkaget-kaget dibuatnya.


Marissa pergi meninggalkan kedua manula itu dan menutup pintu kamarnya. Kevin menatap istrinya. "Ini... yang jadi orang tua, kita atau anak itu sih? kok malah dia yang ngancam kita? ada-ada saja itu cucu perempuan." omel Kevin. "Begini nih kalau nggak diajari akhlak sama bapaknya. jadi begini nih. ngelunjak sama orang tua!"


"Mas... anak ini beda peradatannya dengan kedua kakaknya. mereka berdua lebih mirip Yuki sedang Issha sangat condong dengan perangai Akram. kamu lihat sendiri? dia berhasil membobol jaringan hackingku! Akram sendiri mengaku nggak mengajari Issha. anak ini murni autodidaktis. jangan salahkan orang tuanya saja dong. Mas juga bertanggung jawab penuh untuk itu!"


"Lho? kok malah jadi aku yang kena pertanggungjawaban? cerita darimana tuh?" elak Kevin bercakak pinggang.


"Lho? bukannya Mas yang dulu membangga-banggakan issha dihadapan ninik-mamak kalau dia adalah cerminan Akram? dan memang terbukti benar! Issha adalah cerminan sembilan puluh delapan perangai dan kecerdasan bapaknya. meskipun tak memegang kendali perusahaan, anak ini bahkan bisa kupastikan bisa menyamai kedua kakaknya!"


"Tapi sikap mengancam itu, bukan gaya Akram." sangkal Kevin menunjuk pintu kamar Marissa.

__ADS_1


"Bisa jadi itu sisi lain Yuki yang tak pernah ditampakkan kepada kita dan menjalarnya ke Issha. kamu sendiri kan tahu, siapa ibunya Yuki?" timpal Syafira.


Kevin terdiam. ucapan istrinya ada benarnya. Marissa adalah buah hati dari Akram dan Airina. keduanya sangat tahu, siapa ibu dari Airina. tak lain adalah Azkiya Fatrianti Lasantu yang dulunya bernama Chiyome Mochizuki, sang kembang kematian. (untuk lebih mengenal jelas karakter Chiyome Mochizuki, silahkan baca novel Lazuardi Cinta dan Flamboyant.)


Kevin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Sebaiknya memang anak itu harus segera diikat. mungkin memang hanya Haanish yang bisa menundukkannya. anak itu memilihnya, maka dia pasti sudah siap menerima konseksuensi diperistri oleh psikopat itu."


Syafira hanya tersenyum dan menggamit lengan suaminya. "Sudah Mas, nggak usah lagi berkeluh kesah. biarkan saja anak itu bermain sesukanya. toh kalau dia bosan, dia pasti akan menghentikan sendiri kenakalannya itu." bujuk nenek itu dan kedua manula itu beranjak meninggalkan pintu kamar Marissa.


...********...


Aisyah menatap tubuh telanjang Haidar yang hanya terhalang selimut tipis itu. bagian alat reproduksinya yang layu itu masih nampak terlihat begitu menggairahkan. lelaki itu tertidur nyenyak setelah melakukan ritual prosesi penyatuan hasrat dalam beberapa kali gaya yang mereka berdua praktikkan. dan dalam setiap gaya itu, Aisyah selalu menyerah kalah dan membiarkan lubuk miliknya penuh cairan yang mengalir dipermukaan semakin menambah semangat Haidar untuk terus menggarapnya.


Aisyah yang juga dalam keadaan polos tak sehelai benang, membiarkan rambutnya yang lurus panjang ke pinggul itu terurai jatuh membentuk tirai yang menghalangi lekukan tubuhnya disaat wanita itu memeluk lututnya seraya tetap memperhatikan tubuh Haidar yang tergolek tidur setelah menuntaskan keinginannya menyatu dengan tubuh wanita itu.


*pantas saja Mahreen begitu cemburu... aku mengakui... kau begitu perkasa dan aku mengakui... tanpa aku sadari, aku mulai mengikatkan hatiku padamu... ini adalah persebadanan yang kedua kalinya dan aku telah menegaskan betapa aku... tak bisa memungkiri rasa yang makin kuat condong kepadamu...


aku bahagia ketika kau mengajukan hal itu... biarlah nikah siri... tak mengapa... untuk sementara, putriku akan memiliki figur ayah yang selama ini dirindukannya... aku akan melakukan apapun... untuk membuat putriku bahagia*...


Aisyah mendekat dan menegaskan wajah Haidar dari dekat. ia tersenyum.


kau memang tampan... dan perkasa.


tiba-tiba kedua mata Haidar nyalang terbuka membuat Aisyah terhenyak hendak menjauh namun dengan cepat Haidar bangkit menggenggam lengan wanita itu dan menariknya ke pelukannya. Aisyah berbaring telungkup diatas tubuh lekar bulky milik Haidar. kedua bagian pribadi mereka saling berdempet menimbulkan sensasi tersendiri bagi yang menikmatinya.


"Kenapa kau menatapku begitu rupa?" tanya Haidar dengan lembut. Aisyah dengan cepat menggeleng lalu hendak turun dari tubuh kekar lelaki itu saat Haidar memeluk dan mendekatkan tubuh Aisyah ke arahnya, menempelkan kedua bongkah dada itu menyentuh dada bidangnya. membiarkan rambut panjang wanita itu menjadi tirai yang menghalangi wajahnya yang sudah sedekat seinchi dengan wajah Haidar. pemuda itu dapat dengan jelas merasakan hembusan napas gugup Aisyah diwajahnya.


"Kamu gugup..." tukas Haidar.


"Nggak..." elak Aisyah.


"Akuilah... kau gugup..." tukas Haidar.


Aisyah menarik napas sesaat lalu mengangguk-angguk pelan. "Ya... aku gugup." jawab Aisyah, mengakui.


Haidar tertawa pendek lalu meraih kepala Aisyah, mendekatkannya ke wajahnya dan menyentuhkan kedua bibirnya ke bibir Haidar dan keduanya akhirnya saling memagut bagai ular yang sedang memasuki masa kawin.


"Kau boleh mengendaraiku..." ujar Haidar dengan pelan.


Aisyah tersipu tak sadar mengakui betapa inginnya ia mengendarai tonggak perkasa milik pemuda itu. Haidar sekali lagi memberikan persetujuannya dan Aisyah akhirnya membimbing tonggak kemudi itu kedalam sanggurdinya. wanita itu mulai mengendarainya dengan pinggulnya kesana-kemari, keatas-kebawah yang makin lama makin bertalu-talu. bunyi yang diakibatkan oleh membanjirnya keringat yang membanjiri tubuh sebab melakukan olah raga syahwatiniyah itu terdengar membaur dengan lenguhan dan desah napas Aisyah.


dan sekali lagi, wanita itu mengumandangkan kulminasi ejakulasinya melalui urat-urat leher yang menegang bersama tubuh yang gemetar, kemudian ambruk pemain tinju yang terkena pukulan knock out. Haidar memeluk lembut tubuh kecil itu dan tersenyum nyaman membiarkan nenggala miliknya tertanam pada periuk garba milik Aisyah. sedang Aisyah sendiri menyandarkan kepalanya didada bidang pemuda itu. keduanya sama-sama menenangkan diri paska ekstase yang memabukkan itu.


"Kau puas?" tanya Haidar.


"Maafkan aku..." sahut Aisyah dengan lirih.


"Jika menikmatinya... kau tak perlu meminta maaf... bukankah sudah lama kau tak merasakan belaian, kan?" tukas Haidar.


Aisyah hanya memperdengarkan dengus napasnya. Haidar membelai punggung polos wanita itu.


"Aku tunggu kamu selepas check clock out. kita akan ke penghulu. dan setelah itu, Sofi akan menjadi anakku." ujar Haidar.

__ADS_1


tak terasa butir airmata mengalir turun dari kedua mata Aisyah yang lentik saat mendengar ucapan pemuda tersebut.


Sofi... sebentar lagi kau punya seorang ayah... []


__ADS_2