The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 37


__ADS_3

Haanish sejenak meniup seruling untuk menciptakan suasana begitu syahdu. setelah itu ia berhenti dan menatap Danjo. "Ada baiknya kau mencari sendiri Danjo. manusia mencapai nirwana melalui usahanya sendiri, bukan dengan bantuan orang lain. mereka hanyalah washilah bagimu untuk mencapai pencerahan tertinggi."


Danjo tersenyum lalu mengangguk-angguk. "Kau benar." akunya. "Lanjutkan kembali ceramahmu. aku senang mendengarnya."


"Aku bukan gurumu." tolak Haanish.


"Aku menganggapmu seperti itu. biarlah itu menjadi koneksi pribadi antara kita saja." ujar Danjo Sakamoto. "Ayo, lanjutkan lagi ceramahmu." pinta lelaki itu masih tetap memeluk Si Pemutus Harapan, pedang kebanggaannya.


"Baiklah..." ujar Haanish lalu memutar-mutar lagi seruling shakuhachi didepan Danjo. "Pengembraan kedua disebut mengembara didalam Yang Haq, bersama Yang Haq. proses ini melalui tiga hal. yang pertama disebut kerahasiaan. dalam hal ini seorang hamba akan mengalami kehancuran dzat dan sifat dan melarut kepada Yang Haq. akhirnya sang pengembara hanya akan mendapati ruang yang kosong sehingga ia mengalami fase ekstase (Mabuk Ruhani)."


"Ah, aku pernah melakukan hal semacam itu di Kuil Kashima. dalam hal ini, kami menyebutnya, Satori atau disebut juga dengan pencerahan. agak mirip dengan istilah ekstase itu tadi. biasanya Kepala Pendeta akan memberikan kami sebuah kalimat Koan (sajak) yang harus kami pecahkan sendiri artinya dalam setiap mondo (pertemuan resmi. lebih kerennya disebut diskusi ruhani.) saban seminggu sekali. dalam mencapai Satori, kami diharuskan belajar di dojo dengan posisi zazen (duduk bersimpuh) untuk berkonsentrasi mencari permasalahan dalam dunia ini." tutur Danjo.


Haanish mengangguk-angguk. "Ekstase dalam pemahaman ajaran agamaku disebut kasyaf, yaitu hilangnya eksistensi diri menuju eksistensi Allah. jawab Haanish membenarkan pendapat Danjo.


"Ayo, teruskan lagi." pinta Danjo.


"Pengembaraan ketiga disebut perjalanan dari Yang Haq menuju makhluk bersama Yang Haq." ujar Haanish dengan santai kemudian meniup seruling shakuhachi lagi.


"Bisa kau jelaskan?" tanya Danjo lagi.


Haanish berhenti meniup seruling lalu bersajak. ia melantunkan sajak yang pernah dilantunkan Husein bin Ali bin Abi Thalib radiallahu anhu. lelaki itu mengangkat tangan dan menengadah ke langit. Haanish berseru.


"Ilahi... sesungguhnya keberagaman pengaturan-Mu dan cepatnya lipatan-lipatan takdir-Mu, menghalangi hamba-hamba-Mu yang arif kepada-Mu, dari berdiam diri pada pemberian atau berputus asa dalam cobaan-Mu... mana mungkin sesuatu wujud dapat membuktikan wujud-Mu, sementara wujudnya sendiri bergantung kepada-Mu? apakah selain-Mu akan ada tanpa-Mu hingga dia yang mengadakan-Mu? kapan Engkau raib hingga perlu bukti jntuk membuktikan wujud-Mu? kapan Engkau jauh sehingga diperlukan jalan untuk mengantar ke sisi-Mu?"


Danjo tertawa. "Kau ini aneh... aku makin tak mengerti dengan segala ucapan-ucapan itu." ujar lelaki itu memperbaiki haori untuk mengetatkannya, mencegah udara dingin.


"Masih mau mendengar yang terakhir, nggak?" pancing Haanish.


"Baiklah. selesaikan saja penuturanmu." jawab Danjo.


Haanish kemudian melanjutkan lagi sambil memukul pelan serulingnya ke telapak tangan. "Pengembaraan keempat adalah perjalanan dalam makhluk bersama Yang Haq. pada fase ini kita akan dihadapkan kepada Yang Haq, lalu melintasi dimensi-dimensi yang sudah kusebutkan tadi, hingga sampai ke puncaknya. setelah itu kita akan kembali turun untuk menebarkan nilai-nilai dari Yang Haq untuk kemashlahatan umat."


"Gaya bicaramu seperti seorang nabi saja." ledek Danjo kemudian bangkit. "Maafkan aku jika harus meninggalkanmu sekarang. jangan kuatir. permintaanmu, akan kusampaikan kepada Yang Mulia Pangeran."


"Aku tunggu kabar darimu." ujar Haanish.


Danjo mengangguk lalu melangkah meninggalkan taman itu. pengawal itu menenteng Si Pemutus Harapan dibahunya dan tubuhnya mulai tersamar dalam kegelapan malam hingga akhirnya benar-benar larut dalam kegelapan tersebut.


Haanish bangkit pula lalu melangkah meninggalkan taman itu. Aoki sudah menunggunya disamping mobil buggy yang akan kembawanya kembali ke istana.


kendaraan itu menyusuri jalanan kecil lalu menatap membelok dan memasuki halaman utama Honmaru. buggy itu berhenti. Haanish turun bersama Aoki.


"Terima kasih. terima kembalilah ke tempatmu." ujar Haanish.


sopir mengangguk lalu menjalankan kendaraannya kembali meninggalkan halaman Honmaru. Haanish berputar dan melangkah menyusuri jembatan yang menuju kastil. ia masuk kedalamnya, menyusuri lorong hingga tiba dikamarnya.


Saori berdiri didepan kamar saat Haanish dan Aoki tiba. lelaki itu menatap pengawal istrinya.


"Pergilah kalian berdua beristirahat. tubuh kalian harus segar saat mengawal lagi untuk esok harinya." perintah Haanish.


kedua pengawal itu kemudian membungkuk dalam dihadapan Haanish membuat lelaki itu menghela napas lagi. memang merubah kebiasaan orang-orang jepang itu susah-susah gampang. setelahnya keduanya meninggalkan tempat tersebut.


sepeninggalan Aoki dan Saori, Haanish menggeser pintu dan masuk. ternyata disana Marissa belum tidur. ia sibuk mengutak-atik armornya, melakukan proses updating beberapa aplikasi untuk peningkatan armornya tersebut. didepan wanita itu terhampar sebuah tablet, kabel USB dan beberapa piranti lainnya yang terpasang pada gelang yang dikenakan Marissa.


"Belum tidur?" tanya Haanish sambil duduk sedang serulijg tergenggam ditangannya.


"Sementara nunggu Uda, denai cari kesibukan, utak-atik mesin ini." jawab Marissa dengan santai dan pelan.


"Sudah berapa file yang di update dalam armor kamu?" tanya Haanish.


"Tinggal satu berkas." jawab Marissa sambil menekan keyboard pada tabletnya.

__ADS_1


"Aku tunggu ditempat tidur ya?" ujar lelaki itu sambil melepaskan haori dan hakama lalu menggantungnya pada rak, kemudian menuju futon dan berbaring disana sambil memandang istrinya hanya memakai yukata saja.


"Sudah selesai kok." ujar Marissa langsung melepaskan kabel USB pada gelang di pergelangan tangannya dan segera menyingkirkan peralatan-peralatan elektronik tersebut lalu melangkah menuju futon dimana Haanish berbaring. ia tidur disampingnya sambil menghadapkan seluruh tubuh kepada suaminya.



"Maafkan aku." ujar Haanish.



"Maaf untuk apa Uda?" tanya Marissa. "Kalau selingkuh, Uda memang wajib minta maaf."


Haanish tersenyum. "Kamu itu selalu saja menyinggung hal semacam itu." sindir lelaki tersebut.


"Habisnya, Uda kan ganteng. denai selalu cemburu melihat Uda dekat dengan perempuan-perempuan disini... termasuk Sachiko." jawab Marissa dengan manja.


Haanish kemudian mendorong lembut bahu istrinya hingga Marissa terlentang. lelaki itu mulai menindih istrinya dan Marissa tahu, apa yang diinginkan sang suami.


ia melebarkan tungkai kakinya membiarkan bagian selangkang suami menekan disana. Haanish membelai rambut Marissa.


"Aku sudah terlalu silau melihat kecantikan dan kebaikanmu. aku tak bisa melihat siapapun lagi.... hanya kamu." jawab Haanish dengan lembut.


tangan Marissa terulur menjamah pipi suaminya. "Denai rela bersuamikan Uda. sampai kapanpun, Denai akan tetap mencintai Uda."


Haanish tersenyum lagi lalu wajahnya maju dan merapatkan bibirnya ke bibir istrinya. keduanya kemudian terlibat dan tenggelam dalam permainan itu. sampai akhirnya syahwat Marissa mulai memuncak.


tanpa membuka pakaian, cukup hanya dengan melebarkan tungkainya, Marissa siap menerima anugerah suaminya. sama seperti istrinya. Haanish tak membuka pakaiannya. cukup melepaskan cawatnya dan juga cawat istrinya. keduanya melakukan penyatuan cinta dalam hentakan yang bertalu-talu. ruangan itu dipenuhi desah lirih dan denguhan pelan. hingga akhirnya keduanya mencapai kulminasi bersama-sama dan saling memeluk, menyatakan perasaan cinta yang tersirat dalam penyatuan anggur cinta dalam cawan kasih, melarut bersama menjadi samudra susu.


...********...


Mahreen sejak saat itu tak mau lagi jauh dari Djalenga. bahkan beraninya ia mengajak pemuda itu tidur bersama dan memaksanya. Djalenga mengikuti kemauan gadis itu, meski sebatas memeluk dan mencium saja. pemuda itu sangat menjaga batas, sehingga Mahreen harus melakukan keusilannya lagi dengan memaksa menjelajahi bibir tebal si Pemuda yang dianggapnya begitu seksi.


"Jangan terlalu banyak mencium. bibir aku bisa cepat jontor." tegur Djalenga.


Djalenga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menyadari kenakalan Mahreen. gadis itu memang tidak seperti Hanifah yang terlihat kemayu dan anggun. namun Mahreen memang menyimpan keanggunan tertentu dibalik sikap nakalnya itu. gadis itu bisa bersikap layaknya seorang wanita alpha yang arogan dihadapan siapapun yang terkesan menyepelekan Djalenga, termasuk Callista dan Cholil yang sudah sering menggoda pemuda Sasak itu karena telah berhasil memenangkan hati gadis tersebut.


Bahkan Callista langsung melaporkan hal tersebut kepada Inayah. wanita itu tersenyum bahagia dan berjanji akan mempercepat kedatangannya. bagaimanapun acara pembeatan Mahreen harus segera diadakan.


keduanya berbaring didepan rumah menatap angkasa bertabur bintang.


"Djalenga..." panggil Mahreen dengan pelan.


"Ya..." sahut pemuda itu yang memeluk dan menjadikan lengan lainnya yang berotot sebagai sanggahan bantal bagi kekasihnya tersebut.


"Besok, aku mau minta inaq mengajariku menenun kain." ujar Mahreen.


Djalenga tersenyum. "Mengapa?"


"Aku ingin mempersembahkan hasil karyaku kepada Mama." jawab Mahreen.


"Tentu. Inaq pasti akan membantu." sahut Djalenga.


Mahreen kemudian menoleh dan mencium lagi rahang pemuda itu. "Aku ingin segera menikah."


"Tenanglah... sebentar lagi, aku akan memari kamu dihadapan inaq-amak kamu." jawab Djalenga dengan spontan.


suasana hening sejenak. Mahreen menghela napasnya pelan dan menghembuskannya dengan gemetar.


"Aku... aku sudah tak punya orang tua..." sahut Mahreen dengan pelan dan gemetar. Djalenga terhenyak lalu membalikkan tubuh gadis itu menghadapnya.


"Katakan padaku. kemana aku akan memberitahu kabar kalau kau sudah kuculik? Katakan Mahreen. bahkan jika kau bilang kerabatmu berada dikutub utara sana, tetap akan kudatangi." kata Djalengan dengan lembut lalu mengusap pipi Mahreen yang sudah basah oleh air mata. "Akan kubuktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu."

__ADS_1


"Kau... aku mencintaiku?" desah Mahreen dengan lirih.



"Sejak pertama kita bertemu. aku sudah jatuh hati." jawab Djalenga dengan jujur. "Tapi aku langsung memendamnya karena aku kuatir, hanya bertepuk sebelah tangan saja."



Mahreen mengambil tangan Djalenga yang memeluknya gadis itu kemudian menepukkan tangannya ke tangan Djalenga lalu tersenyum.


"Sekarang... kamu tidak bertepuk sebelah tangan." ujar Mahreen.


Djalenga tertawa pelan dan mengangguk-angguk. "Ya, kamu benar."


keduanya kembali saling menatap. saling menyelami perasaan dan Djalenga memang menyadari, gadis Rusia itu telah berhasil memenuhi keseluruhan rongga kosong dalam dadanya itu.


...********...


Haidar baru saja menggarap istrinya dan Aisyah sekali lagi hanya bisa melenguh dalam pencapaian puncak ketika ia melepaskan saripatinya untuk yang ke sekian kali. wanita itu akhirnya tergeletak dalam kelelahan yang sangat sedang Haidar masih tetap perkasa, namun tak tega lagi untuk menjelajahi celah diantara dua paha istrinya yang juga sejak tadi telah mengalami banjir bandang.


"Kamu puas?" tanya Haidar dengan senyum menggoda.



Aisyah melengos namun tersenyum. dagunya ditarik lagi oleh Haidar. tubuh keduanya masih telanjang, berbalut dalam keringat deras yang mengucur deras. merekea masih menyatukan tubuh licin mereka dalam posisi d***ying itu. Haidar masih dengan ganas mengemut bibir tipis istrinya.



Aisyah melepaskan ******* itu. "Sudah, bibirku nanti dower dan kamu nggak suka lagi." tegur Aisyah dengan senyum.


"Aku memang akan membuat bibirmu itu dower macam bibir simpanse." olok Haidar dengan seringai yang membuat Aisyah bergidik.


"Sebentar, sebentar." sela Aisyah ditengah desah napasnya yang tak beraturan karena terus dirangsang Haidar. "Kamu lagi kerasukan Darah Dewa atau murni dirasuk birahi?"


"Apa bedanya?" tanya Haidar sambil memancing lagi birahi istrinya. kali ini lelaki itu mulai menjelajahi kedua dada bukat istrinya.


"Mana.... kutahu?.... kan... kamu.... yang.... rasa... se-sendiri." tangkis Aisyah yang berupaya menolak gejolak birahi yang mulai merasukinya lagi.


"Kelihatannya.... aku dirasuki dua-duanya." gumam Haidar setelah memberikan k******k di bagian bulatan bawah dada istrinya.


Aisyah hanya bisa mesem-mesem saja. "Ya, sudah. tuntaskan cepat." pintanya. "Aku sampai kekurangan tenaga nih karena melayani keperkasaan kamu."


"Mau tahu cara untuk tetap segar?" pancing Haidar kembali menggenjoti tubuh istrinya karena memang sejak tadi linggam cintanya masih tertancap perkasa diliang periuk istrinya.


"A-Ap-apa?" tanya Aisyah megap-megap merasakan hujaman cinta suaminya.


"Ingat nggak.... Surah... An-Nisaa.... ayat... tiga?" pancing Haidar yang masih terus beraksi diatas tubuh istrinya.


Aisyah sudah tahu arah pembicaraan suaminya. Haidar memang mewarisi keperkasaan mendiang ayahnya. wanita itu tak memungkirinya. pernyataan ibu mertuanya yang menceritakan bahwa Sandiaga memiliki tiga garwa membuktikan betapa perkasanya lelaki itu soal urusan diatas ranjang. wanita itu melengos lagi.


Haidar meraih lagi dagu Aisyah dan menariknya agar menghadap kearahnya. sambil terus bermain, Haidar berujar. "Maka nikahilah.... dua, tiga, empat wanita mana saja yang kamu sukai..."


"J-jangan... b-bawa... ayat itu... unt-untuk... melegalkan nafs-sumu..." tegur Aisyah yang masih tetap menikmati perbuatan suaminya.


"Tapi.... boleh, kan?" ujar Haidar mulai mempercepat gerakannya hingga tak beraturan hingga akhirnya dalam waktu lima belas menit, keduanya kembali menggapai puncak o*****e.


giliran Aisyah yang kemudian mengendarai tubuh suaminya. mengendalikan linggam kejantanan Haidar dalam jepitan celah daging lembut milik Aisyah. wanita itu mendekat dan mendesah.


"Boleh saja kamu menambah maimuda." ujar Aisyah dengan senyum. "Asal... kamu mau juga, jika terong kamu itu ku potong sejumlah perempuan yang kamu gauli." jawab Aisyah membuat Haidar terhenyak.


"Nggak jadi ah." jawab Haidar dengan spontan. "Mendingan mainkan barang kamu saja."

__ADS_1


"Anak pintaaaaarrrr." puji Aisyah sambil membungkukkan tubuh dan mendekatkan wajahnya lalu mencium lembut bibir suaminya.


semalam suntuk itu keduanya melakukan penyampuran sari pati untuk ke sekian kalinya lalu kembali lagi melakukannya, lagi dan lagi, seakan Haidar dan Aisyah telah kerasukan jiwa Kamajaya dan Kamaratih saja. dan malam mulai merayap menuju pagi, ditandai kokok ayam terus-menerus bersahut-sahutan.[]


__ADS_2