
Haanish menatap gulungan kain warna hitam itu yang tergeletak dimeja kerjanya. dihadapannya duduk bersimpuh dengan takzim seorang guru besar aliran Fuke dari sekte Rinzai, Mugen. pendeta itu mengenakan montsuki hitam dengan rakushi yang membebat dadanya. sebuah kalung tasbih juzu besar terselempang dari bahu kanannya.
"Tuan Guru." Haanish menyebut gelar bagi Mugen yang menjabat sebagai kepala biara Rinzai. "Benda apakah ini? setahu saya, seorang penganut buddhis taat tak akan membawa senjata." tegur lelaki itu.
Haanish sendiri, telah meninggalkan penampilan biasanya. sekarang lelaki itu telah mengganti pakaiannya dengan yukata dan hakama, yang dipadu dengan haori yang panjang menjuntai sampai ke mata kaki. rambutnya yang telah panjang itu kini dirias gaya mizura dan dikuncir keatas. penampilannya sudah sangat pantas sebagai seorang katoku sekaligus toryo.
"Silahkan Tuanku melihat apa bingkisan yang hamba bawa ini. semoga dapat berkenan dihati Tuanku." ujar Mugen sambil kembali merapatkan kedua tangannya didada.
Haanish menghela napas dan mengulurkan tangan membuka gulungan itu. wajahnya seketika berbinar melihat sebuah seruling terbuat dari logam ringan, panjangnya sekitar 90 sentimeter, mengkilap.
"Shakuhachi..." gumam Haanish.
kepala pendeta itu kembali membungkuk sambil mengatupkan kedua tangannya didada. "Semoga Tuanku selalu tercerahkan."
"Aamiin, insya Allah." jawab Haanish.
pendeta itu tersenyum. ia memang sebelumnya tak menyangka bahwa dari sekian toryo yang dikenalnya tersebar di penjuru Jepang, Yoshiaki Hasegawa (Haanish) adalah satu-satunya toryo yang beragama islam. tapi, penampilannya begitu bersahaja, bahkan diusianya yang masih tergolong muda, 25 tahun.
"Ada yang bisa saya bantu untuk Tuan Guru?" tanya Haanish dengan santun.
Mugen mengeluarkan selebaran-selebaran yang berisi tentang promosi dari biara Rinzai di Kyoto, dan beberapa catatan para donatur. Haanish tersenyum dan mengangguk.
"Tunggu sebentar, Tuan Guru." ujar Haanish kemudian menekan salah satu tombol di meja kerjanya. tak lama kemudian terdengar suara dari pengawalnya, Aoki Fujita.
🎙"Ya Tuanku." jawab Aoki.
🎙"Kirimkan data tentang Biara Rinzai di Kyoto." pinta Haanish.
🎙"Segera, Tuanku." jawab Aoki.
interkom itu dimatikan lagi. Haanish menatap Mugen. "Tuan Guru tak perlu kuatir. Insya Allah saya akan menjadi donatur tetap dari biara Rinzai. bagaimanapun, kekayaan itu hanyalah sampah dunia. itulah yang diajarkan dalam agama saya."
Haanish kemudian menyentil ayat ke 254 dari Surah Al-Baqarah dan menterjemahkannya dihadapan Mugen membuat kepala pendeta itu terangguk-angguk takzim.
"Siapapun yang datang. selagi saya mampu, akan saya terima dengan lapang." ujar Haanish dengan senyum.
"Hamba berterima kasih kepada Buddha yang mempertemukan hamba dengan seseorang seperti anda. hamba dulunya berpikir bahwa hamba hanya akan pulang dengan tangan hampa. itulah sebabnya, hamba membuat shakuhachi ini dengan harapan, Tuanku dapat menerima hamba." ujar Mugen dengan jujur sambil membungkuk.
Haanish tertawa sejenak. "Tuan Guru, meskipun tanpa harus memberi hadiah, saya tetap kok akan membantu Tuan Guru." jawab Haanish, "Tuan Guru sudah berpikiran negatif kepada saya." tegurnya. "Lagipula dalam ajaran agama saya. kepercayaan seseorang tidak ada hubungannya dengan sedekah, selama itu bukan digunakan untuk tujuan makar."
Haanish kembali menyentil QS. Al-Kafirun dan menterjemahkannya dihadapan Mugen. pendeta itu kini sadar, mengetahui toryo dihadapannya adalah seorang yang sangat alim dalam agamanya, juga memahami agama lain, sebagaimana layaknya seorang pakar ilmu perbandingan agama.
"Maafkan hamba yang teledor ini, Tuanku." ujar Mugen hendak membungkuk sujud, tapi langsung ditegur Haanish.
"Jangan sujud dihadapanku, Tuan Guru. saya bukan dewa. saya manusia, sama sepertimu." tegur Haanish. "Sebenarnya tanpa hadiah ini, saya akan tetap melakukan derma. jangan kuatir. datanglah tanpa beban."
"Sekali lagi, hamba menghaturkan rasa terima kasih kepada Tuanku." ujar Mugen dan kali ini ia tak membungkuk dalam lagi sesuai dengan teguran Haanish untuk tak membungkuk dan bersujud dihadapannya.
"Silahkan. mari saya temani Tuan Guru." ujar Haanish sambil bangkit dan meraih seruling shakuhachi itu kemudian mengiring Mugen keluar dari Pavilyun benteng luar dan melangkah bersama menuju selatan. Aoki Fujita selaku pengawal pribadi sang kepala keluarga, melangkah sekaligus mengawasi sekitaran dari belakang.
sepanjang perjalanan Haanish banyak menjelaskan berbagai hal dari sudut pandang beberapa agama yang diketahuinya. Mugen semakin kagum dengan toryo muda yang begitu alim ini. klan Nagato tidak sia-sia mengangkat Haanish sebagai pimpinan mereka.
keduanya tiba di Gerbang Tembaga bagian selatan. Mugen kemudian dikawal oleh barisan prajurit istana Odawara melintasi jembatan Sumiyoshi hingga tiba dijalanan umum. kepala biara Rinzai itu telah diberi ongkos berlebih oleh Haanish dan diberikan fasilitas tiga orang pengawal yang akan mengantarnya hingga ke Kyoto sebagai bagian dari atase pengamanan istana Odawara.
dengan langkah santai, Haanish yang dikawal Aoki kembali menyusuri jalanan kompleks istana memutar hingga tiba kembali di taman utama Honmaru. disana, lelaki itu bertemu lagi dengan istrinya Marissa yang sedang menikmati sajian pemandangan satwa liar berupa menjangan dan burung merak yang banyak berkeliaran di taman tersebut.
staf pemeliharaan taman dan hewan tak perlu kuatir, binatang-binatang itu melarikan diri. sepanjang batas taman hingga gerbang telah dipasangi pagar elektromagnetis yang tak kelihatan oleh manusia, tapi dapat dilihat oleh hewan-hewan itu. secara insting, mereka tak akan berani melanggar lintasan tersebut.
__ADS_1
Marissa sedang asyik memberi makan anak rusa saat Haanish mendekatinya.
"Assalamualaikum, istri mungilku." sapa Haanish dengan lembut.
"Wa alaikum salam, Tuan gantengku." balas Marissa tak kalah mesra.
Aoki dan Saori seperti sudah tahu etiket. keduanya langsung menjauh dan memisahkan diri mengawasi kedua majikan mereka dari beranda Pavilyun Honmaru. sejenak Haanish melempar pandang ke arah Barak Prajurit yang kosong lalu menatap istrinya.
"Senang ya memberi makan anak Rusa?" pancing Haanish.
Marissa bangkit lalu berbalik menatap suaminya. "Denai senang bisa memberi makan makhluk hidup." nyonya berusia 19 tahun itu menengadahkan wajahnya menatap angkasa Kanagawa. "Sekarang ini, jumlah satwa sudah sangat langka. sebagai makhluk yang diberikan amanat oleh Allah, sebagai khalifatul fil ardh, semestinya kita dengan segala cara akan melakukan penyeimbangan ekosistem agar harmoni alam semesta tetap terjaga."
"Teruskan, aku senang mendengar penuturanmu." pinta Haanish kemudian melangkah mendekati sebuah batu besar lalu duduk disana. Marissa melanjutkan penuturannya.
"Konsep In dan Yo, tidak hanya berada dalam ajaran agama lain. dalam ajaran Islam juga ada, bahkan lebih sempurna." ujar Marissa. "Dan tiadalah binatang-binatang yang ada dibumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu...."
Haanish tersenyum dan memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali. "Ayat ke 38, Surah Al-An'am..." tebaknya.
"Dan Dia-lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa dibumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu..." tutur Marissa lagi.
Haanish tersenyum, "Ayat 165 dari Surah Al-An'am." tebaknya lagi.
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (ditolak) dan harapan (diterima)....." tutur Marissa lagi kali ini dengan senyuman lebar dan melangkah mendekati suaminya.
"Hmmm.... ayat ke 56 dari Surah Al-A'raf." tebak Haanish. "Ini sebuah tausyiah atau pengancaman terhadapku?"
"Dua-duanya." ujar Marissa melebarkan matanya dengan senyum yang lebar.
keduanya berjalan menyusuri taman Honmaru dengan pengawalan jarak jauh dari Aoki dan Saori. keduanya sendiri mengenakan pakaian resmi stelan jas hitam dengan senjata yang tersembunyi diholster dibalik jas tersebut.
"Sudah satu semester, kita tinggal disini." ujar Haanish. "Aku berencana kembali ke Gorontalo untuk mengurus sidang munaqasyah dan wisuda, kemudian menziarahi Papa, Mama, Bibi Yuki dan Papa Akram...." Haanish menengadahkan wajah ke angkasa. "Apa kabarnya Mahreen kini? apakah ia masih mengejar-ngejar Chouji?" gumam lelaki itu.
"Jangan lupakan Denada." sela Marissa.
"Aku nggak akan mengunjunginya." jawab Haanish kemudian tersenyum. "Bagiku... Denada adalah masa lalu."
"Denai bukan nyuruh Uda mengunjunginya sebagai mantan. tapi mengunjunginya sebagai seorang kerabat." jawab Marissa.
"Aku sekali-kali tak akan mengunjunginya lagi, Marissa. jika dia datang mengunjungi aku, kamu atau kita berdua, itu adalah haknya. tapi, aku sudah memutuskan, apapun yang berhubungan dengan keluarga Wie, itu bukan lagi urusanku." ujar Haanish kemudian mulai meniup seruling shakuhachi dengan alunan merdu. sejenak ia kemudian menghentikannya lalu menatap lagi istrinya. "Aku sudah cukup membeberkan kebenaran. setelah itu, mereka bukan urusanku lagi. urusanku sekarang adalah berdiam bersamamu, menemanimu selamanya... bahkan sampai saat kita dipertemukan lagi oleh Allah di akhirat."
Haanish kembali meniup seruling shakuhachi, melantunkan melodi yang dirasai Marissa sebagai bentuk penegasan akan pilihan hidup yang dijalaninya. Marissa akhirnya mengikuti langkah sang suami dari belakang dengan senyum yang disembunyikan.
...*************...
Taman dekat kuil Hotoku Ninomiya, komplek istana Odawara, pukul 21.21 Nihon Hyojunji.
Danjo Sakamoto memeluk Si Pemutus Harapan sambil sesekali tangan kirinya mengaduk-aduk arang pembakar dari api unggun yang menyala agak redup. dihadapannya duduk pula Haanish yang duduk bersila sambil meniup seruling shakuhachi memperdengarkan melodi merdu bernada harmoni.
Aoki Fujita berdiri agak jauh mengawasi keduanya. ditengah-tengah api unggun yang kecil itu, Danjo menjerang ikan. kegiatan yang dilakukannya mengikuti gaya-gaya para Ronin terdahulu yang melakukan pengembaraan dalam ritual musho-shugyo.
"Kau sudah dengar rencana Pangeran Asahiko?" ungkit Danjo membuka percakapan.
Haanish masih tetap memainkan nada-nada tiupan harmoni dari seruling shakuhachi miliknya. Danjo kembali mengaduk arang-arang kayu sisa pembakaran.
__ADS_1
"Yang Mulia Pangeran Asahiko berniat mengangkatmu sebagai salah satu kandidat dalam Sangi-in (Dewan Penasihat.) mewakili Klan Nagato yang semula di pegang Ryuzou Hasegawa." tutur Danjo.
kalimat itu berhasil membuat Haanish menghentikan kegiatannya meniup seruling. lelaki itu menatapi Danjo.
"Bagaimana menurutmu?" pancing Danjo.
"Aku tidak setuju." jawab Haanish.
"Mengapa? berikan aku alasan yang masuk akal." tuntut Danjo.
"Jangankan mau menerima jabatan sangi (menteri), aku saja berniat hendak melepaskan jabatan katoku dari keluarga Hasegawa dan toryo Buke-Nagashi (klan samurai Nagato)." tukas Haanish. "Aku berencana hendak menyepi ke Shiga."
"Mendiami Koga shimoyashiki?" tebak Danjo.
"Kamu sudah tahu." ujar Haanish kembali meniup seruling.
Danjo tersenyum. "Pangeran sudah mendiskusikannya dihadapan Naikaku Sori Daijin dan semua Sangi di Dewan Penasihat Kekaisaran. terkecuali golongan sayap kanan, semua fraksi independen dan sayap kiri di Shugi-in (DPR) mendukung kamu duduk di Sangi-in. mereka menilai kamu yang netral terhadap semua golongan, bahkan golongan agamamu sendiri. biasanya, seorang kandidat akan selalu condong kepada agama yang dianutnya. tapi, kamu nggak begitu. itulah sebabnya, setelah mendengar jajak pendapat para legislator itu, Pangeran Asahiko kemudian menggelar pertemuan khusus dengan Naikaku Sori Daijin, perihal pengangkatan kamu sebagai salah satu bawahannya." tutur Danjo.
Haanish kembali menghentikan kegiatannya meniup seruling. "Terserah kepada Yang Mulia Pangeran untuk menetapkannya. tapi, secara nurani aku tak bersedia."
"Jangan menentang keputusannya." tegur Danjo. "Terima dulu anugerah itu."
"Begini, jika kau bersedia menyampaikan." ujar Haanish memancing perhatian Danjo. lelaki itu menatap Haanish. ia melanjutkan ujarannya. "Tempatkan saja aku di Homu-sho (Kementerian Kehakiman) sebagai Direktur Utama dari Koan Chosa-Cho (Badan Intelijen Keamanan Publik). itu kurasa cocok dengan keahlianku." usul Haanish.
Danjo menatapnya agak lama, kemudian mengangguk-angguk. "Baiklah. usulmu akan kusampaikan kepada Yang Mulia Pangeran Asahiko."
"Bagus." ujar Haanish kemudian melanjutkan meniup seruling shakuhachi itu.
Danjo terkekeh melihat Haanish yang tenggelam dalam kegiatannya meniup seruling.
"Kau lebih cocok jadi seorang Komusho." olok Danjo.
"Aku memang seorang pengembara, Danjo." ujar Haanish.
"Apa maksudmu?" tuntut Danjo.
"Pengembara bukan hanya secara fisik, tapi kita manusia ini juga seorang pengembara ditinjau dari sudut ruhani." jawab Haanish kembali memainkan serulingnya.
"Pengembaraan ruhani? itu sudah kulalui melalui meditasi di kuil Kashima." ujar Danjo.
"Itu bagus..." puji Haanish.
"Lalu menurutmu seperti apa pengembaraan itu?" pancing Danjo.
Haanish kembali menghentikan meniup seruling. ia menatap Danjo. "Aku nggak tahu bagaimana konsep pengembaraan dalam agama shinto dan lainnya. tapi ijinkan aku menjelaskan tentang pengembaraan dalam perspektif ajaran agamaku sendiri." usul Haanish.
"Silahkan." ujar Danjo.
Haanish memperbaiki duduknya lalu mulai bertutur. "Pengembaraan dalam perspektif ajaran agamaku, terdiri atas empat bagian." ujar Haanish sambil mengacungkan seruling dan memutar-mutarnya. "Dasar pertama adalah pengembaraan dari alam makhluk menuju kepada Yang Haq. dapat juga diartikan sebagai pengembaraan dari hal yang plural menuju hal yang singular. berangkat dari hal yang majemuk menuju kepada hal yang tunggal."
"Bagaimana caranya?" tuntut Danjo sambil mengamati salah satu ikan yang telah matang pada penjerangan di pemanggangan.
"Merenungkan ciptaan-ciptaan-Nya." jawab Haanish.
"Coba jelaskan lebih rinci." pinta Danjo kemudian mengupas kulit ikan itu dan menyodorkannya kepada Haanish, namun lelaki itu menolaknya. menyuruh Danjo untuk mengonsumsinya sendiri. sementara itu Haanish kembali menjelaskan.
"Dimensi pertama dari pengembaraan pertama adalah jiwa atau sukma yang memiliki sisi ganda sebagai refleksi kebaikan dan keburukan. dimensi berikutnya adalah nurani. kemudian dimensi ketiga adalah akal. dan dimensi keempat adalah ruhani." ujar Haanish.
__ADS_1
"Mengapa jiwa manusia harus melalui dimensi ruh?" tanya Danjo dengan tatapan penuh minat. []