The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 22


__ADS_3

Mahreen terdiam mendengar keterangan itu lalu menoleh lagi menatap Djalenga yang hanya diam sambil menunduk melengoskan wajahnya menghindari tatapan gadis Rusia itu.


Mahreen menghela napas lalu menatap lelaki parobaya itu. "Siapa wanita yang diculik Djalenga pada saat itu dan menyebabkan ia tertangkap?" selidik Mahreen.


"Hanifah, putri dari Datu Lalu Singamaruta." jawab Samirep.


"Amak, sudahlah..." ujar Djalenga.


"Kau malu?" tukas Mahreen.


Djalenga terdiam. Mahreen mendengus lalu menatap lagi Samirep. "Amak Djalenga... haruskah kupanggil begitu?" tanya Mahreen.


"Itulah adatnya." jawab Samirep tersenyum.


Mahreen mengangguk-angguk. "Inaq dan Amak tidak keberatan saya jalan sama Djalenga?"


Samirep dan Maryati saling pandang. Samirep sejenak menatap Djalenga lagi yang hanya membuang wajah menatap atap-atap gedung pencakar langit yang mengintari perkampungan Sasak mereka.


"Saya dan istri secara pribadi tak pernah mencampuri urusan anak saya." jawab Samirep. "Hanya saya mau tanya... mengapa?"


"Ya, Saya ini orang jauh disini. dua teman saya tau-tau tiba langsung jalan-jalan entah kemana keliling-keliling kampung, saya ditinggal di Bale Tani." ujar Mahreen sejenak melirik Djalenga. "Karena saya belum punya teman disini dan baru Djalenga yang kenal sama saya, maka saya minta ijin sama Bapak sama Ibu..."


"Inaq dan Amak..." sela Samirep membetulkan istilah.


"Ya, Inaq sama Amak untuk ijinkan Djalenga jalan-jalan sama saya besok. bisakah?!" tanya Mahreen.


Samirep menatap Djalenga. "Kalau anak saya bersedia, tentu kami tak melarang. disini, tamu kami anggap saudara. Nona jalan tak usah kuatir, tak akan ada yang mengganggu. Djalenga akan menjadi pembela."


Mahreen mengangguk-angguk. "Baik. terima kasih." jawab Mahreen.


"Pochemu ty zdes'?" seru suara perempuan yang membuat keempat orang itu menoleh ke jalan. (Lho? kok kamu disini?)


disana berdiri Callista dan Cholil yang didampingi Datu Djatiswara. kepala kampung itu juga menatap Djalenga dengan tatapan tajam. Djalenga makin tak nyaman.


Mahreen sejenak menatap Samirep dan Maryati lalu keluar dari rumah menuju jalan bertemu dengan Callista.


"Ya tusuyus' s etim parnem." jawab Mahreen dengan santai sambil menganggukkan kepala kearah Djalenga. (Aku lagi jalan sama dia.)


sementara Mahreen dan Callista sibuk bicara, Maryati mendekati putranya. "Lalu, mereka berdua bicara apa itu? macam jenis bahasa asing. Inaq tidak mengerti." bisik Maryati dengan lirih.


"Jangankan Inaq, Tiang saja tidak mengerti. tapi Mahreen bilang kalau dia asalnya dari Rusia... mungkin itu bahasa Rusia..." jawab Djalenga dengan lirih pula.


setelah beberapa kali saling menyahut dalam bahasa Rusia, Callista mengangguk-angguk lalu membisiki Cholil sesuatu. Mahreen kembali mendekati Samirep.


"Amak Djalenga. saya pamit dulu, itu teman saya sudah datang." ujar Mahreen menunjuk Callista yang langsung membungkuk santun ke arah Samirep dan Maryati. sementara sang kepala kampung itu hanya mengangguk-angguk.


Samirep balas membungkuk santun pula. "Silahkan anak pergi bersama kawan-kawan anak." jawab Samirep lagi.


Mahreen mengangguk-angguk lalu menatap Djalenga. "Besok pagi, kamu datang lagi. saya hendak minta sesuatu kepada kamu." ujar Mahreen.


"Bukankah ada teman-teman side?" elak Djalenga dengan senyum. "Ikut saja dengan mereka."


Mahreen hanya memelototkan matanya dan mengencangkan rahang membuat Djalenga sadar penolakannya tak akan berguna. akhirnya pemuda itu menarik napas panjang dan mengangguk-angguk saja dengan pasrah.


Mahreen tersenyum. "Bagus. kalau begitu aku permisi dulu. Assalamualaikum..." sapanya dengan pamit lalu melangkah diikuti Callista dan Cholil serta Lalu Djatiswara.


sepeninggal mereka, Maryati kembali menatap Djalenga. "Anak. itu perempuan sopan juga ya? dia pamit pakai salam, padahal sebenarnya..." ujar Maryati.


"Dia beragama islam, Inaq." jawab Djalenga.


Maryati dan Samirep kaget. "Islam? yang benar?"


Djalenga mengangguk. "Dia mahasiswi UIN Sultan Amai Gorontalo, Inaq... teman perempuannya juga." ujar pemuda itu.


"Suhhanallah... sungguh Amak tak menyangka." sahut Samirep.


"Wajahnya cantik..." sahut Maryati pula.


Djalenga tertawa. "Inaq mau suruh Tiang culik dia? apa Inaq lagi sedang hilang pikiran?" olok pemuda itu pada ibunya kemudian pergi meninggalkan kedua orangtua itu menuju dalam rumah. maghrib sudah mulai nampak.


Samirep hanya tersenyum mendengar olokan pemuda itu kepada ibunya. ditatapinya istrinya itu. "Kamu jangan memojokkan anak kita. kasihan dia. kegagalan kemarin itu membuatnya kehilangan kepercayaan diri." ujarnya menenangkan Maryati. "Sudahlah istri. biarlah anak menemukan sendiri jodohnya. kita hanya bisa memohon saja pada Allah, semoga Allah memberikan jodoh yang baik buat anak kita."


Maryati hanya menyapu dadanya. "Ya Allah... buatlah anakku tabah... Engkau yang tahu jodohnya. pertemukan mereka, ya Allah..." ujarnya lirih dan gemetar.

__ADS_1


...*******...


Resepsi pernikahan antara Haidar dan Aisyah selesai pukul 23.30 WITA. semua undangan telah pulang dan kerabat keluarga kini melingkari meja makan menikmati santapan malam.


"Alhamdulilah, semua berjalan dengan lancar." ujar Inayah dengan senyum melirik kedua pengantin itu yang hanya menundukkan kepala terus menyantap makanannya.


"Jadda... Aya senang sekarang. Abah tak akan kemana-mana lagi. akan tetap tinggal disisi Aya." celetuk Aya Sofia kepada Inayah membuat Haidar tersedak. untung saja tak batuk sebab buru-buru mengambil gelas dan meminum airnya.


Parman dan Jusriya juga mengangguk-angguk namun tak bicara. mereka tak berani bicara. hanya menjadi pendengar setia saja. bagi mereka sekarang, status Aisyah yang menjadi istri seorang konglomerat muda sudah cukup.


Inayah menatap Haidar. "Bagaimana perasaanmu nak? lega?" pancing wanita parobaya tersebut.


Haidar menoleh menatap ibunya lalu Aisyah, kemudian menjawab. "Iya Ma. lega." jawabnya singkat.


Inayah menatap Aisyah. "Dempet terus dirinya, ya sayang? jangan dikasih jauh." ujarnya mengolok Haidar melalui Aisyah. "Kalau dia macam-macam, jewer saja."


Aisyah hanya tersipu-sipu. Aya Sofia langsung nimbrung. "Tapi Jadda, Umma kayaknya tak berani menjewer Abah." celetuknya sambil mengambil lauk paha ayam dari piringnya dan menggigitnya.


"Oh ya?" respon Inayah. "Kenapa?"


"Umma cinta sekali sama Abah. jadi tak akan berani menjewer." jawab Aya Sofia seketika direspon tawa oleh Inayah dan Jusriya.


Haidar dan Aisyah lagi-lagi hanya bisa tersipu-sipu dijadikan bahan perbincangan malam itu. Haidar mendesah.


"Alangkah senang jika Haanish juga turut hadir." ujarnya dengan senyum.


"Tak usah kecewa, Chouji." jawab Inayah. "Eiji disana juga bukan untuk pesiar. dia sekarang bagian dari pejabat kekaisaran. yang penting bagi dia adalah kalian sudah resmi. bukan main kucing-kucingan seperti dulu."


"Jadda, kalau Aya sudah besar, bolehkah Aya ke Jepang menemui Paman Haanish?" tanya Aya Sofia.


"Tentu bisa sayang." jawab Inayah dengan senyum. "Nanti Aya pergi sama-sama dengan Jadda, ya?"


"Iya, Jadda." jawab Aya Sofia dengan senyum manisnya lalu melanjutkan makannya.


"Maaf Bu. kalau boleh tahu, Eiji itu siapa? Haanish itu siapa?" tanya Jusriya dengan santun. Inayah tak menjawab, justru malah menatap Aisyah.


Aisyah yang kemudian menjawab mewakili mertuanya. "Haanish dan Eiji itu satu orang Ma." jawab Aisyah. "Ia adalah adiknya Haidar. sekarang tinggal di Jepang, bekerja sebagai staf negara."


Jusriya kembali menatap Parman dengan tatapan bangga. Inayah mendehem sejenak lalu menjelaskan. "Mama mertuaku, asli berasal dari Jepang. dulu namanya Chiyome Mochizuki. setelah melakukan naturalisasi, beliau menggunakan nama Azkiya Fatriyanti Lasantu. putranya, almarhum suamiku, juga lama tinggal di jepang sebelum dipanggil pulang untuk menikahiku. almarhum ayahku dan almarhum Papa Mertua adalah sahabat baik semasa muda. kami berdua sudah dijodohkan sejak dalam kandungan. adapun adiknya, Airina Yuki menikah dengan pengusaha asal padang dari keluarga William-alkatiri."


Parman mengangguk-angguk. "Kelihatannya, putriku menikahi keluarga besar." ujarnya lalu tersenyum.


"Saya sempat kaget saat Aisyah mengatakan bahwa iringan mobil polisi itu adalah idenya." ujar Jusriya.


"Nggak. Aisyah bohong." ujar Inayah menatap Aisyah lalu tersenyum. "Itu ide saya." ujarnya lalu terkekeh.


"Mama dulunya adalah petugas jalanan. kerjanya memberangus para bandit dan preman, sebelum Bapu memindahkannya ke satuan Propam karena tingkah Mama semasa muda lalu yang sifatnya ugal-ugalan." sela Haidar menatap Parman dan Jusriya. "Kata Mama, Bapu dulu sifatnya begitu. jadi gaya Mama dan almarhum Bapu juga sama."


Parman menelan ludah. makin tahu kini dia, siapa besannya itu. lelaki itu makin hilang keberanian untuk berbangga-bangga.


Haidar lalu menatap ibunya. "Haanish sudah menikah, Saya juga sudah menikah... setelah itu, giliran Mama yang menikah."


ucapan Haidar barusan langsung membuat Inayah tersedak dan terbatuk-batuk. Aya yang duduk dekat neneknya itu langsung memberikan gelas dan Inayah meneguk isinya. Aisyah menatap suaminya.


"Sayang. kok malah dibahas disini sih?" tanya Aisyah dengan lirih. Haidar menatap istrinya.


"Mengapa? mengapa harus kita yang bahagia? mengapa Mama nggak boleh merasakan bahagia? beliau juga masih pantas..." bantah Haidar.


"Chouji... Mama nggak mau dengar." ujar Inayah yang masih diselingi batuknya.


"Ma... sudah cukup nostalgia itu. Papa sudah tenang dialam sana! apa lagi yang Mama pikir? masih ada yang mencintai Mama. saya, Aisyah, Haanish, Marissa, dan... Om Dodit." ujar Haidar.


"Chouji.... Mama sudah bilang, nggak mau dengar!" tandas Inayah kembali menatap Haidar. tanpa sadar teknik Karasu Tengu no Shisen miliknya aktif dan Parman serta Jusriya dapat melihat dengan jelas pendaran sinar kebiruan yang menyelimuti kedua mata wanita parobaya tersebut.


Haidar diam lalu menunduk. Aisyah mendekati Inayah. "Ma... tenang..." bisik Aisyah menyapu lengan mertuanya.


Inayah menarik napas panjang. "Kurasa, aku sudah kenyang." ujarnya lalu menatap Aya Sofia. "Aya sudah kenyang?"


Aya Sofia mengangguk. Inayah tersenyum. "Ikut Jadda ke kamar ya? malam ini, Abah sama Umma nggak boleh diganggu."


Aya Sofia lagi-lagi mengangguk lalu turun dari kursi. Inayah bangkit dan menatap Haidar dengan tatapan datar. "Mama pergi dulu." ujarnya lalu berbalik pergi sambil menggandeng tangan Aya Sofia.


Haidar akhirnya kehilangan selera makannya juga. ia menatap kedua mertuanya. "Ibu dan Ayah, silahkan disini dulu. saya hendak ke kamar." ujarnya sambil bangkit dan melangkah meninggalkan meja bundar itu. Aisyah ikutan bangkit dan melangkah menyusul suaminya.

__ADS_1


kini tinggal di meja itu Parman dan Jusriya. melihat hidangan yang masih lengkap, pasangan udik itu makan dengan lahap seakan tak hendak menyisakan apapun.


...*******...


Desa Sade, Sasak, Lombok, pukul 07.02 WITA


Djalenga duduk diberanda Bale Bonter. disana ada si kepala kampung, Lalu Djatiswara. lelaki parobaya tersebut menatap Djalenga.


"Djalenga... aku sudah mendengar keterangan dari Mahreen semalam." ujar Djatiswara membuka percakapan. "Dia bersimpati atas kisahmu itu. tapi saya tetap mengingatkan kamu bahwa jangan pernah menaruh perasaan terhadap orang jauh. perempuan itu bukan orang sini. sekiranya kau jatuh hati padanya, adat memari tak akan bisa dilaksanakan karena bersebelahan adat dengan kita. jadi hanya itu yang bisa saya nasihatkan kepadamu."


"Saya juga ingat bapak. Tiang juga tidak memiliki rasa kepada perempuan Gorontalo itu." jawab Djalengan dengan senyum. "Tapi, jika Allah menghendaki lain, Tiang pun tak akan bisa menolak."


"Jadi maksud kamu, anak sudah punya hati dengan anak perempuan itu?" selidik Djatiswara.


"Tidak, Bapak." jawab Djalengan. "Saya juga tahu diri."


"Baguslah." sahut Djatiswara sambil menepuk bahu pemuda itu.


tak lama kemudian, Callista dan Cholil disertai Mahreen muncu di Bale Bonter itu. Cholil menatap kepala kampung tersebut.


"Assalamualaikum." sapa Cholil.


"Wa alaikum salaam." jawab Djatiswara dan Djalenga berbarengan. Cholil lalu bertanya.


"Bisa kita lanjutkan survei kita, Pak?" tanya Cholil.


"Bisa, bisa." jawab Djatiswara.


Cholil menatap Mahreen. "Khochesh' poyti s nami?" tanya pemuda tersebut. (Ikut dengan kami, nggak?)


Mahreen tersenyum, "Net... u menya osoboye meropriyatiye s etim parnem." jawabnya sambil mengangguk kearah Djalenga. (Nggak. aku lagi ada urusan sama dia.)


Callista tertawa kecil, "Bud' ostorozhen, ty vlyubish'sya." oloknya. (Hati-hati, nanti kecantol.)


olokannya dibalas tertawa oleh Mahreen lalu menatap Djalenga. "Kamu punya kendaraan bermotor?" tanya gadis itu.


"Itu ada kendaraan dinas." usul Djatiswara. "Dipakai saja."


Djalenga mengangguk. Mahreen menatap kepala kampung itu dan tersenyum manis. "Terima kasih."


Djatiswara hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum. ketiganya pamit meninggalkan bale bonter menyisakan Djalenga dan Mahreen.


"Kita mau kemana, Mahreen?" tanya Djalenga dengan santun.


"Aku mau keliling-keliling kota Bima." jawab Mahreen. "Kamu bisa menjadi pemanduku, kan?"


"Tentu, tentu saja." jawab Djalenga dengan sigap langsung menuju samping Bale Bonter. disana ada kendaraan ringan bermesin Elgrav (Electromagnetic gravitation). ada lambang perusahaan Ark Industries di kendaraan itu.


perusahaan itu sekarang berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan otomotif diseluruh wilayah Asia Timur dan Tenggara dalam menciptakan beberapa jenis kendaraan mutakhir bertenaga nuklir dan perpetualis.


Djalenga menghidupkan mesin tersebut dan mulai memainkan gasnya. Djalenga menatap Mahreen mengisyaratkannya untuk membonceng.


keduanya kemudan yang meluncur dengan kendaraan itu keluar dari desa Sade dan mulai menjelajahi kota Bima dengan sepuas hati. sepanjang perjalanan mereka, Djalenga bersikap layaknya seorang pemandu sejati. ia menjelaskan tempat mana saja yang ditunjuki Mahreen.


tiba saatnya mereka singgah disebuah restoran moderen yang masih mempertahankan cita rasa lokal. Mahreen menatap Djalenga.


"Kamu silahkan pesan apa saja. aku yang bayar." ujar Mahreen.


Djalenga tertawa. "Wah, mana bisa begitu? kalau hanya untuk memesan makanan, aku juga masih bisa membayar." tolak lelaki itu.


Mahreen mendecak kesal lalu meraih lembar menu yang tergeletak di meja lesehan itu. ia mengamati semua menu yang terpapar disana.


"Katakan pada pelayan, aku pesan semua ini." ujar Mahreen.


"Mahreen, tak baik memesan semua masakan ini." ujar Djalenga.


"Ah, banyak bacot kamu!" tukas Mahreen dengan kesal.


sementara mereka berdebat, datang seorang wanita dengan langkah anggun, langsung menyapa.


"Halo, Lalu Djalenga... lama tak jumpa." sapa wanita itu.


Djalenga menoleh dan terkesiap. ia tak menyangka bertemu wanita itu disini.[]

__ADS_1


__ADS_2