The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 10


__ADS_3

Haidar terhenyak tanpa sadar bangkit dari tempat duduknya. berita itu tentu saja mengejutkannya. Mahreen akan tinggal bersama Mama? bagaimana bisa? Mama adalah orang yang tak gampang menerima kemunculan orang lain... tapi...


Haidar menenangkan detak jantungnya yang sempat tak seritme dengan tarikan napasnya yang memburu akibat ledakan emosi, entah karena girang dan gumun.


📱"Lalu?" desak Haidar.


📲"Ya, hari ini kami mau ke kostnya Mahreen, bersih-bersih sekalian kemas-kemas dan pamit sama yang punya kost." jawab Callista.


📱"Aku akan membantu kalian." ujar Haidar


📲 "Nggak usahlah Kak." tolak Callista, "Kan Kakak lagi kerja. masa hanya segini, mau bolos kerja?"


Haidar menelan ludah, merasa tersindir oleh penolakan Callista. benar juga. sementara ini ia sedang membangun karir sebagai pimpinan divisi pemberdayaan belum lama ini dengan harapan, setelah lama mengenyam pengalaman dibidang bisnis, Haidar akan menggantikan posisi Dewinta yang sejak lama ingin pensiun, sebagai Presdir Buana Asparaga Tbk yang berikutnya.


pemuda itu tak boleh tenggelam dalam eforia rasa suka yang semakin lama berkembang menjadi cinta itu. ia harus profesional, juga proporsional dalam kewajiban dan haknya sebagai pemilik sekaligus karyawan di kerajaan bisnis keluarganya itu. sebagaimana yang ditekankan ibunya semenjak dulu.


Haidar sengaja ditempatkan Dewinta dibagian itu dengan tujuan bisa mengenali karakter semua karyawan, rekan kerja maupun saingan bisnis mereka. dengan itu, Haidar bisa mengembangkan insting bisnisnya untuk mengembangkan ide menuju produktivitas sesuai tujuan dari bisnis itu dibangun.


Haidar menghela napas.


📱"Baiklah, aku serahkan kepadamu untuk membantunya. kuharap ia kan kerasan di Kediaman Ali." ujarnya dengan pelan.


📲 "Atau kuminta saja Kak Haanish untuk membantunya?" pancing Callista. rasa cemburu seketika menyengat perasaan pemuda itu.


📱"Nggak usah," sela Haidar dengan cepat. "Dia sekaranf resmi menjadi bagian Buana Asparaga Tbk. anak itu sudah mulai sibuk sekarang."


📲 "Ooo... begitu ya?" gumam Callista dengan pelan. "Oke deh, kami berdua saja yang mengemasi barang di kost."


📱" Baik. kabari aku kalau kalian sudah di Kediaman Ali." ujar Haidar.


📲 "Baik, Kak. assalamualaikum..." ujar Callista.


📱"Wa alaikum salaam..." jawab Haidar lalu menekan lagi tombol dan layar holografis itu lenyap.


pemuda itu menyandarkan punggungnya disandaran kursi dan menatap langit ruangan.


...*****...


Haanish tiba di kediaman Lasantu lalu memarkir tunggangannya di garasi. kediaman itu kini di renovasi oleh Haanish dengan menggabungkan dojo kedalam kompleks rumahnya.



bangunan itu berlantai tiga, lebih mirip villa ditengah kota. Haanish meminta salah satu arsitektur terkenal, Dr. Afrianto Salawali, M.T. untuk mendesain kediaman tersebut. terkhusus bagian dalam dojo, dibuat sama persis dengan dojo yang lama. adapun bagian luar yang mengarah ke taman dipasangi pintu fusuma dan genkan. sedangkan bagian dalam dipasangi pintu shoji. rak kamidana dipasangi ditengah dinding bagian utara diapit oleh papan mufudakake dan replika baju jirah kuno, Oyoroi yang bagian dadanya dilukis kamon keluarga Mochizuki.


disamping dojo itu terdapat ruang tamu sekaligus pantri bergaya dengan meja saji ditengah ruangan. adapun ruangan santai berada dipantai dua dan tiga. bangunan itu memiliki enam kamar yang luas.


sekarang sesuai kesepakatan, Haidar kembali ke kediaman Lasantu dan menempati kamar dilantai kedua berseberangan dengan kamar Haanish. ia merasa tak akan sebebas dulu sebab sudah ada CCTV hidup yang akan mengawasinya.


Haidar lebih mirip pengawal pribadi ketimbang seorang kakak. pemuda itu sangat protektif dan benci yang namanya pembelokan akidah. gaya hidup Haanish sudah dianggapnya sesat karena melegalkan perzinahan meskipun pemuda itu tak pernah sekalipun bermain dengan perempuan selain Denada. Haanish orang yang setia dengan satu pasangan. sebagai lelaki yang hidupnya lurus, Haidar sering menghakimi adiknya dengan kata-kata ketus meskipun selalu ditanggapi Haanish dengan santai membuat penyakit ledakan emosi pemuda itu kambuh meski tak sampai membanting dan melempar barang.


Haanish sejak kecil memang memiliki kecenderungan pathological laughting yang mana penderitanya, meski dalam keadaan marah, justru ledakan yang muncul adalah tertawa. Haidar, kalau sudah melihat adiknya tertawa keras, ia akan langsung diam. sebab jika pertengkaran itu diteruskan maka pasti akan berlanjut dengan konfrontasi fisik antar keduanya. dan pasti tidak akan menyisakan kemenangan dikedua pihak. menang jadi abu, kalah jadi arang. perbuatan yang hanya mendatangkan kesia-siaan.


Haanish selalu mengendalikan kelainannya dengan meditasi di dojo, sama halnya dengan Haidar. keduanya sebenarnya adalah sebuah kesatuan yang kompak meski selalu ada selisih paham diantara keduanya disebabkan oleh perbedaan perspektif tentang hidup.

__ADS_1


pemuda itu menuju dapur dan membuat minuman kopi. terdengar langkah kaki mendekat. seorang wanita parobaya, mungkin lima tahun lebih tua dari Tante Imel yang merupakan pengurus rumah tangga dikediaman Ali, muncul dan menegur Haanish.


"Nyong*) Haanish kenapa nyeduh sendirian? kan itu tugas Bibi." ujar Bik Inah, asisten rumah tangga yang juga dibawa Haidar menetap dikediaman itu. ia membawa dua keranjang penuh belanjaan sayur dan ikan dari pasar Mo'odu.


*) Nyong merupakan salah satu kalimat dalam aksen Gorontalo-Manado yang artinya Tuan Muda atau Pemuda. dipelintir dari bahasa Belanda, Jong yang artinya juga adalah Pemuda.


"Yeeee Bibi... kalau Bibi ada tadi, kan Haanish nggak nyeduh sendirian." tangkis pemuda itu kemudian menatap belanjaan yang dibawa Bik Inah. "Apa saja Bi?"


"Pokoknya kebutuan Nyong berdua." jawab Bik Inah, "Nyong Haidar sudah pesankan Bibi membeli apapun kesukaan Nyong Haanish. nih..." ujarnya memperlihatkan isi dalam keranjang.


Haanish tersenyum, "Wuah, hapal benar dia akan segala kesukaanku." komentar pemuda itu lalu maju mencium pipi Bik Inah dengan cepat membuat wanita parobaya itu kaget. "Makasih Bibi yang cantik." pujinya.


Bik Inah tersipu, "Issyy... Nyong Haanish genit ah. masa perempuan setua saya masih dicium segala. malu sama usia, Nyong..."


Haanish tertawa pelan. "Bibi kan ibu asuh saya disini. ya, harus saya perlakukan baik dong." jawab Haanish yang cengengesan sambil pergi meninggalkan pantry membawa gelas kopinya menuju beranda lantai dua.


perkataan ibu asuh membuat wanita parobaya itu baper. kedua matanya berkaca-kaca dan bibirnya mengulas senyum. "Makasih Nyong, sudah anggap saya sebagai ibunya Nyong. saya janji akan melayani kebutuhan Nyong sebagaimana kebutuhan Nyong Haidar." ujarnya lirih. Bik Inah menyusut air matanya yang sempat jatuh dan melanjutkan kegiatannya membereskan belanjaannya.


...*******...


Mahreen yang tiba bersama Callista disambut oleh Tante Imel yang memang telah dipesan sebelumnya oleh Inayah untuk melayani Mahreen. dengan cekatan, beberapa kotak dus yang besar dipikul saja oleh wanita parobaya itu sebagaimana seorang kuli memikul barang tanpa merasa lelah.


Callista dan Mahreen saja menatap heran dan takjub melihat betapa kuatnya Tante Imel mengangkuti dus-dus itu meski di usianya yang sudah kepala empat, nyaris lima.


"Gila... itu perempuan atau atlit angkat besi ya? enteng benar dia mengangkuti dus-dus milik kamu. padahal aku tadi ngangkutnya sampai ngos-ngosan lho." ujar Mahreen dengan lirih kepada Callista.


"Eh, kekuatannya nggak cuma itu." tambah Callista. "Tante Imel itu juga jago beladiri. dia diajari sedikit cara bertarung oleh Nyonya Besar lho. ia sudah tingkatan yudansha garis dua."


"Oh ya?" respon Mahreen tambah takjub. "Pantasan dia kuat fisiknya. mungkin selalu latihan di gym kali."


"Nona Mahreen dan Nona Callista dipersilahkan masuk kedalam untuk menikmati kudapan." ujar Tante Imel dengan datar dan berwibawa.


Mahreen tersenyum dan mengangguk. Callista hanya tertawa pelan lalu melangkah mendampingi Mahreen yang diantar Tante Imel kedalam bagai tamu kehormatan.


keduanya dibawa oleh Tante Imel menuju ruang makan. disana terdapat beberapa penganan khas gorontalo, binthe biluhuta yaitu sup jagung yang ditaburi parutan kelapa, daun bawang, kemangi dan bawang merah.


"Wah, kesukaan saya nih." seru Callista dengan mata membelalak senang.


Tante Imel tersenyum datar. "Silahkan Nona Mahreen mencicipi kudapan ini. masakan ini merupakan hasil dari kebun milu kami."


Mahreen duduk diikuti Callista. gadis itu menatap Tante Imel. "Mamachka punya kebun jagung?" tanya Mahreen.


"Bukan hanya itu. budidaya holtikultura adalah spesialisasi keluarga Hamid, yang merupakan keluarga inti dari Nyonya Besar. beliau adalah pewaris kebun terluas di Gorontalo ini. dan kebun keluarga Hamid selalu dijadikan percontohan oleh Pemerintah Propinsi Gorontalo dibidang agraris." tutur Tante Imel dengan bangga.


"Wah, kayaknya Tante Imel kenal betul ya tentang keluarga Nyonya Besar." puji Callista.


Tante Imel mengangguk bangga. "Itu sudah pasti. saya ini ikut Nyonya Besar sudah sepuluh tahun lho." wanita berseragam hitam dan mengenakan seragam hitam dibalut apron itu membungkuk datar. "Silahkan dinikmati sajiannya. saya dibelakang hendak mengerjakan tugas lainnya. kalau Nona perlukan saya, tinggal tekan saja bel ditengah meja, saya akan datang." ujar Tante Imel memberitahu kemudian membungkuk datar lagi dan berbalik meninggalkan ruang makan.


"Ayo kita nikmati ini." ajak Callista dengan semangat menyendok milu siram kedalam piring. disamping loyang itu terdapat tempat bumbu seperti garam, vetsin, cabe tumbuk dan cuka makanan. ada juga kecap dan saus tomat. dengan cekatan, gadis itu kemudian meramu keempat penyedap itu kedalam piring yang terisi milu siram.


Mahreen menatap bingung kepada Callista. gadis itu menyadari bahwa gadis russia itu berasa asing dengan makanan ini. ia menatap Mahreen.


"Cobalah... kau akan tahu dimana sedapnya." ajak Callista dengan semangat. "Sini, biar kuramu masakanmu."

__ADS_1


Callista mengambil piring Mahreen yang masih kosong kemudian mengisinya dengan milu siram lalu membumbuinya. Mahreen menunjuk toples kecil berisi cabe tumbuk.


"Itu cabe, bukan?" tebak Mahreen.


"Ya, kami menyebutnya rica disini. semua yang berasa pedas kami menyebutnya rica." ujar Callista. "Lada, kami sebut rica jawa, dan masih banyak lagi." Callista menunjuk toples berisi cabe tumbuk itu. "Kau mau mencobanya?"


"Sedikit saja." pinta Mahreen.


Callista mengangguk dan mengambil seujung sendok saja dan mencampurkannya kedalam masakan milu siram. piring itu kemudian diserahkan kepada Mahreen.


"Cobalah..." kata Callista.


Mahreen menyendok milu siram itu dan mencicipinya. sejenak ia mengangguk-angguk disusul dengan ******* pedas. biji-biji keringat langsung memenuhi wajahnya.


"Pedas?" tanya Callista dengan heran.


"Lumayan..." jawab Mahreen mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menikmati makanan itu. "Tapi rasanya rame... ada asinnya, asamnya, manisnya... pokoknya rame." komentar Mahreen.


Callista tersenyum lalu mengambil sesendok besar cabe tumbuk dan mencampurnya dalam makanannya. Mahreen tersedak melihat gadis itu mencampurkan sesendok besar cabe tumbuk itu kedalam makanannya.


"Kamu..." ujar Mahreen disela batuknya karena tersedak, "Kamu... tahan pedas?" tanya gadis itu dengan mimik ngeri.


Callista tersenyum, "Bagi lidah orang Gorontalo, seujung sendokmu tadi itu nggak berasa pedasnya." gadis itu dengan santai menyuapi milu siram ke mulutnya dan sedetik kemudian ia menggumam panjang sambil senyum lalu mendesah kepedasan. "Mantaaap..." ujarnya menggoda Mahreen.


gadis russia itu meringis ngeri membayangkan bagaimana sesendok besar cabe tumbuk itu dimasukkan ke dalam makanannya. tentunya, Mahreen bisa mengira akhirnya. ia akan pingsan kepedasan dengan perut membengkak akibat iritasi cabe yang mengandung capsaicin dengan dinding lambung.


sedang asyiknya keduanya menikmati makanan itu, muncullah Haidar yang masih mengenakan pakaian resmi.


"Hei, sedang menikmati binthe biluhuta rupanya." komentar Haidar kemudian duduk disisi Mahreen. "Bagaimana rasanya?"


Callista menatap Haidar. "Kak Chounan kok sudah pulang? bagaimana pekerjaannya?" gadis itu melihat pergelangan tangannya yang dilingkari arloji. "Ini belum waktunya pulang, kan?"


Haidar tersenyum datar. "Kamu itu, kok nanya beruntun benar, kayak mau muntahin mitraliyur saja." oloknya. "Mana yang harus kujawab duluan?"


"Semuanya." tukas Callista.


Mahreen menatap Callista lalu tersenyum menggoda. "Kamu perhatian sekali sama Kak Haidar. kayak sudah nikahan saja kamu sama dia."


Callista tertawa, "Santai Reen... itu kebiasaan kok." tangkis Callista kemudian, "Dia sudah kuanggap kakak sejak kecil dan kami tumbuh bersama-sama dengan pergaulan kedua orang tua kami."


"Oooo...." bibir Mahreen membulat lalu tersenyum dan kembali menyuapi mulutnya dengan milu siram.


Callista tersenyum, "Kayaknya ada yang cemburu nih." celetuknya lalu menatap Mahreen dan Haidar bergantian. "Wah, kayaknya aku hanya akan jadi obat pengusir nyamuk nih." sindirnya, "Sebaiknya aku menyingkir saja agar hubungan bilateral antara dua insan lebih terjalin dengan mesra."


"Callista..." tegur Haidar dengan pelan namun penuh tekanan. wajah pemuda itu memerah malu, ketahuan memendam perasaan.


Callista langsung bangkit. "Oke Reen, aku pamit dulu ya? nanti kita ketemuan besok di Kampus II." gadis itu pamit dan melambaikan tangan sambil tertawa pelan lalu berbalik melangkah meninggalkan ruang makan.


sepeninggal Callista, tinggallah Haidar dan Mahreen yang terperangkap dalam kecanggungan. Haidar merutuki dirinya yang tak seluwes Haanish dalam berhubungan dengan kaum perempuan. pemuda itu memang kaku dan sangat berdisiplin. wanita yang dikenalnya hanyalah ibunya, Tante Imel, Bik Inah dan Callista. selain itu, ia tak pernah akrab secara serius dengan perempuan manapun.


Mahreen berupaya memecahkan kebekuan. ia tersenyum. "Pekerjaan Kak Haidar sudah rampung?" tanya gadis itu.


"Panggil saja aku Chounan, atau Chouji. itu akan lebih nyaman." ujar Haidar.

__ADS_1


Mahreen mengangguk-angguk. ia mengulangi pertanyaannya. "Kak Chouji pulang, apa pekerjaannya sudah selesai?"


Haidar hanya tersenyum datar. pemuda itu menghela napas sejenak menghilangkan gugupnya kemudian menjawab. "Aku datang untuk menemuimu Mahreen." []


__ADS_2