The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 16


__ADS_3

kedatangan Haanish dan Marissa disambut dengan meriah oleh seluruh penghuni istana Odawara. para dayang bahkan memuji-muji kecantikan istri kepala keluarga mereka. Marissa sendiri sampai tersipu-sipu dibuat oleh para dayang tersebut.


Ryoma menyambut keduanya dipavilyun. disana ada juga Ryuzou yang makin mengeruhkan wajahnya saat menyadari kecantikan putrinya, Sachiko, kalah tanding dengan kecantikan Marissa Williams.


pasangan suami istri itu duduk di kamiza diujung ruangan. Marissa duduk bersimpuh sedang Haanish memilih duduk bersila. didepan mereka terhampar meja yang berisi jamuan makanan. didepan mereka berapit diri kiri dan kanan, anggota-anggota keluarga Hasegawa. termasuk Ryoma dibagian kanan sedang Ryuzou dibagian kiri.


"Selamat datang kepada Katoku sekaligus toryo klan Hasegawa." sapa Ryoma kemudian mengangkat cangkir berisi sake dan bersulang.


Haanish ikut mengangkat cangkir namun mengingatkan Marissa. "Kalau nggak kuat, nggak usah minum. biar nanti aku yang jelaskan kepada mereka."


"Tapi Uda, bukankah seorang istri harus mengikuti apa yang dilakukan suaminya?" debat Marissa mulai mengambil cangkir.


"Jangan! isinya khamr. ini bukan sake manis. kamu bisa mabuk. aku nggak mau dianggap Bunda Yuki sebagai suami yang tak bisa mengajari istrinya." ujar Haanish.


Marissa tersenyum lebar, "Baiklah Uda. terserah waang saja."


"Istri yang baik." puji Haanish mengedipkan mata membuat Marissa tersipu.


sementara perhelatan minum masih sementara berlangsung. Haanish sebagai seorang lelaki yang sudah kenyang asam garam kehidupan bawah tanah, sangat kuat menahan pengaruh alkohol dalam minuman manapun. ia sangat mirip dengan mendiang ayahnya disisi itu. beberapa kali ia melayani para anggota bersulang menghabiskan isi cangkir yang mengandung cairan beralkoholik tinggi.


Ryuzou yang terkenal paling kuat minum berkali-kali mengangkat cangkirnya mengajak Haanish bersulang. "Hari ini keluarga Hasegawa sedang berbahagia sebab toryo telah mengambil istri, meski bukan dari anggota klan. aku bersulang untukmu. aku mau lihat seberapa kuat kau minum. jangan berhenti minum sebelum diantara kita berdua ada yang ambruk."


Haanish tersenyum. "Silahkan paman..."


Marissa menatap Haanish dengan tenang sedang Ryoma mulai memperlihatkan wajah marahnya. Haanish bahkan mengambil sebuah guci besar dan langsung menegaknya. tepukan tangan para anggota klan Hasegawa bergema. mereka mengagumi kemampuan minum kepala keluarganya.


"Aku bisa lebih dari itu." seru Ryuzou mengambil sebuah guci dan ikut menegakkannya dimulut. namun baru beberapa tegukan kemudian tubuh lelaki itu oleng dan jatuh diiringi tawa oleh anggota yang lain.


Ryuzou sudah mabuk berat. ia hanya bisa menggumam pelan dan menggeram lalu diseret oleh beberapa orang keluar dari ruangan. Haanish juga sudah mabuk, namun ia bertahan tak memperlihatkannya kepada para anggota yang lainnya. ia hanya duduk tenang lalu menatap Ryoma.


"Paman... ijinkan aku hik ke kam hik arku.... bis-sak-kah??" tanya Haanish.


Ryoma tersenyum. "Tentu saja.... silahkan Tuanku." ujar kakek itu sedikit membungkuk.


Haanish bangkit sempoyongan dipandu dan dipapah Marissa keluar dari ruangan. sementara Ryoma kemudian mengambil inisiatif mengajak kembali anggota yang lainnya untuk menyelesaikan perhelatan minum mereka.


Haanish melangkah terseok-seok dihalaman kastil tetap dipapah oleh Marissa. wanita itu memonyongkan bibir menutup hidungnya menghalangi bau khas sake yang memaksa memasuki dria penciumannya.


"Tunggu hik sebentar hik sayang..." pinta Haanish melepaskan tangan Marissa yang memapahnya. lelaki itu duduk bersimpuh dan tiba-tiba Haanish mengayunkan tinju memukul perutnya sekuat tenaga. ia membungkuk dan memuntahkan semua isi sake yang mendekam dilambungnya.


HUEEEEKKKK.... WEEEKKKKK... WEEEKKKK...


semua cairan putih itu menyembur keluar bagai air terjun yang meluncur dari liang mulut Haanish, membasahi tanah halaman itu dan diserap oleh tanah itu. Haanish mengatur napas sejenak dan kemudian bangkit. ia tak sempoyongan lagi. Marissa mendekat.


"Uda sudah tak apa-apa?" tanya Marissa dengan cemas.


"Tenang sayang kecilku. aku sudah baikan." ujar Haanish. gaya jalannya sudah normal lagi. "Untung sake itu belum masuk ke usus dua belas jari. masih mendekam dilambung. jadi aku masih bisa memaksanya keluar..." Haanish mengembangkan tangan. "Lihatlah... suami cekingmu ini sudah sehat wal afiat."


"Ahhh.... syukur Alhamdulillah... Uda selalu membuat denai cemas." rajuk Marissa kembali menggelayut manja ditubuh Haanish. keduanya kembali melangkah menaiki puri.


"Kita istirahat..." ujar Haanish. "Seharian ini aku tak merasai dirimu, Issha..." sambung lelaki itu membuat sang istri tersipu-sipu. "Bisakah dikamar, kita bercinta?"


Marissa tersenyum lebar. "Tentu saja Uda. bukankah denai sepenuhnya sudah milik Uda? lakukanlah..." Marissa kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Haanish dan berbisik, "Garaplah denai dengan gaya apa saja... asal jangan gaya anal ya?"


Haanish tertawa keras dan tiba-tiba langsung mengangkat Marissa, memondongnya gaya bridal dan kembali melangkah dengan semangat menyusuri koridor yang mengarah ke kamarnya. sementara Marissa tersenyum lebar dan sesekali memanas-manasi Haanish dengan menciumi pipi dan rahang lelaki itu.


...*******...

__ADS_1


Inayah didampingi Salman, mengunjungi kost karyawan kediaman Aisyah. wanita parobaya tersebut mengenakan stelan Pakaian Dinas Harian yang lengkap dengan tanda pangkat dan medali kehormatannya membuat penampilannya terlihat begitu perbawa. Salman sendiri berpakaian kasual kecuali menyematkan lencana di sisi gesper bagian kanan dan membiarkan revolver besarnya tersampir dalam holster disisi lencana itu.


dihadapannya, duduk Haidar menunduk ditemani Aisyah yang juga menunduk takut. wibawa Inayah begitu terasa. ia sangat mirip ayahnya di usia setengah baya ini. sangat berwibawa. Salman berdiri tegap disisi Inayah yang duduk di sofa. sejak Aisyah tinggal dikediaman itu, Haidar membelikan sofa agar istrinya terasa nyaman tinggal disana.


"Chouji..." panggil Inayah. "Kau mulai bertindak keterlaluan terhadap Mama." tegur Inayah sementara Haidar makin tertunduk takut. Inayah sejenak menatap Aisyah lalu kembali menatapi Haidar.


"Apa maksudmu menyembunyikan pernikahan kalian didepan hidung Mama?" tegur Inayah. "Apa kau punya ganjalan lain sehingga tak berani mengungkapnya?"


"Tidak Mama..." jawab Haidar dengan pelan.


"Lalu apa yang membuatmu menyembunyikan menantuku dariku? jawab Chouji! kau sudah tahu bagaimana sifat Mama, kan?" desak Inayah.


Haidar hanya diam tertunduk. Inayah menarik napas sejenak. "Karena Mahreen?" tanya wanita itu dengan lembut.


Akhirnya Haidar mengangguk-angguk pelan. Inayah juga mengangguk-angguk. ia menatap Aisyah.


"Kau Aisyah Tilahunga...." panggil Inayah membuat Aisyah langsung mengangkat wajahnya. Inayah bertanya, "Sejak kapan kau dinikahi siri oleh putraku?!"


"Beberapa hari yang lalu, Ibu..." jawab Aisyah.


"Panggil aku, Mama!" seru Inayah.


"Ya, Mama..." ralat Aisyah, namun hatinya bahagia.


"Mana Aya Sofia? apakah ia sedang ke sekolah?" tanya Inayah. Aisyah mengangguk pelan. Inayah kemudian menatap Salman.


"Attar... bagaimana menurutmu tentang keduanya ini?" pancing Inayah.


"Sangat cocok Bibi... harus segera diresmikan." tambah Salman dengan senyum-senyum pula.


Aisyah tanpa sadar meneteskan airmata bahagianya mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari bibir wakil kepala kepolisian daerah Gorontalo itu. Haidar menatap ibunya.


"Mama.... bagaimana dengan Mahreen?" tanya Haidar dengan penuh ganjalan. Inayah mengangkat dagunya.


"Itu urusan Mama! bukan urusanmu!" sergah Inayah membuat Haidar terkejut dan langsung menunduk. tak biasanya ibunya menyergah seperti itu. pertanda Inayah sementara menahan emosinya. Inayah kembali mengatur napasnya. "Urusan Mahreen itu tanggung jawab Mama. dia tidak akan mendapatimu meresmikan pernikahanmu. kalian harus melakukan resepsi sebagai rasa syukur atas pernikahan itu. semua orang di Buana Asparaga, dan Kota Gorontalo harus tahu, siapa istri dari Calon Presdir Buana Asparaga kedepan! paham?!"


"Paham, Mama..." jawab Haidar dengan patuh.


"Kapan wisuda kamu digelar?" tanya Inayah.


"Seminggu lagi, Mama." jawab Haidar.


Inayah mengangguk-angguk. "Baik... dalam seminggu, persiapkan semuanya. sehari setelah wisuda itu, kau akan melaksanakan resepsi pernikahanmu! seminggu kemudian, kau akan naik jabatan sebagai Presdir Buana Asparaga. mengerti?!"


"Mengerti. Mama." jawab Haidar dengan patuh.


Inayah kemudian bangkit dan menegakkan badannya. "Mama akan balik ke kantor. segera persiapkan semuanya Chouji! jangan buat Mama bertindak! kau sudah tahu sejak dulu, siapa Mamamu ini!"


Inayah berbalik dan melangkah menuju pintu diiringi oleh Salman. setelah Inayah keluar, Salman menatap kedua sejoli itu.


"Sukses besar, Bro!" seru Salman mengacungkan jempol sambil tersenyum lalu kembali menyusul Inayah.


...*******...


Dewinta secara khusus memanggil Cholil dan Callista. ia mengundang kedua anaknya sendiri di ruangan direktur. beberapa jam lalu, Dewinta mendapatkan telpon dari Inayah. wanita itu meminta bantuan Dewinta untuk membantunya mengasingkan Mahreen, dibantu Callista dan Cholil melakukan pesiar.


Inayah bersedia mengeluarkan dana pribadi untuk itu, yang penting selama sebulan, Mahreen tidak boleh menginjak tanah hulonthalangi. Dewinta menyanggupi permintaan pemilik perusahaan itu. apalagi mendengar Haidar seminggu lagi akan menjalani wisuda, wanita parobaya tersebut begitu gembira sebab jabatannya akan segera berakhir. keinginannya untuk segera pensiun dan menenangkan diri akan segera terwujud. ia akan menghabiskan waktu yang tersisa bersama suami tercintanya. ketika memberitahukan ide Inayah kepada Cornel, sang suami langsung menyetujuinya. baginya, masa kebersamaan itu tak lama lagi akan terwujud. Callista dan Cholil memiliki peran penting untuk memuluskan rencana tersebut.

__ADS_1


"Bunda punya tugas khusus untuk kalian berdua." ujar Dewinta Basumbul seraya menopangkan sikunya pada permukaan meja kerjanya. Cholil dan Callista saling berpandangan sejenak. Cholil kemudian menatap ibunya.


"Apa tugas itu, Bunda?" tanya Cholil.


"Tugas ini akan berujung pada cepat tidaknya ibunda kamu ini pensiun dari jabatan Presdir." ujar Dewinta. "Sukses tidaknya tugas kalian mempengaruhi penilaian pemilik perusahaan ini kepada kita."


"Memangnya tugas apa sih, Ma? kok sampai melibatkan Tante Iyun?" pancing Cholil.


"Bunda ingin kalian dengan dalih apapun, membawa Mahreen keluar dari Gorontalo selama tiga bulan penuh." ujar Dewinta. "Dana transport, akomodasi dan lainnya akan ditanggung secara pribadi oleh Tante Iyun selama tiga bulan." Dewinta menatap Cholil. "Cholil, kau yang paling cemerlang otak kreatifmu. pikirkan cara untuk mengasingkan Mahreen selama tiga bulan kedepan."


Cholil mengangguk-angguk sambil menjebikan bibir dan mengangkat alisnya. Callista menatap ibunya.


"Apakah Ramanda sudah tahu tentang hal ini?" tanya Cholil.


"Justru Ramanda kalian yang mendukung. coba pikirkan ide apa yang masuk akal agar Mahreen mau meninggalkan Gorontalo selama tiga bulan?" tanya Dewinta.


Callista menatap Cholil. "Rakanda... bagaimana? ada ide nggak?"


Cholil menatap adiknya. "Yundaku yang deblek, tentu saja rakandamu ini sudah punya idenya." Cholil menatap Dewinta. "Bunda... aku punya ide untuk mengajak Mahreen."


"Katakan..." pinta Dewinta.


"Aku punya proyek kelompok sih... tugasnya meneliti sistim peribadatan kaum islam waktu telu. jadi tugas aku itu adalah mengidentifikasi dan mengumpulkan data tentang kaum penganut ajaran islam waktu telu." tutur Cholil.


"Terus?" tanya Dewinta.


"Aku punya dalih untuk mengajak Mahreen. aku akan meminta dua orang sukarelawan atau sukarelawati yang bisa membantuku untuk melakukan penelitian tersebut. jadi, aku akan meminta Mahreen menemani aku dan Callista menuju Nusa Tenggara Timur." ujar Cholil.


Dewinta mengangguk-angguk tanda setuju. Cholil menyambung. "aku akan meminta penerbitan surat ijin meneliti dari lembaga tempatku bekerja agar bisa mengijinkan proyek yang ku ajukan."


"Jadi, kau akan membuat dalih bahwa adikmu dan Mahreen adalah sukarelawan yang ikut denganmu untuk melakukan penelitian disana? hm... encer juga otak kamu ya?" olok Dewinta kemudian terkekeh. "Bunda kira kerjamu dan ramandamu itu hanya ngelayap kemana-mana."


"Kok Bunda bicara begitu sih?" ujar Cholil lalu tertawa pula. "Bunda... kalau aku nggak ngelayap, ya nggak akan dapat uang. aku kan orang lapangan, Bunda... bukan orang kantoran."


Dewinta tertawa dan mengibas-ngibaskan tangannya. "Okelah, okelah... yang penting bagi Bunda, bagaimana caranya kalian berdua bisa mengajak Mahreen keluar selama tiga bulan. itu saja. bisa, kan?"


"Insya Allah, Bunda. akan saya upayakan. lalu... kapan kita bergerak?" tanya Cholil.


"Dalam waktu seminggu, kau sudah harus bisa membawa Mahreen keluar dari Gorontalo. lalu amati segala tindakannya." ujar Dewinta kepada Callista. "Ingat, ini adalah tugas terakhir yang Bunda berikan kepada kalian berdua. jika ini berhasil, maka Bunda dalam waktu dekat bisa bergabung bersama kalian lagi di rumah kita."


Cholil bangkit. "Kalau begitu, ijinkan saya cabut, Bunda. saya harus membuat proposal penelitian ke lembaga saya."


Dewinta Basumbul mengangguk dan Cholil berbalik melangkah meninggalkan ruangan itu. kini tinggal Callista bersama ibunya diruangan direktur itu.


Dewinta menatap putrinya. "Bagaimana hubunganmu dengan Salman?" pancing wanita parobaya tersebut.


"Menurut Bunda? apakah dia adalah sosok yang cocok untukku?" tanya Callista.


"Secara umum, Bunda bisa menggambarkan keluarga Williams adalah keluarga terhormat. Salman sendiri menurut Tante Iyun adalah lelaki yang penuh dedikasi pada tugasnya sebagai aparat negara. jika dia bisa mengayomi masyarakat, maka dia pasti bisa mengayomi kamu." jawab Dewinta.


"Jadi?" pancing Callista.


"Mama akan mendukung apapun lahgkahmu... jika dalam sholat istikharahmu menemukan tanda bahwa dia adalah calon tulang punggungmu, maka terimalah dan jadilah tulang rusuknya, cinta kasihnya, kawan hidupnya, dan belahan jiwanya." jawab Dewinta.


"Terima kasih Bunda." sahut Callista dengan senyum manis. "Saya akan melakukan sholat istikharah untuk mencari tanda tersebut. semoga Allah bisa memberikan tanda yang baik untuk saya."


Dewinta mengangguk-angguk. kedua wanita beda usia itu hanya diam memikirkan apa yang ada dalam benaknya masing-masing. []

__ADS_1


__ADS_2