The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 41


__ADS_3

Haanish terjebak pada situasi memakan buah simalakama. keduanya sama pentingnya dan juga sama mendesaknya. pemuda itu menimbang-nimbang sementara Ryoma terus menatapinya dengan tatapan tak sabar menunggu keputusan sang kakek.


"Bagaimana?" tanya Ryoma.


Haanish masih tenggelam dalam kebimbangan. ia sejenak menatap kakeknya lalu bangkit dan melangkah menuju balkon. diedarkannya pandangan ke seluruh kota Odawara lalu kembali menatap Ryoma.


"Bisakah Kakek memberikan syarat yang lain?" pinta Haanish.


Ryoma menggeleng pelan. "Tidak! hanya itu persyaratannya." ujarnya dengan tegas.


Haanish kembali menatap hamparan kota Odawara. nampak dikejauhan disamarkan oleh tonggak-tonggak bangunan pencakar langit, menjulang kuil Korin, berada didekat stasiun Hakone-itabashi.


Haanish akhirnya menyerah. ia membalik tubuh menatap sang kakek. "Baiklah. aku setuju dengan persyaratannya." ujarnya.


"Bagus. kalau begitu, aku akan sampaikan kepada penasihat keluarga bahwa rapat besar keluarga Hasegawa akan digelar malam ini." ujar Ryoma dengan senyum senang.


...*****...


entah kenapa Salman melajukan kendaraan hingga akhirnya menepi didepan gerbang masuk rumah Callista. untung saja ada Cholil disana yang datang menyambutnya. lelaki itu heran saja mengetahui ada seorang opsir polisi datang bertamu. sebenarnya Salman juga sudah dikenal baik oleh Dewinta Basumbul. namun Cholil tak mengenalnya. namun, ia bisa menebak bahwa petugas polisi ini punya hubungan khusus dengan adik kembarnya itu.


"Callista, ada?" tanya Salman dengan santun.


Cholil tersenyum-senyum. "Ada. sebentar saya panggilkan." ujar Cholil kemudian mempersilahkan Salman duduk disofa beranda itu.


sementara Salman duduk diberanda, Cholil bergegas masuk dan menemui Callista yang sibuk mengetik tugas papernya di laptop. lelaki itu menimpuknya dengan bantal kecil.


"Tuh, ada petugas mencari kamu." ujar Cholil.


"Siapa?" tanya Callista menatap saudara kembarnya itu.


"Mana kutahu?" ujar Cholil kemudian mendekat ke Callista. "Kamu punya kasus apa sih sampai dikejar petugas kemari?"


"Huange'emu. memangnya aku ini kriminal?" umpat Callista dengan kesal. Cholil mengangkat alisnya sebelah.


"Bisa saja... kamu kan orangnya bebas..." tukas Cholil.


"Yeeee aku memang bebas, tapi tetap jaga adat, bray!" tepis Callista kemudian bangkit. "Dimana orangnya?"


"Didepan." jawab Cholil. "Temui gih! jangan sampai dia masuk kesini dan mengeluarkan surat perintah."


"Surat perintah apaan?" sergah Callista.


"Surat Perintah Melamar..." goda Cholil.


Callista meraih bantal dan nyaris saja melemparkannya ke Cholil. untung saja Cholil langsung melarikan diri. Callista lalu melangkah ke depan dan menemukan Salman duduk disana.


"Kak Salman?" ujar Callista dengan kaget campur heran namun senang pula.


Salman lekas berdiri menyambut kemunculan gadis yang telah menghiasi mimpi-mimpinya. Callista mempersilahkan opsir itu duduk lagi.


"Tumben kemari?" pancing Callista.


"Nggak tahu kenapa." ujar Salman dengan senyum kikuk.


Callista tersenyum mengangkat alisnya sebelah, "Maksudnya?"


"Tangan dan kaki ini tak tahu kenapa menarik setang gas dan mengganti perseneling, melajukan motor hingga tiba-tiba inyo menghentikannya didepan rumah Adiek. ya, aden biarkan saja... toh sampainya juga kesini... bukan kemana-mana." jawab Salman kemudian tertawa.


Callista tertawa kecil. ia bangkit. "Tunggu sebentar ya, Kak." ujarnya kembali ke dalam.


Salman menenangkan dirinya yang sulit menenangkan diri itu. sebenarnya tubuhnya sedikit gemetar namun diupayakannya bersikap santai dan pantas. tak lama kemudian Callista muncul membawa nampan berisi segelas sirup dan setoples kue. ia meletakkannya di hadapan Salman.


"Diminum, Uda." pinta Callista.


sebutan Uda, langsung melambungkan hati Salman. ia tersenyum, mengangguk dan mengambil gelas itu dan meminum isinya setengah lalu meletakkannya lagi di meja.


"Uda... sudah selesai jam kerja?" tanya Callista.


"Iya, sudah. cuma tak tahu kenapa aden kepikiran adiek. jadi aden putuskan datang menemui adiek disini." ujar Salman lagi mulai gugup.


"Wah, ada apa ya?" tanya Callista deg-degan.


"Nggak... cuma hendak menegaskan sesuatu..." ujar Salman dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Uda lagi sakit ya?" ujar Callista.


"Ya?" balas Salman melengking.


"Uda lagi kurang sehat ya?" tanya Callista, "Suaranya gemetaran."


"Mungkin... tapi kayaknya nggak." ujar Salman dengan ragu. Callista mengulurkan tangan dan jemarinya menyentuh pelipis Salman.


"Nggak panas..." gumam Callista.


tangan gadis itu langsung ditangkap Salman dan dibawanya ke depan. "Maaf jika ini terkesan tak romantis. tapi... aden hanya bertanya sekali saja..."


Callista tersipu hendak menarik tangannya dari genggaman Salman namun pemuda itu menggenggamnya dengan erat.


"Uda..." panggil Callista dengan lirih.


"Adiek... maukah adiek menjadi kekasih aden? sudah sejak lama aden menyimpan perasaan ini." ujar Salman dengan gugup.


Callista menunduk dan tatapannya terpaku pada stoples itu. Salman sendiri semakin gugup melihat Callista yang hanya membisu.


"Adiek... jawablah... jangan bikin hati aden tak tenang seperti ini." pinta Salman.


lama gadis itu diam hingga akhirnya ia menjawab. "Beri saya waktu, Uda. saya belum bisa menjawabnya sekarang." ujar gadis itu menunduk.


"Adiek..." panggil Salman dengan cemas.


"Ini bukan perkara gampang, Uda." ujar Callista kemudian menatap Salman. "Saya tak mau salah melangkah ke depannya. ini masalah yang rumit dan tak main-main." ujarnya memberikan alasan.


Salman tersenyum dan melepaskan tangan Callista dengan lembut. "Baiklah. aden tak akan memaksa adiek lagi. yang jelas, aden telah mengutarakan isi hati. perkara waktu, aden memberi tempo adiek menjawabnya dalam waktu tiga hari. supaya jelas dan tak menjadi ganjalan di dua hati ini."


pemuda itu kemudian bangkit. "Kalau begitu, aden permisi dulu hendak kembali." pemuda itu kemudian beranjak hendak pergi.


"Uda..." panggil Callista.


Salman menoleh menatap Callista. "Jangan kuatirkan aden." ujarnya tersenyum lalu mengeluarkan pistol besarnya, memperlihatkannya kepada gadis itu. "Ada Callista bersama aden." jawabnya membuat wajah Callista bersemu merah.


Salman menyarungkan kembali pistolnya dan menaiki kendaraannya. dalam beberapa menit kedepan, kendaraan itu membawa Salman meninggalkan rumah berlantai tiga itu.


...*****...


Aisyah sibuk menata meja makan. disana sudah tersedia secentong besar nasi, sepiring sayur capcay, sepiring tumisan polohungo, sepiring lauk semur dan sepiring perkedel ikan nike. ada setoples kerupuk kecil dan sekotak alat makan.


tak lama kemudian, terdengar suara kendaraan. itu suara deru mesin Tuatara V33K milik Haidar. lelaki itu keluar dari mobil sambil menenteng bungkusan dan melangkah masuk ke beranda dan menekankan sidik jarinya ke mesin fingerprint. pintu mendengung lalu terbuka. Haidar sudah tak lagi mengaktifkan suara penyambutan. ia men silent nya.


pemuda itu melangkah menyeberangi ruangan luas itu dan duduk dikursi. ia meletakkan bungkusan itu dilantai tepi tempat duduknya.


"Mana Sofi?" tanya Haidar.


"Masih dikamar, mengerjakan pe-ernya." jawab Aisyah.


"Panggil... kita makan bersama." pinta Haidar.


Aisyah melangkah menuju koridor sementara Haidar menatap hamparan sajian di meja makan itu. seleranya tergugah. tak lama kemudian Aisyah dan Aya Sofia muncul.


"Malam Om..." sapa Aya Sofia. "Baru pulang kerja?"


"Iya, sayang." jawab Haidar sambil senyum. "Ayo makan sama-sama ya? nanti Om kasih hadiah."


Aya Sofia mengangguk senang lalu naik ke kursi. Aisyah mengambil piring dan menyendokkan makanan bagi putrinya.


"Kemana Tante Imel? kok nggak kelihatan?" tanya Haidar.


"Beliau sudah kembali ke Kediaman Ali." jawab Aisyah kemudian mengambil piring dan menyendokkan nasi dan menyerahkan piring itu ke Haidar. "Katanya, beliau sudah diperintahkan Nyonya Besar pulang, sebab Bik Inah besok akan tiba disini."


Haidar mengangguk-angguk lalu mulai menyendok sayur dan lauk kemudian makan. mereka makan tanpa bicara lagi hingga akhirnya menyelesaikan kegiatan makan itu. Haidar meraih bungkusan itu dan menyerahkannya kepada Aisyah.


"Apa ini?" tanya Aisyah.


"Dibuka dikamar saja. itu aku peruntukkan untukmu dan Sofi." ujar Haidar kemudian menatap Aya Sofia dan tersenyum. pemuda itu kemudian melangkah meninggalkan meja makan dan menaiki tangga menuju kamarnya.


Aisyah menutup sajian dengan tutupan besar lalu mengajak putrinya kembali ke kamar mereka dikoridor. sesampainya dikamar, Aisyah langsung membuka dan mengeluarkan isinya. dua buah stel pakaian muslimah warna merah marun. cetakan lambang keluarga Mochizuki tersulam dibagian dada dan punggung pakaian itu. satunya berukuran mini khusus untuk dikenakan Aya Sofia.


Aisyah mendesah lagi dengan haru. ia terkenang lagi akan kata-kata sang Nyonya besar.

__ADS_1


kelak, kau akan memiliki peranan penting bagi kelangsungan Buana Asparaga Tbk ..... dan juga ketenangan bagi Haidar...


Aisyah menggelengkan kepalanya pelan.


aku merasakan hatiku mulai condong kepadamu Haidar... tapi aku tak mau berharap. aku takut berharap... ya. lebih tepatnya aku takut berharap akan cintamu... aku tahu diri, siapa aku... aku hanya seorang janda cerai hidup yang memiliki anak... aku kalah dihadapan Mahreen yang penuh vitalitas... apalagi dia bule asal rusia... lebih cantik dan berisi dariku... aku tak mau mengharap... Ya Allah... biarkan aku sendirian saja... aku takut kecewa...


setitik airmata jatuh dipipi Aisyah dan itu diperhatikan Aya Sofia. gadis itu bertanya, "Ibu kenapa menangis? apakah pemberian Om, tak berkenan dihati Ibu?"


Aisyah tersenyum menatap putrinya. "Tidak nak. justru sangat bagus dan indah... hanya saja..." Aisyah tak mampu mengatakannya. ia kemudian membuang pandang. "Sudahlah... pergilah kerjakan pe-ermu lalu setelahnya tidur."


Aya Sofia mengangguk dan kembali bergelut dengan mainan beruangnya. sementara Aisyah menontonnya dengan konsentrasi yang tak sepenuhnya terpusat.


...******...


Tiga orang itu sedang asyik menikmati makanan. Inayah, Mahreen dan Marissa. ketiganya saat itu tenggelam dalam aktifitasnya.


"Bagaimana dengan kuliahmu, Mahreen?" tanya Inayah.


"Lancar, Mamachka. sedikit lagi, ujian semester akan diberlangsungkan." jawab Mahreen dengan senyum kemudian mengunyah lagi makanannya.


"Bagus... untuk waktu yang tak lama lagi, kau akan bergabung dengan Buana Asparaga Tbk." ujar Inayah, "Aku akan merekomendasikan kamu kepada CEO perusahaan itu."


"Apakah aku akan bekerja bersama-sama Haidar di HRD, Mamachka?" tanya Mahreen dengan antusias.


"Ya... kalian berdua akan bekerja sama disana." jawab Inayah dengan tenang. Mahreen mengangguk dan tersenyum-senyum senang. Inayah kemudian menatap Marissa.


"Dan kamu Issha?" ujar Inayah. "Bagaimana sekolahmu?"


"Jangan kuatir Bunda." jawab Marissa. "Denai tak perlu mengikuti regulasi pembelajaran semester. denai bisa menyelesaikannya tanpa mematok pada aturan itu."


"Tentu saja." tukas Inayah sambil tersenyum, "Putri keluarga Williams, aku tak meragukan intelijensia kalian yang melampui intelijensia rata-rata orang."


Marissa tersenyum dan mengangguk-angguk. Inayah menyambung. "Tentu kamu akan ditarik oleh kedua perusahaan keluargamu, entah itu MLt. Group, atau Ark Industries."


Marissa menggeleng. "Denai tak tertarik dengan itu, Bunda." jawabnya dengan enteng. "Uni Tuo saja yang mengurusi MLt. Group itu. sedangkan Ark Industries, denai yakin Abi lebih mempercayakan perusahaan itu dikelola oleh Uni Angah."


"Terus kamu?" pancing Inayah.


"Denai kelola saja kebun milik Bunda. gampang, kan?" jawab Marissa dengan enteng membuat Inayah nyaris tersedak. Marissa menyambung. "Denai suka dengan hijau pemandangan. malas bergelut dengan mesin. WM01 saja, kalau nggak dipaksa Abi, tentu denai tak menerimanya."


Inayah mengangguk-angguk. "Jiwamu sungguh mirip dengan Haanish... kurasa, kalian akan menjadi pasangan pengembara kelak. tidak mau terikat oleh apapun."


"Kok Bunda bisa menebak ya?" tukas Marissa sambil tertawa, "Wah... Bunda punya ilmu perewangan ya?"


Inayah menggeleng sambil tersenyum. "Tidak... Bunda hanya menebak saja... tapi biasanya tebakan Bunda selalu benar..."


Mahreen tersenyum, "Berarti Mamachka merekomendasikan saya untuk bekerja di Buana Asparaga Tbk juga berdasarkan tebakan itu?"


"Tidak... tapi semua sudah kupikirkan masak-masak." jawab Inayah menatap Mahreen. "Kamu punya kewajiban penuh membela Buana Asparaga Tbk, sebab disana kau juga memiliki aset yang ditanam mendiang ayahmu." jawabnya.


"Aset milik ayah?" gumam Mahreen, "Berarti Mamachka mengenal ayah saya, Jabir Nurmagonegov?" tebaknya.


Inayah hanya tersenyum mendengar tebakan itu. Mahreen malah dilanda rasa penasaran. "Apakah ayah juga memiliki saham dalam Buana Asparaga Tbk?"


"Tentu saja... makanya, kamu sebagai pewarisnya juga punya andil dalam saham itu. maka kau harus bergabung dengan Buana Asparaga Tbk." jawab Inayah.


"Baiklah Mamachka. jika itu memang keinginan Mamachka kepadaku, aku akan memenuhinya." jawab Mahreen dengan penuh antusias.


...*******...


istana Odawara, Prefektur Kanagawa, Kanto. pukul 20.00 Nihon Hyojunji.


semua anggota lingkar dalam keluarga Hasegawa sudah berkumpul dalam ruangan pavilyun luas dibagian utara istana. duduk paling ujung, Ryoma Hasegawa sebagai kepala keluarga dan dikiri-kanannya duduk semua anggota keluarga. Ryuzou duduk dibagian kiri dengan wajah yang tersungging senyum. entah apa yang dipikirkannya.


Haanish duduk paling ujung dekat tempat duduk Ryoma. kakek itu membuka percakapan.


"Hari ini, malam ini... kita akan memilih kepala keluarga yang baru untuk meneruskan tradisi dan adat istiadat keluarga ini." ujar Ryoma Hasegawa kemudian menatap semua anggota keluarga. "Sudah cukup lama saya memegang jabatan keluarga ini. sudah tiba bagi saya untuk menyepi ke kuil. saya akan menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada kepala keluarga yang baru."


Ryoma sejenak menatap Ryuzou, kemudian menatap anggota keluarganya yang lain. ia menyambung ucapannya.


"Dalam adat istiadat kita, kepala keluarga akan dialihkan kepada anggota yang lain, manakala kepala keluarga tersebut tidak memiliki putra atau keturunan laki-laki yang dapat menggantikan kedudukannya." ujarnya dengan tenang. "Dan itu semestinya akan dijabat oleh adik saya, Ryuzou Hasegawa."


sekali lagi nampak terlihat senyum bahagia diraut wajah Ryuzou hingga akhirnya Ryoma menyambung ucapannya. "Namun saat ini saya telah memiliki kandidat kepala keluarga yang tak lain, putra dari putri saya, Rosemary. dan dia bersedia maju sebagai calon kepala keluarga kita." Ryoma menatap Haanish. "Perkenalkan, cucu saya, putri dari Rosemary... Yoshiaki Koga Hasegawa."[]

__ADS_1


__ADS_2