
Haanish melakukan meditasi menyatukan visi dan pengerahan total menuju kesatuan utuh yang Maha Sempurna. tangan kanannya menggenggam butir-butir tasbih juzu dari giok hitam yang dipilinnya saat lelaki itu menyelaraskan alunan dzikir dari lidahnya bersama petikan biji tasbih itu.
seluruh titik cakra dalam tubuhnya kemudian aktif satu persatu mulai dari titik dasar dibawah pusar, kemudian melebar hingga akhirnya naik ke kepala. perlahan aura memendar memancar gelombang bio elektro dari tubuhnya beresonansi dengan gaung gelombang elektromagnetik bumi.
dimana kamu, adikku... pancarkan aura kamu, agar aku bisa mendeteksi keberadaanmu....
lelaki itu larut dalam pusaran meditasi, melibatkan frekuensi dari gelombang desimeter yang berseliweran diudara.
...******...
Dinara kini tidak lagi diikat pada tiang. gadis itu dilepas bebas, selama dalam ruangan tersebut. Nikolai membiarkan Dinara disana dengan pertimbangan, gadis itu tak akan bisa melarikan diri.
sementara itu Nikolai mengumpulkan kelompoknya. ia menatap mereka semua.
"Kalian Bersiap-siaplah menghadapi suatu kegemparan besar yang akan mendatangi tempat ini." ujar Nikolai. "Namun kalian semua jangan kuatir. selama Ordo Dracna masih ada, maka persaudaraan kita tidak akan berakhir. kita adalah kaum dimuka bumi yang dipilih Tuhan untuk menyeimbangkan ekosistem. apabila keseimbangan mulai terganggu, maka disitu kita bertindak! deus vult!!!" serunya dan disambut oleh pengikutnya dengan teriakan keras nan gagap gembita.
"Extra draculeus nulla sallus...." seru Nikolai dengan semangat. "Itu adalah landasan paham kita. custos statera naturae... itu adalah pedoman kita!!!"
Nikolai menatap pengikutnya. "Sekarang, kita akan menunggu kedatangan seorang pengguna Sanguis immortalis yang lain. aku sengaja menculik salah satu orang yang menjadi kelemahannya. orang itu pasti akan mencari-cari keberadaan adiknya. disaat itu, kita akan meringkusnya dan membunuhnya, agar keseimbangan alam ini akan kembali terpelihara."
seruan respon yang gagap gembita, menyambut perkataan Nikolai. lelaki itu memandang dengan puas. setelah itu ia menyuruh mereka untuk beristirahat.
Nikolai kembali melangkah menuju kamar dimana Dinara disekap. lelaki itu membuka kunci pintu kemudian mendorong daun pintu tersebut dan masuk.
Dinara duduk dengan santai menanti kedatangan lelaki tersebut. Nikolai terus tersenyum.
"Bagaimana kabarmu?" sapa Nikolai.
"Kau benar-benar musuh yang sopan." sindir Dinara, "Tapi sekaligus kejam dan tak berperikemanusiaan."
Nikolai tertawa pelan mendengar sindiran gadis itu. Dinara menukas, "Apa gunanya kau menanyakan kabar kepada seorang yang sebentar lagi akan kau bunuh?"
"Apa aku tak boleh berbuat baik kepada lawanku sendiri?" pancing Nikolai.
Dinara tertawa, "Kau bukan Shalahuddin al-Ayyubi yang bersikap baik pada para agamawan dan rakyat Yerusalem saat dia menguasai kota itu. nggak usah berlagak baik dihadapanku. kau sudah menjadikan aku sebagai umpan untuk memancing kedatangan kakak-kakakku.... tapi, sebentar lagi, kau akan menyesal... kau akan menyesal menculikku hanya untuk memancing mereka datang kemari." ancam gadis itu.
Nikolai mengangguk-angguk dan tersenyum. "Itu yang kusukai darimu. kau adalah wanita tanpa rasa takut."
"Apakah aku harus ketakutan dihadapanmu?" sindir Dinara lagi. "Ketahuilah... kau tak lebih dari seorang pengecut. memanfaatkan aku untuk mengundang Kakak-kakakku mendatangimu. mengapa kau tak melayangkan saja tantangan langsung? tanpa harus menculikku, mereka pasti akan datang menanggapi tantanganmu."
"Aku hanya menerapkan prinsip, bahwa orang yang bijak akan lebih banyak belajar dari musuhnya ketimbang dari temannya yang bodoh..." ujar Nikolai.
"Berarti teman-temanmu itu kebanyakan adalah orang-orang bodoh sehingga kau memerlukan Haidar sebagai cara mengukur kekuatanmu?" olok Dinara sambil tersenyum.
Nikolai tertawa, "Aku tak mengatakan mereka bodoh. kau saja yang mengatakan hal itu."
"Tapi kalimat yang kau lontarkan barusan mengindikasikan hal itu." tukas Dinara dengan senyum mengejek. "Akuilah, bahwa kau memang tak memiliki lawan tanding sehingga harus melakukan perburuan."
Nikolai tertawa lagi. "Kali ini, aku membenarkanmu." ujar lelaki itu kemudian duduk dengan santai disalah satu kursi yang terdapat diruangan tersebut. "Katakan padaku, bagaimana kekuatan lelaki bernama Haidar itu?"
"Untuk apa kau tanyakan hal itu?" tukas Dinara.
"Untuk mempelajari lawanku." jawab Nikolai.
"Kudengar, kau pernah bertarung dengan Kak Haanish saat dibenteng Naryn-Kala." ujar Dinara.
"Oh, jadi nama lelaki berpakaian baju jirah samurai itu bernama Haanish? tapi dia memperkenalkan namanya sebagai Yoshiaki Koga Hasegawa." bantah Nikolai.
"Itu, nama jepangnya." jawab Dinara. "Kakak keduaku tinggal di jepang, sebagai seorang kepala keluarga samurai disana."
Nikolai mengangguk-angguk. "Ternyata begitu... sangat menarik." gumamnya dengan senyum yang aneh. "Aku ingin bertarung kembali dengan lelaki itu."
Dinara tertawa. "Kau akan kalah."
"Pertarungan kami kemarin tidak menghasilkan kemenangan dikedua pihak." jawab Nikolai dengan jujur. "Secara pribadi, aku lebih memilih untuk bertarung melawan Haanish, ketimbang melawan Haidar."
__ADS_1
"Kenapa sebab?" pancing Dinara.
"Karena aku melihat gaya pertarungan Haanish lebih bagus dari Haidar." jawab Nikolai dengan enteng.
"Kau hanya belum bisa melihat dengan benar." ungkap Dinara. "Setahuku, keduanya sama kuat, sama saling menghancurkan dan sama saling mendukung dalam sebuah pertarungan. aku memang belum pernah melihat mereka bertarung. tapi, dari beberapa keterangan orang-orang yang pernah terlibat dengan mereka, aku bisa menarik kesimpulan bahwa baik Kak Haidar maupun Kak Haanish adalah dua orang pakar dalam seni beladiri."
"Aku akan menantikan saja kedatangan mereka." ujar Nikolai.
"Kenapa tidak kau ungkap saja keberadaan tempat ini kepada mereka. aku yakin dalam waktu yang tak lama, mereka akan datang mengunjungimu dan kau akan bisa melihat bagaimana kehebatan keduanya." pancing Dinara.
Nikolai tertawa. "Kau tak bisa memancingku." oloknya. "Sebaiknya, persiapkan saja dirimu."
"Mempersiapkan untuk apa? jika kau akan membunuhku, aku sudah siap dari tadi. setidaknya, aku akan bertemu dengan Mama, ibuku, dan Miriam... tapi kau? kau akan menghadaoi neraka dalam siksaan kedua kakakku!" tukas Dinara.
Nikolai kembali tertawa. "Jangan kuatir. kalian bertiga akan segera menyusul orang-orang yang kalian cintai itu."
setelah itu Nikolai tertawa sambil meninggalkan Dinara yang hanya duduk diam dalam ruangan tersebut.
...*******...
Haanish tersenyum-senyum beberapa saat lalu kembali diam dalam sikap meditasinya hingga akhirnya ia mengakhirinya dan membuka mata.
pintu shoji pada dojo bergeser membuka. nampak Marissa didepan pintu kemudian masuk dan langsung duduk dihadapan Haanish.
"Uda..." panggil Marissa.
Haanish menatap istrinya dan mengangkat alis. "Kenapa?"
"Denai akhir-akhir ini merasa kurang enak badan." keluh Marissa, "Tubuh denai serasa pegal benar seperti... hueeekkkk..." tiba-tiba Marissa langsung muntah. namun hanya lendir saja yang keluar dari mulutnya dan membasahi tatami didepannya.
"Kamu nggak merasa demam, kan?" selidik Haanish.
"Sedikit." jawab Marissa dengan lirih.
Haanish bangkit dan membopong istrinya dengan gaya bridal, melangkah keluar dari dojo menuju ruangan luas dilantai satu dan membaringkan Marissa di sofa yang terjulur panjang. Haanish berlutut disisi sofa itu.
"Sebentar... aku buatkan kamu air jahe dulu ya? kayaknya kamu masuk angin." ujar Haanish dengan senyum lalu bangkit melangkah menuju pantry.
Marissa menatapi suaminya yang sementara menjerang air dan mulai memasak. sejak Haidar dan Aisyah pindah ke Puri Manggis Residence, mereka mengajak serta Bik Inah.
Salman, sejak wafatnya Inayah, kemudian pamit meninggalkan kediaman Lasantu. dia memilih tinggal di asrama kepolisian. sekarang kediaman itu terasa benar-benar sunyi. sekarang, Haidar kembali meninggalkan kediamannya di Puri Manggis Residence dan menempati Kediaman Ali yang merupakan rumah peninggalan san warisan dari sang kakek, Trias Ali. tujuannya menempati kediaman itu untuk mengawasi secara penuh pengelolaan perkebunan yang sekarang dipegang oleh Nunce Hamid, mewakili keluarga besar dari pihak nenek.
Haanish memasak poki-poki santan, yaitu olahan terung yang diiris dan dimasak diatas kuah santan. Haanish kembali membuka kulkas, menemukan sepotong ikan bandeng. lelaki itu tersenyum lalu mulai mengolah daging ikan itu. rencananya, Haanish akan membuat gorengan Ulilulia.
Marissa tersenyum-senyum sendiri melihat suaminya yang sibuk mengolah masakan, mengenakan apron. terlihat perpaduan antara feminitas yang diwakili apron itu dengan maskulinitas yang diwakili bentuk fisik Haanish yang ceking namun terlihat cutting muscle.
dadanya berdesir setiap melihat wajah Haanish yang mengerutkan alis mengusir hawa panas dari kompor dan wajan akibat pembakaran. kelihatannya birahi Nyonya muda itu terpancing.
Haanish membiarkan masakan itu sementara ia menyaring sari jahe kedalam gelas lalu membawa gelas tersebut ke tempat dimana Marissa berbaring.
Haanish mengisyaratkannya untuk bangun. Nyonya muda itu kemudian bangun dengan bibir yang terus tersungging senyuman yang nggak pernah hilang. Haanish menyodorkan gelas berisi sari jahe itu.
Marissa meraihnya lalu meminumnya hingga habis. Haanish tertawa. "Pelan-pelan..." tegurnya.
Marissa meletakkan gelas itu di meja lalu mendesah panjang meresapi nikmatnya air jahe itu. Haanish baru saja bangkit dan hendak kembali ke pantry manakala Marissa langsung mencekal pergelangan tangan suaminya.
Haanish menatap sang istri yang juga menatapnya dengan tatapan nakal penuh birahi.
"Uhm, uhm... jangan dulu." tegur Haanish, "Aku lagi masakin makanan kita."
"Lepaskan apron itu." pinta Marissa.
__ADS_1
"Untuk apa?" tanya Haanish dengan lembut.
"Pokoknya lepaskan!" pinta Marissa lagi.
Haanish mengalah. ia melepaskan apron itu. Marissa kembali menyuruh suaminya melepaskan semua pakaiannya. Haanish tertawa.
"Nih kamu kok yang nggak-nggak saja?" protes Haanish tapi tertawa cekikikan. "Orang kan masak pakai apron. nih disuruh telanjang sambil pakai apron... kamu mulai tak waras ya?" olok Haanish lagi.
"Ya. denai memang sudah nggak waras!" tukas Marissa kemudian bangkit dan melangkah mendekati suaminya. "Lepaskan pakaian Uda, atau denai yang melepaskannya?!" ancam Marissa dengan senyum binal.
"Kesurupan apa sih kamu sampai nyuruh-nyuruh aku beginian?" tanya Haanish yang memelas.
"Denai nggak tahu!" jawab Marissa yang kini mencengkeram kerah kemeja suaminya. "Lepaskan atau denai yang lepas?" desah wanita itu dengan manja.
Haanish menatap kearah wajan yang mengepulkan uap. ia kemudian menatap istrinya. "Terserah kamu saja."
kalimat suaminya tadi dianggap sebagai tanda persetujuan. Marissa dengan gemas langsung merobek-robek kemeja lelaki itu. Haanish sendiri sempat kaget menyadari hari itu, betapa kekuatan fisik Marissa tiba-tiba meningkat. Marissa benar-benar melolosi suaminya hingga polos benar. pakain yang robek dicampakkannya.
"Pakai ulang apron itu." pinta Marissa.
"Memang kamu... sudah mulai..." komentar Haanish namun lelaki itu tak melanjutkan kata-katanya karena dipelototi oleh Marissa. Haanish mendesah dan memungut apron yang menggeletak dilantai lalu memakainya lagi.
sambil menggeleng-gelengkan kepala karena memikirkan ide gila istrinya itu, Haanish yang kini telanjang hanya mengenakan apron kembali ke pantry dan memasak kembali. untung saja kedua masakannya tidak hangus. lelaki itu dengan cekatan memindahkan kedua masakan dari wajan ke piring lebar khusus prasmanan. kedua benda itu diletakkan di meja. Haanish mematikan kompor dan mencuci wajan lalu membereskan semuanya. setelah itu Haanish memanggil Marissa.
"Makan yuk." ajaknya.
dengan santai, Marissa yang tadinya duduk disofa panjang kemudian bangkit, melangkah santai mendekati meja pantry dimana Haanish berada. Haanish mengambilkan piring dan menyendok nasi dari rice cooker. piring berisi nasi itu diletakkan didepan Marissa.
"Masih kurang. tambahkan lagi." pintanya dengan manja.
Haanish tersenyum lalu kembali menambakan lagi dua sendok kemudian meletakkannya lagi didepan Marissa. wanita itu dengan senyum lebar kemudian menyendok sayur dan lauk kemudian makan.
namun kali ini Haanish benar-benar dibuat terkejut. Marissa kali ini terlihat begitu rakus menyantap makanan. bahkan sampai lima kali menambah porsi nasi hingga isi dalam rice cooker nyaris habis. lelaki itu menelan salivanya.
"Issha..." tegur Haanish.
Marissa yang sementara makan dengan santai hanya menggerakkan matanya ke arah pemilik suara yang membuatnya selalu jatuh cinta itu.
"Kamu...." ujar Haanish, namun urung ia ungkapkan.
"Denai entah kenapa lapar sekali." ujar Marissa memelas dengan pipi yang gembung akibat menampung banyak kunyahan. wanita itu sejenak lagi mengunyah dan cepat-cepat menelan makanannya. "Uda nggak marah, kan?" tanya wanita itu dengan suara serak.
Haanish tersenyum. "Aku mana bisa marah melihat gaya makan kamu. yang ada aku malah susah nahan tawa ini." jawabnya, "Aku boleh tertawa keras-keras, nggak?"
Marissa mengangguk langsung dan Haanish langsung mendongakkan wajah ke langit-langit dan melepaskan tawa berderainya.
Marissa tersenyum melihat suaminya tertawa dan wanita itu tetap saja menyantap makanannya hingga akhirnya habis tak tersisa. hitungannya adalah enam kali menambah. sejenak dari rongga mulut Marissa keluar suara sendawa panjang.
Haanish menghentikan tawanya. "Tuh kan? lambung kamu sudah penuh itu. kamu nggak merasa sesak?"
"Nggak tuh." jawab Marissa dengan enteng menyorongkan piring ke tengah meja.
Haanish hendak mengambil piring namun ditahan oleh Marissa. lelaki itu menatap istrinya.
"Bawa denai ke kamar." pinta Marissa.
Haanish tersenyum lalu melangkah memutari meja dan kemudian menggendong lagi istrinya dengan gaya bridal. ia melangkah meninggalkan pantry, menaiki tangga menuju lantai dua hingga tiba dikamar mereka.
Haanish membaringkan Marissa di ranjang. wanita itu masih tetap mempertahankan senyum mesumnya.
"Aku tahu mau kamu." ujar Haanish. "Tapi apa nggak mengganggu proses pencernaan kamu?"
"Denai nggak perduli dengan itu. masa mulut atasnya dikasih makan, mulut bawahnya nggak? kelihatannya lapar tuh." ujar Marissa dengan manja. "Pingin ngedot susu..." tambahnya lagi memakai kalimat sandi.
Haanish tertawa dan langsung melepaskan apron hingga tubuhnya polos. keduanya kemudian bercumbu hingga mencapai puncak permainan dan Marissa saat itu benar-benar dipuaskan suaminya. baginya, kebersamaan mereka serasa disyurga saja.[]
__ADS_1