
"Mengapa kau menyinggung tentang Marina?" tanya Haanish sejenak dan lelaki itu kemudian tertawa. "Duilaaah... C-L-B-K, nih yee..." olok Haanish sedang Marissa hanya bisa tersenyum masam.
"Maksudnya apa?" tanya Haidar mengerutkan alisnya.
"Cinta lama bersemi kembali." seru Haanish.
Haidar pun akhirnya tertawa. setelah itu ia kemudian menggeleng. "Jangan menuduh yang bukan-bukan. aku ini sudah menikah!" tegur Haidar menyergah membuat Haanish langsung mengangkat kedua tangannya.
"Ampun Bang Jago." seru Haanish.
Haidar menggeleng-gelengkan kepala lalu melanjutkan lagi katanya, "Maksudku, kita akan meminta Marina untuk mengerahkan para pekerjanya untuk menyelidiki tempat itu."
"Dengan berbagai dalih." sambung Haanish. lelaki itu tertawa. "Boleh juga ide kamu."
"Oh ya... aku mau memberitahumu." ujar Haidar lagi. "Kamu kenal lelaki yang bersama-sama Dinara waktu dia di Nusa Tenggara Barat?"
"Ya, aku ingat dia. tapi namanya ku lupa." ujar Haanish.
"Lalu Djalenga." jawab Haidar.
"Oh ya... kenapa?" tanya Haanish.
"Dia sekarang berada di Kediaman Ali." jawab Haidar. "Dia menawarkan bantuannya untuk mencari keberadaan Dinara."
Haanish tertawa lagi. "Nggak usah lagi memanfaatkan Marina. gunakan saja Djalenga untuk menemukan Dinara." usul lelaki itu. "Dari Mama, aku mengetahui kalau keduanya telah menjalin hubungan khusus. kurasa Djalenga cocok untuk misi infiltrasi sekaligus menjajaki bagaimana keadaan pulau itu."
Marissa memukul pelan lengan suaminya. Haanish menatap istrinya. Marissa menatap Haanish. "Jangan gunakan kepolosan orang untuk menemukan Uni Dinara." tegur Marissa.
"Kami nggak memanfaatkannya." kilah Haidar. "Kami hanya akan menjadikannya umpan untuk memancing keluar Nikolai agar bisa kami habisi."
"Sama saja." protes Marissa.
"Baiklah... " ujar Haanish dengan senyum. "Menurut kamu, bagaimana langkah yang paling logis?"
"Ya..." ujar Marissa sejenak menerawang langit-langit ruangan. "Memanfaatkan Uda Djalenga untuk menemukan Uni Dinara."
"Tadi aku bilang apaan sih?" tukas Haidar dengan kesal. "Ngapain di sela kalau toh ujungnya ucapan kamu tetap saja sama denganku?!" sergah Haidar.
tak disangka, hardikan Haidar membuat Marissa terkejut dan tak lama ia mulai menunjukkan wajah merajuk dan matanya sudah berkaca-kaca. Haidar langsung ciut melihat adik iparnya mulai berkelakuan. Haanish pasti tak akan tinggal diam.
"Dasar kakak nggak punya akhlak!" umpat Haanish. "Kok kau bentak istriku sih?! maumu apa?!"
Tuh kan...
"Aku nggak menghardiknya." kilah Haidar memperbaiki nada suaranya. "Aku cuma bilang ngapain di sela kalau ternyata toh hasil akhirnya sama saja... gitu lho..."
"Tapi istriku nangis lho!" tukas Haanish kemudian duduk memeluk Marissa yang terisak-isak dalam pelukan suaminya.
Haidar jadi kesal dan sifat usilnya muncul. dia langsung menukas.
"Kok kamu enak benar ngomong ya?" ujar Haidar kemudian menunjuk Marissa. "Mukanya yang mana sih?"
"Lho? ini mukanya! kamu nggak lihat?!" seru Haanish dengan berang.
"Akh, maaaanaaa...???" ujar Haidar.
"Ini lho, mukanya!" seru Marissa yang panas juga hatinya diolok kakak iparnya. wanita itu sudah tak menangis lagi.
"Hidung mana?" tanya Haidar lagi memprovokasi.
"Lho? ini hidungnya? nggak lihat nih mancungnya macam pinokio?!" sergah Marissa memelototkan mata lentiknya.
"Lho? bukan konde?!" seru Haidar.
"Hidung, bukan konde..." gerutu Haanish kemudian bangkit dan menarik tangan istrinya menuju pintu.
"Eh, mau kemana?!" tanya Haidar.
"Mau pulang!" sergah Haanish. "Kau punya hutang padaku, Chouji! sebentar sore aku dan Marissa ke kediaman Ali. suruh Aisyah untuk menyiapkan semua buah-buah, hasil panen kebun. istriku mau makan buah."
"Nggak begitu juga cara menuntutnya." olok Haidar sambil tertawa. "Oke deh, nanti ketemu di rumah. sore ya?"
Haanish mengangguk lalu mengajak Marissa meninggalkan ruang kerja Haidar. sepeninggal kedua laki-bini itu, Haidar langsung tertawa.
"Dasar pasangan sableng... sudah cocok tuh kamu jadi Tua Gila dari Andalas dan Marissa jadi Sinto Gendeng dari Gunung Gede. sama-sama sableng..." olok Haidar kembali ke tempat kerjanya. "Ah, semoga keponakanku nggak jadi sableng kayak mereka."
Haidar kembali menekuni pekerjaannya yang tertunda.
...******...
Kediaman Ali, Saptamarga-Botupingge, pukul 21.30 WITA.
Djalenga duduk dikepung oleh Haidar dan Haanish. pemuda itu menunduk sementara ditatapi terus oleh Haanish.
Haidar menghela napas. "Aku mempertanyakan kembali i'tikad kamu." lelaki itu memicingkan mata. "Kamu datang untuk menyelamatkan Dinara?"
"Iya, Kakak." jawab Djalenga dengan mantap. "Saya tidak akan datang kesini Jauh-jauh dari Sade kemari jika saya tidak mencintai Dinara."
Haidar melirik sejenak kepada Haanish yang juga menatapnya. Haidar kemudian menyandarkan punggungnya di sofa.
"Kami sudah menemukan letak keberadaan Dinara." ujar Haidar memancing reaksi pemuda Sasak itu. Djalenga mengangkat wajah menatap putra sulung keluarga Lasantu tersebut.
__ADS_1
"Dia tidak berada disini." sambung Haidar. "Adikku disembunyikan di Inggris, tepatnya Skotlandia."
"Berarti kita akan berhadapan dengan kaum-kaum highlander itu, kakak?" tebak Djalenga.
Haidar menggeleng, "Dia tidak berada didaratan. tapi di lautan." lelaki itu memajukan punggungnya. "Tapi... benarkah kau hendak menyelamatkannya dari penculiknya?"
"Harus dengan apa saya meyakinkan lagi, Kakak?" tanya Djalenga.
"Baik. kami anggap kau bersedia membantu kami menyelamatkan adik kami." sela Haanish, "Kita bertiga akan melakukan infiltrasi kesana. kau pandai menembak?"
"Saya pintar menggunakan tulup, Kakak." jawab Djalenga dengan mantap.
"Apa itu tulup?" tanya Haanish.
"Kalau umumnya itu disebut dengan sumpit, Kakak." jawab Djalenga.
"Kamu mau nyumpit orang-orang bersenjata api moderen dan mengenakan baju jirah?" tukas Haanish, "Seribu kali kau meniupkan sumpitmu itu, proyektilmu nggak bakalan nembus baju jirah mereka. yang ada, mulutmu yang makin jontor karena terus-terusan meniup jarum dalam sumpitmu itu." ujarnya dengan kesal.
Djalenga hanya tersenyum sambil garuk-garuk kepala. Haidar menghela napas lagi sambil mengangkat alis menatap Djalenga.
"Apa kau pandai menggunakan senjata api?" pancing Haidar.
Djalenga tertawa canggung. "Jangankan tahu. memegangnya belum pernah Kakak." jawabnya dengan jujur. "Bukankah hukum melarang warga sipil memiliki senjata api tanpa ijin?"
"Kau benar." ujar Haidar mengangguk-angguk lalu menatap Haanish. "Bagaimana nih? apa kau mau mengorbankan pemuda ini? Dinara pasti akan membunuh kita jika tahu pacarnya mampus."
Djalenga menelan salivanya mendengar kalimat yang keluar dari mulut Haidar seakan kata bunuh membunuh terasa biasa bagi dirinya.
Djalenga memang belum mengetahui sepenuhnya sejarah keluarga Lasantu dari galur keturunan Kenzie Ardiansyah dan Azkiya Fatriyanti*. namun ia sudah bertekad untuk mempersembahkan pengorbanannya dalam membuktikan sumpahnya kepada mendiang Inayah.
*)untuk mengenal lebih jauh sejarah tentang keluarga Lasantu dari galur Kenzie dan Azkiya, silahkan baca novel Lazuardi Cinta dan Flamboyan.
Haanish bertanya lagi. "Senjata apa selain tulup yang kau kuasai?"
"Saya juga pintar pakai golok, kakak." jawab Djalenga.
Haanish mendesah. "Yah, sama saja... itu hanya senjata serang kontak dekat saja." ia menatap Haidar. "Atau kita coba saja bagaimana dia menggunakan tulup itu."
Haidar menatap Djalenga. "Kau punya sumpit itu?"
"Milik ayah saya, Kakak." jawab Djalenga.
"Kau bisa memintanya?" tanya Haidar. "Atau haruskah kami membuatkannya untukmu?"
"Jangan Kakak." cegah Djalenga. "Membuat tulup tidak sembarangan, kakak. ada beberapa fase adat yang dilakukan untuk itu. kalau Kakak mau, saya hubungi Amak saya dulu untuk meminjam tulup nya, moga-moga beliau mengijinkan."
"Hubungi Amak kamu sekarang." pinta Haidar.
Djalenga langsung menghubungi ayahnya. tak lama kemudian terdengar jawaban panggilan.
📲 "Amak, saya boleh pinjamkan tulup?" pinta Djalenga.
📲 "Untuk apa anak pakai tulup disana? apakah banyak binatang di Gorontalo yang akan diburu kah?" tanya Samirep dengan polos.
📲 "Bukan di Gorontalo, tapi anak mau berburu di Inggris." jawab Djalenga.
📲 "Eh, anak. jauh sekali kau berburu? apakah binatang disana lebih besar dari disini kah?" tanya Samirep.
Djalenga tersenyum saja sedang Haidar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menyadari kepolosan lelaki diseberang sana itu. Haanish susah payah menahan tawanya.
📲 "Iya, Amak. lebih besar buruan disana. nanti, saya bawa oleh-oleh untuk Amak." ujar Djalenga.
📲 "Kalau begitu, pakai saja tulup nya. nanti Amak kirimkan." kata Samirep.
Djalenga meminta ayahnya menggunakan salah satu jasa kurir yang diyakini bisa mengirimkan benda itu ke Gorontalo hanya dalam jangka waktu empat hari saja. Samirep menyanggupinya. Djalenga mengakhiri pembicaraan seluleris itu dan menatap Haidar.
"Sudah, Kakak. Amak akan mengirimkan benda itu." ujar Djalenga.
Haidar menggeleng-gelengkan kepala lagi. "Jadi kau bohongi ayahmu hanya agar ia meminjamkan senjatanya? memang para penculik itu binatang?"
"Tentu mereka berakhlak binatang, Kakak." seru Djalenga, "Kalau tidak, mereka tidak akan menculik Dinara dan membunuh Nyonya Inayah."
Haidar terdiam mendengar jawaban Djalenga. Haanish tersenyum-senyum dan mengangguk-angguk kemudian. lelaki itu menepuk keras pundak pemuda itu.
"Kau pandai beladiri?" tanya Haanish.
"Lumayan Kakak. sedikit-sedikit..." jawab Haanish.
"Datanglah ke kediamanku besok. aku akan menguji kemampuan beladiri kamu untuk mengukur, sejauh mana kamu mampu membawa Dinara pulang, atau kau yang pulang... tinggal nama." ujar Haanish sambil bangkit melangkah menuju ruang makan.
Haidar pun bangkit. "Istirahatlah Djalenga. besok sore, kita berdua akan ke Kediaman Lasantu." ujar lelaki itu.
Djalenga mengangguk lalu pamit meninggalkan ruangan tersebut. sepeninggal Djalenga, lelaki itu melangkah pula menuju ruang makan. sesampainya disana, Haidar menatapi Aisyah yang sedang mengupasi semangka dan membelahnya sedang Marissa sedang asyik mengonsumsinya. Haanish duduk disisi istrinya sesekali menegur agar Marissa pelan-pelan saja memakan buah itu."
"Wah, gelojoh benar..." sindir Haidar.
CRINGGGG...
serentak Marissa langsung mengerling ke arah Haidar dan menghadiahkannya tatapan tajam. Aisyah tersenyum.
"Sudah, jangan pedulikan kakak ipar kamu itu." ujar Aisyah sambil menyerahkan sepotong semangka kepada Marissa.
"Eh, Uda. kalau denai nggak kelaparan, nggak mungkin denai makan ini semua." tukas Marissa dengan mata memelototi piring yang dipenuhi sisa-sisa kulit semangka.
__ADS_1
Haanish hanya senyum saja sambil menyapu-nyapu pundak istrinya yang masih sangat belia itu. sedangkan Haidar tersenyum mengejek.
"Ya... kamu jangan marah dong, Oom..." ledek Haidar.
HEHHHH?!
seketika Marissa muntab diledek oleh Haidar. ia berdiri dan menuding-nudingkan telunjuknya ke arah Haidar, sedangkan Aisyah hanya mendesah campur mengeluh melihat pertengkaran itu.
"Kurang ajar ya?! denai ini wanita, tahu nggak? kok di panggil Oom?" umpat Marissa kemudian berbalik merajuk ke hadapan suaminya. "Uda, lihatlah betapa kurang beretikanya Kak Haidar terhadap denai. masa istrimu dipanggil Oom?!"
Haanish pun langsung pasang wajah galak sedangkan Haidar hanya diam sambil tersenyum mengejek dan melipat tangannya didada.
"Memang kakak nggak berakhlak kamu ya? istriku dipanggil Oom..." umpat Haanish. "Kan kau lihat dia pakai bebek nih?"
"Pakai bebek nih, pakai rok." sela Marissa mencak-mencak.
"Panggil Oom... nggak punya pikiran..." umpat Haanish.
"Nggak punya pikiran memang!" sela Marissa.
"Panggil Oom..." gerutu Haanish.
"Panggil Oom..." sela Marissa.
"Ya, Oom ya?" ujar Haanish menatap Marissa.
"Ya..." jawab Marissa spontan, namun kemudian dia tersadar dan langsung melabrak suaminya, "Eh, kok Uda juga?" seru wanita itu mencengkeram kerah suaminya.
"Bercanda sayangku." ujar Haanish langsung mencium pipi istrinya dengan cepat membuat Marissa langsung merepek dan memeluk suaminya.
"Aaahhh... Uda." ujarnya dengan mesra.
Haidar mendengus dan mencibir melihat betapa lebaynya Marissa mengungkap kecintaannya kepada Haanish.
"Sudah, sudah. nggak usah bertengkar!" gerutu Aisyah melerai. jilbaber itu menatap suaminya. "Kenapa kau senang sekali menjaili adik iparmu ini?"
"Soalnya kecil macam vas bunga." jawab Haidar enteng.
"Breng...." nyarisa saja Marissa mengeluarkan makian. untung saja ia langsung sadar dan hanya bisa mengepalkan tangannya dan menggeram, "Uuurrrggghhhh... " wanita itu menatap suaminya. "Uda, pulang yuk ah." ajak Marissa.
"Ayo." sambut Haanish. "Tenang sayangku, setelah aku menguji Djalenga, aku akan menantang kancing bopang itu sebagai pembalasan dendam kamu. setuju?!"
Marissa mengangguk-angguk senang. Haidar langsung merespon.
"Ayo, kalau ada ongkosnya sih." ledeknya lagi.
"Hah! taruhan! Uda tak akan pernah bisa mengalahkan suamiku!" seru Marissa. "Kalau suamiku kalah, denai akan mencium kaki Uda sebagai wujud permintaan maaf."
"Lho? kok pakai begituan segala?" protes Haanish dengan senyum miring namun alis kirinya terangkat.
"Makanya, suamiku ini, jangan kalah ya?" pinta Marissa merayu Haanish. "Uda nggak mau kan istri Uda yang cantik ini mencium telapak kaki Kak Haidar yang bau sangit itu?"
"Enak saja ngatai telapak kakiku bau sangit." omel Haidar, "Nih lama-lama ku kemplang juga tengkuk kau..." gerutu lelaki itu.
Marissa hanya menjulurkan lidah mengejek Haidar kemudian mengajak Haanish meninggalkan ruangan makan itu. kini tinggal mereka berdua diruangan itu. Aisyah menggeleng-gelengkan kepala sedang Haidar duduk santai disisi istrinya.
"Jangan marah, aku hanya bercanda saja." ujar Haidar mengambil potongan semangka dan memakannya.
"Ya, tapi becanda jangan sampai begitu." tegur Aisyah. "Bagaimanapun Marissa itu adalah istrinya Haanish. secara langsung dengan menjaili Marissa, kau sama saja menantang Haanish untuk berkelahi denganmu. apa memang kehidupan kalian berdua selalu dihiasi dengan perkelahian?" keluh Aisyah mengomel.
"Memang..." jawab Haidar membuat Aisyah terdiam.
lelaki itu tersenyum lalu melanjutkan, "Sejak kecil kami memang sudah di adu, dan itu tak akan hilang sampai satu diantara kami duluan mati."
"Kamu nggak menyukai Haanish?" tanya Aisyah.
"Nggak. kamu salah paham lagi." tukas Haidar. "Kami di adu bukan karena kami saling benci. aku justru sangat menyayangi adikku itu. kami di adu untuk meningkatkan ketajaman insting kami sebagai praktisi beladiri."
Haidar menegakkan tubuhnya menatap istrinya. "Aku mempelajari silat dari Opa Kenzie dan Bapu Trias. keduanya adalah saudara seperguruan dari Bapu Bakri dan Totu Ridhwan Mantulangi. dari Bapu Bakri, kedua kakekku itu mempelajari silat andalas, sedang dari Totu, mereka mempelajari langga." Haidar menjeda sejenak penuturannya sambil mengunyah lagi semangka, kemudian melanjutkannya, "Adapun Haanish, diajari oleh Papa dan Mama serta Oma dengan seni kuno, Koga Koryu Bujutsu, sebab Papa, Mama dan Bibi Yuki - mamanya Marissa - adalah praktisi seni kuno itu langsung dari Oma yang aslinya orang jepang."
"Berarti, keluarga Lasantu memiliki dua harta karun, yaitu Langga linula suwawa dari galur kakek, dan seni beladiri kuno Koga Koryu Bujutsu dari galur nenek, begitu?" tebak Aisyah.
Haidar mengangguk. "Makanya, kami berdua sering di adu. hanya untuk itu. tak ada tujuan lain."
"Apakah diantara kalian ada yang mendominasi?" tanya Aisyah.
"Kami seimbang. tak ada yang kalah, tak ada yang menang. ibaratnya sama saja. kalah jadi abu, menang jadi arang." tukas Haidar sambil tersenyum.
"Apakah Marissa menguasai seni beladiri ibunya?" tanya Aisyah.
"Kayaknya nggak." tukas Haidar, "Dia lebih mirip Oom Akram, penggila teknologi terapan. buktinya ia punya armor sendiri. kurasa hanya Marinka dan Marina yang mempelajari seni beladiri Koga. itupun nggak sepenuhnya."
"Kayaknya kamu hafal benar." sindir Aisyah.
Haidar tertawa. "Cemburu ya?" ujarnya kemudian mencubit lembut dagu Aisyah.
Aisyah pura-pura melengos, Haidar tersenyum. "Kamu kalau cemburu makin kelihatan cantik, deh." rayu Haidar.
"Gombaaalll..." seru Aisyah sembari menyentil hidung Haidar lalu bangkit.
Haidar langsung menahan pergelangan tangan Aisyah. belum sempat wanita itu menyadari, tubuhnya langsung diangkat Haidar dan dibopong gaya bridal.
"Nggak usah cemburu kamu." ujar Haidar. "Milikku ini punya kamu, bukan siapa-siapa."
__ADS_1
"Buktikan saja." olok Aisyah memanas-manasi sambil tersenyum.
"Ayo! malam ini pukasmu akan mabuk saripatiku!" seru Haidar yang kemudian membawa Aisyah dalam bopongannya meninggalkan ruang makan menuju kamar dilantai dua untuk menggelar pagelaran sanggamakarya.[]