
"Sudah pernah ke Belanda?!" tantang Sintia yang mulai panas.
Marinka tertawa. "Belanda? Nederlanden?... pernah... denai pernah pesiar kesana. mau denai sebutkan?!"
"Coba sebutkan!" tantang Sintia Chaniago.
Marinka langsung bertutur. "Denai pernah menginap dua hari hanya untuk menyaksikan kincir air di desa Kinderdijk di Rotterdam. apalagi? menyusuri taman bunga Keukenhof, dan tinggal seminggu di De Waag (Kastil Weigh) di Amsterdam."
Sintia lantas terkikik, lalu mengolok. "Orang-orang juga sudah pernah kesana nggak gitu-gitu amat ngomongnya."
"Ngomong bagaimana?" tanya Marinka.
"Amsterdaaammmm..." olok Sintia sambil memencong-mencongkan bibirnya.
"Ini supaya waang yakin." tukas Marinka.
Sintia hanya melengos. Marinka langsung mengompori lagi. "Di Jerman, pertaniannya, waduh... sangat maju lho."
"Banyak orang-orang, ya?" tukas Sintia memicingkan mata.
"Nggak. agar-agar." jawab Marinka dengan kesal.
"Kok agar-agar?" tanya Sintia.
"Ya, banyak petani dong!" tukas Marinka dengan kesal.
Sintia langsung terkekeh, "Yeehehehe... bapak denai petani. nggak mikir-mikir kesitu." tukasnya.
"Tapi, saya kagum dengan pertanian disana lho." ujar Marinka tak mau kalah.
"Heh? heran kenapa? petani palingan urusannya tanah. memacul." jawab Sintia. "Disini waang mau suruh berapa hektar, denai suruh pacul sama Bapak."
"Begini saja." pungkas Marisa. "Kamu tahu pisang?"
"Tuh kan? paling jauh ke pisang." sindir Sintia.
Marinka hanya tersenyum-senyum saja. Sintia dengan percaya diri langsung menjelaskan.
"Pisang? paling pisang di seluruh indonesia paling besarnya itu, pisang Ambon." tutur Sintia. "Besarnya paling sekepalan tangan ini."
"Tapi kalau di Jerman, wuuuuh..." ujar Marinka bersikap seolah-olah hal itu mengagumkan. ia menatap Sintia dan bercerita. "Ada sejenis pisang disana. denai tak tahu namanya. Tapi, denai menamainya Pisang Astagfirullah..."
"Pisang Astagfirullah?" gumam Sintia termangu.
Marinka mengangguk-angguk meyakinkan. "Kamu tahu Jam Gadang, kan?"
"Iya, kenapa?" tanya Sintia dengan heran.
"Itu pisang sebesar Jam Gadang, Sintia!" seru Marinka membuat Sintia terlonjak kaget.
"PISANG AMBOON?!" pekiknya dengan kekagetan luar biasa mengundang pandangan orang-orang sekitarnya. namun wanita itu tak perduli lagi.
"Pisang sebesar Jam Gadang, Sintia." jawab Marinka meyakinkan namun dalam hatinya tertawa.
"Ya Allah..." seru Sintia sejenak, namun ia mulai mewek. "Pisang Ambon?"
"Sebesar Jam Gadang." sela Marinka.
"Sebesar Jam Gadang?!" sahut Sintia membuat Marinka mengangguk-angguk untuk meyakinkannya.
"Duillah... gede banget ngibulnya, ya?!" sindir Sintia sambil mengelap air mata yang membanjiri matanya.
"Eh, ini beneran lho." ujar Marinka sambil terkekeh.
"Hm, pisang sebesar Jam Gadang." gerutu Sintia. "Jam Gadang kita?!" tanya wanita itu menyodok Marinka.
Marinka hanya mengangguk-angguk saja, kemudian mengambil lagi piringnya yang berisi sisa-sisa lemang. ia mencomotinya satu persatu dan mulai memakannya lagi setelah mencocolnya pada sambal lada.
"Hm... Marinka Williams... tega benar waang ngomong begitu." omel Sintia Chaniago kemudian menyusuti airmatanya. "Dimana itu?! Dimana?!"
"Munchen, Jerman." jawab Marinka se asalnya saja. sebab sebenarnya itu hanya untuk memanas-manasi sahabatnya saja. gadis itu kembali menikmati sajian ringannya.
"Halah! itu sih nggak seberapa!" tangkis Sintia yang sudah benar-benar naik pitam dengan bualan sembarangan sahabatnya itu.
Marinka tertawa melihat sahabatnya terprovokasi lagi. Sintia Chaniago menatap tajam kearah gadis bersongket itu. "Kamu tahu nggak? di Yangoon?"
"Kenapa?" tanya Marinka dengan heran.
"Kamu tahu, Yangoon, kan?" tanya Sintia menegaskan.
"Ya iyalah. Yangoon kan di Burma." jawab Marinka sambil memasukkan lagi sepotong lemang ke mulutnya dan mengunyah lagi.
"Disana, ada tempat pembuatan barang-barang." ujar Sintia.
"Barang apa sih?" tanya Marinka mulai penasaran.
Sintia ngakak sekuatnya mengumandangkan tawa kemenangannya karena yakin bisa menjatuhkan Marinka kali ini.
"Tahu nggak penggorengan?" pancing Sintia dengan seringai kesal. Marinka mengangguk. wanita itu bertanya lagi. "Selebar apa disini?"
"Paling lebarnya dua meter saja. nggak ada yang lebih lebar dari itu, kecuali penggorengan martabak telur saja." jawab Marinka.
"Berarti kita simpulkan saja lebar penggorengan di Indonesia selebar dua meter." tukas Sintia.
Marinka mengangguk-angguk dan melahap lemang terakhirnya kemudian mengunyahnya.
"Wuih, di Yangoon, waktu denai kesana... uhm..." ujar Sintia geregetan. "La ilaha illallaaahhh... itu penggorengan!"
"Ada apa dengan penggorengan?" tanya Marinka lagi dengan penasaran.
"Tahu nggak lapangan bola di Gelanggang Prayoga?" pancing Sintia.
"Iya. kenapa?" tanya Marinka.
"Selebar itu penggorengannya, Marinka." jawab Sintia dengan tenang membuat Marinka tersedak dan terbatuk-batuk.
__ADS_1
cepat-cepat gadis itu mengambil gelas berisi air mineral dan segera menusukkan pipa plastik dan menyedot airnya untuk meredakan batuk akibat tersedak itu. setelah tenang batuknya, ia langsung membentak Sintia.
"SINTIA!!!!" bentak Marinka yang merasa bualan sahabatnya sudah keterlaluan.
"Ah, MARINKAAAA..." balas Sintia dengan gemas menyenggol lengan sahabatnya.
"Masa penggorengan selebar itu?!" tukas Marinka tak percaya.
"Ih, ini kenyataan lho!" balas Sintia melebarkan tangannya.
"Kalau penggorengan selebar itu, untuk menggoreng apa?" tanya Marinka yang akhirnya mengalah dan bertanya.
"Untuk menggoreng pisang sebesar Jam Gadang itu!" jawab Sintia yang langsung disambut tertawa oleh Marinka karena kalah berdebat. sahabatnya itu ternyata lebih hebat pengetahuan mantiqnya ketimbang Marinka.
"Siapa yang sanggup menggoreng pisang bualanmu itu, kalau bukan penggorengan bohongan saya?!" tukas Sintia lagi menambah tawa Marinka.
"Dasar orang nggak punya pikiran kalau membual." omel Sintia. "Jauh-jauh ekspansi dagang melihat pisang sebesat itu." sindirnya, "Ngomong itu juga pakai logika, Marinka. denai tahu waang paling luas ekspansinya."
Marinka tertawa. "Denai hanya suka ngompori waang kok." ujarnya dengan santai. "Maafkan ya?"
"Ya sudah. denai maafkan deh." jawab Sintia dengan santai.
"Sekarang mau kemana?" tanya Marinka.
"Mau pulang nih." jawab Sintia.
"Kuantar ya? sekalian kita ngobrol. sudah lama nggak bercengkerama bersama." ujar Marinka.
"Okey deh." jawab Sintia mengiyakan.
kedua gadis itu meninggalkan keramaian itu. Marinka menghubungi ibunya untuk minta ijin meninggalkan tempat dengan alasan logis yang dikemukakannya. Airina mengijinkannya. setelah itu, Marinka mengontak supir perusahaannya untuk menjemputnya.
sementara menunggu mobil, keduanya berbincang-bincang di trotoar sambil menonton kerumunan pengunjung yang memadati mesjid untuk ikut serta dalam kegiatan makan majamba.
"Eh sekarang ini denai jadi luas pergaulan, sebab banyak bertemu dengan orang-orang." ujar Sintia membanggakan dirinya. "Aku punya kenalan lho. tampan orangnya."
"Oya?" tukas Marinka.
"Iya dong, gini-gini, aku ini luas pergaulan dan banyak tebar pesona." ujar Sintia. "Kamu mau ku kenalkan?"
Marinka tersenyum-senyum saja lalu mengangguk. "Ya, nggak ada salahnya."
"Okey. nanti tunggu berita dariku." ujar Sintia.
"Siip..." balas Marinka.
tak berapa lama, mobil perusahaan Ark Industries tiba. sesuai dengan janjinya, Marinka menyuruh sopirnya mengantar Sintia sampai ke kediamannya. setelah itu, masih dengan pakaian adat sederhana itu, Marinka terus ke kantornya.
...*****...
Sintia Chaniago, meskipun agak bloon-bloon gayanya, namun ia adalah orang yang menepati janji. gadis itu menghubungi kenalannya yang seorang fotografer sebuah majalah kebudayaan.
pemuda itu bernama Puncan Karnaaq, berasal dari Kutai merupakan cabang dari Dayak ot Danum yang beragama islam. keduanya bertemu di sebuah restoran. Sintia juga menghubungi Marinka untuk mencomblangkannya dengan si Pemuda asal Kutai itu.
"Aku mau kenalkan kamu sama orangnya Ark Industries. dianya cantik. cocok sama kamu." ujar Sintia menyemangati Puncan.
"Dia ini orangnya basah." ujar Sintia dengan penekanan kata bermetafora.
"Basah? habis mandi?" tukas Puncan yang nggak tahu kalimat metafora tersebut.
"Lho? kok mandi?" omel Sintia. "Basah... kamu nggak tahu? basah?"
mata Puncan memicing, "Maksudnya banyak kekayaannya?"
Sintia melebarkan matanya dan mengangguk-angguk. Puncan terkekeh saja.
"Mobilnya berapa coba?" pancing Sintia.
"Nah kamu tanya sama saya? kamu yang tahu!" tukas Puncan.
"Tebak saja, berapa mobilnya?" pancing Sintia lagi.
"Kamu ini mau kenalkan aku sama dia, atau sama mobilnya?" tukas Puncan lagi mulai kesal meskipun ia menampakkan senyumnya.
"Kamu tahu nggak? kendaraannya, satu." seru Sintia.
Puncan langsung tertawa. "Nggak usah pasang tampang kalau cuma satu, Sintia." olok pemuda itu. "Tapi dia setuju datang kemari, kan?"
"Ya Pasti." ujar Sintia. "Kamu nggak bakal menyesal. orangnya cantik. kulitnya mulus, molek." ujarnya mendeskripsikan penampilan Marinka. "Ada pepatah-petitih mengatakan... lalat, menempel di kulitnya, akan jatuh."
Puncan kembali tertawa. berkali-kali Sintia menarasikan begitu putih dan moleknya diri Marinka. pemuda itu langsung mengolok.
"Lalatnya nggak punya kaki kalau begitu." respon pemuda itu dengan tawa khasnya.
"Bukan, tapi karena moleknya itu lho." ujar Sintia.
"Saking licin-licinnya..." ujar Puncan mengangguk-angguk sambil tertawa kecil.
"Kalau Inka tertawa, Can.... adduuuuhhh..." ujar Sintia.
"Nggak punya gigi." tukas Puncan kembali tertawa. seketika Sintia memasang wajah keruh.
Puncan berkomentar. "Kamu heran kenapa? dia tertawa?"
"Giginya itu, Can." seru Sintia. "Gigi ketimun."
Puncan terhenyak. "Giginya?"
"Biji ketimun." pungkas Sintia bermetafora.
Puncan langsung menggebrak meja. "Uhm, aku sudah nggak mau sama sekali. ngapain punya calon pacar giginya biji ketimun?"
"Maksudnya, berderet putih seperti biji ketimun." ujar Sintia menjelaskan kata-kata metaforanya.
__ADS_1
Puncan mengangguk-angguk lagi. Sintia berkomentar lagi. "Bibirnya...."
"Somplak!" seru Puncan menyela sambil tertawa.
"Ini kamu mau serius atau nggak sih?" tukas Sintia dengan jengkel.
"Nah kamu, belum ada orangnya, sudah ribut saja." tangkis Puncan.
"Hm kalau sudah ketemu kamu... hum, hm hm..." ujar Sintia mewanti-wanti. "Tahu rasa kamu."
"Belum bertemu sudah senang saja perasaanku membayangkan deskripsimu itu tentang dia. sampai-sampai aku terbuai hendak tidur." olok Puncan.
"Uhm. itu dia, sudah datang." ujar Sintia menganggukkan kepala ke arah pintu masuk. Puncan menoleh. ia melihat seorang gadis mengenakan pakaian yang menurutnya terlalu menyolok karena sangat modis.
Sintia melambai dan gadis dipintu itu melambai kemudian mendatangi mereka. Puncan langsung menyenggol.
"Sintia, pulang yuk ah." ajak Puncan.
"Hah? kenapa pulang?" tanya Sintia dengan heran sementara jarak kedatangan Marinka makin dekat.
"Itu." ujar Puncan sambil mengangguk ke arah Marinka.
"Itu Marinka Williams, yang mau ku kenalkan sama kamu." ujar Sintia, langsung membuat Puncan kaget.
"Itu anaknya Pak Akram Williams?" tanya Puncan dengan kaget.
Sintia mengangguk namun Puncan langsung tersenyum. "Jangan sembarangan kamu." ujar Puncan.
"Benar, aku nggak bohong." ujar Sintia.
Marinka tiba dihadapan mereka berdua. "Hai, sudah lama menunggu?"
"Agak lama juga." jawab Sintia lalu menatap Puncan. "Ini perkenalkan, teman saya, Puncan."
Marinka menatap Puncan yang hanya cengengesan membuatnya langsung antipati. gadis itu hanya diam menatap pemuda itu. Puncan langsung mengomentari Sintia.
"Kok rada begitu ya?" tanya Puncan dengan lirih.
"Apanya?" tanya Sintia balik dengan lirih.
"Kayaknya pernah di gardu nih." jawab Puncan kemudian tersenyum-senyum. Sintia kembali memelototkan mata kepada pemuda itu lalu menatap Marinka lagi dan tersenyum manis.
"Perkenalkan ini lho, temanku yang kubilang sama waang." ujar Sintia sambil menyenggol lengan Puncan.
refleks Puncan langsung menyodorkan tangan. "Hai, aku Puncan Karnaaq dari Kutai. senang ketemu kamu."
tiba-tiba Marinka mengibas tangannya menampar tangan Puncan. "Tapi denai tak senang ketemu dengan waang." ujarnya. "Memangnya denai apaan? ngomong seenaknya. memang kriteria waang macam gimana? begini-begini denai juga cewek." omel Marinka dan wajahnya yang putih langsung merah.
Puncan malah terkekeh. "Siapa bilang manekin? ya cewek lah, dari sini juga kelihatan itu, ceweknya."
Marinka langsung menatap Sintia. "Lelaki macam beginikah yanb waang kenalkan pada denai?" namun baru saja Marinka hendak mengomeli Sintia, gawainya tiba-tiba berdering.
gadis itu tak jadi marah dan langsung merogoh mengeluarkan gawainya dari saku jas dan memilih menggunakan saluran audio call dan langsung menjauh meninggalkan Sintia dan Puncan.
sepeninggal Marinka, Sintia yang merasa bersalah langsung menegur Puncan. "Kamu sih, belum kenal sudah bicara kasar."
"Lha? kamu yang salah. Ngomong begini-begitu waaah..." ujar Puncan.
"Tapi dia memang benar anaknya pak Akram Williams lho. yang nomor dua." jawab Sintia.
"Katamu ada yang paling cantik dari dia." protes Puncan.
"Ya, tapi aku nggak akrab dengan mereka. yang bungsu sudah menikah dengan orang Jepang. sedang yang sulung, aku juga nggak tahu kalau dia sudah tunangan atau nggak. tapi ini, memang masih jomblo. nggak terlalu cantik seperti kakak dan adiknya, tapi lumayan, kan?" ujar Sintia berpromosi.
"Tapi kayaknya genit tuh." komentar Puncan. "Nggak apa-apa deh. yang penting tuh, genitnya saja."
Sintia langsung mengacungkan jempol mendukung asumsi yang dikemukakan Puncan.
pemuda itu berkomentar lagi. "Segala macam, tuh bibir. asyik bener... tinggal tarik saja, jepreet..."
"Bibir ditarik itu buat apa?!" tanya Sintia meradang lagi karena tersinggung sahabatnya dikatai oleh Puncan.
"Nggak, nanti aku saja yang jepretin bibirnya." jawab Puncan seenaknya.
"Tapi menurutmu... yang jujur lho.... bagaimana menurutmu tentang Marinka?" pancing Sintia.
"Jujur ya?" gumam Puncan lalu tersenyum-senyum.
"Woy, jawab dong." desak Sintia.
"Jujur... aku jatuh hati sama dia." jawab Puncan kemudian terkekeh.
"Benar?" tanya Sintia.
Puncan menatap Sintia lalu mengangguk.
"Gampang caranya." tukas Sintia.
"Kayaknya, orangnya rada romantis... kalau kulihat dari sisi fisiognomi sih." ujar Puncan.
"Dia itu ada rahasianya." ujar Sintia langsung tersenyum.
"Ah, masa?" tukas Puncan. "Kok pakai rahasia-rahasiaan segala."
"Gampang dia jatuhnya tuh." ujar Sintia dengan senyum yakin.
"Yang gampangnya?" desak Puncan penasaran.
"Pakai kata-kata mutiara." seru Sintia.
"Oooo... bisa langsung klepek-klepek..." tebak Puncan.
Sintia langsung mengacungkan jempol memuji kecerdasab Puncan.[]
__ADS_1