The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 06


__ADS_3

Haidar cepat-cepat beranjak dari kafetaria ketika pegawai dikantor fakultas memberitahu bahwa dosen yang hendak ditemuinya sudah tiba. pemuda itu melangkah cepat dan tiba digedung fakultas tersebut.


"Ah, cepatlah. beliau sudah menunggu." kata pegawai tersebut.


Haidar mengangguk dan melanjutkan langkah menuju bilik prodi. didepan pintu pemuda tersebut mengetuk pintu.


"Masuklah..." jawab suara dibalik bilik tersebut.


Haidar membuka pintu dan masuk. disana Pak Djamaludin sedang duduk santai. pemuda itu mengulurkan tangan dan Pak Djamaludin mengulurkan tangan pula kemudian bersalaman.


"Sudah lama menungguku?" tanya Pak Djamaluddin dengan senyum.


Haidar tersenyum, "Lumayan lama, Pak." jawabnya.


keduanya terlibat dalam perbincangan tentang jenis penelitian yang dilakukannya secara kontekstual. perbincangan yang serius dan saling mengisi membuat para pegawai disitu mengira sedang terjadi seminar tak resmi antara seorang pengajar dengan si pencari ilmu. dalam hal bisnis, Haidar pasti bersemangat membahas sebab itu adalah ghirah yang ada disanubarinya selain seni langga yang telah lama ditekuninya.


Pak Djamaludin bahkan memindahkan lokasi pembicaraan mereka berdua di kafetaria disebabkan permasalahan kampung tengah yang menuntut untuk segera dipenuhi pendistribusian dzat-dzat bergizi melalui kegiatan makan siang. bagi Haidar, tak masalah dimana lokasi itu, yang penting adalah materi bahasannya.


Pak Djamaludin juga senang sebab setiap pembahasan materi penelitian, Haidar pasti mentraktirnya lebih dari biasanya. bahkan sampai mendapat uang saku lagi.


Haidar memang orang yang royal memberikan apapun kepada siapapun yang dianggapnya memiliki retribusi terhadap dirinya. pemuda itu adalah pribadi yang humbling dan tak pernah melupakan jasa orang lain.


diskusi itu berakhir menjelang pukul empat. suara adzan Ashar sudah sejak tadi dikumandangkan oleh bilal yang merupakan para mahasiswa yang tergabung dalam beberapa organisasi intra kampus. mereka bergiliran melaksanakan kegiatan rutiniyah masjid, mulai dari hal-hal remeh seperti mengumandangkan adzan hingga paling berat, yaitu mengimami sholat.


Haidar menyempatkan waktu mengunjungi masjid UIN. hanya bangunan ibadah itu yang dibuat berdasarkan gabungan arsitektur asli, terutama bentuk atap. yaitu bersusun dengan puncaknya dipasangi kubah. diatas kubah nampak sebuah lingkaran dengan tulisan bahasa Arab berlafadzkan 'Allah'. menara masjid dibangun meniru menara kudus yang mirip candi gaya majapahit.


bangunan universitas itu unik juga. meskipun memang perguruan tinggi sekelas universitas tidak membatasi jumlah mahasiswa berdasarkan keyakinan hidupnya. namun kebanyakan atap bangunan meniru atap jenis bangunan kuno dunia. bahkan auditoriumnya mengunakan gaya bangunan basilika lengkap dengan tiang-tiangnya yang tinggi dan melengkung dibagian atasnya. pagar-pagar yang membentengi kampus II itu dibuat oleh para pengrajin menggunakan beton dan gerbangnya dipasangi alikusu raksasa terbuat dari bahan logam yang dipahat meniru jenis tumbuhan Bambusa vulgaris var striata.


pemuda itu melayangkan pandang. ruangan mesjid itu ramai dengan para mahasiswa yang asyik berdzikir, ada juga yang membaca Al-Qur'an melalui perangkat informatikanya. ada juga yang melaksanakan sholat sunnah.


Haidar mencari sosok adiknya disana. namun Haanish tak nampak. sholat Ashar sedikit lagi akan segera dimulai. pemuda itu memutuskan menghubungi adiknya. tak berapa lama nada panggilannya dijawab.


📲 "Halo, Assalamualaikum." sapa Haidar, sayup-sayup terdengar suara bising. mirip orang yang sementara bermain musik.


📱"Wa alaikum salaam... kenapa Chounan?" sapa Haanish sekaligus bertanya.


📲 "Lagi ngapain kamu? ini sudah waktu sholat!" hardik Haidar dengan kesal. pemuda itu belum lagi berwudhu. langkahnya terayun keluar.


📱"Nantilah, aku sibuk." kilah Haanish. "Titip doaku saja kepada Allah."


📲 "Dasar parakololo tak berguna. kau pikir Allah tuh tukang pos?! ayo, lagi ngapain kamu disitu? segera ke masjid!" perintah Haidar.


📱"Eh, aku bukan anak kecil lagi yang kau suruh-suruh ya? kita sama-sama sudah dewasa, sudah bisa bertanggung jawab atas apa yang kita perbuat." ujar Haanish membangkang.


Haidar langsung muntab lagi.


📲 "Tapi ini kewajiban kita sebagai manusia yang telah mengakui bahwa Allah adalah Tuhan kita." tandas Haidar. "Aku nggak mau mendengar alasan lagi. kau tinggalkan tempat itu dan kutunggu kau disini!"


📱"Nggak mau ah... byeeee..." seru Haanish langsung menonaktifkan gawainya.


Haidar mengumpat-umpat sambil terus mencoba lagi menghubungi adiknya yang bengal itu. namun penggilan itu tak pernah lagi dijawab. Haanish telah mengunci jalannya. Haidar menggeram tepat disaat iqamat waktu sholat Ashar sudah diteriakkan. mau tak mau Haidar langsung Mendahulukan kewajiban agama yang dianutnya.


setelah berwudhu, pemuda itu lekas masuk dan mengambil tempat di shaf kedua. untung saja dia tak terlambat. kegiatan sholat berlangsung khusyu' dan tertib. pelaksanaannya hanya beberapa menit saja. paling lama rutinitas sholat itu dilaksanakan selama 15 menit, tergantung dari imamnya. kalau imamnya, seorang yang paling senang membaca surah-surah panjang. bisa dipastikan waktu yang digunakan bisa mencapai nyaris setengah jam.


setelah menyelesaikan ritual sholat Ashar, Haidar bergegas hendak meninggalkan masjid ketika dilihatnya wanita yang dikenalnya barusan juga melangkah keluar dari sisi masjid yang lain sedang menggandeng mukena.


"Mahreen?" sapa Haidar.


gadis itu memang Mahreen. ia tak mengenakan kerudung karena baru saja melepaskan mukena. sekali lagi, Haidar terpesona dengan rambut bergelombang hitam yang mengurai panjang hingga sepunggung, milik gadis bermata hijau keabu-abuan tersebut.


Mahreen tahu bahwa dia banyak membuat perhatian Haidar tersita. gadis itu segera memasukkan mukenanya ke tas dan mengambil kerudungnya, melilitkan kembali dikepalanya melindungi rambut tersebut.


"Maaf Kak. aku nggak sempat menjawab sapaanmu." jawab Mahreen dengan senyum menghiba.


entah kenapa dihadapan Mahreen, Haidar berubah sikap. ia menegakkan tubuh bagaikan seorang pahlawan yang baru pulang memenangkan peperangan. pemuda itu sontak menggeleng.


"Oh, nggak apa-apa. aku tahu kau sibuk melepaskan dan memasukkan mukena itu kedalam tas. kamu nggal perlu secanggung itu gara-gara tak sempat membalas sapaanku." balas Haidar dengan senyum yang juga membuat dada gadis itu berdesir.


Haidar langsung tersadar dan makin menegapkan tubuh kekarnya itu. "Kamu mau kemana?"


"Ke gedung UKM musik." jawab Mahreen.


"Lho? kenapa kesana? apa kamu ikut gabung di unit kegiatan itu?" tanya Haidar. "Lagipula kemana anak perempuan itu? tega benar dia meninggalkan kamu sendirian." ujar Haidar menggerutu.


"Callista ada disana bersama Kak Haanish." jawab Mahreen.


"Panggil saja dia Eiji. itu nama panggilannya." sela Haidar.


"Kok namanya seperti orang jepang?" tanya Mahreen.

__ADS_1


"Sebenarnya, kami masih memiliki darah jepang dari galur Papa. salah satu nenekku adalah perempuan jepang yang melakukan naturalisasi. Papa sendiri dan Tante Yuki adalah anak blasteran. tapi sesungguhnya Eiji benar-benar berdarah jepang. tidak setengah-setengah sepertiku."


Mahreen mencerna kata-kata Haidar. pemuda itu tersenyum datar. "Sekarang, dia paling tidak suka diungkit masa lalunya. sebaiknya kamu nggak usah penasaran akan hal itu jika tidak ingin dijauhi."


"Baiklah... aku tak akan mengungkitnya lagi. bagiku, sejak pertemuan dengan dia, aku merasa ada keterkaitan yang aneh. kami langsung akrab, padahal aku sama sekali asing disini." ungkap Mahreen.


"Apakah hanya dia?" tanya Haidar dengan datar.


Mahreen tersenyum. tanpa sadar keduanya berjalan bersama menyusuri jalanan yang dikepung oleh taman. Haidar sejenak melirik kearah gadis berkerudung itu, dan entah kenapa pula Mahreen melirik pula ke arah pemuda yang melangkah disisinya tersebut.


lirikan keduanya bertemu dan kembali keduanya terkejut seketika membuang wajah dengan malu dan sama-sama tersenyum canggung.


"Kenapa kau melirikku?" tanya Haidar. "Apakah kau juga memiliki rasa keterkaitan yang sama kepadaku seperti halnya Eiji?"


"Kayaknya iya." jawab Mahreen sambil tersenyum lebar menampakkan barisan giginya.


Haidar tertawa. karena asyik bercengkerama sambil berjalan bersama, maka jarak yang ditempuh tak lagi terasa. tiba-tiba saja Mahreen sudah menudingkan jari ke arah sebuah bangunan.


"Itu UKM musik." ujarnya, "Sana Callista dan Kak Eiji."


Haidar membuang pandang menatap gedung dimana ada keramaian disana. rupanya ada acara penerimaan anggota baru. suasananya dibuat layaknya pesta. Callista memang anggota UKM tersebut. namun Eiji tidak. lelaki itu adalah sosok independen yang tak berafiliasi ke organisasi manapun apakah unit kegiatan mahasiswa atau organisasi intra kampus. tapi pemuda itu senang dengan keramaian, meski sesekali ia juga mencari keheningan disaat ia memperdalam teknik-teknik dari sebuah jurus.


melihat Haidar datang bersama Mahreen, Callista menyikut lengan Haanish yang asyik memainkan lagu melalui DJ Equipment. pemuda itu ada bakat juga menjadi Disk Jockey. Haanish menengadah kedepan menatap dua orang yang berjalan mendekat. ia tertawa dan melepaskan headphones lalu meraih pelantang.


🎤 "Hadirin sekalian. perkenalkan pasangan romantis kita hari ini, Tuan Haidar Ali Lasantu bersama Nona Mahreen Nurmagonegov dipersilahkan memasuki tempat penyelengaraan acara..." serunya.


Haidar yang begitu moralis memerah wajahnya dan menatap Haanish tatapan seperti hendak memangsanya. namun Haanish hanya tertawa seakan meledeknya sebab semarah apapun, Haidar tak akan menyerang Haanish ditempat umum seperti itu.


adapun Mahreen langsung salah tingkah ketika mahasiswa-mahasiswa anggota baru UKM itu memalingkan wajah menatap mereka berdua. diantara mereka ada yang memandang sinis.


bagaimanapun mereka iri dengan perempuan russia itu. bagaimana tidak? Haidar dan Haanish merupakan idola kampus yang banyak digilai mahasiswi-mahasiswi. kalau Haanish, memang selalu membuka dirinya secara umum. tidak dengan Haidar yang kelihatan selalu serius sehingga mereka yang mengaguminya hanya bisa menahan perasaan dan berani menatapnya dari jauh.


namun perempuan rusia itu begitu gampang menempatkan dirinya diantara dua pemuda tersebut bahkan terlihat sangat akrab. Mahreen memperbaiki sikapnya dan menyambut Callista yang datang menghampirinya.


"Aaahhh.... calon Nyonya Besar Lasantu..." sambut Callista menggoda Mahreen.


"Isssy... Callista, apaan sih?" rajuk Mahreen menggerutu.


"Callista... kamu kok nggak sholat?" sela Haidar. pemuda itu boleh saja piawai dibidang bisnis namun paling bodoh mengungkapkan kata-kata yang bisa menyenangkan.


"Lho? aku kan lagi datang bulan. apa Kak Haidar mau menanggung dosaku karena menyuruh aku sholat dalam keadaan haid?" ledek Callista dengan senyum membuat Haidar menepuk jidatnya.


Callista langsung menggandeng lengan Mahreen dan mereka duduk dikursi terdepan. sementara Haidar memilih duduk disisi Mahreen ditatapi oleh para pemujanya yang terlihat begitu cemburu dan kesal menatap si pemuda malah mendekati wanita tersebut.


pembawa acara kemudian memaparkan tujuan acara dilangsungkan kemudian disambung dengan sambutan pembina UKM yang merupakan dosen-dosen yang memiliki minat bakat dalam musik.


maka tibalah acara yang paling dinanti para mahasiswa peminat musik itu, yaitu live performance artist yang merupakan kolaborasi para mahasiswa yang mahir dibidang disk jockey.


musik mulai mengalun dan Haanish yang merupakan salah satu DJ pemula, langsung memanggil Callista ke selasar gedung yang dijadikan panggung.


"Nyanyikan lagu-lagu alan walker.... faded sama unity... seperti yang kita mainkan bersama." pinta Haanish.


"Boleh panggil Mahreen nggak?" tanya Callista.


"Kalau dia mau." sela Haanish yang mulai memainkan lagu untuk pengantar pertama pertunjukan langsung itu. Callista melambaikan tangan kearah Mahreen, memanggilnya.


dengan heran Mahreen bangkit dan menaiki selasar lalu mendekati Callista. "Ada apa?" tanya gadis itu dengan lirih.


"Bisa nyanyikan lagu-lagu alan walker, nggak?" tanya Callista dengan lirih.


"Bisa..." jawab Mahreen.


"Baik, kau nyanyikan lirik lagu Unity ya?" pinta Callista dan Mahreen menyanggupi.


Callista mengangguk lalu menatap Haanish. keduanya mengangguk. Haanish mulai memainkan lagu, meremixing lirik dan ritme-melodi lagu Faded, Unity dan Kaweni Meri. lagu pun mengalir. lagu yang bergaya reggae campur dangdut disko.


Haanish langsung mengambil pelantang dan berseru, "Ladies and Gentlemen... Performances... with made..."


Mahreen pun menyanyikan lirik awal lagu Unity.


🎶 In the dark of night... the star light up the sky


🎶 we seem them flying free... that just like you and me...


ganti Callista yang membawakan potongan lagu faded.


🎶 you were the shadow to my light, did you feels us...


🎶 another star... you faded away...

__ADS_1


🎶 afraid our aim is out of sight wanna see us... alive...


🎶 where are you now....


kini Mahreen menyela dengan potongan lirik Unity.


🎶 everyone is lonely sometimes


🎶 but i would walk thousand miles to see your eyes...


🎶 you are not alone, we family.


🎶 hold me, let's escape all this reality....


Haanish menyela, "One, two, three, let's go!"


Mahreen kemudian menyambung lagi lirik Unity tersebut.


🎶 you are my simphony, by your side, we are unity...


🎶 you are my energy, my guiding life, we are unity...


Callista memotong lagi dengan potongan lirik faded.


🎶 eternal silence of the sea, i'm breathing... alive..


🎶 where are you now... where are you now...


Haanish kembali memainkan remixing lagu hingga makin memuncak. lalu hening sejenak dan dia langsung berseru menyanyikan lirik disko.


🎶 ka ka kaweni mery! ka ka kaweni mery ka ka kaweni mery ka ka kaweni mary ka ka kaweni mery ka ka kaweni mery ka ka kaweni mery...


musik kembali mengalun sejenak dan Callista menyambung dengan lirik kedua faded.


🎶 the shallow water never mets what i needed


🎶 i'm letting go... a deeper dive


🎶 eternal silence of the sea, i'm breathing... alive..


🎶 where are you now...


Mahreen menyela lagi.


🎶 although the rain might pour, a thunder a star to roar


🎶 the lightning wakes the wave, but through it, we brave


🎶 everyone is lonely sometimes


🎶 but i would walk a thousand miles to see your eyes


🎶 you are not alone, we are family


🎶 hold me, let's escape all this reality...


Haanish menyela lagi, "One, two, three, let's go!" disusul dengan Mahreen yang kembali menyambung lirik unity.


🎶 you are my simphony, by you side, we are unity


🎶 you are my energy, my guiding life, we are unity...


giliran Callista menyanyikan potongan lirik faded.


🎶 eternal silence of the sea, i'm breathing.. alive... where are you now... where are you now...


musik kembali mengalun dan Haanish kembali mengerap kalimat kaweni mary. musik itu di repeat sebanyak empat kali. Haidar yang menonton selalu terbawa eforia yang entah muncul dari mana dan karena apa hanya karena melihat bahasa mata dan tubuh Mahreen yang sesekali meliriknya ketika menyanyikan lirik everyone is lonely sometimes dan memprihatinkan wajahnya seakan memahami kesendirian lalu kemudian tersenyum saat menyambung lirik but I would walk thousand miles to see your eyes.


begitu juga saat Mahreen menyanyikan lirik you are my simphony, by your side, we are unity... you are my energy, my guiding life, we are unity... Haidar seakan hendak meloncat dari kursinya, ingin ikut berdansa bersama Mahreen disana. namun sekali lagi, egonya memaksanya untuk tetap duduk dan menyiksa perasaannya yang ingin memberontak disaat Mahreen menyanyikan lirik hold me, let's escape all this reality....


putaran pertama pertunjukan langsung itu selesai dan langsung diganti oleh DJ lainnya. Haanish minta undur diri lalu berlari mendapati Haidar.


"Ayo, kita sudah terlambat." ajak Haanish menunjuk jarum arloji digitalnya.


Haidar bangkit saat Callista dan Mahreen ikut menuruni selasar ketika peran mereka digantikan penyanyi lain.


"Bagaimana dengan Callista dan... Mahreen?" tanya Haidar dengan ragu. mendadak ia tak ingin cepat berpisah dengan gadis itu.


Haanish tersenyum lebar. "Sudah, bawa saja mereka ikut makan malam dengan Mama. aku akan bawa Callista, dan kau bawa Mahreen." usulnya, "Ayolah jangan banyak berpikir! waktu sangat mendesak!" []

__ADS_1


__ADS_2