The Blood Of God

The Blood Of God
ALONE # 07


__ADS_3

Dinara memandang seluruh ruangan yang sudah porak-poranda akibat pertarungan keempat makhluk raksasa itu. gadis itu kemudian menatap Djalenga lalu menggenggam tangannya.


"Mari kita pergi. tak ada gunanya kita disini." ajak Dinara.


"Tapi Dinara, ada kedua kakakmu disini...." ujar Djalenga agak sungkan.


"Keberadaan kita berdua hanya akan mengganggu pertarungan dan konsentrasi mereka berdua." jawab Dinara kemudian makin meremas jemari Djalenga yang terbalut armor. "Yang penting bagiku sekarang adalah... kau menemukanku. itu membuktikan bahwa kau memang mencintaiku..."


"Tentu saja Dinara. apa kamu berpikir aku main-main dengan perasaan ini?" tukas Djalenga.


Dinara Haifa tersenyum lalu mengangguk. "Terima kasih atas cintamu padaku.... sekarang.... maukah aku kau bawa pergi dari sini? marilah kita menengok kedua Inaq-Amak kamu untuk meminta restu lalu.... seperti yang kau lakukan secara adat."


Djalenga menatap Dinara lalu tersenyum. ia mengangguk. "Baiklah... Dinara Haifa Lasantu! hari ini! tanggal 26 September 2087, Aku... Lalu Djalenga bin Datu Samirep akan memari kamu dari keluargamu! kau bersedia?"


"Aku bersedia... culiklah aku sekarang dari kedua kakakku!" jawab Dinara dengan tegas.


"Mari kita pergi." ajak Djalenga menarik tangan Dinara. keduanya melangkah meninggalkan tempat itu.


...*******...


pertarungan antar keempat makhluk adikuasa itu masih berlangsung. Ivanovich memgandalkan sulur-sulur yang yang berlendir dan lentur itu untuk membatasi gerak Haidar. namun makhluk berwajah singa itu juga bukan seorang petarung kemarin sore. Haidar semenjak kecil sudah mendapat gemblengan istimewa dari Trias maupun Kenzie yang juga seorang petarung hebat. selain itu, Haidar mewarisi ajian Bahana Penggetar Sukma milik Ridhwan Mantulangi, seorang jawara jaman perjuangan dulu.


Haidar sudah mulai bisa membaca gerakan dan titik lemah Ivanovich. tubuhnya tak mampu mengimbangi kekuatan suara dari auman Bahana Penggetar Sukma milik Haidar.


Bahana Penggetar Sukma mirip dengan ajian auman singa milik para pekungfu bangsa tiongkok. gelombang longitudinal yang dihasilkan lebih tinggi dari gelombang normal yang mampu diterima oleh manusia paling kuat. umumnya gelombang suara paling keras yang mampu ditahan oleh manusia adalah 135 desibel. diluar itu, kekuatan gelombang suara akan mengakibatkan organ dalam manusia normal mengalami kerontokan dan disfungsi akibat kekacauan metabolisme tubuh.


Haanish saja sering terganggu oleh auman milik Haidar. namun sebisanya ia menahannya dengan perisai ki untuk meminimalisir efek balik. untungnya Haanish juga memiliki kemampuan meredam gelombang longitudinal jika perisai ki miliknya berada diambang prima.


Haanish agak terbantu dengan gelombang longitudinal milkk Haidar yang sebesar 145 desibel itu. Nikolai sendiri agak kaku gerakannya saat Haidar mengaum sebab, sekuat apapun makhluk itu, kecuali ia memiliki kemampuan meredam gelombang suara, pasti akan mengalami disfungsi sesaat akibat getaran suara tersebut.


CRASSSHHHH...


sekali lagi Si Penebas Angin merobek tubuh Nikolai. namun Haanish heran, berkali-kali ia menebas lawannya, Nikolai tak sekalipun tubuhnya terluka akibat tebasan tersebut. Nikolai memiliki bentuk non material. ia hanya berbentuk semi fisik karena sebagian besar tubuhnya terbungkus oleh kepulan asap tebal.


Haanish melompat mundur, mengerutkan alis menatap Nikolai yang menertawakan ketidakmampuan Haanish melukainya.


Haanish menghela napas panjang. rupanya ia tak bisa ditebas oleh materi yang dingin. aku akan mencoba menggunakan materi panas...


Haanish menyilangkan Si Penebas Angin didada dan mengusap bilahannya. tak lama bilahan pedang itu berpijar merah. Haanish kembali menyeringai bengis ke arah Nikolai. kedua matanya memendarkan cahaya biru khas Karasu Tengu no Shisen- tatapan peluntur semangat.


dan memang selama pertarungan, Nikolai berulang kali menghindari menatap langsung kedua mata makhluk beruas dan berkulit biru itu. kekuatan tatapannya benar-benar membuat Nikolai nyaris kehilangan semangat tempur seakan dalam kedua mata milik Haanish dialiri kekuatan blackhole yang mampu menyedot galaksi semangat lelaki tersebut.


siapapun lawan dari si pengguna jurus Karasu Tengu no Shisen tidak akan berkutik selain menyerah kalah, kecuali ia tidak memandang langsung atau tidak memandang lama kepada mereka.


"Nikolai... mampuslah kau kali ini." ujar Haanish dengan sekehan tawa lalu mengarahkan ujung bilah Si Penebas Angin kepada Nikolai.


"Tidak, sebelum aku membunuhmu duluan!" seru Nikolai dengan sombong melempar pedang ke arah Haanish.


TRANGGGG...


dengan sigap makhluk berkulit biru itu mengibaskan pedangnya menampar dan melempar pedang milik Nikolai. hal itu dimanfaatkan oleh Nikolai, maju mengembangkan tangannya. kedua tangan makhluk itu kini diselimuti kilatan cahaya petir mini.


"Rasakan hujaman tinju petirku ini!" seru Nikolai maju menghujamkan kedua tinjunya dengan sasaran dada Haanish.


dengan sigap Haanish kembali melompat ke udara dan bergerak mundur sambil memutar-mutarkan pedangnya bagai baling-baling. terjadi pusaran arus panas yang mengakibatkan petir mini buatan Nikolai tersedot kedalam pusaran angin panas yang diakibatkan oleh putaran baling-baling Si Penebas Angin.


Nikolai terkejut dan hendak menarik kekuatannya namun lebih kaget lagi dia sebab kekuatannya makin tersedot. sementara Haanish mengumandangkan tawa menggelegar menetapkan kemenangannya sebab berhasil menemukan kelemahan lawannya.


Nikolai meringis makin lama ia menjerit kesakitan. kepulan asap dan kabut yang menyelimutinya ikut tersedot bersama material-material tubuhnya yang mengambang itu.


"Pengumpul Awan Syurga!" seru Haanish meneriakkan teknik barunya, setelah itu ia tertawa kembali sementara putaran pedangnya makin lama semakin cepat. material tubuh non fisik Nikolai melebur kedalam pusaran angin panas membentuk pusaran black hole yang terus menghisap sari kekuatan Nikolai.


akhirnya seluruh kekuatan darah dewa milik Nikolai tersedot kedalamnya menyisakan tubuh manusianya yang sempoyongan keletihan dan nyaris kehilangan tenaga. nampak tatapan ketakutan terlihat di iris mata Nikolai menyaksikan lawannya yang turun menjejak lantai dan melangkah santai dengan pedang terarah kebawah.


"Jangan! jangan dekati aku!" seru Nikolai. "Kalian berdua seharusnya menghamba kepadaku! akulah pemilik sah darah dewa! akulah pemiliknya!" teriak lelaki itu.


"Maaf kawan... kau harus kubinasakan!" jawab Haanish yang langsung melesat mengayunkan Si Penebas Angin dari sisi kanan ke kiri, memisahkan torso milik Nikolai menjadi dua bagian dan akhirnya menyemburkan air mancur darah yang membasahi tubuh biru Haanish.


Haanish kemudian menyarungkan Si Penebas Angin kedalam daging beruas-ruas yang melekat ditangan kirinya. setelah itu terjadi perubahan wujud kembali menjadi manusia biasa. Haanish memperhatikan tubuh Nikolai yang terbelah dua dengan darah yang membanjiri lantai. lelaki itu kemudian berlutut dan melakukan rei. setelah itu ia bangkit dan menghela napas sembari memejamkan mata.


Mama.... aku sudah melaksanakan sumpahku... tenanglah... dan ampunilah aku....


...******...

__ADS_1


sementara pertarungan Haidar juga mulai menampakkan hasil yang condong ke dirinya. Ivanovich mulai menampakkan tanda kemunduran stamina. luka-lukanya terlalu banyak sehingga perlu waktu lebih lama untuk meregenerasi kulitnya, sementara luka baru terus dibuat Haidar.


Ivanovich hanya bisa mengandalkan sulurnya yang djadikan pecut, mencambuki tubuh Haidar yang sempat membuat makhluk berwajah singa itu menggelinjang kesakitan. namun semakin banyak cambukan yang diterimanya, semakin kuat menerbitkan marahnya.


RRRRRAAAAAARRRRRRGGGHHHH....


Haidar kembali mengaum memperdengarkan ajian Bahana Penggetar Sukma membuat tubuh Ivanovich gemetaran dan sempoyongan. gerakannya menjadi lemah. dengan cepat, Makhluk berwajah singa itu melesat dan menabrak tubuh Ivanovich. dan seketika terdengarlah ruangan kesakitan yang kuat dari mulut Ivanovich yang menganga sebab daging lehernya digigit keras oleh Haidar.


kedua taring makhluk berwajah singa itu menancapi saluran tenggorokan hingga mengoyaknya, juga bagian vertebrae cervicales dan memisahkan ruas-ruasnya menyebabkan urat nadi robek dan sumsum tulang belakangnya ikut robek.


kedua makhluk itu bergulingan. satunya meronta berupaya melepaskan diri sedang satunya justru memeluk kuat dan tetap menggigiti batang leher lawan yang dianggap mangsa. geraman Haidar terdengar bersahut-sahutan dengan erangan kesakitan Ivanovich. makin lama rontaan Ivanovich makin lemah hingga akhirnya tak bergerak sama sekali. Haidar menunggu sedikit lebih lama sambil merasakan detak nadi lawannya yang pelan-pelan berhenti lewat sentuhan permukaan bibirnya.


tak lama kemudian, tubuh makhluk itu berubah kembali ke sosok aslinya sebagai Ivanovich yang sudah lunglai akibat lehernya patah digigit Haidar. lelaki itu melepaskannya. Haidar menatap lawannya yang sudah tewas dan menginjaknya lalu menengadahkan wajah ke atas dan meneriakkan aumannya sekali lagi.


"Sudah! itu sudah cukup! tak perlu sombong meneriakkan kemarahanmu." seru Haanish.


Haidar menatap lelaki itu. akhirnya ia merubah ujudnya ke sosok asli. lelaki yang kini bertelanjang dada itu menyepam pelan mayat Ivanovich. Haidar sejenak mengamati dua bagian tubuh Nikolai yang termutilasi. ia kemudian menatap Haanish.


"Wah... Sadis juga kau ya?" sindir Haidar.


"Lah? kau juga sama!" balas Haanish.


"Wah... berarti kita sama-sama jadi pengguna darah dewa." tukas Haidar.


"Kelihatannya begitu." jawab Haanish kemudian tertawa.


"Apakah ini berakhir?" gumam Haidar.


"Kurasa nggak." jawab Haanish. "Selama Darah Dewa masoh mengalir dalam darah kita.... selama itu kita menjadi target buruan Ordo Dracna." lelaki itu menghela napas dan memasukkan kedua tangannya ke kantong celana. "Ah... Papa secara tak langsung menghibahkan kutukannya kepada kita berdua..." Haanish menatap Haidar. "Cara paling gampang hanyalah menghilangkan diri dari rutinitas masyarakat..."


"Aku tak akan melakukan itu!" tandas Haidar. "Aku adalah pemilik sah kehidupanku! aku tak akan membiarkan Ordo Dracna... bahkan siapapun, berani menganggu kehidupanku dan keluargaku, aku akan membinasakannya."


"Boleh juga sumpahmu itu." ujar Haanish. "Apa itu berlaku juga untukku?!" tantangnya.


"Ya!" jawab Haidar dengan tegas.


Haanish pun tertawa kemudian menanggapi. "Kalau begotu, bagaimana kalau kita coba kemampuan kita masing-masing?" pancingnya, "Aku baru saja merasai kehebatan darah dewa. aku ingin mencobanya sekali lagi."


"Sampai diantara kita ada yang mengaku kalah!" tukas Haanish dengan semangat. "Aku nggak akan gampang kalah olehmu Kakakku tersayang!"


tiba-tiba Haanish kembali merubah ujudnya menjadi makhluk berkulit biru tersebut dan menghunus Si Penebas Angin. Haidar pun akhirnya merubah pula ujudnya menjadi makhluk berwajah singa dan mengacungkan tangannya. golok Ailesh yang terlempar entah dimana, tiba-tiba melesat kembali ke genggaman Haidar.


RRRAAAAARRRGGHHHH....


Haidar mengaum keras memperdengarkan ajian Bahana Penggetar Sukma miliknya. untung saja Haanish sudah mempersiapkan diri. Haidar langsung melesat dan berpusing diudara sambil mengayunkan goloknya.


TRANG TRATRATRATRANGGGG...


berkali-kali bilah golok membentur bilah Si Penebas Angin milik Haanish sedang makhluk berkulit biru itu hanya bergeser beberapa langkah saja ke belakang. tiba-tiba Haanish mundur ke belakang dan melesat maju sambil menusukkan Si Penebas Angin.


JLEB!!!!


UHUGGGHHH...


Si Penebas Angin tepat menusuk ulu hati Haidar membuat makhluk berwajah singa itu tersentak. Haanish terkekeh.


"Weh... kayak macam dulu nih." ejeknya.


"Nggak!" geram Haidar.


tiba-tiba Haanish mencabut Si Penebas Angin dan melayangkan tendangan membuat Haidar terpelanting dan jatuh beberapa jarak namun cepat bangkit lagi lalu menggeram. perlahan luka tusukan diuku hatinya bertaut kembali. Haanish hanya mengangguk-angguk sambil menyunggingkan seringai bengisnya.


keduanya kembali bertarung. Haidar dengan semangat kali ini mengayunkan berkali-kali goloknya mempersulit gerakan Haanish dan...


CRAAASSSSSHHH...


bilah Golok Ailesh menebas dada Haanish membuatnya termundur beberapa langkah, disusul Haidar pun maju melayangkan tendangan memutar mengenai rahang makhluk berkulit biru itu.


Haanish terjungkal jauh membentur berbagai benda yang ada diruangan tersebut.


DUARRRR.... DUARRR.... DUAARRR...


ledakan silih berganti terjadi akibat benturan tubuh Haanish dengan benda-benda sarat kebakaran itu. ledakan itu menutupi tubuh Haanish. Haidar memperhatikan kobaran api itu dan sekali lagi ia menggeram.

__ADS_1


Haanish muncul menyibakkan kobaran api itu. kini ruangan itu penuh dengan kebakaran, sedangkan keduanya berdiri ditengah-tengah kobaran kebakaran itu.


"Gimana? lanjut?" pancing Haidar.


"Tentu dong!" seru Haanish.


keduanya kembali melanjutkan pertarungan tanding mereka. ditengah pertarungan, Haidar memanasi saudaranya.


"Hanya segini kemampuanmu?" ejek Haidar. "Kau mengecewakanku!"


"Hah! kau nggak ada apa-apanya, bagiku!" balas Haanish.


keduanya kembali larut dalam perang tanding itu. Haanjsh berkali-kali mengayunkan Si Penebas Angin menghantam bilahan Golok Ailesh. Haidar memanasinya lagi.


"Makasih atas serangannya, Adik tersayang!" ejek Haidar, "Nggak akan cukup sehari untuk mengakhiri pertarungan ini."


"Yang jelas, kau nggak akan unggul dariku, sampai kau membuktikannya!" balas Haanish.


pertarungan kembali berlanjut. Haanish berkali-kali menyerang Haidar dan mengincar titik-titik kelemahannya.


"Akui saja kau kalah, Chouji!" seru Haanish.


"Nggak akan pernah!" tukas Haidar.


TRANGGGG!!!!


Haidar mengibaskan goloknya dengan kuat membuat Haanish terpaksa menangkisnya membuat tubuhnya terpental ke belakang. untung saja Haanish langsung bersalto dan mendarat dengan bagus, namun nyaris menyentuh api dibelakangnya.


"Cara keluar yang bagus, Chouji." puji Haanish. "Tapi... kau tak akan selamat dari seranganku kali ini." ujarnya kemudian memasang sikap Te Ura Gasumi, salah satu gaya dalam iaijutsu. kedua kakinya terpantang lebar agak condong kebelakang sedang ujung bilah Si Penebas Angin diarahkan ke depan.



"Sampai kapan berakhirnya?" keluh Haidar meminta Haanish untuk berhenti saja.


"Serius? berhenti disini saja?" ujar Haanish. "Nggak seru ah. ayo lanjutkan lagi!"


"Terserahmulah! RRRRAAAARRRRGGGGHHHHH...." seru Haidar kemudian mengaum dan maju menyerang lagi sambil mengayunkan goloknya.


Haanish pun maju melesat sambil menghujamkan pedangnya.


TRANGGGGG!!!!


tebasan golok milik Haidar berhasil menampar bilahan Si Penebas Angin. Haanish mengendalikan serangannya dengan menyerang lagi dengan tebasan dari sisi kanan atas ke kiri bawah.


"Ini akhir dari kehebatanmu!" seru Haanish.


"Nggak akan!" seru Haidar sambil mengayunkan pula goloknya.


TRANGGGG...


terjadi benturan keras antara Golok Ailesh dan Si Penebas Angin. akibatnya, dua tubuh itu terpental ke belakang dan jatuh bersamaan. Haidar membiarkan dirinya terbaring sedangkan Haanish langsung bangkit dan berlutut satu kaki sambil menyangga keseimbangannya dengan menghujamkan Si Penebas Angin ke lantai.


ditengah-tengah napas yang tak beraturan, Haanish menggumam. "Menarik...."


Haidar tertawa pelan lalu bangkit dan duduk, "Oh, Eiji... kau menyerangku dengan segenap kekuatanmu, dan kau tetap saja nggak bisa mengimbangiku..." kemudian Haidar tertawa.


Haanish pun ikut-ikutan tertawa. "Kita berkelahi disini sampai melupakan Dinara."


Haidar terhenyak. "Astagfirullah! Dinara! dimana dia?! dimana juga Djalenga?!"


...*******...


Pesawat VTOL milik Ark Industries yang membawa pergi Djalenga dan Dinara telah tiba di dirgantara Indonesia. Djalenga meminta pilot untuk membawa keduanya ke Nusa Tenggara, sesuai titik korrdinat yang disebutkan Djalenga kepada pilot tersebut.


tak lama kemudian, pesawat telah memasuki wilayah Nusa Tenggara Barat. Djalenga memperhatikan altimeter dan attitude indicator yang menunjukkan letak keseimbangan ketinggian pesawat pada MCP (panel kontrol) dan pengaturan jarak pandang yang sementara disetting oleh pilot.


pilot itu menatap Djalenga. "Anda sudah siap melakukan flying fox sky diving?"


Djalenga mengangguk. "Sangat siap."


"Saya akan membuka pintu palka. anda silahkan lewat situ. setelah itu pesawat akan kembali ke Inggris, menjemput Pak Haidar dan Pak Sutan Pamenan nan Mudo." ujar pilot itu.


"Silahkan...." ujar Djalenga dengan senyum. []

__ADS_1


__ADS_2