The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 04


__ADS_3

Haanish mondar-mandir diruangan itu. langkahnya pelan namun tatapannya menunduk. sesekali ia mengerling kearah Haidar yang juga menatapnya.


Haidar sendiri kemudian bangkit dan berdiri sambil bercakak pinggang. "Sudahlah Eiji, semuanya sudah terjadi." sesalnya. "Dan khusus Aisyah... dia sendiri menganggap itu sebagai pembayar hutang budinya kepadaku..."


"Ya! kau memang rentenir!" tukas Haanish menudingkan telunjuknya lagi ke wajah Haidar. "Rentenir lain menghisap uang korban... kau menghisap harga dirinya!"


"Halo, Bro..." sela Salman.


kedua pemuda itu menatapnya. Salman menunjuk tangga dengan jempolnya. "Bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan yang sensitif itu dilantai dua?" usul opsir itu. "Kasihan, Bik Inah akan terganggu tidurnya."


Haanish menatap Haidar. "Kita ke atas, cepat!" ajak pemuda itu melangkah lebih dulu menaiki tangga menuju lantai dua. Haidar kemudian menyusulnya.


Salman kemudian membuka laci meja dan mengambil sebuah ember besar dan membuka kulkas lalu mengambil beberapa kaleng softdrink bersama bungkusan cemilan dan menumpuknya dalam ember tersebut. pemuda bertubuh kekar itu kemudian meninggalkan pantry sambil menenteng ember, menaiki tangga menuju lantai dua.


sesampainya disana, ia mendapati Haidar duduk tegak sambil melipat tangannya didada. sementara Haanish duduk pula menatap langit malam.


"Maafkan aku, tak sepatutnya aku begitu." ujar Haanish dengan pelan.


"Kau telah bertindak sesuai dengan kapasitasmu sebagai seorang adik." sahut Haidar.


Salman kemudian duduk dan meletakkan ember besar berisi cemilan dan beberapa kaleng softdrink. Haidar menatapnya.


"Kamu ini mau nonton bioskop ya?" tanya Haidar.


Salman mengangkat alisnya. "Ya? kenapa?" ujarnya sambil mengambil salah satu kaleng softdrink dan membuka klepnya lalu meminum seteguk dan meletakkan kaleng itu si meja.


"Kau mau ke bioskop? bawa makanan seember begitu." tegur Haidar membuat Salman dan Haanish tertawa pelan.


"Supaya nggak bolak-balik, kawan." kilah Salman. "Aku nggak mau ketinggalan nonton liveshow pertengkaran adik-kakak."


Haidar memberi tatapan tajam. "Memang di keluargamu, tak pernah terjadi perkelahian semacam ini?!"


"Ya jelas nggak ada." tandas Salman dengan senyum kemenangan. "Aden nggak petnah terlibat satu kalipun dalam pertengkaran saudara." tandasnya tertawa lalu menyambung. "Aden kan anak tunggal, bro."


"Pilotepa lo pombolumu..." umpat Haidar sambil tersenyum.


"Intinya... ini adalah terakhir kalinya kau menyentuh mereka berdua, Chouji." pesan Haanish. "Sebelum kau mengenal keduanya, hidupmu normal-normal saja dan kelurusan akhlakmu sangat terjaga. bukankah lurusnya akhlakmu itu yang selalu kau banggakan kepadaku yang sesat ini? apakah sekarang ini kau sudah terjatuh dalam kejelekan sedalam ini?"


tohokan Haanish membuat Haidar terdiam. dalam benaknya ia mengakui kebenaran kata-kata Haanish. anak itu memang menjalani gaya hidup bebas, namun sedapat mungkin ia selalu mengarahkan kebebasannya kearah yang tidak akan membuatnya menjadi sosok amoral.


Haidar menatap adiknya itu. "Rupanya ada sisi positifnya kau menjadi menantu keluarga Williams. pemikiranmu menjadi makin positif." sindir Haidar sambil tersenyum.


"Alhamdulilah, jika kamu melihat aku kearah yang lebih baik." timpal Haanish. "Bukankah itu yang selalu kamu harapkan dariku, kan?"


Haidar mengangguk pula. "Ya, kau benar."


"Okey, kurasa kita harus merayakan kesepakatan ini." sela Salman mengambil dua kaleng softdrink dan meletakkannya di meja. ia mengambil lagi sekaleng untuknya kemudian membuka klep dan mengarahkannya ke depan hendak bersulang.


"Untuk hari depan yang lebih baik!" seru Salman menatap kedua kakak-beradik itu bergantian. Haidar meraih kaleng softdrink itu, begitu juga dengan Haanish. keduanya membuka klep kaleng itu lalu membenturkannya ke kaleng milik Salman.


TRAKKK....


"Untuk hari depan yang lebih baik!" seru Haidar dan Haanish berbarengan. dan ketiganya meneguk minumannya sampai tandas dan tertawa-tawa bersama.


...*******...


Marina baru tiba menggunakan jet perusahaan MLt. Group dan landing di halaman belakang Kediaman Williams. arlojinya sudah menunjukkan pukul 9 malam. langkah kakinya terayun meninggalkan tempat itu sementara jet perusahaan sudah kembali melakukan take off kembali ke Inggris.


diberanda ia disambut Airina dan Akram. Marina tiba dan memeluk ibunya lalu mencium tangan ayahnya.


"Abi kira kamu nggak akan pulang." tukas Akram sambil tersenyum.


"Meskipun perusahaan menyediakan penthouse, denai lebih nyaman tidur dirumah sendiri." jawab Marina dengan senyum dikulum.


"Mari masuk... kelihatannya malam akan terasa dingin saat ini." ajak Airina seraya merapatkan lagi kerah pakaian tebalnya. "Akhir-akhir ini cuaca sering tak stabil. Pariaman saja barusan diterjang ****** beliung."

__ADS_1


ketiganya masuk langsung menuju ruang makan. "Kamu belum makan, kan?" tanya Airina.


Marina tersenyum dan mengangguk. "Denai nggak akan bisa makan jika bukan masakan Umi. itulah sebabnya denai bela-belain pulang, meski perusahaan memberikan fasilitas mewah buat seorang presdir."


Marinka menyambut di meja makan. keempatnya kemudian duduk. Marina mengerutkan alisnya.


"Tumben Issha nggak ada disini." ujar Marina. ditatapnya kedua orang tuanya. "Kemana anak keras kepala bak kerbau itu?"


"Adik kita akan mendahului takdir menjadi temanten." jawab Marinka membuat Marina terhenyak.


"Pengantin? dia akan menjadi pengantin?" tanya Marina.


Airina mengangguk. "Keluarga Lasantu mengajukan lamaran untuk mengambil Issha sebagai istrinya Haanish." jawab wanita parobaya tersebut. "Sekarang, ia menjalani pingitan di rumah nenek."


"Dan anak bengal itu mengacaukan lagi acara pingitannya." sambung Marinka sambil tertawa cekikikan. sementara kedua orang tua itu hanya tersenyum saja sambil menggelengkan kepala beberapa kali.


"Mengacaukan gimana?" tanya Marina penasaran.


"Dia memaksa Haanish menyambangi kediaman inyiak. bahkan inyiak saja nggak berkutik dihadapan Issha." jawab Marinka.


"Apa? inyiak yang terkenal berwajah besi itu menyerah dihadapan Marissa?" seru Marina kaget. "Seberapa kuatkah anak itu sekarang?"


"Dan pasangannya juga sama psikopatnya." timpal Marinka. "Haanish juga dengan gagah berani menyambangi Marissa. akhirnya ia diusir sama inyiak dan disuruh pulang ke Gorontalo. ia boleh datang luso nanti pakai pakaian pengantin."


Marina menatap ayahnya. "Abi... Haanish pernah kesini?"


Akram mengangguk. "Ia meminta Abi mentransmutasi Si Penebas Angin menjadi unsur nanotech supaya bisa digabungkannya ke armor Ark01-Narsys yang Abi hadiahkan untuknya. anak itu menyukai desain armornya yang Abi buat menyerupai baju jirah para samurai era sengoku, lengkap dengan pedang pendeknya. Haanish ingin melengkapinya supaya jadi sepasang." jawab pria parobaya itu.


Marina manggut-manggut. Akram menepis. "Sudahlah. ayo, siapa yang pimpin doa?" pancing Akram.


"Biasanya, Issha akan langsung mengangkat tangannya jika dipancing seperti itu. kelakuannya menurut Kak Iyun, sebelas-duabelas dengan gayanya Haanish. mereka berdua memang klop, pasangan yang memiliki chemistry." timpal Airina. "Baiklah... aku saja yang memimpin doa. mari..."


wanita parobaya itu kemudian memimpin doa makan lalu setelahnya mereka mulai memulai kegiatan makan malam bersama itu.


"Rina..." panggil Airina saat Marina selesai menyendok nasi. putri sulung keluarga Williams itu menatap sejenak wajah ibunya.


"Kau sudah punya pandangan untuk memulai kehidupan berumah tangga?" tanya Airina yang langsung membuat Marina terdiam sesaat. setelah menenangkan hati, gadis itu menjawab.


"Apakah Umi punya pandangan, siapa yang akan menjadi jodohku?" pancing Marina lagi.


"Apa disana... kau tak memiliki pacar?" tanya Airina.


"Bukannya Umi yang melarangku pacaran?" tukas Marina disela-sela kegiatannya mengunyah makanan.


Airina tersenyum. "Kau benar. syukurlah jika kau memelihara pesan kami."


"Tapi... Abj dan Umi pernah pacaran, kan?" selidik Marina.


Airina langsung melengos, sedang Akram tersenyum. ia menjawab. "Itu kebodohan masa lalu. namun tak Abi pungkiri, Abi bersyukur atas kebodohan itu." jawabnya dengan jujur.


"Abi... " tegur Airina yang wajahnya telah merona merah.


"Memang bagaimana kisahnya Umi dan Abi ketemu?" tanya Marinka. "Ceritakan dong..." desaknya memelas.


Akram sejenak melihat kearah Airina yang sejak tadi wajahnya terus merona merah. Akram kemudian menatap kedua putrinya dan mulai berkisah.


"Dulu.... Abi bertemu dengan Umi di acara Indonesia Grand Expo yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi di ibukota, Kertanegara. waktu itu Abi pertama kali memperkenalkan desain Armor yang Abi namakan Wijayawarman." tutur Akram.


kedua putrinya makan sambil mendengarkan cerita ayahnya dengan penuh minat. Akram menyambung lagi.


"Waktu itu, Umi menjabat Presdir Buana Asparaga Tbk. dan ia adalah presdir termuda waktu itu. kalian tau sebabnya?" pancing Akram.


Marina dan Marinka saling memandang. Akram tersenyum dan menjawab, "Sebab Umi menjabat presdir Buana Asparaga Tbk semenjak kelas 9 SLTP."


seketika terdengar applause dari Marina dan Marinka. Airina sendiri makin tersipu. ditegurnya sang suami.

__ADS_1


"Abi... mengapa diceritakan? Umi kan jadi.." rajuk Airina.


"Malu?" tebak Akram. "Ngapain malu? itu keajaiban lho. aku saja waktu itu masih menjabat sebagai karyawan MLt. Group sebelum akhirnya diangkat Abi menggantikannya." pria parobaya itu kemudian menatap kedua putrinya.


"Umi kalian ini adalah perempuan yang paling menjaga imej. terkenal sebagai wanita besi yang tak gampang didekati laki-laki lain, meskipun banyak laki-laki yang meminatinya." ujar Akram memuji-muji Airina. "Beda dengan Mamak Tuo kalian itu yang punya dua istri."


"Wah... Umi, benarkah demikian?" tanya Marinka.


Airina tersipu lagi dan menegur suaminya. "Apa hubby juga akan mengisahkan insiden malam dihotel itu?" omelnya.


Akram serta merta tertawa. "Itu momen paling lucu tapi paling kuingat. apa harus kuceritakan?" pancingnya dengan senyum jahil.


Airina segera saja memelototi Akram membuat lelaki itu mengangkat bahu dan tersenyum. "Baiklah, aku tak akan bercerita lagi." ditatapnya kedua putrinya. "Ayo makan."


"Yaaaah... Abiiii..." keluh keduanya kecewa, "Ceritanya ngegantung sekaliiii.... nggak seru ah!"


...********...


Asrama karyawan Buana Asparaga Tbk, pukul 23.45 WITA.


Aisyah menatap Aya Sofia yang tertidur nyenyak dipembaringannya. wajah anak itu begitu tenang bagai tak ada satupun masalah dalam kehidupannya. setitik air bening mengalir turun dari kelopak mata lentik jilbaber itu.


*maafkan bunda, sayang... kamu harus terseret pula dalam status tak jelas ini... kasihan kamu nak, ikut menanggung cela tetangga hanya karena statusku yang single parent. apa dayaku? disisi lain aku menolak kehadiran lelaki sebab aku takut mereka tidak akan bersikap adil terhadapmu... namun disisi lain pula aku merindukan sosok lelaki yang mampu mencintaimu dan mencintaiku pula.


apalah dayaku, sayang... lelaki yang membuatmu lahir ke dunia melepaskan tanggung jawabnya hanya gara-gara seorang perempuan muda... apalah dayaku, tak mampu menolak datangnya lelaki lain yang ternyata begitu menyayangimu lebih dari ayah biologismu sendiri... seandainya dia adalah ayahmu... aku tak keberatan nak, bahkan lebih bersyukur... tapi... lelaki itu bukan ayahmu*....


Aisyah menyusuti air matanya, menarik isakannya.


*Bunda sudah mengusirnya dari kita. bunda tak mau kamu bergantung padanya... hubungan kami belum halal... sentuhannya senja itu biarlah kuhalalkan saja... namun untuk ke depannya... Bunda tak berani, nak.... lelaki itu punya perempuan lain yang lebih energik dan lebih pula dalam penampilan...


kehidupan bunda sekarang hanya untuk dirimu, nak... apapun akan bunda lakukan asalkan kau tak akan dihinakan orang karena status kita berdua*...


Aisyah menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan. setelah itu, ia menutup pintu kamar putrinya. dan melangkah pelan menjauhi tempat itu. Aisyah baru saja hendak melangkah ketika menatap lagi ke depan dan langkahnya kembali tertahan. ia terhenyak.


dihadapannya berdiri Haidar. jilbaber itu nyaris menjerit kalau saja Haidar tidak serta merta bertindak membekap mulut Aisyah dan memeluknya.


"Bodoh, kamu mau kita berdua jadi gunjingan orang?!" sergah Haidar dengan lirih. Aisyah langsung menggeleng. Haidar menyambung. "Jangan teriak! awas kalau kau teriak!" ancamnya membuat Aisyah juga dengan refleks mengangguk-angguk.


Haidar melepaskan bekapannya pelan dan Aisyah menarik napas panjang, setelah itu ia meninju dada Haidar.


"Mau apa lagi Bapak kemari? ini sudah malam, dikira mereka aku perempuan nggak benar lagi!" omel Aisyah dengan lirih.


Haidar melepaskan pelukannya lalu melangkah menuju kamar Aya Sofia. ia membuka pintu kamar sedikit dan mengintip. sejenak kemudian senyum pemuda itu mengembang melihat anak itu tidur pulas. ia menutup lagi pintu kamar itu dan menjauhinya, mendekat ke arah Aisyah.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Haidar dengan lembut.


"Sudah tahu, malah nanya!" omel Aisyah masih dengan suara lirih. "Saya ini takut dan kaget melihat Bapak tiba-tiba nongol macam hantu." jilbaber itu melangkah menuju jendela dan menyibak sedikit tirai mengintip. ia mengerutkan alis melihat tak ada Tuatara V33K terparkir didepan asrama. jilbaber itu menutup lagi tirai dan menatap Haidar.


"Bapak jalan kaki kemari?" tanya Aisyah sekaligus mengolok pemuda itu. dengan jujur Haidar mengangguk. mata Aisyah melebar.


"Yang benar? ah, bapak ngeprank nih. mobil ditaruh beberapa meter dari asrama, kan? terus mengendap-ngendap kemari dan..." alis Aisyah berkerut. "Menyelinapnya lewat mana sih? setahuku, semua jendela dan pintu telah ku kunci! nggak ada jalan keluar." ujar Aisyah. "Jangan-jangan Bapak..."


"Apa?" sela Haidar, "Ponggo?, Wangubi? Kalumba? sebut saja semau kamu! ayo!" tantang Haidar.


"Sudah ah. Bapak pulang saja." usir Aisyah, "Sudah nengok Sofi, kan? sudah puas, kan? ayo, pulang sana!"


Haidar mendekat membuat Aisyah melangkah mundur. "Bapak mau apa? nanti saya teriak nih!" ancamnya.


Haidar tetap bergeming. ia maju dan merengkuh Aisyah dalam pelukannya. semula Aisyah sedikit meronta, namun anehnya ia mulai merasa nyaman dan membiarkan saja lelaki itu memeluknya, membelai bahunya.


"Maafkan aku... selama ini... kamu selalu merasa tak nyaman denganku... entah kenapa aku tak bisa melepaskan perasaan ini..." ujar Haidar pelan.


"Bapak... boleh nggak jangan peluk-peluk saya? kita berdua ini belum halal, Pak. biarlah perbuatan Bapak kepada saya sore tadi saya ikhlaskan... tapi..." ujar Aisyah.


"Kita halalkan saja..." jawab Haidar.

__ADS_1


alis Aisyah bertaut. ia menengadah menatap Haidar. "Halalkan? maksud Bapak apa?"


"Bagaimana kalau kita... nikah siri saja?" usul Haidar.[]


__ADS_2