
"Vstret' menya?" tanya Mahreen dengan heran. (bahasa rusia \= menemuiku?)
Haidar kembali hanya memamerkan senyum datarnya saja. pemuda itu memang pribadi yang terlalu menjaga image, dihadapan siapapun, termasuk ibunya sendiri.
Mahreen menelan makanannya lalu menatap pemuda itu dengan tatapan dalam. "Moy Brat, mengapa Ty ingin menemuiku? ada yang penting?"
kata Moy Brat adalah panggilan dalam bahasa rusia yang berarti, abangku. sedangkan kata Ty, itu merujuk pada kata kamu dalam bahasa rusia.
Haidar menggeleng pelan namun tetap tersenyum. tentu hal itu membuat Mahreen keheranan dan salah tingkah. gadis bermata hijau itu menunduk. "Ty jangan membuat Ya menjadi canggung seperti ini." ujarnya lirih.
kata Ya, adalah kata dalam bahasa rusia yang berarti aku atau saya.
"Ya prosto khochu uvidet' tebya..." ujar Haidar membuat Mahreen terkejut. (Aku hanya ingin ketemu kamu.)
gadis rusia itu tersenyum lebar, "Ty svobodno govorish' po russki?" ujarnya dengan takjub. (kamu sudah pandai berbahasa rusia?)
Haidar tersenyum lagi. "Ya vse yeshche izuchayu etot yazyk... tak chto my mozhem pogovorit' boleye intimno." ujarnya lagi dengan nada yang hangat. (Aku sengaja mempelajarinya... agar kita bisa lebih akrab bicara.)
Mahreen tertawa renyah diikuti oleh senyuman datar Haidar lagi. pemuda itu benar-benar tertawan dengan barisan gigi putih sang gadis rusia bermata hijau itu. segala hal tentang Mahreen akan terasa indah baginya. entah kenapa? pemuda itu pun tak tahu, ia hanya mengikuti instingnya saja.
"Ah, sudahlah... capek berbahasa rusia." kata Mahreen, "Aku kasihan sama Kakak. toh, aku masih bisa berbahasa Indonesia. ya kita bicara pakai bahasa indonesia saja." usul gadis itu, "Supaya... lebih akrab."
"Kau membalasku rupanya." sahut Haidar membuat Mahreen kembali tertawa kecil. setelah itu keduanya diam lagi dan hanya melempar senyum.
"Seriuslah dulu, Kak." pinta Mahreen. "Kenapa Kakak hendak bertemu denganku?"
Haidar nampak menimbang-nimbang lalu menghela napas panjang. "Bagaimana menurutmu tempat tinggal barumu ini?" pancing Haidar.
Mahreen mengangguk-angguk lalu menjebikan bibir sejenak kemudian menatap Haidar. "Baik... indah, nyaman... apalagi?"
"Bagaimana menurutmu tentang Mama dan Tante Imel?" tanya Haidar.
"Kakak ini bertanya atau mau wawancara sih?" sela Mahreen kemudian tertawa. wajah Haidar sejenak memerah lalu menunduklah ia dan menyembunyikan tawanya.
"Apa aku terkesan seperti orang yang hendak mewawancarai kamu?" tanya Haidar.
"Tentulah, nampak sekali." jawab Mahreen, "Kalau cuma mau nanya tentang aku, sekalian kuambilkan fail data diriku ya?" ujar gadis itu hendak berdiri namun lekas ditahan Haidar. jemari tangan lelaki itu cekatan menggenggam lengan Mahreen.
"Nggak usah..." ujar Haidar dan mengisyaratkan Mahreen untuk duduk lagi. keduanya kembali duduk. Haidar menekan bel. tak lama kemudian Tante Imel muncul dengan langkah anggunnya.
"Tuan Chouji.... saya tak menyangka anda datang." sapa Tante Imel dengan nada formal.
Haidar menganggukkan kepala ke arah loyang berisi milu siram beserta toples bumbu dan botol kecap yang ada di meja.
"Tolong bawa saja makanan ini ke dapur." pinta Haidar.
Tante Imel mengangguk lalu bertepuk tangan tiga kali. dua orang pelayan muncul lagi dan langsung membereskan meja makan tersebut. Tante Imel menatap majikan mudanya. "Ada lagi yang Tuanku inginkan?" tanya wanita itu mencondongkan tubuhnya sambil memicingkan mata lalu mendelikkan sebelah matanya kearah Haidar.
Haidar menggeleng dan tersenyum tipis. "Nggak. terima kasih Tante." jawabnya.
Tante Imel mengangguk lalu menegakkan tubuh dan mengangkat dagunya. "Saya kembali ke tempat saya. jika Tuanku butuh, anda bisa menekan bel itu lagi." ujarnya lalu berbalik melangkah anggun meninggalkan ruangan, diekori oleh tatapan Mahreen yang keheranan.
"Aneh, apa hanya karena ada Kakak, sikapnya sedemikian formal? padahal dihadapanku dan Kak Haanish atau Callista, dia bersikap biasa." gumam Mahreen.
"Ia adalah pribadi yang pandai membawa diri. ia bisa bertingkah laku sesuai kondisi yang terjadi pada saat itu. jika berada dalam suasana santai, Tante Imel akan terlihat santai pula. sebaliknya, jika berada dalam suasana resmi, ia pun akan bersikap formal." tutur Haidar. "Aku mengakuinya."
Mahreen mengangguk-angguk paham. Haidar menghela napas. "Yah, kelihatannya aku harus pamit karena masih banyak pekerjaan kantor yang tertunda." pemuda itu berdiri.
Mahreen ikut berdiri, "Kakak gimana sih? menunda waktu kerja kantor hanya untuk bertanya sejauh mana saya betah disini???" ujarnya dengan takjub.
Haidar tertangkap basah. ia salah tingkah juga akhirnya. Mahreen menggeleng-gelengkan kepala, lalu menegur. "Lain kali, selesaikan dulu urusan pekerjaan lalu mengurusi urusan pribadi. toh, kita masih bisa jumpa lagi dilain waktu..."
Haidar tersenyum dan mengangguk-angguk. "Kau benar. aku akan lebih disiplin lagi dari sekarang." sambungnya.
"Yap. semangat Moy Brat!!" seru Mahreen mengantar Haidar sampai ke pintu depan. Haidar membuka pintu.
sebelum melangkah pergi. ia berbalik sejenak dan berucap, "Uvidimsya, moya dorogaya..." membuat pipi Mahreen merona merah. (Sampai jumpa, sayangku.)
__ADS_1
"Apaan Kakak, ihhh..." seru Mahreen tersipu dan mendorong pelan Haidar, keluar dari rumah. setelah itu gadis tersebut menutup pintu dan menyandarkan punggungnya dipintu itu. wajahnya menengadah keatas lalu menyunggingkan senyum lebar kemudian menggigit bibir meresapi indahnya kata-kata yang dilontarkan Haidar barusan.
duuuhhhh.... dia menyebutku, sayang.... aduuuhhhh...
...*******...
seorang lelaki berperawakan tinggi besar dengan kepala plontos yang dibalut topi pet dan tubuh kekarnya yang seperti hulk, dibalut pakaian dinas yang kelihatan agak sempit baginya. langkah opsir itu terayun dan tiba disebuah ruangan. ia menengadah menatap plang nama pada pintu tersebut.
Biro SDM Polda Gorontalo....
lelaki itu mengetuk pintu. dan terdengar panggilan dari balik pintu itu. opsir kekar itu memutar gagang pintu dan mendorongnya. setelah itu ia berdiri siap dan melakukan penghormatan, kemudian memperkenalkan diri.
"Lapor, Ipda Salman Attar Williams, S.I.K dari Polda Sumatera Barat datang melapor!" ujar lelaki tersebut.
"Silahkan duduk." jawab lelaki berpakaian kasual, kemeja putih dengan dasi bermotif garis-garis. lencana mini kepolisian tersemat dibagian kiri kemeja lengan panjangnya dan papan nama tersemat dibagian kanan kemejanya. sejenak pria itu menepuk celana katun hitamnya lalu duduk.
Salman, sang opsir bertubuh sekekar hulk itu kemudian duduk dengan posisi tegak. kursi itu kelihatan begitu mini dipantatnya. lelaki itu menghela napas.
"Kemarikan berkasmu." pinta lelaki tersebut.
Salman mengeluarkan sebuah portofeule dari tas ranselnya lalu menyerahkan berkas itu ketangan lelaki tersebut. ia membukanya dan meneliti surat-surat penting perihal mutasi sang inspektur dari Padang ke Gorontalo. tak lama kemudian lelaki itu mengangguk.
"Selamat bergabung dengan kepolisian daerah Gorontalo." ujarnya, "Saya Dalpers disini, Komisaris Polisi Syahrul Pano, S.I.K, M.H." lelaki itu memperkenalkan diri. "Sehari ini, nikmati masa bebasmu. besok kau akan menerima penugasanmu."
Salman berdiri siap lalu menghormat. setelah itu ia mengulurkan tangan dan Syahrul menyambutnya untuk salaman. lelaki itu tiba-tiba teringat sesuatu.
"Oh ya. aku baru ingat." ujar Syahrul. "Setelah ini, kau pergilah ke lantai puncak. tadi aku sudah dipesan kalau kau tiba, disuruh langsung menghadap sama beliau, Ibu Wakapolda. kebetulan beliau ada diruangannya."
"Siap, laksanakan!" jawab Salman.
opsir itu berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan setelah menutup pintunya. Salman kembali mengayunkan langkah dan menemukan lift. ia melangkah mendekat dan pintu lift seketika membuka. Salman masuk kedalam. terdengar suara resepsionis digital.
🔊 "Selamat datang. lantai mana yang anda ingin jejaki?"
🔊 "Dikonfirmasi.... silahkan." ujar resepsionis elektronik tersebut.
mesin lift mendengung dan benda itu membawa Salman keatas. tak lama lift tiba dilantai puncak. resepsionis digital itu menyahut lagi.
🔊 "Anda telah tiba diruangan khusus pimpinan teras kepolisian daerah Gorontalo."
"Terima kasih." jawab Salman.
🔊 "Sama-sama. silahkan." sahutnya bersamaan dengan itu pintu lift terbuka.
Salman kembali melangkah dan menemukan sebuah persimpangan. disebelah kanan kelihatannya ruang kerja Kapolda Gorontalo. nampak seorang lelaki berperawakan bengis dan bertubuh besar mirip dirinya berdiri didepan pintu. ketika ia menoleh dan tatapan keduanya bersirobok. keduanya saling melempar tatapan tajam.
Salman kemudian berbalik menuju bagian kiri san menemukan sebuah pintu besar dengan plang nama.
...WAKAPOLDA GORONTALO...
...Inayah Amalia Ali, S.I.K, M.H.I, Ph.D....
...Komisaris Besar Polisi NRP. 89040099...
Salman mengetuk pintu. terdengar panggilan masuk dari sebelah ruangan tersebut. Salman memutar gagang dan mendorong pintu.
nampak seorang jilbaber parobaya mengenakan pakaian dinas harian lengkap dengan balet pangkat dan medali kehormatan tersemat dipakaiannya. wanita itu sedang mengatur fail-fail holografis yang terpampang dalam layar di meja berbahan dasar thermoglass tersebut.
keberadaan Salman didepan pintu membuatnya menonaktifkan semua fitur digital yang disajikan media holograf tersebut. Salman melakukan penghormatan.
"Lapor, Inspektur Dua Polisi, Salman..." seru Salman namun tak sempat menyelesaikan laporannya karena wanita itu mengibaskan tangannya.
"Eysssshhh.... terlalu formal." ujarnya kemudian menunjuk sofa. "Matoduwolo...." ujarnya.
"Odu'olo..." jawab Salman dengan santun kemudian melangkah ke sofa lalu duduk disana.
__ADS_1
jilbaber itu tertawa, "Tau juga kau berkata-kata gorontalo. siapa yang mengajarimu?" polwan itu kemudian duduk disofa.
Salman tertawa pelan, "Mintuo Etek yang ngajarkan ambo bercakap gorontalo." jawabnya. Mintuo Etek adalah sebutan untuk Airina, sebagai istri dari Akram yang merupakan paman dari Salman, sebab ayahnya, Ikram adalah saudara kembar dari Akram. sebutan Etek menggambarkan tubuh Airina yang kecil langsing.
Jilbaber itu adalah Inayah yang sudah menjalani jabatan orang nomor dua di kepolisian daerah itu selama setahun. "Ayahmu baru saja selesai menghubungi Bibi. dia menitip pesan agar kamu diperhatikan. Bibi hanya tertawa saja, bagaimana pun setelah melihat kebongsoran tubuhmu itu, Bibi rasa, kamu nggak perlu diperhatikan lagi." ujarnya setengah menggoda.
Salman tersipu, "Maklumlah Bibi, urang rantau...."
Inayah tertawa lagi sambil mengibaskan tangannya. "Sudahlah..." ujarnya kemudian menyela lagi, "Kamu sudah punya tempat tinggal? pasti belum punya." tebaknya.
lagi-lagi, Salman hanya bisa mengangguk santun. Inayah mengangguk. "Kamu tinggal saja di Kediaman Lasantu, alamatnya di Wongkaditi. nanti Bibi kasih tahu Haidar."
"Tarimo kasih banyak, Bibi." jawab Salman.
Inayah mengangguk-angguk. tak lama terdengar bunyi bip-bip pada meja sofa. Inayah memeriksa panggilan. ia menekan tombol aktif konferensi. muncul wajah holografis berbentuk wajah seorang lelaki agak tua.
"Siap, Om." seru Inayah dengan sigap. "Ada apa?"
🖥 "Kamu ke ruanganku dulu. ada yang ingin Om diskusikan denganmu. jangan lupa, tuh Dodit dibawa masuk saja sekalian." ujar wajah lelaki tua tersebut.
🖥 "Siap, Om." jawab Inayah.
layar holografis itu menghilang dan Inayah menatap Salman. "Bibi lagi ada pertemuan dengan Pak Kapolda. kamu silahkan kembali saja." ujar Inayah sambil bangkit.
"Biar Ambo kawal Bibi sampai ke ruangannya Pak Kapolda." pinta Salman dengan santun. Inayah langsung antusias.
"Ayo kalau begitu. anggap saja kamu asisten pribadinya Bibi, ya?" ujar Inayah melangkah ke pintu disusul oleh Salman yang berdiri dan melangkah dibelakang polwan tersebut. keduanya menyusuri koridor dan tiba didepan pintu ruangan kapolda. ada Dodit disana yang bertindak sebagai asisten pribadi.
"Hai Dit." sapa Inayah.
Dodit hanya tersenyum datar dan kembali menatap Salman dengan tajam. Salman melihat balet pangkat pada bahu opsir itu dan mengangguk sopan. "Apo Kaba Uda?" sapanya.
Dodit hanya mengangguk datar saja. lelaki itu tak paham juga bahasa minangkabau. lelaki itu kemudian maju mengetuk pintu. terdengar panggilan dari balik ruangan. sejenak Inayah menatap Dodit.
"Om Marwan mau bicara apa? kau tahu nggak?" tanya Inayah dengan lirih namun Dodit hanya mengangkat bahu.
"Mana Ana tahu?" tangkisnya.
"Kamu juga dipanggil masuk." ujar Inayah.
"Ah, yang benar?!" ujar Dodit dengan heran.
"Mana kutahu?" balas Inayah membuat Dodit senyum masam. Inayah menatap Salman. "Kamu balik saja ke Wongkaditi, langsung ke Kediaman Lasantu Ya? nanti lokasinya lihat saja di GPS kamu."
setelah itu Inayah mengajak Dodit masuk ke dalam ruangan. Salman berbalik melangkah menyusuri koridor dan berbelok ke kiri dan tiba di lift. suara resepsionis digital menyahut.
🔊 "Selamat datang. sebutkan lantai yang ingin anda jejaki." sahutnya.
"Lantai satu!" jawab Salman.
pintu membuka dan Salman masuk. lift membawanya kembali ke lantai pertama. opsir itu kemudian melangkah keluar saat pintu membuka. ia melangkah cepat meninggalkan kantor menuju kendaraannya, sebuah motor gede bermesin V besar. ia menungganginya dan langsung melesat meninggalkan kantor Polda Gorontalo.
berdasarkan GPS yang menampilkan peta holografis, Salman menemukan letak posisi kediaman Lasantu. ia kembali melajukan kendaraannya menyalip kendaraan-kendaraan lain. tak ada pengemudi maupun pengendara yang berani menyumpahinya. tampilan motornya serasi benar dengan kekekaran tubuhnya.
tak lama kemudian, hanya dalam waktu lima belas menit, Salman tiba di depan Kediaman Lasantu. tidak ada pintu digerbang tersebut, jadi Salman leluasa memasukkan motoe gedenya kepekarangan rumah berlantai tiga itu.
Salman turun dari motor dan melangkah santai memasuki kediaman melewati pintu depan yang sedikit menguak. dekak sol sepatunya terdengar jelas di lantai kediaman tersebut. tak lama kemudian terdengar seruan.
"Kamu siapa? kok datang-datang tanpa mengucap salam." tegur suara yang makin lama makin jelas. seorang pemuda dengan rambut panjang agak setengkuk muncul menuruni tangga.
tatapannya sangat tajam menusuk, namun ternyata Salman tak terpengaruh apapun. pemuda itu bertanya.
"Siapa anda?" tanya pemuda tersebut.
"Aku Salman Attar Williams, dari Polda Gorontalo. Wakapolda menyuruh saya untuk tinggal dikediaman ini." jawab Salman.
"Apa? Mama bilang kamu boleh tinggal disini?" ujar pemuda itu.[]
__ADS_1