
Marina baru saja membersihkan kamarnya saat gawainya berbunyi memberitahukan notifikasi yang masuk. gadis itu mendekati gawainya yang tergeletak di nakas dan mengambilnya, mengecek notifikasi. senyumnya tersungging saat membaca pesan singkat dari Haanish.
lusa pagi, aku akan berada dipelukanmu...
Marissa berjingkrat gembira dan akhirnya menari-nari meniru tarian serampang dua belas, mengekspresikan kegembiraan akan bertemu dengan kekasih hati.
...******...
MLt. Group, kantor pusat di Edinburg, Skotlandia. pukul 09 pagi waktu greenwich.
Marina sedang meneliti berkas-berkas permohonan kerjasama di mejanya. tak lama kemudian terdengar bunyi dari interkom. Marina menekan tombol.
🎙"Ada apa Silvia?" tanya Marina dengan bahasa inggris beraksen irlandia.
🔊 "Seorang lelaki hendak menemui anda. katanya ia seorang investor." jawab Silvia.
alis Marina mengerut mendengar penjelasan asistennya.
🎙"Namanya siapa?" tanya Marina.
🔊 "Dia tak memberitahukan namanya. katanya, Nona tahu siapa dia. katanya juga, anda dan dirinya bertemu di Moskwa." jawab Silvia.
Marina terhenyak. Mikail Usmanov....
🎙"Persilahkan ia masuk." ujar Marina.
interkom kembali nonaktif. tak lama pintu kaca menggeser menampilkan seorang pria tinggi berwajah tampan dengan rambut hitam dan mata biru kelabu masuk. ia mengenakan pakaian semi jas.
"Selamat pagi, Nona Marina Williams..." sapa Mikail.
Marina menatapnya dengan datar. "Kamu itu, orang islam. kenapa tak memakai salam cara islam?" tegur gadis itu.
Mikail tertawa sejenak lalu meralat salamnya sambil membungkuk datar memperagakan gaya pejabat kesultanan mughal melakukan penghormatan.
"Assalamualaikum, Nona Marina Williams... bagaimana kabarnya anda hari ini?" sapa Mikail kembali dengan bahasa formal.
Marina tersenyum dan bangkit meninggalkan meja kerjanya. ia mempersilahkan Mikail duduk di sofa.
"Alhamdulilah, aku baik-baik saja." jawab Marina. "Kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulilah, ana bil khair..." jawab Mikail menggunakan bahasa arab membuat Marina tersenyum. keduanya duduk disatu sofa saling berhadapan.
"Tumben... kau mengunjungiku." ujar Marina. "Apakah ini dalam rangka kerja? bukankah kita sudah deal dalam hal itu. apakah ada pasal dalam perjanjian yang akan di addidum?"
Mikail menggeleng. "Ini bukan dalam rangka kerja. ridak ada satupun pasal yang di addidum." ujarnya. "Semuanya bekerja sebagaimana mestinya dan aku puas membaca laporan berkalanya. tak sia-sia keluargaku mempercayakan investasinya kepada perusahaanmu."
"Terima kasih. kuanggap itu adalah apresiasi seorang investor atas kinerja kami." jawab Marina, "Bagaimanapun, kepuasan investor adalah bagian dari tugas kami."
Mikail tertawa sejenak lalu mengangguk-angguk. lama ia diam kemudian kembali bicara. "Kamu ada waktu sebentar sore?" tanya pemuda itu.
"Ya... aku pulang kerja pukul 16.30. memangnya kenapa?" tanya Marina mengangkat alisnya.
"Aku hendak mengajakmu keliling-keliling." jawab Mikail membuat Marina tertawa kecil.
"Kalau soal keliling-keliling kayaknya nggak seru. aku hafal wilayah ini. kamu tahu, kan... leluhurku berasal dari sini?" ujar Marina. "Kakek buyut yang asal Dublin menikahi wanita Indonesia dan melahirkan kakekku. ia juga menikahi wanita lokal dan melahirkan ayahku yang kemudian menikahi ibuku, wanita peranakan jepang yang tinggal di Gorontalo. dan kau lihat? disinilah aku sekarang." ujar Marina mengembangkan tangannya sambil tersenyum.
"Tapi kau tak mewarisi wajah mongoloid dari ibumu." ujar Mikail. "Kau malah mirip wanita eropa."
"Tentu, sebagai anak wanita tertua di kediaman Williams, aku mewarisi gen ayahku tujuh puluh persen." kilah Marina kemudian tertawa. "Adikku yang nomor dua dan bontot itu yang mewarisi wajah ibuku."
Mikail mengangguk-angguk tersenyum. Marina kembali menatap Mikail. "Aku mau mengajakmu makan malam. ini kunjungan perdanaku ke kantor MLt. Group."
"Berarti ini kunjungan bisnis dong." tukas Marina.
"Bukan... ini bukan kunjungan bisnis... katakanlah seperti..." ujar Mikail seperti berat, kuatir meneruskan kalimatnya.
"Seperti apa?" desak Marina.
"Katakanlah sebuah penjajakan pribadi." jawab Mikail.
"Penjajakan pribadi?" tanya Marina tersenyum namun alisnya bertaut. Mikail menghela napas.
__ADS_1
"Mengapa susah sekali mengatakannya?" rutuk Mikail kemudian menarik napas lagi dan menatap Marina. "Baiklah, aku jujur... aku mau mengajakmu kencan."
Marina langsung tertawa menutup mulutnya. Mikail juga ikutan tertawa, namun tertawanya canggung. setelah reda, Marina menatap lelaki itu.
"Maafkan kelancangan saya tertawa tanpa sopan dihadapan anda, pak." ujar Marina memohon maaf. "Tapi didalam adat keluarga saya, tidak mengenal istilah semacam itu. keluargaku menginginkan aku untuk segera menikah, bukan untuk pacaran atau kencan."
"Wah, konservatif sekali." komentar Mikail.
"Ya... maaf jika mengecewakan anda." ujar Marina.
Mikail tersenyum-senyum sendiri dan mengangguk-angguk. Marina tersenyum dan mengembangkan tangannya. "Itulah keluargaku..."
"Kau tak memiliki pendapat yang berbeda dengan mereka?" pancing Mikail.
"Mereka menyerahkan sepenuhnya keputusan kepadaku. tapi dengan syarat, tak ada yang namanya pacaran. pacaran hanya boleh dilakukan setelah menikah. itu saja kok. nggak banyak-banyak syaratnya." ujar Marina.
"Kriteria calon suamimu seperti apa... menurut keluargamu?" pancing Mikail.
"Yang bisa menjadi imamku... bisa membimbingku, melindungi dan membela harkat martabatku. keluargaku tak mematok apapun... asalkan bukan seorang pengemis dan penjahat... itu saja." jawab Marina, namun sejenak kemudian ia seperti tersadar sendiri. "Tunggu. kok kita bincangnya kesitu sih?"
Mikail tertawa. "Memangnya nggak boleh?"
"Ya... b-boleh sih... cuma..." ujar Marina tak melanjutkan ucapannya.
"Cuma apa? takut aku melamar kamu?" todong Mikail membuat wajah Marina merona merah. Mikail tertawa kecil lalu bangkit.
"Baiklah. karena berhubung kamu nggak mau kuajak kencan, jadi aku terpaksa pulang dengan kekecewaan malam ini." ujar Mikail memperlihatkan senyum kecewa yang membuat Marina merasa bersalah.
"Maafkan aku." ujar Marina memelas.
Mikail menggeleng dan tersenyum. "Tak apa-apa. itu memang keputusan yang kau ambil. aku tak akan memaksa." ujar Mikail kemudian berbalik hendak pergi.
Marina bangkit melangkah beriringan dengan lelaki itu. ketika berada dipintu, Mikail berbalik. Marina sempat terhenyak dengan sikap tiba-tiba lelaki itu.
"Ya, ada apa pak?" tanya Marina dengan senyum datar berupaya menenangkan diri.
"Boleh kutahu daftar kantor cabang MLt. Group di Indonesia?" tanya Mikail.
"Kantor cabang di Indonesia ada dua, Di Padang, itu memiliki jangkauan se-indonesia barat, sedang kantor cabang Surabaya menangani jaringan Indonesia bagian timur." jawab Marina.
...******...
Mahreen benar-benar bahagia. Aisyah tak lagi tinggal di kediaman tersebut. hal itu akan membuatnya bebas tanpa diganggu lagi. ia bisa seharian tinggal disana dan kalau bisa bercinta lagi dengan Haidar.
kenikmatan dalam pergumulan itu tersimpan jelas dalam benaknya ketika dengan ganas dan liarnya Haidar menghujamkan tonggak kedalam liang lubuknya yang masih legit itu. keduanya berpacu beberapa kali disaksikan oleh mentari yang makin lama menenggelamkan diri diselimut ufuk itu. dan kulminasi permainan cinta itu berakhir tepat ketika gelap menjelang.
Mahreen tak bisa lagi melupakan keperkasaan kekasihnya itu. ia tak ingin lagi berpaling dari Haidar. lelaki itu telah memberikan sesuatu yang lebih memabukkan dari apapun.
malam itu ditemani oleh minuman coklat hangat, Mahreen menemani Haidar yang memeriksa beberapa berkas yang harus selesai.
"Banyak juga pekerjaanmu." ujar Mahreen.
"Kamu kesini, apakah seijin Mama?" tanya Haidar.
"Nggak." jawab Mahreen. "Aku bilang ke Mamachka akan mengikuti tugas kelompok di rumah salah satu temanku dan tinggal sehari semalam untuk mengerjakan proyek tersebut." sambungnya.
"Kau sudah mulai pandai berbohong ya?" tegur Haidar.
Mahreen hanya tersenyum saja. Haidar menatap gadis itu. "Reen... Mama itu memperhatikanmu... memperhatikan siapapun yang disayanginya termasuk kamu... juga Aisyah..."
"Stop untuk mengungkit-ungkit perempuan itu." tegur Mahreen menatap Haidar dengan tatapan hangat. "Aku tak mau kebersamaan kita dikotori oleh satu pun ingatan tentang Aisyah, perempuan beranak itu."
"Baiklah, baiklah... aku tak akan mengungkit perempuan itu lagi." ujar Haidar mengalah dan membelai rambut Mahreen yang tertutup kerudung.
Mahreen tersenyum tersipu menerima belaian itu. Haidar tersenyum pula hingga Mahreen dengan berani langsung mengecup bibir pemuda itu tanpa sempat Haidar menghindar. pemuda itu kaget.
"Reen... kok begitu sih?" tegur Haidar kemudian melongokkan kepala kearah mana saja memastikan tak ada yang memergoki atau mengintip mereka.
"Aku tak mampu menahan kerinduanku." ungkap Mahreen mendesah. "Sejak peristiwa di sampan itu, aku selalu membayangkanmu."
"Aku justru menyesalinya, Mahreen." ujar Haidar menundukkan kepalanya.
"Mengapa?" tanya Mahreen yang nampak kecewa.
__ADS_1
"Semestinya, hak itu kuambil setelah kita sah menjadi suami-istri." jawab Haidar kemudian menatap gadis berkerudung itu. "Aku minta maaf telah mengambil hak itu tanpa sengaja."
Mahreen menyentuh tangan Haidar. "Aku sudah merelakannya, Haidar... aku rela dengan persebadanan itu. aku menerimamu, meski kita belum diikat oleh akad yang sah." jawab Mahreen dengan lembut. "Aku tak akan menuntut apa-apa Haidar."
Haidar menatap lama sang kekasih lalu tersenyum datar. "Terima kasih, Mahreen. terima kasih atas kepemurahan dan cintamu padaku." ujar pemuda itu.
"Aku mencintaimu... Haidar Ali Lasantu..." desah Mahreen.
Haidar tersenyum lagi. "Begitupun aku, Mahreen Nurmagonegov..." balasnya.
wajah keduanya mendekat dan kembali permainan bibir itu terjadi. makin lama makin intens dan panas. hingga akhirnya Haidar yang tak tahan justru memeluk dan menggendong Mahreen ke dalam kamarnya sambil terus mengulum bibir gadis itu.
siapapun pasti akan tahu apa yang terjadi selanjutnya saat Haidar mengunci pintu kaca dan pemandangan didalam terhalang oleh tirai yang dibentangkan.
...*******...
Inayah dan Imelda sedang berdiri mengawasi perkebunan yang dikelola para pekerja, ketika datang salah satu pelayan kediaman memberi tahu, bahwa Haanish telah tiba.
Inayah dengan senang balik melangkah menuju kediaman membiarkan tugas pengawasan kebun diserahkan kepada wanita terpercayanya, Imelda.
langkah wanita parobaya tersebut terayun cepat hingga tiba ditangga beranda belakang dan langsung masuk ke dalam kediaman melalui ruang dapur terus menuju ruang keluarga. disana, Haanish berdiri menatap lukisan besar sang ayah yang duduk diapit Inayah dan ibunya, Rosemary.
kemunculan Inayah membuat pemuda itu berbalik dan langsung berlari menghambur memeluk wanita parobaya itu.
"Mamaa...." serunya tersedu sedan.
Inayah tak sungkan meluapkan emosi kerinduannya memeluk putra keduanya itu. keduanya bertangisan bahagia. setelah puas, Inayah melepas pelukannya.
"Kamu makin tirus, nak." ujar Inayah mengamati wajah Haanish.
putra kedua itu tersenyum dengan mata basah. "Sama seperti halnya Chouji yang seorang kepala keluarga Lasantu-Mochizuki, kini putra keduamu juga sekarang telah diangkat sebagai katoku sekaligus toryo seluruh keluarga Hasegawa." jawabnya. "Aku bahkan menjalani pertarungan sebagaimana almarhum ayah dihadapan wali negara, Pangeran Asahiko, Mama..."
Inayah terperangah. "Kau tak apa-apa, kan? apa kau terluka?" tanya wanita parobaya tersebut dengan cemas.
"Luka fisik, tak sedalam luka hati Mama... hari pertama keberadaanku di istana Odawara, aku sudah mendapatkan musuh baru... dan parahnya, musuh itu pamanku sendiri yang tak suka aku diangkat oleh kakek sebagai kepala keluarga." jawab Haanish.
Inayah mengajak Haanish kemudian duduk disofa keluarga. setelah keduanya duduk, Inayah bertanya. "Katakan pada Mama, apa yang membuat kau bahagia saat mengetahui kebenaran keluarga?"
Haanish langsung teringat pada dokumen itu. ia mengeluarkannya dari tas. sebuah berkas terjilid diserahkan Haanish kepada Inayah.
"Inilah yang membuatku bahagia, Mama... silahkan Mama lihat." ujar Haanish.
Inayah membuka-buka lembar demi lembar dokumen itu. namun ia tak memahaminya sebab aksara yang digunakan bukanlah alphabet. Haanish menyadarinya dan tertawa kecil.
"Ups, sori Mama... biar kujelaskan saja." ujar Haanish. "Keluarga Wie pernah menuduh leluhur kita Mamoru Mochizuki membunuh salah satu leluhur mereka yang bernama Wie Jiao di peristiwa pembantaian Nanjing. tapi ternyata, fakta bicara sebaliknya." Haanish memperlihatkan sebuah lembaran berisi potret wanita yang mengenakan kimono, wajahnya mirip dengan Denada. "Mama lihat perempuan ini?"
mata Inayah melebar. "Lho? kok wajahnya mirip dengan Denada? jangan-jangan..."
"Benar Mama! Mamoru tidak membunuh Jiao. dia menikahi perempuan itu dan menyelundupkannya ke jepang setelah itu ia pindah dari kesatuannya di Kwantung ke Gorontalo, bergabung dengan pasukan angkatan laut jepang.... Mama! aku, Papa, dan Chouji... adalah keturunan Mamoru dengan Jiao!" seru Haanish dengan bahagia. "Inilah kebenarannya! inilah kebenarannya... justru sebenarnya, kita masih kerabatan dengan mereka, sebab leluhur mereka adalah leluhur kita juga!"
Inayah tersenyum bahagia. "Anakku Eiji. tak sia-sia kau sebagai putra ayahmu. kau sanggup membuktikan bahwa apa yang mereka tuduhkan kepada kita itu salah. Mama bangga kepadamu!"
Haanish terkekeh senang mendapatkan pujian dari Inayah. setelah itu ia mengedarkan pandangan dan sekehan tawanya lenyap.
"Mama? kemana Mahreen? apakah ia kuliah sore?" tanya Haanish.
"Menurut keterangannya sih begitu." ujar Inayah.
Haanish mengerutkan alisnya lalu menatap ibunya. "Mama... apakah tidak sebaiknya kita memberitahukan kebenaran itu sekarang saja Mama... aku kuatir keduanya kebablasan dan bencana akan menyelimuti keluarga kita. Mama....perasaanku sekarang tidak enak."
"Jangan berprasangka yang tidak-tidak. tenangkan pikiranmu." ujar Inayah menenangkan Haanish. "Ingat, kau harus tenang... sebentar lagi, kau akan menjalani pernikahan dengan Marissa. Mama nggak mau kebahagiaanmu terganggu dengan hubungan mereka berdua. biarlah hal itu menjadi tanggung jawab Mama saja."
Haanish akhirnya mengangguk. "Baiklah Mama... kalau begitu, aku permisi kembali ke kediamanku. aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan Marissa, esoknya."
Inayah hanya tersenyum dan mengangguk saja. Haanish mencium tangan wanita parobaya itu lalu bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan. Inayah menatap berkas ditangannya lalu bangkit melangkah menuju sebuah lemari dan membukanya. wanita itu menyimpan berkas itu didalam lemari tersebut.
Haanish menyewa taksi online untuk tiba ke kediaman Lasantu. ia menemukan kediaman itu agak lengang nan sunyi. pemuda itu keluar dari kendaraan tersebut dan melangkah masuk ke kediaman. ia membuka pintu setelah memasukkan sidik jarinya ke mesin fingerprint.
langkah kaki pemuda itu terdengar menggema dilantai itu. ia mengedarkan pandangan. rasa heran, penasaran dan ketidak nyamanan menyergapnya. langkah kakinya kembali terayun menuju tangga.
ia tiba dilantai dua dan mendengar suara lenguhan dan ******* yang silih berganti. itu terdengar dikamar Haidar. makin lama paduan suara itu makin jelas. hatinya makin tak nyaman.
Haanish berada didepan pintu. ia meletakkan Si Penebas Angin disudut tembok lalu dengan sigap memutar gagang mendorong pintu. selanjutnya, ia mendapati peristiwa yang membuat matanya membelalak tak percaya.
__ADS_1
ASTAGFIRULLAH!!!!! []