
dihadapannya tersaji pemandangan yang seketika membuat Haanish syok dan memekik menyuarakan istighfar sekeras-kerasnya. Haidar yang sementara berada diatas tubuh Mahreen, kaget tak menyangka dipergoki oleh adiknya. Mahreen sendiri memekik kaget dan langsung meraih sprei menutupi sebagian tubuh polosnya yang terekspos.
"Apa yang kalian lakukan?!" sergah Haanish dengan berang.
"Eiji... apa yang kau lakukan disini?" ujar Haidar yang gugup. Haanish menatap Mahreen.
"Kau... kenakan pakaianmu, dan pulang!" tunjuk Haanish kepada Mahreen dengan tatapan bengis, "Mama sudah menunggumu sejak tadi!"
"Tapi Kak Eiji..." ujar Mahreen memelas.
"Kubilang, PULAANG!!!" teriak Haanish dengan kalap.
dengan memberenggut, Mahreen keluar dari ranjang dan memakai kembali pakaiannya yang berserakan ditepi ranjang. setelah itu gadis rusia berkerudung itu melangkah setengah berlari meninggalkan kamar. tinggal Haanish dan Haidar berada di kamar tersebut.
"Kenakan pakaianmu, tunggu aku di dojo! bawa golok Ailesh!" ujar Haanish dengan senyum bengis lalu berbalik meninggalkan kamar setelah membanting pintu kamar dengan keras.
Haidar merutuk dan mengumpat-umpat sejadinya. setelah itu ia menuju kamar mandi melaksanakan mandi janabat. setelah melaksanakan ritual mandi suci itu, ia mengenakan pakaiannya dan tak lupa mengambil golok Ailesh lalu melangkah keluar kamar, menuruni tangga dan tiba dilantai satu, langsung menuju dojo dan menggeser pintu shoji.
didalam dojo, Haanish duduk dalam gaya fudoza, sedang Si Penebas Angin melintang diatas paha, dalam keadaan terhunus, digenggam oleh Haanish yang memejamkan mata. Haidar memasuki ruangan.
"Aku datang." ujar Haidar.
mata Haanish membuka. "Bagus... kupikir kau seorang lelaki tak bernyali yang hanya tahu memetik bunga seorang perawan yang begitu penting dalam kehidupanmu."
Haidar tersenyum datar. "Bukankah perkataan itu sebenarnya kau tujukan untuk dirimu sendiri?" tukas Haidar.
Haanish bangkit dan menatap Haidar. "Kau sudah mengetahui aku sejak kita lahir, Chouji. aku memang sesat, tapi aku jujur dengan hatiku. tapi kau!!!" sergahnya menuding Haidar, "Bersembunyi dibalik topeng lurus putih bersih bagaikan wajah para dewa. tapi lebih busuk dan bejat!"
"Hentikan kata-kata kotormu itu Eiji." ujar Haidar. "Jika kau memang menginginkan pertarungan, aku siap mengabulkan apa keinginanmu itu."
"Bagus! kemarilah! songsong mautmu!" seru Haanish maju mengayunkan Si Penebas Angin yang kemudian mengincar titik pinggang kanan lawan.
Haidar dengan sigap mengayunkan golok Ailesh menampar tebasan yang dilayangkan Haanish. terjadi lagi pertarungan yang bagai sebuah tarian indah yang diperagakan dua orang petarung tersebut. Haidar juga tak mau kalah dari sang adik yang kemudian mengerahkan jurus pedang yang ramunya menjadi jurus golok.
TRANGGG TRANGGGG TRANGGG TRAANGGG
benturan demi benturan logam keras dalam pedang itu membuat kedua petarung tersebut terintimidasi sendiri oleh kekuatan senjatanya. namun Haanish bisa membalik keadaan dan melompat lalu mendarat dengan baik di tatami. sementara Haidar terpental semeter lalu mendarat dan berhasil memperbaiki sikapnya.
"Eiji... apa yang membuatmu begitu marah? apa karena Mahreen?" selidik Haidar. "Jangan katakan kalau kau menyukainya juga!"
"Apa? menyukai Mahreen? lobuta ombongumu tinggolopumu lo pilomama lo hutamu!" umpat Haanish sejadinya. "Aku meskipun sesat dalam pandanganmu, tapi aku tak sebejat kau!" umpat Haanish. "Aku memang sudah berzina dengan Denada. tapi aku tak akan pernah menzinai wanita yang merupakan sosok penting bagiku!"
"Eiji... jangan bertele-tele dalam bercerita. katakan maksud ucapanmu!" desak Haidar.
"Karena Mahreen adalah..." ucapan Haanish tertahan. ia terngiang lagi ucapan sang Mama kepadanya.
jangan katakan rahasia ini pada Haidar maupun Mahreen. biarkan Mama yang akan menjelaskan semuanya pada mereka.
Haidar terkejut melihat Haanish seperti menahan kalimat selanjutnya. anak itu justru menatap Haidar dengan senyum iba dan mata yang basah.
"Apa yang kau sembunyikan dariku, Eiji?" selidik Haidar menyilangkan golok didadanya.
"Chouji... kelak kau akan mengetahuinya..." desis Haanish sembari menarik isakannya lalu tertawa, "Dan saat itulah penyesalanmu akan menyiksa benakmu sepanjang masa." pemuda itu menyarungkan Si Penebas Angin lalu melangkah pergi meninggalkan Haidar yang termangu-mangu sendirian di ruangan dojo.
...******...
Mahreen merasa tak nyaman dengan tatapan Haanish yang tajam menghujam kepadanya. keduanya duduk ditaman depan ditemani suasana malam. wajah gadis itu menunduk.
"Mahreen..." panggil Haanish.
Mahreen mengangkat wajahnya sejenak menatap Haanish lalu menunduk lagi.
"Tatap aku..." pinta Haanish.
Mahreen kembali mengangkat wajahnya. Haanish menghela napas panjang lalu berkata, "Sejak kapan kalian melakukan hubungan itu?" tanya pemuda tersebut.
__ADS_1
Mahreen menghela napas lalu menunduk lagi. Haanish mengulurkan tangan menyentuh dagu gadis itu dan menegakkan wajah Mahreen kembali menatap kepada Haanish.
"Sejak kapan, Mahreen?" tanya Haanish dengan lembut.
"Dua hari kemarin, saat di pantai taman laut Olele...." jawab Mahreen dan tanpa diminta, ia menceritakan hal itu kepada Haanish.
nampak wajah Haanish silih berganti memerah, dan akhirnya air matanya kembali jatuh membasahi pipinya. Mahreen menjadi tak nyaman dengan tatapan pemuda itu.
"Kak? Kak Eiji nggak marah sama Mahreen, kan?" tanya Mahreen memelas.
Haanish menatap Mahreen dengan tatapan iba. tangannya terjulur membelai rambut gadis itu.
"Mahreen... kamu itu adalah adikku. seorang kakak pasti tak akan membiarkan adiknya terjerumus kedalam dosa, sekalipun sang kakak bergelimang dosa." ujar Haanish. "Aku ingin, kamu tidak mengulangi lagi. persebadanan tadi sore adalah yang terakhir kalinya. paham?"
Mahreen menatap Haanish sangat lama hingga akhirnya ia mengangguk mengiyakan dengan hati yang berat. birahi itu adalah candu kehidupan. siapapun yang terjerat, ia tak akan mudah melupakannya. karena birahi dekat kepada naluri manusia untuk bereproduksi.
Haanish membawa Mahreen ke pelukannya. dibarutnya rambut gadis itu dan tak lama kemudian airmatanya jatuh kembali.
Mahreen adikku... kasihan sekali nasib kita ini. kau jatuh cinta bahkan telah mempersembahkan milikmu yang berharga pada seseorang yang justru merupakan darah dagingmu sendiri. dan aku... aku terikat sumpah untuk tak mengatakannya meski aku sakit menyadari, kita bertiga terjebak dalam lingkar dosa...
Mahreen merasakan setitik air jatuh dipipinya. ia menengadah menyadari Haanish yang diam dalam tangisnya.
"Kak... Kakak menangis?" tanya Mahreen dengan sesal.
"Diamlah Mahreen... biarkan aku memelukmu untuk menenangkan hatiku yang terlanjur hancur dengan perbuatan kalian." ujar Haanish dengan pelan.
Mahreen akhirnya membiarkan pemuda itu memeluknya. setelah puas, Haanish melepaskan pelukannya dan menatap gadis rusia itu. "Pergilah tidur. ingat! jangan ulangi lagi perbuatan itu. kau dan Haidar sebisa mungkin menjaga jarak. kau tak memahami sisi lain dirinya."
Mahreen hanya bisa mengangguk dan bangkit lalu melangkah meninggalkan tempat itu masuk lagi ke dalam kediaman Ali.
tinggal Haanish duduk bermenung disana. wajahnya menengadah menatap angkasa malam lalu membiarkan airmatanya kembali tumpah dalam sekehan tawa pelan. namun sejenak kemudian tawanya terhenti ketika merasakan pancaran gelombang tenaga dalam seseorang disekitarnya.
pemuda itu langsung waspada dan matanya menatap kesana kemari mencari pusat gelombang tenaga dalam itu dan ia menemukannya.
Haanish mengerahkan teknik Karasu Tengu no Shisen mendeteksi kegelapan dihadapannya dan ia kemudian menemukan dua pasang cahaya berpendar warna kekuningan. dua pasang mata itu saling menatap dan tiba-tiba Haanish melesat ke arah kegelapan itu.
makhluk itu terus berlari, namun Haanish dapat dengan jelas melihat penampikan makhluk itu. tubuhnya gelap kebiruan dengan rambut panjang awut-awutan. ia mengenakan sebuah celana kain yang robek-robek.
mereka saling kejar-kejaran hingga tiba dikawasan perkebunan. makhluk itu terus berlari. Haanish yang kesal langsung menggembos tenaganya mengerahkan teknik hayagakejutsu ketingkat paling tinggi dan akhirnya melenting ke atas dan bersalto diudara lalu mendarat beberapa jarak dihadapan makhluk itu.
"Berhenti!!!" seru Haanish.
makhluk itu diam menatapnya. Haanish berdiri dengan sikap ichimonji, sikap seorang shinobi dalam bertarung. "Siapapun kau, tak boleh pergi sebelum memberitahu siapa kau sebenarnya."
makhluk itu menggeram dan Haanish dapat dengan jelas mendengar geraman mirip bangsa kucing besar. Haanish dengan kesal berujar. "Jadi, kau tak mau bicara? baiklah. kau jangan menyesal."
Haanish mengumpulkan ki miliknya dan mengakumulasinya dititik hara kemudian mengembangkan tangan. armor Ark01-Narsys teraktifkan. tubuh pemuda itu diselimuti baju jirah gaya tosei gusoku lengkap dengan rompi horo dan sebilah wakizashi tersampir disabuknya. matanya masih memendarkan larikan sinar biru berkilat-kilat.
"Kau akan menyesal berhadapan denganku!" seru Haanish maju menyerang seraya menghunus pedang pendek dan mulai mendesak makhluk itu. sayangnya, ia tak membawa Si Penebas Angin. tentu saja, pedang itu tak bisa dibawa-bawa sembarangan. ini bukan jaman perang. bisa-bisa Haanish ditangkap dengan tuduhan membawa senjata tajam. ia tak akan lolos dari hukum meskipun ia putra seorang wakapolda sekalipun.
makhluk itu ternyata lebih gesit. ia mampu menghindari semua serangan yang dilayangkan Haanish. hanya saja pemuda itu heran. selama dalam pertarungan, tak sedikitpun makhluk itu melakukan serangan balik. ia bahkan seperti tidak punya minat bertarung dan lebih memilih menghindari pertarungan.
setelah sekian lama saling adu kecakapan, makhluk itu tiba-tiba melenting dengan ringannya ke udara melakukan lompatan yang bahkan seorang shinobi berkepandaian tinggi seperti Haanish tak akan mampu melakukannya. makhluk itu menghilang dalam kegelapan yang menyelimuti rimbunan pagar hidup tanaman ketimun dan pare.
Haanish tak berniat mengejar. ia membiarkan saja kemudian menonaktifkan armornya lalu melangkah lagi dengan santai menyusuri pematang kebun yang dihiasi tanaman dikanan-kirinya.
...*******...
Haidar mencuci wajah dan tubuhnya dengan siraman air hangat yang mengucur dari shower. malam itu memang agak dingin dan ia membutuhkan kehangatan air itu.
setelah puas membasahi dirinya, Haidar menatap celana yang robek-robek disudut kamar mandi. pemuda itu memicingkan mata dan mengambil carikan kain yang tak terpakai itu lagi. ia membuangnya ditempat sampah lalu keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian.
jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Haidar keluar ke beranda lantai dua. ia memilih duduk dikursi santai sambil menikmati semilir angin malam.
tak lama Salman muncul membawa sekrat minuman kaleng. ia menatap Haidar yang sementara duduk menikmati udara malam. lelaki itu membelokkan langkah mendekati pemuda itu. Haidar menoleh mendengar langkah kaki mendekatinya.
__ADS_1
"Ah, kau rupanya." ujar Haidar.
"Melamun saja? biasanya malam begini itu dirumah pacar." ujar Salman kemudian meletakkan kerat minuman kaleng dimeja. "Minumlah, mumpung malam begini, kita nikmati saja suasana ini."
Haidar mengambil sekaleng minuman dan membuka klepnya lalu menegak isinya. ia meletakkan kaleng itu di meja saat Salman meletakkan kerat minuman itu dilantai. lelaki itu mengambil sekaleng dan membuka klepnya lalu meminum isi kaleng tersebut. sejenak ia mendesah panjang dan bersendawa kecil.
"Nikmaaaat...." ujarnya dengan suara mantap.
Haidar menatap Salman sejenak lalu mengambil lagi kaleng minuman dan menegak habis isinya. Salman tertawa melihat pemuda itu minum.
"Waang itu kalau minum macam pemabuk lagi galau." oloknya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku memang lagi galau." ujar Haidar dengan pelan.
Salman menengok kearah Haidar. "Memangnya kenapa? ada masalah dengan Mahreen?"
Haidar menghela napas. "Nggak bisa dibilang. terlalu pribadi, bray."
Salman mengangkat bahu. "Okelah, aden juga tak memaksakan waang menceritakannya." lelaki itu kemudian mengambil gawai dan memeriksa beberapa panggilan yang masuk. salah satu panggilan membuatnya sumringah.
wajah bahagia Salman terlihat jelas dalam tatapan Haidar. lelaki itu menyeletuk. "Wah, kelihatannya kau gembira benar malam ini."
Salman menatap Haidar dan mengangguk. "Tentu... kemarin aden dah jadian sama Callista. bahagianya benar-benar terasa hingga laufuh mahfuz..." ujarnya kemudian tertawa pelan, "Ditambah lagi aden dengan inyo jalan-jalan keliling kota dan pamerkan inyo dihadapan kawan-kawan yang melongo. kata mereka, tak sangka aden yang model tampang mobil rusak, masih juga dapat gadis wajah barbie. adduhhh... gembira benar aden dapat membalas olokan mereka selama ini."
Haidar mengangkat alis. "Kau jadian dengan Callista?"
Salman mengerutkan alis. "Aduuh... ini rasanya bicara sama orang galau. slow respon nih." keluhnya.
Haidar tertawa, "Sori, kawan..."
tak lama kemudian muncul Haanish. ia menatap kedua orang itu. "Woy, kalau ada pesta, diajak dong!" sergahnya.
kedua pemuda itu menoleh menatap Haanish yang mendekat. ia tiba dihadapan mereka berdua, menatap kerat minuman yang berada dilantai, mengambil sekaleng minuman lalu melangkah menuju kursi dan menselonjorkan kedua kakinya ke meja. Haanish membuka klep kaleng dan langsung menegakkan kaleng itu meminum setengah isinya.
"Aaaahhhhh.... ngroooookkkk..." terdengar suara ******* panjang disusul dengan sendawa keras membuat wajah kedua lelaki itu mengernyit.
"Eh, kalau mau menebang pohon, bukan disini tempatnya." sindir Haidar.
"Kebiasaan nih... memang enak bersendawa ya?" tukas Salman.
Haanish tertawa lalu menatap Salman. "Aku nggak bisa memperlihatkan perilaku ini dihadapan orang tak dikenal. hanya kalian yang mengetahuinya."
"Lalu, kalau waang nanti nikah sama Marissa, juga mau memperdengarkan sendawa itu?" pancing Salman.
"Tunggu..." sela Haidar kemudian menatap Haanish. "Kok kamu mau menikah, nggak kasih tahu?"
"Ngapain kasih tahu ke kamu? kamu sibuk dengan Mahreen." Haanish kemudian mendekat dan mengancam. "Ingat Chouji. itu terakhir kalinya kau menyentuh Mahreen. jangan pernah kau ulangi lagi. birahi itu, candu!"
"Alaaaa.... macam kamu yang masih suci saja. kamu berapa kali main sama Denada, aku nggak persoalkan. kok ketika aku mencintai Mahreen, kok kamu yang malah sewot?" tukas Haidar mulai naik lagi emosinya. "Aku curiga nih... kamu punya perasaan sama Mahreen, kan? ngaku saja kau!"
"Hei, apakah aku harus melakukan seppuku untuk membuktikan kesungguhan perkataanku?! Mahreen itu adikku! adik kita! tega kamu ya?!" sergah Haanish yang mulai emosi pula.
"Apa katamu?! Mahreen adik kita?!" tukas Haidar.
astagfirullah, aku keceplosan....
"Maksudku, Mahreen sudah kuanggap adikku. kamu pun semestinya sama. siapapun yang tinggal di rumah Mama, itu adalah saudara! ngerti kau?!" balas Haanish.
"Kau paling pintar kalau berdebat ya?" geram Haidar.
"Sudahlah. malas aku berdebat denganmu!" pungkas Haanish lalu menatap Salman. "Bro, aku ada proyek baru untukmu."
"Oh ya?" ujar Salman tertarik. "Proyek apa tuh?"
"Kita akan memburu monster." jawab Haanish dengan tenang. Haidar langsung tertawa.
__ADS_1
"Ah, kamu yang beneran saja! jaman digital 7.8 begini, masih juga ada monster? kamu mengkhayal atau sementara mabuk?" olok Haidar.
"Huange'emu! aku bertemu makhluk itu tepat dipepohonan dekat kediaman Ali. kami bertarung diperkebunan dan makhluk itu berhasil meloloskan diri!" ujar Haanish dengan kesal membuat Haidar terdiam. []