The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 40


__ADS_3

Inayah hanya tersenyum iba. "Pada saatnya tiba, di hari pembeatan, kau akan mengetahui segalanya. kuatkan hatimu, teguhkan imanmu. Allah tak memberikan cobaan yang tak mampu diemban Hamba-Nya."



sekali lagi, Mahreen hanya bisa terdiam dalam rasa penasaran yang sangat sementara Inayah masih tetap membelai rambut gadis itu.


...*******...


pesawat komersil yang membawa Haanish dan Marissa mendarat dengan baik di landasan bandar udara Minangkabau. ketika mereka berdua menyusuri garbarata dan tiba di arrival, mereka telah ditunggu oleh Airina dan Akram.


"Abi! Umi!" pekik Marissa dengan keras, sempat menarik perhatian para pengunjung.


Akram dan Airina kembali hanya geleng-geleng kepala melihat gaya badung anak bontotnya meski telah bersuami. Marissa berlari mendapati keduanya sedang Haanish hanya melangkah santai mendekati kedua mertuanya.


Marissa langsung memeluk ibunya sedang sang ayah hanya tersenyum sambil mengusap-usap kepala putri bungsunya. Haanish kemudian tiba, langsung mengulurkan tangan menjabat tangan Akram dan menciumnya.


"Abi..." sapa Haanish. "Bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulilah. aku baik-baik seperti yang kau lihat." jawab Akram kemudian menyapu pundak menantunya. Haanish kemudian menatap Airina lalu membungkuk dalam.


"Umi." sapa Haanish setelah menegakkan tubuhnya kembali.


"Ogenki deska?" tanya Airina.


"Ogenki desu. Arigato." jawab Haanish dengan senyum.


Airina mengangguk-angguk. "Dozo..." ajak wanita itu.


Haanish membungkuk datar lalu mengajak Marissa melangkah mengikuti langkah laki-bini tersebut. mereka berempat meninggalkan ruangan tersebut.


diluar, Akram telah menyiapkan kendaraan. Airina dan Marissa duduk dibelakang sedangkan Haanish mengambil tempat disisi Akram. kendaraan itu kemudian bergerak meninggalkan bandara.


"Bagaimana pekerjaanmu? apakah lancar?" tanya Akram.


"Lancar seperti biasanya, tapi hal itu merenggut kebebasan kami berdua." jawab Haanish dengan senyum getir. "Bahkan Marissa terpaksa harus mengenakan kimono hanya untuk memenuhi ekspektasi seorang nyonya dari kepala keluarga."


"Tapi denai gembira Uda." sela Marissa. "Apapun yang membuat Uda nyaman, akan denai lakukan."


"Aku pun ketika pertama kali memegang kendali MLt. Group, kemudian mendirikan Ark Industries, juga benar-benar kewalahan." ujar Akram. "Namun kemudian aku berpikir positif bahwa inilah potensiku untuk memajukan peradaban manusia." Akram kemudian menatap Haanish sekilas lalu memandang jalanan sambil tersenyum. "Kelak, ketika manusia sudah bisa menjelajahi hingga ke dasar bumi, maka sebentar lagi penjelajahan angkasa, dalam kurun waktu yang tak akan lama, bisa dilakukan." Akram mendesah. "Manusia akan melakukan ekspansi besar-besaran untuk mengekploitasi ruang angkasa."


"Kapan?" tanya Haanish.


"Mana kutahu?" jawab Akram mengangkat bahu sementara memegang setang kemudi. "Ketika manusia sudah bisa mendirikan koloni di Bulan, atau Mars.... maka Bumi tidak akan menjadi tempat yang menarik lagi."


kendaraan itu melaju menyusuri jalanan, meliuk dan menyalip beberapa kendaraan yang juga memenuhi jalanan. dalam waktu lima belas menit, kendaraan tersebut tiba di kediaman Williams.


mereka memasuki pekarangan yang luasnya berhektar-hektar, dengan sebuah bangunan besar mirip manor dengan sebagian bangunan yang ditumbuhi tumbuhan merambat menambah kesan kuno bangunan tersebut.


kendaraan berhenti tepat di beranda. keempatnya keluar dari kendaraan tersebut. tepat pada saat itu dari pintu utama keluarlah Marinka.



gadis itu langsung melangkah cepat menghambur hendak menyerang Marissa. dengan gesit Marissa langsung bersembunyi dipundak ibunya.


"Umi, biarkan denai menghajar Bontot lancang ini! seenaknya dia merendahkan kakaknya sendiri!" seru Marinka dengan gaya tempurnya.



"Eh, jangan macam-macam Uni." ancam Marissa menudingkan telunjuknya kepada Marinka sambil tetap bersembunyi dibalik bahu ibunya.


"Issha, hentikan!" tegur Airina, "Kamu itu sudah bersuami. jaga sikapmu!"


Akram tertawa sedang Haanish hanya bisa menggaruk-garuk rambutnya yang sudah panjang sepunggung itu. Marinka menatap Haanish.


"Uda, apakah makhluk menjengkelkan ini tidak pernah diajar adab selama di jepang?!" seru Marinka.



"Eit, jangan pernah bicara begitu, Marinka!" tegur Haanish dengan seringai bengis. "Dia begini karena ada kakaknya. disana, dia jinak bagaikan peliharaanku."


"Hentikan kekonyolan ini!" pekik Airina dengan pengerahan ki yang besar. ketiganya yang sementara bertengkar langsung terdiam. sementara Airina berdiri bercakak pinggang dengan tatapan yang telah dialiri teknik Karasu Tengu.


"Maafkan kami, Umi." ujar Haanish.


Airina menatap menantunya itu. "Sudahlah. mungkin aku saja yang masih capek." ujarnya kemudian mengajak mereka kembali masuk.


...********...


Aya Sofia melangkah dengan santai menyusuri koridor sekolah ketika Aidil muncul menjajarinya. sejenak anak gadis itu mengerling ke arah pemuda belia itu lalu kembali memperhatikan jalan sambil terus melangkah.


"Aya..." panggil Aidil.


gadis itu menggumam menjawab panggilan temannya. Aidil kembali bertanya, "Pertanyaanku masih belum berubah, padamu. katakan jawabannya."


"Jawabannya nggak." jawab Aya Sofia dengan tandas.


"Kenapa?" tanya Aidil.


"Aku belum disuruh jalani hal semacam itu." jawab Aya Sofia.


"Orang tuamu?" tebak Aidil.


"Ya, kenapa?" balas Aya Sofia.


"Mengapa mereka melarangmu? itu bukan sekedar larangan tanpa alasan, kan?" pancing Aidil.


Aya Sofia berhenti. kemudian berbalik menatap Aidil. "Sahabatku yang ganteng." ujar Aya Sofia kemudian tersenyum. "Kita berdua masih sekolah. masih panjang jalan yang harus kita tempuh. jangan karena pikiran pendek sesaat, kamu melupakan tujuan hidup kamu."


"Tapi..." protes Aidil.


"Aku nggak punya hak melarangmu bilang cinta kepadaku. tapi, aku juga punya hak menangguhkan, bahkan menolak semua bentuk perhatianmu... sebab bagiku, hal ini masih terlalu dini." tukas Aya Sofia, setelah itu ia melangkah lagi.


Aidil kembali menjajarinya. "Bukankah hal itu bisa kita lakukan bersama-sama?"

__ADS_1


tapi pertanyaan pemuda belia itu tak mendapatkan jawabannya karena Aya Sofia tiba-tiba berlari meninggalkannya. di gerbang telah menanti Aisyah yang sedari tadi memang telah menatap mereka. pemuda belia itu berhenti.


Aya Sofia tiba didepan ibunya lalu menjabat tangannya kemudian menciumnya.


"Umma kapan sampainya? sudah lama?" tanya Aya Sofia.


"Baru saja." jawab Aisyah sejenak melirik kearah Aidil yang sejak tadi menatap mereka di ujung koridor. tak lama anak-anak sekolah tumpah ruah memenuhi koridor itu menenggelamkan sosok Aidil yang masih tetap tegak.


"Abah nyuruh Umma untuk menjemput. besok, kita akan ke Pulau Lombok, menemui Tante Mahreen." jawab Aisyah dengan lembut lalu menggandeng tangan putrinya meninggalkan tempat itu.


...*******...


Marinka tak menyangka kedatangan Sintia, teman sekelasnya kini yang telah bekerja di perusahaan pelayaran komersil tersebut.


"Puncan akan datang untuk mengungkapkan cintanya padamu." ujar Sintia.


"Apa?" seru Marinka dengan kaget. "Dan dia akan datang kesini?"


Sintia mengangguk cepat. "Bagaimana? kamu mau nggak terima sama dia?"


"Kamu pikir, aku dan dia itu kayak barang begitu? dicocok-cocokin?" tukas Marinka dengan kesal.


"Kan sudah ada ilmu pengetahuan baru selain yang sudah ada dikurikulum yang pernah kita pelajari disekolah." ujar Sintia dengan santai. "Yang berbau logi-logi, itu lho."


"Pelajaran baru? apa tuh?" tanya Marinka.


"Cocoklogi." jawab Sintia dengan kalem.


"Barangin kau!" umpat Marinka kemudian tertawa.


"Ah, kau! masa cantik-cantiknya aku kau katai gila? kau tuh barangin!!!" balas Sintia.


Marinka kembali tertawa. Sintia mengajaknya ke beranda supaya bisa melihat Puncan yang datang. meski dengan enggan dan malas, Marinka akhirnya tetap saja meladeni permintaan sahabatnya itu.


keduanya kemudian duduk di beranda. Marinka tiba-tiba teringat sesuatu.


"Aku suguhi kamu minum ya?" ujar Marinka berdiri lagi.


"Ya sudah, buat tiga cangkir saja." usul Sintia. "Kamu, aku sama Puncan."


Marinka mengangguk lalu berbalik kedalam. sementara itu Sintia menekan sesuatu ditelinganya.


🎧 "Aman... kesinilah kau cepat." ajak Sintia.


🎧 "Beres..." ujar Puncan yang sebenarnya telah sembunyi dibalik pepohonan besar yang menghiasi halaman kediaman Williams yang luasnya berhektar itu.


pemuda itu langsung melangkah santai mendekati beranda tepat pada saat itu pula Marinka muncul membawa nampan berisi suguhan. sejenak langkah kaki gadis itu terhenti saat melihat Puncan yang berdiri santai didepan beranda.


Sintia langsung berinisiatif bangkit mengambil nampan itu dari tangan Marinka dan meletakkannya di meja.


🎧 "Sikat, Can!" seru Sintia.


Puncan langsung berseru, "Paling enak merokok sigar cap Suka. di hisapnya, terasa lada..."


"Artinya?" sahut Puncan juga sudah terlalu semangat. "Paling enak suka sama Marinka!" serunya paling semangat.


"Soalnya apa Can?!" pancing Sintia.


"Soalnya...CUKA!!!" seru Puncan.


seketika Marinka yang terbiasa ditekan dengan aturan 12 sumbang bundo kanduang, tak mampu menjaga emosinya lagi dan keluarlah sumpah serapahnya.


"Eeh, dasar baruak manyamak! kurang ajar kau ya?!" seru Marinka yang sudah berdiri tegak dengan wajah yang merah dan marah yang terpompa penuh.


"Kok, soalnya Cuka?!" tegur Sintia dengan marah kepada Puncan yang sudah lupa dengan bait pantun yang diajarkan. wanita itu mengelus pundak sahabatnya. "Sudah.. tabahkanlah hatimu..."


Marinka duduk lagi meski dengan emosi yang masih tersisa. Puncan menatap Sintia. "Yang satu lagi..."


Sintia mengangguk tak kentara.


Puncan mengingat-ngingat bunyi pantun itu. "Nggg.... kain sarung!"


"Kok kain sarung?" tegur Sintia.


🎧 "Habisnya apa dong?" tanya Puncan dengan lirih.


🎧 "Apa guna bersongket emas..." ajar Sintia dengan lirih.


Puncan langsung semangat lagi berpantun. "Apa guna bersongket emas..."


🎧 "Kalau tidak..." ajar Sintia lagi dengan lirih.


"Kalau tidak.... aaa... dijual saja!" pungkas Puncan asal-asalan.


"Kok begitu?!" tegur Sintia. "Kalau tidak pakai baju batabue."


"Ah ya, kalau tak kenakan batabue." sambung Puncan. "Apa guna laku tak pantas... kalau kecil... " ujar Puncan lalu berkata lirih. "Teteknya..."


dengan gemas dan kesal langsung menukas. "Kalau kecil hatinya!"


🎧 "Habisnya aku melihat kesitu terus... aku bingung." jawab Puncan dengan lirih, lalu kembali berseru kepada Marinka. "Kalau kecil hatinya...."


pada dasarnya Marinka adalah gadis yang humble dan tak tinggi hati. senyumnya terbit. ia hanya mengapresiasi usaha yang dilakukan Sintia dan menghargai bagaimana cara Puncan untuk mendekatinya. harafiahnya, persoalan Marinka yang menyukai puisi, langgam pantun dan randai, itu ada benarnya sedikit, tapi tak lebay seperti isi pantun yang diungkap Puncan tadi.


"Ah, masa sih?" pancingnya.


🎧 "Weh, kecantol, Sintia." seru Puncan dengan lirih.


🎧 "Percaya nggak?" balas Sintia dengan lirih pula.


"Uda Puncan silahkan masuk." ajak Marinka dengan ramah.


Puncan dengan senyum terkembang melangkah masuk kemudian duduk disisi Sintia.

__ADS_1


"Makasih, telah menerima saya di kediaman ini." ujar Puncan dengan santun dan penuh senyum terkembang. Marinka tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


"Ulangi lagi dong pantunnya." pinta Marinka.


"Saya nggak bisa ngepantun." jawab Puncan dengan jujur karena dia memang tak tahu cara berpantun. lelaki itu kelewatan maskulinnya.


"Itu tadi, kok bisa?" pancing Marinka.


meski dengan senyum terkembang, Puncan menyenggol sedikit lengan Sintia.


🎧 "Tia..." panggil Puncan dengan lirih, "Paling enak..."


🎧 "Ah, ogaah..." jawab Sintia dengan lirih pula.


"Ayo dong. saya mau dengar lagi, pantunnya..." pinta Marinka dengan lembut.


akhirnya Puncan mengarang sendiri pantunnya. "Dari mana... ayo, dari mana?"


Sintia yang tak tega langsung membisiki. "Dari mana, hendak kemana..."


Puncan mengangguk-angguk lalu berpantun. "Dari mana hendak kemana?"


Sintia membisiki lagi, "Dari Bukittinggi..." ujarnya menggantung.


"Dari Bukittinggi... nggak ada sangu!!!" pungkas pemuda itu dengan mantap, membuat Marinka langsung tertawa kecil lagi sambil menutup mulutnya.


"Kok begitu?" tegur Sintia menyenggol lengan Puncan.


"Habisnya pantunnya merayap kemana-mana." jawab Puncan dengan kesal.


Sintia membisiki lagi. "Dari mana datangnya lintah?"


Puncan mengangguk-angguk lalu berpantun. "Dari mana datangnya lintah..."


"Dari sawah turun ke kali." ujar Sintia membisiki.


Puncan langsung menatap Sintia. "Mana ada lintah turun ke kali?" protesnya.


"Lintah memang nggak pernah merayap ke kali. itu hanya pantun." jawab Sintia membisiki.


Puncan tertawa sejenak. ia kembali berpantun.


"Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali..." sahut pemuda itu.


"Dari mana datangnya cinta?" bisik Sintia.


"Dari mana datangnya cinta?" sahut Puncan lebih semangat.


"Dari mana Can?" tanya Sintia.


"Oy, aku kawa cinta sama dia, ouyyy..." bisik Puncan mrmbuat Sintia terkikik. Marinka hanya tertawa kecil lagi sambil menutu mulutnya.


"Dari mata..." bisik Sintia.


"Dari mata..." seru Puncan.


"Turun..." bisik Sintia.


"Ooooyyy... turun..." seru Puncan dengan gemas.


"Dari mata turun ke..." bisik Sintia menggantung.


"Turun ke Kuala..." seru Puncan dan langsung mengomentari pantunnya sendiri. "Mending aku mendi saja langsung ketahuan..."


"Turun ke hati..." bisik Sintia.


"Aaahhh... terpaksa deh..." bisiknya lirih sambil tertawa lalu berpantun kembali. "Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati..."


"Masa sih?" respon Marinka.


"Hooo'oooh..." jawab Puncan.


"Asal mana sih?" tanya Marinka.


Puncan tertawa kecil lalu menatap Sintia. "Tia, nih cewek kecil putih ya?" bisiknya lirih.


"Ya, kenapa?" tanya Sintia.


"Turunan tepung terigu ya?" bisiknya Puncan.


Sintia langsung memukul lengan Puncan.


Marinka tersenyum. "Asalnya mana sih?


"Saya, orang tenggarong..." jawab Puncan.


"Tinggalnya dimana sih?" tanya Marinka lagi.


"Di Muara Kaman sana." jawab Puncan lagi. "Memang kenapa?"


"Tentu akan menyelidiki apakah kamu memang tinggal disana atau nggak!" seru seseorang yang membuat mereka menoleh.


dihadapan mereka berdiri seorang lelaki berambut panjang sepunggung yang dikuncir keatas. ia mengenakan kemeja pastel polos yang kerahnya terbuka dan lengannya digulung. celananya kain panjang katun warna hitam dan mengenakan sepatu pantofel berujung lancip. wajah tampannya membuat Sintia ternganga.


"Onde mandeh... siapa ini, Marinka? macam bidadari pula." puji Sintia.


"Bidadari? memang dia banci?!" ujar Marinka. "Ini ipar aku, suaminya Issha."


"Dan lelaki ini yang hendak menaklukkan hatimu?" tanya lelaki itu yang tak lain adalah Haanish.


Marinka tersenyum. "Kenapa? nggak ada urusannya sama Uda." tukasnya.


"Ada..." ujar Haanish dengan seringai bengis dan merentangkan tangan kanannya. armor Ark miliknya aktif menampilkan sebilah pedang, Si Penebas Angin yang langsung disandarkan ke leher Puncan.

__ADS_1


"Kau harus mengalahkan aku untuk merebut kembang keluarga Williams." tantang Haanish yang seketika kedua matanya langsung memendarkan cahaya kebiruan, khas teknik Karasu Tengu no Shisen. []


__ADS_2